Kebudayaan menjadi tempat persembunyian sekaligus medan perlawanan. Saat kritik politik dibungkam, panggung teater, puisi, dan humor menjelma menjadi ruang alternatif. Di sana, perlawanan tidak tampil sebagai slogan, melainkan narasi simbol
“Catatan
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.




