Event Earth Day Google, Lombok Siap Jadi Tuan Rumah
Google berencana akan menggelar event earth day di Lombok, Gubernur NTB menawarkan beberapa tempat di Lombok
MATARAM.lombokjournal.com ~ Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyambut baik rencana event earth day dan siap menjadi tuan rumah acara yang akan digelar pada April 2022 mendatang.
Dukungan NTB dan kesiapan menjadi tuan rumah tersebut diutarakan Gubernur Zul, saat membahas kolaborasi wawasan lingkungan bersama Google secara virtual di Ruang Kerja Pendopo, Selasa (29/03/22).
Bahkan ditawarkan beberapa tempat di Lombok sebagai tempat penyelenggaraan event earth day.
“In Gili Trawangan, Sembalun, Mandalika, wherever you want it we are ready (Di Gili Trawangan, Sembalun, Mandalika di manapun anda mau kami siap),” kata gubernur.
Dalam pembicaraan secara virtual tersebut, baik Gubernur maupun pihak Google, memberikan komitmen terhadap isu lingkungan berkelanjutan.
Provinsi NTB telah banyak mengimplementasikan sustainable Environment ke dalam berbagai program. Seperti misi NTB Hijau, program Zero Waste, Green Tourism, dan lain sebagainya.
“We are really consent with Sustainable Environment program (Kami sangat setuju dengan program Lingkungan Berkelanjutan),” tutur gubernur.
Sementara itu, Tomomi Matsuko selaku perwakilan Google mengungkapkan komitmen Google dalam memberikan data yang bermanfaat dalam membantu para pemimpin daerah untuk mewujudkan lingkungan sehat yang berkelanjutan.
“Google through Environmental Insight Explorer Helping civic leaders build more resilient Sustainable and thriving World (Google melalui Penjelajah Wawasan Lingkungan Membantu para pemimpin sipil membangun Dunia yang lebih tangguh dan Berkelanjutan),” tutur Tomomi.
Kolaborasi tersebut masih dalam tahap perencanaan yang masih terus akan disempurnakan melalui pertemuan-pertemuan berikutnya. ***
NTB Kerjasama Sister Province dengan Northern Territory of Australia
Gubernur Provinsi NTB menandatangani Letter of Intent (Lol) dengan Pemerintah Northern Territory. Australia
MATARAM.lombokjournal.com ~ Pemerintah Provinsi NTB menjalin kerjasama Sister Province dengan Provinsi Utara Australia (Northern Territory) dalam bidang pariwisata, pendidikan, industri, perdagangan dan investasi.
Hal tersebut disampaikan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah saat penandatanganan Letter of Intent (Lol) antara Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Northern Territory (NT) secara virtual, di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur NTB, Senin (28/03/22).
“Alhamdulillah, hari ini menandatangani sister province antara Provinsi NTB dengan Provinsi Australia Utara (Northern Territory of Australia). Kedua provinsi akan saling membantu di area pariwisata, pendidikan, industri, perdagangan dan investasi,” kata Gubernur.
Bang Zul sapaan akrabnya juga mengungkapkan, Pemerintah Provinsi NTB sangat senang dengan adanya kerjasama dalam berbagai bidang dengan Provinsi NT of Australia.
“Kami sangat senang menjalin kerjasama berbagai bidang dengan Northern Territory, semoga ke depannya akan lebih banyak kerjasama lagi,” tambah Bang Zul.
Sementara itu, Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E Penny Williams PSM menyatakan, kerjasama tersebut sangat penting untuk membangun hubungan yang baik antara Pemerintah Provinsi NTB dan Provinsi NT of Australia.
“I am really excited to join this today. This is an important relationship and collaboration between West Nusa Tenggara and Northern Territory (Saya sangat bersemangat untuk bergabung hari ini. Ini adalah hubungan dan kerjasama yang penting antara Nusa Tenggara Barat dan Northern Territory,red).” ungkap H.E Penny Williams.
Turut mendampingi Gubernur NTB dalam penandatanganan LoI tersebut, yaitu Asisten I dan II Setda Provinsi NTB serta beberapa kepala OPD ruang lingkup pemerintah Provinsi NTB. ***
Program Inovasi, Spirit Menuju Pendidikan NTB yang Gemilang
Program inovasi memberikan spirit mewujudkan misi NTB yang sehat dan cerdas
MATARAM.lombokjournal.com ~ Sekda NTB, Drs. HL. Gita Ariadi, M.Si mengatakan, Pemrov NTB mengapresiasi Pemerintah Australia, Kementerian, Lembaga dan NGO lainnya yang telah menjadikan NTB sebagai lokasi pelaksanaan Program inovasi.
Program untuk memajukan dunia pendidikan di NTB itu, memberikan sprit menuju pendidikan NTB yang Gemilang, dan mewujudkan misi NTB yang sehat dan cerdas.
Sekda mengatakan itu, dalam acara Pemantauan Bersama Implementasi Program Inovasi Provinsi NTB, di Aula Sidang Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unram,Senin (28/03/22) .
Pertemuan ini juga dihadiri perwakilan Pemerintah Australia, perwakilan Bappenas, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan teknologi, NGO dan lainnya.
Miq Gita sapaan akrab sekda NTB ini menambahkan, upaya yang dilakukan Pemprov NTB berkolaborasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak, merupakan ikhtiar untuk meningkatkan human development indeks Provinsi NTB, yang dari tahun ke tahun berada pada posisi yang kurang menguntungkan.
“Dan Alhamdulillah kondisi saat ini NTB sudah berada pada posisi yang lebih baik lagi,” katanya.
Diharapkan, human development indeks dari tahun ke tahun NTB akan berada pada posisi semakin membaik. Meski demikian ikhtiar dari satu periode ke berikutnya tidaklah semudah membalikkan tangan.
Untuk menaikkan point human development indeks satu digit saja, butuh perjuangan keras.
Namun perjuangan yang berat untuk meraih sukses tersebut, akan ringan kalau dilakukan bersama-sama untuk mewujudkannya.
“Dan pencapaian ini akan terus kita tingkatkan menjadi lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang,” kata Miq Gita.
Miq Gita juga berharap kepada para Kepala bappeda, Kadis Dikbud yang ada di Kabupaten/Kota se NTB akan memberi motivasi dan menjadi inovasi pengembangan pendidikan di daerah, dan bisa dijadikan pedoman untuk melihat perspektif dan orientasi pembangunan SDM di NTB.
Bagi Sekda NTB, menjadi tugas pemerintah untuk melakukan afirmasi atau dukungan penganggaran yang dialokasikan, baik dari APBN maupun APBD sedemikian rupa untuk mendukung program peningkatan SDM melalui jalur pendidikan.
“Oleh karena itu praktik-praktik baik dan inovasi merupakan suatu ikhtiar untuk mencari solusi atau menemukan cara baru guna mengatasi permasalahan-permasalahan klasik yang kita hadapi dengan menemukan sebuah treatmen-treatmen baru,” kata Gita Ariadi.
Sekda memahami inovasi-inovasi yang dilakukan guna memperkuat arah pendidikan didasarkan pada pengalaman-pengalaman, temuan, kajian dan pemikiran dari berbagai pihak.
Dan menjadi suatu kebanggaan NTB dijadikan tempat mengembangkan program inovasi tersebut.
“Berangkat dari itu semua, program inovasi yang berorientasi pada peningkatan SDM menjadi komitmen Pemprov NTB untuk memberikan dukungan bagi afirmasi di bidang pendidikan,” katanya.
Miq Gite berharap, mudah-mudahan sisa waktu dua tahun dari program inovasi ini benar-benar akan bisa terwujud dengan tetap memperkuat kolaborasi, sinergi dengan semua pihak.
“Kami mengajak apa yang sudah dan akan terus dilakukan seperti ini kita niatkan sebagai sebuah investasi besar untuk generasi mendatang. Dengan demikian kita bisa menghilangkan sekat-sekat yang menjadi pembatas. Sehingga upaya mensukseskan program inovasi di NTB diharapkan bisa menjadi model untuk diterapkan di daerah-daerah lain,” katanya.
Pemprov NTB, lanjut Sekda, akan tetap membutuhkan kerjasama, kolaborasi, baik dari Kementerian, Lembaga dan NGO lainnya.
Semua itu diperlukan sebagai bentuk dukungan guna menghasilkan SDM-SDM NTB unggul yang dimulai dari pendidikan dasar, menengah dan seterusnya yang pada saatnya siap berkompetisi dalam membangun pendidikan di NTB.
“Dan Pemprov NTB tetap konsisten mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan SDM, menimba ilmu dan pengalaman di tempat-tempat lain. Mudah-mudahan program cendekia NTB bisa secara khusus bersinergi dengan Pemerintah Australia, agar anak-anak NTB bisa melanjutkan pendidikannya di Australia, atau melalui kerjasama lainnya di masa-masa yang akan datang,” tandas Miq Gita.
Kepada Pemerintah Australia yang telah memberikan kepedulian bagi program ini untuk NTB, Pemprov NTB tentu memiliki tanggung jawab moral untuk mengimplementasikan keunggulan-keunggulan yang dimiliki pemerintah Australia dalam penciptaan SDM.
Dan pola-pola seperti ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk ditransfer di NTB.
Seperti diketahui Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bekerjasama dengan Pemerintah Australia dalam memajukan sektor pendidikan NTB.
NTB merupakan provinsi pertama mitra inovasi di Indonesia, implementasi di NTB dilakukan di enam kabupaten yaitu Kabupaten Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu dan Kabupaten Bima.
Program pendidikan difokuskan pada peningkatan mutu pembelajaran siswa tentang literasi dan numerasi pada jenjang pendidikan dasar.
Tim inovasi bekerjasama dengan guru, orang tua, kepala sekolah, pengawas, pemerintah kabupaten, dan pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan upaya rintisan terobosan pendidikan.***
Pelaku UMKM Bermental Tangguh, Ini Kata Bunda Niken
Pelaku UMKM di NTB mendapatkan kesempatan untuk bisa menampilkan produk-produk yang ramah lingkungan
LOBAR.lombokjournal.com ~ Pelaku UMKM di NTB adalah orang-orang bermental tangguh, mau belajar dan terus memperbarui diri.
Hal itu dikatakan Hj Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Dekranasda Provinsi NTB, saat memberikan sambutan dalam acara Earth Hour yang berlangsung di Hotel Sheraton, Sabtu (26/03/22).
“Pada dasarnya, UKM itu adalah sebuah entitas yang memerlukan individu-individu yang memiliki karakter wirausaha yang baik, termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang bermental tangguh, mau belajar dan terus memperbarui diri,” tutur Bunda Niken.
Earth Hour adalah sebuah pergerakan untuk meningkatkan kesadaran seluruh penduduk dunia akan isu-isu global yang mempengaruhi lingkungan di sekitar mereka.
Gerakan ini dilakukan setiap tahun di 187 negara dan wilayah di 7 benua, menjadikannya pergerakan iklim terbesar dalam sejarah.
UKM Lokal yang telah terkurasi mendapatkan kesempatan untuk bisa menampilkan produk-produk yang ramah lingkungan dari bahan baku yang dimanfaatkan dan proses pembuatannya.
Dalam penyelenggaraannya, terdapat sebanyak 13 pelaku usaha yang berpartisipasi dalam perayaan tersebut, di antaranya menjual produk-produk khas Pulau Lombok seperti mutiara, kopi dan tenun Lombok, serta kerajinan daur ulang.
Ia juga melanjutkan, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk terus belajar.
“Ini adalah sebuah kesempatan yang luar biasa untuk para pelaku UKM untuk terus bergerak. Artinya, pelaku UKM ke depannya sangat optimis dan bisa terus ikut serta dalam kegiatan-kegiatan seperti ini,” tutur Bunda Niken.***
Asdeksi Adakan Workshop Penyusunan LKPJ Kepala Daerah
Bangun Kemitraan dengan Kepala Daerah, Asdeksi menyelenggarakan workshop yang mengkaji penyusunan LKPJ Kepala Daerah
BANDUNG.lombokjournal.com ~ Workshop bertajuk ‘Peran Setwan dalam Membangun Kemitraan Kepala Daerah dan DPRD’ berlangsung di Bandung, Jum’at.(25/03/22).
Penyelenggaraan Workshop Nasional itu oleh Asosiasi Sekretaris DPRD Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia (Asdeksi) itu, secara spesifik mengkaji penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Daerah serta penyelenggaraan Hak Keuangan dan Aadministrasi DPRD.
Narasumber workshop tersebut yakni, dari Kemendagri RI Dr. Bahri, S.STP., M.Si, Praktisi Psikologi, Dra. Hj. Okky Asokawati, M.Psi, Akademisi Institut Ilmu Pemerintahan, Dr. Muhadam Labolo, AMP., M.Si, serta narasumber lainnya yang memberikan pencerahan bagi pengembangan dan peningkatan kinerja Sekretariat DPRD.
Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asdeksi Widyo Prayitno, SH sebelum membuka acara menyatakan, adanya pelonggaraan aktivitas pada masa pandemi memungkinkan terlaksananya workshop secara tatap muka, dengan menghimbau kepada peserta, agar tetap mematuhi protokol kesehatan.
Workshop ini ditujukan memantapkan peran Setwan dengan empat materi inti. Workshop berlangsung selama empat sesi hingga tanggal 27 Maret 2022.
“Materi workshop dari sisi penyelenggaraan hak keuangan DPRD, pengembangan diri untuk meningkatkan keterampilan dan etos kerja, peran DPRD dalam penyusunan LKPJ serta peran harmoni kemitraan antara kepala daerah dengan DPRD,” tuturnya.
Selain agenda workshop, Asdeksi juga menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bagi Pengurus Asdeksi daerah.
Menurut Ketua DPN Asdeksi Widyo Prayitno, SH Rakornas dimungkinkan adanya rekomendasi-rekomendasi urgen yang dihasilkan terkait kebijakan yang berdampak bagi Sekretariat DPRD.
Terutama pada aspek penyusunan LKPJ Kepala Daerah. Sebagaimana diketahui bahwa sekitar Bulan Maret-April, seluruh DPRD Kabupaten/Kota menjadwalkan LKPJ Kepala Daerah. Melalui mekanisme pembahasan yang telah reguler dilaksanakan setiap tahunnya. ***
Event internasional MotoGP berlangsung sukses, kini Pemprov NTB akan mensosialisasikan MXGP melalui Bincang Gemilang di Istana Dalam Loka Sumbawa Besar
MATARAM.lombokjournal.com ~Setelah sukses menyelenggarakan event internasional MotoGP di Sirkuit Mandalika, kini Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai mensosialisasikan pagelaran MXGP di Pulau Sumbawa.
Melalui Dinas Kominfotik menggelar rapat koordinasi bersama Stakeholder, yang dikemas dengan Bincang Gemilang bertajuk “Road To MXGP Samota NTB Indonesia” di ruang kerja Kadis Kominfotik, di Mataram Kamis (24/03/22).
Kepala Diskominfotik, Najamuddin Amy menjelaskan Bincang Gemilang rencananya akan digelar di pelataran Istana Dalam Loka Sumbawatanggal 30 Maret mendatang.
Ia mengajak stakeholder terkait lainnya perwakilan Bank NTB Syariah, Telkom, Telkomsel, Balmon, OJK, Dikbud dan lainnya untuk bersama-sama hadir sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi untuk mendukung sebelum gelaran MXGP di Samota.
Sehingga bisa segera ditindaklanjuti guna memperkuat jaringan telekomunikasi dalam penyelenggaraan event.
Turut hadir rapat tersebut Perwakilan Telkomsel, Telkom, Balmon, Perwakilan Bank NTB, Perwakilan Dikbud dan OJK. ***
Media Berperan Mengantarkan Sukses MotoGP
Pemprov NTB berterima kasih pada media menyampaikan informasi kepada masyarakat sehingga antusiasme dan penyelenggaraan MotoGP sukses
MATARAM.lombokjournal.com ~ Media berperan mengantarkan kesuksesan MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika, yang berlangsung 19-20 Maret 2022 lalu
Media dengan memanfaatkan fasilitas Media Center Indonesia (MCI) di Sirkuit Mandalika, banyak berita baik MotoGP yang disebar oleh para awak media ke seluruh dunia.
Pemerintah Provinsi NTB melalui Sekretaris Daerah, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas partisipasi dan dukungan para awak mediayang setia, mulai dari pra hingga pasca penyelenggaraan MotoGP di NTB.
Sekda mengapresiasi ratusan media telah berpartisipasi, mulai dari media cetak, elektronik, radio dan online baik nasional maupun media lokal. Serta Radio yang terus menyampaikan informasi di udara.
Lalu Gita Ariadi
“Merupakan peran besar jurnalis dan awak media dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sehingga antusiasme dan penyelenggaraan MotoGP sukses digelar,” tutur Miq Gite, sapaan Sekda, di Mataram, Kamis (24/03/22).
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Dinas Kominfotik NTB telah berikhtiar menghadirkan Media Center Indonesia (MCI) sejak Ajang World Superbike, dan Pre Season MotoGP lalu kemudian diresmikan jelang MotoGP Mandalika 2022, Kamis (17/03/22) lalu.
MCI yang memfasilitasi para awak media secara cuma-cuma ini untuk memfasilitasi dan memberikan kenyamanan, khususnya bagi media yang belum mendapatkan kesempatan untuk masuk ke paddock MotoGP karena keterbatasan ruangan.
Sementara banyak media Indonesia yang ingin meliput balapan dan sisi lain penyelenggaraan balapan di Sirkuit Mandalika.
Kominfo membuka MCI yang berlokasi dekat dengan paddock Sirkuit Mandalika. Sehingga dapat memudahkan para jurnalis untuk meliput dan mendapatkan akses informasi.
Berbagai fasilitas pendukung juga disediakan, seperti jaringan internet berkecepatan tinggi hingga 100 Mbps, mushola hingga makanan-minuman bagi rekan-rekan jurnalis.
Untuk membantu kinerja jurnalis, disediakan juga 20 unit laptop, mesin pencetak (printer), televisi, dan kursi refleksi. Selain itu, ruangan MCI juga dilengkapi enam mesin pendingin ruangan. ***
MotoGP Mandalika 2022, Catatan Transportasi yang Kacau (2)
Dalam perhelatan MotoGP Mandalika 2022, penonton dikecewakan layanan shuttle bus yang kacau, dan petugas pun pasrah. Ini laporan Naniek I Taufan dari Mandalika
MATARAM.lombokjournal.com ~ Kekacauan shuttle bus, dimulai sejak pemberangkatan menuju Mandalika, dan usai perhelatan MotoGP usai.
Bahkan saat penonton harus berjuang untuk pulang dengan berjalan kaki menuju tempat jemputan, dan harus berebutan naik bus, banyak di antaranya harus berpisah dengan rombongan.
Lulusnya Pertamina Mandalika International Street Circuit dalam uji hasil track inspection oleh Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), Dorna Sports dan IRTA, dengan nilai tertinggi (grade A), merupakan bukti bahwa sirkuit Mandalika dibangun sesuai ketentuan.
Kabar ini diperoleh tanggal 17 Maret 2022 atau sehari sebelum event MotoGP digelar secara resmi.
Ini artinya layak sebagai tempat mengaspal bagi para riders dunia sekelas MotoGP. Dan setelah digelar tiga hari berturut-turut, 18-20 Maret 2022, event ini meraih kesuksesan.
Tapi sukses di sirkuit tentu tidak serta merta berarti semua aspek berjalan baik. Ada kekurangan di sana-sini tentu wajar, mengingat event ini baru pertama kali digelar.
Segala (management) fasilitas khususnya bagi penonton juga baru pertama kali digunakan atau dioperasikan.
Penonton juga rata-rata baru pertama kali datang menonton MotoGP ke Sirkuit Mandalika yang begitu luas, sehingga sangat wajar jika mengeluh soal jarak yang jauh dari satu pintu masuk ke pintu masuk lainnya.
Meski semua masih baru, terutama pihak penyelenggara MotoGP bagian transportasi bus yang disiapkan untuk penonton juga baru bekerja, bukan menjadi alasan pembenaran pada kekacauan yang terjadi di hari pamungkas MotoGP Mandalika.
Sebab, walau transportasi hanya satu dari banyak bagian lain yang sukses dalam event ini, soal amburadulnya transportasi bagi penonton ini adalah sesuatu yang fatal. Panitia rupanya tidak siap dengan managemen transportasi.
Tidak menghitung dengan baik keseimbangan antara penonton yang jumlahnya melebihi 60 ribu orang, yang pasti menimbulkan kerumunan yang luar biasa, dengan ketersediaan jumlah shuttle bus.
Tampaknya pula, keliru menghitung kemacetan yang ditimbulkan dari keramaian yang pasti terjadi yang jelas akan menunda perjalanan bus. Serta tidak menghitung jarak tempuh shuttle bus dari dan ke Mandalika.
Bisa dibayangkan penonton yang menginap di Lombok Utara, yang jarak tempuh rata-ratanya sekitar 2,5,-3,5 jam baru bisa tiba di Sirkuit Mandalika. Artinya shuttle bus yang bertugas menjemput penonton di Lombok Utara via Bangsal, membutuhkan waktu 5-7 jam untuk mengantar ke Mandalika dan kembali ke Bangsal untuk angkutan berikutnya.
Begitu pula dengan penonton dari Mataram yang membutuhkan waktu 1-1,5 jam untuk bisa tiba di Mandalika. Shuttle bus membutuhkan waktu 2-3 jam untuk PP Mataram Mandalika. Belum lagi di titik terjauh Lombok Timur.
Sementara itu puluhan ribu orang menanti bus tersebut dalam waktu nyaris bersamaan di hari yang sama. Semua ingin lekas tiba di Mandalika. Dan semua ingin segera meninggalkan Mandalika begitu MotoGP berakhir di sore hari.
Dan yang melayani transportasi ribuan orang itu hanya sebanyak 278 unit Shuttle bus yang disiapkan Dishub Provinsi NTB terdiri atas 27 bus ukuran besar, 70 bus ukuran medium, dan 181 minibus. Semuanya gratis untuk penonton.
Kemacetan saat pulang
Nanti juga ditunjang angkutan sewa khusus dan alat angkut konvensional, sesuai ketentuan.
Kekacauan soal transportasi ini sesungguhnya sudah dimulai sejak pagi, saat penonton mulai dijemput di titik-titik penjemputan yang sudah ditentukan. Dengan jumlah penonton yang sangat banyak, bahkan di titik penjemputan eks Bandara Selaparang Mataram, medsos sudah mulai riuh dengan keluhan. Shuttle bus yang menjemput sampai agak siang tak tiba-tiba, sementara mereka sudah menunggu sejak pagi.
Apa penyebabnya? Selain bus yang kurang juga akibat kemacetan parah yang terjadi mulai dari depan Bandara Internasional Lombok, lalu di jalur setelahnya dan semakin parah saat mendekati Parkir Barat dan Parkir Timur. Ini yang menyebabkan bus-bus terlambat menjemput penonton.
Akibat lain dari keterlambatan bus, membuat penonton yang sudah tumpah menanti bus, terpaksa harus berebut, dulu-duluan agar bisa segera naik bus. Kemacetan ini bahkan memakan waktu sampai 5 jam dari Mataram hingga ke Sirkuit Mandalika.
Sebab bukan hanya soal kemacetan dalam perjalanan dari Mataram menuju ke Parkir Timur (PT) dan Parkir Barat (PB) yang menyebabkan lamanya penonton tiba di Sirkuit Mandalika, melainkan juga harus berebut bus dari PB dan PT untuk menuju pintu-pintu masuk sesuai dengan zona tiket yang dibeli.
Banyaknya penonton yang memenuhi PB dan PT membuat petugas yang jumlahnya tidak banyak, benar-benar kewalahan. Sopir-sopir dan petugas bus lainnya tak mampu membendung situasi. Mereka terlihat seperti pasrah.
Bus-bus di PB dan PT yang seharusnya menjemput penonton menuju pintu-pintu masuk (gate 1,2 dan 3) sesuai dengan warna dan abjad tiket (merah gate 1, biru gate 2 dan hijau gate 3), sudah tidak lagi sesuai dengan aturannya.
Hal ini terutama saat hari semakin siang dan semua penonton merasa harus segera tiba di tribun untuk menonton sebab mereka juga membeli tiket dengan harga yang tidak murah. Itu baru saat penonton datang ke Mandalika hingga ke pintu masuk masing-masing.
Penonton yang begitu antusias menantikan momen menonton langsung MotoGP di negeri sendiri ini, sesungguhnya sangat menikmati kesempatan yang tidak semua orang bisa datang kembali di Sirkuit Mandalika. Khususnya bagi mereka dari luar Lombok yang harus rela menyiapkan budget bukan semata untuk membeli tiket, melainkan untuk biaya transportasi laut/darat/udara, ke dan dari Lombok.
Biaya menginap dan akomodasi lainnya serta biaya konsumsi selama di Lombok. Ditambah lagi biaya transportasi lokal selama berada Lombok.
Bagaimana tidak, mereka kelihatan asyik-asyik saja. Meski masuk kepanasan dan pulang kehujanan. Termasuk pula ketika angin kencang, hujan yang mengguyur sangat deras disertai petir, yang membuat basah kuyup (penonton di tribun terbuka).
Juga ketika balapan MotoGP ditunda hingga sekitar dua jam akibat hujan deras, semua itu tidak menyurutkan semangat para penonton.
Mereka tetap nikmati semua peristiwa itu, sebagai bagian dari keseruan menonton langsung event internasional sekelas MotoGP yang selama ini hanya bisa ditonton lewat layar kaca. Raungan mesin motor para riders yang dipacu dengan kecepatan tinggi rata-rata di atas 300km/jam, kecepatan riil di aspal lintasan yang bisa dilihat langsung di depan mata itu, tidak bisa dideskripsikan oleh kamera secanggih apa pun.
Kamera tidak bisa menjelaskan hal itu sebaik kenyataannya. Tidak bisa menggantikan emosi penonton saat ‘bertemu’ langsung aksi para riders yang mengaspal di Sirkuit Mandalika Lombok.
Para penonton di hari Minggu (20 Maret), yang tiba sejak pagi di Sirkuit Mandalika bisa menyaksikan seluruh sesi balapan. Mulai dari sesi pemanasan (Warm Up), Moto3 pukul 10:00 wita. Lalu Moto2 pada pukul 10:20 wita dan dilanjutkan kelas MotoGP pada 10:40 wita.
Setelah itu, pada pukul 12.00 wita para pebalap Moto3 akan mulai berlomba sepanjang 18 lap untuk menjadi yang terdepan. Dilanjutkan dengan Moto2 pada 13:20 wita yang melintasi 20 lap. Sementara itu para pebalap utama MotoGP mulai mengaspal sekitar jam 5 sore (seharusnya terjadwal 15.00 wita, ditunda karena hujan) untuk memperebutkan posisi terdepan dalam lomba yang berlangsung dalam 20 putaran.
Sesi utama MotoGP di Pertamina Mandalika International Circuit ini semestinya berlangsung 27 putaran (lap). Tapi karena kondisi lintasan balapan MotoGP dikurangi dari sebelumnya 27 menjadi 20, karena kondisi lintasan aspal terlalu panas karena terik matahari.
“Kami memutuskan mengurangi jarak tempuh balapan untuk menjaga kondisi trek karena masalah aspal,” begitu konfirmasi yang dikeluarkan Franco Uncini, selaku Grand Prix Safety Officer, dikutip dari situs resmi MotoGP.
Semua enjoy dan puas bisa menonton secara langsung. Aksi para riders benar-benar menghibur hati mereka yang dinilai sebanding dengan mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk bisa sampai di tribun Sirkuit MotoGP ‘milik sendiri’ ini.
Hal tersebut sebenarnya sempat membuat penonton melupakan kroditnya perjalanan mereka tadi untuk bisa tiba di tribun. Tapi kekacauan transportasi berikutnya, di saat pulang menonton, benar-benar membuat penonton rata-rata mengeluh dan kecewa.
Sekitar pukul 17.30 wita, usai sesi utama MotoGP yang menempatkan Miguel Oliveira, rider dari Red Bull KTM sebagai pemenang Pertamina Grand Prix of Indonesia, penonton sudah mulai berangsur-angsur meninggalkan tribun keluar dari pintu keluar masing-masing. Di sinilah kekacauan yang menyedihkan bagi penonton itu terjadi.
Puluhan ribu orang yang berkumpul secara bersamaan keluar menuju lokasi shuttle bus yang sedianya mengantar mereka ke PB dan PT. bersamaan dengan keluarnya penonton itu, mobil-mobil yang ada di areal parkir dalam sirkuit pun bersamaan ikut keluar.
Alhasil lalu lintas macet. Para penonton yang berjalan di bawah gerimis yang terus turun, awalnya tertib menanti bus di perhentian yang sudah ditentukan. Para petugas lapangan yang mengatur juga terus bekerja.
Tapi, menit demi menit selanjutnya, penonton yang berkumpul itu semakin banyak menjadi lautan manusia yang bergerak menuju titik yang sama. Di saat itu pula, shuttle bus yang diharapkan datang, tidak banyak yang tiba. Karena itu, setiap kali bus tiba, semua berebutan naik sembari saling dorong satu sama lain.
Areal halte yang becek penuh lumpur akibat hujan, tidak lagi dipedulikan oleh penonton. Yang mereka nanti hanyalah segera bisa mendapatkan bus yang akan mengantar mereka ke PB dan PT, tempat di mana mereka memarkir kendaraan atau akan melanjutkan perjalanan dengan shuttle bus juga, menuju tujuan masing-masing.
Rebutan dan saling berdesakan naik bus, membuat petugas lagi-lagi kewalahan. Mereka terlihat pasrah. Membiarkan para penumpang berduyun-duyun berjalan ke arah terjauh di mana mereka bisa menyetop bus lebih cepat. Dan itu jaraknya sangat jauh. Tapi para penonton rela berjalan jauh berkilo-kilo meter demi mendapatkan bus menuju PB dan PT.
Saat ditanya di mana penonton harus menunggu bus untuk menuju PT dan PB? Petugas hanya menjawab lemah.
“Seharusnya di sini, tapi karena semua penonton sudah mencegat bus di ujung jalan yang jauh di sana (sambil menunjuk arah beberapa kilometer), bus tak bisa sampai ke mari,” kata petugas di halte bus pintu 1, pasrah.
Kemacetan parah tak bisa dihindari. Jalan-jalan di depan Sirkuit Mandalika ramai. Mereka yang tidak mendapatkan bus terpaksa berjalan kaki berkilo-kilo meter, berharap bisa menemukan bus. Harapan itu sirna, sebab jumlah bus tidak sebanding dengan banyaknya penonton.
Salah satu peristiwa terjadi di area sekitar pintu 1 Sirkuit Mandalika, penonton akhirnya memaksa bus dengan stiker warna hijau, bertuliskan zona, H,I,J,K, untuk berhenti dan mengangkut mereka menuju PT.
Bus ini sejatinya harus menjemput penonton di pintu 3 zona hijau untuk dibawa ke PT. Tapi perjalanan mereka mustahil sampai ke pintu 3 mengingat ratusan penonton sudah mengerubungi bus yang terlihat dalam keadaan kosong itu. Supir dan petugas bus tak berdaya, sebab para penonton mulai memukul-mukul bus.
Pintu bus pun dibuka, penonton menyerbu naik. Tampak sekali kesedihan, kekecewaan sopir dan petugas bus yang terpaksa tidak bisa melaksanakan tugas menjemput penonton zona hijau di pintu 3.
“Kami ini hanya melaksanakan tugas, bapak-bapak, ibu-ibu seharusnya tolong mengerti bahwa bus ini sesuai warna stikernya harus menjemput penonton di pintu 3 zona hijau. Kalau kami sekarang harus kembali ke PT mengantar bapak-bapak, ibu-ibu ke sana, bagaimana dengan penonton di pintu 3 yang menjadi tanggung jawab kami untuk dijemput,” ujar sopir dan petugas bus, setengah memohon namun tak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya, dengan terpaksa bus ini berputar balik dari depan pintu 1 menuju PT. gagal melaksanakan tugas menjemput penonton di pintu 3 zona hijau.
Akibat peristiwa ini, penonton yang sudah mengantri lama menunggu bus di pintu 3, jelas semakin kekurangan bus penjemputan. Dan tidak mustahil peristiwa ini terjadi di jalan sekitar sirkuit dan di pintu-pintu sirkuit lainnya.
Masalah belum selesai sampai di sini. Hingga sekitar pukul enam sore, bus tidak bisa masuk terminal PT. tertahan dan stagnan jauh dari terminal PT. Selama sekitar 1 jam penonton yang ada di atas bus pun memilih turun dan berjalan kaki menuju PT yang masih sangat jauh. Tak ada pergerakan sedikit pun. Penonton yang turun terpaksa melanjutkan berjalan kaki menuju PT dan tempat-tempat parkir yang jaraknya bisa sampai 30 menit atau lebih jalan kaki.
Ini sungguh membIngungkan. Dan bukan lelucon yang perlu ditertawakan.
Bahkan ada penonton yang sejak dari jam 6 pagi meninggalkan penginapan via Bangsal Lombok Utara dan masih ‘terkurung’ di Mandalika hingga malam hari, tak jua mendapatkan bus untuk pulang. Mereka pun tertinggal oleh rombongan yang sudah terlebih dahulu harus meninggalkan lokasi Mandalika.
Hingga pukul 8 malam, belum juga ada pergerakan yang berarti lalu lintas sekitar PT. Yang membawa kendaraan sendiri, semua stand by di dalam mobil, menanti kapan kemacetan itu terurai. Pada sekitar setengah 9 malam, kendaraan mulai bergerak, namun hanya beberapa meter lalu stagnan. Begitu seterusnya hingga lebih dari pukul 9 malam.
Beberapa saat kemudian, barulah kendaraan yang terkunci di sekitar PT mulai bisa bergerak. Keramaian terlihat masih sangat banyak. Penonton kebingungan menanti bus. 7 orang yang kehilangan jejak rombongannya, terpaksa memohon untuk menumpang di mobil penonton lainnya. beruntung mereka bisa masuk dan ikut hingga ke Mataram.
Mereka berasal dari Pontianak Kalimantan Barat dan Bandung Jawa Barat. Bersama 60 orang lainnya, mereka satu rombongan dan menginap di Lombok Utara. Mengingat jarak tempuh Lombok Utara ke Mandalika yang cukup jauh, mereka berangkat dari hotel tempat menginap menggunakan kendaraan carter rombongan sejak pukul 6 pagi hingga sekitar pukul 9 baru bisa keluar dari Mandalika.
Beruntung rombongan menunggu mereka di Mataram. Kemacetan di perjalanan menuju Mataram juga membuat ke 7 orang ini tiba di Mataram sekitar pukul 11 malam untuk bergabung makan malam dengan rombongan. Lalu jam berapa mereka akan tiba di Lombok Utara? Jika jam 12 malam mereka menuju Lombok Utara, maka bisa dipastikan paling cepat mereka tiba jam 1 dini hari. Sementara esok pagi-pagi mereka harus berangkat pulang via Bali.
Begitulah perjuangan para penonton MotoGP di momen perdana ini. Berjalan kaki, berebutan bus hingga kehilangan rombongan dan tentu saja banyak cerita lainnya yang lebih menyedihkan dari itu akibat tidak siapnya transportasi untuk penonton ini.
Apakah ini akan terulang di MotoGP berikutnya? Jelas puluhan ribu penonton itu tidak menginginkan hal ini terjadi. Perbaikan management transportasi tersebut, wajib dibenahi. Para birokrat tidak perlu banyak bicara dalam jumpa pers-jumpa pers dengan percaya diri mengungkap kesiapan yang semu yang jauh dari kenyataannya. Bekerja dalam diam, itu lebih baik dari banyak bicara tapi tak paham apa yang harus dilakukan dengan tepat.
Kekacauan yang terjadi pada sektor transportasi ini, jelas memperlihatkan sejauh mana kualitas kerja birokrasi khususnya di daerah yang diserahi tugas dan tanggung jawab ini.
Ajang internasional sekelas MotoGP ini semestinya menjadi tantangan bagi birokrasi dalam mengelola kapasitas dan kapabilitasnya dalam mengawal kebijakan-kebijakan yang inovatif.
Kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi NTB, Adhar Hakim yang mantan wartawan televisi nasional mengungkapkan, bahwa ajang-ajang internasional seperti MotoGP ini sebenarnya adalah sebuah momentum untuk mengklarifikasi berkali-kali, apakah birokrasi di daerah siap bergerak cepat, berinovasi dan dapat bergerak sebagai entrepreneurship birokrasi yang mampu menggalang publik untuk ikut berpartisipasi baik secara ekonomi maupun sosial dunia.
“NTB masih terus harus belajar lebih banyak. Pengembangan konsep kerja birokrasi yang kreatif, inovatif dan memiliki basis wawasan yang kuat soal membaca kebutuhan entrepreneurship sektor wisata amat sangat dibutuhkan. Wisata tidak boleh lagi dibaca hanya dengan skala statistik, soal berapa angka pertumbuhan kamar dan kunjungan wisata, tapi sudah harus melebar pada sektor sosial ekonomi lainnya, seperti potensi UMKM, skill terampil, dan jaringan pengembangan,” begitu kritiknya.***
Pelaku UMKM Dapat Berkah Event MotoGP Mandalika
Event MotoGP di Mandalika beri berkah pelaku UMKM, usaha mereka laris dan terus berprofuksi
MANDALIKA.lombokjournal.com ~ Pelaku UMKM dapat berkah event MotoGP Mandalika yang digelar 18-20 Maret 2022.
Dari gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia atau MotoGP Mandalika 2022 itu, para pelaku UMKM umumnya meraih keuntungan lebih dari biasanya.
salah seorang pelaku UMKM yang bergerak di sektor kuliner, Baiq Irma asal Lombok Tengah, mengaku usahanya menjadi laris dan hidup dengan adanya event MotoGP di Mandalika.
“Saya senang adanya event MotoGP di Mandalika, usaha kami laris dan terus berproduksi,” kata Irma, Minggu (20/03/22) saat ditemui di bazar UMKM Parkir Barat (PB) Mandalika, Lombok Tengah.
Pemilik UMKM “Dapur Nanet” mengaku berbagai kemudahan yang diberikan oleh pemerintah, sangat membantu usahanya.
“Kami diberikan kemudahan, stand untuk berjualan ini gratis oleh Pemda Loteng,” kata alumni Unram ini.
Selain kemudahan yang diberikan berupa stand sebanyak 44 stand di lokasi Parkir Barat (PB) dan 20 stand lokasi Parkir Timur (PT), UMKM juga dibekali dengan pelatihan untuk menghasilkan produk yang sehat, menarik dan bercita rasa.
“Pemerintah Provinsi NTB, Pemda Loteng dan Kementerian, sering mengundang untuk membimbing kami dengan pelatihan. Termasuk mengkurasi produk-produk UMKM,” tambah Irma.
UMKM “Dapur Nanet” miliknya menjual beberapa kuliner, seperti nasi lalapan, ayam geprek, es jeruk, nasi ayam merangkat.
Irma mengaku, hari pertama dan kedua perhelatan MotoGP keuntungan yang ia dapat hingga dua kali lipat, dibanding hari biasanya.
Ia berharap kegiatan serupa tidak hanya diselenggarakan dua atau 3 kali setahun. Namun secara rutin dua hingga tiga bulan sekali.
“Terima kasih sebanyak banyaknya, Presiden Jokowi, Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah, Bupati Lombok Tengah, karena telah membangun Lombok Tengah sehingga mendunia,” ucapnya.
Hal yang sama disampaikan salah satu pemilik UMKM di bawah asuhan IPEMI Loteng, Baiq Komariah, adanya event MotoGP telah mendatangkan berkah bagi pelaku UMKM.
Produk miliknya, Sate Pusut Ayam Mandiri, dalam sehari bisa terjual hingga 500 kotak. Tidak seperti biasanya, apalagi saat pandemi Covid-19, usahanya tidak banyak berproduksi.
“Sate Pusut Ayam Mandiri kami buat sendiri, karena merupakan makanan khas Sasak Lombok, maka banyak yang meminatinya, dalam sehari bisa 500 kotak lebih terjual,” kata Komariah.
Ia berharap Pemerintah Provinsi NTB, Lombok Tengah dan Pusat, mengadakan acara seperti ini secara terus menerus, agar para pelaku UMKM terus berproduksi dan menggeliatkan ekonomi masyarakat. ***
Sirkuit Diguyur Hujan Petir, Pawang Hujan pun Beraksi
Menjelang race MotoGP, Pertamina Mandalika International Street Circuit diguyur hujan, pawang hujan pun turun ke sirkuit
MANDALIKA.lombokjournal.com ~ Di tengah meriahnya susana Sirkuit Mandalika dengan datangnya Presiden Jokowi, Minggu (20/03/22) siang, penonton di tribun berlarian karena tiba-tiba hujan lebat turun yang disertai petir
Minggu siang ini merupakan waktu yg dinanti-nantikan oleh penonton MotoGP Mandalika 2022.
Presiden Jokowi pada hari Minggu juga hadir
Namun menjelang race MotoGP, Pertamina Mandalika International Street Circuit diguyur hujan. Gerimis mulai turun sejak pukul 14.00 Wita atau setelah berakhirnya balapan Moto3.
Tak lama setelah itu, hujan turun dengan derasnya sehingga para penonton khususnya yg ada di tribun tak beratap memilih berteduh.
Ada pula yang asyik-asyik saja menggunakan jas hujan di bawah guyuran hujan deras disertai sesekali terdengar petir.
Hingga berita ini diturunkan hujan disertai petir masih turun dengan mengguyur sirkuit Mandalika.
Di tengah guyuran hujan, pawang hujan yang akhir-akhir ini fenomenal dan viral bernama Rara turun langsung ke sirkuit Mandalika.
Ia memainkan “mantra” penghalau hujan. Kehadirannya mendapat sambutan riuh penonton, bahkan Para riders dan timnya tersenyum-senyum menyaksikan aksi pawang hujan perempuan ini.
Di Media Center Indonesia Mandalika, para wartawan yang setia meliput sepanjang gelaran MotoGp ini, turut memberi tepukan bagi Sang Pawang dan juga aksi ketawa serta tersenyumnya para riders dan timnya melihat aksi pawang hujan ini.
Sampai saat ini pawang hujan masih “bekerja”. Inilah salah satu keunikan Sirkuit Mandalika Lombok, yang jelas tidak dimiliki sirkuit lain di dunia.
Aksi pawang hujan ini begitu mengundang perhatian dan mendapat sambutan meriah. Harapannya, MotoGP bisa berjalan dengan sangat indah usai hujan berlalu.***