Walaupun ada pontensi peningkatan angka penanggurang yang tercatat hingga Agustus mendatang, persentasinya tidak akan terlalu tinggi
MATARAM.lombokjournal.com – Kepala Disnakertrans NTB, T. Wismaningsih Drajadia menerangkan, pihaknya mencatat setidaknya 15.000 pekerja sektor pariwisata dan 1.450 pekerja sektor lainnya yang sebelumnya dirumahkan, bahkan beberapa terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), sebagian kembali bekerja.
Menurutnya, kembalinya pekerja yang dirumahkan oleh perusahaan sudah mulai berjalan.
Hal itu mengikuti beroperasinya kembali perusahaan setelah sempat tutup karena dampak pandemi Covid-19.
“Itu sebagian sudah ada yang mulai bekerja lagi. Jadi ini baru, kita masih mendata kegiatan-kegiatan (yang mulai aktif) itu,” jelas Wismaningsih saat dikonfirmasi, Rabu (22/7) di Mataram.
Menurutnya, penyerapan kembali pekerja yang dirumahkan memang belum merata. Terutama untuk sektor pariwisata.
Ia menjelaskan, penyerapan kembali pekerja terutama dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang mulai beroperasi. Seperti hotel-hotel yang kembali buka setelah sempat tutup.
“Itu sudah mulai menerima pekerja lagi, tapi kalau persentasenya sampai 50 persen dengan (jumlah pekerja) pariwisata (yang dirumahkan) itu belum bsia. Kalau sektor non-pariwisata rata-rata sudah bekerja lagi,” jelas Wismaningsih.
Peningkatan pengangguran tidak tinggi
Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menyiapkan penghitungan tingkat penganggurang NTB periode 2019-2020 Agustus mendatang.
Mengikuti situasi saat ini, angka pengangguran tersebut diproyeksi tidak akan mengalami peningkatan signifikan.
“Kita lihat di Agustus, apakah dilihat dari ekonomi ini akan membaik, tapi ketika corona baik ekonominya ditarik mundur. Kalaupun tidak, ya tetap diatur lagi. Kalau Corona-nya sudah melandai, aktivitas ekonomi mulai digerakkan,” ujar Kepala BPS NTB, Suntono.
Menurutnya, walaupun ada pontensi peningkatan angka penanggurang yang tercatat hingga Agustus mendatang, persentasinya tidak akan terlalu tinggi.
Pasalnya, walaupun banyak sektor usaha yang tutup dan merumahkan karyawan, namun sektor usaha umum dan mandiri justru berkembang.
“Kalau aktivitas ekonominya belum semuanya pulih, dan yang dilaporkan sekian ribu di PHK dan dirumahkan itu pasti terdampak. Walaupun di teori ketenaga kerjaan orang itu kan ingin tetap hidup. Tidak mungkin kan tidak ada upaya,” jelasnya.
Dicontohkannya, dengan pekerja hotel di NTB yang sebagian besar dirumahkan. Pekerja-pekerja tersebut banyak yang memulai membuka usaha secara mandiri atau bergeser menjadi pekerja di sektor lain yang masih aktif di tengah pandemi yang berlangsung.
“Biasanya begitu. Tadinya pekerja sektor di akomodasi itu sekian, tapi saat pandemi ini terkena PHK, dia bergeser ke sektor informal yang lain. Jadi tukang batu, entah mau jadi pedagang, atau buka usaha itu sangat mungkin,” ujar Suntono.
Menurutnya, NTB secara umum tergolong dalam kategori yang cukup baik terkait tingkat penangguran, dengan persentase 3,6 – 3,7 persen. Artinya, dari 100 angkatan kerja hanya 3 – 4 orang yang dilaporkan masih menganggur.
AYA









