“Terimakasih JKN-KIS, karena telah memberikan perlindungan bagi saya dan keluarga”
lombokjournal.com —
SELONG ; Menjadi penyintas stroke bukanlah suatu hal yang pernah ada pada bayangan wanita paruh baya ini.
Masa-masa sulit ia lalui untuk berjuang melawan keterbatasan kondisi tubuhnya yang mengalami kelumpuhan.
Sumiarti (55) adalah ibu dari tiga orang anak yang sudah hampir 25 tahun menjadi guru di SDN 01 Kabar, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur.
Walaupun berjalan dengan bantuan tongkat, tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mengajar ke sekolah dengan kondisi yang tak seperti orang lain pada umumnya.
“Alhamdulillah saya sangat bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup oleh Allah. Dulu, saat didiagnosa oleh dokter terkena stroke pada Mei 2017, saya sempat merasa sedih dan selalu menangis. Apalagi ketika melihat kondisi saya yang seperti ini,” tutur Sumiarti dengan terbata-bata sambil menunjuk tangan dan kaki kanannya yang tak bisa digerakkan, Senin (11/02) 2019.
Anak dari Sumiarti menuturkan, dulu Sumiarti pernah depresi hingga marah-marah, mengurung diri dan tidak ingin bertemu orang lain bahkan tidak ingin minum obat dan ikut terapi, akan tetapi keluarga tidak pernah bosan membujuk Sumiarti untuk rutin berobat dan menjalani fisioterapi.
Biasanya terapinya 3 sampai 4 kali seminggu di rumah sakit, ada terapi wicara dan terapi fisik. Sudah hampir 1 tahun terakhir ini, kondisi Sumiarti sudah semakin membaik.
“Apalagi biaya terapinya gratis, karena ibu kan punya kartu JKN-KIS, kami sebagai anaknya tidak khawatir keluar biaya yang besar. Sekali perawatan saja bisa 1,5 sampai dengan 2 juta, tidak bisa dibayangkan besar biaya yang dihabiskan ketika tidak menjadi peserta JKN-KIS,” tambah Yuni (25), anak bungsu Sumiarti yang ikut mendampingi ibunya saat wawancara berlangsung.
Sumiarti juga menjelaskan masa-masa sulitnya kala pertama kali kembali mengabdi sebagai guru.
Sumiarti menuturkan, sampai sekarang ia masih ditemani guru lain ketika mengajar. Karena ia memang masih belum bisa berdiri tanpa tongkat. Namun Sumiarti tetap bersyukur karena mejadi guru adalah tugas mulia baginya.
“Dalam perjalanan menuju sekolah, saya hampir setiap hari dibonceng anak saya, sesekali juga menggunakan mobil. Saya juga sering hampir terjatuh saat dibonceng menggunakan motor karena kaki kanan saya kaku sehingga sering kali sulit untuk menjaga keseimbangan dalam berkendara meskipun anak saya mengendarai motor dengan sangat hati-hati.” ungkap Sumiarti sambil mencoba menggerakkan tangan kanannya yang terlihat masih kaku.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit hingga proses terapi latihan, anak-anak Sumiarti mengungkapkan, mereka tidak mengeluarkan biaya sedikitpun dikarenakan ibunya terdaftar pada segmen PPU-PNS.
“Kami terkejut ketika akan membayar biaya perawatan ibu. Ternyata biaya selama di RS Islam Namira bahkan sampai ibu pindah ke Stroke Center RSUD Kota Mataram tidak mengeluarkan biaya sebesar yang kami kira. Biayanya hampir gratis, di luar biaya tambahan perawatan ibu karena pindah kelas ke ruang VIP,” ungkap Lilik (28), anak Sumiarti lainnya yang setia mendampingi ibunya saat ditemui tim Jamkesnews.
Masa-masa kritis telah dilewati oleh Sumiarti. Sebelum terkena serangan stroke, wanita yang selalu tampak tersenyum ini memang memiliki riwayat hipertensi dan selalu rutin minum obat yang diresepkan oleh dokter keluarganya.
Namun, serangan stroke memang tidak bisa diprediksi. Bisa datang secara tiba-tiba ketika faktor-faktor resikonya tidak dikendalikan dengan baik.
Hipertensi dan kolesterol yang tidak dikontrol dapat memicu terjadinya stroke. Kondisi tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak yang berakibat fatal bagi sistem saraf pada tubuh.
Pada akhir wawancara, Sumiarti membagikan pesan dan kesannya kepada sesama pengguna JKN-KIS.
“Terimakasih JKN-KIS, karena telah memberikan perlindungan bagi saya dan keluarga. Saya berpesan kepada masyarakat untuk selalu rutin mengecek tekanan darah dan menjaga pola hidup sehat. Jangan menunggu parah untuk berobat. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Ketika penyakit sudah menjadi parah, kita pasti akan banyak keluar biaya dan waktu, apalagi jika tidak punya jaminan perlindungan kesehatan. Terimakasih BPJS Kesehatan, teruslah berbuat baik untuk masyarakat,” tutup Sumiarti.
Jamkesnews
Narasumber : Sumiarti









