Tak hanya modal untuk produksi mobil listrik, sampai saat ini, semua kegiatan usaha PT GNE belum disertai modal dari pemerintah
MATARAM.lombokjournal.com ––
Rencana PT Gerbang NTB Emas (GNE) memproduksi masal 1000 unit mobil listrik telah didasarkan pada kalkulasi bisnis yang matang, dengan menjadikan pihak swasta sebagai mitra kerja.
Sumber biaya untuk modal produksi seluruhnya didapatkan PT GNE dari kerjasama dengan beberapa perbankan di NTB.
Belum ada suntikan modal dari anggaran pemerintah sampai saat ini.
“Siapa investornya, investornya perbankan. Sekarang Mandiri, Bukopin, BRI, BNI, Bank NTB semua Bank itu jadi mitra kita,” terang Direktur Utama PT GNE Samsul Hadi kepada lombokjournal.com, Kamis (10/09/20).
Perbankan jadi pilihan mitra kerja PT GNE dengan mengedepankan prinsip saling menguntungkan.
Dikatakan, kerjasama dengan Bank sangat dimungkinkan ketika prospek usaha yang dijalankan menguntungkan mereka. Dan sejauh Samsul memimpin PT GNE, perbankan memberikan kepercayaan penuh dalam penyediaan modal.
“Kalau perbankan itu sangat mudah. Kalau dia melihat bisnis itu bisa sustainable, pasti diambil. Karena ada marjin di situ. Karena kalau dia nggak ikut dia juga yang rugi. Ada bisnis kok kita bisa garap sama-sama, kita bagi-bagi,” paparnya.
Belum Ada Anggaran dari Pemerintah NTB untuk Modal Usaha PT GNE
Dijelaskan, tak hanya modal untuk produksi mobil listrik, sampai saat ini, semua kegiatan usaha PT GNE belum disertai modal dari pemerintah.
“Kan dari pemerintah nggak ada. Dari saya masuk itu semua back up-nya perbankan. Jadi kita bisnis aja,” katanya.
Belum adanya anggaran pemerintah yang masuk ke PT GNE disebabkan perubahan Peraturan Daerah (Perda) yang menyebut anggaran 100 miliar rupiah untuk PT GNE mulai digunakan 2021 mendatang.
Itu pun kalau ketersediaan anggaran Pemprov cukup memadai.
“Nanti pada tahun 2021,” ungkapnya.
Di luar itu, Pemda sudah seharusnya menyertakan modal ke BUMD.
Berkaca pada BUMD di luar daerah, hampir semuanya didanai Pemda. Dan dana yang mengalir ke BUMD-BUMD tersebut sangat besar.
“Kalau BUMD-BUMD di DKI itu sampai 1,2 triliun per tahun,” jelasnya.
Semakin besar anggaran pemerintah NTB ditaruh di PT GNE, semakin besar deviden yang nantinya PT GNE setor.
“Makanya kita minta penyertaan modalnya lebih besar perusahaannya juga lebih kompetitif dengan perusahaan lain. Maka kita besarkan penyertaan modalnya. Karena dimana-mana BUMD itu besar-besar penyertaan modalnya,” jelasnya.
Sebelumnya pengamat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram Dr. M. Firmansyah menyebut karakteristik BUMD yang sehat ketika mampu meyakinkan investor swasta menjadi mitra kerja.
Kemandirian finansial BUMD jadi hal mutlak untuk meraih kepercayaan publik bisnis yang lebih besar.
“Dan karakteristik perushaaan yang sehat itu di situ. Mandiri dalam finansial, ada mitra yang dipercaya untuk kerja sama atau lembaga keuangan percaya untuk beri pinjaman. Karena trust bahwa bisnis ini akan bisa berjalan baik,” paparnya.
Ast









