Muncul kemungkinan pembacaan lain setelah menonton pertunjukan ini, tenggelamnya vokal bukan sekadar kelemahan, melainkan bagian dari strategi artistik
MATARAM.LombokJournal.com ~ Menonton “Unconscious Theory” karya Mantra Ardhana – berturut-turut hari Jum’at dan Sabtu (3 – 4 April) di Taman Budaya NTB di Mataram — menghadirkan pengalaman yang tidak lazim dalam sebuah pertunjukan musik.

Selama menonton kurang lebih satu jam, penonton tampak terpaku—bahkan terlambat menyadari bahwa pertunjukan telah usai.
BACA JUGA : Mestro Tari NTB, Mengangkat Tradisi Mampu Mendunia
Karya ini tidak bekerja sebagai konser musik dalam pengertian umum. Ia bergerak ke wilayah Seni Media Baru, di mana bunyi tidak lagi hadir semata-mata sebagai lagu. Tapi semata-mata melainkan sebagai material artistik yang membentuk pengalaman.
Pertunjukan itu tidak berdiri sendiri sebagai komposisi lagu. Menonton pertunjukan ini sebagai seni media pertunjukan itu melakukan pendekatan yang melibatkan visual/ruang. Bunyi sepanjang konser itu diperlakukan sebagai “material artistik”, bukan sekadar hiburan.
Mantra Ardhana menyebut pertunjukan ini sebagai ekspresi emosinya, yang berangkat dari wilayah bawah sadar. Dalam kerangka Psikoanalisis, wilayah ini bukan ruang yang rapi dan naratif, melainkan penuh fragmen, repetisi, dan ketidakteraturan. Hal itu terasa dalam komposisi bunyi yang tidak linear dan cenderung repetitif.
Namun, salah satu pengalaman paling mencolok justru terletak pada relasi antara vokal dan bunyi. Vokal Nyra Maulida, yang secara kualitas kuat dan ekspresif, kerap tenggelam dalam dominasi instrumen.
Pada awalnya, hal ini terasa seperti masalah teknis—ketidakseimbangan dalam pengolahan suara. Tetapi seiring berjalannya pertunjukan, dominasi bunyi tersebut berlangsung konsisten.
Di titik ini, muncul kemungkinan pembacaan lain setelah menonton pertunjukan ini, tenggelamnya vokal bukan sekadar kelemahan, melainkan bagian dari strategi artistik. Vokal—yang biasanya menjadi pusat dalam konser musik—justru dipinggirkan, seolah kehilangan ruang untuk hadir secara utuh.
Ini dapat dibaca sebagai metafora tentang kesadaran individu yang terdesak oleh “kebisingan” dunia luar. Individu tenggelam dalam lalu lintas dan hiruk pikuk keseharian.
BACA JUGA : Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan
Jika demikian, maka saya menangkapnya sebagai pertunjukan seni media baru, yang membuka kesadaran baru para penonton. Pertunjukan ini berhasil memindahkan fokus dari “apa yang didengar” menjadi “bagaimana mendengar”. Menonton pertunjukan ini tidak lagi mencari kejelasan lirik atau melodi, tetapi dipaksa masuk ke dalam pengalaman yang lebih instingtif dan bawah sadar.
Namun demikian, pertanyaan kritis tetap terbuka: apakah dominasi bunyi tersebut sepenuhnya terkelola sebagai pilihan artistik, atau sebagian masih menyisakan persoalan teknis?
Di sinilah karya ini berada dalam wilayah yang ambigu—antara keberhasilan konseptual dan potensi kelemahan eksekusi (persoalan tehnis).
Sebagai karya media baru, menonton “Unconscious Theory” tidak menawarkan keindahan yang mudah dicerna. Ia justru menghadirkan ketegangan, bahkan ketidaknyamanan. Tetapi justru melalui pengalaman itu, pertunjukan ini membuka kemungkinan lain dalam memahami hubungan antara bunyi, tubuh, dan kesadaran.
BACA JUGA : Puisi ke Nada, Perjalanan Lima Karya dalam “Ampenan Groove”
Apakah pertunjukan ini mewakili alam bawah sadar Mantra? Kehadiran “masa lalu” yang memberondong seperti simpang siur mimpi, tidak selalu logis tapi terasa “benar” secara emosional. kaes









