Masa ‘Low Season’, Dinas Budpar KLU Lengkapi Fasilitas Umum di Destinasi Wisata

Ilustrasi Desa Adat Senaru; di are desa di kaki Rinjani ini, pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KLU akan mengembangkan destinasi wisata aternatif / Foto; IST
image_pdfSimpan Sebagai PDFimage_printPrint

Selain melengkapi fasilitas penunjang bagi wisatawan, hal lain yang dilakukan adalah mengembangkan jenis wisata alternatif seperti agrowisata dan wisata seni budaya

TANJUNG.lombokjournal.com

Pandemi Covid-19 memukul sektor Pariwisata di Kabupaten Lombok Utara, karena beberapa negara menutup akses warganya untuk berkunjung ke Indonesia.

Ha itu berdampak pada kunjungan wisatawan manca negara, yang berarti kebijakan menutup akses kunjungan ke Indonesia itu tidak bisa tidak membuat sepinya pengunjung di banyak destinasi wisata di  KLU.

Vidi Eka Kusuma

Saat masa sepi kunjungan wisatawan manca negara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) KLU tak diam berpangku tangan. Situasi paceklik wisatawan itu dimanfaatkan  untuk membenahi fasilitas umum di destinasi-destinasi pariwisata yang ada.

Beberapa fasilitas penunjang pariwisata seperti toilet dan lain sebagainya dibangun di beberapa destinasi pariwisata KLU.

“Kita dari pariwisata mumpung sekarang sedang low season, kita coba membenahi fasilitas umum destinasi-destinasi pariwisata itu,” ujar Kadis Kebudayaan dan Pariwisatanya KLU Vidi Eka Kusuma kepada lombokjournal.com, Rabu (23/09/20).

Selain melengkapi fasilitas penunjang bagi wisatawan itu, hal lain yang dilakukan adalah mengembangkan jenis wisata alternatif seperti agrowisata dan wisata seni budaya.

Kembangkan Pariwisata Alternatif

Agrowisatadi Lombok Utara rencananya diterapkan di dua lokasi yakni kawasan wisata Senaru di Kecamatan Bayan dan kawasan Desa Adat Gumantar di Kecamatan Kayangan, Lombok Utara.

“Pengembangan untuk agrowisata, kita usulkan di Senaru dan kampung adat Gumantar,” katanya.

Untuk wisata seni dan budaya, Vidi menjelaskan akan menjalin kerjasama dengan sanggar-sanggar kesenian yang ada di KLU, dengan mengusung paket pertunjukan reguler.

“Mungkin juga kita bisa bikin paket-paket kebudayaan atau atraksi pertunjukan yang mungkin (bisa) menjadi daya tarik bagi wisatawan-wisatawan yang mungkin butuh hiburan,” ungkapnya.

Untuk kawasan wisata Gili Meno, Vidi berencana menata ulang danau Meno agar terlihat lebih menarik.

Hal tersebut dilakukan untuk lebih memajukan pariwisata di Gili Meno agar setara dengan Gili Air dan Trawangan.

“Kita tata danau Meno ini. Kita berharap bisa mengimbangi daya tarik dua Gili yang lain (Gili Air dan Trawangan),” jelasnya.

Ast