Hardiknas; Mengenal Pelaku Transformasi Pendidikan 

Mengenal Doktor Muda NTB, Dr. Muhamad Arifin, S.Pd, M.Pd, sang penggerak Transformasi Pendidikan dari pesantren Lombok Barat

pada momentum hardiknas kita kenalkan Dr. Muhamad Arifin, S.Pd, M.Pd, seorang akademisi muda asal Banyumulek, Nusa Tenggara Barat
Dr. Muhamad Arifin, S.Pd, M.Pd, DR Muhamad Arifin pada momentum Hardiknas mengingatkan, masa depan pendidikan Indonesia terletak pada integrasi antara kecerdasan akademis / Dokpri
image_pdfSimpan Sebagai PDFimage_printPrint

Pada momentem Hardiknas, DR Muhammad Arifin menegaskan, pendidikan harus mampu mencetak lulusan yang maju, kompetitif, dan inovatif

MATARAM.LombokJournal.comHari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei bukan sekadar seremoni tahunan untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara. 

Lebih dari itu, momentum Hardiknas merupakan alarm bagi bangsa Indonesia untuk terus menghidupkan api literasi dan karakter di tengah gempuran modernitas. 

BACA JUGA  :  Inovasi Mahasiswa, Bikin Mesin Pengiris Tempe Tenaga Surya

, Esensi filosofi “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” sejatinya sedang diuji: sejauh mana institusi pendidikan mampu mencetak individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian sosial yang nyata.

Di tengah transformasi besar dunia pendidikan, muncul sosok-sosok inspiratif yang menjadi representasi nyata dari semangat Hardiknas tersebut. 

Salah satunya adalah Dr. Muhamad Arifin, S.Pd, M.Pd, seorang akademisi muda asal Banyumulek, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan hidupnya mencerminkan bahwa pendidikan adalah tangga eskalasi sosial yang inklusif. Memulai langkah dari SDN 05 Banyumulek hingga menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan Mataram, Arifin membuktikan bahwa latar belakang santri bukanlah penghalang untuk meraih puncak akademik. 

BACA JUGA : Anak-anak Tak Bisa Bebas Bermedia Sosial

Melalui program beasiswa 5000 Doktor dari Kementerian Agama Republik Indonesia, ia berhasil meraih gelar Doktor (S3) di IAIN Jember pada usia 30 tahun dengan predikat cumlaude, sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa kerja keras dan dukungan negara dapat melahirkan intelektual muda yang mumpuni.

Namun, bagi pria kelahiran 31 Desember 1990 ini, gelar doktor bukanlah tujuan akhir, melainkan alat pengabdian. Sebagai Wakil Ketua I Bidang Akademik di STIS Darul Falah Pagutan Mataram, ia memegang teguh amanah gurunya, Al Mursyid Abuya TGH. Muammar Arafat, SH,MH, yang berpesan:

“Seberapapun tinggi ilmu yang kau raih dan seberapapun jauh langkahmu melangkah, jangan pernah lupakan akar yang telah menumbuhkanmu tetaplah mengabdi dan mengajar, walaupun hanya sebagai guru ngaji di TPQ, karena di sinilah keberkahan sesungguhnya” 

Nilai inilah yang ia ejawantahkan melalui pendirian Yayasan Ma’rifatul Falah pada 2017. Yayasan ini menjadi kawah candradimuka bagi masyarakat melalui berbagai lembaga seperti Madrasah Diniyyah, TK Berbasis Pesantren, Tahfiz al Quran, Majlis Ta’lim hingga Sekolah Literasi. Fokusnya jelas, Pendidikan sejatinya merupakan medan pengabdian yang berorientasi pada transformasi moral dan peningkatan kualitas spiritual umat. 

Sehingga setiap upaya edukatif yang dilakukan secara konsisten dan ikhlas akan berkontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter serta ketinggian akhlak generasi penerus bangsa.

Dedikasi Arifin tidak hanya berhenti pada ranah praktis, tetapi juga tertuang dalam berbagai karya tulis dan jurnal ilmiah. Sebagai akademisi produktif, ia telah melahirkan berbagai pemikiran yang menitikberatkan pada integrasi pendidikan Islam dan manajemen modern. 

Beberapa karya dan publikasinya meliputi kajian tentang manajemen pendidikan Islam, tentang kepemimpinan kiai pesantren, manajemen masjid, manajemen konflik dalam rumah tangga dan beberapa karya lainya. Kiprahnya sebagai invited speaker dan presenter di mancanegara seperti di UPM Malaysia, Fatoni University Thailand, hingga Kolej Islam Teknologi Antar Bangsa membuktikan bahwa pemikiran lokal berbasis pesantren mampu bersaing dan diakui di panggung internasional.

BACA JUGA : Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

Selain aktif menulis, doktor muda ini juga mengemban tanggung jawab strategis sebagai Asesor PPG Nasional Kemendikbudristek RI. Di organisasi, ia mengabdi sebagai Sekretaris harian Ikatan Alumni Darul Falah (IKADAFA), Ketua Tanfidziyah MWC NU Kediri Lombok Barat, serta Sekretaris Perkumpulan Dosen dan Peneliti Indonesia (PDPI) NTB. 

Sinergi antara literasi kitab kuning (kutubutturats) dan Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPTEK) yang ia usung menjadi kunci bagi kemajuan hukum Islam di Indonesia.

Melalui refleksi Hardiknas ini, kita diingatkan bahwa masa depan pendidikan Indonesia terletak pada integrasi antara kecerdasan akademis dan ketulusan pengabdian. 

Harapan Dr. Muhamad Arifin agar STIS Darul Falah menjadi “mercusuar” di daerah pulau seribu masjid adalah simbol optimisme kolektif kita semua. Pendidikan harus mampu mencetak lulusan yang maju, kompetitif, dan inovatif.

Namun tetap memiliki akar moral yang kuat untuk menyelamatkan umat di dunia dan akhirat. Inilah sejatinya makna kemerdekaan belajar: menjadi manusia yang berilmu, berdaya, dan bermanfaat bagi sesama.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026   

“Narasi Tanpa Batas”. (*)