Dugaan Catcalling di Trawangan, Pemrov NTB Respon Cepat 

Respon cepat Pemprov NTB menanggapi dugaan catcalling, untuk mengembalikan nama baik dan citra pariwisata NTB

MATARAM.lombokjournal.com ~ Pesona Gili Trawangan yang berada di deretan gugusan pulau Tiga Gili, sudah tidak diragukan lagi. 

Keindahan pantai dan air lautnya yang jernih menjadi magnet bagi pelancong dunia. Begitupun kearifan lokal dan keramahan warga desa Gili Indah dalam menyambut pengunjung, yang datang ke pulau yang dijuluki potongan surga oleh wisatawan dalam negeri hingga luar negeri.

Melihat potensi wisata yang luar biasa, warga dan pemerintah membangun lokasi tersebut secara perlahan. 

Wisatawan mulai ramai ke Trawangan

Adat dan budaya serta kearifan lokal menjadikan keunikan tersendiri ini. Suasana alami khas pantai Nusantara, banyak memikat semua orang untuk berlibur ke pulau ini.

BACA JUGA: Sail to Indonesia-Lombok, Berakhir di Medana by Marina

Tidak hanya itu, untuk memanjakan pengunjung, Gili Trawangan juga menyediakan beragam akomodasi, restoran, dan aktivitas berlibur, seperti menyelam untuk melihat keindahan alam bawah lautnya yang sangat mempesona. 

Air lautnya sangat jernih dan bebas polutan sehingga biota laut hidup sangat nyaman tanpa terganggu.

Selain biota lautnya yang sangat terjaga kelestariannya, arus air laut nya pun bisa dibilang cukup tenang sehingga akan menambah keseruan Anda selama menyelam.

Di Gili pengunjung dapat menikmati udara segar dan bebas dari Kemacetan dan polusi Kendaraan. 

Pelaku wisata dan masyarakat setempat hanya menyediakan sepeda dan cidomo atau delman sebagai alat transportasi mengelilingi pulau dengan panjang 3 km dan lebar 2 km.

Tidak hanya itu, selain wisata alam dan pantai, masyarakat disuguhi juga spot wisata yang eksotik, fasilitas penginapan yang murah hingga yang mahal. 

Begitu pun dengan  wisata kulinernya yang tidak kalah menarik. Rangkaian kuliner murah meriah khas local hingga internasional tersedia. 

Beragam menu makanan mulai dari menu seafood dengan ikan yang masih fresh, hingga makanan lain seperti ayam goreng dan bakar, bahkan makanan tradisional Lombok pun tersedia di sini. 

Dugaan Catcalling

Namun, beberapa hari yang lalu, dunia pariwisata NTB, dikejutkan oleh persoalan dugaan catcalling yang viral beberapa hari yang lalu di media sosial. Unggahan wisatawan perempuan Mia Earliana yang mengalami pelecehan verbal saat liburan di Gili Trawangan Lombok Utara, dinilai merusak nama baik dan citra pariwisata yang sudah dikenal dunia internasional.  

Video dugaan catcalling

Pemerintah Provinsi NTB bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara (KLU), tidak tinggal diam, mereka bergerak cepat mengembalikan nama baik dan citra pariwisata NTB, akibat  persoalan dugaan catcalling yang viral tersebut. 

BACA JUGA: Keagungan Adat Sasak di Pernikahan Putri Sekda NTB

Bahkan persoalan tersebut diatensi khusus oleh Gubernur NTB Zulkieflimansyah.

Melalui Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB Yusron Hadi,  bergerak cepat untuk melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Pemda KLU. Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut dan melakukan langkah dan upaya untuk menghadapi persoalan yang sudah viral didunia maya. 

Mereka menggandeng juga asosiasi usaha wisata di Gili Trawangan, pelaku wisata dan Kepala Desa Gili Indah, melakukan upaya pembinaan dan edukasi terkait persoalan tersebut kepada pelaku wisata dan masyarakat Gili Terawangan.

Upaya dan langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kejadian serupa tidak terulang di masa yang akan datang. 

Yusron juga mengajak supaya para pelaku usaha wisata stakeholder terkait di NTB memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan, untuk menghadirkan hospitality yang  berkualitas dan menjamin wisatawan nyaman ketika berlibur di NTB.

Yusron juga dengan tegas mengatakan, kejadian ini sementara sedang ditangani Polda NTB. Jadi tidak bisa menggeneralkan contoh dugaan persoalan ini terjadi di pulau Gili Terawangan secara keseluruhan. 

Tapi kejadian tersebut terjadi oleh oknum di tempat kejadian tersebut. 

Belum ada kejadian seperti yang dilakukan oleh masyarakat dan pelaku pariwisata disana. Puluhan tahun masyarakat bersahabat dan ramah dengan wisatawan yang berkunjung.

Setelah unggahan video awalnya viral, wisatawan perempuan yang diduga mengalami Catcalling tersebut, memposting klarifikasinya dan pernyataan, Gili Terawangan aman untuk dikunjungi. 

Walaupun sebagian masyarakat NTB yang resah, terutama masyarakat pariwisata di Gili Trawangan merespon dan melaporkannya kepada pihak berwajib.

Atensi Menparekraf

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pariwisata Ekraf RI Sandiaga Salahudin Uno, mengapresiasi kinerja dan tanggapan cepat Pemprov NTB bersama dengan Pemda KLU. Merespon cepat dan menelusuri dan mengatasi persoalan tersebut, serta melakukan upaya pembinaan dan kordinasi dengan pelaku wisata dan dunia usaha di Gili Trawangan.

Menparekraf juga meminta agar pelaku wisata dan masyarakat menjaga bersama-sama citra baik, nama baik dan reputasi pariwisata Gili Trawangan, Provinsi  NTB dan umumnya Indonesia yang ramah dan sudah dikenal sejak dulu, sebagai surganya pariwisata dunia.

Sementara itu, pengamat pariwisata Provinsi NTB, Taufan Rahmadi mengapresiasi upaya dan langkah cepat yang ditempuh Pemprov.NTB dan Pemda KLU, berkoordinasi menangani persoalan tersebut. 

Menurutnya, keluhan dan dugaan pelecehan yang dialami wisatawan tersebut, memang harus ditanggapi serius dan bijak oleh pemerintah, pemangku kebijakan dan pelaku wisata di Gili Trawangan.

Taufan Rahmadi mengaku sudah melihat respon cepat dari Pemerintah Provinsi NTB yang melakukan koordinasi dengan jajaran Pemkab KLU dan para pelaku wisata di 3 Gili untuk membicarakan langkah – langkah nyata dalam menanggapi hal ini. Keluhan ini harus ditelusuri asal usulnya agar publik mengerti duduk perkara sebenarnya. 

Jika memang  ada oknum yang benar melakukan hal-hal yang membuat si wisatawan merasa tidak nyaman, para pemangku awig-awig desa ataupun pejabat terkait melakukan teguran sekaligus pembinaan kepada oknum tersebut.

Ia yakin, masyarakat di Gili adalah masyarakat yang ramah dan memahami bagaimana harus berprilaku yang santun kepada wisatawan. 

Terlebih selama ini masyarakat di Gili sangat bergantung pada sektor pariwisata, jadi sangat tidak mungkin mereka akan merusak periuk tempat mereka mengais rejeki

Sehingga, pemerhati pariwisata tersebut meminta agar semua pihak melakukan konsolidasi antar stakeholder pelaku pariwisata pariwisata di Gili, untuk perkuat awig – awig yang menyesuaikan dengan kondisi terkini pasca pandemi. 

Selanjutnya  penguatan kelembagaan DMO Gili yang bisa menjadi cikal bakal pembentukan Badan Otoritas Pengelola Wisata Tiga Gili , yang bertugas bersama, menyepakati segala aturan- aturan terkait manajemen destinasi , mulai pengaturan masuk wisatawan , manajemen sampah,  SOP mitigasi dan lainnya.

Kemudian, harus ada Gili Hotline untuk menjadi media komunikasi 24 jam bagi para wisatawan disaat mereka ingin mengadukan keluhan – keluhan yang mereka rasakan selama berwisata di Gili.

Sementara Polda NTB terus mendalami dugaan tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) terkait video catcalling di Gili Trawangan, yang dilaporkan oleh kelompok masyarakat Kabupaten Lombok Utara.

Konten video TikTok @miaerliana berdurasi 2 menit 50 detik tersebut, menimbulkan reaksi sejumlah masyarakat, dan melaporkannya ke Polda NTB terkait dugaan penghinaan dan atau pencemaran nama baik, berdasarkan dugaan pelanggaran pidana Pasal 27 ayat (3) juncto Pasal 45 ayat (3) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Pengunjung Wisata Gili Terwangan, Mia Erlina yang merupakan pemilik akun @miaerlina, memosting kejadian cat calling disalah satu penginapan saat ia berwisata ke Gili Trawangan. 

Dalam video tersebut, ia meminta wisatawan tidak datang ke Gili Trawangan.

BACA JUGA: Festival Balap Sampan Tradisional Ditutup Gubernur NTB

Humas Polda NTB, Artanto menjelaskan, laporan tersebut masih ditelaah. Dalam waktu dekat, Polda NTB akan memanggil dan mengklarifikasi kedua belah pihak. 

Catcalling termasuk dalam salah satu bentuk pelecehan seksual jenis street harrastment, yakni melontarkan komentar sensual dengan nada menggoda yang dilakukan di tempat umum. 

Pelaku catcalling disebut sebagai catcaller. Catcalling memang paling sering dialami oleh wanita. 

Catcalling merupakan bentuk pelecehan seksual di ruang publik, biasanya dilakukan di jalanan atau fasilitas umum lainnya. Pelakunya bisa siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. ***

 




Keagungan Adat Sasak di Pernikahan Putri Sekda NTB

Prosesi pernikahan putri Sekretaris Daerah Nusa (Sekda) Tenggara Barat, HL Gita Ariadi diliputi keagungan adat Sasak 

LOTENG.lombokjournal.com ~ Sebagai tokoh dan putra daerah NTB, Miq Gita melaksanakan adat Merariq bagi Lalu Moh Puguh Darmawan dengan Lale Yustika Dilla Gumita yang pada 9 Oktober lalu besejati-selabar dan bait janji, Ahad (18/09/22) kemarin menikahkan putri bungsunya. 

Hari Sabtu (24/09/22) diparipurnakan dengan sorong serah aji krame di antara rasa mengharu biru, bahagia dan syukur. 

Lalu Gita Ariadi (berdiri) bersama tokoh masyarakat Sasak

“Mohon doa restu. Semoga anak anak kami mampu membina keluarga Sakinah Mawaddah waa Rahmah. Aamiin YRA,” tulis Miq Gita di akun media sosialnya. 

Hadir pula dalam prosesi  sorong serah aji krama adat di Gedeng Beleq, Puyung, Loteng tokoh dan sesepuh masyarakat  adat Sasak, tamu undangan pejabat pemerintah dan kerabat keluarga. 

Sorong Serah Aji Krame merupakan salah satu karya puncak para pemimpin Sasak dalam bidang penataan sistem sosial dengan pintu masuk yaitu pernikahan.

Secara harfiah Sorong Serah Aji Krame bermakna persaksian tentang derajat kemartabatan. Sorong-serah beratikan persaksian,  Aji bermakna derajat atau nilai dan Krame bermakna kemartabatan. 

BACA JUGA: Sail to Indonesia-Lombok Berkhir di Medana by Marina KLU

Sorong Serah Aji Krame adalah tuntunan berperilaku (Code of Behavior) bagi setiap orang Sasak yang baru memasuki jenjang berumah tangga. 

Sorong Serah Haji Krame didesain dengan seksama sebagai sebuah acara meletakan pondasi nilai agama secara tidak membosankan. Proses ini merujuk kepada nilai agama dalam konteks Syariat, Tarekat, Hakekat, bahkan sampai tingkat Ma’rifat. 

Begitulah dalamnya nilai yang terkandung dalam proses Sorong Serah, dalam proses ini dipersaksikan tentang esensi kejadian manusia, pada apa manusia bertanggung jawab dan kemana manusia itu akan berpulang.

Sorong  Serah Aji Krame adalah metode syiar. Tujuan dari proses Sorong Serah Haji Krame adalah mempersaksikan derajat kemartabatan, Aji Krame mempelai, mempersaksikan setiap rangkaian prosesi yang ditempuh sudah berlangsung dengan baik, serta sebagai permakluman kepada masyarakat.

Proses Sorong Serah Aji Krame ini ditentukan berdasarkan proses pernikahan yang dilalui dan memastikan proses itu sudah ditempuh secara benar dan baik. 

Proses dari tahapan tersebut adalah: 

1) Mbait/jemput  

2) Baik Wali atau Permohonan wali nikah 

3) Akad nikah 

4) Rebaq Pucuk atau Bait Janji (perundingan atau negosiasi) yang merupakan proses penentuan kesepakatan Aji Krame, kemudian disepakati mengenai hari resepsi atau Begawe, yang berlangsung dengan proses Sorong Serah Aji Krame lalu diikuti dengan proses Nyongkolan. 

Sebagai bentuk akhir dari proses ini adalah Bales Ones Nae (kunjungan antar keluarga dekat belah pihak).

Filosofi Aji Krame dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi ukhrawi dan sisi duniawi. 

Pada sisi ukhrawi, proses ini mengandung pesan spiritual yang mempertautkan kakekat diri manusia dalam hubungan dengan ‘sang pemiliknya. 

Pada sisi duniawi, mengandung pesan tentang bagaimana mempelai harus merealisasikan tanggung jawab kehidupan. Dalam design Sorong Serah Aji Krame, sisi ukhwari disebut sebagai ‘Nampak lemah’ (tanah pijakan) yang berarti pondasi spiritual dimana ia berpijak di dalam kehidupannya. Sisi duniawi disebut sebagai ‘Olen’ yang dimaknai sebagai lakon kehidupan. 

BACA JUGA: Festival Balap Sampan Tradisional Ditutup Gubernur NTB

Kedua istilah ini (Nampak Lemah & Olen) dipresentasikan melalui piranti berupa sejumlah uang satuan material tertentu, paling baik berbahan logam mulia atau dikonversi dengan sejumlah nilai satuan mata uang.

Terdapat beberapa undakan sosial dalam Proses Aji Krame yaitu: 

  1. a) Aji Krame Pituq Olas (Tujuh Belas/17). 

Pada tingkatan ini persaksian yang dimunjulkan adalah tentang pengetahuan, kerja-kerja dan tanggung jawab sosial yang paling mendasar dan umum. Rahasia yang terkuak pada tingkatan ‘Aji Krame Pituq Olas 17’ adalah keberadaan ke 17 lubang yang ada pada tubuh manusia, baik itu lubang yang nampak maupun tersembunyi yang mana semua lubang itu harus dijaga, dirawat, dan dipelihara dengan baik oleh kedua mempelai. 

  1. b) Aji Krame Telong Dse Telu (Tiga Puluh Tiga/33). 

Tingkatan ini dalah tempat dipersaksikannya tema yang bersifat terbuka terkait syariat. Dalam konteks syariat, 33 merupakan penjumlahan bilangan, 20 mewakili 20 sifat Allah ditambah 13 jumlah rukun shalat. 

  1. c) Aji Krame Enam DAse Enam (Enam Pluh Enam/66). 

Di undakan sosial ini terjadi lompatan besaran angka symbol secara berlipat ganda. Itu merupakan angka bonus bagi seseorang yang mengamalkan ilmunya melalui paramudiata (pengamar) atau kerja-kerja sosial lainnya. 

  1. d) Aji Krame Seratus (Seratus/100). 

Seseorang pada nilai kemartabatan ini memiliki tanggung jawab mengejar dan mendekati 99 asma’ul husan + 1 jati dirinya.

  1. e) Aji Krame Satak (Dua Ratus/200). 

Pada derajat kemartabatan ini, seseorang telah mendekati manusia paripurna (Insan Kamil). Pada orang ini, berpadu secara nyaris sempurna antara sifat kepemimpinan duniawi dan tingkat spiritual yang tinggi.

Menyadari bahwa penikahan adalah salah satu tahap dari daur kejadian manusia, para pemimpin Sasak dari wilayah kedaulatan  (kerajaan) Selaparang, Bayan, Pejanggik dan Pujut bersepakat menciptakan sebuah penataan sosial yang bernilai sangat dalam dan mendasar bagi kehidupan manusia yaitu Sorong Serah Aji Krame. 

Sorong Serah Aji Krame adalah persaksian tentang derajat kemartabatan. Sorong-serah (persaksian), Aji (derajat atau nilai), dan Krame (kemartabatan).

Keagungan prosesi sorong serah aji krama dalam pernikahan Sasak

Dalam filosofinya, terlahir, menjadi dewasa (akil baligh), menikah, memasuki usia tua dan meninggal merupakan tahapan dari daur hidup manusia.

 Setiap tahap dari daur hidup ini dirayakan oleh setiap suku dimana pun berada dengan cara yang berbeda beda yang dilatarbelakangi oleh sejarah, dinamaika yang alami sebagai komunitas dan agama yang dipeluk.***

BACA JUGA: Wagub NTB Mendorong Permainan Tradisional Dipertahankan

 

 




Letusan Samalas, Benda Peninggalan Kedatuan Benue Diuji Radiokarbon

Tim Ekspedisi Mistis PDIP NTB dan Mi6 akan uji penanggalan radiokarbon artefak dan benda sisa Kedatuan Benue, yang sempat terkubur akibat letusan Samalas

LOTENG.lombokjournal.com ~ Letusan Gunung Samalas di Lombok pada tahun 1257 diyakini menghilangkan banyak peradaban. 

Konon Salah satunya yang terimbas erupsi dasyat Samalas itu adalah Kedatuan Benue di Dusun Dasan Lekong, Desa Selebung, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah.

Beberapa bukti artefak dan benda kuno peninggalan Kedatuan Benue akan dilakukan pengecekan penanggalan radiokarbon untuk mengetahui usia pasti benda tersebut.

BACA JUGA: Kiai Mas Mirah, Penyebar Islam Sejak Jaman Pejanggik

Benda-benda bersejarah peninggalan Kedatuan Benue yang sempat terkubur karena letusan Samalas

Benda-benda yang akan dilakukan pengecekan penanggalan radiokarbon berupa potongan tengkorak manusia yang diduga berasal dari Kedatuan Benue, aneka pecahan logam dan tanah liat, beras kuno yang sudah menghitam dan beberapa keping koin bersimbol swastika.

Pengecekan penanggalan radiokarbon diinisiasi oleh Tim Ekspedisi Mistis  PDIP NTB dan Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 Mataram. 

Benda-benda yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu tengah dibawa ke Jakarta untuk diuji.

“Pengujian radio karbon untuk mengetahui usia suatu benda. Untuk memastikan Kedatuan Benue ada dan eksistensi kebudayaan dan struktur sosial masyarakat saat itu benar-benar menelurkan kebudayaan yang besar,” kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, Sabtu, (13/08/22).

Bambang Mei F mengatakan, Pengujian Penanggalan Radio Karbon terhadap sejumlah artefak  yang terserak di sejumlah lokasi sebagai langkah awal untuk menentukan titik dan koordinat sebaran petilasan kebudayaan Kuno Leluhur Lombok di kawasan tersebut. 

“Dari bukti artefak yang ada, Tim Ekspedisi Mistis menyakini bahwa Kedatuan Benue merupakan salah satu kotak pandora kebudayaan maju Leluhur Lombok yang pernah Eksis,” ujar lelaki yang akrab disapa Didu. 

Seorang tokoh pemuda Desa Selebung, Muslim, mengatakan benda-benda yang diyakini peninggalan Kedatuan Benue ditemukan pada 2016 lalu pada kedalaman tanah 40 meter.

“Saat itu ada penggalian tanah uruk di bukit Dusun Ranjok, Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah. Para pekerja menemukan benda kuno,” ujarnya.

Ada sebuah teko berbentuk burung Garuda ditemukan pada kedalaman tanah. Usia teko tersebut diperkirakan setara dengan usia Kedatuan Benue. 

Ada juga beras yang sudah menghitam berton-ton ditemukan. Diduga tempat ditemukannya beras kuno tersebut pada lokasi logistik Kedatuan Benue.

“Kita temukan beras yang masih ada pangkalnya dengan jumlah cukup banyak. Patut diduga lokasi ditemukan beras itu adalah tempat logistik Kedatuan Benue,” katanya.

Banyak warga sering menemukan benda-benda berusia kuno di wilayah tersebut. Namun sayangnya benda-benda tersebut banyak telah dibawa ke luar kampung maupun dijual masyarakat.

Bahkan, warga juga sering menemukan potongan tubuh manusia dengan perhiasan lengkap. Diperkirakan mereka merupakan korban dari letusan Gunung Samalas.

“Potongan tubuh manusia sudah kita kuburkan dengan layak. Itu kita perkirakan korban letusan Gunung Samalas pada 1257,” ujarnya.

Warga setempat, Rohati mengatakan telah banyak menemukan benda-benda peninggalan Kedatuan Benue di kampung mereka. Saat itu dia menyewa lahan warga untuk produksi tanah uruk.

“Saya temukan banyak beras kuno, artefak dalam bentuk logam dan lainnya. Bahkan warga lain menemukan lonceng kuno dan kapak,” katanya.

Rohati mengatakan, ada warga juga pernah menemukan kepingan emas. Sayangnya itu kemudian dijual. 

“Ada salah seorang warga pernah dapat kepingan emas di sini,” ujarnya.

Ada juga ditemukan bong atau tempat berwudhu bergambar naga. 

BACA JUGA: Ceramah KH Achmad Zen Menyimpangkan Sejarah tentang Pancasila

Benda-benda yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu masih berceceran dan diambil warga. 

Belum ada museum desa untuk menghimpun dan menyimpan benda-benda tersebut.

Rohati mengatakan saat pertama kali menemukan benda tersebut, dia terus mengalami mimpi-mimpi yang aneh. 

Pernah bermimpi bertemu seorang ulama yang menunjukkan dia masjid yang hampir ambruk.

“Saya sering mimpi aneh. Mimpi didatangi ulama. Bahkan pernah saya saat mau tidur seperti bunyi orang lempar logam atau emas di rumah saya,” ujarnya.

Sementara, Mukmin mengatakan beberapa profesor baik dari Indonesia, Prancis hingga Jepang melakukan penelitian di desa tersebut. 

“Ada ahli geologi sering datang ke sini untuk melakukan penelitian. Karena di desa ini juga ada dorphal (batu berukuran besar),” ujarnya.

Dia berharap melalui pengecekan penanggalan radiokarbon dapat memastikan usia benda dan menjadikan desa tersebut desa sejarah dan budaya.

“Berharap desa ini menjadi desa sejarah dan budaya, sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Kedatuan Benue

Kedatuan Benue diyakini merupakan kedatuan tua di Lombok jauh sebelum Kerajaan Pejanggik dan Kerajaan Selaparang. Di sana ada petilasan atau serupa makam Datu atau Raja Benue. 

Datu Benue diyakini tidak meninggal, namun tiba-tiba menghilang. Sehingga hanya tersisa petilasan saja yang kini sering diziarahi warga lokal maupun turis mancanegara.

Datu Benue memiliki julukan Wali Mukmin atau hamba Allah. Dia memiliki seekor kuda yang sangat cepat ketika berlari yang bernama Kuda Sambarani. Di depan makam tersebut ditemukan tempat mengikat kuda yang lengkap dengan sisa talinya.

Konon Kedatuan Benue sudah berdiri sejak 1800 tahun yang lalu, dengan mendirikan kedatuan yang kokoh. ***

 

 




SELAQ MARONG, Mata Merah sang “Pembunuh” di Arena Peresean

Kisah petarung tak terkalahkan di arena Peresean, ini penelusuran  M16 jejak Selaq Marong

LOTENG.lombokjournal.com ~ Siapa petarung hebat di arena Peresean di Lombok? 

Belum banyak yang tahu, di jagad Peresean ada nama Pepadu yang mampu menciutkan nyali lawan tandingnya. 

Siapa lagi kalau bukan ksatria di arena Peresean, seorang Pepadu yang mendapat sebutan Selaq Marong

Ini hasil penelusuran yang dilakukan Lembaga Kajian Sosial dan Politik, Mi6.

Menelusuri jejang Selaq Marong

Pulau Lombok memiliki tradisi seni Peresean kini sering dipentaskan jadi hiburan wisatawan.

Tradisi Peresean merupakan pertarungan antara dua lelaki bersenjata rotan atau disebut penjalin. Petarung itu menggunakan perisai sebagai tameng berlindung dari pukulan rotan lawan. 

Tameng tersebut disebut ende dan terbuat dari kulit kerbau yang keras.

BACA JUGA: Perawat di NTB Cukup, PR-nya Pemerataan dan Kualifikasi

Para petarung disebut Pepadu, yang akan saling pukul menggunakan rotan dengan diawasi seorang wasit yang disebut Pakembar

Selama berlangsungnya pertandingan dua Pepadu, suara gamelan khas Lombok terus mengalun..

Dulu, Peresean sebagai ekspresi kebahagiaan prajurit saat menang perang. Itu juga berfungsi melatih ketangkasan prajurit. 

Kemudian tradisi tersebut difungsikan sebagai upacara adat meminta hujan. Namun kini, Peresean menjadi kesenian tradisi Sasak untuk menghibur wisatawan.

Saat ini, Pepadu yang tersohor dengan kepiawaiannya dalam Peresean adalah Selaq Marong. 

Seorang pria berkumis yang sering menari ketika serangannya mengenai musuh. Dia adalah pria berasal dari Semoyang, Lombok Tengah dengan nama asli Suminggah.

Legenda Pepadu Selaq Marong 80-an

Di Lombok pernah dikenal seorang Pepadu yang melegenda di era 80-an, di arena Peresean ia mendapat julukan Selaq Marong.  Sesuai julukannya, Pepadu itu berasal dari Desa Marong, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah.

Selaq Marong merupakan Pepadu yang sering berlaga pada tahun 1980an. 

Perawakannya besar, mata tampak melotot merah saat berada di arena, dan itu menggetarkan lawan tandingnya. 

Karena itu dia dijuluki oleh penonton dengan nama Selaq Marong.

Tokoh masyarakat di Desa Marong, Amaq Buan mengatakan, Selaq Marong memiliki ilmu megat-male yang sangat mematikan saat memukul lawannya. 

Dia selalu menang di arena dengan membuat lawannya sakit dan bahkan hingga meninggal.

“Sosok perawakan besar dengan mata yang melotot. Selaq Marong kalau Peresean matanya menjadi merah. Itu tanda ilmu pegat male sudah masuk,” tuturnya, Kamis (02/06/22).

Selaq Marong memiliki nama asli Haji Sriatun. Dia tutup usia pada 2020. Namun, ketangkasan saat menjadi ‘gladiator’ di arena Peresean selalu dikenang orang.

Meskipun sangat kuat di arena, Selaq Marong memiliki pantangan saat bertanding. 

BACA JUGA: Kesehatanmu Saat Memasuki Usia di Atas 50 Tahun

Dia tidak boleh bertarung siang hari. Entah apa alasannya, konon matanya yang besar dan melotot membuat dia kesulitan bertanding di siang hari. Sehingga dia selalu tampil sore hari.

“Jadi Selaq Marong tidak bisa bertanding siang hari. Karena matanya selalu melotot dan merah,” ujarnya.

Amaq Buan mengatakan, ilmu megat male yang dimiliki Selaq Marong didapat melalui mimpi. Dia tidak pernah berguru atau mencari ilmu untuk mendapatkan kesaktian.

“Itu didapat dari karomah (anugerah Tuhan) saat sedang tidur lalu bermimpi,” katanya.

Cucu keluarga Selaq Marong, Dayat, mengatakan kebiasaan Selaq Marong saat Peresean, yaitu selalu memegang rotan bukan pada ujung atau pegangan rotan.

“Selaq Marong selalu memegang rotan  pada bagian sedikit di tengah. Beliau sebenarnya tidak terlalu seni saat bertanding. Tapi kalau serangan kena lawannya, bahaya,” ujarnya.

Dayat mengatakan pernah terjadi keributan saat Selaq Marong Peresean di Masbagik Lombok Timur. Saat itu dia menyerang lawannya hingga meninggal. Itu membuat terjadi kericuhan di arena.

“Gemparnya dulu pertarungan beliau waktu di Masbagik sampai keributan besar terjadi, karena lawan tandingnya langsung meninggal di tempat,” katanya pada koranntb.

Selaq Marong juga pernah bertarung dengan Haji Rijal yang memiliki julukan Arya Kamandanu. 

Itu adalah pertarungan dua pepadu perkasa di Lombok. Dalam pertarungan, Selaq Marong berhasil menang.

Konon saat Kapolda NTB waktu itu ingin menobatkan Arya Kamandanu sebagai pepadu terbaik, pihak Selaq Marong protes karena keduanya belum bertanding lagi. Akhirnya waktu pertandingan disepakati.

Namun karena Arya Kamandanu pernah kalah, saat waktu pertandingan di arena Arya Kamandanu menolak untuk bertanding. Sehingga Selaq Marong terpilih menjadi pepadu terbaik.

“Sehingga terjadilah kesepakatan hari  pertarungan Arya Kamandanu dengan Selaq Marong. Namun pas hari pertandingan yang sudah ditentukan, Arya Kamandanu menolak untuk bertanding,” ujarnya.

BACA JUGA: Komitmen Perlindungan untuk Pekerja Migran

Menelusuri jejak Selaq Marong
Bambang Mei, Amaq Buan, Ruslan Turmuzi dan Dayat

Merawat Tradisi Peresean

Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6, Bambang Mei Finarwanto, mengatakan sosok Selaq Marong menjadi legenda di masyarakat Lombok. Banyak masyarakat Lombok sangat familiar dengan nama Selaq Marong.

“Jadi kalau kita bertanya ke masyarakat, siapa Selaq Marong ya pasti dijawab pepadu Peresean. Karena namanya sudah familiar,” katanya.

Dia menjelaskan, pepadu Peresean saat berlaga tidak hanya untuk mencari hadiah berupa uang, tapi menjadi simbol kehormatannya laki-laki Sasak, dan juga untuk merawat tradisi.

“Mereka bertanding tidak hanya untuk mendapatkan bonus atau hadiah. Tapi sebagai bentuk kehormatan seorang pria Sasak, sekaligus untuk merawat tradisi,” katanya.

Lombok memiliki beragam destinasi wisata dan juga memiliki banyak budaya dan tradisi. Budaya dan tradisi tersebut menjadi atraksi pariwisata yang menjadi magnet menarik minat wisatawan berkunjung ke Lombok.

“Sehingga Peresean harus terus dilestarikan sebagai bagian dari atraksi pariwisata di Lombok,” kata Bambang Mei.***.

 

 




Tim Ekspedisi Akan Ungkap Misteri Sejarah di Lombok

Tim Ekspedisi Sejarah PDIP NTB dan Mi6 akan ungkap sejumlah rangkaian mitologi danr situs/artefak  yang belum terpecahkan

MATARAM.lombokjournal.com ~ Respon positif terhadap upaya Tim Ekspedisi Mi6 dan PDIP NTB mengungkap mitologi dan situs atau artefak yang belum terpecahkan Lombok, tampak dari antusisme di berbagai plafform media sosial.

Masih  banyak eksistensi dan sejarah masa lalu leluhur di Lombok yang belum terungkap, membuat masyarakat Sasak sanagt antusias menanggapi kehadiran Tim Ekspedisi Sejarah Mi6 dan PDIP NTB.

“Alam bawah sadar masyarakat Sasak di Lombok mulai ‘ngeh’ ketika Tim Ekspedisi Sejarah terbentuk.” kata kata Ketua Tim Ekspedisi Mistis, H Ruslan Turmuzi melalui Siaran Pers, Senin (30/05/22) .

tIMS Ekspedisi sejaarah PDI pERJUNGAN ntb

Menurutnya, sejumlah informasi juga diterima langsung Tim Ekspedisi dari warga untuk menginvestigasi sejumlah kisah sejarah dan bukti artefak di Lombok yang belum terpecahkan asal usulnya.

Ruslan mengatakan, Tim Ekspedisi Sejarah PDIP NTB dan Mi6 sesuai arahan dan perintah Ketua DPD PDIP NTB, H Rachmat Hidayat terus bergerak dan mengungkap rekam jejak sejarah kebudayaan para leluhur.

BACA JUGA: Geopark Rinjani, Wagub NTB Berharap Tetap Green Card

Pengungkapn misteri masa lalu ini agar diketahui oleh generasi penerus bangsa, agar tidak kehilangan jati dirinya.

“Misalnya di Lombok Utara, ada masjid kuno yang berdiri dan dikelilingi oleh perkampungan Hindu. Kisah ini perlu diungkap ke publik kenapa hal tersebut bisa terjadi. Apa pesan yang hendak disampaikan oleh leluhur dengan mendirikan masjid kuno di lingkungan ummat Hindu,” tuturnya.

Politisi PDIP ini mengatakan, dalam waktu dekat ini Tim Ekspedisi akan melakukan sejumlah investigasi dan menelisik bukti-bukti artefak  maupun kisah mitologi masa lalu.

Agar dibuktikan kronologi fakta sejarah secara detail melalui berbagai kajian multi disiplin keilmuan, khususnya arkeologi dan metafisika.

“Beberapa waktu lalu Tim Ekpedisi didatangi warga dari Kedatuhan Benue, dusun Dasan Lekong, Desa Selebung, Kecamatan Batu Kliang  yang menginginkan Tim Ekspedisi untuk menelisik lebih jauh sejumlah peninggalan benda kuno yang diduga kuat peninggalan Kedatuhan Benue,” tutur Ruslan.

Ruslan juga mengungkapkan,  fenomena yang belum terpecahkan terkait bukti artefak dan nama-nama desa yang melingkari kota Praya, Kabupaten Lombok Tengah dari empat penjuru mata angin yang selalu di awali dengan kata ‘BATU’.

“Sebelah Selatan Kota Praya ada Desa Batujai, Sebelah Barat ada Desa Batu-Tulis, Sebelah Utara Batu Tambun dan Batu Menek, Sebelah Timur ada Desa Batunyale dan tengah kota Praya ada  Batuson,” katanya.

Tim Ekspedisi akan menggali dan menelisik benang merahnya, agar fenomena ini bisa terklarifikasi secara obyektif.

 Misteri Misi Anak Raja Seran di Kampung Rumbuk

Sementara itu Direktur Mi6 , Bambang Mei Finarwanto mengungkapkan, ia tidak menyangka jika respon publik terhadap Tim Ekspedisi Sejarah sedemikian besar.

BACA JUGA: Taruna Latsitarda Mulai Latihan di Gili Trawangan

Hal ini makin memotivasi Tim Ekspedisi untuk semakin giat mengungkap kisah sejarah masa lalu, agar tidak menjadi mitos dan cerita rakyat semata.

“Minggu kedua II Juni mendatang, Tim Ekspedisi Mi6 dan PDIP NTB akan turun ke Lapangan menelisik dan menginvestigasi sejumlah peninggalan bangunan kuno, termasuk rumah ibadah di lombok agar bisa diuraikan benang merah kronologi dan faktanya sejarahnya,” ujar Didu spaan akrab Bambang.

Didu menginformasi, Tim Ekspedisi akan mengungkap Kisah Putera Mahkota Raja Seran II yang tinggal di Desa Rumbuk.

Seran dikaitkan dengan bukti peninggalan  Masjid Kuno yang pertama di Desa Rumbuk, yakni Masjid At-Taqwa.

“Pertanyaan kemudian selain syiar agama Islam kala itu, Kenapa Raja Seran yang istananya diduga  di Air Suning, Kabupaten Sumbawa Barat  justru mengutus putera mahkotanya tinggal di Rumbuk. Ada apa dan ada siapa di Rumbuk? Ini yang mau kita telisik benang merah sejarahnya,” kata didu.

Didu menambahkan, konon  Ekspedisi Putera Raja Seran ke Rumbuk ini diiringi  sejumlah hulu balang dan masyayikh.

Maka tak heran kemudian bahasa masyarakat di seputaran Rumbuk Seran yakni Kembang Kerang, Rempung, Pringgasela, Jantuk berdialeg Seran.

“Diduga pengikut Putera Mahkota Seran menyebarkan syiar agama islam dan tinggal di desa-desa tersebut  yang memiliki dialek Seran leluhurnya,” ungkap Didu .

Berdasarkan informasi yang diterimanya, di Dusun Bangkang, Desa Kuta Lombok Tengah, diduga ada benda kuno prasejarah  yang menyerupai pengolahan emas maupun mineral lain.

“Jika artefak pengolah logam emas itu benar, patut diduga nenek moyang leluhur suku Sasak sudah mengetahui peta kandungan mineral  logam berharga di kawasan tersebut,” kata Didu. (*)

 




Penembakan Texas: 19 Siswa dan Dua Guru Tewas

Remaja SMA dengan senjata otomatis menewaskan 19 siswa SD dan dua orang guru dalam penembakan di sebuah sekolah dasar di Texas selatan.

lombokjournal.com ~ Tersangka itu, Salvador Ramos berusia 18 tahun, memegang senapan semi-otomatis AR-15 dan magasin berkapasitas tinggi. Ia melepaskan tembakan beruntun ke Sekolah Dasar Robb – tempat sekolah  anak-anak berusia tujuh hingga 10 tahun – di kota Uvalde.

Salvador Ramos, pelaku penembakan
Salvador Ramos

Pejabat Patroli Perbatasan AS yang berada di dekatnya ketika penembakan dimulai, bergegas ke sekolah dan menembak dan membunuh pria bersenjata itu. 

Patroli Perbatasan adalah agen federal yang menjaga pelabuhan masuk AS. Uvalde, yang berjarak kurang dari 80 mil dari perbatasan dengan Meksiko, adalah markas bagi stasiun Patroli Perbatasan.

Akhirnya remaja itu dibunuh oleh penegak hukum. Namun dua agen perbatasan dilaporkan ditembak dalam baku tembak dengan remaja bersenjata itu. Seorang agen tertembak di kepala, kata para pejabat. Tapi keduanya sekarang dalam kondisi stabil di rumah sakit.

Salvador Ramos, 18, siswa SMA yang tinggal di komunitas berjarak 135 kilometer dari sekolah. Berusia 18 tahun, Ramos merupakan penduduk Uvalde, kota kecil berpopulasi 16 ribu jiwa di Texas selatan yang mayoritas warganya keturunan Latin

Ia dengan keji menewaskan sembilan belas anak kecil dan dua orang dewasa, dalam penembakan di sebuah sekolah dasar di Texas selatan itu.

Sebelum melakukan aksi kejinya itu, ia diduga menembak neneknya sebelum mengamuk, dengan senjata yang dibelinya secara ilegal. 

BACA JUGA: Perlu Tahu Flexing: Belajar dari Kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan

Menurut CBS News, penyerang mengenakan pelindung tubuh saat melakukan serangan. Seorang remaja berusia 18 tahun lainnya yang dicurigai menyerang sebuah toko kelontong di Buffalo, New York, pada 14 Mei, juga mengenakan pelindung tubuh dan membawa senapan semi-otomatis. 

Pelindung tubuh dan senapan semi-otomatis dijual secara komersial di AS.

Sekolah yang terjadi penembakan

Penembakan belasan anak-anak di sekolah dasar itu mengejutkan seluruh dunia

Presiden AS Joe Biden, dalam pidato dari Gedung Putih, tampak geram dan mengatakan “muak dan lelah” menanggapi penembakan massal. Ia pun menyerukan untuk melakukan kontrol senjata.

“Berapa banyak anak-anak kecil yang menyaksikan apa yang terjadi – melihat teman-teman mereka mati, seolah-olah mereka berada di medan perang, demi Tuhan,” katanya. “Mereka akan hidup dengan itu seumur hidup mereka.”

Dia memerintahkan agar bendera di Gedung Putih dan gedung federal AS lainnya dikibarkan setengah tiang untuk menghormati para korban di Uvalde.

Bertindak sendiri

Kepala Polisi Distrik Sekolah Independen Uvalde, Pete Arredondo mengatakan penembakan itu dimulai pada pukul 11:32 waktu setempat pada pada hari Selasa (23/05/22). 

Salvador Ramos dalam melakukan aksinya itu dipastikan bertindak sendiri, 

Gubernur Texas, Greg Abbott menuturkan, sebelum melakukan penembakan itu Salvador Ramos meninggalkan sebuah kendaraan sebelum memasuki sekolah untuk melepaskan tembakan yang mengerikan. 

Petugas polisi distrik sekolah Uvalde, Erick Estrada  yang bekerja di sekolah tersebut, melihat Ramos muncul dari kendaraan membawa senapan dan mengenakan pelindung tubuh. 

Namun petugas itu tidak dapat menghentikannya, kata Estrada. Dua petugas lagi dari Departemen Kepolisian Uvalde juga berusaha menghentikan Ramos tetapi tidak dapat melakukannya, dan meminta bantuan.

Guru tertembak

Beberapa anak yang meninggal telah diidentifikasi.

dua guru korban penembakan
Eva Mireles dan Imra Garcia

Anggota keluarga mengkonfirmasi kematian Xavier Lopez dan Amerie Jo Garza yang berusia 10 tahun, dalam pernyataan pada Selasa malam.

Angel Garza mengatakan di Facebook bahwa putrinya Amerie telah terbunuh.

“Cinta kecilku sekarang terbang tinggi dengan para bidadari di atas. Peluk keluargamu. Katakan pada mereka bahwa kamu mencintai mereka,” tulisnya di akun FB dengan nada sedih.

BACA JUGA: Progres MXGP Berjalan Baik, Pelaksanaan Sesuai Jadwal 

Dua orang dewasa yang meninggal adalah guru, yakni Irma Garcia dan Eva Mireles.

Nyonya Garcia adalah ibu dari empat anak dan telah menjadi guru selama 23 tahun. Situs web yang sama mengatakan, Mireles telah menjadi guru selama 17 tahun, memiliki seorang putri di perguruan tinggi dan suka berlari dan mendaki.

Rumah Sakit Memorial Uvalde memposting di Facebook sebelumnya bahwa 13 anak telah dibawa ke rumah sakit “melalui ambulans atau bus”.

Seorang wanita berusia 66 tahun dan seorang gadis berusia 10 tahun berada dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit di San Antonio, kata pejabat rumah sakit University Health.

Pengawas distrik sekolah Hal Harrell mengatakan tahun ajaran telah berakhir lebih awal setelah penembakan itu.

Keadaan darurat

Penembakan di sekolah bukan pertama kali terjadi, dan telah menjadi keadaan darurat yang berulang di AS.

Tercatat, tahun 2012 di Sekolah Dasar Sandy Hook di Connecticut, juga terjadi serangan brutal pada anak-anak. Dua puluh dari 26 korban berusia antara lima dan enam tahun.

Berbicara di lantai Senat AS di Washington DC pada hari Selasa, Senator Demokrat Connecticut Chris Murphy memohon rekan-rekannya untuk meloloskan undang-undang pengendalian senjata. 

“Ini hanya terjadi di negara ini. Di tempat lain, anak-anak kecil pergi ke sekolah berpikir bahwa mereka mungkin akan ditembak hari itu,” katanya.

Tapi tidak semua senator menyetujui undang-undang pengendalian senjata. 

Senator Texas Ted Cruz, seorang Republikan, menolak seruan untuk kontrol senjata. Dia mengatakan hal itu akan membatasi hak-hak “warga negara yang taat hukum”, Menurutnya, undang-undang semacam itu tidak mencegah kejahatan.

Tapi pada hari Senin, sebuah laporan FBI mengungkapkan, serangan brutal”penembak aktif” telah berlipat ganda sejak virus corona dimulai pada tahun 2020. ***

 




Inilah Salvador Ramos, Tersangka Penembakan di Sekolah Dasar

Inilah beberpa fakta yang diketahui tentang Salvador Ramos, yang menyerbu dan menewaskan 19 siswa sekolah dasar

lombokjournal.com ~  Salvador Ramos, pelaku penembakan di sekolah dasar Robb di Uvalde, Texas, Amerika Serikat, memang bermasalah dalam keluarga.

Inilah dua guru yang berusaha melindungi muridnya
Eva Mireles dan Imra Garcia

Sebelum melakukan penembakan di sekolah dasar yang menewaskan 19 anak dan dua orang guru, yaitu Eva Mireles (44), dan Imra Garcia (46), yang secara heroik kehilangan nyawa mereka karena berusaha melindungi anak-anak sekolah, Ramos dikabarkan telah menembak neneknya yang saat ini masih kritis dirawat di rumah sakit.

Ramos sendiri kemudian tewas ditembak oleh polisi di tempat kejadian.

Penembakan dengan jumlah korban tewas terbanyak terjadi pada 14 Desember 2012, di Sandy Hook Elementary School yang menewaskan 26 orang.

Seorang teman dekatnya bertutur, Ramos pernah memposting di akun instagramnya, ia tampak berkata kasar dan agresif pada ibunya. Remaja yang sehari-hari tampak pendiam itu, juga  kerap memposting gambar senjata barunya.

 Insiden penembakan di sekolah dasar Robb di Uvalde, Texas, Amerika Serikat, pada Selasa (24/05/22) siang waktu setempat itu merupakan salah satu peristiwa paling tragis di negara Paman Sam dalam satu dekade terakhir. Sebelumnya.

Salvador Ramos, siswa SMA yang tinggal di pemukiman sekitar 135 kilometer dari sekolah. Berusia 18 tahun, Ramos merupakan penduduk Uvalde, kota kecil berpopulasi 16 ribu jiwa di Texas selatan yang mayoritas warganya keturunan Latin.

BACA JUGA: Penembakan Texas: 19 Siswa dan 2 Guru Tewas

Ramos, yang berasal dari North Dakota dan baru saja pindah ke Texas. Ia juga diketahui bekerja paruh waktu di restoran cepat saji Wendy’s terhitung mulai bulan Februari lalu. 

Ia biasa bekerja di siang hari dengan shift kerja mulai pukul 11.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Manajer di Restoran itu, Adrian Mendes, menuturkan, Ramos sering menyendiri, dikenal tidak ramah dengan teman kerjanya. Di restoran itu tidak ada yang benar-benar mengenal Ramos, sebab ia tak terlalu bersosialisasi dengan karyawan lain.

“Dia hanya bekerja, dibayar, dan datang untuk mengambil ceknya,” tutur Mendes.

Ia membeli senjata saat Ulang Tahunnya ke 18, dan itu pertama kali ia membeli senjata seperti informasi dari kepolisian.

Inilah sekolah dasar yang terjadi penembakan

Ramos diduga menggunakan senapan AR-15 dan satu pistol saat insiden berdarah di sekolah dasar tersebut.

Ia sempat mengunggah foto senapan  jenis AR15 di media sosial beberapa hari sebelum insiden penembakan. Senapan jenis AR15 itu sempat diunggah akun Instagram ‘salv8dor’, yang dikonfirmasi beberapa murid bahwa akun tersebut milik Ramos.

Mantan teman sekolahnya mengatakan,  Ramos sempat mengirimkan foto senjata beserta amunisinya empat hari insiden terjadi. Ramos memiliki tas ransel yang

penuh dengan peluru diameter 5.56.

Inilah Salvador Ramos
Salvador Ramos

BACA JUGA: Perlu Tahu Flexing, Belajar dari Kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan

“Saya mengatakan ‘kenapa kamu memiliki ini?’ dan ia menjawab ‘jangan khawatir soal hal ini’,” kata teman Ramos. Ramos kemudian mengirimkan pesan, “saya sekarang terlihat sangat berbeda, kamu takkan mengenali saya.” ***

 




Perlu Tahu flexing: Belajar dari Kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan

Seseorang yang membeli barang-barang mewah kemudian mengunggah ke medsos, itu perilaku memamerkan kekayaan untuk mencuri perhatian. Dan perlu tahu, perilaku seperti itu istilahnya  flexing, dan karena main di medsos, kemudian muncul apa yang disebut social media flexing

Penulis: Dhalia Ndaru Herlusiatri Rahayu,Research Associate, UGM

lombokjournal.com ~ Sosok Indra Kesuma alias Indra Kenz dan Doni Salmanan menjadi kontroversi setelah ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan penipuan dan tindak pidana pencucian uang  melalui platform keuangan digital.

Sebelumnya keduanya terkenal kerap memamerkan kekayaannya mulai dari pakaian, mobil, rumah, sampai jet pribadi di media sosial yang dikenal dengan istilah flexing.

Urban Dictionary mendefinisikan istilah flexing sebagai tindakan memamerkan kekayaan untuk mendapatkan perhatian.

Jika melihat dari kacamata ilmu pemasaran, flexing bisa dikaitkan dengan Teori Conspicuous Consumption yang merupakan tindakan pembelian produk untuk menunjukkan tingkat kekayaan seseorang.

Perilaku ini kerap muncul melalui media sosial. Itulah mengapa pada akhirnya muncul istilah social media flexing.

Para pelaku flexing seperti Indra Kenz ini hendak membuat citra untuk menunjukkan sinyal kepada orang lain untuk melihat mereka berada di suatu tingkat tertentu, meski sebenarnya tidak demikian.

BACA JUGA: Kisah ‘Primadona’ Nurul, Nenolak Menikah Beda Agama

Indra Kenz berurusan dengan polisi

Peran Media Sosial

Ada dua penjelasan mengapa media sosial memiliki keterhubungan dan peran dalam memfasilitasi perilaku flexing.

Pertama, media sosial memfasilitasi pengguna untuk membuat profil pribadi yang bisa dilihat oleh pengguna lain.

BACA JUGA: Letusan Tambora, Siruasinya Tergambar Jelas di BO’ Sangaji Kai

Pengguna juga memiliki kebebasan untuk membentuk identitas diri dan menampilkan apa yang ingin mereka tunjukkan kepada dunia virtual. Sesama pengguna juga dapat saling mengetahui informasi terkait kehidupan pengguna satu sama lain.

Kedua, media sosial membantu memfasilitasi interaksi penggunanya.

Sesuai namanya, media sosial adalah media untuk bersosialisasi. Fasilitasi ini membuat media sosial berkontribusi terhadap produksi dan sirkulasi ekspresi budaya populer, termasuk perilaku flexing.

Bagaimana mengatasinya

Perilaku orang lain bukan berada pada kontrol diri kita.

Jadi, ketika kita menemui kondisi serupa, kita yang harus mengusahakan diri kita supaya tidak terdampak dari perilaku mereka.

Perlu tahu apa itu flexing
Indra Kenz / instagram

Dilansir dari buku Psychology Today, cara pertama untuk menghadapi situasi tersebut adalah dengan tidak memberikan apresiasi kepada para pencari atensi. Kita sebisa mungkin bersikap netral atau jika memungkinkan maka jauhkan diri dari orang tersebut.

Meski terasa menyebalkan, cobalah untuk tidak mempermalukan para pelaku flexing di depan umum. Penolakan sosial akan mengundang lebih banyak kemarahan dan perilaku agresif dari pelaku.

Topik-topik yang membelokkan percakapan dari konteks ‘pamer’ akan menjadi opsi yang baik ketimbang harus ‘ikut bersaing’ dengan pelaku.

Jadi, dibanding menanggapi apa yang mereka pamerkan, Anda akan membuat situasi lebih netral dengan menanyakan hal lain seperti cuaca atau berita terbaru yang sedang banyak diperbincangkan.

BACA JUGA: MotoGP Mandalika, Cerita ‘Mengesankan’ Event Internasional

Belajar dari situasi bahwa perilaku flexing sangat mungkin kita temui dalam dunia internet, maka sikap yang dapat kita ambil terkait pencegahan atau cara menghadapi dengan mereka adalah kita yang berusaha membatasi diri dalam menggunakan media sosial.

Secara tidak langsung, hal ini akan mengurangi paparan konten serupa. Kebijakan untuk menggunakan media sosial dan meregulasi respons adalah tanggung jawab masing-masing orang.

Movil mewah koleksi Indra Kenz

Maka, jika kita merasa adanya ketidaknyamanan dari paparan konten serupa yang mungkin dilakukan orang-orang yang kita temui di media sosial, jangan hiraukan mereka.***

 




Invasi Rusia ke Ukraina, Pakar di Indonesia Cenderung pro-Rusia

Para pakar dan akadewmisi Indonesia hanya berfokus pada aspek kontestasi politik negara-negara besar

lombokjournal.com ~ Sebagai tuan rumah KTT G20 tahun ini, Indonesia konsisten tidak mengecam secara jelas dan tidak menjatuhkan sanksi pada Rusia atas invasi terhadap Ukraina. 

Padahal, perang yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan itu telah memaksa 11 juta warga Ukraina mengungsi dan menghancurkan banyak kota di sana.

Beberapa pengamat mengkritik Indonesia karena bersikap pragmatis dan memilih mengambil jalan tengah.

Namun, narasi yang berkembang di Indonesia, khususnya di media sosial, justru menunjukkan kecenderungan dukungan terhadap agresi Rusia.

Survei tahun 2021 oleh Lowy Institute menunjukkan masyarakat Indonesia lebih percaya pada pemerintah dan pakar, atau ahli di bidangnya, daripada media. 

Atas alasan inilah saya berargumen bahwa opini dan pendapat para pakar dan praktisi Hubungan Internasional (HI) Indonesia merupakan salah satu faktor penting yang mendorong sentimen pro-Rusia di Indonesia.

Pola opini pakar HI di Indonesia

Sebagian besar komentar dan opini para akademisi dan mantan diplomat Indonesia hanya berfokus pada aspek kontestasi politik negara-negara besar, termasuk menggambarkan bahwa invasi Rusia ke Ukraina dipicu oleh konflik antara Rusia dan negara-negara Barat – Amerika Serikat (AS) dan para sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Narasi semacam itu cenderung mengesampingkan perspektif Ukraina.

Opini pakar kurang menyentuh perspektif Ukraina
Sekitar 11 juta pengungsi meninggalkan Ukraina

Beberapa pakar HI menyalahkan AS karena memperluas aliansi militer NATO ke Eropa Timur. Ada pula yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina dapat dipahami dan menggangap Rusia sebagai kekuatan besar

BACA JUGA: Generasi Sasak, Orisinalitas dan Kemajuan Berjalan Seiring

Ada yang menuduh AS dan Rusia sama-sama pembohong. Bahkan, beberapa pakar menyarankan agar Ukraina bersikap netral dan mengakui kekalahan karena kemampuan militer mereka jauh di bawah Rusia.

Hanya sedikit ahli yang membahas tentang kondisi pengungsi, atau menjabarkan per spektif Ukraina serta negara-negara kecil pecahan Uni Soviet lainnya.

Lebih parah lagi, sulit sekali menemukan opini yang secara gamblang mendukung Ukraina.

Artikel yang ditulis oleh Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, yang isinya mengkritik posisi para pakar dan praktisi HI di Indonesia, seakan menjadi oasis di tengah keringnya pandangan alternatif.

Mengapa para ahli kurang bersimpati terhadap Ukraina?

Kajian dan studi HI di Indonesia masih bersifat Western dan American-centric, atau berkiblat pada pandangan Barat, termasuk AS, yang mengutamakan rasionalitas dan persaingan antar kekuatan besar.

Sebagian besar pakar HI pastinya familiar dengan sebuah artikel yang ditulis oleh ahli HI asal AS yang juga ahli teori neorealis, John Mearsheimer, yang mengkritik Barat karena memprovokasi Rusia.

Artikel tersebut sebenarnya sudah banyak menuai kritik karena cacat logika, namun tetap sangat populer di Indonesia dan banyak digunakan oleh para pakar untuk menjelaskan apa yang terjadi di Ukraina, yakni tentang ekspansi NATO ke arah Timur serta kompetisi antar kekuatan besar Rusia dan NATO. Hal ini telah menyebabkan banyak proposal kebijakan yang menjadi salah arah.

BACA JUGA: Harga Jagung Anjlog, Gubernur Sarankan Dieksport

Narasi tersebut jelas telah gagal mengakomodasi perspektif Ukraina dan membuat para pakar justru menjadi korban westplaining Ukraina karena hanya menggunakan logika Barat untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Selain didominasi oleh paradigma realis, Indonesia juga kekurangan pakar kajian Rusia dan Eropa Timur.

Saat ini, hanya dua universitas di Indonesia yang menawarkan program studi Rusia. Hal ini menyebabkan kurangnya pengetahuan tentang sejarah dan politik Rusia serta Eropa Timur, sehingga para pakar di Indonesia pun menjadi rentan terprovokasi oleh kampanye disinformasi Rusia.

Contoh kampanye disinformasi misalnya sebuah artikel yang dimuat di harian Media Indonesia yang menggunakan istilah seperti “operasi khusus” dan “demiliterisasi serta denazifikasi” untuk menggambarkan invasi Rusia.

Istilah “operasi khusus” adalah cara Rusia menghindari penggunaan istilah “perang” agar tidak memicu gelombang penolakan dari masyarakat Rusia sendiri.

Sementara itu, istilah demiliterisasi dan denazifikasi digunakan Rusia untuk meyakinkan warganya bahwa Ukraina dikuasai kelompok Neo-Nazi dan karenanya Rusia melakukan invasi demi melucuti persenjataan militer kelompok tersebut.

Padahal, kelompok Neo-Nazi di Ukraina jelas tidak memegang kekuasaan politik dan serangan Rusia justru terbukti membunuh banyak warga sipil yang tidak ada kaitannya dengan kelompok tersebut.

Terlebih lagi, para pakar HI di Indonesia juga sering membanggakan potensi Indonesia menjadi mediator untuk dapat menengahi pihak-pihak yang bertikai dalam perang Rusia-Ukraina.

Nyatanya, menurut sejarah, Indonesia hanya pernah berperan sebagai mediator di cakupan Asia Tenggara.

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, yang juga berambisi menjadi kekuatan besar di dunia, ternyata cukup sulit bagi Indonesia untuk bisa memahami perspektif dan kekhawatiran negara-negara kecil terhadap negara-negara besar tetangganya.

Berdasarkan sejarah Indonesia sebagai korban penjajahan, pakar di Indonesia seharusnya bisa bersimpati atas penderitaan Ukraina.

Sayangnya, gagasan anti-imperialis Indonesia hanya ditujukan ke Barat. Para pakar tersebut lupa bahwa Ukraina dan negara-negara Eropa Timur lainnya juga merasakan penderitaan berkepanjangan akibat imperialisme Rusia dan Soviet.

Di samping itu, kita juga harus mencatat bahwa Indonesia memiliki sejarah konfrontasi dengan Malaysia terkait serangan agresif ke negara tetangga, serta sejarah buruk dekolonisasi Papua dan Timor Timur. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat para pembuat kebijakan dan intelektual publik mudah mengabaikan perspektif negara pascakolonial di Eropa, seperti Ukraina.

Sebuah refleksi bagi intelektual publik

Di saat pemerintah sangat berhati-hati dalam merespons situasi, para pakar dan akademisi seharusnya bisa memanfaatkan kepercayaan masyarakat dengan memberikan pemahaman dan informasi yang sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi di Ukraina.

Mereka harusnya lebih menonjolkan komentar dan opini yang berfokus pada aspek kemanusiaan di masa perang, seperti mengenai kejamnya pihak militer Rusia kepada warga sipil dan tentang penderitaan pengungsi yang terdampak perang.

BACA JUGA: Pelakor, Kenapa Hanya Perempuan yang Disalahkan

Memang, sebagai intelektual, kita sebaiknya berusaha bersikap netral dan objektif, tapi kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengatakan kebenaran tentang krisis kemanusiaan yang saat ini terjadi di Ukraina. Kita juga seharusnya bisa mengedepankan moralitas dengan cara, misalnya, berani mengutuk kekejaman dan agresi Rusia ke Ukraina.

Seringkali, mengedepankan objektivitas dalam menganalisis penyebab perang tidak akan membantu menghentikan bencana kemanusiaan yang terjadi. Akan ada waktu untuk itu nanti. Di saat seperti ini, memaksakan diri untuk tetap netral dan diam berarti secara tidak langsung mendukung agresi Rusia dan memperburuk krisis kemanusiaan di Ukraina. ***

Sumber: The Conversation




Gula Gending dari Kembang Kerang, Dijual Hingga ke Sulawesi

Ini cerita tentang perantau asal Kembang Kerang, Lombok Timur yang berjualan Gula Gending hingga menyeberang ke Kalimantan, Sulawesi juga ke Jawa. Nanik I Taufan menggali cerita langsung dari beberapa penjual Gula Gending

lombokjournal.com ~ ​Meski tidak lagi banyak penjual Gula Gending yang berkeliling menjajakan dagangannya, camilan ini masih menjadi favorit anak-anak. 

Setidaknya, hal ini diungkapkan sekelompok penjual gula gending yang tinggal di seputar Sindu, Cakranegara Mataram.

Gula Gending dijual ke luar daerah
Penjaja Gula Gending

Para penjual gula gending yang tidak lagi banyak ini, berasal dari sebuah desa bernama Kembang Kerang, Lombok Timur.

Mereka, tidak hanya menjajakan dagangannya di Pulau Lombok, namun juga keluar kota seperti Bima, Sumbawa dan Dompu. Bahkan ada yang merantau hingga ke luar daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali dan Jawa.

“Kami merantau untuk menjajakan gula gending hingga ke luar daerah, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya,” kata Sadikin.

BACA JUGA: Pesona Khazanah Ramadhan Perkuat Branding Pariwisata NTB

Sadikin bertutur, pernah berangkat bersama 40 kawannya untuk menjajakan dagangannya hampir di semua kabupaten di Kalimantan Selatan, beberapa tahun silam.

Berjalan Kaki Seharian

​Di Lombok orang mengenal camilan yang terbuat dari gula ini sebagai gula gending atau halus manis. 

Dijual menggunakan rombong yang dibuat khusus dari bahan kaleng-kaleng bekas dan bentuknya disesuaikan dengan pinggang samping sang penjaja agar tidak kesulitan ketika menabuhnya. Bentuk rombong setengah lingkaran dengan rongga sebagai penyimpan gula kapas di bagian tengahnya. 

Gula Gending seperti hula kapas
Gula Gending

Di sekeliling rombong terdapat enam kantong-kantong kaleng yang berfungsi sebagai tempat menyimpan kertas bukan sebagai pembungkus tetapi sebagai alas gula kapas ketika ada yang membeli. 

Kantong-kantong ini juga berfungsi sebagai gending yang dipukul penjaja untuk menarik perhatian pembeli.

rombong Gula Gending
Rombong Gula Gending

Disebut Gula Gending, karena saat menjajakan camilan yang terbuat dari gula ini, penjaja selalu menabuh kantong-kantong kaleng layaknya gending meskipun iramanya monoton, ujar Sadikin dan Fahmi. Namun, inilah kekhasan Gula Gending yang bisa jadi hanya ada di Lombok. 

“Kalaupun ada di tempat lain, tentunya dengan ciri yang sama, bisa dipastikan berasal dari Lombok,” kata Sadikin.

Ia menuturkan, para penjaja gula gending yang berasal dari kampungnya Kembang Kerang, Lombok Timur, sudah menyebar, merantau hampir di semua pulau di tanah air. Mereka menjajakan Gula Gending hingga ke luar daerah.

Biasanya, para penjaja gula gending, sebelum datang ke satu daerah secara berkelompok, dari mereka selalu ada yang memulai. Misalnya, beberapa orang ada yang berani datang ke tempat baru sekedar untuk mencoba berjualan.

“Kalau kelihatannya laku, kami saling kontak,” tutur Sadikin. 

BACA JUGA: Kunjungan AHY ke Bima Disambut Gubernur NTB

Maka, secara bekelompok mereka mendatangi daerah tersebut. Di sana mereka hidup berkelompok juga dan menyebar membagi wilayah di satu kota pertama hingga beberapa waktu.

Kalau sudah kelihatan orang mulai bosan, mereka berpindah dari satu kota ke kota lainnya hingga ke pelosok di daerah yang sama, ujar Sadikin. Saking seringnya berpindah kota, ia sudah lupa berapa kota sudah yang telah ia datangi untuk berjualan.

Dalam waktu tertentu, para penjaja memilih untuk berpindah pulau.

 “Selama menjajakan Gula Gending, seberapa pun jauhnya tempat berjualan, kami berjalan kaki meski harus seharian,” katanya. 

Mereka menumpang angkutan umum biasanya ketika berangkat berjualan ke wilayah masing-masing, selebihnya berjalan kaki bahkan hingga kembali ke rumah. 

“Lumayan, jalur yang kami lewati pulang sekalian menghabiskan dagangan yang belum laku,” ujar Fahmi. Namun, jika cepat laku semua di wilayah masing-masing, setelah berhitung ada juga yang naik angkutan umum pulangnya.

 Tepung dan Minyak Kelapa Memisah Gula Jadi Halus

Membuat Gula Gending usai keliling
Produksi Gula Gending

Gula Gending yang terbuat dari gula pasir ini, ternyata pembuatannya sangat sederhana. Pembuatannya menghabiskan waktu tidak lebih dari 45 menit. Mereka keluar menjajakan dagangannya sekitar pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Biasanya, para penjaja ini membuat gula gending yang akan dijual besoknya pada sore hari setelah pulang dari berjualan. 

“Biar capeknya sekalian,” kata Fahmi.

Cara membuat makanan ringan ini diawali dengan memasak 2 kilogram gula pasir dengan air secukupnya hingga benar-benar mendidih dan agak mengental. Di perapian yang lain, setengah kilogram kurang sedikit, tepung terigu dimasak dengan setengah kilogram minyak kelapa dimasak sambil diaduk sampai mendidih dan menggumpal. Kemudian didinginkan.

Gula yang sudah mendidih diturunkan sambil dicampur dengan sebungkus sumba berwarna merah, diaduk hingga rata. 

Sambil diaduk sumba, gula yang dimasak tadi didinginkan dengan meletakkan wajan tempat gula di atas air sambil terus diaduk dan dibolak-balik hingga akhirnya benar-benar mengental dan padat dengan warna yang merata.

Pada sebuah aluminium ukuran 1,5 X 1,5 m, terigu yang dimasak dengan minyak yang sudah menggumpal tadi ditabur di atasnya. Lalu gula yang sudah mengental dan padat dimasukkan sambil dicampur, diputar dan dibolak-balik hingga rata dan terpisah hingga halus seperti bulu kucing. 

“Mulai proses ini harus dilakukan dua orang,” ujar Fahmi.

Lebih kurang lima belas menit, gula sudah mulai terpisah nyaris halus dan kaku. Lalu, dengan menggunakan sebuah kayu yang juga mereka buat sendiri, gula yang sudah mulai kelihatan terpisah tadi diletakkan di kayu tersebut sambil dibongkar dan diurai hingga benar-benar terpisah. Minyak kelapa dan tepung terigu yang dimasak tadi, adalah kunci untuk memisahkan gula menjadi nyaris halus, ujarnya.

Saat inilah, 2 kilogram gula tadi terlihat menjadi sangat banyak. 

“Proses selesai, Gula gending harus langsung dimasukkan ke dalam rombong dan tidak boleh dibuka lagi hingga esok harinya,” kata Fahmi. 

Kalau pun dibuka karena ada pembeli, harus segera ditutup lagi. Intinya, jangan sampai udara masuk terlalu banyak agar tidak mengempes, tambah Sadikin. 

Dari 2 kilogram gula pasir, setengah kilogram (kurang sedikit) tepung terigu dan minyak kelapa setengah kilogram, bisa menjadi Rp 150 ribu hasil kotornya esok hari, kata Fahmi. Dan setiap hari pula, gula gending laku semua. Kalaupun tidak, sisanya hanya sedikit dan bisa dijual keesokan harinya lagi.

Tembus Jutaan Rupiah

​Para penjaja gula gending yang tinggal di Mataram telah membagi wilayah berjualannya. Satu sama lain sepakat untuk tidak memasuki wilayah rekannya. 

Meski jumlahnya tidak banyak, mereka tetap setia pada pekerjaan yang mereka akui lebih banyak menghidupi keluarga yang ditinggalkannya di Kampung Kembang Kerang, Lombok Timur. Padahal, kata Sadikin dalam wawancara beberapa waktu lalu, pekerjaan ini sebenarnya merupakan sampingan saja. 

“Pekerjaan pokok menggarap sawah,” ujarnya.

Memproduksi Gula Gending

Tapi, ketika musim tanam tiba, ada saja penjaja gula gending yang berjualan, karena sebagian pulang menggarap sawahnya, lainnya lagi kembali ke Mataram untuk berjualan. “Jadi, penjaja gula gending tetap saja ada,” ujarnya.​

Meski pekerjaan ini adalah sampingan, justru lebih banyak memberikan penghasilan ketimbang menggarap sawah. Tapi, Sadikin dan rekan-rekannya tidak juga memilih menjadi penjaja gula gending sebagai pekerjaan utamanya. 

“Kalau ada pekerjaan di kampung kapan saja, kami tetap akan pulang,” ujarnya.

Di Mataram, mereka hidup berkelompok plus membagi tugas, membagi segala halnya bersama-sama, saling membantu sama lain. Satu rumah mereka urunan mengontraknya.

Alat-alat pembuat gula gending seperti wajan, kompor, aluminium dan sebagainya pun urunan ketika harus menggantinya. 

Tidak terkecuali soal makan dan minum sehari-hari. Hanya modal untuk membeli gula saja mereka modal sendiri. Tidak jarang, ketika habis pulang kampung yang mereka lakukan sebulan sekali untuk menjenguk keluarganya, uang hasil jerih payahnya semuanya ditinggalkan di kampung. Paling-paling pulangnya disisakan untuk ongkos angkutan umum hingga tiba di Mataram.

“Kalau sudah begitu, kami bisa ngutang gula dan bahan lainnya di warung sebelah,” kata Sadikin. 

Berhutang pun biasanya tidak lama. Besoknya, sepulang dari berjualan, mereka langsung membayarnya. Sehari mereka berenam menghabiskan setidaknya 10 kg gula putih (ada yang 1 kilogram, ada yang 2 kilogram), bahkan bisa lebih dari itu.

“Jumlah gula tergantung modal,” aku Sadikin. 

Sedangkan minyak tanah habis 4,5 liter dalam sehari. Jadi, tidak kurang dari 300 kg gula dan 120 liter minyak tanah, 75 kg minyak kelapa, 70 kg tepung terigu dan 30 sumba mereka habiskan setiap bulannya. 

Jika melihat penghasilan kotor Fahmi, sehari dengan 2 kg gula pasir Rp 150 ribu, maka penghasilan kotor penjaja gula gending yang menghabiskan 2 kg gula setiap hari bisa mencapai Rp 4,5 juta setiap bulannya, jika tanpa libur. 

Wah, lumayan besar ya? ***