Mencegah Akal-akalan Bulog

image_pdfSimpan Sebagai PDFimage_printPrint
Wagub M Amin
Wagub NTB, H Muhammad Amin

lombokjournal

Awal Maret, aekitar 50 ribu hektar sawah padi panen raya. Berarti ada sekitar 178 ribu ton di tingkat petani di NTB. Tak heran bila Wagub NTB, H Muammad Amin, berkeras mencegah rencana Perum Bulog Divisi Regional (Divre) NTB tetap memasok 7 ribu ton beras dari luar daerah. Benarkah Bulog Divre NTB tetap menjalankan ‘akal bulus’nya?

“NTB tetap tidak akan menerima beras luar masuk,” tegas Wagub NTB, H Muhammad Amin. Senin (14/3). Tidak mengijinkan beras luas masuk, maksudnya agar Bulog Divre NTB memanfaatkan panen raya padi untuk turun langsung membeli beras petani.

Memang stok beras saat ini di Bulog Divre NTB sedang kosong, Tapi kabar itu sudah sejak Januari lalu,Bulog Divre NTB bersikeras memasok beras dari Jatim sebanyak 7 ribu ton sebagai stok antisipasi suplai beras Raskin. “Beras dari Jatim 7 ribu ton itu bisa masuk NTB, karena stok beras PSO terbatas hanya sampai Februari,” kata Kepala Perum Bulog Divre NTB, W Kuswinhartomo waktu itu saat itu (Kamis,21/1). Kebijakan itu dari Bulog Pusat mengingat keterbatasan stok yang tersedia di NTB.

W Kuswinhartono
Kepala Bulog Divre NTB W. Kusminhartomo

Wagub NTB pernah menggapi isu pasokan beras dari Jatim itu dengan menggelar rapat bersama Kepala Bulog Divre NTB, para Asisten dan Kepala SKPD terkait (22/1). Saat itu Kepala bulog Divre NTB W. Kusminhartomo menyatakan, rencana pasokan dari Jawa Timur itu dilakukan mengingat tiipisnya stok bulog karena adanya move out beras dari Divre NTB ke NTT dan Jakarta.

Tapi Kepala Dinas Pertanian saat itu menyarankan membeli beras pada petani NTB, dan pihak Distan siap turun ke lapangan membantu satgas bulog agar stok Bulog terpenuhi
Dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (TPH) Provinsi NTB diperoleh informasi, produksi gabah petani masa panen Oktober – Desember 2015 lalu mencapai 96 ribu ton setara beras masih masih di tingkat petani. Beras di petani masih banyak dan bisa kebutuhan selama tiga bulan, yaitu Januari – Maret 2016. Mestinya, Perum Bulog Divre NTB sudah mulai menggenjot serapan pembelian gabah petani

Sementara dariData Badan Ketahanan Pangan (BKP) tahun 2015 jumlah beras asal NTB yang keluar daerah mencapai 600 ribu ton. Produksi padi di NTB tahun 2015, berdasarkan data Distan dan TPH NTB pada tahun 2015, realisasinya mencapai 2,3 juta ton dari target 2,1 juta ton. Jadi terdapat surplus produksi mencapai 200 ribu ton. Mestinya Bulog membeli gabah petani sebanyak-banyaknya untuk mengamankan stok, baru mengirim keluar daerah.

Serapan Rendah, Stok Kritis
Hanya saja, Bulog NTB menyerap di bawah 60 persen untuk pengadaan Upsus dari target 100 ribu ton. Tidak tercapainya target serapan 100 ribu ton, dalihnya harga lebih mahal di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Ternyata gabah petani yang ditolak Bulog NTB justru dibeli Bulog Jatim dan Bulog Bali. Jadi krisis stok beras NTB kritis justru disebabkan rendahnya serapan Bulog NTB .

Soal ini mendapat sorotan dari Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi, Menurut gubernur, Bulog harus dibenahi karena tidak pernah bisa menyerap beras 100 persen di daerah. Ketidakmampuan menyerap beras di daerah itu sengaja dilakukan, agar bisa menyerap beras dari luar daerah (termasuk beras impor). “Waktu panen raya tidak menyerap secara maksimal. Kita punya akal sehat jadi modus-modus seperti ini hars ditinggalkan dan tidak dilakukan,” ujarnya, pertengahan Januari lalu.

Waktu itu gubernur menyatakan akan menyuirati Menteri Pertanian mendorong Bulog bisa menyerap beras 100 persen. Selain itu, pemerintah harus mampu menjaga agar harga beras di petani tidak anjlok. Sebab. modus yang biasa dilakukan Bulog tiapdiberikan target penyerapan selalu berdalih tidak mampu menyerap maksimal. Sehingga, mereka akan mengajukan kepada pemerintah pusat untuk meminta dikirimkan beras impor.

“Itu modus soal tidak bisa menyerap beras dan itu akal-akalan bulog saja agar bisa menyerap beras dari luar,” katanya saat itu.

Turun ke Lapangan
Tak ada alasan lain, Bulog Divre NTB harus turun ke lapangan. Itu seperti anjuran Wagub untuk mendorong Bulog turun mendatangi petani agar bisa mencapai target menyerap 100 persen gabah petani. Bukan lewat tengkulak atau pedagang.

Melalui pihak ketiga jelas akan melambungkan harga. Hal itu akan menjadi dalih Bulog NTB tak mampu membeli gabah petani karena harganya di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Bulog NTB harus langsung mendapat harga dari petani.

Kali ini akal bulus Bulog harus dicegah.

(Rayne Q – Ka-eS)