Seni  

Parade Teater Kampus, Meramaikan Panggung Teater Mataram

'Pinangan' karya Anton P Chekov yang dipentaskan oleh Teater Putih
image_pdfSimpan Sebagai PDFimage_printPrint

MATARAM – lombokjournal.com

P_20160902_212644

Seni Teater tetap berkobar di lingkungan kampus. Tiga kelompok yang dikenal bersemangat menggeluti teater, membuat parade pentas berturut-turut di Teater Tertutup Taman Budaya NTB, 6 – 8 September 2016.

Ketiganya adalah Teater Putih (FKIP Universitas Mataram) mementaskan “Pinangan” karya Anto P Chekov, BKSM Saksi (IAIN Mataram) dengan lakon Pantomim “Dicari Manusia Jujur” karya Nash Ja’una, dan Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram, menggarap karya Wiliam Butler Yeats berjudul “Arwah-Arwah”

Diskusi menjelang pentas, Jum’at (2/9) lalu, setidaknya diperlukan untuk persiapan mengapresiasi pertunjukan yang susah payah disiapkan ketiga kelompok teater kampus tersebut.

  • Pantomim-nya BKSM SAKSI (IAIN Mataran) sutradara Nash Jauna;

pantomima

Pengaruh (struktur) drama dalam pengadeganan pantomime, bukan hal baru dalam pertunjukan pantomime di Indonesia. BKSM SAKSI melakukan itu dalam nomor “Dicari Manusia Jujur”. Sketsa nomor pantomim yang dipandu Nash, merupakan ekspresi keprihatinan manusia modern. Masihkah ada kejujuran itu?

Pantomim dengan aktor lebih berjumlah 7 orang, bahkan hingga puluhan orang, pernah dilakukan kelompok ‘Seno Didi Mime’. Misalnya, pertunjukan yang menggambarkan makna demokrasi, aktor-aktornya beraksi mengusung bongkahan-bongkahan karet-karet ban ke atas panggung. Sejumlah pemain berwajah boneka melakukan gerakan-gerakan ‘pembobolan dinding’. Mereka mengendong tubuh-tubuh manusia telanjang tanpa busana. Dialog-dialog yang muncul dari aktornya dikemas sebagai irama, bukan kosa kata untuk mengantar pengertian.

Memang pantomim tidak selalu muncul dengan kritik sosial, namun kejenakaan yang menyertai kritik sosial menjadi elemen yang menjadi daya tarik pantomim. Simbol-simbol pantomim bisa memikat bila cepat berasosiasi dengan pengalaman keseharian penonton.

Para aktor dari BKSM Saksi memang penuh bakat, namun pantomim (yang memang) tidak dikerjakan berdasarkan naskah tapi langsung dipraktikkan itu, disarankan bisa fokus menyambungkan benang merah sketsa menjadi keutuhan yang tampak dalam pertunjukan. Apakah simbol-simbolya sampai ke penonton? Apakah aktor-aktornya berhasil mengungkapkan perasaan manusia, dan menggambarkan situasinya?

Ada perbandingan dari pertunjukan pantomim yang memberi pilihan agar bisa memikat. Misalnya, apakah pertunjukan lebih menonjolkan aspek keaktoran dalam penyampaian simbol atau membangun imaji dramatik.

Bengkel Mime Theatre Jogja; kostum dan properti dari perkakas rumah tangga
Bengkel Mime Theatre Jogja; kostum dan properti dari perkakas rumah tangga

Selain itu, seperti pertunjukan ‘Putri Embun dan pangeran Bintang’ oleh Bengkel Mime Theatre Jogja, menawarkan daya tarik visual artistik dengan set panggung, pencahayaan, properti dan kostum.  Dalam nomor ini penonton diajak larut ke dalam ruang imaji yang penuh fantasi. Mereka mengenakan kostum dan properti dari perkakas rumah tangga seperti wajan, panci, sendok, garpu, baskom, ember, kursi, meja, drum, mangkok, botol bekas air mineral, tempat sampah, hanger, tali jemuran, taplak dan lain-lain.

Aktor-aktor dan sutradara dari BKSM Saksi yang menjadi harapan tumbuhnya pertunjukan pantomim di Mataram itu, mungkin punya pilihan lain.  Atau sedang berproses menemukan pilihan yang tepat untuk berinteraksi dengan penontonnya.

  • “Pinangan’-nya Anton P Chekov oleh Teater Putih

'Pinangan'-nya Teater Putih

Teater Putih-nya FKIP (Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan) Unram merupakan kelompok teater kampus paling produktif dan konsisten membuat pertunjukan drama.  Ini didukung lingkungan di FKIP Unram yang kondusif, dengan mata kuliah teater atau drama yang memungkinkan mahasiswanya mempunyai bekal teori membuat pertunjukan teater.

Naskah “Pinangan” meski ditulis Anton P Chekov yang lahir tahun 1860 di pedesaan Taganrog, Rusia, tapi tetap relevan menjadi tontonan saat ini. Kelompok teater yang masih menganut prinsip-prinsip akting Stanilavsky – teater sebagai seni vokal dan seni akting – menyukai karya-karya penuh sindiran dan ledekan karya Chekov (atau Nikolai Gogol). Naskah Pinangan paling sering dimainkan termasuk oleh mahasiswa-mahasiswa teater.

pinangan1

Teaterawan dari Bandung yang legendaris, Suyatna Anirun, menyadurnya ke dalam situasi lokalitas  Jawa Barat. Tokoh-tokohnya bukan hanya bernama lokal, tapi cara berpikirnya pun tipikal lokal, yang masuk dalam ‘komedi situasi’ khas lokal.  Jadilah perseteruan lucu seseorang yang datang melamar anak gadis, malah terjebak perseteruan dengan orang tua gadis perkara memperebutkan sebidang tanah dan mempermasalahkan hewan peliharaan masing-masing.

Teater Putih memainkan naskah Pinangan tanpa mengadaptasinya ke dalam situasi lokal. Nama-nama tokoh dalam drama itu tetap asli nama Rusia.  Memang tanpa adaptasi apa pun (kecuali bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia) tak mengurangi nilai suatu pertunjukan naskah asing. Namun sering menimbulkan kerumitan, misalnya, kalau memainkan tokoh ‘Ivanovic’ (nama Rusia) tentu berbeda saat masuk dalam karakter ‘Khlolil’ (nama Jawa Barat). Ini lebih lanjut akan bersinggungan dengan elemen produksi lainnya.

Meski demikian, bagi aktor yang mempelajari metode dan konsep Stanislavsky yang memanfaatkan ingatan emosi sebagai pijakan pemeranan yang digerakan kondisi jiwa dan mood tokoh di tiap suasana (pengolahan intuisi kreatif-nya Chekov), akan membangun tontonan yang menghibur.  Drama Chekov  tidak menyarankan titik kulminasi atau puncak konflik, tiap situasi merupakan peristiwa istimewa.

Cara pengungkapan emosi tiga orang aktor Teater Putih telah mendekati pencapaian itu. Termasuk konsep atau teknik Farce dalam pemeranan memang tepat untuk mendekati naskah Chekov.

  • ‘Arwah-arwah’ karya William Butler Yeats (WB Yeats) oleh SASENTRA (Sanggar Seni dan Sastra) Universitas Muhammadiyah Mataram
Arwah-arwah-nya SASENTRA
Arwah-arwah-nya SASENTRA

Drama ‘Arwah-arwah’ mewakili alam pikiran penyair dan penulis drama kelahiran Dublin, Irlandia tahun 1865. WB Yeats yang disebut sebagai salah satu penyair berbahasa Inggris terbesar pada abad ke-20 dan penerima Nobel Sastra tahun 1923 — penyair romantik terakhir dan penganut aliran modern pertama —  kerap menampilkan sosok hantu dalam puisi-puisinya. Ia percaya, ketika seseorang berbicara tentang orang mati, akan membangkitkan hantunya.

Yeats disebut memiliki bakat khusus berhubungan dengan hantu-hantu. Dan telah melakukan ribuan percakapan dengan orang-orang yang mengklaim mampu berhubungan dengan hantu.

Seorang penulis, Alice Miller, yang sempat menyusuri jejak Yeat di Dublin menulis, Yeat pernah menyatakan bahwa setelah kematian menjemput, kita menghidupkan kembali kenangan penuh gairah yang terus berulang, mencintai jiwa-jiwa yang sama, membakar rumah-rumah yang sama dan memerankan peran kasus pembunuhan yang sama.

arwah-arwah
Arwa-arwah karya mahasiswa ISI di Sumatra

Latar belakang ini penting untuk memahami naskah ‘Arwah-arwah’, yang mengisahkan pengembara tua dan putranya di antara reruntuhan rumah dan pohon tua.  Peristiwa masa lalu yang mengganggu orang tua itu karena berisi kenangan kisah tragis.  Ia membunuh ayahnya sendiri karena ayahnya menyiksa ibunya. Ketakutan membayangi pikirannya, kemungkinan putranya membalas dendam atau ‘melanjutkan keonaran’. Akhirnya ia memutuskan membunuh putranya sendiri.

Asta Bajang yang menyutradarai ‘Arwah-Arwah’ itu berusaha memahami karya drama dari penyair yang menerima Nobel karena puisi-puisinya yang menginspirasi dan memberi semangat bangsa Irlandia. Namun dialog-dialog penuh metafora, ungkapan puitis Yeats,  yang membangkitkan kenangan orang tua atas ‘puing-puing rumah dan pohon tua’ bisa menjebak pemainnya dalam ucapan bertele-tele.

Memang, ‘Arwah-arwah’ yang diterjemahkan Suyatna Anirun bukan hanya membutuhkan pendalaman pemahaman untuk menangkap metafora dalam dialog tokoh-tokohnya.  Pemahaman plot, intensitas diskusi aktor-sutradara, sekaligus pembahasan elemen desain produksi (cahaya, kostum, properti dan lainnya), juga penting mendekati drama psikologi Yeats. Kedua aktor yang bersemangat dari Sasentra yang bermain dalam ‘Arwah-arwah’ harus lebih banyak diskusi dengan sutradara.

Pertunjukan teater adalah persentuhan organisme hidup antara aktor dan penonton selama teater itu ‘hidup’. Teater itu ‘mati’ ketika lampu panggung dan gedung pertunjukan menyala. Seni teater bukanlah artefak yang bisa diapresiasi dengan nilai sama seperti saat pertunjukan berlangsung.

Karena itu, nilai pertunjukan teater ditentukan berlangsungnya ‘peristiwa teater’ yang memberi kesadaran baru tentang sesuatu.Mari menonton teater.

Suk