Memasuki September, 302 Desa Di NTB Alami Kekeringan

Kepala BPBD NTB Ahsanul Khalik
image_pdfSimpan Sebagai PDFimage_printPrint

Kekeringan yang terjadi pada tahun 2019 ini lebih luas jika dibandingkan tahun 2018 lalu

MATARAM.lombokjournal.com —  Bencana kekeringan di Nusa Tenggara Barat tercatat semakin meluas, hingga September ini tercatat 302 desa se NTB mengalami kekeringan.

Dibandingkan tahun sebelumnya, di tahun 2018 peningkatan sebaran kekeringan cukup signifikan .

“Jika di tahun lalu tercatat 298   maka di tahun 2019 hingga september ini tercatat 302 desa se NTB mengalami kekeringan,  akibat musim kemarau yang melanda NTB semakin meluas. Dari sebelumnya 298 desa, kini bertambah menjadi 302 Desa,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),  Ashanul Khalik Ahmad, Selasa (03/09) 2019.

Ahsanul Khalik mengatakan, hingga saat ini jumlah desa yang terdampak akibat kekeringan mencapai 302 desa

Berdasarkan data yang dihimpun BPBD NTB di sembilan kabupaten kota, yang terdampak parah kekeringan terbanyak di kabupaten Lombok Tengah.

Data itu meliputi 83 desa di sembilan kecamatan dengan jumlah kepala keluarga yang terdampak mencapai 69,380 kk atau 273,967 jiwa.

Di posisi selanjutnya, Kabupaten Sumbawa dengan 42 desa di 17 kecamata,  dengan jumlah yang terdampak sebanyak 20,189 KK atau 80,765 jiwa. Kemudian disusul Kabupaten Lombok Timur dengan 37 desa di 7 kecamatan, dengan jumlah terdampak 42,546 kk atau 128,848 jiwa.

“Kabupaten Bima dengan 36 desa di 10 kecamatan  dengan jumlah sebanyak 4.190  kk atau 20,918 jiwa, Kabupaten Dompu dengan 33 desa di 8 kecamatan dengan jumlah terdampak 15,094 kk atau 48,717 jiwa,” terangnya.

Dampak kekeringan juga terjadi di Kabupaten Lombok Barat dengan 25 desa di 6 kecamatan dengan jumlah terdampak mencapai 16,246 kk atau 64,985 jiwa, dan Kabupaen Sumbawa Barat 13 kelurahan di 3 kecamatan dengan jumlah terdampak mencapai 2,414 kk atau 10,868 jiwa.

Ashanul khalik juga mengatakan, kekeringan yang terjadi pada tahun 2019 ini lebih luas jika dibandingkan tahun 2018 lalu.

Sebab kekeringan yang terjadi pada tahun ini jumlah masyarakat yang tedampak  lebih banyak, seperti yang terjadi di wilayah Lombok Timur, tepatnya di bagian selatan Lombok Timur, sehingga berdampak terhadap kondisi pertanian masyarakat.

Upaya yang dilakukan BPBD NTB dan instansi terkait dalam menghadapi kekeringan, selain menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan, yakni dengan membuat sumur Bor di beberapa wilayah yang menjadi langganan kekeringan.

AYA