Ciri-ciri Jurnalisme Solusi fokus pada kedalaman tentang respons terhadap sebuah masalah, fokus pada keefektifan memberikan inspirasi dan wawasan, turut serta menjadi bagian solusi terhadap masalah
TANJUNG, KLU ; Pemerintah Kabupaten Lombok Utara bekerja sama dengan Gerakan Revitalisasi Kemanusian (Gravitasi) Mataram menyelenggarakan Workshop Media Massa bertajuk Memahami dan Menulis Berita Pascabencana., Sabtu (03/08).
Peranan media massa sebagai pilar keempat dalam kehidupan bermasyarakat, dinilai sebagai salah satu mengembalikan nilai-nilai substansi kemanusian.
“Pemerintah Daerah KLU mendorong semua stakeholder untuk berperan dalam penanganan bencana, termasuk peran media. Pekerjaan yang tadinya dirasa berat, dengan kebersamaan dan kerja sama yang baik bisa terasa ringan,” kata Asisten III Setda KLU Ir. H. Melta saat membuka acara mewakili Bupati Lombok Utara.

Dikatakan, media massa berperan penting pada mitigasi bencana baik fase tanggap darurat dan fase transisi pemulihan. Ada beberapa kendala yang terjadi di lapangan fase rehab rekon untuk kita carikan jalan keluarnya.
“Harapan kami pada workshop ini, bisa didiskusikan untuk bisa berkontribusi dalam penanganan bencana,” tandasnya.
Workshop tersebut menghadirkan narasumber, budayawan NTB Drs. H. Lalu Fathurrahman, Anggota DPRD KLU, Raden Nyakradi, S.Pd., serta jurnalis dari Tempo Mataram, Latief Apriaman, serta Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD KLU Drs. Wardoyo.
Raden Nyakradi, S.Pd., saat menyampaikan sambutan menguraikan penganggaran pada masa bencana. Dijelaskannya, masa tanggap darurat, korban gempa pada tahap bencana murni mendapatkan bantuan dari relawan.
Pada saat penyusunan RPJMD 2016-2021, sebagai Ketua Pansus saat itu pihaknya mengembalikan RPJMD supaya memprioritaskan penanganan gempa. Ditambahkannya, pada Bulan September penganggaran penanganan bencana itu bisa diselesaikan.
Karena itu, penanganan bencana itu berdampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan. APBD murni tahun 2018 sebesar 984 miliar rupiah, anggaran untuk BPBD KLU berkisar 5 miliar rupiah lebih dengan dana kesiagaan berkisar 405 juta rupiah.
Drs. H. Lalu Fathurrahman yang menyoroti perspektif kebudayaan menjelaskan, dalam konteks bencana perlu banyak mempertanyakan pemikiran kosmologis adanya bencana.
“Kita tanya kepada tetua, apa kata mereka tentang bencana: ‘Mula iya kelampan gumi langit ketentuan siq epenta’. Ini kesadaran mendalam yang menentukan sikap mereka dalam menjalani kehidupan. Filosofi dari kalimat tersebut menerima anugerah dengan syukur dan tanggung jawab. Ini jelas terekspresi dalam masyarakat Daye,” tuturnya.
Diuraikannya, menerima ketentuan Tuhan yang memang telah terjadi, inilah yang dinyatakan dengan pemikiran kosmologis. Kata “Daya” secara kosmologis artinya kekuatan yang dalam.
Dalamkesempatan sama, pihak BPBD KLU melalui Kabid Rehab Rekon Drs. Wardoyo memaparkan Pemda KLU sedang melakukan kegiatan rehab rekon secara masif.
“Jumlah korban bencana yang sudah terakomulasi dari SK ke-1 sampai 26 terbagi dalam tiga kategori kerusakan. Ini belum data final, lantaran masih ada dua SK lagi yang menyusul yaitu SK ke-27 dan ke-28,” ujarnya.
Jurnalis Tempo Mataram, Latief Apriaman dalam paparan materinya mengulas terkait Jurnalisme Solusi. Tahun 2000, Jurnalisme Solusi digagas oleh seorang jurnalis asal Amerika yang berangkat dari sebuah kegelisahan.
Saat itu, masyarakat seperti tidak percaya lagi dengan media, dan beralih dari media konvensional ke media online. Masyarakat sulit membedakan suatu berita itu benar atau hoaks.
“Sederhananya, Jurnalisme Solusi ini mencoba memberikan format baru pemberitaan yang menjadi penuntun ke arah yang tepat. Tulisan jurnalistik bisa mengacu pada tulisan-tulisan yang menampilkan solusi,” imbuhnya.
Dijelaskannya, ciri-ciri Jurnalisme Solusi fokus pada kedalaman tentang respons terhadap sebuah masalah, fokus pada keefektifan memberikan inspirasi dan wawasan, turut serta menjadi bagian solusi terhadap masalah.
Tampak hadir dari beberapa pewarta media, di antaranya dari Suara NTB, TVRI NTB, SCTV, Samalas TV, Seputar Lombok Com, serta dari perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat.
Workshop berakhir dengan peninjauan lapangan di Dusun Tanaq Muat Desa Kayangan. Melihat dari dekat, kehidupan masyarakat setempat pascabencana.
Bagaimana masyarakat mampu bertahan hidup dalam keadaan yang masih terbatas. Masyarakat masih tampak optimis, mereka tetap bekerja produktif sembari menanti pembangunan Rumah Tahan Gempa.
Masyarakat berinisiatif bercocok tanam sayuran, memperbaiki saluran air, membuat usaha kuliner tahu, menggunakan bahan-bahan daur ulang untuk hunian sementaranya, melalui pendampingan dari Gravitasi dan YSI.
Sungguh usaha luhur, masih bisa survival dalam keterbatasan.
sta/humasproklu









