Festival Supranatural dan Pameran Benda Bertuah Khas NTB, Perlu Diadakan 

Kekuatan orang sakti dan bertuah di NTB perlu dikenalkan melalui Festival Supranatural sebagai apresiasi pemerintah para ilmu-ilmu non sains

MATARAM.lombokjournal.com ~ Lembaga Kajian Sosial Politik Mi6 menilai sebagai upaya mengenalkan keaneka-ragaman kekuatan dan keunikan ilmu non sains yang merupakan ciri khas kearifan lokal NTB , perlu dipikirkan adanya festival rutin yang berkaitan dengan Exisibisi ilmu Supranatural dan pameran benda bertuah made in NTB.

NTB berdiri dari beragam suku yakni suku Sasak, Samawa, Mbojo, Bali, dan lain lain sudah menjadi rahasia umum dipandang memiliki kekuatan ilmu supranatural yang mumpuni yang merupakan salah ciri khas kearifan lokal dari berbagai suku tradisional tersebut.

Perlunya Festival Supranatural
Bambang Mei FinarwaNto, SH

Di kalangan masyarakat umum keberadaan orang sakti dan bertuah di NTB kerap dijadikan rujukan untuk beragam keperluan mulai dari penyembuhan penyakit, penglaris/rejeki hingga urusan percintaan/jodoh.

“Sehingga tak heran NTB kini menjadi salah satu Destinasi Idola untuk mencari figur-figur yang memiliki kekuatan Supranatural Mumpuni dan Benda-Benda Kuno dan Bertuah seperti Mirah delima, Kayu Sulaiman Rinjani, Mustika Rinjani, Senggeger, dan lain lain,” kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH melalui Siaran Pers , Sabtu ( 07/05/22 ) .

Menurut lelaki yang akrab disapa Didu ini, melalui expo atau job fair yang mengenalkan ( baca : mempopulerkan ) aneka-ragam cabang ilmu supranatural dan keunikan benda bertuah tersebut diharapkan adanya pengakuan dan legitimasi yang lebih meluas terhadap praktek supranatural untuk kepentingan kemanusiaan yang adil dan beradab.

BACA JUGA: Kondusifitas Daerah Perlu Dijaga, Ini Pesan Gubernur Zul

“Dari sisi entertainment, masyarakat awam dapat pengetahuan yang holistik menyangkut mekanisme/cara kerja secara sistematis ilmu-ilmu non sains tersebut, termasuk kegunaan dan khasiat benda kuno bertuah khas NTB,” ujar Didu.

Lebih jauh didu menambahkan, dengan adanya Festival Supranatural dan Benda Bertuah secara berkala dan tertata apik dari sisi promosi dan entertainnya akan semakin menarik minat warga untuk datang mengunjungi ajang festival itu.

Selain dari referensi pengetahuan , masyarakat juga bisa melakukan dialog interaktif secara langsung dengan para balian , sandro maupun kalangan supranatural terkait ilmu yang dimiliki sekaligus cara mempelajarinya.

“Apalagi konten yang bernuansa klenik masih sangat digemari oleh masyarakat indonesia karena ada sesuatu yang dipandang tidak masuk logika. Disitulah daya tarik sesungguhnya , dimana sesuatu yang tidak masuk akal menjadi hal yang wajar dan lumrah jika dijelaskan metodologi cara kerja ilmu supranatural secara benar,” ungkapnya.

Kolaborasi LIPI dan Kaum Supranatural

Didu menggarisbawahi, eksistensi atau keberadaan figur-Figur yang memiliki kelebihan ekstraterestrial perlu dirangkul, dan diberikan panggung oleh pemerintah.

Ini sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas kemampuan non sains yang dimiliki karena anugerah dari Allah.

“Orang-orang dengan kemampuan supranatural biasanya indera keenam yang lebih peka dan mampu melihat masa depan lewat ilmu tilik,” imbuh Didu.

Direktur Mi6 melanjutkan, para The Avenger yang memiliki kekuatan ekstrateretrial ini perlu diajak sinergi dan kolaborasi oleh stakeholder di NTB untuk saling membesarkan untuk kemajuan dan kemanusiaan.

‘Lembaga Antariksa Amerika, NASA saat ini sedang serius meneliti dan mengkaji hal-hal misterius yakni lewat program SETI ( Search for Extra – Terrestrial ) yakni nama dari kelompok usaha yang meneliti kehidupan ektraterestrial,” kata Didu.

Ditambahan, kemampuan dan kepiawaian figur-figur yang memiliki supranatural ini perlu dikolaborasikan secara positif untuk percepatan kemajuan science, tehnologi dan pembaharuan ilmu pengetahuan masa depan.

BACA JUGA: Pengajian NWDI, Umat Islam Diajak Menjaga Kebersamaan

Mantan Direktur Walhi NTB ini berharap, seperti halnya yang sudah dilakukan oleh NASA, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) bisa bersinergi dan bekerjasama dengan kalangan supranatural untuk melacak sejarah masa lalu ( non sains ) dan menyelidiki situs-situs sejarah yang belum ditemukan. Lewat kemampuan ilmu tilik yang dimiliki diyakini dapat dijadikan petunjuk untuk memecahkan hal – hal yang misterius di luar ilmu pengetahuan.

“Mi6 menyakini kolaborasi LIPI dengan para Avenger yang memiliki kemampuan ekstraterestrial itu akan menjadi perpaduan kekuatan yang unik dalam bidang pengembangan keanekaragaman ilmu science dan non sains untuk kemajuan Ilmu Pengetahuan,” tutur Didu.***

h




Gelar Budaya Nusantara 2022 akan Berlangsung di NTB

Wagub NTB Sitti Rohmi mendukung kegiatan ‘Gelar Budaya Nusantara 2022’, dan memang diharapkan banyak event nasional diselenggarakan di NTB

MATARAM.lombokjournal.com ~ Provinsi NTB direncanakan akan menjadi tuan rumah salah satu event nasional, yaitu Gelar Budaya Nusantara 2022.

Wagub Hj Sitti Rohmi menyatakan, Pemerintah Provinsi NTB siapa mendukung seluruh kegiatan yang akan diselenggarakan di NTB.

Membicarakan kegiatan Gelar Budaya Nusantara

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat menerima Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Bali (Wilayah Kerja Bali, NTB dan NTT) di ruang kerja Wagub, Senin (18/04/22).

“Kita tentunya menyambut baik. Pada dasarnya kita pasti support, karena kita ingin event-event nasional itu diselenggarakan disini,” kata Ummi Rohmi sapaan akrab Wagub NTB.

BACA JUGA: Wagub: Lobar Konsisten Bangun Pendidikan dan Kesehatan 

Ia meminta pihak BPNB Provinsi Bali terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak agar acara Gelar Budaya di NTB dapat terselenggara dengan baik.

“Jadi nanti harus berkoordinasi agar pelaksanaannya bisa berjalan baik. Mudah-mudahan lancar, dipersiapkan dengan baik. Kolaborasi dengan banyak pihak,” tuturnya.

Sementara itu, I Made Dharma Suteja selaku Kepala BPNB Provinsi Bali menjelaskan,  terpilihnya Gelaran Budaya Nusantara 2022 di NTB terinspirasi dari Mandalika.

“Kami memilih NTB karena terinspirasi dari Mandalika. Nantinya akan ada 11 BPNB yang hadir, dan masing-masing BPNB mencakup 1 sampai 3 provinsi, jadi sama dengan seluruh Indonesia,” jelas I Made Dharma Suteja.

Sebagai informasi, Gelaran Budaya Nusantara 2022 rencananya akan diselenggarakan pada bulan Mei mendatang, tepatnya pada tanggal 20 hingga 24 Mei 2022 di Taman Mayura Kota Mataram. 

Isi dari kegiatan tersebut, yaitu Dialog Pamong Budaya, Pameran Budaya, Cooking Class, Pentas Seni dan Exhibisi Permainan Tradisional.

BACA JUGA: Pilgub NTB 2024 akan Disemarakkan Adu Kuat Paranormal

Turut hadir mendampingi Wakil Gubernur saat audiensi tersebut, yaitu Dr. H. Aidy Furqan, selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB serta Baiq Ika, Anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah Provinsi NTB. ***

 




Arsitektur Rumah Tradisi di Desa Karang Bajo, Bayan, KLU (Dua)

Kearifan lokal yang melekat dalam arsitektur rumah tradisi di Desa Karang Bajo, Bayan, hingga kini seutuhnya masih dipertahankan

lombokjournal.com ~ Posisi-posisi yang mengikuti arah mata angin ini, baku dalam aturan adat Sasak, utamanya di Bayan dan tidak boleh sembarang menempatkannya. Demikian pula dengan arah hadap rumah. 

Menghadap Timur atau Barat

Rumah adat Sasak hanya boleh menghadap arah timur dan barat, begitu aturannya. Ketika pagi tiba, maka rumah-rumah adat Sasak yang menghadap ke timurlah yang mendapatkan matahari sepenuhnya masuk ke dalam ruangan. 

Dan ketika sore tiba, sinar matahari akan dinikmati sepenuhnya oleh rumah yang menghadap Barat. Teras rumah adat penduduk secara umum mengikuti panjang rumah tersebut. 

Letak rumah untuk keluarga juga telah diatur dengan pertimbangan untuk kebaikan dan menghindari saling singgung antara satu dengan lainnya. Rumah orang tua akan berada pada bagian paling ujung selatan menghadap ke barat. 

Bagian arsitektur rumah tradisi
Berugaq

Lalu anak pertama keluarga itu akan mendapat jatah posisi rumah yang berhadapan dengan rumah orang tuanya sebelah barat menghadap ke timur. Kemudian jika lahir anak kedua mendapat posisi rumah pada sebelah timur bagian utara dari rumah orang tuanya atau sebelah utara rumah kakaknya menghadap ke timur. Anak ketiga dari keluarga tersebut akan tetap mengikuti orang tua hingga waktunya ia menikah.

Dan ketika ia sudah berkeluarga posisinya saling mengisi. Anak pertama akan pindah ke rumah orang tuanya, anak kedua bergeser rumah kakaknya yang pertama dan anak ketiga menempati rumah kakak keduanya. Begitu seterusnya. 

Urut-urutan ini sudah terpikirkan kebaikannya oleh leluhur masyarakat adat Sasak, yakni menghindari saling curiga dan meningkatkan saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Bahwa yang lebih tua akan selalu melindungi dan memberikan rasa aman bagi yang lebih muda. 

Maka diaturlah sedemikian rupa. Kesadaran masyarakat adat seperti ini dapat menciptakan kedamaian, ketertiban dan keamanan hidup berkelompok.

BACA JUGA: Rekening Nasabah Dibobol, Bank Harus Bertanggung Jawab

Di tengah dua rumah yang saling berhadapan, timur dan barat, terdapat berugaq (rumah terbuka tempat aktivitas lain khas Sasak) dengan ukuran besar bertiang enam (sekenam). Masing-masing rumah memiliki satu berugaq atau menjadi milik bersama dan dibangun secara gotong royong. 

Masyarakat Sasak yang tinggal dengan rumah adat Sasak yang asli seperti ini, lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar rumah, yakni di berugak. Aktivitas siang hari dari pagi, sore hari hingga menjelang tidur malam, dilakukan di berugak, termasuk makan. 

Rumah biasanya lebih banyak dipakai bagian dapurnya untuk memasak dan ruang lainnya untuk tidur di malam hari.

Berugaq juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Masyarakat tradisional Sasak menerima tamu di berugaq, tidak di dalam rumah karena rumah hanya berfungsi sebagai tempat privasi. Kecuali ada musyawarah atau pembicaraan khusus yang menyangkut rahasia yang disebut pos sesepen. 

Selain sebagai tempat menerima tamu, berugaq juga berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga (sangkep/gundem). Juga sebagai tempat menggelar acara selamatan baik acara perkawinan, khitanan maupun acara kepaten (kematian).

 Acara tahlilan dalam kepaten disebut Dina Nelung yang dilaksanakan pada hari ketiga, Dina Tekang Ajian pada hari kelima dan Dina Nitu pada hari ketujuh. 

Rumah adat penduduk biasa yang ada di Bayan, tidak sama dengan rumah adat yang ditempati oleh pemangku adat atau pun pejabat adat lainnya. Teras rumah pemangku adat, tidak dibuat sepanjang rumah, melainkan hanya ada di depan pintu masuk saja.

Di kompleks rumah adat Karang Bajo terdapat kediaman resmi pemangku adat Sasak Bayan Lombok. Untuk dapat masuk dalam kompleks rumah adat Karang Bajo ini, wajib menggunakan pakaian adat Sasak seperti kain dan sapuq (ikat kepala khas Sasak untuk laki-laki). 

Dan ketika memasuki kediaman resmi pemangku adat yang ada di sini, harus membuka alas kaki dan beberapa pantangan tidak boleh dilakukan ketika berada di tempat yang disakralkan bagi tradisi Sasak Bayan ini, yakni dengan menjaga sopan santun dan perilaku yang baik. 

Inilah salah satu warisan nilai kearifan dari kehidupan tradisi masyarakat Bayan.

Hal ini dilakukan agar keaslian tradisi yang menyertai kehidupan masyarakat di dalamnya, tetap terjaga. Dan siapa pun yang masuk ke dalam kawasan ini, wajib menaatinya. 

Hal-hal yang bersifat tabu untuk dilakukan, dilarang di kawasan ini. Karena apa yang dilarang untuk dilakukan adalah hal yang kurang baik dan apa yang disarankan adalah hal-hal yang berkaitan langsung dengan sopan santun dan etika. 

Intinya, siapa pun yang datang, harus menjaga perilaku, etika dan sopan santun. Dilarang makan dan minum sambil berdiri, dilarang duduk dengan seenaknya, harus bersila ala lelaki dan perempuan, dilarang berkata kotor dan dilarang melakukan hal-hal yang kurang sopan lainnya, misalnya bicara dengan nada tinggi dan riuh dan sebagainya. 

Salah satu kearifan lokal arsitrktur rumah tradisi
Inan Bale

Dalam kawasan ini terdapat rumah-rumah tradisional Sasak dengan arsitektur asli yang tempati oleh masyarakat tradisional. 

Dan di dalam kompleks khusus ini pula terdapat sebuah lokasi yang menjadi rumah atau kediaman bagi pejabat adat Bayan yang disebut Balen Ma Loka, yang dipagari dengan pagar kampu (pagar yang mengelilingi rumah adat dimana tidak sembarang orang boleh masuk ke dalamnya). 

Kompleks ini serupa kediaman resmi atau pendopo pejabat tertingginya. Ketika memasuki kompleks ini, di depannya terdapat dua berugaq, yang di sebelah barat disebut Berugaq Agung dan sebelah timur disebut Berugaq Smalang. 

Berugaq agung tidak boleh diduduki para perempuan, begitulah ketentuannya. Difungsikan sebagai tempat acara-acara ritual seperti selamatan desa, Idul Fitri, Idul Adha, maulud adat, pesta alip atau untuk musyawarah. 

BACA JUGA: Daur Ulang Sampah Plastik di NTB Jadi Batako

Tempat untuk peralatan musik yang akan mengiringi ritual atau acara adat yang diselenggarakan, seperti gong, gendang dan lain-lain. Perempuan boleh duduk di berugaq smalang ini. Berugaq ini juga dipakai sebagai tempat memotong-motong ternak untuk keperluan konsumsi acara ritual. 

Masih dalam kompleks ini, masuk ke dalam meninggalkan dua berugaq itu, terdapat sebuah rumah yang disebut Bale Pedangan yakni rumah khusus untuk memasak.

 Seluruh aktivitas memasak untuk kegiatan ritual dilakukan di sini dipimpin oleh seorang yang diberikan otoritas untuk kegiatan memasak yang disebut Inaq Pedangan. Dialah yang bertanggung jawab mengurus dan mengatur masakan dalam kegiatan tersebut. 

Di dalam kompleks ini terdapat satu rumah adat inti sebagai tempat tinggal pemangku adat (Balen Ma Loka). 

Inilah kediaman resmi pemangku adat Sasak yang dipilih oleh masyarakat adat Sasak berdasarkan keturunannya. Di samping rumah pemangku adat ini, ada sebuah berugaq yang berfungsi sebagai tempat khusus menerima tamu pemangku adat. Dan di sekitar “rumah dinas” ini terdapat sebuah berugaq lagi yang disebut Berugaq Pengagi’an. Berugaq pengagi’an berfungsi sebagai tempat menyimpan seluruh masakan yang sudah matang dari bale pedangan. 

Di berugaq ini juga terdapat semacam loteng terbuka untuk menyimpan alat-alat masak tradisional seperti pemongkang, periuk dari tanah dan lainnya.

Pada halaman belakang bagian barat posisinya pada pojok selatan, terdapat sebuah rumah yang disebut Gedeng Cor yang dimaknai sebagai rumah khusus para leluhur orang Bayan (dunia gaib) yang tidak boleh dibuka sembarang waktu. Gedeng cor hanya boleh dibuka pada saat-saat tertentu. 

Dan berhadapan dengan gedeng cor di bagian timur pojok selatan terdapat sebuah rumah lagi yang disebut Balen Meni’ tempat menyimpan beras dan hasil bumi lainnya seperti sayur mayur, bumbu-bumbu dan ternak yang akan dipakai untuk acara ritual tersebut. 

Yang bertanggung jawab terhadap rumah ini adalah yang menjabat sebagai inan loka yang orangnya disebut dengan inan meni’.

Tata letak rumah yang disesuaikan dengan fungsi masing-masing dan ditangani oleh masing-masing orang yang diberi tanggung jawab khusus untuk itu membuat kehidupan masyarakat tradisional di Bayan begitu teratur. Semua yang memiliki fungsi disini melaksanakan tugas masing-masing dengan baik dan penuh tanggung jawab sehingga tidak akan berbenturan satu sama lainnya. 

Inilah salah satu kearifan lokal dalam sistem pemerintahan masyarakat adat Sasak yang bisa diserap nilainya untuk keteraturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pemangku adat yang dipilih oleh masyarakat benar-benar berdasarkan kemampuan, tingkah laku dan catatan baik leluhurnya. 

Masyarakat adat tidak akan memilih pemangku atau pemimpinnya jika tidak memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan berdasarkan hasil musyawarah adat. ***

Baca sebelumnya: Arsitektur Rumah Tradisi di Desa Karang Bajo, Bayan, KLU (Satu)




Arsitektur Rumah Tradisi di Karang Bajo, Bayan, KLU (Satu)

Kearifan lokal yang melekat dalam arsitektur rumah tradisi di Desa Karang Bajo, Bayan, hingga kini seutuhnya masih dipertahankan

lombokjournal.com ~ Salah satu kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat dengan tradisi yang masih sangat terjaga keasliannya adalah desa-desa tradisional yang ada Bayan, Lombok Utara. 

Dari desa tradisional Segenter, Semokan, rumah adat Karang Bajo, Karang Anyar, Senaru, Sukadana dan masyarakat adat Loloan. Hingga Dasan Bayan Dalam yang lokasinya berada di atas perbukitan dan di tengah hutan adat yang rimbun, sejuk dan lebat. 

Daya pikat budaya dan penjagaan tradisi dalam masyarakat Sasak Bayan Lombok yang masih utuh ini merupakan warisan leluhur masyarakat Bayan. 

Komunitas tradisional Suku Sasak Lombok ini masih menjaga berbagai kearifan lokal yang mengatur kehidupan masyarakat menjadi tertib dan teratur, termasuk arsitektur tradisional rumah adatnya.

Salag satu kearifan lokal arsitrktur rumah tradisi
Inan Bale

Satu Ruangan

Di desa tradisional itu, tidak hanya ditemukan keaslian rumah-rumah adat suku Sasak, melainkan juga keseharian masyarakatnya yang masih sangat tradisional. Salah satu keunikan yang ada di Bayan adalah soal nama yang dipakai secara turun temurun. 

Orang Bayan memiliki nama kebanyakan berakhiran Nap, Dip, Lip, Nom dan Lis. Ini merupakan nama turun temurun serupa marga bagi mereka. Semua nama berakhiran sama, dapat dipastikan mereka berasal dari satu keturunan atau masih berkerabat dekat dalam satu garis keturunan. Nama mereka mengikuti nama leluhurnya.

Di desa-desa tradisional ini, arsitektur rumah-rumah adat yang asli masih terus dipertahankan meskipun di sana-sini secara material tidak seutuhnya bisa dipertahankan lagi, seperti atap alang-alang yang semakin sulit dijumpai. 

Namun, di tempat-tempat tertentu khususnya di wilayah sakral adat, seperti kediaman resmi pemangku adat Karang Bajo dan Dasan Bayan, masih utuh murni dan asli.

BACA JUGA: Rekening Nasabah Dibobol, Bank Harus Bertanggung Jawab

Dalam rumah adat Sasak yang asli, hanya ada satu ruangan tanpa ada sekat atau kamar di mana antara dapur, tempat tidur dan tempat aktivitas lainnya tidak dipisahkan secara permanen. 

Beratapkan alang-alang dengan lantai tanah dan hanya memiliki satu pintu dengan tinggi 150-170 centimeter tanpa satu pun jendela. Kalau memasuki rumah adat Sasak, biasanya menunduk karena pintunya yang terbilang rendah. Inilah yang membuat rumah adat Sasak cenderung gelap di dalamnya. 

Dinding rumah Sasak terbuat dari rangkaian bambu seperti pagar agak longgar yang disebut badak. Dari celah-celah bambu itulah, udara masuk dengan leluasa dan sedikit cahaya. Semacam ventilasi sehingga keunikan rumah adat Sasak sangat terasa. 

Meski tidak memiliki ruang-ruang, kata Rianom, salah seorang tokoh adat Sasak Bayan di Bayan, rumah adat Sasak memiliki tempat-tempat yang berfungsi memperlancar aktivitas pemiliknya. 

Ada yang disebut amben beri yang dipakai sebagai tempat tidur dan juga tempat makan bagi para tetua adat. Jika ada kegiatan makan para tetua adat, maka fungsi amben beri yang tadinya sebagai tempat tidur bisa berubah sewaktu-waktu. 

Ada juga yang disebut dengan amben beleq yang berfungsi sebagai tempat makan khusus bagi para tamu perempuan pada acara-acara ritual selamatan atau yang disebut menggawe rowah

Di dalam ruangan tersebut ada satu lagi bangunan yang posisinya berada di tengah-tengah rumah ruangan rumah adat Sasak yang tingginya menjulang menjelang atap yang disebut sebagai Inan bale (induk rumah) seperti rumah panggung.

Memiliki enam tiang yang disebut sekenam yang terbuat dari kayu-kayu pilihan. Sebelum membuat rumah adat Sasak, yang pertama kali dibuat adalah Inan Bale ini. 

Inan Bale berdiri kokoh di tengah-tengah rumah adat ini. Untuk dapat naik ke atas inan bale, menggunakan tangga atau undak-undak melewati amben beri dan amben beleq yang posisinya bertingkat.

Inan bale berfungsi sebagai tempat menyimpan barang keluarga, benda keramat atau bersejarah yang tidak boleh dilihat orang lain (umum) selain keluarga. Juga sebagai tempat menyimpan beras atau logistik lainnya. 

BACA JUGA: PLN Sukseskan MXGP di Samota, Usai Sukses di MotoGP

Khusus beras, kata Rianom, selalu diletakkan pada bagian pojok dekat tiang paling selatan, tepatnya di tenggara atau dalam Bahasa Sasak daye timu’ dari inan bale tersebut. Tiap kali mengambil beras dari tempatnya yang disebut tenebrasan selalu dilakukan ritual kecil, semacam niat memesan atau meminta izin mengambil beras tersebut kepada Sang Maha Pemberi. 

Masyarakat Bayan hanya makan dua kali sehari, tidak seperti umumnya tiga kali sehari yakni sekitar pukul 10-12 yang disebut mengan lema’ dan menjelang malam ketika usai waktu Magrib. Waktu makan yang secara turun temurun dan teratur telah dilakoni masyarakat tradisional Bayan memberikan rasa kenyang yang awet. 

Pada bagian timur dalam ruang Inan bale, terdapat ranjak yang berfungsi sebagai tempat menyimpan logistik lainnya. Ada pula tempat untuk menyimpan barang berharga atau bakul-bakul dan peralatan memasak saat acara-acara adat digelar yang disebut lamin.

Dalam ruangan rumah adat Sasak, selain ada Inan bale, amben beri dan amben beleq yang berada dekat pintu masuk bagian barat sebelah utara, ada pula tempat memasak atau dapur disebut jengkiran yang posisinya berada di pojok timur laut (lau’ timu’). 

Masyarakat adat Sasak secara umum masih memasak menggunakan tungku dengan kayu bakar. Sehingga, seluruh ruang rumah hingga atap, termasuk inane bale menghitam karena jelaga. 

Jelaga yang menghitam inilah yang membuat kayu, bambu dan bahan bangunan lain rumah adat ini menjadi kuat. Penerangan di malam hari yang dipakai juga berupa pelita atau lampu-lampu teplok yang turut menyumbang cukup banyak jelaga. ***

Baca selanjutnya: Arsitektur Rumah Tradisi di Desa Karang Bajo, Bayan, KLU (Dua)

 

 




Pertunjukan Wayang Botol, Edukasi untuk Siaga Bencana

Di Desa Santong Mulia berlangsung pertunjukan Wayang Botol, untuk mengedukasi pentingnya kesiagaan menghadapi bencana alam

KAYANGAN,KLU.lombokjournal.com ~ Pertunjukan Wayang Botol di Desa Santong Mulia, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Kamis (31/03/22) menjadi sarana dalam pembelajaran kepada masyarakat tentang kesiagaan dalam kondisi bencana alam. 

Pertunjukan wayang botol tersebut di inisiasi oleh Yayasan Sheep Indonesia dan Pemerintah Desa Santong Mulia sebagai wujud kepedulian akan pentingnya edukasi menyeluruh terkait kesiagaan dalam kondisi bencana alam. 

BACA JUGA: Edukasi untuk Siaga Bencana Harus Terus Menerus

Meramaikan pertunjukan Wayang Botol
Tari kreasi anak-anak

Agenda tersebut menjadi salah satu langkah dari yayasan sheep indonesia dalam memberikan edukasi kepada semua kalangan masyarakat terkait kebencanaan. 

Berbagai pihak pun turut mendukung agenda tersebut, mulai dari Karang Taruna Panji Daring, Tim Siaga Bencana Desa Santong Mulia, hingga Aliansi Jurnalis Independen Mataram.

Selain pertunjukan wayang botol, agenda tersebut juga dimeriahkan oleh beberapa pertunjukan tari kreasi dari anak-anak Desa Santong Mulia. 

Sulistiyo, Koordinator Yayasan Sheep Indonesia mengungkapkan, langkah edukasi siaga bencana kepada masyarakat dengan konsep kesenian, merupakan cara yang terbilang efektif dalam mendapatkan atensi dari masyarakat. 

BACA JUGA: Kapolda NTB Kunjungi Lombok Utara, Jelaskan Amanah Kapolri

Terlebih lagi dalam pertunjukan wayang botol tersebut anak-anak usia dini di Desa Santong Mulia dapat ikut berpartisipasi menjadi pemain/dalang dalam pertunjukan Wayang Botol.

“Agenda ini bisa menjadi pembelajaran bagi anak-anak maupun masyarakat secara umum terkait kesiagaan dalam kondisi bencana, dan juga sebagai edukasi terkait kegunaan atau fungsi PEM (Pusat Evakuasi Bencana) yang kita dirikan di desa Santong Mulia tepatnya di dusun Lokok Sutrang.” ungkap Sulistiyo

Pada sambutannya, Hermanto selaku Kepala Desa Santong Mulia mengungkapkan, agenda tersebut menjadi agenda awal di Desa Santong Mulia yang sekaligus menjadi launching Kampung Ramadhan Desa Santong Mulia. 

BACA JUGA: Pembangunan Kantor Bupati Lombok Utara Dimulai

Masyarakat, khususnya yang bergerak di bidang UMKM, diberikan ruang selama bulan ramadhan untuk memasarkan produk-produk mereka. 

Pertunjukan Wayang Botol mengedukasi siaga bencana
krew Wayang Botol

Kemudian terkait pertunjukan Wayang Botol diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk bisa mengambil hikmah dari bencana alam yang terjadi di Lombok Utara beberapa tahun silam.

“Dalam agenda ini kita sama-sama mengingat kembali peristiwa bencana, dengan harapan kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran kedepannya,” kata Hermanto.***

 

 




Berkelompok Simpan Padi di Uma Lengge dan Uma Jompa

Masyarakat Bima di Desa Maria secara berkelompok menyimpan padi di kompleks Uma Lengge dan Uma Jompa, lumbung khas Mbojo, yang sudah berusia ratusan tahun

BIMA.lombokjournal.com ~ Cobalah berkunjung ke Desa Maria Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. 

Wilayah ini merupakan salah satu tempat unik di Kabupaten Bima, bagaimana masyarakat di sini masih mempertahankan sistem gotong royong ala nenek moyang mereka, 

Di sebuah areal seluas lebih-kurang 70 are ini, bertengger lumbung-lumbung tradisional Mbojo yang masih berdiri dengan kokoh.  Di antara lebih dari 100 lumbung khas tersebut, 12 di antaranya dinamakan Uma Lengge dan 90 lainnya disebut sebagai Uma Jompa. 

Uma Lengge dan Uma Jompa, sama-sama merupakan lumbung khas suku Mbojo. Uma Lengge merupakan lumbung tertua suku Mbojo, sedangkan Uma Jompa adalah lumbung khas yang beradaptasi dengan perkembangan zaman. 

Kompleks Uma Lengge tempat penyimpanan padi secara berkelompok
Komplek Uma Lengge dan Uma Jompa di Wawo

“Namun, keduanya sama-sama berusia ratusan tahun,” ujar Jonta, juru pelihara Uma Lengge, dalam wawancara beberapa waktu lalu. 

Uma Lengge dan Uma Jompa terbuat dari kayu berkualitas seperti Jati dan kayu Kelapa.

Sejak zaman dulu, masyarakat Desa Maria telah mewarisi tempat penyimpanan padi khas ini. 

Dulunya, menurut Jonta, hampir seluruh area sekitar kompleks Uma Lengge saat ini, terdapat ratusan Uma Lengge dan Uma Jompa. Keberadaan kompleks Uma Lengge menunjukkan masyarakat Mbojo, sejak dulu telah menganut sistem hidup berkelompok termasuk juga dalam melakukan penyimpanan logistik mereka. 

Masyarakat Desa Maria, yang hingga saat ini masih banyak yang mata pencahariannya sebagai petani, menyimpan padi secara bersama-sama di lumbung Uma Lengge maupun Uma Jompa yang berada dalam satu kompleks. Masyarakat tidak menyimpan padi di rumah masing-masing.

Kompleks Uma Lengge ini dahulu dijaga oleh dua orang juru pelihara yang berfungsi sebagai pengamanan sekaligus merawat lumbung-lumbung ini. 

BACA JUGA: Kayla Mutiara Lombok, Cerita Sukses PLN NTB Bina UKM

Menurut Jonta, para juru pelihara itu dahulu dibayar dengan padi atau gabah yang dikumpulkan dari semua pemilik Uma Lengge dan Uma jompa. Tidak ada ketentuan pasti tentang berapa besar para pemilik Uma Jompa dan Uma Lengge ini memberikan padi atau gabahnya bagi juru pelihara, melainkan disesuaikan dengan banyak sedikit hasil panen tahun yang bersangkutan. 

“Kalau panennya banyak ya…banyak pula yang diberikan kepada juru peliharanya,” kata Jonta.

Penyimpanan padi atau gabah secara bersama-sama di Uma Lengge dan Uma Jompa dalam satu kompleks, awalnya karena pernah terjadi kebakaran yang menyebabkan kerugian bagi masyarakat terutama padi dan gabah. 

Hal inilah, yang membuat masyarakat Desa Maria di Wawo, membuat lumbung secara bersama-sama yang dijaga secara khusus oleh dua juru pelihara desa. 

Tiap kali panen tiba, masyarakat Desa Maria selalu menyimpan padi-padi dan gabah mereka di lumbung ini. Kepemilikan lumbung Uma Lengge dan Uma Jompa, diwarisi secara turun- temurun. Sehingga tidak ada keributan untuk saling rebut lokasi penyimpanan padi. Tiap kepala keluarga di Desa Maria, yang mendapat warisan secara turun-temurun, memiliki satu Uma Lengge. Ada pula yang dimiliki beberapa keluarga, namun masih bersaudara atau berfamili. Uma Lengge dan Uma Jompa dipakai hingga ke anak cucu.

Keberadaan Uma Lengge dinilai sangat membantu masyarakat dalam mengamankan logistik berupa padi dan gabah untuk kebutuhan mereka setahun. Masyarakat Desa Maria hanya melakukan panen satu tahun sekali. Menurut Maawiah, salah seorang pemilik Uma Lengge, padi dan gabah mereka aman tersimpan di lumbung ini. Selama ini, menurut yang ia dengar dari orang tuanya, nyaris tidak pernah terjadi pencurian gabah dan padi yang mereka simpan di Uma Lengge yang kini menjadi miliknya itu. 

Keamanan padi dan gabah yang disimpan di Uma Lengge ini bukan semata-mata aman dari pencurian, melainkan juga aman dari binatang pengganggu seperti tikus.

Posisi Tinggi

Arsitektur Uma Lengge dan Uma Jompa, rupanya telah dipikirkan betul oleh leluhur masyarakat Mbojo, untuk mengamankan logistik utama mereka ini sehingga terhindar dari pencurian dan tikus pengganggu. 

Posisi Uma Lengge dan Uma Jompa yang tinggi akan menyulitkan pencuri untuk mencapai tempat penyimpanan padi tersebut. Tinggi Uma Lengge dan Uma Jompa rata-rata mencapai sekitar 12 meter. Jika dilihat sepintas, pintu masuk Uma Lengge khususnya, tertutup alang-alang, sehingga tidak tampak jelas. 

Pintu itu akan tampak terbuka, manakala sang pemilik sedang menaikkan atau menurunkan padi mereka dengan tangga yang tinggi. Tempat penyimpanan padi Uma Lengge ini, jika diperhatikan dari luar, berada di semacam loteng yang langsung berbentuk seperti  atap.

Dengan tinggi 12 meter – dari tiang penyangga utama hingga ujung atapnya, lumbung tradisional Uma Lengge ini, memiliki dua ruang utama. 

Yang pertama adalah ruang terbuka berbentuk segi empat dengan empat tiang utamanya, berlantai bambu berfungsi sebagai bale-bale atau tempat bersantai atau istirahat para pemiliknya. Tingginya dari tanah sekitar 2 meter. Pada empat tiang penyangga utama inilah, terdapat sebuah papan tebal dengan ukuran luas 30 cm x 30 cm (dalam bahasa Mbojo disebut Lampu), yang dipasang persis di antara ruang istirahat menuju ruang loteng lumbung. 

Papan ini berfungsi untuk mencegah agar tikus dan binatang pengganggu lainnya tidak dapat mencapai loteng. 

Konstruksi anti binatang pengganggu ini dibuat dengan pertimbangan dan kecerdasan nenek moyang masyarakat suku Mbojo. Dengan papan selebar itu, tentu saja tikus ataupun binatang lainnya dengan sendirinya tidak akan mungkin mencapai loteng, karena empat tiang penyangga utama inilah satu-satunya akses masuk ke loteng penyimpanan padi.  

Tempat penyimpanan padi berkelompok di Desa Maria yang aman dari pencurian dan gangguan tikus

Bagian utama dari Uma Lengge adalah bagian loteng tempat penyimpanan padi. Tempat yang berbentuk seperti atap dengan luas sesuai dengan luas ruang terbuka tempat beristirahat di bawahnya ini, tingginya 4 meter. Di dalam loteng inilah padi disimpan. 

BACA JUGA: Sekolah Lapang, Petani Harus Ahli di Lahannya Sendiri

Seluruh areal loteng yang konstruksinya langsung berfungsi sebagai atap ini ditutupi atap alang-alang. Atap alang-alang menjulang setinggi 4 meter inilah letak kekhasan Uma Lengge.

Loteng sebagai tempat penyimpanan padi pada Uma Lengge, dibuat dengan sangat kokoh hingga mampu menampung padi berton-ton. Keseluruhan konstruksi Uma Lengge dibuat tanpa menggunakan paku, melainkan pasak dan tali temali, khas rumah tradisional yang oleh para nenek moyang didapatkan dari alam sekitarnya. ***

 




Kegiatan Pesona Keris Episode 2 Siap Difasilitasi Pemprov NTB

Wagub mendukung dan menyiapkan fasilitas serta mempromosikan kegiatan pameran keris

MATARAM.lombokjournal.com ~ Kegiatan Pesona Keris di Lombok Pameran dan Bursa Tosan Aji Nasional Episode 2 dalam rangka memeriahkan event MotoGP di Mandalika, akan didukung dan difasilitasi Pemerintah Provinsi NTB

Kegiatan Pameran Pesona Keris
Keris Nusantara

Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menyampaikan itu saat menerima audiensi Panitia Kegiatan Pesona Keris di ruang kerjanya, Senin (07/03/22).

“InsyaAllah, apa yang bisa dibantu, kita usahakan. Memang kan pemerintah ini juga lebih kepada support, menyiapkan fasilitas, dan mempromosikan. Kalau ada fasilitas yang bisa digunakan, ya silahkan dimanfaatkan,” kata Wagub.

BACA JUGA: Wagub Dukung Kota Ramah Perempuan dan Layak Anak

Ummi Rohmi, sapaan akrab Wagub NTB, menyatakan bahwa pameran kebudayaan seperti keris sangat bagus untuk diselenggarakan, agar masyarakat semakin cinta budaya asli Indonesia.

“Ini kegiatan yang bagus, supaya kita cinta dengan kebudayaan kita. Intinya kita akan support semampu kita, kita beri jalan untuk bagaimana kebudayaan kita ini bisa eksis,” tambah Ummi Rohmi.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Keris Lombok, Lalu Yopi Diansastra menjelaskan bahwa kegiatan Pameran Keris dan Bursa Tosan Aji tersebut akan berlangsung selama 3 hari, yaitu dari tanggal 15 Maret hingga 17 Maret 2022.

BACA JUGA: Gubernur NTB Hadiri HUT ke 70 Desa Rembitan Loteng

“Rencananya pameran akan diadakan dari tanggal 15 sampai 17 Maret, dan nantinya akan menampilkan karya-karya dari para ahli keris se-Nusantara agar para penonton MotoGP yang sudah datang punya kegiatan sebelum akhirnya menonton MotoGP,” jelas Lalu Yopi.

Turut hadir mendampingi Wakil Gubernur dalam pertemuan tersebut, yaitu Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Yusron Hadi.***

 




Maestro Rudat, ZAKARIA, Bahagia dengan Seni Rudat 

Sosok Zakaria sang maestro Rudat sangat sederhana. Kesehariannya bekerja sebagai buruh harian lepas serabutan. Mungkin bagi sebagian orang dia hanyalah orang biasa. Tapi lihatlah, di balik kesederhanaannya, ada keyakinan yang kokoh dalam dirinya. Naniek I Taufan menuliskan kiprah Zakaria

KLU.lombokjournal.com ~ Zakaria merupakan satu dari tidak banyak orang yang mau menghabiskan waktunya untuk melestarikan kesenian tradisional Lombok, seni Tari Tradisi Rudat.

Lebih dari sebagian hidupnya ia dedikasikan untuk menjaga daya hidup Rudat di kampung halamannya di Lombok Utara. 

Kegiatan sehari-hari sang maestro, memetik cengkeh
Kegiatan sehari-hari Zakaria, metik cengkeh

Kecintaannya pada Rudat yang diwarisi turun temurun oleh keluarganya selama puluhan tahun lamanya, tidak membuatnya mundur meski hanya dibayar seadanya setiap kali pentas. 

Kegigihan dan konsistensi sosok yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal bidang seni ini dalam melestarikan Rudat, membuatnya terpilih sebagai seorang Maestro Nasional Tari Rudat.  

Lahir dan tumbuh dalam lingkungan seniman tradisional, Zakaria menitiskan darah seni dari sang kakek juga ayahandanya. Masa kecilnya ia habiskan untuk menonton seni tari tradisional Rudat dari kampung ke kampung. 

Sang ayah yang secara turun temurun melestarikan seni Rudat di kampung tempatnya tinggal Dusun Tanak Ampar Desa Pemenang Timur Kecamatan Pemenang Lombok Utara, kerap mengajaknya dalam pertunjukan-pertunjukan rudat. 

BACA JUGA: Wayang Sasak, Media Awal Penyebaran Islam

Dari sanalah, kecintaan Jaka (panggilan akrabnya), terhadap Rudat mulai tumbuh hingga akhirnya ia tidak bisa melepaskan diri dari seni tradisi Rudat hingga saat ini. 

Bermula sebagai penonton, di usia 10 tahun Jaka kecil akhirnya mulai tertarik untuk menjadi bagian dari tari Rudat ini. Berbagai peran pun ia mainkan, menjadi aktor dan juga penari rudat. Bakatnya sebagai anak rudat memang telah terlihat sejak kecil.

Meski memiliki kakek dan ayah yang secara turun temurun menggeluti Rudat, Jaka tidak pernah belajar khusus untuk menjadi aktor maupun penari rudat, melainkan pengalaman dan pengamatannya lah yang menjadi guru baginya. 

Kemampuan dan ketajaman intuisinya dalam menangkap roh rudat, membuatnya lekas beradaptasi dan lebur dalam gerak tari serta penokohan Rudat.

Puluhan tahun sudah, pria kelahiran 1974 ini menggeluti rudat hingga akhirnya ia mengabdikan diri sepenuhnya pada seni rudat. Demi melestarikan seni tradisi Rudat, Jaka lalu mendirikan sanggar seni ‘Rudat Setia Budi Terengan’ yang mengajak dan mengajarkan anak-anak muda Lombok Utara khususnya, untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan Rudat. Rudat telah ada sejak sekitar tahun 1920-an di kampung halaman mereka. 

Dedikasi dan kecintaan Jaka yang sama sekali tak memiliki latar belakang pendidikan formal seni ini pada seni tradisi rudat, akhirnya membuat Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia memilihnya sebagai salah seorang maestro nasional tari Rudat. 

BACA JUGA: Wayang Sasak, Lalu Nasib: Tontonan dan Tuntunan Masyarakat

Bahkan pada tahun 2017 lalu, sang maestro mendidik para siswa dari seluruh Indonesia pada program Belajar Bersama Maestro yang diselenggarakan oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

Sang Maestro menjelang pentas

Bertahan dalam keyakinan melestarikan bidang seni tradisi dalam masa puluhan tahun seperti ini, bukanlah hal mudah hingga ia dilabeli predikat sebagai seorang maestro. 

Terpilih sebagai maestro nasional untuk tari rudat bukanlah tujuannya selama ini, sebab ia masih memiliki besar untuk membawa Tari Rudat tetap lestari dan mampu bertahan di tengah arus modernisasi saat ini. 

Lebih dari itu ia sangat ingin rudat diakui UNESCO sebagai tari tradisional khas KLU. Bagi Jaka yang kesehariannya bekerja sebagai buruh serabutan ini, tidak ada prioritas lain dalam sisa hidupnya melainkan agar ia bisa hidup bahagia bersama rudat. ^^^

 




Maestro Tari , Amaq Raya Pernah Menari di Depan Dua Presiden

Amaq Raya, Sang Maestro dari Lenek, Lombok Timur, ingin terus menari hingga tubuhnya tak mampu bergerak lagi, mungkin ia satu-satuya seniman Lombok yang pernah menampilkan karyanya di depan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Nanik I Imtihan menuliskan dedikasi Amaq Raya sebagai seniman tari tadisi

MATARAM.lombokjournal.comAmaq Raya hanyalah lulusan sekolah dasar (Sekolah Rakyat). Namun dari keterbatasan hidup dan ilmu pengetahuan formil itu, justru mengajarkan dan menuntun mereka melahirkan karya-karya yang original, yang materinya diolah dari apa yang ada di sekitar mereka.

Maestro Tari Sasak
Amaq Raye

Tari-tari tradisi karya Amaq  Raya mampu menegaskan perbedaan mendasar dari dasar-dasar gerak tari Sasak dengan Bali.

Tari tradisi Sasak itu juga belum dipatenkan, langgam dan ragam geraknya, dan ini bisa dimulai dari Amaq Raya. Dari kacamata akademisi Amaq Raya dinilai mampu menemukan ide dan gagasan dengan cara yang sangat sederhana.

“Amaq Raya mampu menemukan ide dan gagasannya dengan cara yang sangat sederhana,” ungkap, Dr. Salman Alfarisi, seniman lulusan ISI Yogyakarta yang kini mengajar di Universitas Sultan Idris Malaysia.

Dalam salah satu eksplorasi karya Amaq Raya misalnya, geraknya mencoba melakukan dan menirukan gerak-gerak burung dimana bisa jadi tanpa ia sadari muncul kesadaran untuk melakukan stilisasi gerak burung tersebut atau mengkopi gerakan persis seperti burung.

BACA JUGA: Wayang Sasak, Media Awal Penyebaran Islam di Lombok

Inilah salah seorang maestro tari tradisi Sasak yang mengabdikan dirinya dalam dunia kesenian hingga usianya sepuh.

Siang itu, di berugak rumah sederhananya, kepala, tubuh dan tangannya bergerak, melenggok indah ketika ia bicara. Mata sepuhnya bersinar, berbinar tatkala ia mengisahkan setiap gerakan tari yang diciptakannya.

Amaq Raya, seniman tari tradisi yang menghabiskan hampir seluruh bagian hidupnya untuk berkarya. Lahir dan besar di Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Amaq Raya yang memiliki nama asli Loq Saleh ini tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan kesenian.

Bagaimana tidak, selain kampung halaman tempatnya tinggal adalah tempat lahirnya seniman-seniman tradisi, ayahnya pun adalah seorang seniman ternama di desanya. Itulah yang kemudian membuatnya menjadi seniman serba bisa.

Sepanjang hidupnya, Amaq Raya tidak pernah menjalani masa sekolah selayaknya anak-anak lain apalagi sampai menimba ilmu seni secara formal, sebab ia hanyalah lulusan sekolah rakyat. Ia juga tidak berguru kesenian secara intensif (meski ia memiliki guru bernama Amaq Tahim, seniman tradisi di desa itu).

Ia justru banyak belajar mengolah bakat seni yang diwarisi dari sang ayah dengan melakukan pengamatan dan mengikuti pertunjukan berbagai seni tradisi ke sana kemari, dari satu desa ke desa lainnya bersama sang ayah dan kelompok keseniannya.

Sejak muda, Amaq Raya dikenal sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan kesenian tradisi seperti tari tradisi Gandrung, teater tradisi Cupak Gurantang, wayang Sasak. Tidak itu saja, waktu dan pengalaman yang menempanya membuat intuisi seninya terasah tajam.

Ia lalu menciptakan berbagai tari tradisi yang rohnya ia ambil dari pengamatannya pada apa yang terjadi di sekitarnya juga kejadian-kejadian alam semesta yang sempat terpotret olehnya. Sumber karya Amaq Raya adalah alam semesta dan jagat raya.

BACA JUGA: Wagub Sitti Rohmi Mengaku Belajar Dari Siswa SLB

Bahkan dari gerak dan perilaku seekor burung yang tengah mandi pun akhirnya menginspirasinya untuk berkarya. Dari sinilah karya tari tradisi Gagak Mandiq lahir.

 “Saya belajar gerakan-gerakan tari itu dari alam yang ada di sekitar saya,” ujar Amaq Raya.

Tahun 1993 adalah salah satu momentum yang paling berharga baginya ketika ia mendapat kesempatan untuk menggelar karya tari tradisi Gagak Mandiq di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam program Maestro yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Ia menikmati hidupnya dengan terus berkarya, bahkan hingga saat usianya sepuh kini. 

Beberapa karya tari tradisi lain yang diciptakannya Tari ‘Pidata’, tari ‘Pakon’, tari ‘Kembang Jagung’. Ia juga menciptakan gending ‘Semar Geger’, gending ‘Pemban Selaparang’, dan lainnya.

Karya-karya tarinya memiliki kekuatan tersendiri yang belum tentu dimiliki oleh koreografer lain. Ia melahirkan karya yang merupakan perpaduan wiraga (gerak raga) dan wirasa (gerak jiwa). Baginya, menari bukan semata gerakan raga, melainkan sekaligus menggerakkan jiwa sehingga melahirkan karya seni bercita rasa dan bernilai tinggi.

Ketenaran namanya sebagai seniman tradisi yang sangat aktif membuat ia kerap diundang untuk mengisi acara-acara penting di Nusa Tenggara Barat bahkan acara-acara kenegaraan. Kebanggaan itu diungkapkan Amaq Raya seperti ketika tampil di depan Presiden Soekarno di Bali tahun 1957.

Tidak itu saja, pada kunjungan Presiden Soekarno di Lombok tahun 1958, ia juga tampil menarikan tari-tari tradisi. Lalu pada tahun 1990 ia tampil di Istana Merdeka di depan Presiden Soeharto.

Pada tahun 1988, ia memperkenalkan berbagai kesenian tradisi Lombok yakni Cepung, Kecimol, Peresean dan tari gandrung, berkeliling ke tiga provinsi yakni Tokyo, Kagawa dan Omea.

BACA JUGA: Wagub Sitti Rohmi Jelaskan Sabtu Budaya di Sekolah

“Bangga sekali rasanya saya bisa dua kali menari di depan Presiden Soekarno dan memperkenalkan berbagai seni tradisi Lombok di Jepang” katanya.

Maestri tampil di TIM
Menggelarkarya di tim Tahun 1993

Nama dan karya-karya Amaq Raya adalah warisan seni bagi Nusa Tenggara Barat yang akan terus hidup dengan umur yang panjang. Namun begitu, meski ia dikenal sebagai seorang seniman ternama Nusa Tenggara Barat, kehidupan kesehariannya sangat sederhana, bahkan diakuinya lebih sering kekurangan.

Ia hidup dengan sangat sederhana, di sebuah rumah yang apa adanya. Namun, sebagai seorang maestro, Amaq Raya menikmati segala proses hidupnya selayak ia menikmati prosesnya dalam berkarya selama ini. Tubuh dan usia yang terus menua, tidak akan mampu menghentikan untuk berkarya.

Sebab Sang Maestro berkata, “saya akan menari sampai tubuh saya tak bisa bergerak lagi”.***

 

 




Wagub NTB Jelaskan Program Sabtu Budaya di Sekolah

Pembentukan karakter siswa di sekolah diaplikasikan melalui program Sabtu Budaya, Siswa diajak menghormati dan bangga dengan budaya lokal 

BIMA.lombokjournal.com ~ Program Sabtu Budaya di lingkungan satuan pendidikan, merupakan wadah pembentukan karakter siswa, melalui berbagai kegiatan positif dan menyenangkan sekaligus bermanfaat di sekolah.

Wakil Gubernur NTB Hj. Sitti Rohmi Djalilah menjelaskan itu, saat  meninjau vaksinasi di SMAN 4 Kota Bima, Jum’at (25/02/22).

Wagub NTB meninjau pamern di sekolah

“Sehingga membentuk karakter mulia anak-anak yang akan menjadi generasi masa depan,” kata Ummi Rohmi sapaan Wagub.

Dijelaskannya, kegiatan Sabtu Budaya mengajak siswa belajar memiliki rasa kasih sayang, cinta kasih, rasa peduli, toleransi, hormat menghormati dan bangga dengan budaya lokal dan tradisional. 

“Berbagai aktivitas dan kegiatan yang dikemas pada acara Sabtu Budaya, seperti  gotong royong, olahraga tradisional, permainan rakyat, seni budaya, harus terus berjalan dan berkesinambungan untuk dapat mengubah pola pikir atau perilaku siswa,” jelas Wagub didampingi Kadis Dikbud Provinsi NTB, Aidy Furqon.

BACA JUGA: Wagub NTB Mengaku Belajar dari Siswa SLB

Wagub mencontohkan, misalnya cara pandang siswa tentang arti pentingnya menjaga lingkungan, tidak membuah sampah sembarangan hingga memanfaatkan sampah dan mengolahnya, menjadi sesuatu yang bermanfaat.

“Tadi Saya lihat hasil karya kreatifitas siswa memanfaatkan limbah sampah dari botol plastik dan gelas plastik sangat luar biasa ” pujinya. 

BACA JUGA: Wagub Puji Bank Sampah di Kabupaten Bima

Waub berama aparat setempat usai meninjau vaksinasi

Selain itu, cucu pahlawan asal NTB ini juga berpesan agar siswa dan guru segera divaksin untuk menjaga dari penyebaran Covid-19.

“Karena Covid-19 hanya bisa dihadapi  dengan vaksin dan memakai masker,” tutup Ummi Rohmi.

Turut hadir pada kegiatan tersebut Waka Polres Kota Bima, Dandim, Asisten 1, Kadis DLHK, Kadis PMPD Dukcapil, Kadikes, Karo Kesra, dan Asisten 1 Kota Bima.***