Berakhirnya Festival Pembantaian

FESTIVAL GALDHIMAI; mengorbankan 200.000 hewan dalam rentang dua hari yang dipenggal dengan pedang oleh anggota yang ditunjuk masyarakat.

lombokjournal.com

Tiap lima tahun, “Festival Gadhimai” berlangsung di desa Bariyapur, sebuah komunitas yang terletak di Nepal selatan dekat perbatasan India. Diadakan di Kuil Gadhimai dari Bariyapur, acara ini pada dasarnya adalah festival ‘pembantaian hewan secara terbuka’ – kerbau, ayam, kambing dan babi – dan merupakan persembahan ‘hewan kurban’ terbesar di dunia.

Humane Society International and Animal Welfare Network Nepal at the 2014 Gadhimai Festival

nepalkorban24mei3

Menurut cerita ini, ia mulai ritual setelah dibebaskan. Ia mengumpulkan tetes darah sendiri dari lima tempat yang berbeda di tubuhnya. Setelah itu, ia melihat cahaya yang muncul di gerabah, dan sejak itu pengorbanan berdarah mulai.

Tahun 2009,  festival itu dilaporkan mengorbankan 200.000 hewan dalam rentang dua hari. Ratusan ribu hewan  dipenggal dengan pedang oleh anggota yang ditunjuk masyarakat. Pemenggal kepala hewan itu berharap memenggal dalam satu kali ayunan pedang. Tapi lebih sering, orang-orang itu harus mengayunkan pedangnya beberapa pukulan untuk menyelesaikan pekerjaannya,

Meskipun mendapat tekanan internasional, ternyata kemarahan publik tidak merubah tradisi itu. Namun, pada tahun 2014 The Animal Welfare Jaringan dari Nepal (AWNN) bersama relawan penciinta lingkungan local berusaha meyakinkan, kalau kebutuhannya hanya memperoleh darah hewan kurban, itu bisa dilakukan dengan membuat luka kecil di telinga hewan bukannya membantainya.

nepankorban26mei3

Setidaknya usaha terus menerus ini berhasil mengurangi hewan yang dikurbnankan. Dari 200.000 tahun 2009 menjadi 5.000 pada tahun 2014. Pemerintah Nepal juga tidak memberikan dana resmi untuk festival. Berbeda dengan tahun 2009, saat itu penyelenggara festival diberi dukungan 4,5 juta rupee dari Pemerintah Nepal.

Menjelang pelaksanaan festival, Pemerintah India mencegah ribuan hewan yang berusaha melintasi perbatasan dan memasuki wilayah festival. Tekanan internasional terhadap festival yang diberangi pembantaian itu makin kuat.

Anil Bhanot, melakukan gerakan melalui wacana publik. Filmmaker Gabriel Berlian memproduksi film dokumenter menampilkan Manoj Gautam, aktivis lingkungan dan hak-hak hewan muda, yang mencoba mengakhiri Festival Gadhimai dengan menggandeng gerakan relawan Nepal, pemimpin spiritual, LSM, dan pejabat pemerintah.

Ada upaya untuk menciptakan lebih banyak tekanan pada pemerintah untuk memastikan pembantaian kurban tidak pernah terjadi lagi.

Tanpa Hewan Kurban

Akhirnya, pembantaian hewan kurban dalam Festival Nepal dilarang.  Mungkin ini kemenangan penccinta hewan di seluruh dunia. Penganut Kuil Nepal (Nepal Temple) pada akhir 2014 mengumumkan,  pada Festival Gadhimai tahun 2019 menghentikan persembahan semua hewan kurban.  Semua umat dilarang membawa binatang ke festival lima tahunan agama Hindu yang telah berlangsung selama 300 tahun terakhir.

“The Gadhimai Temple menyatakan keputusan resmi kami, untuk mengakhiri hewan kurban. Dengan bantuan Anda, kita dapat memastikan Festival Gadhimai 2019 bebas dari pertumpahan darah. Selain itu, kita dapat memastikan Festival Gadhimai 2019 adalah perayaan penting dari kehidupan”, kata pemuka Kuil Gadhimai,  Ram Chandra Shah.

Keputusan itu diumumkan oleh penganut Kuil Nepal Gadhimai, setelah negosiasi ketat dan kampanye oleh Animal Welfare Jaringan Nepal (AWNN) dan Humane Society International / India. Ini kemenangan yang akan menyelamatkan nyawa hewan yang tak terhitung jumlahnya.

Dengan intervensi Mahkamah Agung India yang melarang gerakan hewan dari India ke Nepal, AWNN dan HSI / India melihat penurunan hingga 70 persen dalam jumlah hewan kurban dari pesanan 2009. Keputusan Mahkamah Agung mengakibatkan penangkapan 100 pelanggaran, dan lebih dari 2.500 hewan disita.

Awal tahun ini, menyusul kecaman terhadap pembantaian di Festival Gadhimai, panitia Kuil Gadhimai memutuskan untuk tidak lagi melakukan persembahan hewan kurban apa pun selama panen festival (Sankranti)”.

Roman Emsyair