“sejak pertama kali disarankan cuci darah, saya langsung mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan. Selama 4 tahun ini pun saya tidak pernah mengeluarkan biaya lebih dari 51 ribu tiap bulannya”
lombokjournal.om —
SELONG ; Hemodialisa umumnya diperuntukkan bagi pasien gagal ginjal dan beberapa orang dengan peradangan ginjal kronik atau disebut dengan pielonefritis.
Seperti yang dialami oleh Amir (37), pria asal Desa Paok Motong, Kecamatan Masbagik ini sudah 4 tahun lamanya melakukan cuci darah ke RSUD dr. R. Soedjono Selong akibat pielonefritis.
Awalnya, Amir berpikir itu sakit pinggang biasa, jadi dibiarkan saja. Istirahat sebentar juga sembuh. Tapi, semakin lama jadi semakin sakit. Ketika buang air kecil rasanya sakit sekali. Badan semakin lemah, cepat lelah padahal tidak melakukan pekerjaan berat.
“Sampai suatu ketika, saya tiba – tiba pingsan karena tidak kuat menahan nyeri dan pusing yang luar biasa. Ketika sadar, saya sudah ada di rumah sakit. Saat itu juga, saya akhirnya tahu bahwa ginjal saya sudah infeksi parah,” ungkapnya.
Pielonefritis adalah peradangan pada ginjal yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Infeksi ini dapat terjadi berulang kali hingga akhirnya dapat merusak ginjal secara permanen dan menyebabkan gagal ginjal.
Transplantasi atau donor ginjal dapat menjadi pilihan penderitanya untuk sembuh. Namun keberhasilannya sangat kecil sekali, dan itu tergantung dari kondisi dan tingkat keparahan pasiennya.
Amir adalah salah satunya. Karena kondisi ginjalnya memang sudah rusak, jika melakukan operasi, maka akan membahayakan jiwanya. Akhirnya cuci darah menjadi jalan satu – satunya bagi Amir untuk bertahan hidup.
“Cuci darah itu kan ada yang akut dan kronik. Akut itu membantu fungsi ginjal untuk kembali normal. Kalo udah normal ya berhenti cuci darahnya. Nah kalau saya ini yang kronik. Ginjal nya sudah tidak ada fungsinya, jadi harus mengandalkan alat cuci darah seumur hidup,” ungkap pria 3 orang anak ini ketika ditemui tim Jamkesnews, Sabtu (13/04) siang.
Akhirnya Amir hanya bisa pasrah saja. Sudah ratusan kali dipasang selang bermacam – macam di tangan juga sudah tidak terasa sakit.
“Alhamdulillah, saya ikhlas. Masalah biaya? saya tidak khawatir, sejak pertama kali disarankan cuci darah, saya langsung mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan. Selama 4 tahun ini pun saya tidak pernah mengeluarkan biaya perawatan lebih dari 51 ribu setiap bulannya,” tutur salah satu Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) ini.
Amir juga mengungkapkan pelayanan kesehatan yang diterimanya sangatlah baik. Perawat – perawat di ruang Hemodialisa RSUD Selong tersebut pun sangat ramah dan dia merasa betah walaupun harus berbaring berjam – jam.
“Kami di sini semuanya pengguna BPJS Kesehatan. Jadi tidak ada yang dibeda – bedakan. Jika ada pasien umum pun, akan tetap dilayani dengan adil tanpa pilih kasih. Kami semua ada sekitar 11 orang, rasanya sudah seperti keluarga yang sama – sama sedang berjuang bertahan hidup. Saling menguatkan dan saling mensupport,” kata Amir.
ay/hf/Jamkesnews
Narasumber : Amir









