Sebagian besar jenis epilepsi pada anak membutuhkan pengobatan sampai bertahun–tahun. Sementara itu, penderitanya harus terus menerus minum Obat Anti Epilepsi (OAE) yang telah diresepkan oleh dokter
lombokjournal.com —
SELONG ; Ayan atau epilepsi merupakan penyakit saraf kronis yang cukup banyak diderita anak – anak. Penderita epilepsi membutuhkan waktu lama untuk sembuh dari penyakit ini, dan dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.
Ini dialami oleh Baiq Indramayanti (22), warga Desa Padamara Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur.
Di antara hiruk pikuknya pasien yang mengantri di Poli Saraf RSUD dr. R Soedjono, ia tampak menarik perhatian orang–orang sekitar karena terduduk di atas kursi roda yang diikat kain berwarna merah di bagian depannya.
“Kain merah ini sebagai pengaman. Sengaja saya ikatkan di sini, takut nantinya ia jatuh tersungkur ketika kejang-kejangnya kambuh,” ungkap Lalu Supardi (45), yang ditemui oleh tim Jamkesnews, yang tengah mendampingi anaknya untuk kontrol berobat, Sabtu (20/04) pagi.
Ternyata, Baiq Indramayanti gadis belia yang akrab disapa Maya itu adalah penderita epilepsi.
Orang tua tunggal Maya, Lalu Supardi menceritakan, penyakit ini sudah dialami anaknya sejak ia masih berusia 3 tahun. Hal itu pun berdampak pada pertumbuhan anaknya secara fisik maupun mental.
Walaupun umurnya sekarang sudah beranjak dewasa, namun tingkah laku Maya tampak seperti anak kecil. Tidak bisa berbicara dan hanya dapat duduk di atas kursi roda. Supardi pun bersedia menceritakan kisah anak semata wayangnya tersebut.
Menurut penuturan Supardi, awalnya penyakit anaknya itu hanyalah kejang demam biasa. Karena beberapa hari setelah minum obat di Puskesmas ia dinyatakan sembuh oleh dokter.
“Namun hal itu berlanjut ketika ia sudah sekolah dan duduk di kelas 1 SD, ia jadi sering kejang – kejang dan pingsan tanpa sebab. Kemudian dirujuk ke rumah sakit, dan akhirnya dari situlah saya tahu kalau Maya sakit epilepsi,” cerita Supardi.
Sebagian besar jenis epilepsi pada anak membutuhkan pengobatan sampai bertahun–tahun. Sementara itu, penderitanya harus terus menerus minum Obat Anti Epilepsi (OAE) yang telah diresepkan oleh dokter.
Tidak hanya satu jenis obat, namun bisa bermacam–macam tergantung keparahan penyakitnya. Karena hal itulah, Supardi akhirnya memutuskan untuk langsung mendaftarkan keluarganya menjadi peserta JKN – KIS tahun 2015 lalu.
“Saya tidak menyangka, hanya dengan uang 25.500 rupiah per bulannya, Maya bisa mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal sampai saat ini. Alhamdulillah sejak rutin minum obat, gejalanya sudah jarang kambuh. Saya sangat bersyukur sekali karena sekarang kehidupannya sudah jauh lebih baik. Walaupun saya hanya kerja jadi buruh serabutan, saya sanggup untuk bayar iuran rutin perbulannya, agar anak saya tetap terus mendapatkan perawatan yang bagus,” tutur Supardi.
Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBU) ini pun mengungkapkan rasa syukurnya karena selama menerima perawatan, anaknya dilayani dengan baik oleh petugas–petugas kesehatan di puskesmas maupun di rumah sakit.
Supardi pun berharap dengan adanya JKN – KIS ini, masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya perlindungan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap warga baik yang sehat maupun yang sakit.
ay/hf/Jamkesnews
Narasumber : Baiq Indramayanti dan Lalu Supardi









