ke depan pemerintah diharapkan dapat menjadikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum pendidikan berjenjang
MATARAM.lombokjournal.com —
Kepala Dinas KesehataN Provinsi NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi mengatakan, kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reeproduksi masih sangat rendah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Hal ini disebabkan angka pendidikan rata-rata di NTB masih pada level 7 koma dalam satu tahun
inilah yang menjadi penyebab minimnya kesadaran tentang kesehatan reproduksi khususnya bagi kalangan wanita di provinsi nusa tenggara barat
“Ya ,hal ini juga merupakan efek berantai jika perempuan tersebut akan menjadi orang tua atau ibu di masa depan dimana peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anaknya, tidak berjalan semestinya. Pendidikan kesehatan reproduksi seharusnya diberikan sejak dini agar dapat membuka wawasan dan pengetahuannya,” ujar Eka, Senin (12/10/20)
Eka menjelaskan, kabupaten yang dinilai rawan terjadi pernikahan dini ada 3 yaitu Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara dan Lombok Tengah.
Bahkan Pemerintah Provinsi dan kabupaten sendiri telah membuat perda tentang kesehatan reproduksi namun tidak berjalan penerapannya di lapangan.
ia berharap, ke depan pemerintah dapat menjadikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum pendidikan berjenjang
Dampak pernikahan usia dini secara medis adalah timbulnya penyakit bagi ibu dan calon anaknya.
Penyebabnya, pada dasarnya organ tubuh manusia berkembang hingga usia 20 tahun. Jika perempuan menikah diusia di bawah 20 tahun, maka organ reproduksi akan beresiko terkena kanker rahim dan anak cacat stunting.
“Jika ini dibiarkan akan berlanjut, menyebabkan Provinsi Nusa Tenggara Barat belum dapat berkurang angka stuntingnya,” kata Eka.
AYA
