Indeks
Opini  

Hantu Muslim Gentayangan di Amerika

Kehilangan seorang anak dalam perang tidak berarti Anda menjadi penghasut perang. Mr Khan sebenarnya teguh mengkritik perang Irak, tulis Dabashi [Reuters]
Simpan Sebagai PDFPrint
Oleh Hamid Dabashi

 

Roh Muslim menghantui Amerika, yaitu roh Kapten Humayun Khan seorang tentara Amerika Serikat beragama Islam yang gugur di Irak. Itu memperangkap Trump, saat orang Tua Kapten Khan berpidato di Konvensi Partai Demokrat.

Itu perangkap sempurna, dan seperti kuda nil bodoh Donald Trump terperosok ke dalamnya. Dan ia terus menggali, yang makin menjerumuskannya lebih jauh ke dalam lubang.

Hillary Clinton mengisyarakan tanda bahaya  — saat menyampaikan pidato sambutan di Philadelphia – dengan mengatakan, “Seorang pria (maksudnya Trump,red) yang bisa terpancing (hanya) dengan tweet, bukan orang yang bisa dipercaya mengendalikan senjata nuklir.”

Menggigit Umpan
Umpan yang dilempar itu bukanlah cuitan di medsos, tapi Khizr Khan orang tua (dari Kapten Humayun Khan) yang berduka karena anaknya, seorang tentara Muslim, tewas tahun 2004 saat bertugas di Irak. Anaknya bertempur dalam keputusan perang oleh George W Bush — perang  yang sah tapi tidak bermoral — yang mengakibatkan kehancuran total suatu negara bangsa. Sekaligus membantu bangkitnya ‘geng pembunuh’ Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS).

Ceritanya bermula ketika Tuan dan Nyonya Khan, orang tua tentara Muslim Kapten Humayun Khan, muncul di panggung untuk berbagi kesedihannya dengan bangsa Amerika, sekaligus mengecam Donald Trump yang anti-Muslim.

Tuan Khan, yang pidatonya ditujukan untuk Trump, saat itu menyatakan: “Anda telah berkorban banyak, tapi itu tidak ada artinya.” Kemudian dengan emosional ditegaskan: “Donald Trump, Anda minta dipercayai untuk membangun masa depan Amerika? Mari saya tanya…. Apakah Anda pernah membaca konstitusi AS? Kalau belum, dengan senang hati saya pinjamkan fotokopinya.” Kemudian Khan mengeluarkan salinan konstitusi AS dari saku jasnya.

Itu pertunjukan drama yang sempurna, tayangan televisi yang sempurna, dan politik yang sempurna. Dan dengan segera, adegan itu menyebar di internet.

Trump terpancing, menyepelekan seorang tentara Muslim yang tewas untuk AS. Seperti biasa, Trump merespon dengan cara dangkal,  ceroboh, dan dengan lagak premanisme. Lebih bodoh lagi, ia justru menyasar Ghazala Khan atau Nyonya Khan yang tidak bicara sepatah pun saat mendampingi Tuan Khan pidato di panggung.

Tapi Trump menduga semaunya, ia diam karena memang dilarang bicara. Ia  diam menunjukkan seorang wanita Muslim yang lemah dan tertekan. Padahal Ghazala diam karena sedang berduka. Menurut pengakuannya, ia selalu tak bisa berkata apa pun bila sedang mmebicarakan kematian putranya. Itulah kesalahan Trump yang terperangkap kampanye buatan  Clinton.

Pers liberal Amerika seolah memihak Clinton, terus menekan dengan menghadirkan kalangan Muslim di berbagai program talk show, untuk mengecam Trump bahkan dengan bahasa yang lebih fasih.

Trump malah menanggapinya dengan cara yang lebih bodoh, justru memperlihatkan arogansinya, dan kelewat batas menghina keluarga seorang tentara AS yang gugur di medan perang

Runtuh patriotisme dalam militerisme                                                                          Klimaks dari drama ini, seorang pensiunan mayor jenderal tentara AS yang menjadi komandan brigade tempur Kapten Khan, Dana J H Pittard, menulis sebuah esai memori untuk menghormati dan membela keluarga Khan. Tidak diragukan, di masa depan sejarah akan mencatat, insiden Khan menjadi faktor penting jika Trump kalah dalam pemilihan ini.

Memperangkap Trump dengan orang tua prajurit AS yang mati dan membiarkan dia menggantung dirinya dengan tali sepatunya sendiri, merupakan hasil paling langsung dari insiden Khan.

Kampanye Clinton tujuannya setara atau bahkan lebih penting,menyaksikan tontonan ambruknya patriotisme dalam militerisme, sehingga membersihan peran Clinton yang dengan angkuh melancarkan perang Irak. Siapa pun yang mengkritiknya akan jadi mirip Trump yang akan berhadapan dengan orang tua yang berduka.

ilustrasi : Mantra Ardhana

 

 

 

 

Kedua tujuan bertemu dengan presisi sempurna: dukungan Clinton untuk perang Irak yang sah tapi tidak bermoral sekarang dibungkus dalam bendera Amerika. Ditempatkan di bawah upacara salinan konstitusi AS, dilakukan secara terhormat oleh orang tua berkabung dari seorang “pahlawan Amerika” yang dimakamkan di pemakaman Arlington.

Mengekspos alur                                                                                                        Seperti semua plot sempurna lainnya, bagaimanapun, selalu ada petunjuk di tempat kejadian.
Sehari sebelum Khan muncul di panggung di Philadelphia, Bill Clinton secara khusus minta uji loyalitas semua Muslim Amerika.

“Jika Anda seorang Muslim, yang mencintai Amerika dan kebebasan, yang benci teror,” katanya, “tinggal di sini dan membantu kami menang dan membuat masa depan bersama-sama. Kami inginkan dukungan Anda.”

Sentimen Bill Clinton yang dinyatakan dalam kalimat itu, diramalkan akan munculnya  Khan ‘di panggung Konvensi Nasional Partai Demokrat, dan ‘prasangka rasis’ telah disiapkan atas kematian anaknya.

Ketika Kapten Khan yang pemberani, menurut laporan saksi, berjalan ke kematiannya menuju pembom bunuh diri yang mendekatinya, pada dasarnya ia berusaha meyakinkan Bill Clinton maupun Donald Trumps tentang tanah air angkatnya bahwa ia “mencintai Amerika dan kebebasan, benci teror” dan pantas untuk berada di sini.

Militerisme Tersembunyi Clinton                                                                               Selalu ada konsekuensi yang tidak diinginkan untuk rencana jahat. Kampanye Clinton berhasil mengekspos rasisme Trump bahkan menjeratnya, dan membuatnya kehilangan pemilu kali inii. Pada kenyataannya pembangunan militer AS dalam proses tersembunyi dalam momen semangat patriotik

Namun dalam prosesnya, komunitas Muslim di AS juga menemukan martabat, mengartikulasikan, dan beberapa hati untuk menata kembali pemilihan presiden ini, dan mewakili masyarakatnya yang banyak difitnah, karena mereka berani bersuara melawan transmutasi patriotisme ke dalam militarisme pihak yang berperang

Kehilangan seorang anak dalam perang tidak berarti bahwa Anda menjadi penghasut perang. Sebaliknya: Mr Khan sebenarnya kritis atas perang Irak. Sentimen anti-perang tersebar luas di kalangan veteran AS dan keluarga mereka.

Salinan konstitusi AS yang diacungkan Mr Khan untuk mengecam hasutan Trump akan kembali menghantui Clinton. Di saat berikutnya, acungan salinan konstitusi itu juga akan jadi teguran sebuah perang yang ilegal terhadap bangsa lain yang berdaulat.

Ed. Roman Emsyair

Sumber: Al Jazeera

 

 

Exit mobile version