Pertunjukan Wayang Botol, Edukasi untuk Siaga Bencana

Di Desa Santong Mulia berlangsung pertunjukan Wayang Botol, untuk mengedukasi pentingnya kesiagaan menghadapi bencana alam

KAYANGAN,KLU.lombokjournal.com ~ Pertunjukan Wayang Botol di Desa Santong Mulia, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Kamis (31/03/22) menjadi sarana dalam pembelajaran kepada masyarakat tentang kesiagaan dalam kondisi bencana alam. 

Pertunjukan wayang botol tersebut di inisiasi oleh Yayasan Sheep Indonesia dan Pemerintah Desa Santong Mulia sebagai wujud kepedulian akan pentingnya edukasi menyeluruh terkait kesiagaan dalam kondisi bencana alam. 

BACA JUGA: Edukasi untuk Siaga Bencana Harus Terus Menerus

Meramaikan pertunjukan Wayang Botol
Tari kreasi anak-anak

Agenda tersebut menjadi salah satu langkah dari yayasan sheep indonesia dalam memberikan edukasi kepada semua kalangan masyarakat terkait kebencanaan. 

Berbagai pihak pun turut mendukung agenda tersebut, mulai dari Karang Taruna Panji Daring, Tim Siaga Bencana Desa Santong Mulia, hingga Aliansi Jurnalis Independen Mataram.

Selain pertunjukan wayang botol, agenda tersebut juga dimeriahkan oleh beberapa pertunjukan tari kreasi dari anak-anak Desa Santong Mulia. 

Sulistiyo, Koordinator Yayasan Sheep Indonesia mengungkapkan, langkah edukasi siaga bencana kepada masyarakat dengan konsep kesenian, merupakan cara yang terbilang efektif dalam mendapatkan atensi dari masyarakat. 

BACA JUGA: Kapolda NTB Kunjungi Lombok Utara, Jelaskan Amanah Kapolri

Terlebih lagi dalam pertunjukan wayang botol tersebut anak-anak usia dini di Desa Santong Mulia dapat ikut berpartisipasi menjadi pemain/dalang dalam pertunjukan Wayang Botol.

“Agenda ini bisa menjadi pembelajaran bagi anak-anak maupun masyarakat secara umum terkait kesiagaan dalam kondisi bencana, dan juga sebagai edukasi terkait kegunaan atau fungsi PEM (Pusat Evakuasi Bencana) yang kita dirikan di desa Santong Mulia tepatnya di dusun Lokok Sutrang.” ungkap Sulistiyo

Pada sambutannya, Hermanto selaku Kepala Desa Santong Mulia mengungkapkan, agenda tersebut menjadi agenda awal di Desa Santong Mulia yang sekaligus menjadi launching Kampung Ramadhan Desa Santong Mulia. 

BACA JUGA: Pembangunan Kantor Bupati Lombok Utara Dimulai

Masyarakat, khususnya yang bergerak di bidang UMKM, diberikan ruang selama bulan ramadhan untuk memasarkan produk-produk mereka. 

Pertunjukan Wayang Botol mengedukasi siaga bencana
krew Wayang Botol

Kemudian terkait pertunjukan Wayang Botol diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk bisa mengambil hikmah dari bencana alam yang terjadi di Lombok Utara beberapa tahun silam.

“Dalam agenda ini kita sama-sama mengingat kembali peristiwa bencana, dengan harapan kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran kedepannya,” kata Hermanto.***

 

 




Patung “Speed” Jokowi Akan Jadi  Spot Foto Favorit

Gubernur Zulkieflimansyah mengatakan, pemasangan Patung “Speed” Jokowi nantinya akan banyak dikunjungi masyarakat untuk berfoto

LOTENG,lombokjournal.com ~ Patung “Speed” Jokowi telah terpasang di area depan Pertamina Mandalika Internasional Street Circuit, Lombok Tengah. 

Patung “Speed” Presiden  Jokowi menjadi ornamen yang akan banyak dikunjungi masyarakat untuk berfoto. 

Gubernur menyaksikan pemasangan Patung Presiden Jokowi

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah mengatakan itu saat menghadiri pemasangan Patung “Speed” Jokowi, Minggu (13/03/22).

“Ketika Pak Jokowi pakai motor saja banyak yang foto-foto, saya kira ini akan lebih rame lagi dan kalau menurut saya ini akan menjadi spot yang sangat favorit sebagai tempat foto masyarakat nantinya,” tutur Bang Zul.

Ia menyaksikan pemasangan patung itu didampingi Kepala Dinas PUPR, Ir. H. Ridwan Syah Patung “Speed” Jokowi tersebut merupakan karya seniman patung ternama, Nyoman Nuarta.

 Bang Zul juga mengungkapkan, ornamen Patung “Speed” Pak Jokowi menggambarkan suatu inspirasi. 

BACA JUGA: Bus Gratis untuk Penonton MotoGP, Ini Rute dan Jadwalnya

“Ornamen ini menggambarkan suatu inspirasi, pak Jokowi yang kerjanya cepat dapat kita jadikan inspirasi,” tuturnya.

Selain itu, Bang Zul juga menyampaikan antusias masyarakat lokal dalam menyambut perhelatan MotoGP, tiket hari ke – 3 sold out.

“Tiket hari yang ke – 3 sudah sold out, karena antusiasme masyarakat lokal yang cukup tinggi, kami Pemerintah Provinsi NTB berterimakasih diberikan kesempatan masyakarat untuk menonton disisi kiri dan di sisi lain,” ungkap Bang Zul. ***

BACA JUGA: Menteri BUMN Didampingi Gubernur NTB Tinjau Sirkuit Mandalika




Maestro Rudat, ZAKARIA, Bahagia dengan Seni Rudat 

Sosok Zakaria sang maestro Rudat sangat sederhana. Kesehariannya bekerja sebagai buruh harian lepas serabutan. Mungkin bagi sebagian orang dia hanyalah orang biasa. Tapi lihatlah, di balik kesederhanaannya, ada keyakinan yang kokoh dalam dirinya. Naniek I Taufan menuliskan kiprah Zakaria

KLU.lombokjournal.com ~ Zakaria merupakan satu dari tidak banyak orang yang mau menghabiskan waktunya untuk melestarikan kesenian tradisional Lombok, seni Tari Tradisi Rudat.

Lebih dari sebagian hidupnya ia dedikasikan untuk menjaga daya hidup Rudat di kampung halamannya di Lombok Utara. 

Kegiatan sehari-hari sang maestro, memetik cengkeh
Kegiatan sehari-hari Zakaria, metik cengkeh

Kecintaannya pada Rudat yang diwarisi turun temurun oleh keluarganya selama puluhan tahun lamanya, tidak membuatnya mundur meski hanya dibayar seadanya setiap kali pentas. 

Kegigihan dan konsistensi sosok yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal bidang seni ini dalam melestarikan Rudat, membuatnya terpilih sebagai seorang Maestro Nasional Tari Rudat.  

Lahir dan tumbuh dalam lingkungan seniman tradisional, Zakaria menitiskan darah seni dari sang kakek juga ayahandanya. Masa kecilnya ia habiskan untuk menonton seni tari tradisional Rudat dari kampung ke kampung. 

Sang ayah yang secara turun temurun melestarikan seni Rudat di kampung tempatnya tinggal Dusun Tanak Ampar Desa Pemenang Timur Kecamatan Pemenang Lombok Utara, kerap mengajaknya dalam pertunjukan-pertunjukan rudat. 

BACA JUGA: Wayang Sasak, Media Awal Penyebaran Islam

Dari sanalah, kecintaan Jaka (panggilan akrabnya), terhadap Rudat mulai tumbuh hingga akhirnya ia tidak bisa melepaskan diri dari seni tradisi Rudat hingga saat ini. 

Bermula sebagai penonton, di usia 10 tahun Jaka kecil akhirnya mulai tertarik untuk menjadi bagian dari tari Rudat ini. Berbagai peran pun ia mainkan, menjadi aktor dan juga penari rudat. Bakatnya sebagai anak rudat memang telah terlihat sejak kecil.

Meski memiliki kakek dan ayah yang secara turun temurun menggeluti Rudat, Jaka tidak pernah belajar khusus untuk menjadi aktor maupun penari rudat, melainkan pengalaman dan pengamatannya lah yang menjadi guru baginya. 

Kemampuan dan ketajaman intuisinya dalam menangkap roh rudat, membuatnya lekas beradaptasi dan lebur dalam gerak tari serta penokohan Rudat.

Puluhan tahun sudah, pria kelahiran 1974 ini menggeluti rudat hingga akhirnya ia mengabdikan diri sepenuhnya pada seni rudat. Demi melestarikan seni tradisi Rudat, Jaka lalu mendirikan sanggar seni ‘Rudat Setia Budi Terengan’ yang mengajak dan mengajarkan anak-anak muda Lombok Utara khususnya, untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan Rudat. Rudat telah ada sejak sekitar tahun 1920-an di kampung halaman mereka. 

Dedikasi dan kecintaan Jaka yang sama sekali tak memiliki latar belakang pendidikan formal seni ini pada seni tradisi rudat, akhirnya membuat Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia memilihnya sebagai salah seorang maestro nasional tari Rudat. 

BACA JUGA: Wayang Sasak, Lalu Nasib: Tontonan dan Tuntunan Masyarakat

Bahkan pada tahun 2017 lalu, sang maestro mendidik para siswa dari seluruh Indonesia pada program Belajar Bersama Maestro yang diselenggarakan oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 

Sang Maestro menjelang pentas

Bertahan dalam keyakinan melestarikan bidang seni tradisi dalam masa puluhan tahun seperti ini, bukanlah hal mudah hingga ia dilabeli predikat sebagai seorang maestro. 

Terpilih sebagai maestro nasional untuk tari rudat bukanlah tujuannya selama ini, sebab ia masih memiliki besar untuk membawa Tari Rudat tetap lestari dan mampu bertahan di tengah arus modernisasi saat ini. 

Lebih dari itu ia sangat ingin rudat diakui UNESCO sebagai tari tradisional khas KLU. Bagi Jaka yang kesehariannya bekerja sebagai buruh serabutan ini, tidak ada prioritas lain dalam sisa hidupnya melainkan agar ia bisa hidup bahagia bersama rudat. ^^^

 




Dekranas 42 Tahun, Diharapkan Sukses Memayungi Perajin

Ketua Dekranasda NTB berharap, di usia ke 42 tahun Dekranas makin sukses memayungi dan mengembangkan produk-produk seni dan kerajinan Indonesia

MATARAM.lombokjournal.com ~ Dalam peringatan ulang tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ke-42, Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengucapkan selamat dan sukses untuk para pengrajin Dekranasda se-Indonesia. 

BACA JUGA: Bupati Djohan: Talas Beneng Punya Prospek Ekonomi Luar Biasa

Dekranas diharapkan perkuat perajin
Hail Kerajinan Lombok

Hal tersebut disampaikan Bunda Niken melalui video singkat ucapan ulang tahun Dekranas yang ditampilkan saat Syukuran HUT Dekranas ke-42 secara virtual, Jumat (04/03/22).

“Segenap keluarga besar Selamat ulang tahun Dekranas yang ke-42. Semoga semakin sukses dalam memayungi dan mengembangkan produk-produk seni dan kerajinan Indonesia. Perajin kuat, Dekranas Hebat,” ucapnya.

Harapan yang sama juga disampaikan Ketua Umum Dekranas, Hj. Wury Ma’ruf Amin. Ia berharap di usia 42 tahun, Dekranas semakin produktif dan berperan besar untuk Indonesia.

“Harapan kita semua menginjak usia ke-42 ini, Dekranas semakin produktif, semakin besar peran dan pengabdiannya untuk perajin, masyarakat, bangsa dan negara tercinta, Indonesia,” katanya.

Selain itu, hadir juga Hj. Iriana Joko Widodo selaku Pembina Dewan Kerajinan Nasional. Ia berharap Dekranas semakin matang dalam menjalankan tugas guna membina para perajin Indonesia.

“Semoga dengan bertambahnya usia, Dekranas semakin matang dalam menjalankan tugas untuk membina para perajin Indonesia menjadi bagian tak terpisahkan dari kemajuan sektor kerajinan di Indonesia,” harap istri Presiden Jokowi tersebut.

BACA JUGA: Reses HBK Salurkan Bantuan Bedah Rumah dan Paket Sembako

Turut hadir dalam acara syukuran HUT Dekranas ke-42, yaitu Menteri Perdagangan RI, Menteri Perindustrian RI, Ketua Harian Dekranas, Sesepuh Dekranas, dan Ketua serta Pengurus Dekranasda se-Indonesia.***

 




Maestro Tari , Amaq Raya Pernah Menari di Depan Dua Presiden

Amaq Raya, Sang Maestro dari Lenek, Lombok Timur, ingin terus menari hingga tubuhnya tak mampu bergerak lagi, mungkin ia satu-satuya seniman Lombok yang pernah menampilkan karyanya di depan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Nanik I Imtihan menuliskan dedikasi Amaq Raya sebagai seniman tari tadisi

MATARAM.lombokjournal.comAmaq Raya hanyalah lulusan sekolah dasar (Sekolah Rakyat). Namun dari keterbatasan hidup dan ilmu pengetahuan formil itu, justru mengajarkan dan menuntun mereka melahirkan karya-karya yang original, yang materinya diolah dari apa yang ada di sekitar mereka.

Maestro Tari Sasak
Amaq Raye

Tari-tari tradisi karya Amaq  Raya mampu menegaskan perbedaan mendasar dari dasar-dasar gerak tari Sasak dengan Bali.

Tari tradisi Sasak itu juga belum dipatenkan, langgam dan ragam geraknya, dan ini bisa dimulai dari Amaq Raya. Dari kacamata akademisi Amaq Raya dinilai mampu menemukan ide dan gagasan dengan cara yang sangat sederhana.

“Amaq Raya mampu menemukan ide dan gagasannya dengan cara yang sangat sederhana,” ungkap, Dr. Salman Alfarisi, seniman lulusan ISI Yogyakarta yang kini mengajar di Universitas Sultan Idris Malaysia.

Dalam salah satu eksplorasi karya Amaq Raya misalnya, geraknya mencoba melakukan dan menirukan gerak-gerak burung dimana bisa jadi tanpa ia sadari muncul kesadaran untuk melakukan stilisasi gerak burung tersebut atau mengkopi gerakan persis seperti burung.

BACA JUGA: Wayang Sasak, Media Awal Penyebaran Islam di Lombok

Inilah salah seorang maestro tari tradisi Sasak yang mengabdikan dirinya dalam dunia kesenian hingga usianya sepuh.

Siang itu, di berugak rumah sederhananya, kepala, tubuh dan tangannya bergerak, melenggok indah ketika ia bicara. Mata sepuhnya bersinar, berbinar tatkala ia mengisahkan setiap gerakan tari yang diciptakannya.

Amaq Raya, seniman tari tradisi yang menghabiskan hampir seluruh bagian hidupnya untuk berkarya. Lahir dan besar di Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Amaq Raya yang memiliki nama asli Loq Saleh ini tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan kesenian.

Bagaimana tidak, selain kampung halaman tempatnya tinggal adalah tempat lahirnya seniman-seniman tradisi, ayahnya pun adalah seorang seniman ternama di desanya. Itulah yang kemudian membuatnya menjadi seniman serba bisa.

Sepanjang hidupnya, Amaq Raya tidak pernah menjalani masa sekolah selayaknya anak-anak lain apalagi sampai menimba ilmu seni secara formal, sebab ia hanyalah lulusan sekolah rakyat. Ia juga tidak berguru kesenian secara intensif (meski ia memiliki guru bernama Amaq Tahim, seniman tradisi di desa itu).

Ia justru banyak belajar mengolah bakat seni yang diwarisi dari sang ayah dengan melakukan pengamatan dan mengikuti pertunjukan berbagai seni tradisi ke sana kemari, dari satu desa ke desa lainnya bersama sang ayah dan kelompok keseniannya.

Sejak muda, Amaq Raya dikenal sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan kesenian tradisi seperti tari tradisi Gandrung, teater tradisi Cupak Gurantang, wayang Sasak. Tidak itu saja, waktu dan pengalaman yang menempanya membuat intuisi seninya terasah tajam.

Ia lalu menciptakan berbagai tari tradisi yang rohnya ia ambil dari pengamatannya pada apa yang terjadi di sekitarnya juga kejadian-kejadian alam semesta yang sempat terpotret olehnya. Sumber karya Amaq Raya adalah alam semesta dan jagat raya.

BACA JUGA: Wagub Sitti Rohmi Mengaku Belajar Dari Siswa SLB

Bahkan dari gerak dan perilaku seekor burung yang tengah mandi pun akhirnya menginspirasinya untuk berkarya. Dari sinilah karya tari tradisi Gagak Mandiq lahir.

 “Saya belajar gerakan-gerakan tari itu dari alam yang ada di sekitar saya,” ujar Amaq Raya.

Tahun 1993 adalah salah satu momentum yang paling berharga baginya ketika ia mendapat kesempatan untuk menggelar karya tari tradisi Gagak Mandiq di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam program Maestro yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Ia menikmati hidupnya dengan terus berkarya, bahkan hingga saat usianya sepuh kini. 

Beberapa karya tari tradisi lain yang diciptakannya Tari ‘Pidata’, tari ‘Pakon’, tari ‘Kembang Jagung’. Ia juga menciptakan gending ‘Semar Geger’, gending ‘Pemban Selaparang’, dan lainnya.

Karya-karya tarinya memiliki kekuatan tersendiri yang belum tentu dimiliki oleh koreografer lain. Ia melahirkan karya yang merupakan perpaduan wiraga (gerak raga) dan wirasa (gerak jiwa). Baginya, menari bukan semata gerakan raga, melainkan sekaligus menggerakkan jiwa sehingga melahirkan karya seni bercita rasa dan bernilai tinggi.

Ketenaran namanya sebagai seniman tradisi yang sangat aktif membuat ia kerap diundang untuk mengisi acara-acara penting di Nusa Tenggara Barat bahkan acara-acara kenegaraan. Kebanggaan itu diungkapkan Amaq Raya seperti ketika tampil di depan Presiden Soekarno di Bali tahun 1957.

Tidak itu saja, pada kunjungan Presiden Soekarno di Lombok tahun 1958, ia juga tampil menarikan tari-tari tradisi. Lalu pada tahun 1990 ia tampil di Istana Merdeka di depan Presiden Soeharto.

Pada tahun 1988, ia memperkenalkan berbagai kesenian tradisi Lombok yakni Cepung, Kecimol, Peresean dan tari gandrung, berkeliling ke tiga provinsi yakni Tokyo, Kagawa dan Omea.

BACA JUGA: Wagub Sitti Rohmi Jelaskan Sabtu Budaya di Sekolah

“Bangga sekali rasanya saya bisa dua kali menari di depan Presiden Soekarno dan memperkenalkan berbagai seni tradisi Lombok di Jepang” katanya.

Maestri tampil di TIM
Menggelarkarya di tim Tahun 1993

Nama dan karya-karya Amaq Raya adalah warisan seni bagi Nusa Tenggara Barat yang akan terus hidup dengan umur yang panjang. Namun begitu, meski ia dikenal sebagai seorang seniman ternama Nusa Tenggara Barat, kehidupan kesehariannya sangat sederhana, bahkan diakuinya lebih sering kekurangan.

Ia hidup dengan sangat sederhana, di sebuah rumah yang apa adanya. Namun, sebagai seorang maestro, Amaq Raya menikmati segala proses hidupnya selayak ia menikmati prosesnya dalam berkarya selama ini. Tubuh dan usia yang terus menua, tidak akan mampu menghentikan untuk berkarya.

Sebab Sang Maestro berkata, “saya akan menari sampai tubuh saya tak bisa bergerak lagi”.***

 

 




Wayang Sasak, Media Awal Penyebaran Islam di Lombok

Wayang Sasak diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Prapen yang merupakan anak cucu keturunan Sunan Giri, dan seni pewayangan mulai masuk ke Lombok bersamaan dengan penyebaran agama Islam di pulau ini. Penelusuran wayang Sasak yang ditulis Nanik I Taufan ini menguak pentingnya wayang dalam penyebaran Islam di Lombok

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gelak tawa penonton selalu mewarnai pertunjukan Wayang Sasak yang didalangi dalang Sasak senior, Lalu Nasib.

Puluhan tahun menjadi dalang, inovasi dan kreativitas Lalu Nasib tetap menarik minat masyarakat Lombok untuk tetap menonton wayang, di tengah gempuran tontonan-tontonan instan yang disajikan televisi dan media teknologi lainnya dengan segala kegemerlapannya.

Dalam wayang Sasak, pengiringnya di balik layar
Di balik kelir (layar)

Humor-humor segar yang merespon situasi terkini menjadi kekuatan Lalu Nasib dalam mendalang. Meskipun tidak lagi banyak digelar, seni pertunjukan Wayang Sasak masih digemari oleh masyarakat di Pulau Lombok terutama di pedesaan.

Sebagai dalang, Lalu Nasib menjadi barometer pewayangan di Pulau Lombok. Kekhasan humor dan penciptaan tokoh pewayangan menjadi kelebihan tersendiri baginya.

Ia juga mampu membawa pewayangan Sasak menembus situasi-situasi terkini, sehingga di anga dalang Lalu Nasib, cerita wayang Sasak tidak hanya melulu tentang Jayengrana seperti aslinya. Tapi bisa dijadikan sebagai penyampai pesan-pesan pembangunan, penyuluhan Keluarga Berencana, Pilkada dan lain-lain.

Wayang yang didalangi Lalu Nasib menggunakan Bahasa Sasak, sehingga pesan-pesan moral, kritikan, sindiran dan lainnya mudah diterima dan dimengerti masyarakat. Cerita intinya memang tetap pada pakem cerita Jayengrana, namun di sela-sela pergelaran, improvisasi Lalu Nasib bisa menjangkau hal-hal terkini.

BACA JUGA: Wayang Sasak, Lalu Nasib: Tontonan dan Tutunan Masyarakat

Namun begitu, Lalu Nasib akan selalu kembali pada cerita/lakon aslinya Jayengrana.

Sama halnya di beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa dan Bali, seni pertunjukan wayang juga hidup dan berkembang di Pulau Lombok sebagai hiburan rakyat. Seni pewayangan mulai masuk ke Lombok bersamaan dengan penyebaran agama Islam di pulau ini.

Hal ini bisa dilihat dalam sejarahnya wayang Sasak diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Prapen yang merupakan anak cucu dari keturunan Sunan Giri. Penyebaran Islam tidak dilakukan langsung pada masyarakat melainkan menggunakan media wayang.

Tokoh-tokoh Islam dahulu menyebarkan Islam dengan cara yang halus melalui seni dengan simbol-simbol (wayang) yang selalu menyesuaikan dengan tempat, kondisi geografi maupun latar belakang masyarakatnya.

BACA JUGA: Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika

Wayang Sasak digelar kala itu untuk menarik perhatian masyarakat berkumpul sehingga mudah menyampaikan kisah-kisah berkaitan dengan agama Islam dalam lakon-lakon yang dimainkan. Sumber lakon wayang Sasak diambil dari Serat Menak yang isinya tentang perjuangan Amir Hamzah yang lebih dikenal dengan Prabu Jayengrana atau Raja Negeri Mekah atau Puser Bumi.

Jayengrana merupakan tokoh utama yang menyebarkan Agama Islam dalam dunia pewayangan Sasak.

Seni pertunjukan wayang di Pulau Lombok benar-benar beradaptasi dengan kondisi sosial   masyarakat di Pulau Lombok sejak wayang pertama kali masuk. Dalam wayang Sasak bahasa yang digunakan secara umum adalah Bahasa Sasak kecuali tokoh Raja, Tumenggung yang tetap memakai Bahasa Jawa Kuno (Kawi).

Dalam perkembangan wayang Sasak di Lombok, untuk memudahkan masyarakat memahami isi lakon, Lalu Nasib enciptakan tokoh-tokoh wayang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Sasak, seperti Amaq Ocong, Inaq Baok, Inaq Itet, Amaq Kesk dan Begol.

BACA JUGA: Festival Bau Nyale Spirit Kebahagiaan, Ini Kata Bang Zul

Sumbernya Serat Menak

Wayang Sasak bersumber dari Serat Menak
Rusmadi, S.Sn (kanan)

Dalang lulusan Institut Seni Indonesia(ISI) Surakarta, Rusmadi, S. Sn, yang sejak tahun 1998 tinggal di Lombok menuturkan, jika wayang Jawa lakon ceritanya bersumber dari Mahabarata/Ramayana,  sedang wayang Sasak sumber dari Serat Menak.

Sebanyak 9 tokoh utama dalam wayang Sasaka, terdiri dari 7 wayang kanan, yakni Jayengrana, Umarmaya, Umar Made, Raden Maktal, Serandil atau Alam Daur, Saptanus dan Tantanus.

Sedangkan sebelah kiri terdapat 2 tokoh wayang, yakni Prabu Nursiwan dan Patih Baktak.

“Selain itu ada wayang kanan dan kiri, ada pula yang disebut wayang sekutu dari Jayengrana  dan Raja Siwunegara yang merupakan sekutu Prabu Nursiwan,” ungkap.Rusmadi.,

Tokoh-tokoh ini memiliki karakter dan masing-masing. Prabu Nursiwan adalah tokoh yang tidak memiliki pendirian. Sedangkan tokoh Umarmaya dan Umar Made adalah tokoh yang bijaksana sebagai penasehat politik.

Mereka berdua merupakan punakawannya Prabu Jayengrana. Selandir adalah tokoh yang kuat dan keras sebagai pahlawan, yang merupakan tangan kanan Prabu Jayengrana. Sedangkan Raden Maktal adalah patih yang sering menjadi duta mewakili Prabu Jayengrana dalam berbagai kesempatan. Ia adalah tokoh yang arif dan bijaksana. Saptanus dan tamtanus merupakan prajurit yang berperan sebagai Senopati (Panglima Perang).

Masalah yang paling banyak dimainkan dalam wayang Sasak adalah sekutu-sekutu dari Prabu Nursiwan antara lain, Patih Baktak (tokoh penghasut berhati culas, licik tapi politikus ulung) yang selalu menentang Prabu Jayengrana dalam menyebarkan kebaikan dengan menebar hasutan-hasutan.

Bertahan dalam tradisi

Salah satu keunikan wayang Sasak adalah kukuh mempertahankan ketradisiannya pada adegan per adegan. Gending pengiringnya seperti Kabor, Janggelan, Flutur tidak bisa diubah sehingga mempengaruhi irama pertunjukan yang sama dari dulu sampai sekarang sehingga terkesan lamban.  Di samping itu, proses penciptaan bunyi iringan gamelannya asli.

BACA JUGA: Protein Tinggi dan Antimikroba pada Cacing Nyale

Bunyi yang diciptakan dari iringan gamelan wayang Sasak yang terdiri dari 2 gendang, lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan), suling besar dan panjang ukuran sekitar satu meter dengan diameter 5 cm, 1 knot, 1 kajar, 1 rincik dan 1 gong, asli Sasak tidak masuk pengaruh Jawa atau Bali atau daerah lainnya.

Keunikan lainnya, dalang Sasak dikenal bekerja lebih berat dan memiliki kemampuan yang lengkap dibandingkan dengan dalang dari daerah lain.

“Selain menjadi sutradara pergelaran, dalang Sasak piawai menjadi sinden karena dalam pertunjukan wayang  Sasak, tidak ada sinden seperti dalam wayang Jawa yang bisa menjadi selingan selama pertunjukan. Sehingga dalang memiliki kesempatan beristirahat sembari memikirkan cerita berikutnya,” lanjut Rusmadi yang juga Wakil Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Lombok.

Dalanglah yang melantunkan nyanyian sepanjang pertunjukan berlangsung. Inilah yang membuat tugas dalang Sasak menjadi berat. Dalang bertugas mendiskripsikan cerita, mengatur dialog antar tokoh hingga menyanyi tak henti-henti selama pertunjukan berlangsung.

Selain itu sistem pertunjukan wayang Sasak, dalang dan pengiring berada di balik layar. Ini berbeda dengan wayang Jawa dimana dalang, sinden dan seluruh pengirinya berada di depan layar sehingga dapat dilihat semua.

Pergelaran wayang Sasak

Dalam pertunjukan wayang Sasak hanya bisa dilihat dari balik kelir (layar). Ini disebabkan karena dalam masyarakat tradisi Sasak masih kuat anggapan bahwa yang disebut wayang adalah bayangannya sehingga penonton tidak dapat melihat dalang maupun pengirinya.

“Keunikan lain dalam wayang Sasak terbuka kemungkinan menciptakan tokoh-tokoh lain selain yang ada tersebut,” ujar dalang yang sehari-hari bertugas sebagai Tenaga Fungsional Pedalangan di Taman Budaya NTB ini.

Saat ini, wayang Sasak di Lombok yang menggunakan wayang kulit yang disebut wayang lendong mulai terbilang langka. Pertunjukan-pertunjukan yang digelar belum mampu kembali menarik minat masyarakat penontonnya dalam jumlah yang banyak seperti masa jayanya dahulu.

Meski begitu, dalam masyarakat pendukungnya, wayang Sasak masih merupakan hal yang dianggap sakral. Misalnya ketika ada masyarakat yang punya hajat perkawinan atau lainnya yang menggelar wayang Sasak, masih sangat menghindari lakon-lakon seperti Lampan Lahat (cerita tentang saat-saat menjelang kematian Jayengrana).

Pergelaran wayang Sasak

Cerita Lampan Lahat masih dianggap kisah yang angker dan tidak akan dipergelarkan mengisi hiburan-hiburan dalam kegiatan yang membahagiakan tersebut.

Lampan Lahat merupakan cerita yang angker bagi pertunjukan wayang Sasak yang hampir tidak pernah dimainkan oleh dalang-dalang di Pulau Lombok. ***

 




Wayang Sasak, Lalu Nasib; Tontonan dan Tuntunan Masyarakat

Seni tradisi Wayang sangat digemari di masyarakat Sasak, salah satunya karena kepiawaian dalang Lalu Nasib yang menjadikan wayang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lalu Nasib sukses menyesuaikan pertunjukan wayangnya dengan situasi terkini Ini wawancara Nanik I Taufan, yang menggali sisi lain dalang berusia lebih 72 tahun tapi tetap bersemangat itu 

MATARAM.lombokjournal.com ~ Lalu Nasib, dalang Wayang Sasak, namanya tersohor hingga ke pelosok desa di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Pulau Lombok. 

Kiprahnya sebagai seorang dalang terbilang fenomenal, sebab ia memiliki ciri khas sendiri. Lucu dan segar, setidaknya itulah suasana yang bisa dinikmati penonton tatkala Lalu Nasib memainkan wayang-wayangnya.

Dalang Wayang Sasak
Lalu Nasib

Lalu Nasib menggemari wayang sejak kanak-kanak. Kegemarannya menonton wayang ia lalu membuat dan memainkan wayang-wayangan dari kardus. Bermula dari kegemaran menonton dan memainkan wayang itu, Lalu Nasib akhirnya memilih menjadi seorang dalang sejak tahun 1965. 

Sejak itu ia menjadi dalang yang mampu membius para penonton. Meski kini usianya telah menginjak 72 tahun lebih, Lalu Nasib tetap bersemangat memainkan wayangnya dan tetap tampil dengan penuh percaya diri. 

“Saya memang sangat menyukai dan senang menonton wayang sejak masa kanak-kanak,” katanya.

Salah satu kelebihan Lalu Nasib sepanjang 55 tahun  memainkan wayangnya, adalah  mampu menyatu dengan penontonnya. Ia senantiasa sukses menyesuaikan pertunjukannya dengan situasi terkini, dengan ragam kisah yang up to date. Ia selalu menggunakan bahasa sehari-hari yang mewakili perasaan masyarakat kalangan bawah.

BACA JUGA: Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika

Sebagai seorang dalang yang lebih dari setengah abad berkarya, Lalu Nasib memiliki kharisma yang mampu membius para penonton. Ia memiliki kemampuan menciptakan pakem, gaya, genre, dan falsafah tersendiri dalam dunia pewayangan Sasak (Lombok), sehingga ia diterima dan diakui semua orang yang menjadikannya seorang Maestro

Ia mampu mengikuti perkembangan zaman dengan tetap eksis dalam dunia pewayangan hingga saat ini.

Bagaimana tidak, meski tetap memperhatikan pakem asli pewayangan Sasak, ia berinisiatif memasukkan benda-benda modern dalam pagelarannya, seperti alat transportasi tradisional Sasak berupa Cidomo. Bahkan hingga pesawat antariksa Apollo ada dalam pertunjukan wayangnya. 

Awalnya modifikasi ini mengagetkan, namun secara tidak langsung ternyata mampu mewakili kebutuhan hiburan masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah sebagai komunitas pendukung wayang Sasak. Kreativitas Lal Nasib akhirnya diterima sebagai salah satu ciri khas dari inovasi dalang Sasak.

Tidak itu saja, pergaulannya yang luas membuat Lalu Nasib mampu menciptakan tokoh-tokoh yang mewakili kalangan bawah. Ia menciptakan sendiri tokoh-tokoh wayang Sasak yang mewakili kalangan bawah yakni Rerencek dan Punakawan. 

BACA JUGA: Event Sport Tourism, Lombok Jadi Incaran Para Pemacu Adrenalin

Lalu Nasib mampu menghadirkan tokoh tokoh wayangnya dengan karakter lokal, Inak Ocong, Amak Ocong, Amak Amat, Amak Baok, dan Inak Etet. Tokoh-tokoh ini sangat mewakili masyarakat kelas bawah. Tokoh-tokoh wayang ini kini sangat terkenal di Lombok khususnya, sebab memiliki karakter masing-masing yang mewakili kelas bawah baik karakter maupun caranya berkomunikasi.

“Saya bergaul dengan semua kalangan, dari berbagai suku bangsa,” ungkapnya.

Kecerdasan Lalu Nasib dalam menciptakan tokoh-tokoh lokal ini dilakukannya berdasarkan pengamatan lapangan. Bukan hanya pada orang Sasak Lombok, melainkan pengamatan menyeluruh pada berbagai karakter masyarakat di Nusa Tenggara Barat, yang memiliki tiga etnis besar, yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo. Termasuk tipikal karakter orang Jawa bahkan etnis lainnya yang bisa mengundang gelak tawa.

Naluri penciptaannya tak pernah mati. Lihat saja, di tengah gencarnya Pemerintah Provinsi NTB yang memfokuskan diri dalam bidang pariwisata dengan target jutaan wisatawan, Lalu Nasib juga akhirnya menciptakan tokoh wayang ‘bernuansa’ bule. 

Wayang Sasak jadi tontonan dan tuntunan masyarakat

Sebab itulah dalam memainkan wayangnya, Lalu Nasib senantiasa mengemas cerita dan memakai bahasa yang bisa merangkul ketiga etnis tersebut.  

Salah satu keahlian langka yang tidak dimiliki dalang lain di Lombok khususnya, adalah kepiawaian Lalu Nasib mempertontonkan pertunjukan wayang Sasak yang menawarkan celoteh jenaka dari Sang Maestro Lalu Nasib.

Ia tidak hanya memainkan wayang dengan kisah cerita, pakem dan tokoh aslinya, melainkan ia selalu merespon situasi terkini, topik yang tengah hangat di masyarakat, menjadi kekuatan petunjukan wayang Lalu Nasib. Ia paham memainkan wayangnya sebagaimana fenomena yang tengah berkembang. Untuk bisa menguasai materi pertunjukan, Lalu Nasib rajin membaca koran, mendengarkan radio dan  berbincang dengan banyak kalangan.

“Saya pelajari semua topik dan perkembangan informasi dari media massa dan pergaulan dengan banyak orang,” ujarnya.

Tak ayal, sepanjang pergelarannya ia mampu membuat penonton terhibur dengan gelak tawa yang garing. Satu hal yang tidak boleh dilupakan dari Dalang Lalu Nasib adalah kemampuannya menguasai semua bidang, Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan, Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Ipoleksosbudkam) yang menjadi materi dalam setiap pertunjukannya. 

Ini menjadi nilai penting dari keberadaannya sebagai seorang dalang.  Sebab itu ia tetap mampu menjadikan pertunjukan Wayang Sasak sebagai tontonan dan tuntunan yang sesuai dengan masanya.

Itulah sebabnya Lalu Nasib menjadi dalang fenomenal yang langka milik Nusa Tenggara Barat. Sayangnya, perjalanan karir dan karyanya yang begitu panjang dalam dunia pewayangan Sasak tersebut, sejauh ini, tidak banyak terdokumentasi dengan lengkap. Padahal, nama dan kiprahnya di dunia seni pertunjukan pewayangan Sasak khususnya, dikenal hingga ke pelosok desa.

Bisa dikatakan bahwa dari tidak banyak lagi dalang wayang Sasak di Lombok (hanya sekitar 50-an dalang) saat ini, hanya nama Lalu Nasib yang masih dikenal luas dan tetap bertahan di hati masyarakat hingga hari ini. Kehadirannya dalam dunia seni pertunjukan tradisi pewayangan Sasak, tidak lekang oleh waktu, tak tergoyahkan oleh kemajuan zaman yang begitu pesat.

Ia tetap menjadi dalang idola yang pertunjukan-pertunjukannya selalu dinanti sebab ia mampu mampu mewakili kebutuhan masyarakat khususnya kalangan menengah ke bawah.

Tawaran tontonan televisi dan berkembangnya media sosial yang melintasi teknologi canggih yang semakin beragam, tidak mampu sepenuhnya ‘mematikan’ kecintaan masyarakat terhadap keberadaan pertunjukan wayang Lalu Nasib. 

Meski mengalami pergeseran pada soal waktu dan volume pertunjukan serta lainnya, pertunjukan wayang Lalu Nasib masih ditanggap hingga saat ini. Ia tetap bisa menghadirkan pertunjukan yang mampu menjadi tontonan dan tuntunan bagi penikmat wayang Sasak.

“Hanya satu yang selalu saya ingat, untuk menjadikan pertunjukan wayang sebagai tontonan dan tuntunan bagi masyarakat,” katanya.***

 




50 Tahun Teater Imago, dari Anak-anak Hingga Emak-emak Bahagia

Merayakan usia ke 50 tahun, Teater Imago mengajak emak-emak baca puisi, dan mereka mengekspresikan puisi dengan bahagia

MEDAN.lombokjournal.com ~ Ada 15 Emak-emak membaca puisi di gedung tari eks Taman Budaya Sumut.

Mereka berteriak, menangis, marah, bersorak dan tepuk tangan. Mereka terlihat bahagia saat berekspresi di acara 50 Tahun Teater Imago yang salah satu acaranya adalah “Emak-emak Baca Puisi”, Sabtu (15/01/22).

Acara heboh itu mampu menghipnotis para perempuan ini sehingga tetap duduk menyaksikan acara demi aca yang digelar dalam  acara bertajuk “Upah- upah” itu.

salah satu emak baca puisi dalam 50 tahun Teater Imago       Teater Imago merayakan 50 tahun

Di antara pembaca adalah Darmaila Wati yang menangis saat membacakan puisi “Luka Sungai” Karya Ayub Hamzah Fahreza. Juga ada Patia Rasima yang membawakan “Sunarti Gadis Tembung” karya Suratman Surazt.

Sebelumnya acara dimulai dengan mengarak tumpeng oleh anak-anak Teater Imago, Teater Sasude dan Teater Rumah Mata. Mereka mengelilingi TBSU dari jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Jasa Said, Jalan IAIN, Sutomo dan kembali ke TBSU.

Lalu anak-anak teater Imago bersama Ayub Badrin dan Dijah naik ke atas panggung. Di panggung terlihat dua benda dibalut perban tergantung. Seperti seperti mummi atau kepompong.

BACA JUGA: Ultah Teater Rumah Mata, Akun Medson dan Instalasi

Lalu akto-aktor cilik itu mulai membungkus dirinya atau kedua orang yang seperti “orangtua” itu yang melakukannya. Wajah mereka dibungkus perban.

Di saat itu pula, emak-emak membacakan puisinya. Wajah-wajah diperban, di belakang mereka mulai bergerak perlahan. Sesekali memainkan sarung.

Ayub Badri dalam akun FB nya menulis seperti ini :

50 Tahun Teater Imago, “Upah Upah”

Mengapa pilihan kami untuk merayakan 50 Tahun Teater Imago, “Upah-upah”? Padahal 50 tahun adalah perayaan emas. Benda yang dianggap gemerlap. Yah, Upah-upah adalah tradisi. Tradisi orang Melayu dan Mandailing.

 Kedua suku atau puak ini berada di Sumut, tempat kami tinggal, bernafas, hidup, berkelindan, jungkir balik berkesenian. Kami merasa saat ini Upah-upah lah yang paling dekat dengan situasi saat ini.

Kemerosotan nilai nilai, wabah, kematian yang terus mengintai, kepekaan yang kian tumpul, kebudayaan yang kian tergerus, kesenian yang dijepit, dianggap sampah dan harus disingkirkan, Gedung kesenian kita yang sekarat, dan seabrek persoalan yang perlu di upah-upah.

Upah-upah adalah tradisi dimana seseorang atau kelompok harus dipanggil, dikembalikan, dipulangkan semangatnya. Agar keburaman menjadi cerah kembali, agar kelesuan menjadi gairah kembali, agar aura yang redup kembali bercahaya.

 Imago adalah benih yang baru keluar dari cangkang kepompong. Benih yang sekian lama berada dalam cangkang, dalam rahim bumi, yang bergerak ingin keluar, ingin muncrat, ingin menyembul, ingin terus tumbuh hingga menjadi sesuatu.

 Seperti kepompong yang kemudian menjadi kupu-kupu, ingin bebas terbang, menghirup spora dan menyemai, menjadi sesuatu lagi, menjadi berguna juga tidak berguna tidaklah menjadi penting.

 Dia ada, siapa pun dia, Tuhan telah menciptakannya, telah memberkahinya dengan kehidupan, meniupkan ruh dan semangat yang menjadi modal untuk bergerak untuk mencari makna.

 Maka sesuatu yang baru keluar dari cangkang itu, benih itu, harus di upah-upah, agar menjadi benih yang baik, benih yang bening, benih yang akan menyemai kehidupan dengan benar dan akhirnya memberikan setitik kebahagiaan bagi mahkluk di dunia ini.

Itulah kami, Imago…

 Lantas apa relevansinya dengan anak-anak yang dibungkus perban? Jika pendekatannya adalah kepompong dan upah-upah. Boleh jadi anak yg diperban adalah Imago di dalam kepompong. Bergerak ingin keluar, ingin melihat cahaya dan terbang.

Pada adegan lain, seniman yang paling tua yakni Handono Hadi memotong tumpeng dan memberikannya pada serang “ibu”. Seorang ibu inilah yang kemudian menyuapi anak-anak.

BACA JUGA: Wagub NTB Launching Sekolah Sehat, Tanamkan Cinta Ligkungan

Juhendri Chaniago (Budayawan) mengatakan pemotongan tumpeng adalah tatacara adat dalam kebudayaan. Potong tumpeng tidak boleh dilakukan dengan tidak serius.

“Menyuapi nasi tumpeng pada anak-anak itu sebuah simbol yang mengandung makna agar anak-anak menjadi penerus kebudayaan yang serius dan baik,” ujar Hendrik.

Acara berakhir dengan diskusi Teater. Diskusi menyimpulkan perlunya Kota Medan atau Sumut memiliki gedung kesenian. (aba)

Berikut Adalah Nama – nama Emak-emak Baca Puisi.

-Ifeh Boreg

-Nana Marlina

-Ika Yovita

-Cory Marlia

-Lilis Tarigan

-Rosnani Lubis

-Dedek Wanti

-Darmaila Wati

-Atien Sukatendel

-Patia Rasima

– Seiska Handayani

– Yutha Nalurita

– Marina Novianti

– Lia Amri ***

 

 

 




Bupati Buka Pameran Pesona Bonsai Dayan Gunung

Pameran Pesona Bonsai Dayan Gunung yang dibuka Bupati Lombok Utara, Djohan Sjamsu berharap melahirkan pembonsai yang makin memperindah daerah

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Untuk menggali kreativitas dan inovasi dari  masyarakat pecinta Bonsai di Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Utara, Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) KLU menggelar Pameran dan Konteks Bonsai Lokal yang bertajuk ‘Pesona Bonsai Dayan Gunung’ yang berlangsung di Lapangan Umum Tioq Tata Tunaq Tanjung (07/01/21).

Pameran Bonsai yang dibuka Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu ini, dilanjutkan dengan pelantikan pengurus PPBI KLU, Loteng, Lobar, Lotim, KSB yang dilakukan Ketua PPBI Pusat H. Erwin Lismar.

Bupti Djohn membuka pameran pesona bonsai

Pembukaan Pameran Pesona Bonsai

Bupati Djohan mengatakan, dalam pameran bonsai banyak karya-karya yang diciptakan yang indah dipandang mata.

BACA JUGA: Dunia Penyiaran Ujung Tombak Revolusi Media Sosial

“Lewat kesempatan ini pula saya menyampaikan selamat mengemban amanah kepada pengurus PPBI yang baru saja dilantik oleh Ketua PPBI Pusat,” ucap bupati.

Dikatakan, pameran dan kontes bonsai ini akan melahirkan para pembonsai baru yang akan menambah keindahan daerah. Karya Bonsai yang indah, tidak semua orang yang bisa membuatnya, tapi banyak penggemarnya.

“Lewat kontes bonsai ini, doa kita supaya covid-19 juga harus berakhir ,” tuturnya.

Silaturrahmi sambil berkreasi

Ketua PPBI Pusat H. Erwin menyampaikan, lewat Pameran Bonsai tentu akan menjadi daya tarik tersendiri terhadap masyarakat penggemar bonsai untuk mempererat silaturahmi sembari berkreasi.

“Semoga kegiatan seperti ini bisa menjadi contoh bagi PPBI cabang di daerah lain untuk membuat pameran,”tuturnya

Lewat kegiatan pameran bonsai diharapkan banyak hal yang tercapai, seperti kerjasama dan dapat diwujudkan dalam program pameran dan kontes bersama guna mendukung program pemerintah di bidang pariwisata seni dan budaya.

“Dalam setiap acara yang diselenggarakan pameran bonsai saya menekankan kepada panitia, agar masyarakat dari semua golongan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengunjungi memperkenalkan seni bonsai kepada masyarakat terutama bagi para remaja,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Nasli SPd dalam laporannya menuturkan, kegiatan pameran dan konvensi diikuti oleh para penghias bonsai  yang ada di Pulau Lombok. Jumlah pohon yang dipamerkan sebanyak 400 pohon, terdiri dari dua kelas yaitu kelas prospek dengan jumlah 240 pohon dan kelas regional 160 pohon.

“Harapan besar kita pada Pemda beserta jajarannya yang telah memberikan support dan mendukung kegiatan ini, ke depan bisa menjadi agenda tahunan,” harapnya.

Kegiatan pameran pesona bonsai dayan gunung  dalam rangka mengakomodir kreativitas dan inovasi dari para pemuda yang ada di KLU dan Provinsi NTB pada umumnya.

“Semoga kreativitas dan inovasi dari para pemuda yang ada di KLU ini bisa kita akomodir dalam sebuah kegiatan pameran dan kontes bonsai,” katanya.

Kegiatan diakhiri dengan pemotongan pita sebagai tanda diresmikan pembukaannya Pesona Bonsai Dayan Gunung Tahun 2022, dilanjutkan dengan penancapan bendera pada bonsai terbaik oleh Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD KLU, dan Pj Sekda yang disaksikan undangan lainnya.

Tampak hadir dalam pameran Bonsai, antara lain Ketua DPRD KLU Nasrudin SHi,Wakil Bupati Danny Karter Febrianto R ST MEng, Ketua TP PKK KLU Hj.Galuh Nurdiyah Djohan Sjamsu,Pj. Sekda KLU Anding Duwi Cahyadi SSTP MM,Kapolsek Tanjung,Kepala OPD serta undangan lainnya.

@ng

 




Ultah Teater Rumah Mata, Akun Medsos dan Instalasi

Tema ‘tanpa pengeras suara’ membuka Ultah Teater Rumah Mata ke 17, upaya memahami sesuatu yang alami

MEDAN.lombokjournal.com ~ Ulang tahun Teater Rumah Mata dibuka hari ini, Minggu (02/01/22). Ulang tahun ini merupakan rangkaian dari sepekan acara Teater yang kini usianya 17 tahun.

Agus Susilo sebagai Ketua Teater Rumah Mata mengatakan Ultah TRM dibuka dengan tema “Tanpa Pengeras Suara”.

Ultah Teater Mata ke 17 yang sarat kreativias
Agus Susilo

“Ya Ultah Teater rumah mata ini dengan tema tanpa pengeras suara. Memang sengaja karena tempat ini, museum Kota Cina sangat alami, sehingga kita sesuaikan, tanpa pengeras suara, ” ujarnya.

Kemudian Agus juga membeberkan tentang lounching beberapa akun Medsos Teater Rumah Mata seperti Medsos Facebook, instagram dan youtube.

Ichwan Azhari sejarawan yang membangun museum di Situs Kota Cina ini mengatakan akan  lebih membuka diri untuk para seniman.

“Di luar negeri biasa museum bersinergi dengan para seniman. Oleh karenanya museum ini nantinya akan kita rehab. Jadi gedung bawah untuk gedung pertunjukan, atas museum, ” kata Ichwan Azhari.

BACA JUGA: Kasus Omicron Meningkat, Ahli Sarankan Ganti Masker

Hadir dalam acara pembukaan ini, YS, Rat, Rudi Pama, Hendra Mulyadi, Pelukis Farida Purba, Roy Zulian dan Mameks.

Acara ini juga diramaikan oleh berbagai komunitas seperti Sanggar Anak Sungai Deli (Sasude) dan masyarakat sekitar.

Selanjutnya acara spontanitas dari tamu untuk tamu, baca puisi, ucapan selamat dan visualisasi puisi dari Rumah KreatifKreatif, Sasude, Falanta.

Instalasi Seni Rupa

Sebelumnya Rudi Pama mendirikan instalasi. Rudi membuat instalasi dengan bahan bambu, plastik,  dan patung ikan yang dibungkus dengan plastik.

Dilihat sepintas Rudi ingin menyampaikan kondisi laut yang penuh dengan sampah pelastik terutama di Danau Siombak.

BACA JUGA: Sirkuit Mandalika Jadi Magnet Olahraga Balap Kelas Internasional

“Ya saya membebaskan penonton untuk menginterprestasikan karya instalasi saya. Cuma konsepnya plastik, ” ujarnya.***

Ayb