Pekan Teater Pelajar se-NTB Ditutup Gubernur NTB

Penutupan Pekan Teater Pelajar (PTP) yang diselenggarakan Teater SASENTRA Universitas Muhammadiyah Mataram, Gubernur NTB:  Wadah tepat kreativitas pelaku seni teater

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gubernur NTB,  Zulkieflimansyah menutup event Pekan Teater Pelajar se-NTB Tingkat SMK/SMA/MA yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Sasentra Universitas Muhammadiyah Mataram di Taman Budaya, Sabtu (27/08/22).

Gubernur NTB mengatakan kreativitas teater sangat penting
Gubernur Zulkieflimansyah

PTP yang diikuti sebanyak 17 sekolah se-NTB menyajikan karya-karya perlajar dalam pertunjukan monolog dan lakon drama.

BACA JUGA: Gubernur Zulkiflimansyah Apresiasi GeKrafs Kota Mataram

Dalam sambutannya, Gubernur mengutarakan bahwa event ini merupakan wadah yang tepat untuk para pelaku seni teater di Indonesia, khususnya di NTB. 

Ia pun mengajak para generasi muda untuk menghidupkan kembali rasa kecintaan akan seni budaya bangsa yang luar biasa, khususnya seni teater.

“Terima kasih terhadap seluruh panitia dan UMMAT khusunya karena telah menghadirkan event yang sangat bermanfaat bagi generasi muda di NTB. Dan ingat jangan berhenti untuk menciptakan event seperti ini, event ini sangat dirindukan banyak orang,” ucapnya.

Arsyad Gani menyampaikan terima kasih pada Pemprov NTB
Rektor UMMAT, H Arsyad Gani

Bang Zul panggilan akrab Gubernur, menambahkan banyak orang hebat menyukai seni teater tak terkecuali politisi-politisi yang mempunyai nama yang besar di daerah maupun pusat.

“Saya menyakini politisi yang memiliki kecintaan dan hobi seni teater will be a verry good politican,” terangnya.

Sementara itu, Rektor UMMAT, Dr. H. Arsyad Abd Gani, M.Pd mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan oleh Pemprov NTB sehingga event ini berjalan dengan baik.

“Terimakasih saya ucapkan kepada Pemprov NTB yang telah membantu mensukseskan event kali ini sehingga kita dapat bersama-sama hadir sekaligus menutup event ini, sekali lagi mewakili UMMAT saya ucapkan terimakasih,” ujarnya.

Pekan Teater wadah yang tepat untuk para pelaku seni teater
Salah satu pemerntasan dalam Pekan Teater Pelajar

Event Pekan Teater Pelajar se-NTB Tingkat SMK/SMA/MA yang diselenggarakan oleh UKM Teater Sasentra UMMAT dengan tema “Membumikan Rasa”.

BACA JUGA: Membaca Sastra, Alternatif Menangkal Terorisme dan Radikalisasi  

Event PTP yang berlangsung 24-27 Agustus 2022, diikuti sebanyak 17 sekolah se-NTB dengan 21 pementasan baik itu monolog dan pertunjukan drama. ***

 




Dewa 19 Siap ‘Getarkan’ Kota Mataram, Lombok

Lombok Episentrum Mall, Mataram, Lombok, pada bulan Agustus akan digetarkan dengan konser Dewa 19

MATARAM.lombokjournal.com ~ Salah satu band legendaris Indonesia, Dewa 19, siap ‘getarkan’ pulau Lombok dengan konser bertajuk ‘30 years anniversary tour concert Dewa 19′, tanggal  26 Agustus 2022. 

Promotor menjanjikan konser didukung audio visual kualitas terbaik. 

Tampil di parkiran Lombok Episentrum Mall, Mataram, Dewa 19 akan memainkan 30 lagu selama kurang lebih tiga setengah jam nonstop. 

BACA JUGA: Komunitas Rabu Langit: Teater Pendekatan Intertekstual

Aan mengatakan, Dewa 19 siap menggetarkan Lombok
Aan Nugroho CEO sekaligus Founder Saga Indonesia

“Tema spesial 30 lagu durasi 3,5 jam dengan audio visual yang mantap. Baladewa Lombok monggo dinikmati,” ujar promotor acara Aan Nugroho, CEO sekaligus founder Saga Indonesia dan Sagaphoria, saat konferensi pers di Mataram, Minggu (31/07/22).

Dewa 19 dipastikan datang membawa tiga vocalis, yakni Ari Lasso dan dua vocalis utama yakni Virzha dan Marcello Tahitoe atau Ello. 

Sementara untuk Once belum dipastikan apakah bisa datang atau tidak. Yang pasti tiga vocalis terbaik Indonesia tersebut merupakan jaminan bahwa konser ulang tahun Dewa 19 ke-30 di Lombok akan berlangsung meriah. 

“Mari kita getarkan Lombok dengan Dewa 19. Penjualan tiket dibuka tanggal satu Agustus,” ujar Aan. 

Terkait keterlibatan UMKM lokal, Sagaphoria selaku penyelenggara menyediakan 10 stand khusus bagi UMKM NTB. 

Untuk pembicaraan terkait kerjasama Sagaphoria meminta UMKM menghubungi pihaknya melalui kontak media sosial Sagaphoria. 

“Menyediakan 10 stand untuk teman-teman UMKM. Yang ingin bergabung langsung hubungi media sosial Sagaphoria,” kata salah seorang tim Saga Indonesia. 

Terkait penjualan tiket bisa di pesan via daring dan non daring. dengan harga tiket mulai 400.000-1.000.000 rupiah.

BACA JUGA: Ambtenar Band Rilis Lagu Bernuansa Religius, LABBAIK

 Rinciannya 400 ribu rupiah untuk tiket festival dua, 575 ribu rupiah untuk festival satu, 850 ribu rupiah untuk VIP dan 1.000.000 rupiah untuk VVIP. 

Sementara untuk persiapan jelang konser Aan mengatakan telah mencapai 80 persen persiapan, tinggal 20 persen pada saat konser tanggal 26 Agustus 2022 diselenggarakan. 

Dewa 19 sendiri melangsungkan konser 30 tahun mereka dengan mengadakan konser di 30 kota di mulai dari Kota Surabaya sebagai tempat band pertama kali berdiri. 

Dan tanggal 26 Agustus 2022 nanti giliran Kota Mataram jadi saksi sejarah perhelatan akbar band pentolan Ahmad Dhani tersebut. ***

 

 




Komunitas Rabu Langit: Teater Pendekatan Intertekstual 

Yusfianal Imtihan yang menyutradarai Nyanyian Angsa adaptasi puisi WS Rendra,  mempertontonkan keberanian, keliaran kebebasan dan kebahagiaan Komunitas Rabu Langit dalam mengemas pertunjukan

MATARAM.lombokjournal.com ~ Komunitas Rabu Langit memainkan lakon berjudul Nyanyian Angsa .adaptasi dari puisi dengan judul sama karya WS Rendra pada acara Pentas Sastra Taman Budaya NTB, Jumat (22/07/22).

Disutradarai Yusfianal Imtihan, Rabu Langit memukau penonton yang hadir di gedung teater tertutup Taman Budaya NTB dengan penampilan apiknya. 

Banyak gelak tawa, kemarahan dan kesedihan yang dialirkan para aktor dari panggung ke penonton. 

Aliran energi yang penulis kira beresonansi positif, membangkitkan impuls penonton untuk andil merasakan apa yang dialami para tokoh – manusia yang jiwanya kacau-balau oleh keadaan buruk akibat lingkungan yang tak memiliki sistem pendukung ke arah yang baik. 

Beberapa catatan terkait pertunjukan tersebut di antaranya keberanian, keliaran kebebasan dan kebahagiaan Komunitas Rabu Langit dalam mengemas pertunjukan. 

Keberanian dan keliaran imajinasi sutradara tampak pada adegan-adegan yang tak tertebak, semisal manusia kotak dan manusia kepala bola yang jatuh, lalu kepalanya ditendang Maria Zaitun ke arah gawang imajiner di sisi barat panggung. 

BACA JUGA: Membaca Sastra, Alternatif Menangkal Terorisme dan Radikalisasi  

Selain liar adegan tersebut mengejutkan. Sangat komikal dengan nuansa yang cukup getir. 

Kebebasan dan kebahagiaan tercermin dari beberapa adegan, salah satunya betapa ‘cueknya’ sutradara memasukkan adegan penata rias tengah memoles wajah Maria Zaitun agar makin kinclong, atau celetuk dialog dua aktor meniru tokoh kartun. 

Sejatinya, empat hal tersebut – kebebasan, keberanian, kebahagiaan dan keliaran – harus dimiliki oleh kelompok kesenian khususnya teater. 

Dan Rabu Langit pantas berbangga memiliki hal itu. 

Keberanian mereka untuk menambah teks puisi dengan teks lain sangat memikat. 

Di dunia sastra kita mengenal tokoh besar bernama Jorge Luis Borges yang karya-karyanya kerap melakukan hal serupa. 

Lihatlah salah satu cerita pendek (Cerpen) berjudul Mawar Paracelsus. Betapa Borges membaca kembali teks seorang saintis abad lama bernama Celsus, dikaitkan dengan pikiran seorang Yahudi murtad yang menganggap Tuhan tidak ada.

Karena menurutnya, Tuhan tak hadir saat enam juta umat Yahudi berakhir jadi abu pada tragedi Holocaust, yakni pembantaian sistematis yang disokong negara terhadap Yahudi Eropa, oleh rezim Nazi Jerman dan sekutu serta kaki tangannya. 

Terus terang impresi penulis saat menyaksikan pertunjukan Nyanyian Angsa langsung tertuju pada Borges, pada kemampuannya membuat cerita berkait-kelindan dengan cerita lain. 

Teater intertekstual

Puisi dalam pendekatan Rabu Langit hanya jadi pemantik sutradara guna menyalakan mesin imajinasi yang kaya dan liar. 

Contohnya beberapa adegan yang merepresentasikan nuansa kekinian, semisal ungkapan-ungkapan aktor yang merujuk pada film kartun masa kini, yang bagi penonton berusia 50 tahun ke atas tidak begitu familiar. 

Liarnya imajinasi sutradara mengingatkan kita betapa luasnya ruang eksplorasi dalam dunia teater. Termasuk dalam hal eksplorasi teks naskah.

Hal yang bisa dikatakan sebagai upaya Rabu Langit menuju Teater Intertekstual. Bila menengok Wikipedia Intertekstual bermakna suatu teks tidak berdiri sendiri. 

Ada dua alasan yang mendasari hal ini. Pertama, pengarang sebuah teks adalah pembaca sebelum ia menulis teks-teks. Teks yang ditulis tentu dipengaruhi oleh teks-teks lain yang dibaca oleh sang pengarang.

 Dalam proses penulisan teks, pengarang menggunakan berbagai rujukan atau kutipan dari teks-teks yang telah ia baca. Kedua, sebuah teks tersedia melalui proses pencarian materi yang hendak ditulis. 

Dalam proses tersebut, ada pertentangan maupun penerimaan akan materi-materi yang ditemukan dalam teks-teks yang dibaca. 

Teks-teks yang mempengaruhi bisa jadi teks-teks yang ada sebelum teks ditulis atau teks-teks yang berada pada zaman teks ditulis. 

Pengaruh yang diberikan teks-teks lain bisa dalam bentuk gagasan, ucapan-ucapan lisan, gaya bahasa, dan lain-lain. Teks yang dimaksud disini bukan hanya teks tertulis tetapi juga teks yang tidak tertulis atau lisan seperti adat istiadat, kebudayaan, dan agama.

BACA JUGA: Teater Hitam Putih dan Artaud: Pertunjukan ‘Do’a Chairil’ SFNLab

Dari penjelasan tersebut kita bisa melihat betapa Rabu Langit telah melakukan upaya Intertekstual, puisinya Rendra dibaca tidak hanya teks melainkan berbagai macam peristiwa masa lalu – dan mungkin masa depan – yang telah dilalui oleh penulis sebelum menyelesaikan karyanya. 

Memang, bila dilihat dari sudut pandang pengadeganan, beberapa adegan masih belum konsisten dengan tema besar Intertekstual tersebut, bahkan ada adegan yang membuat penonton kehilangan inti cerita. 

Penulis kurang tahu apakah ulang-alik antara akting dan tidak akting sengaja dipakai sebagai strategi oleh sutradara guna mendidik penonton untuk melihat bahwa semegah apa pun pertunjukan teater tetaplah peristiwa yang tidak nyata. 

Yang nyata adalah ketika salah seorang perempuan penata rias masuk ke atas pentas untuk memoles wajah Maria Zaitun agar makin kinclong guna memikat hati kaum Adam mata keranjang. 

Ataukah ironi yang dimunculkan pada adegan si tokoh berkepala bola yang kemudian ditendang ke luar panggung oleh Maria Zaitun, pun lelaki ‘berpenis besar nan panjang’ yang karena tak awas membuat tali pengikat artistik putus. 

Atau Maria Zaitun tua dan sakit di awal cerita, atau Maria Zaitun cantik dan seksi di akhir cerita? Mana yang nyata? 

Dramaturgi Jamming

Kepada lombokjournal.com usai pertunjukan, penyair Kiki Sulistyo menyatakan bahwa secara dramaturgi Komunitas Rabu Langit menggunakan pendekatan Dramaturgi Jamming. Yang kurang lebih bermakna sebuah arsitektur pertunjukan di mana tak ada genre, warna, dan aliran, melainkan hanya ada pembawa acara sebagai pembuka dan penutup acara.

Penonton yang nantinya bebas memilih sendiri di bagian mana dan pada adegan apa, mereka bisa mengais makna dari semesta nilai pertunjukan Nyanyian Angsa. 

Dikutip dari Brainly jamming dalam penggunaan sehari-hari, lebih sering digunakan menggambarkan kegiatan bermusik bersama-sama yang cenderung spontan utamanya dalam genre musik jazz.

Di sisi lain jamming ini lekat (untuk orang Indonesia sepertinya) sebagai aktifitas menari ketika musik reggae dimainkan.

 Hal ini disebabkan salah satu lagu legenda Reggae yakni Bob Marley berjudul Jamming yang memang menggoyang. Namun dalam lirik tersebut pun maksudnya bukan bergoyang bersama namun bermain musik bersama.

BACA JUGA: Lagu-lagu Sedih Membuat Leboih ‘Nyaman’?

Dalam pertunjukan Komunitas Rabu Langit tak bisa kita identifikasi satu genre umum dalam dunia pemanggungan teater. Ia adalah bola salju yang bergerak dari atas ke bawah, semakin jauh bergerak semakin besar bobotnya. 

Atau, ia adalah ‘pemulung makna’ yang sesekali singgah di selokan penuh sisa kotoran demi memungut barang bekas yang dinilai berharga, mengumpulkannya lalu menjadikannya berharga. 

Karena itu mungkinkah kita sebut pertunjukan Komunitas Rabu Langit sebagai pertunjukan dengan pendekatan dramaturgi Intertekstual. 

Akhir kata, penulis kira pertunjukan malam ini sebagai awal. Ibarat karya prosa, ia butuh pembersihan buih-buih, menambahkan yang perlu, mempertahankan yang penting. Dan tak ragu membuang yang dirasa perlu dibuang. 

Emas pun butuh beberapa rangkaian proses agar indah dan bercahaya. Wallahu a’lam bissawab.***

 

 




Teater Hitam Putih dan Artaud: Pertunjukan ‘Doa Chairil’ SFNLabs

SFNLabs menampilkan pertunjukan teater ‘Doa Chairil’ sutradara Syamsul Fajri Nurawat, di gedung teater tertutup Taman Budaya NTB, dalam pentas sastra Taman Budaya NTB 2022, Jum’at (22/07/22)

MATARAM.lombokjournal.com ~ Syamsul Fajri yang karib disapa Jabo adalah sutradara dan aktor teater kelahiran Mataram yang menyelesaikan studi keseniannya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung – kini Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI). 

Dalam praktik kesenian teater pasca pulang dari Bandung Jabo memiliki semangat berbeda dibanding pelaku teater lain di kota Mataram. 

Teater eksperimental pilihan SFNLabs yang hitam putih

Ia menyukai teater eksperimental. Sebuah teater yang lekat dengan beberapa tokoh besar dunia salah satunya Antonin Artaud. 

awaran berbeda yang membuat Jabo menjadi lain tercermin dalam pertunjukan ‘Doa Chairil’ pada Jum’at  (22/07) malam. Dari pilihan pengadeganan yang tak hanya minim dialog bahkan ada yang tanpa dialog. 

BACA JUGA: 50 Tahun Teater Imago, dari Anak-anak hingga Emak-emak Bahagia

Selain itu, Jabo tak membuat jeda adegan dengan pergantian lampu atau pergantian setting sebagaimana umum dalam teater melainkan menggunakan tokoh. Tokoh yang dipakai yakni seseorang mengenakan kostum wisuda sarjana dengan riasan wajah putih pekat layaknya aktor pantomim sambil memegang besi berbentuk segitiga kecil berfungsi sebagai bebunyian. 

Jabo dalam strategi pengadeganan lebih banyak menampilkan gerakan dan bunyi yang berasosiasi pada simbol-simbol tertentu semisal kemuraman, kesunyian, ketidakberdayaan dan kesedihan. 

Pun dalam lakon ‘Doa Chairil’ kali ini. Suasana suram semakin kentara dengan warna minimalis dengan hanya memakai dua warna dominan yakni hitam dan putih. Warna yang membawa impresi kita melayang jauh menuju cakrawala lama di mana si tokoh Chairil Anwar hidup dan mengembara di jalan-jalan ibu kota. 

Jabo tengah melukis gambar potret dan panggung sebagai kanvasnya. Ia memilih warna minimal yakni hitam dan putih. Warna keramat itu bertugas membawa penonton pada citra masa lalu, masa yang sama saat ‘si gajah’ Hapsah bercinta dengan lelakinya yakni binatang jalang dari Medan. 

Citra muram dengan membebaskan batas panggung dan membuat gambar adegan yang kaya simbol mengingatkan penulis pada sosok Artaud. 

Untuk diketahui Artaud adalah tokoh teater dunia yang dalam praktik keseniannya berusaha mengganti konsep teater klasik ‘borjuis’ dengan konsep yang ia namakan ‘Teater Kejam’, sebuah proyek teater eksperimental yang sangat berpengaruh terhadap teater avant-garde abad 20. 

Dalam dua buku terkenalnya Artaud mengatakan bahwa dirinya percaya peradaban telah mengubah orang menjadi makhluk sakit dan tertindas. Karenanya teater harus membebaskan manusia dari penindasan

Artaud mengusulkan dihapusnya penghalang antara aktor dan penonton dan menciptakan pertunjukan yang mencakup pengucapan mantra-mantra, suara rintihan, teriakan, efek cahaya yang menggetarkan dan tata panggung ganjil. Semua itu diyakini Artaud dapat dipakai meruntuhkan pikiran dan logika penonton agar masuk ke dalam dunia yang telah berantakan.

Sebagimana semangat tersebut Jabo memulai pertunjukannya tidak dari panggung melainkan dari bangku penonton. Para aktor duduk menyebar di antara penonton lain sehingga nyaris tak bisa dibedakan antara aktor dan penonton.  

Naskah yang diadaptasi Jabo dari puisi Chairil Anwar berjudul doa. Puisi tersebut bercerita tentang seorang anak manusia yang tengah pasrah di tengah gejolak kehidupan yang begitu mengganggu kestabilan hidupnya. Bila tak bisa lagi berpaling ke mana-mana maka “Tuhanku, di pintu-Mu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling” ucap salah seorang aktor dengan nada sendu dan dingin. Ia tak hanya sedang gelisah melainkan tengah pasrah. 

Chairil diperankan oleh beberapa aktor dengan karakter tertentu. Yang menarik adalah salah seorang aktor yang pada salah satu adegan berjalan horizontal membelah panggung dengan tatapan tajam lurus ke depan sembari sesekali menghisap rokoknya. Adegan tersebut mengingatkan kita pada foto si ‘Binatang Jalang’ yang paling populer, di mana ia tengah memegang rokok yang nyaris tandas.

Pertunjukan yang tak terlalu panjang tersebut juga mengingatkan pada tempat suci puja puji ritual agama. Bilamana puja-puji dilantunkan pada Tuhan, berharap hari depan makin gemilang. 

Di antara puja-puji itu seseorang tengah duduk dan berucap lirih “Tuhanku, dalam termangu aku masih menyebut nama-Mu. Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh. CayaMu panas suci, tinggal kerlip lilin di kelam sunyi.”

Kepada penulis Jabo mengatakan sedang pada fase yang mirip dengan yang dialami si aku di dalam puisi doa. Karena itu, pertunjukan tersebut sekaligus menjadi doa, menjadi ikrar Jabo dan para pemain menuju hari depan yang lebih baik. 

BACA JUGA: Teater Tradisi Cupak Gerantang di Ambang Punah

SFNLabs konsisten dengan teater eksperimental

Memakai bendera SFNLabs kelompok Jabo tak tampil sendiri, malam itu ada pula penampilan kelompok Rabu Langit dari Lombok Timur yang membawa lakon yang diadaptasi dari puisi WS Rendra. 

SFNLabs sendiri adalah kelompok teater yang didirikan Jabo guna menjadi wadah belajar bersama bagi pelaku teater di kota Mataram. 

Selain wadah berbagi pengetahuan SFNLabs dalam praktik berkesenian selalu menekankan eksperimental sebagai cara mereka mencari kemungkinan bentuk baru dalam dunia seni pertunjukan teater. ***

 

 




Wagub NTB Yakin MTQ di Lombok Timur Akan Sukses

Menurut Wagub NTB, yang utama dalam penyelenggaraan MTQ di Lotim adalah silaturahmi

LOTIM.lombokjournal.com ~ Penyelenggaraan MTQ di Kabupaten Lombok Timur akan sukses dengan memiliki tempat yang representatif dan indah.

Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah menyampaikan itu saat memberikan sambutan malam ta’aruf seluruh Kafilah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dari 10 Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB, bertempat di halaman Kantor Bupati Lombok Timur, Rabu (29/06/22).

Mengutip ucapan Bupati Lombok Timur, Wagub mengatakan penyelenggaraan MTQ ini sebagai ajang silaturahmi. 

BACA JUGA: Skuad Lombok FC Sudah Komplet, Yakin akan Juara Liga 3 NTB

Wagub NTB PADA MALAM TA'ARUF MTQ DI LOTIM

Menurutnya, yang paling utamanya adalah silaturahmi. Sehingga kompetisinya akan menyenangkan.

“Yang terus-menerus kita dilakukan adalah mengevaluasi bagaimana kemampuan putra putri terbaik NTB baik di tingkat Provinsi maupun ditingkat Nasional. Karena sejatinya Provinsi NTB memiliki potensi yang luar biasa. Terlebih di 10 kabupaten/Kota ini,” ungkapnya. 

Dengan potensi yang ada di 10 Kabupaten/Kota, ke depan harus terus menerus digali, dikembangkan, diwadahi, diberi ruang dan diperhatikan sehingga MTQ menjadi ajang yang membanggakan bagi Provinsi NTB.

“Mudah-mudahan MTQ kali ini betul-betul semakin menambah kebersamaan, persaudaraan, dan persatuan. Akhirnya kita memiliki energi yang semakin besar membangun NTB ke depan. Selamat berkompetisi dengan riang gembira, mudah-mudahan NTB ini berkah dan sukses,” kata wagub. .

Sementara itu, Bupati Lombok Timur Drs. H. M. Sukiman Azmy, MM., menyampaikan terimakasih atas diberikan kepercayaan oleh Pemerintah Provinsi NTB sebagai tuan rumah MTQ yang ke-29. 

BACA JUGA: Pemprov NTB Usut Tenggelamnya Kapal TKI asal NTB

Serta mengucapkan selamat datang kepada seluruh Kafilah, Dewan Hakim, dan para pendamping kafilah dari 10 kabupaten/kota se-Provinsi NTB pada MTQ ke-29 yang diselenggarakan di Kabupaten Lombok Timur.

Mudah-mudahan ajang MTQ ini, selain untuk membumikan Al-Quran sebagai tuntunan, sekaligus mempererat tali silaturahmi mewujudkan NTB yang relegius, toleran, dan menjunjung nilai-nilai islami sebagaimana tuntunan Al-Qur’anul Karim.

“Selamat berlomba bagi seluruh Kafilah, mari hidupkan Al-Qur’an dalam sanubari kita, sebagai tuntunan dan petunjuk menuju NTB yang baldatun toyyibatun warobbun gofur,” tandasnya. ***

 

 




Amtenar Band Rilis Lagu Bernuansa Religius, LABBAIK

Sambut Bulan Haji, grup band beraliran reggae Amtenar Band merilis lagi bernuansa religi, LABBAIK

MATARAM.lombokjournal.com ~ Salah satu kelompok musik yang dikenal beraliran reggae asal Kota Mataram Amtenar Band keluarkan lagu baru berjudul labbaik

Lagu bernuansa religius tersebut diniatkan sambut bulan haji tahun 2022.  

Peesonil Amtenar Band

Tahun ini banyak calon jamaah dipastikan berangkat menuju baitullah setelah beberapa tahun tertunda akibat pandemi Covid-19. 

Hal tersebut dijadikan momentum Amtenar Band merilis lagu bertema perjalanan menunaikan ibadah ke baitullah.

BACA JUGA: Lagu-lagu Sedih Membuat Lebih “Nyaman”?

Kepada lombokjournal.com, salah seorang pentolan Amtenar Band yang sekaligus pencipta lagu Ikhtiar Upayana menyebut lagu yang terinspirasi dari perjalanannya menjalankan ibadah umroh 2017 lalu bisa jadi ‘teman seperjalanan’ para jamaah menunaikan rukun Islam ke-lima. 

Lebih jauh Bang Igor, sapaan akrabnya menyampaikan kalau lagu tersebut direkam Bulan November 2021. 

Labbaik sendiri jadi salah satu ‘single’ yang masuk dalam materi ‘Triple Album Amtenar’ yakni  album religi yang berisi enam lagu yang masih dalam proses ‘mixing’.

Untuk versi audio, lagu labbaik akan tersedia di semua platform digital beberapa waktu ke depan. Sedangkan versi video klipnya telah tayang perdana di Amtenar Official Youtube beberapa waktu lalu. 

“Di luar dugaan, belum 24 jam dilaunching pihak manajemen Amtenar Band sudah dihubungi agen haji dan umroh untuk meminta ijin putar lagu ini 

sebagai backsound promo mereka,” kata Igor . 

Sebagai pencipta, Igor berharap karyanya diapresiasi masyarakat luas, bahwa syiar agama bisa dilakukan melalui beragam cara, tak terkecuali melalui musik. 

“Semoga lagu ini bisa menambah khasanah lagu religi bernuansa islami sekaligus saya sebagai pencipta lagu ingin berpesan bahwa dengan musik kita bisa menyebarkan syiar agama apa pun genre musiknya dan sekaligus mendoakan kepada semua yang mendengarkan lagu ini semoga dapat menjadi tamu Allah baik sebagai jamaah haji maupun umroh,” ungkapnya. 

BACA JUGA: Teater Tradisi Cupak Gerantang di Ambang Punah

Untuk diketahui Amtenar adalah band yang didirikan di Mataram dengan personel yang berlatar belakang pegawai negeri berdinas di Pemerintahan Kota Mataram.***

 




Teater Tradisi Cupak Gerantang di Ambang Punah

Teater tradisi Cupak Gerantang yang kerap mengisi berbagai acara hiburan masyarakat Lombok Utara, kini terancam punah

TANJUNG.lombokjournal.com ~. Pasalnya generasi yang bakal melanjukan kesenian teater tradisi Cupak Gerantang hampir tak ada lagi, terutama di kalangan pendidikan atau sekolah-sekolah.  

Tempo dulu, kesenian Cupak Gerantang ini kerap mengisi acara acara keluarga maupun acara pemerintah sebagai sarana dalam misi membawa pesan yang cukup sederhana namun bermakna.   

Teater tradisi yang hidup di Lombok
Cupak Grantang

Setidaknya ada empat karya budaya tradisional yang sering tampil di acara acara keluarga dan pemerintah yaitu, Cupak Gerantang, Wayang kulit, Rudat, Sireh, dan lain lain.

Teater tradisi Cupak Grantang adalah salah satu pertunjukan teater rakyat khas Lombok yang menceritakan dua sisi sifat buruk manusia yaitu; Cupak sifat yang yang buruk pada diri manusia, ia rakus, suka mendengki, seringkali berkhianat bahkan suka mencur.

BACA JUGA: Wayang Sasak, Media Awal Penyebaran Islam di Lombok

Dan Grantang mewakili figur yang rendah hati, jujur, budi pekertinya baik, dan tutur katanya pun sopan.

Cupak Grantang adalah pertunjukan teater tradisi yang pernah jaya pada masanya di Bali dan Lombok. Dengan perangkat alat musik yang sederhana, yakni alat musik Gerantang sebagai salah satu pengiring teater rakyat ini. 

Tokoh hitam putih

Ceritanya berpusat pada dua tokoh kakak beradik yaitu Cupak dan Grantang. Cupak mencerminkan semua sifat yang yang buruk pada manusia, yang rakus, dengki, seringkali berkhianat bahkan suka mencuri. 

Seperti karakter dalam teater tradisi yang digambarkan hitam putih. Karakter Cupak tergambar dengan topeng berwajah buruk rupa, berbadan tambun, dan gerak geriknya mencerminkan sifat culas. 

Karakter Grantang sang adik, digambarkan sebaliknya, yakni seorang yang rendah hati, jujur, budi pekertinya baik, dan tutur katanya pun sopan. 

Grantang digambarkan sebagai pemuda yang tampan, bertubuh bagai ksatria tegap namun luwes, gagah dan gerak-geriknya halus. 

Karakter Cupak dari teater tradisi
Tokoh Cupak

Satu catatan kecil, ketika dipentaskan seringkali tokoh Gerantang yang lelaki ini diperankan oleh seorang wanita, untuk memudahkan diperlihatkannya ketampanan dan gerak gerik yang halus.

Sang kakak Cupak seringkali mencurangi bahkan dalam salah satu lakon berusaha membunuh Grantang. 

Namun Grantang adalah seorang yang pemaaf dan tak pernah menyimpan dendam pada kakaknya. Hubungan di antara keduanya memang dimaksudkan untuk menggambarkan dua sifat pada manusia,baik dan buruk, yang terus mengalami pertentangan. 

Namun sebagai cerita rakyat yang mendidik, Lakon ini selalu diakhiri dengan menangnya sifat baik yang ada dalam diri manusia.

Lakon Cupak Grantang ini pada awalnya adalah sebuah bentuk seni tari topeng yang lama-kelamaan dikembangkan menjadi lakon teater tradisi, dengan tujuan menjadi media pendidikan agar mudah dicerna anak-anak, sehingga penuh dengan humor.

BACA JUGA: Desa Kumbang, Lotim, Jadi Calon Percontohan Desa Antikorupsi

Fragmen dalam pertunjukan Cupak Gerantang sebenarnya sudah sangat umum di Nusantara. 

Jaharudin (penulis) dan Raden Gedarip

Cerita tentang si baik dan si buruk berikut nasib yang menyertai dalam kehidupan mereka. Tentunya nilai-nilai seperti sangat universal dan umum. Sisipan nilai-nilai seperti ini acap ditemui dalam folklore yang ada di Nusantara.

Menurut salah seorang tokoh adat Bayan sekaligus pelaku Kesenian Cupak Geratang,  Raden Gedarip (75), pertunjukan Cupak Gerantang memiliki tema dari fragmen besar watak manusia, baik dan buruk, termasuk konflik-konflik di dalamnya. 

“Itulah mengapa saya menganggap pertunjukan Cupak Gerantang tak sekedar hiburan, fungsinya lebih jauh daripada itu, pertunjukan ini juga menjadi sarana pengingat moral, jadi sungguh filosofis,” kata Raden Gedarip, Selasa (07/06/22) .

Ia mengaku sering didatangi warga untuk tampil dalam acara tertentu, namun karena usianya yang sudah Uzur, lebih sering Ia menolak. 

Raden Gedarip sangat berharap ada pemerintah Kabupaten Lombok Utara melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, memasukkan kesenian Cupak Gurantang dalam kegiatan exrakulikuler anak anak di SMP, SMA sederajat.

“Agar teater tradisi Cupak Gerantang tidak punah ditelan zaman,” ungkapnya. ***

 




Membaca Sastra, Alternatif Menangkal Terorisme dan Radikalisasi

Narapidana terorisme yang memvaca sastra menunjukkan penurunan grafik need for closure, dan makin banyak bacaan sastra, maka grafiknya semakin menurun

lombokjournal.com ~ Banyak program deradikalisasi yang diterapkan pemerintah terhadap para narapidana terorisme (napiter). 

Di antaranya mengundang ulama untuk memberikan pidato atau ceramah dan berdiskusi bersama dengan napiter, namun belum ada yang dapat dibilang efektif

Para napiter masih meyakini ideologi radikalisme mereka.

Ikatan Psikologi Sosial (IPS) mencoba melakukan penelitian guna merumuskan langkah yang dapat menjadi alternatif program deradikalisasi, yakni penggunaan bacaan sastra untuk mengubah pola pikir para napiter.

Temuan dari hasil penelitian kami cukup menarik. Kami mendapati perubahan pola-pola pikir napiter yang membaca sastra, dari yang cenderung tertutup (close-minded) menjadi lebih terbuka.

Membaca sastra menurunkan pola pikir kaku dan close-minded

Perubahan pola pikir para narapidana terorisme pada penelitian kami diukur menggunakan skala need for closure, yaitu kecenderungan individu dalam menarik suatu kesimpulan dengan cepat pada pengambilan keputusan, serta sulit untuk menerima ketidakpastian.

BACA JUGA: Pertunjukan Wayang Botol, Edukasi Siaga Bencana

Semakin tinggi need for closure individu, maka mereka akan semakin cepat mengambil keputusan, dan tidak bisa melihat ketidakpastian yang ada. Mereka cenderung menutup berbagai pilihan saat mempertimbangkan dan menafsirkan berbagai informasi. Proses berpikir mereka tidak mampu menerima ambiguitas maupun menerima berbagai kemungkinan lain yang ada.

Membaca sastra merubah pola pikir

Konsep berpikir seperti inilah yang membuat individu dengan need for closure yang tinggi berpeluang lebih besar untuk menjadi teroris. 

Mereka seringkali menarik kesimpulan dangkal atas suatu pemahaman, atau propaganda, ditambah dengan cara berpikir mereka yang kaku dan menolak serangkaian informasi tambahan.

Melalui skema need for closure, kami melibatkan partisipan yang merupakan napiter dari dua Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), yakni Lapas I Makassar di Sulawesi Selatan, dan Lapas I Surabaya di Jawa Timur.

Bacaan yang kami berikan berupa cerita pendek yang mengandung unsur cerita dengan tema religius, kebebasan, dan tentang situasi yang penuh ketidakpastian. 

Beberapa diantaranya adalah Percakapan karya Budi Darma, Misbahul karya Budi Darma, Matinya Seorang Demonstran karya Agus Noor, Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira A, Lima Kisah Mimpi Kanak- Kanak karya Gus tf Sakai, Penafsir Kebahagiaan karya Eka Kurniawan, dan Angka Kematian karya Amir Syam.

Kami membagi responden ke dalam dua kelompok berdasarkan jumlah cerpen yang dibaca, yaitu kelompok yang membaca empat cerpen dan kelompok lainnya membaca tujuh cerpen.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa narapidana terorisme yang diberikan bacaan sastra menunjukkan penurunan grafik need for closure. Semakin banyak bacaan yang mereka baca, maka grafiknya semakin menurun. 

Jenis bacaan sastra dan frekuensi atau waktu membaca mereka juga mempengaruhi hasil grafik.

BACA JUGA: Wayang Sasak, Lalu Nasib: Tontonan dan Tuntunan Masyarakat

Dari penelitian kami dapat ditarik kesimpulan bahwa menurunkan need for closure napiter merupakan suatu langkah alternatif untuk mengubah pola pikir para mantan teroris.

Memang, rangkaian proses dan penelitian lanjutan guna membuat temuan ini lebih menjanjikan masih diperlukan, namun hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tahap awal untuk merumuskan program deradikalisasi yang lebih efektif.

Membaca sastra dan kepribadian

Sebelum kami melakukan penelitian ini pada narapidana terorisme, kami berangkat dari sejumlah penelitian terdahulu tentang sastra.

Bacaan dan kepribadian sebenarnya punya kaitan yang kuat satu sama lain. Saat ini, sudah cukup banyak penelitian yang mencoba melihat bagaimana sastra dan perilaku manusia dapat saling berkaitan satu sama lain.

Sebuah penelitian psikologi yang dilakukan Emanuele Castano dari Universitas Trento bersama David Comer Kidd dari Universitas Harvard, membuktikan bahwa bacaan sastra memberikan pengaruh dalam meningkatkan kemampuan berempati individu.

Ada pula beberapa penelitian psikologi lainnya yang mengkaji bagaimana sastra dapat mengubah kondisi psikologis seseorang, seperti penelitian yang dilakukan oleh Raymond A. Mar dari Universitas York, Inggris, Keith Oatley, dan Maja Djikic yang keduanya berasal dari Universitas Toronto, Kanada. Sastra yang baik dianggap mampu memberikan gambaran yang berfokus pada karakter manusia secara psikologis.

Sastra memberikan ruang bagi pembaca untuk membawa kesadaran psikologis tokoh ke dalam dunia nyata, melawan kehidupan yang rumit dan batin yang sulit dipahami. Secara tidak langsung, kondisi tersebut mengajak seseorang untuk memahami perasan orang lain.

Selain itu, buku sastra juga dapat memberi pengaruh yang signifikan terhadap need for closure. Individu yang memiliki need for closure yang rendah cenderung memiliki kemampuan berpikir yang lebih imajinatif dan tidak kaku. Kondisi ini berpotensi membebaskan seseorang yang terjerat dalam ideologi radikal.

Masalah budaya baca

Salah satu tantangan kita adalah budaya baca bangsa Indonesia yang rendah. Ini juga menjadi tantangan dalam upaya melawan ideologi kekerasan radikalisme sejak dini lewat karya sastra.

Sistem pendidikan kita yang hanya terpaku pada urusan kognitif semata juga sulit untuk berkontribusi dalam melawan kekerasan sedini mungkin. Ruang afektif yang membantu kita belajar untuk lebih imajinatif, empati, atau peduli terhadap sesama kerap terabaikan begitu saja.

Membaca sastra akan menjadi pilihan yang patut untuk dicoba demi menumbuhkan atau membuka ruang-ruang tersebut.

Di masa depan, kami berharap bisa memberikan temuan yang lebih menarik tentang bagaimana bacaan sastra mampu menjadi jawaban dari permasalahan program deradikalisasi yang ada.***

sumber: The Conversation

 




Lagu-lagu Sedih Membuat Lebih ‘Nyaman’?

Menyimak Album ‘30’ Adele: mengapa lagu-lagu sedih membuat kita lebih nyaman?

lombokjournal.com ~ Ratusan juta pengguna mendengarkan streaming dari single pertama dari album Adele, 30, yakni Easy On Me. Lagu yang membangkitkan perasaan yang tak mudah diungkapkan dengan kata-kata. 

Tapi kita mungkin setuju, lagu itu adalah lagu sedih. Kesukaan kita terhadap lagu-lagu sedih sebenarnya tidaklah jelas. Biasanya, kesedihan adalah perasaan yang kita coba hindari

Namun, lagu-lagu sedih menarik dan mengangkat emosi kita. Nah, mengapa mendengarkan musik sedih terasa begitu menyenangkan?

Biologi musik sedih

Menyimak lahu-lagu Adele

Mari kita mulai dengan teori biologi. Ketika kita mengalami kehilangan di kehidupan nyata, atau berempati dengan rasa sakit orang lain, hormon seperti prolaktin dan oksitosin dilepaskan dalam diri kita. Ini membantu kita mengatasi kehilangan dan rasa sakit. Hormon-hormon ini membuat kita merasa tenang, terhibur, dan merasa didukung.

Merasakan rasa sakit Adele, atau mengingat rasa sakit kita sendiri, dapat menyebabkan perubahan kimiawi dalam diri kita. Memutar lagu Adele pada aplikasi gawai bagaikan mengklik tetesan morfin metaforis kita sendiri.

Namun, teori ini masih belum dipastikan. Satu studi tidak menemukan bukti bahwa musik sedih meningkatkan kadar prolaktin. Bagaimanapun, penelitian lain telah mengisyaratkan peran prolaktin dan oksitosin dalam membuat musik sedih terasa menyenangkan.

BACA JUGA: Maestro Rudat, ZAKARIA, Bahagia dengan Seni Rudat

Psikologi musik sedih

Alasan utama kita menikmati lagu-lagu sedih adalah karena lagu itu sangat “menggugah” kita. Pengalaman ini biasanya disebut kama muta, istilah Sansekerta yang berarti “tergerak oleh cinta”. Perasaan tergerak bisa melibatkan rasa tenang, rasa merinding, luapan emosi (termasuk emosi romantis), kehangatan di dada, dan kegembiraan.

Tapi mengapa kita merasa tergerak? Penulis Amerika Serikat James Baldwin memahami hal ini ketika dia merenungkan: “Hal-hal yang paling menyiksa saya adalah hal-hal yang menghubungkan saya dengan semua orang yang hidup dan yang pernah hidup.” Begitu pula perasaan tergerak bisa datang dari perasaan kita yang tiba-tiba merasa lebih dekat dengan orang lain.

Ini mungkin menjelaskan mengapa orang yang paling mungkin merasa tergerak oleh musik sedih adalah mereka yang berempati tinggi. Ketika kita sudah mendengarkan Album 30-nya Adele, kita mungkin akan mencoba beralih ke bagian kolom reaksi atas album itu untuk melihat bagaimana perasaan orang lain. Ini memungkinkan kita berbagi pengalaman emosional dengan orang lain. Rasa berbagi bersama meningkatkan perasaan tergerak dan memicu perasaan nyaman dan memiliki.

Hal ini menunjukkan bahwa musik sedih Adele bisa menjadi teman bagi kita. Musik-musik ini bisa berperan sebagai pengganti sosial. Musik sedih bisa berperan sebagai teman imajiner yang memberikan dukungan dan empati setelah kehilangan. 

Perasaan tergerak juga dapat dihasilkan dari kenangan yang dipicu oleh momen-momen penting dalam hidup kita. Lagu-lagu Adele sangat menciptakan nostalgia. Bisa jadi, mungkin yang kita nikmati adalah nostalgia tersebut, bukan kesedihan.

Lagu-lagu sedih yang menggugah

Memang, ketika mendengarkan musik sedih, hanya sekitar 25 persen mengatakan bahwa mereka benar-benar merasa sedih. Sisanya mengalami emosi lain yang sering terkait, dan paling sering; bernostalgia. Perasaan nostalgia dapat membantu meningkatkan rasa keterhubungan sosial kita, mengurangi perasaan tidak berarti, dan mengurangi kecemasan.

Jenis teori psikologis yang sama sekali berbeda mengatakan bahwa lagu-lagu Adele bisa memberikan kebugaran emosional. Mereka memberi kita ruang yang aman dan terkendali di mana kita dapat menjelajahi kesedihan yang disimulasikan. Mereka secara emosional sama halnya dengan Neo yang bertanding dengan Morpheus dalam film Matrix.

BACA JUGA: Maestro Tari, Amaq Raya, Pernah Menari di Depan Dua Presiden

Kesedihan yang disimulasikan memungkinkan kita bereksperimen dengan dan belajar dari emosi ini. Kita dapat meningkatkan empati kita, belajar untuk lebih melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan mencoba memahami tanggapan yang berbeda-beda atas kesedihan. Ini dapat membuat kita lebih siap ketika kesedihan benar-benar hadir. Pengalaman ini kemudian berkembang menjadi menyenangkan untuk dicoba.

Memahami kesedihan

Dalam pandangan lain, bisa jadi lagu Adele dianggap kurang enak didengar karena mereka membuat sedih atau menciptakan nostalgia. Namun, lagu-lagu itu dianggap enak didengar karena liriknya indah. Dengan ini, kesedihan bisa saja terjadi bersamaan dengan keindahan. Melihat  kebajikan atau keindahan moral memang dapat memancing perasaan terangkat dari rasa jatuh dan dapat menyentuh, menggerakkan, dan menginspirasi kita.

Kita juga bisa memikirkan hal ini dalam lingkup budaya. Di sini kita dapat melihat kesenangan yang diberikan lagu-lagu Adele kepada kita, di mana liriknya membantu kita memaknai sesuatu. Adele mengambil pengalaman hidup yang sulit dan membantu kita memahaminya.

Inilah yang banyak dilakukan seni tragis. Dibutuhkan rasa sakit dan penderitaan dan kesedihan dunia, lalu memberinya makna. Seperti yang pernah dikatakan oleh filsuf Jerman Friedrich Nietzsche, seseorang yang memiliki alasan untuk hidup dapat menanggung hampir semua cara.

BACA JUGA: Wayang Sasak, Media Awal Penyebaran Islam di Lombok

Pada akhirnya, lagu Adele akan memiliki arti yang berbeda bagi masing-masing dari kita. Kita mendengarkan musik sedih ketika kita ingin berefleksi, menjadi bagian darinya, atau sekedar ingin bersantai. Kita mendengarkan itu untuk memaknai keindahan, mendapatkan kenyamanan, atau mengenang sesuatu.

Lagu-lagu sedih yang menggerakkan emosi

Bagi kita semua, lagu Adele seakan mengatakan: Anda tidak sendirian dalam kesakitan. Lagu-lagu itu membiarkan kita merasakan sakitnya, saling berbagi dengan penderitaan kita, dan terhubung dengan orang lain dari masa lalu dan masa kini. Dan dalam kebersama.***

 

 

sumber : The Conversation

penerjemah: Rachel Noorajavi




Kontingen Pesparawi NTB Didukung Maju ke Ajang Nasional 

Gubernur Zul berharap, Kontingen Pesparawi NTB di event Pesparawi Nasional XIII bukan hanya mengejar kemenangan

MATARAM.lombokjournal.com ~ Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, memberikan dukungan penuh terhadap Pekan Seni Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Provinsi NTB, yang akan berlaga di Yogjakarta pada event Pesparawi Nasional XIII pada bulan Juni.

“Pemerintah Provinsi NTB tentunya akan mendukung penuh teman-teman ini yang akan berlaga di Yogyakarta nanti di bulan Juni. Semoga kontingen ini bisa mengharumkan dan menjaga nama baik Provinsi NTB,” kata gubernur.

Kontingen Pesparawi NTB didukung Gubernur NTB

Ia mengatakan itu saat membuka sekaligus melepas Kontingen Pesparawi Provinsi NTB, di Hotel Lombok Plaza, Mataram pada Sabtu (14/05/22).

Gubernur Zul berpesan kepada seluruh kontingen agar tidak hanya mengejar kemenangan atau juara. 

BACA JUGA: Harga Jagung Anjlog, Gubernur Sarankan Dikspor  

Tapi menemukan sahabat dan mempererat tali persaudaraan juga hal yang tidak kalah pentingnya.

“Menang dan juara oke, tapi menemukan sahabat dan mempererat persaudaraan disana jauh lebih penting,” pesan Gubernur Zul..

Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) adalah bagian kegiatan pembinaan mental spiritual dan etika umat Kristen.

Sekaligus sebagai wahana perwujudan iman dalam kehidupan berjemaat, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Event Pesparawi Nasional XIII yang akan dilaksanakan di Yogyakarta akan berlangsung 17-26 Juni 2022. Untuk Provinsi NTB sendiri akan mengikuti 7 cabang dari 12 cabang yang dilombakan.

BACA JUGA: Pelakor, Kenapa Hanya Perempuan yang Disalahkan

Hadir pula menemani Gubernur NTB dalam kegiatan ini, Kakanwil Kemenag NTB, Kepala Dispora Provinsi NTB dan Kepala Biro Kesra Setda Provinsi NTB. ***