Letusan Tambora, Situasinya Tergambar Jelas di Bo’ Sangaji Kai

Situasi di hari kejadian letusan Tambora itu terbaca dengan jelas dalam Buku Catatan Kerajaan Bima atau Bo’ Sangaji Kai

lombokjournal.com ~ “Hijrat al-Nabi SAW seribu dua ratus tiga puluh genap tahun, tahun Za, pada hari Selasa waktu subuh, sehari bulan Jumadil Awal, tatkala itulah di Tanah Bima datanglah takdir Allah melakukan kodrat iradat atas hamba-Nya. Maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu, kemudian maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turun kersik batu dan abu seperti dituang, lamanya tiga hari dua malam. Maka heranlah sekalian hamba-Nya akan melihat karunia Rabbial-Alamin yang melakukan fa (cc atas) al li-ma yurid1). Setelah itu maka teranglah hari, maka melihat rumah dan tanaman sudah rusak semuanya, demikianlah adanya itu, yaitu pecah Gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad.”

Bukti dahsyatnya letusan Tambora
Kawah Gunung Tambora

Kisah ledakan maha dahsyat Gunung Tambora yang terjadi pada tahun 11 April 1815, tercatat dalam Buku Catatan Kerajaan Bima atau Bo Sangaji Kai (naskah kuno kerajaan Bima) dengan judul pada pias kiri naskah: “Alamat Pecah Gunung Tambora”. 

Inilah sepenggal kisah yang begitu singkat namun mampu menggambarkan spektakulernya letusan Gunung Tambora dengan berbagai akibatnya. 

Berita tentang letusan Gunung Tambora tahun 1815, tertulis dengan apik dan sangat mengharukan dalam Catatan Kerajaan Bima (naskah asli Bo’ Sangaji Kai), pada naskah 872).

Dari Bo’ Sangaji Kai inilah, gambaran tentang situasi di hari kejadian letusan Gunung Tambora itu terbaca dengan jelas. Seribu dua ratus tiga puluh genap tahun, tahun Za, pada hari Selasa waktu subuh, sehari bulan Jumadil Awal, merupakan catatan resmi dari naskah aslinya yang bertepatan dengan tanggal 11 April 1815 di tahun Masehi. 

Letusan itu terjadi di waktu subuh hari bahkan ketika siang tiba, matahari tidak kunjung tampak akibat abu vulkanik memenuhi langit dan menutup sinar matahari. Naskah ini mengisahkannya dengan kalimat, maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu (gelap yang sangat gelap bahkan lebih gelap dari pada malam hari). 

BACA JUGA: Letusan Gunung Tambora, Terkuat Dalam Sejarah Dunia

Bagian Bo’ Sangaji Kai yang mengisahkan tentang letusan dahsyat Gunung Tambora ini, dibacakan tahun 2015 oleh Filolog dan sejarawan, Dr. Hj. Siti Maryam Salahuddin semasa hidupnya.

“Siang gelap gulita, laksana malam, langit di atas Pulau Sumbawa berselimut gelap yang hitam pekat sehingga sinar matahari tidak tampak selama setidaknya tiga hari bahkan gelap itu sampai sekitar seminggu lamanya dimana cahaya matahari yang redup masih terasa,” ujar Siti Maryam waktu itu.

Ia menerjemahkan tulisan dari Juru Tulis Istana yang mencatatkan semua peristiwa yang terjadi kala itu dalam Bo’ Sangaji Kai.

Suara ledakannya yang begitu keras bagaikan tengah berkecamuk perang yang melepaskan tembakan-tembakan menggunakan meriam, digambarkan dengan kalimat, berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang. 

Naniek I Taufan bersama Igan S. Sutawijaya, geolog peneliti Gunung Tambora dari Pusat Geologi Bandung

Geolog Igan S. Sutawijaya, peneliti Gunung Tambora mengungkapkan bahwa dalam berbagai catatan menyebutkan gemuruh ledakan itu terdengar di berbagai wilayah di Indonesia seperti Ternate, Surabaya, Makassar dan Sumatera hingga, sejauh 2.600 kilometer.

Inilah tampaknya yang dicatat oleh juru tulis Istana Kesultanan Bima tentang bunyi letusan yang tertulis seperti meriam orang perang itu. Muntahan material yang demikian banyak menyebar lahar, batu dan abu seperti hujan yang ditumpahkan dari langit dalam waktu yang cukup panjang selama tiga hari dua malam, yang digambarkan dengan sebuah kalimat, kemudian maka turun kersik batu dan abu seperti dituang, lamanya tiga hari dua malam.

Dari cerita Dr. Siti Maryam semasa hidupnya itu (wafat 18 Maret 2017), peristiwa letusan yang disebut sebagai malapetaka yang sangat dahsyat itu terjadi menjelang akhir masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah (1773-1817). 

Gambaran kehancuran dan porak-porandanya kerajaan-kerajaan yang berada di sekitar Gunung Tambora, bahkan dua di antaranya Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat, yang berada tepat di kaki Gunung Tambora itu terkubur hingga hari ini, juga tercatat dengan rapi dalam naskah kuno tersebut. 

Setelah terang datang (tiga hari usai abu vulkanik mereda), tampaklah bahwa rumah dan tanaman sudah rusak semuanya, hancur binasa akibat letusan itu. Diketahuilah bahwa akibat yang lebih parah juga terjadi adalah “habis mati orang Tambora dan orang Pekat” (memakan korban yang sangat banyak). 

“Akibat letusan itu yang terlihat seluruh pulau Sumbawa tertutup abu, rumah-rumah hancur berantakan, ternak-ternak penduduk mati, ribuan orang meninggal dunia sebagai akibat langsung dari letusan tersebut, bahkan lahan-lahan pertanian sebagai sumber kehidupan masyarakat binasa dan tidak bisa digarap lagi. Inilah yang menyebabkan terjadinya kelaparan dan berbagai penyakit yang menambah jumlah korban meninggal. Dan akibat dari kehancuran itu, ribuan atau bahkan puluhan ribu orang yang ada di pulau Sumbawa mengungsi ke pulau-pulau terdekat,” ujarnya. 

Batu dan lainnya yang menguak letusan Tambora

Tampaknya, inilah yang kemudian dicatat oleh Heinrich Zolingger (ahli botani Swiss), sekitar 30 tahun kemudian sejak terjadinya letusan maha dahsyat itu. 

“Zollinger mereka-reka, menghitung jumlah penduduk Pulau Sumbawa pada awal tahun 1815 sekitar 170.000 orang dan musnah separuhnya akibat letusan itu, tersisa kira-kira 60.000 orang,” kata Dr. Siti Maryam.

BACA JUGA: Pemda KLU Salurkan Paket Sembako di Kecamatan Tanjung

Letusan Gunung Tambora merupakan sebuah bencana besar, bukan hanya bagi tanah leluhurnya orang Bima dan Dompu, melainkan bencana yang juga dirasakan masyarakat dunia yang terkena dampaknya. Gunung Tambora meletus dengan begitu dahsyatnya, menebar malapetaka bak monster yang menakutkan. 

Benda artefak yang sempat terkubur vulkanik Tambora
Benda-benda artefak ditemukan terkubur material vulkanik Tambora

Letusan itu juga telah mengubur peradaban dari dua Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad. Hilang tidak berbekas hingga akhirnya lebih dari 150 tahun kemudian (1815-1980-an), secara tidak sengaja sisa-sisa kehidupan di dua kerajaan yang terkubur tersebut terungkap lewat penemuan benda-benda, keramik, tembikar, peralatan rumah tangga dan lainnya di kaki Gunung Tambora. 

Kini, setelah lebih dari dua abad peristiwa itu terjadi, jejak-jejak kerusakan itu terkuak lewat berbagai penemuan artefak dan benda-benda bersejarah di kaki Gunung Tambora. Di sana ada situs Gunung Tambora, yang menyimpan sejarah tersebut dan menjadi patut untuk ditelusuri lebih lanjut. Apa yang ada di kaki Gunung Tambora hari ini, adalah berkah dari letusan yang mematikan yang terjadi 207 tahun yang lalu. ***

1) 87, catatan yang menceritakan tentang letusan gunung Tambora.  

2) Ungkapan Arab ini disebut juga dalam syair (bait 44) dan diterjemahkan         

     sebagai berikut: “Allah Ta’ala berbuat sekehendak-Nya”.




Letusan Gunung Tambora, Terkuat Dalam Sejarah Dunia 

Hari ini 207 tahun lalu, letusan Gunung Tambora tercatat terdahsyat sepanjang sejarah

lombokjournal.com ~ GUNUNG Tambora dengan kisah letusannya yang dahsyat, menyimpan daya tarik untuk dipahami lebih jauh.Tidak hanya untuk dijelajahi kawasannya melalui pendakian, juga seluruh potensi kawasan lingkar Tambora yang menjadi inspirasi. Letusan Tambora tercatat mengisahkan ledakan gunung terdahsyat sepanjang sejarah, dengan misteri yang menyertainya.

Tambora hari ini laksana magnet yang punya daya tarik untuk dijelajahi. 

Setelah menjadi kuburan massal bagi dua kerajaan yakni Pekat dan Tambora, serta meluluh-lantakkan Kerajaan Sanggar akibat  muntahan material Tambora yang luar biasa banyaknya, denyut jantung peradaban wilayah-wilayah sekitar gunung ini mendadak “mati” cukup lama. 

Membayangkan letusan Gunung Tambora

Belum ada yang tahu persis bagaimana kehidupan yang ada di tiga kerajaan tersebut pada masa dua abad yang lalu. Hingga akhirnya para ahli menguak misteri peradaban yang hilang tersebut sedikit demi sedikit. 

Bahkan ketika denyut nadi kehidupan di sekitar gunung ini mulai berdetak kembali, semua itu belum terungkap secara lengkap hingga hari ini; hingga Tambora sampai ke kita. 

Gunung Tambora, tersohor karena sejarah letusannya yang maha dahsyat di tahun 1815 lalu. Sebagai salah satu icon Nusa Tenggara Barat, gunung ini menyimpan sejarah letusan yang pernah tercatat dunia sebagai yang terdahsyat setelah Gunung Toba di Sumatera Utara (yang meletus pada zaman pra sejarah). 

BACA JUGA: Letusan Tambora, Situasinya Tergambar Jelas di Bo’ Sangaji Kai

Gunung Toba di Sumatera Utara (yang meletus pada zaman pra sejarah sekitar 74.000 tahun lalu dengan kekuatan ledak skala 8 Vei).

Berdiri di bibir kawah Gunung Tambora Sebuah lubang sangat besar yang menganga tampak dengan jelas. Itulah kawah raksasa dari Gunung Tambora yang meletus sangat dahsyat dengan ledakan yang bahkan tercatat telah memangkas separuh dari badan Gunung Tambora yang memiliki ketinggian awal 4.200 mdpl, dan kini tinggal menyisakan ketinggian 2.851 mdpl. 

Letusan yang disebut paling mematikan dalam sejarah dengan kekuatan setara 171.428 kali bom atom ini, telah meninggalkan bekas kawah raksasa berdiameter 7 kilometer dengan kedalaman kawah mencapai 1.200 meter (1.2 km) dari bibir kawahnya. 

Sebagaimana diungkapkan Igan S. Sutawijaya, geolog yang juga peneliti Gunung Tambora dari Pusat Geologi Bandung, bekas-bekas material letusan Gunung Tambora yang meletus dengan kekuatan 7 Vei (Volcanic Expolisivity Indeks), empat kali lebih dahsyat dari Gunung Krakatau 1883.

Masih terlihat hingga hari ini berupa berupa batu-batu sangat besar serta serpihan-serpihan batu menghitam yang luluh lantak karena panas awan letusan Tambora, yang mencapai 800 derajat celcius. Suhu itu mengalahkan panas awan letusan Gunung Vesuvius di Italia yang mengubur Pompeii, dengan 600 derajat celcius.

Dengan kekuatan ledak super besar itu, Tambora seperti menghempaskan emosinya secara  maksimal. Beberapa gunung pembanding adalah kisah letusan Gunung Krakatau yang menghebohkan di tahun 1883. 

Kekuatan ledak Gunung Krakatau hanya setara 21.500 kali bom atom. Gunung yang paling dekat dengan Tambora adalah Gunung Agung di Bali yang meletus 1963, kekuatan ledaknya hanya 2.600 kali bom atom. 

“Dengan skala 7 Vei, kekuatan ledakan Gunung Tambora hingga saat ini belum terpecahkan dalam sejarah letusan gunung berapi di dunia,” kata Igan. 

Sebagai salah satu dari 127 gunung api aktif di dunia yang banyak dibicarakan karena kedahsyatan ledakannya, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya menjadi kekayaan bagi bangsa Indonesia melainkan juga merupakan kekayaan dunia, khususnya dalam hal keilmuan. 

Gunung Tambora mewarnai kisah berbagai letusan gunung api yang pernah tercatat dalam sejarah dunia. 207 tahun yang lalu, Gunung Tambora yang berdiri meranggas bak pasak bagi Pulau Sumbawa ini telah memuntahkan material yang demikian banyak sampai-sampai mengubur peradaban yang ada di dua kerajaan yakni Kerajaan Tambora di Bima dan Kerajaan Pekat di Dompu.

Lokasi kedua kerajaan itu berada di bagian barat kaki gunung Tambora, dan Kerajaan Sanggar yang berada di sebelah timur gunung ini menjadi porak-poranda. 

Akibat 150 kilometer kubik material yang ditumpahkan dalam erupsi besar Tambora menyebabkan tiga kerajaan hilang, dua terkubur yakni Kerajaan Tambora dan Pekat yang menyebabkan kedua kerajaan ini terhapus dari peta pemerintahan kala itu. 

BACA JUGA: Arsitektur Rumah Tradisi di Karang Bajo, Bayan, KLU

Sedangkan Kerajaan Sanggar yang meskipun tidak terkubur akhirnya hilang juga, karena telah porak poranda dan luluh lantak sehingga menyebabkan seluruh penduduknya musnah (meninggal dan mengungsi) meninggalkan Sanggar. 

Kerajaan Sanggar menjadi wilayah yang kosong. Tidak ada kehidupan yang diatur oleh pemerintahan lagi di sana.

Igan juga mengungkapkan bahwa akibat dari letusan Tambora tidak hanya memporak-porandakan kerajaan-kerajaan yang berada di kaki gunung tersebut, melainkan juga mempengaruhi iklim dunia.  

Letusan Gunung Tambora yang menyebar abu vulkanik dan aerosol 40-60 megaton itu “mengelilingi” dunia selama hampir setahun sejak letusannya 1815 hingga 1816, menyebabkan tahun 1816 tercatat sebagai “tahun tanpa musim panas”. 

“Amerika Utara dan Eropa tertutup abu vulkanik dari letusan Gunung Tambora sehingga sinar matahari redup menyebabkan kegagalan panen yang menimbulkan kelaparan di wilayah tersebut,” ungkap Igan yang juga Penyelidik Bumi Madya dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 

Igan menambahkan, abu Gunung Tambora keliling dunia selama tiga minggu. Abu dan aerosol yang merupakan bagian dari material muntahan Gunung Tambora yang terangkat dalam kolom setinggi 43 kilometer ini bahkan menembus lapisan stratosfer sehingga dengan dorongan angin berarak mengelilingi dunia. Terkumpul di belahan bumi bagian utara.

Abu ini menutupi sinar matahari di sana yang menyebabkan eropa kehilangan musim panas. Tahun tanpa musim panas ini menyebabkan semua tanaman mati sehingga mengakibatkan kelaparan sehingga banyak yang mati.***

 

 




Dr. H.MS. Udin, MA; Makna Kalah Bagi Yang Berilmu

Ini kisah perjuangan Dr. H. MS. Udin, MA, yang mampu memberi makna kalah menjadi energi kreatif. Ia membangun pondok pesantren dengan dukungan warga desa, mendidik dan menghidupi anak yatim piatu penuh keikhlasan. Naniek I Taufan mengkisahkan ketekunan dan keikhlasan Tuan Guru Udin

MATARAM.lombokjournal.com ~ Kalah dalam sebuah konstestasi politik bukanlah akhir dari segalanya, apalagi sampai terpuruk hingga mengakibatkan kondisi stress. 

Bagi mereka yang berilmu, kalah bisa menjadi energi yang positif. 

Hal inilah yang pernah terjadi pada DR. H.MS. Udin, MA., atau yang dikenal dengan Tuan Guru Udin.

Pernah ia mengalami kekalahan saat mengikuti Pemilihan Kepala Desa Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok Barat tahun 1983. Terpikir oleh Tuan Guru Udin, pimpinan Pondok Pesantren Ishlaah Al Ummah, Batu Mulik, Desa Gapuk, Gerung untuk membangun Pondok Pesantren bagi anak yatim dan anak-anak kurang mampu. 

Kisahnya bermula, ketika itu ia masih mengemban tugas sebagai Guru SDN 4 Mataram, Tuan Guru Udin ikut Pilkades dan kalah. Pendukungnya sempat kecewa. 

Meskipun kalah, namun pendukungnya di kampung itu terbilang cukup banyak. Ia pun berfikir apa yang bisa dilakukan bersama para pendukungnya, agar kekecewaan pendukungnya tidak berlanjut. 

Setidaknya sesuatu yang bermanfaat harus dilakukan. Akhirnya energi pendukungnya diarahkan untuk membangun Madrasah yang kelak kemudian menjadi Pondok Pesantren bagi anak yatim dan anak tidak mampu. 

bisa memberi makna kalah bagu yang berilmu
Tuan Guru Udin

Bagi Tuan Guru Udin, kalah dalam pilkades justru memberikan keberkahan, bisa memelihara anak yatim dan anak tidak mampu. Tuan Guru Udin mengajarkan untuk menyikapi kekalahan dengan ilmu, sehingga kalah bisa menjadi terhormat. 

Dua tahun kemudian, 1985, madrasah ini terbentuk dengan menerima tiga kelas pertama Tsanawiyah dengan sementara menumpang ruang belajar di SDN 2 Gapuk yang tidak jauh dari rumahnya. 

BACA JUGA: Tadarus Bersama PKK NTB di Pendopo Gubernur

Pada perkembangan selanjutnya warga pun, tidak hanya pendukungnya dalam Pilkades, melainkan hampir seluruh warga desa bergotong royong untuk mewujudkan gedung Pondok Pesantren di kampung ini. Hingga akhirnya sekolah ini memiliki tanah dan gedung. 

Sejak awal pondok ini didirikan, Tuan Guru Udin yang dua kali mengikuti pendidikan S3 Sospol bidang Administrasi Publik di Untag Surabaya dan UIN Malik Ibrahim Malang bidang Manajemen Pendidikan Islam ini, memang sudah mengkhususkannya untuk anak-anak yatim dan anak kurang mampu. 

Karena itu, saat sudah memiliki tanah dan mampu membangun gedung Ponpes yang dihasilkan sebagian besarnya dari urunan para pendukungnya itu, pondok ini didirikan. Karena pembangunan pondok dananya berasal dari urunan warga sekitar, maka diwacanakan, para santri dan santriwati direkrut dari warga sekitar dan seluruh keturunan pecahan atau warga desa ini yang setidaknya sudah membangun 18 masjid di tempat-tempat tinggal mereka yang baru. 

Pondok ini mencari santri santriwatinya dari warga kampungnya yang sudah tinggal menyebar di desa lain seperti, Ketirik, Jembatan Kembar, Dasan Belo, Penimbung, Batu Timpang, Batu Samban, Lendang Jahe,  Sempolok, Keselet, Sedengat, Jelateng Timur, Jelateng Barat, Kelape, Sayung, Pekemik, Pendem, Dasan Baru, Setenggar, Mpol, Pemegatan, Timbal Kelep, Lemer, Sepi, Belongas, Sauh, Seledong, di mana warga pecahan ini sudah mendirikan masjid sendiri-sendiri. 

Anak cucu mereka inilah yang menjadi santri dan santriwati Pondok Pesantren Ishlaah Al Ummah saat ini.

Pelan tapi pasti, ponpes ini berkembang. Namun jangan berfikir bangunan pondok yang mewah seperti ponpes-ponpes lainnya. Sebab pondok ini membiayai penuh 400-an santri santriwatinya yang belajar secara gratis. 

Bahkan 115 santri santriwati yang tinggal di asrama pondok ini, selain belajar gratis juga biaya hidupnya selama di pondok juga gratis. 

Tidak mudah bagi Tuan Guru Udin yang lahir dari orang tua petani ini untuk membiayai anak-anak yatim dan anak-anak kurang mampu belajar dan hidup di pondok secara gratis. 

Keihlasannya untuk mengurus dan merawat mereka membuat dosen Universitas Islam Negeri Mataram ini harus putar otak mendapatkan biaya bagi mereka. 

Selain biaya itu datang dari kantong pribadinya, ia bersyukur selama ini selalu saja ada bantuan yang datang, yang membuat kehidupan para santri santriwati serta proses belajar mengajar berjalan dengan baik. 

Memang, makan dan minum mereka secukupnya, tidak ada yang berlebihan apalagi mewah. Tidak mudah memang membayangkan menghidupi 400 anak khususnya yang 115 penghuni asrama pondok. Pernah dan sering terjadi, pondok kehabisan beras dan makanan untuk santri santriwati bahkan pernah seminggu tak ada persediaan. 

mampu memberi makna kalah menjadi energi positif

Tuan Guru Udin pun mengais persediaan keluarganya untuk bisa memberi makan anak-anak asrama. Sejauh ini ia bersyukur sebab ada saja yang membantu di saat sulit, termasuk selama ini warga sekitar juga kerap menyumbang untuk biaya makan anak-anak pondok. 

Dana-dana dari donatur lebih banyak habis untuk biaya hidup para santri santriwati, sehingga tidak terpikirkan lebih jauh tentang bangunan gedung pondok maupun asrama yang lebih representatif. 

BACA JUGA: Sate Tanjung, Cita Rasa Kuliner Khas Lombok Utara

Saat ini, selain gedung dengan 12 ruang belajar, ada dua asrama santri dan santriwati. Asrama ini bukan asrama yang ditempati satu kamar 2 santri melainkan mereka tidur beramai-ramai. 

Para santri malah lebih sering tidur di masjid yang dibangun dari wakaf bangunan yang diberikan donatur dari Saudi Arabia beberapa tahun lalu. 

Tuan Guru Udin yang alumni LEMHANNAS tahun 2017 ini mengaku tak sampai hati menarik uang SPP, Pembangunan dan lain-lain sebab ia tahu persis kondisi anak-anak yang belajar di pondok ini. 

Seluruhnya anak tak mampu yang rata-rata yatim dengan keadaan yang menyedihkan. Tiap ajaran baru tiba, ia dan tim perekrut santri santriwati selalu turun bertemu para Kepala Dusun untuk mencari anak-anak yatim dan tidak mampu untuk belajar di pondok ini secara gratis. 

“Saya harus menyelamatkan anak-anak ini,” ujarnya. 

Kini ponpes ini telah memiliki PAUD hingga Aliyah yang berjalan dalam kesederhanaan. Pondok ini dijalankan oleh mantan Asisten 1 bidang Pemerintahan dan Kesra Pemkab Lombok Barat tersebut,  berpegang benar-benar pada kehendak Allah SWT. 

Sebab ia tidak memiliki dana yang besar apalagi tabungan yang pasti untuk membiayai 400 santri santriwati yang belajar gratis termasuk di dalamnya 115 yang tinggal di ponpes. 

saat ini makna kalah itu menjadi perkembangan

Kesabaran dan keikhlasan Tuan Guru Udin dan pengurus pondok lainnya serta yang utama adalah kehendak Sang Penciptalah yang membuat pondok ini, berjalan hingga 36 tahun. Kini, alumni pondok ini telah banyak menjadi orang yang berhasil dengan berbagai profesi. Itulah kebanggaan terbesar bagi Tuan Guru Udin yang baru-baru ini gelah mengikuti akselerasi Guru Besar UIN Surabaya ini, melihat mereka keluar dari kesulitan dan mampu membangun hidup yang lebih baik.***

 

 




Kisah Maria, Menderita Bersama Suami Tapi Tak Bisa Cerai

Ini kisah Maria yang memilukan, puluhan tahun ia menderita oleh perangai suaminya. Tapi saat ia menginginkan perceraian, selalu saja laki-laki itu memohon sambil mencium kakinya. Nasib sedih Maria dari Bima ini dikisahkan Naniek I Taufan 

MATARAM.lombokjournal.com ~ “Biarkan saja, sampai kapan dan sekuat apa dia mampu menyakiti saya, kita tunggu saja. Dia mau pergi atau pun mau pulang ke rumah, saya tidak peduli lagi,” ujar Maria sambil tertawa. 

Begitulah cara perempuan ini kini menghadapi sikap buruk suami yang dinikahinya 30 tahun lalu. Kini sikap-sikap buruk suaminya itu, ia hadapi dengan tertawa. 

Semua sakit dan hal pahit dalam perjalanan rumah tangganya, sudah lewat untuk ia tangisi. Telah habis air mata dan kesabaran serta ketabahannya berubah menjadi kepasrahan. Setelah semua usaha untuk “mengembalikan” suaminya ke pangkuannya telah ia lakukan namun gagal, kini ia menjadi lebih tenang dan menyerahkan semua kehidupannya pada Sang Pencipta. 

Dalam sujud dan doa-doanya kepada Sang Pencipta, Maria (54), bukan nama sebenarnya, selalu memanjatkan harapan agar suaminya mau berubah menjadi baik. Puluhan tahun berumah tangga, ia merasa tidak pernah mendapatkan perlakukan baik dari suaminya, Hendra (57), nama samaran, kecuali kemesraan sesaat usai mereka menikah. Sakit fisik dan psikis telah menjadi kawan baginya hampir tiap hari. 

“Tapi saya sendiri heran, kenapa saya bertahan sampai hari ini,” ungkap Maria.

Ia memang tidak habis pikir, mengapa selama ini ia bisa bertahan dengan perlakuan buruk suaminya. 

Takut ditinggal juga tidak, takut tak mendapatkan jaminan hidup, juga tidak. Karena ia sendiri memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan penghasilan tetap dan menurutnya sangat cukup untuk hidup layak dengan empat anaknya. 

Keheranannya itu akhirnya terjawab setelah ia dengan gagah berani menyatakan akan meninggalkan suaminya itu untuk bercerai pada tahun 2011 lalu. Itulah saat dimana ia sudah tidak lagi bisa mentoleransi sikap-sikap suaminya.

Ia bersiap datang ke KUA (Kantor Urusan Agama) di salah satu kota di Pulau Sumbawa tempat mereka tinggal, untuk segera menceraikan suaminya. 

BACA JUGA: Kisah ‘Primadona’ Nurul Menolak Nikah Beda Agama

Cerita ingin bercerai memang telah berkali-kali diungkap selama ini, namun pada 2011 itulah ia benar-benar serius melakukannya. Apalagi dorongan persetujuan itu juga datang dari empat anaknya yang sudah besar bahkan dua di antaranya telah menikah. 

Anak-anaknya memang menyetujui agar ibunya menceraikan ayah mereka karena kasihan pada perempuan yang melahirkan mereka itu. Mereka selalu melihat bahwa selama ini ia disia-siakan oleh ayah mereka. 

Namun belum lagi rasa percaya dirinya itu utuh ada dalam dirinya, ia harus menerima nasib kembali tak berdaya manakala suami yang menurutnya bejat itu, tiba-tiba datang memeluk kakinya, memohon agar ia tidak meninggalkannya. 

“Hendra sampai mencium kaki saya dan memohon agar saya tidak meninggalkannya saat itu,” ujarnya. 

Beberapa waktu ia sempat bingung melihat sikap suaminya itu. Hal itu akhirnya terulang beberapa kali.

 “Saya selalu tidak tega melihatnya memohon-mohon agar saya tidak menceraikannya. Ia bahkan bersumpah tidak akan mengulangi perbuatannya,” katanya.

Kisah Maria memang sulit dimengerti. Atas apa yang dialaminya, Maria sadar sepenuhnya, bahwa jika orang yang mengetahui betapa ia disakiti suaminya dengan perselingkuhan-perselingkuhan terang-terangan, tidak seorang pun bisa menerima keputusan Maria untuk kembali lagi pada suaminya tiap kali suaminya berbalik memohon padanya namun selalu mengulangi perbuatannya. 

Tidak hanya berselingkuh, suaminya juga terlalu sering kawin siri dengan banyak perempuan. Ia kerap melakukan kawin cerai. Bahkan yang terakhir ia menikah siri dengan perempuan tetangga rumahnya. Bisa dibayangkan, bagaimana sakit yang dialami Maria. 

Berbagai usaha telah ia lakukan untuk membuat suaminya betah di rumah. Salah satunya memasak makanan-makanan kesukaan suaminya. Ia bahkan bisa berdiam diri di pasar untuk memikirkan kira-kira apa yang harus ia masak untuk suaminya yang merupakan makanan kesukaannya, agar ia bisa diam di rumah. 

Timbang sana timbang sini, memilih bahan masakan, sampai ia memasak makanan paling enak khusus untuk suaminya.

“Eh…masakan itu ditoleh saja tidak apalagi dimakan,” kata Maria yang terheran-heran pada sikap suaminya yang jika di rumah istri mudanya yang nota bene tetangganya, disuguhkan makanan apa saja dengan lahap dimakan suaminya. 

Hendra memang tidak tahu diri. Ketika kelakuan bejat suaminya sudah di luar batas, Maria hanya bisa bersujud dan berdoa. Bahkan berkali-kali ia menengadahkan tangannya memohon pada Allah agar ia diberikan kehidupan baik. 

Atas apa yang dilakukannya itu, suaminya selalu sinis dengan mengatakan, sehebat apa pun ia berdoa, toh tetap tak mampu membuatnya kembali utuh padanya. 

Saking ingin suaminya berubah, ia pernah mendaftarkan suaminya tersebut untuk berangkat Umroh ke Tanah Suci. Barangkali saja ia mau berubah, begitu pikirnya. 

“Begitu ia tahu saya daftarkan namanya untuk Umroh, ia ngamuk-ngamuk dan marah karena tidak setuju. Saya heran, harusnya ia gembira kok malah ngamuk, aneh benar,” kata Maria tertawa.  

Atas apa yang dialaminya, Maria sudah menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu dalam perjalanan hidupnya. Ia bahkan dengan santai bercerita bahwa suatu waktu, ia dilabrak istri muda suaminya. 

“Saya jadi heran, harusnya kan saya yang istri tua yang melabrak istri muda. Ini terbalik, yang muda yang tidak tau diri datang melabrak saya,” katanya. 

Istri muda suaminya itu melabraknya karena suaminya tidak pernah pulang ke rumah. “Dipikirnya ada di rumah saya, padahal saya sendiri tidak tahu dia ada di mana,” kata Maria. 

Kisah ketegaran serta kepasrahan Maria ini mendapat respon beragam dari rekan-rekan kerjanya. 

Ada yang mengatakan bahwa untuk apa Maria mempertahankannya ada pula yang salut pada ketabahan Maria. Namun, bagi Maria semua usaha untuk menjadi lebih bahagia telah ia lakukan. Ia berusaha membuat suaminya kembali utuh padanya dengan berbagai cara sudah dilakukannya. 

BACA JUGA: Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika

Mengambil langkah menceraikan suaminya juga dilakukannya berkali-kali, namun semua itu gagal. Ia sendiri tak habis pikir dengan perjalanan hidupnya. 

Hanya satu hal yang ia pegang, bahwa apa yang kini dialaminya ia bagikan kepada rekan-rekan kerjanya yang jauh lebih muda darinya dalam hal perkawinan. Ia berharap agar mereka tidak mengambil contoh buruk dari perkawinannya itu. 

“Jangan sampai kalian mengalami hal seperti saya,” katanya pada rekan kerjanya. 

Maria sendiri tidak tahu apa kekurangannya sehingga suaminmya begitu tega padanya. 

Selama ini ia telah berusaha semampunya menemukan kekurangan-kekurangan dirinya agar bisa bahagia bersama suami. Kini, Maria melanjutkan kehidupannya tanpa harus memikirkan kelakuan suaminya. 

Maria kini memang bisa tertawa menghadapi kelakuan suaminya setelah di masa awal pernikahannya ia merasa sangat sakit berulang-ulang karena ulah suaminya itu. 

“Allah maha tahu apa yang terbaik untuk saya,” katanya menutup wawancara.***

 

 




MotoGP Mandalika, Cerita ‘Mengesankan’ Event Internasional

Event MotoGP Mandalika telah usai dan berlangsung sukses, tapi di balik kesuksesan itu ada juga hal-hal yang menimbulkan cerita yang menarik perhatian

MATARAM.lombokjournal.com ~ Lombok mengukir sejarah baru, setelah bertahun-tahun Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan pihak swasta sibuk menyiapkan pembangunan Sirkuit kelas dunia, akhirnya  event internasional Pertamina Grand Prix of Indonesia yang digelar 18-20 Maret 2022, usai sudah dalam suasana gegap gempita.

Kecelakaan Marquez di MottoGP Mandalika
Kecelakaan Marqez

Banyak penonton mengaku kecewa, karena Marc Marquez absen di MotoGP 2022. Pasalnya, Marc Marquez, pembalap tim Repsol Honda cedera usai mengalami kecelakaan horor di sesi pemanasan pada pagi hari, Minggu (20/03/22).

Setelah Valentino Rossi resmi menyatakan tidak tampil lagi pada ajang MotoGP, akhir tahun lalu, maka Marquez merupakan idola baru, setidaknya bagi publik Indonesia. 

Tapi apa boleh buat, pada sesi pemanasan pembalap asal Spanyol itu mengalami kecelakaan fatal pada tikungan ke-7 yang membuat dirinya terlempar sekaligus membuat motornya hancur. 

Absennya Marquez dalam MotoGP Mandalika 2022 mengecewakan publik Indonesia, seolah-olah ajang MotoGP tidak lengkap. Bahkan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, yang sempat berfoto bersama Marquez, mengaku sangat menanti performa Marquez dalam ajang MotoGP Mandalika 2022 ini.

Tidak turunnya Marquez, salah satu yang digadang-gadang menjadi juara adalah Miguel Olivier. Benar juga, Miguel Oliveira menjuarai MotoGP Mandalika 2022 yang mencapai finish dengan dengan catatan waktu tercepat 33 menit 27,223 detik, gelar pertama yang diraihnya setelah menjuarai GP Catalunya pada Juni 2021. 

Juara MotoGP Mandalika 2022
Miguel Oliveira

Memang Miguel Oliveira patut dapat acungan jempol. Aksinya cukup mencengangkan mengingat memulai balapan di posisi start kelima, tapi saat lampu hijau menyala, Oliveira menyalip ke kiri untuk melewati empat pembalap lainnya hingga menempati posisi pertama sampai akhir balapan.

BACA JUGA: MotoGP Mandalika 2022, Catatan Event Internasional di Lombok (1)

Dan andalan Yamaha, Fabio Quartararo naik podium menjadi juara kedua. Disusul J. Zarzo dari Ducati yang menempati posisi ketiga.

SERBA SERBI

Di tengah gegap gempita perhelatan MotoGP Mandalika 2022, banyak hal menarik untuk menjadi cerita dan catatan usai event balapan motor kelas dunia itu. Ini kutipan dari yang dialami netizen, penonton, wartawan, dan beberapa pihak yang dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan kabar MotoGP.

Kegesitan Para Marshall

Peran para Marshal di Sirkuit Mandalika sempat jadi perhatian, Sebelum perhelatan berlangsung, para Marshal lokal yakni petugas yang membantu di area lintasan saat terjadi insiden dalam balapan, dinilai tidak becus alias tidak profesional bekerja.

Marshal di MotoGP Mandalika
Marshal sedang bertugas

Tapi saat perhelatan MotoGP berlangsung, kegesitan para marshal mendapat pujian. Pujian itu datangnya dari Race Director MotoGP Mike Webb, mengaku puas kecakapan dan kecepatan marshal.

Para marshal sangat cakap dan cekatan dalam membersihkan permukaan lintasan. Dikutip dari D katadata.co.id terdapat 360 marshal yang disiapkan dalam balapan MotoGP Mandalika 2022 di Lombok. Mereka terdiri dari unsur Karang Taruna Kecamatan Pujut, Brimob Polda NTB, rescuer Basarnas, dan pendamping beberapa marshal dari Malaysia.

Mereka menunjukkan peningkatan kemampuan pesat sejak pertama dipekerjakan dalam ajang MotoGP di Indonesia.

Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria di Sirkuit Mandalika, Minggu (20/03) mencontohkan, salah satu insiden besar, ketika bagian bawah motor Alex Rins (Suzuki Ecstar) mengeluarkan api setelah Tikungan 12. Alex kemudian meninggalkan motornya di Tikungan 13. Insiden tersebut meninggalkan cukup banyak oli di lintasan, dan para marshal yang sebagian sudah bertugas di Mandalika sejak World Superbike (WSBK) pada 19 – 21 November 2021 lalu, bergerak cepat.

Para Marshal memadamkan api, mengangkat serpihan, dan membersihkan lintasan dari oli sehingga sesi bisa dilanjutkan. itu salah satu contoh, banyak yang lainnya membuat pengetahuan para marshal lokal dinilai jauh berkembang setelah mendapatkan masukan dari beberapa marshal Malaysia yang dibawa untuk berbagi pengalaman.

TGB nonton dari tribun

TGB nonton MotoGP Mandalika di tribun
TGB Nonton di Tribun B

Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode, TGH. Zainul Majdi memilih menonton di tribun B yang tiketnya berharga murah. Penonton di tribun kalau turun hujan harus siap dengan mantel hujan, kalau tidak harus siap basah kuyup, Untung TGH. Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) yang menonton bersama istrinya, mengenakan mantel hujan. Pertanyaannya, kenapa TGB menonton di tribun? Bukankah TGB punya andil besar sehingga terwujudnya Sirkuit Mandalika, dan ia patut mendapat perhatian khusus untuk duduk di ruang VIP. 

Netizen menulis di Facebook, bagaimana TGB mengatasi kesulitan dalam pengalihan lahan Mandalika yang saat itu dikuasai swasta (PTAN), lalu dipindahkan ke BUMN. TGB juga berperanan meyakinkan Dorna Sport bahwa proyek Mandalika ini adalah prospek. Belum lagi  saat itu harus meyakinkan Presiden Joko Widodo, karena saat itu Proyek Mandalika harus bersaing dengan Provinsi lain seperti Jabar, Sumatera dan Lampung. Bahkan nyaris saja sirkuit dibangun di Palembang, karena Gubernur Sumatera Selatan (saat itu) Alex Noerdin, sudah maju satu langkah, mulai pembebasan tanah.

BACA JUGA: Hari Minggu, Sirkuit Mandalika Dihadiri Penonton Istimewa

Pembuat status di FB itu duduk di samping TGB di tribun, ia tahu persis pihak Dorna Sport mendatangi TGB dan mengajaknya masuk ke ruang VVIP, demikian juga Paspampres membisiki kalau Pak Jokowi mengajaknya bersama di ruang khusus. Tapi TGB lebih memilih tetap menonton di tribun B. 

Adakah sesuatu yang membuat TGB ‘galau’ sehingga ia memilih tetap kekeh menonton dari tribun B? 

Pawang hujan impor

Seorang Netizen mencatat Raden Rara Isti Wulandari, pawang hujan asal Denpasar Bali – yang mengaku diundang para penggede di ITDC untuk menjinakkan hujan – ternyata lebih trending dari kabar kecelakaan Marc Marquez.

Ternyata Rara yang bisa blak-blakan bicara tentang dirinya itu bukan sembarang pawang hujan. Ia mengaku sebagai pawang hujan kaliber internasional, karena terbukti mampu ‘merekayasa’ cuaca di event besar, contohnya Asian Games 2018. 

Rara pawang hujan MotoGP Mandalika
Rara, pawang hujan

Rara sempat ‘didiskriminasi’, karena sebagian publik Lombok menyesalkan pihak yang ‘mengimpor’ Rara dari Bali, padahal pawang hujan lokal banyak yang tak kalah ampuhnya.

Rara sendiri mengaku, sebenarnya hujan yang mengguyur arena Sirkuit Mandalika itu memang harapan pihak penyelenggara, khususnya tim teknis dari luar negeri. Dengan turunnya hujan, suhu aspal sirkuit tidak tinggi, maksimal 50 derajat. Nah, apakah Rara juga mendapat tugas menurunkan hujan? 

Netizen menulis Rara telah menjadi bagian dari sejarah penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2022. Setelah hujan lebat dan petir sempat menyambar arena sirkuit, setelah itu balapan MotoGP berlanjut setelah cuaca ‘terkendali’. Apakah Rara memang bisa mengendalikan cuaca?

Yang jelas, Tuhan Maha Penyayang. Selalu mengabulkan doa baik mahlukNya.

Mana bus penjemput?

Soal transportasi bus, baik yang hendak mengangkut penonton berangkat menuju Mandalika dan sebaliknya yang balik mengantar pulang, sempat menimbulkan kericuhan. 

Penonton MotoGP Mandalika ricuh

Padahal sebelumnya, pihak Dinas Perhubungan NTB yang didukung oleh Kementerian Perhubungan Indonesia yang menyediakan bus gratis mengatakan, shuttle Bus bergerak dari masing masing simpul transportasi dengan jam operasional yang telah ditetapkan.

Dishub NTB telah merilis rute bus gratis ke Sirkuit Mandalika dan waktu penjemputan serta pengantarannya, dan sebaliknya dari Mandalika balik ke tempat semula. Selain itu, bus gratis juga akan mengantarkan penonton MotoGP Mandalika pada 7 rute dari parkir barat dan parkir timur menuju gate 1, gate 2, dan gate 3 Sirkuit Mandalika.

Bahkan Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi memastikan, untuk mensukseskan seri II MotoGP Mandalika, Presiden Joko Widodo memerintahkan semua harus berjalan dengan baik, sebab ini merupakan momentum bagi  Indonesia agar semakin mendunia. 

“Misi presiden membuat Indonesia makin mendunia. Kami dapat perintah untuk memastikan semua (transportasi-red) harus berjalan baik. Kami harus serius,” ungkap Budi Karya Sumadi. Sebab, transportasi bagi para penonton ini memang menjadi masalah krusial yang harus dipastikan berjalan baik. 

Tapi nyatanya, banyak penonton yang mengaku tiba di rumah sampai larut malam. Tentu banyak penyebabnya,salah satunya banyaknya kendaraan yang lalu lalang di area Mandalika itu menyebabkan kemacetan. 

Terus di event sebesar ini, yang juga dihadiri Presiden Jokowi, bagaimana pihak mengatur arus lalu lintas. Kalau penonton terlantar, baik saat berangkat maupun hendak pulang, tanggung jawab siapa ya.

Ojek di MotoGP MandalikaALIKA

Usai perhelatan MotoGP, penonton yang seharusnya  dijemput menuju ke Parkir Barat atau ke Parkir Timur, harus menunggu sampai larut malam. Sebagian beruntung bisa menumpang ojek dengan biaya Rp 50 ribu ke Parkir Barat atau Rp100 ribu ke Parkir Timur. 

Setelah sampai ke ke Parkir Barat/Timur pun bukan serta merta para penonton mendapat angkutan pulang.***

 




Kisah ‘Primadona’ Nurul, Menolak Menikah Beda Agama

Gadis yang masa mudanya menjadi primadona di kotanya itu, kini telah menjalani masa tuanya, Di bawah terik matahari yang membakar kulit, Nurul (67), duduk di pinggiran sawah. Ia beristirahat di bawah sebuah pohon sambil menikmati sebotol air putih yang ia bawa dari rumahnya, bersama suaminya, Rahman (70)

lombokjournal.com ~ Inilah keseharian perempuan yang di masa mudanya bagai primadona di kotanya, menjadi idola para pria karena kecantikan dan kekayaannya. Lahir dari keluarga berada, bahkan bisa dikatakan kaya raya.

Tak heran kalau masa muda Nurul menjadi Primadona di kotanya. Banyak pria berpangkat termasuk yang memangku jabatan “tergila-gila” padanya. Namun, itu masa lalu Nurul. Kisah yang menghampiri hidupnya setengah abad yang lalu. Tubuh dan kulitnya yang dahulu putih dan mulus, kini tinggalah keriput yang menghitam akibat sengatan matahari yang tiap hari membakarnya.

Karena patah hati, Nurul pulang kampung di sebuah desa terpencil di Pulau Sumbawa dan memilih menikah dengan kerabatnya yang seorang petani. Sejak itulah, puluhan tahun ia menerima nasibnya menjadi seorang petani.

Perjalanan hidup yang penuh ironi, sempat membuatnya shock ketika pertama kali menyadari bahwa ia telah memilih menikah dengan pemuda kampung yang beda dengan pria-pria kota yang parlente yang pernah ia kenal. Namun, makin lama ia berpasrah diri, makin ia bisa menerima keadaannya itu meski terkadang ia sedikit minder.

Ketika ia memutuskan mengikuti kakaknya tinggal di Bandung, Jawa Barat, sekitar 40-an tahun yang lalu, ia menikmati kehidupan kota besar yang membawanya pada pergaulan berkelas.
Keputusan kakaknya untuk membawa Nurul ke Bandung kala itu lebih karena di Pulau Sumbawa tempatnya tinggal, ia banyak disukai para pria. Ia memang dikenal sebagai seorang perempuan cantik dan menawan.

“Istilah sekarang, di kota kecil tempatnya tinggal Bibi Nurul menjadi role model. Apa yang dipakainya akan diikuti orang lain. Begitu juga dengan gaya rambut dan model pakaiannya. Jika memakai sanggul, miring seinci pun akan membuat ia berdandan berjam-jam, seolah tiada habisnya jika dandannya tidak sempurna,” ungkap Rahmi, salah seorang keponakannya.

Cantik, menawan, pintar dan dikenal membuat banyak pria menyimpan hati padanya.
Namun Nurul seperti tidak bersemangat untuk pacaran. Hingga suatu hari seorang pria dengan kedudukan jabatan yang baik nekad datang melamarnya pada kakaknya karena kala itu orang tua mereka telah meninggal dunia.

BACA JUGA: Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Puteri Mandalika

Karena ia merasa tidak menyimpan hati untuk pria tersebut ia menolak. Penolakannya itu membuat si pria nekad dan memilih melarikannya. Beruntung, pria tersebut baik hati karena terlalu mencintainya sehingga Nurul tidak mengalami pelecehan atau lainnya.

Selama dua hari dilarikan pria itu, Nurul baik-baik dan aman saja. Nurul sendiri tidak marah pada pria itu karena ia tahu pria itu mencintainya apalagi dia memperlakukannya dengan baik selama “pelarian” itu.
“Kejadian itu bikin heboh di kota kecil tempat Bibi Nurul tinggal,” kata Rahmi.

Kisah itu sempat membuat beberapa pria yang juga menyukai Nurul “patah hati”. Melihat situasi demikian, kakak Nurul akhirnya membawa Nurul tinggal bersamanya di Bandung.
Di sana, Nurul melanjutkan sekolah guru TK-nya dan dengan mudah masuk dan bergaul meski pun itu kota besar. Ia banyak memiliki kawan-kawan hingga konon ia berkawan dengan orang-orang berkelas.

“Bibi Nurul punya pacar seorang pilot, tampan dan baik,” kata Rahmi. Mereka menjalin hubungan cukup lama bahkan hingga sekolah Nurul selesai.

Suatu hari, di saat sang pilot berlibur dan mengunjunginya di Bandung, mereka pun jalan-jalan bersama. Mereka berdua sengaja naik becak berkeliling kota. Di tengah jalan, Nurul di lamar oleh kekasihnya.
Alangkah senang hati Nurul mendengarnya. Obrolan pun berlanjut hingga ke rencana pernikahan yang rupanya mereka sepakati bersama.
Kedua sejoli ini larut suka cita karena keduanya merasa bahwa cinta mereka segera bersatu. Seluruh kesepakatan mereka buat sambil meneruskan naik becak bersama. Termasuk soal waktu sang pilot yang tidak setiap waktu bisa bersamanya karena harus terbang dari satu kota ke kota lainnya.

Setelah semua sepakat, tibalah waktunya mereka membahas soal tempat pernikahan.
“Di sanalah Bibi Nurul baru tahu kalau calon suaminya itu beda agama,” kata Rahmi.

Nurul sesaat tersentak dan diam. Selama mereka berhubungan, karena jarang bertemu, ia memang tidak pernah bertanya soal agama. Yang ada di kepalanya laki-laki itu Muslim, seagama dengannya karena tiap kali ketemu ia selalu mengucapkan salam dan sapaan-sapaan keseharian seorang Muslim.

Nurul tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya dan langsung menyampaikan keberatannya pada calon suaminya jika harus menikah di luar cara Islam. Di lain pihak, rupanya calon suaminya pun bertahan bahwa ia tetap ingin menikah memakai cara agamanya.

Sempat terjadi percekcokan hingga akhirnya Nurul pulang dalam keadaan menangis. Nurul mengurung diri di kamar beberapa hari tidak keluar. Matanya sembab dan ia murung. Hingga akhirnya kepada kakaknya ia minta pulang ke kampung.

Oleh kakaknya sebenarnya mereka telah dipertemukan untuk bisa bicara lebih jauh dalam diskusi dengan kepala dingin. Rupanya diskusi itu mentok karena masing-masing bertahan dengan agama yang dianutnya. Pembicaraan yang menemui jalan buntu itu, akhirnya membuat Nurul tetap memutuskan pulang kampung.

Lari dan bersembunyi dari calon suaminya. Ia memilih tempat yang sangat jauh dan terpencil, di sebuah kampung asal ibunya. Padahal ibunya sendiri belum pernah tinggal di kampung tersebut karena sejak kecil telah tinggal di kota.

Tanpa pikir panjang, ia tidak ingin lagi berurusan dengan banyak pria yang juga dulu “memperebutkannya” ditambah lagi ia tak ingin calon suaminya itu menemukannya, ia minta dinikahkan dengan keluarganya yang tinggal di desa itu.
Tentu saja, pemuda yang telah memberinya tiga orang anak itu, seperti ketiban bulan, rezeki yang tidak pernah diduganya. Pernikahan mereka berjalan mulus dan Nurul menyerahkan nasibnya pada suami yang seorang petani.

Saat pulang dari Bandung, Nurul tidak kembali ke kota tempat mereka tinggal bersama orangtuanya melainkan ia pulang kampung. Hal itu dilakukannya karena Nurul sudah tidak memiliki apa-apa.
Harta kekayaan orangtuanya yang banyak, tidak ditemuinya lagi. Beberapa toko, rumah dan aset-aset lain milik saudagar ini telah dikuasai oleh  saudara-saudaranya (paman-paman Nurul).

Sebelum ayah dan ibunya meninggal, toko sembako terbesar milik mereka di kota itu, terbakar habis tak meninggalkan sisa sama sekali.
Awalnya kondisi ekonomi mereka tidak terganggu dengan terbakarnya toko tersebut karena masih memiliki aset-aset lainnya. Situasi mulai berubah setelah orangtuanya meninggal.

Seperti dalam sinetron-sinetron, harta mereka “dirampas” dan diakui oleh paman-pamannya yang tinggal di kota itu. Benar-benar tidak ada sedikit pun yang tersisa untuk mereka. Kakak beradik itu pun memilih pergi dari kota tersebut tanpa membawa apa-apa.

Mereka tidak sedikit pun mendapatkan hak-hak dari harta yang ditinggalkan oleh orang tua mereka.

BACA JUGA: Basri, Kakek yang Pantang Menyerah Meraih Sarjana

“Allah kan maha tahu dan maha melihat,” ujar Nurul pelan sambil tersenyum dan menyiangi padi di sawahnya.
Nurul dan kakaknya ikhlas atas apa yang dilakukan oleh paman mereka. Kedua anak yatim piatu itu akhirnya memilih pergi mencari kehidupan sendiri di luar kota. Begitu kembali ke kota itu mereka sama sekali tidak menemukan secuil pun dari harta orangtua mereka.

Sejak itulah ia diambil kakaknya untuk tinggal di Bandung beberapa tahun hingga akhirnya Nurul memilih kembali ke kampung asal ibunya dan menikah. Segala dendam dan sakit hati atas berbagai peristiwa perjalanan hidupnya, telah hilang.

Ia menerima kehidupannya hari ini sepahit apa pun itu.

Selama obrolan, Nurul memang tidak banyak bicara, ia hanya tersenyum-senyum saja, ketika keponakannya menceritakan kisahnya. Satu hal yang selalu ia katakan pada keponakan-keponakannya, hidup ini adalah pilihan. Jalani apa yang menjadi pilihan itu dalam keikhlasan lalu nikmati dengan ketulusan.

Nurul, perempuan dengan pesona yang indah telah memilih hidup sebagai seorang petani dalam keikhlasan dan kesabaran menjalani hari-harinya. Sesekali, beberapa pria yang pernah sangat menyukainya, kerap bertanya tentang keberadaannya pada keponakannya ini.

Ketika menghilang, Nurul tidak main-main. Meski ia selalu menjadi trendsetter di kota tempatnya tinggal, ia tidak segan bersembunyi di tempat yang tidak bisa dijangkau orang lain.
Ia lari dan bersembunyi dari dunia yang pernah menawarkan “keindahan hidup” tersebut demi satu pilihan yang selalu dijalaninya dengan ikhlas dan sabar.***




Kisah Anak Majikan, Jadi Supir Tak Beruntung di Arab Saudi

Kisah dan pengalaman Haris (34), saat bekerja sebagai TKI di Riyadh Arab Saudi, memberikan gambaran, tidak hanya TKW yang mengalami perlakuan buruk dari majikan. Naniek I Taufan menuliskan kisah nasib tak beruntung  seorang TKI

MATARAM.lombokjournal.com ~ Haris yang memilih melarikan diri dari rumah majikannya mengalami banyak hal tidak menyenangkan selama hampir tiga tahun menjadi TKI di negeri tersebut. 

Sebagai orang yang pernah hidup berlebihan saat ayahnya yang tinggal di Pulau Sumbawa kaya raya, ia pernah merasakan menjadi majikan. Namun, ketika usaha ayahnya terus surut, membuat ia memutuskan bekerja sebagai TKI demi kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Ia pun rela saban hari diperintah untuk melakukan segudang aktivitas bekerja. Inilah kisah anak majikan yang akhirnya menjadi supir.

Perjalanan hidup manusia tidak selamanya berada di atas melainkan berputar. Dan ini pasti dialami oleh semua orang. Roda kehidupan itu akan terus berputar, hari ini susah besok atau ke depannya belum tentu susah terus namun bisa mendapat kesenangan. Demikian pula sebaliknya, hari ini senang besok dan selanjutnya belum tentu selalu senang, bisa jadi susah. Itulah yang dialami oleh Haris. Ia tinggal bersama orangtua yang berada dan memiliki banyak anak buah yang juga siap mengantarkan ia ke mana-mana. Lalu ketika ia bekerja di Riyadh Arab Saudi pada tahun 2012-2016  hal itu berbalik, Harislah yang mengantar anak-anak majikannya ke mana-mana. Ia menjadi supir pada sebuah keluarga berada di negeri Arab.

Kisah memilukan pekerja migran
TKW yang dikabarkan hilang di Arab Saudi

Masa kecil Haris sangatlah bahagia. Ia dibesarkan dalam lingkungan berkecukupan dari ayah yang seorang pengusaha. Kehidupannya bersama kedua orang tua dan tiga saudaranya yang lain, jauh dari kekurangan. Bisa dibilang, semua hal yang diinginkannya bisa dibeli oleh ayahnya, pakaian, kendaraan hingga mobil dengan mudah bisa didapatkan. Saat kejayaan orang tuanya itu, ia nikmati sejak lahir hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).  Namun pada masa SMA, usaha ayahnya sedikit demi sedikit mulai surut. 

“Awalnya memang belum terasa karena ayah punya cukup banyak tabungan saat itu,” kata Haris sambil tersenyum. 

Di masa mulai surut usaha ayahnya, Haris dan saudara-saudaranya masih belum merasakan kekurangan karena tabungan ayahnya masih mampu menopang kehidupan ekonomi mereka. Tapi sejauh mana tabungan itu kuat menopang kebiasaan hidup mewah mereka sekeluarga dengan kejatuhan ekonomi yang semakin hari semakin parah, membuat ayahnya menyerah. “Tanah-tanah, mobil-mobil dan kendaraan lain serta rumah-rumah kami, mulai terjual satu persatu untuk menyambung kebutuhan sehari-hari, hingga tidak bersisa sama sekali,” ujarnya. 

BACA JUGA: Ini Juga Emansipasi, Suami Camat Kayangan Jadi Ketua TP PKK

Hanya dalam waktu lima tahun, harta mereka plus tabungan ayahnya, ludes untuk keperluan sehari-hari termasuk biaya sekolah mereka dan kuliah kakak sulungnya yang hidup mewah di perantauan. Kejatuhan itu terasa sangat memukul mereka. Kakak sulungnya itu pun akhirnya tidak melanjutkan kuliah sedangkan ia berhenti setelah lulus SMA dan dua adiknya hanya sampai tamat sekolah dasar karena memilih bekerja. Dari hasil penjualan aset ayahnya, mereka dibekali masing-masing uang yang diserahkan untuk dikelola sendiri-sendiri. Lagi-lagi, kebiasaan hidup enak menyeret uang tersebut sampai habis tak bersisa. Rani, kakak sulungnya menikah dan terpaksa harus bekerja banting tulang berjualan di pasar. Pekerjaan yang jauh dari basis kehidupan mereka. 

“Kak Rani orang yang gengsian itu akhirnya mau tidak mau memilih berjualan ikan di pasar tradisional,” katanya. 

Rani sendiri berujar bahwa untuk dapat makan sehari-hari, gengsi tidak bisa menyelesaikan masalah. Maka ia memilih dengan segala rasa malu yang harus ia lawan, berjualan di pasar. Haris sendiri setelah menikah tidak tahu harus berbuat apa. Sementara kedua adiknya yang hanya lulus SD itu, ikut bekas anak buah ayahnya bekerja apa saja ke sana kemari. 

Atas keinginan kembali hidup yang lebih baik, Haris pun memutuskan meninggalkan Pulau Sumbawa, berangkat ke Riyadh, setelah sebelumnya kena tipu perekrut tenaga kerja sehingga uang hasil pembagian dari penjualan aset ayahnya habis tak tersisa. Tahun 2010, setelah menjalankan karantina selama dua bulan di Jakarta dan membayar Rp 11 juta, tepatnya di bulan Desember, Haris berangkat ke Riyadh untuk menjadi seorang supir dari keluarga purnawirawan polisi di sana. 

Keluarga ini termasuk keluarga besar karena memiliki tujuh orang anak (4 laki-laki dan 3 perempuan). Mereka memiliki beberapa mobil dan Haris bertanggung jawab mengurus dua mobil dan menjadi supir untuk tiga anak perempuannya. Berbagai perilaku majikan dan anak-anaknya ini merepotkannya sejak pertama kali ia bekerja. Dua anaknya sekolah dan kuliah sedangkan satu anak lagi adalah seorang janda yang menurut Haris, “nakal”. 

“Ini yang paling bikin repot. Suka melanggar aturan keluarga senang pergi ke tempat hiburan bahkan hingga dini hari,” katanya. 

Hari-harinya bekerja sebagai supir selalu kena marah dan caci maki. Tidak jarang ia kena pukulan. Pasalnya, ia jadi tidak mengerti harus mengikuti aturan yang mana. Orang tua bilang anak-anak tidak boleh pulang dini hari sedangkan anak-anak memaksanya untuk mengantar hingga waktu yang tidak terbatas. 

“Ikut kata orang tua, anaknya yang kasar dan main pukul jika saya menolak. Ikut kata anaknya, orang tuanya yang menganiaya saya dan dikatakan melanggar aturan,” ujarnya. 

Yang lebih parah menurutnya, anak majikannya ini kerap kali menaikkan laki-laki di tengah jalan ke dalam mobilnya. 

“Nanti mereka masuk mall dan pulangnya dini hari. Saya harus menunggu di parkiran semalaman,” ujarnya.

Sudah capek mengurus anak majikan yang selalu keluar tanpa jeda, ia juga harus mengantar jemput kedua anak lainnya sampai ke acara jalan-jalan ke mall atau ke rumah kawannya. Jam kerja yang ditentukan sesuai kontrak, tidak lagi berlaku. Dengan gaji hanya sekitar Rp 2.5 juta, Haris bekerja siang malam, hampir 24 jam. 

“Jika ingin istirahat tidur sebentar saja, HP harus selalu di bawah telinga, karena jika ada telepon ia harus segera bangkit tidak ada alasan apa pun apalagi ngantuk dan istirahat,” katanya. 

Haris tinggal di bagian depan rumah tersebut dekat satpam. Ia sama sekali tidak diperbolehkan masuk rumah. Ia hanya bisa ketemu dengan pembantu rumah tangga yang orang Jawa Timur, saat mereka keluar untuk buang sampah. 

Haris merasa benar-benar tenaganya habis. Makan juga tidak teratur. Selama bekerja di sana, para pembantu rumah tangga dan supir serta satpam, diberi makanan sisa mereka. Karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan majikan yang makin hari makin sering memukulnya, ia pun melawan dan meminta berhenti bekerja saat kontrak kerjanya dua tahun berakhir. 

“Tapi majikan tidak mengizinkan saya berhenti, paspor, KTP dan semua surat-surat saya ditahan,” katanya. 

Mereka hanya berjanji saja, selalu bulan depan atau liburan sekolah ia baru diizinkan berhenti bekerja. Jika saja perlakuan mereka baik, kemungkinan Haris masih mau bertahan untuk bekerja, tapi mengingat buruknya perlakuan tersebut, ia memilih kabur dari rumah majikannya, setelah setahun tertahan. 

Suatu hari ia memberanikan diri melarikan diri dari rumah majikannya setelah bertengkar hebat melawan majikannya itu. Diam-diam ia lari meminta pertolongan pada perwakilan perusahaan yang “menjualnya” pada keluarga itu yang ada di Riyadh. Namun tidak diurus sama sekali. Ia diminta melapor pada polisi setempat (seperti Polsek). 

Sialnya, salah seorang anak majikannya yang seorang polisi malah memaki dan mengusirnya. Ia juga datang ke imigrasi untuk mengurus kepulangan, juga terdapat salah seorang kerabat majikannya. Pengurusan surat-suratnya dipersulit sedemikian rupa. 

BACA JUGA: Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika

Maka luntang-lantunglah ia sampai akhirnya ia lari ke KJRI Riyadh. Tiba di sana, ia meminta perlindungan dan menceritakan semua permasalahannya serta ia menginformasikan bahwa masa kontraknya telah habis dan ia ingin kembali ke Indonesia.

“Sempat diurus oleh KJRI sampai mendatangi rumah majikan saya. Tapi perlakuan majikan saya pada staf KJRI yang mengantar saya untuk meminta surat-surat saya agar saya bisa pulang ke Indonesia, sangat kasar dan tidak menghargai. Kami malah dicaci maki dengan kata-kata tidak pantas,” katanya. 

Ia dan staf KJRI pun pulang dengan tangan hampa. Empat bulan ia tinggal di penampungan KJRI Riyadh menunggu agar semua surat-surat kepulangannya dapat diurus. Sampai akhirnya, Desember 2016, ia dapat kembali di tanah air. Haris bersyukur dapat kembali berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan selamat mengingat terlalu banyak kisah sedih rekan-rekannya sesama TKI di luar negeri yang hingga saat ini tidak bisa pulang karena berbagai persoalan. Ia mengaku tidak berminat lagi bekerja di luar negeri. 

“Apa pun pekerjaan akan saya lakukan di kampung halaman ini, agar saya bisa berkumpul dengan anak dan istri,” katanya.***

 




Bau Nyale, Ini Kisah Drama Cinta Putri Mandalika

Festival Bau Nyale yang diselengarakan tiap tahun di Lombok Tengah menyimpan cerita menarik tentang legenda Puteri Mandalika. Beberapa tulisan dari Nanik I Taufan mendeskripsikan Festival Bau Nyale dari beberapa sisi lain, untuk memahami lebih jauh event yang baru saja berlangsung

MATARAM.lombokjournal.com ~ Di atas bukit Batu Angkus yang terletak di bibir Pantai Seger, Kuta Lombok Tengah, seorang perempuan jelita berdiri putus asa. Di sekitarnya ada beberapa lelaki (Pangeran) yang siap menanti satu keputusan darinya. Dan ketika waktu yang ditunggu itu tiba, bicaralah ia kepada mereka.

Wahai para pangeran dan rakyatku, aku tidak akan memilih satu dari para pangeran yang melamarku. Demi kebaikan bersama, demi kedamaian negeri ini, aku tidak memilih seorang pun dari kalian. Aku akan menjadi milik semua orang. Jika kalian mencintaiku, temui aku di tempat ini pada tanggal 20 bulan 10 setiap purnama tiba”.

Bau Nyale merupakan jelmaan Putri Mandalika
Personifikasi Puteri Mandalika

Dalam legendanya, beginilah kira-kira kalimat terakhir yang sempat diucapkan perempuan yang kemudian memutuskan terjun ke laut dengan cara tiba-tiba. Para pangeran yang menantinya tentu saja kaget dan tidak menduga perempuan yang mereka rebut itu, tidak memlih satu pun dari mereka melainkan memilih menjadi milik semua orang.

BACA JUGA: Protein Tinggi dan Antimikroba pada Cacing Nyale

Adegan semacam ini kerap dipentaskan dalam mengenang perempuan yang menjadi legenda dalam masyarakat Sasak Lombok. Dialah Putri Mandalika, anak Raja dari Kerajaan Tonjen Beru, Lombok Selatan. Cantik jelita nan menawan, berbudi pekerti luhur sehingga membuat para pangeran kerajaan tetangga jatuh hati padanya.

“Kecantikan dan keluhuran budinya kesohor tidak hanya di Pulau Lombok melainkan hingga di luar Pulau Lombok sehingga ia menjadi rebutan. Para Pangeran sama-sama tidak mau mundur selangkah pun untuk dapat mempersuntingnya,” ungkap Lalu Putria, Budayawan Sasak.

Dikisahkan, perebutan tersebut terjadi antarpangeran yang berasal dari kerajaan yang ada di Pulau Lombok antara lain, Kerajaan Bumbang, Rambitan, Johor, Kedaro, Prabu Dundang dan lain-lain. Nyaris terjadi perang saudara karenanya. Putri Mandalika melakukan semedi untuk mencari petunjuk apa yang harus dilakukannya.

Ia bersemedi di sebuah hutan lalu mendapatkan petunjuk bahwa keputusan yang harus diambilnya adalah yang terbaik bagi dirinya, keluarga dan masyarakat Sasak.

Suatu hari pada waktu dan tempat yang telah disepakati, yakni pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak bertepatan dengan purnama, lanjut Putria yang juga mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Tengah ini,  pada Bukit Batu Angkus di pesisir Pantai Seger, ia pun mempersilahkan para Pangeran dan masyarakat datang ke sebuah tempat yang sudah disepakati untuk menyaksikan ia mengambil keputusan.

BACA JUGA: Festival Bau Nyale Sukses Digelar, Event Buda Pra MotoGP

Di sanalah Sang Putri memberikan pelajaran bagi semua Pangeran dan masyarakat, bahwa dalam kebimbangannya menjatuhkan pilihan, ia tidak memilih salah satu dari mereka yang memperebutkannya melainkan ia memilih mengorbankan dirinya dengan terjun ke laut demi mencegah terjadinya pertumpahan darah.

Ia memutuskan menjadi milik semua orang dengan cara menyerahkan dirinya pada alam, melompat ke laut dan menghilang.

Inilah akhir dari drama cinta Putri Mandalika, ketika ia menghilang di lautan lepas itu, angin kencang dan hujan badai pun datang. Para pangeran dan masyarakat yang hadir terkesima menyaksikan pengorbanan Putri Mandalika. Mereka menanti kembalinya Sang Putri. Namun Mandalika menghilang dan tak pernah muncul ke permukaan.

Mereka pun berduyun-duyun menuju lautan untuk menemukan dan menyelamatkannya. Tetapi Putri Mandalika benar-benar menghilang. Yang mereka temukan hanyalah jutaan cacing berwarna-warni yang menyala dan mengkilap diterpa sinar matahari..

“Cacing-cacing yang dikenal dengan nama Nyale inilah yang akhirnya dipercaya oleh masyarakat Sasak Lombok sebagai jelmaan Putri Mandalika. Cacing-cacing nyale ini tidak hanya ditemukan di Pantai Seger melainkan di sepanjang pesisir pantai bagian selatan Lombok, seperti Pantai Arguling di bagian barat Pantai Kuta Lombok, Pantai Mawun di Grupuk, jutaan nyale ditemukan,” katanya.

Sejak itulah, tiap tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak (tahun 2022 ini jatuh pada tanggal 20-21 Februari), ratusan ribu warga Lombok akan tumpah ruah menanti “kedatangan” Putri Mandalika

yang menjelma dalam bentuk cacing nyale di sepanjang pesisir pantai selatan Lombok. Maka tiap tahun penanggalan Sasak tersebut, masyarakat Lombok selalu menyelenggarakan ritual Bau Nyale (menangkap Nyale).

Sejauh ini, dari tahun ke tahun, perhitungan waktu munculnya nyale selalu tepat dan sangat jarang meleset. Sebelum ritual inti bau nyale dilakukan, diawali dengan penentuan tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak yang dilakukan oleh para pemangku adat Sasak yang berasal dari empat penjuru angin yakni, Timu’ (timur), Bat (barat), Lau’ (selatan) dan Daye (utara).

Untuk menentukan tanggal ini dilakukan ritual Mapan yakni melihat petunjuk pada sebuah buku semacam primbon (Jawa) yang disebut Papan Urige. Perhitungan ini dilakukan dengan cara tradisional. Masing-masing pemangku akan menghitung dengan caranya masing-masing dan setelah itu mencarikan titik temunya bersama-sama.

Selain itu, para pemangku adat yang telah turun temurun melakukan perhitungan waktu ini juga menggunakan tanda-tanda alam seperti gemuruh deru ombak yang lebih kuat dari biasanya, hujan angin disertai kilat yang menyambar dan petir bersahutan, yang dikenal dengan gerem genteng. Juga tanda-tanda alam lain berupa terlihatnya Bintang Tenggale yang posisinya kira-kira sama dengan penentuan hilal (menentukan waktu puasa pertama).

“Semakin kencang hujan angin turun maka semakin banyak nyale keluar. Namun jika waktu yang ditentukan itu tanpa hujan lebat dan angin kencang, nyale biasanya hanya sedikit,” kata Putria.***

 




Ini Juga Emansipasi, Suami Camat Kayangan Jadi Ketua TP PKK

Untuk diketahui, urusan TP PKK bukan urusan perempuan atau hanya jadi wewenang ibu-ibu, sebab di Kecamatan Kayangan Lombok Utara, yang pimpin gerakan PKK adalah seorang bapak

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Ini cerita menarik dari Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara tentang Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK).

Jadi jangan dikira soal PKK hanya urusan perempuan atau hanya jadi wewenang kaum ibu. Tidak selalu PKK itu identik semata gerakan perempuan.

Agus Edy Sulaeman alias Jebul

Ini buktinya, TP PKK Kecamatan Kayangan bukan dipimpin perempuan melainkan digerakkan laki-laki yakni Agus Edy Sulaeman, S.Pt, yang tidak lain adalah suami Ibu Camat Kayangan, Siti Rukaiyah, S. Pt

Memang, Agus Edy Sulaiman merupakan satu-satunya laki-laki yang menjabat sebagai Ketua TP PKK Kecamatan di “Gumi Tioq Tata Tunaq” Kabupaten Lombok Utara, NTB.

Menurut Agus yang akrab panggilan Jebul, dirinya menjadi Ketua TP PKK di Kecamatan Kayangan lantaran Istrinya menjadi Camat di Kayangan.

“Kalau Istri menjadi Camat, maka suaminya harus menjadi Ketua TP PKK di wilayah kerjanya,” tukas Jebul, saat di konfermasi wartawan media ini, Kamis (30/12/21).

Setiap kegiatan TP PKK yang dIjalankan bukan semata bersifat seremonial.

BACA JUGA: Dusun Berariran di KLU Jadi Dusun Terintegrasi

“Melainkan kegiatan yang dapat dirasakan langsung oleh keluarga-keluarga Di setiap Kecamatan, Desa dan di tingkat pesusunan,” tutur Agus.

Menurutnya, PKK di setiap wilayah dan tingkatan masing-masing harus kembali pada rohnya yaitu sebagai gerakan masyarakat untuk pemberdayaan keluarga. Begitu Agus menuturkan dengan yakin..

Lanjut dia, gerakan PKK sesungguhnya adalah potensi pembangunan bagi bangsa dengan memahami potensi yang dimiliki.

Maka, katanya, harus digelorakan dan dipelihara serta dikembangkan secara terus menerus.

“Atas dasar itulah program kerja PKK ke depan harus langsung dapat dirasakan masyarakat,” katanya sungguh-sungguh.

Agus pun berharap, agar TP PKK Kecamatan dan maupun Desa Kayangan dan desa yang lainnya agar memahami dengan baik dan benar, mulai struktur kelembagaan, tugas, dan fungsi yang diatur dalam peraturan Menteri Dalam Negeri.

“Sehingga dapat menjalankan tugas dan fungsi lembaga dengan tata kelola yang baik secara terstruktur dan hierarki,” pintanya.

Selain itu mereka mampu melaksanakan 10 program pokok PKK. Serta mendukung program Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pusat.

Dengan melaksanakan kegiatan yang langsung dapat dirasakan oleh masyarakat.

BACA JUGA: Bupati Lombok Utara Resmikan Jembatan Persada Hati

“Mari sinergikan kekuatan kita, kreativitas kita dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan karakter anak bangsa yang beriman, bertaqwa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, agar memiliki akhlak yang mulia dan berbudi pekerti luhur,” kata Agus dengan yakin.

Angkat jempol untuk Bapak Ketua TP PKK Kecamatan Kayangan, Lombok Utara.

@ng

 




Awas, Covid-19 Varian Omicron Menular Ratusan Ribu per Hari

Covid-19 varian Omicron penyebarannya terbukti sangat cepat. Di Inggris, dari 10 kasus/hari, saat ini sudah mencapai 70.000 kasus/Hari. Lebih tinggi dari puncak kasus di Indonesia pada bulan Juli, yang mencapai 50.000 kasus/hari

MATARAM.lombokjournal.com ~ Apakan varian Omicron, yang disebut jauh lebih cepat menular dari varian Delta, sudah masuk di Indonesia?

Jangan kaget, Covid-19 varian Omicron sudah masuk Indonesia.

Gejala terinfeksi Omicron

Itu diungkapkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, diketahui salah satu dari tiga pekerja kebersihan di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta positif Omicron setelah dilakukan Genome Sequencing.

Dalam konferensi pers, Kamis (16/12) Budi Gnadi mendeteksi ada pasien N terkonfirmasi Omicron per 15 Desember 2021. Pasien N adalah pembersih di Wisma Atlet, tanggal 8 Desember 2021 sampelnya diambil kemudian dikirim ke Kemenkes untuk di tes whole genome sequencing (WGS).

Ada tiga pekerja pembersih yang positif tapi hanya 1 yang disbut positif Omicron.

Nah, kalau varian Omicron sudah masuk di Indonesia, perlu kita tahu lebih bayak varian baru dari Covid -19 yang kecepatan penularannya sangat dasyat.

BACA JUGA: Menuju Gaya Hidup Sehat, Ini 4 Langkah yang Perlu Diketahui

Jadi tinggal tianggal tunggu waktu, kapan varian Omicron menginfeksi beribu-ribu orang di Indonesia. Dan saat itu tidak akan lama.

***

Christoph Neumann-Haefelin, seorang ahli imunologi di University Medical Center Freiburg mengatakan, tak lama lagi Omicron menjadi varian dominan dari virus Corona, SARS-CoV-2 sekitar pertengahan Januari.

Omicron akan menggantikan varian Delta, yang hingga kini menjadi salah satu  strain yang paling menular sejak pandemi COVID-19 dimulai.

Neumann-Haefelin memperkirakan, tingkat infeksi akan melonjak secara dramatis, mungkin hingga ratusan ribu per hari.

Ini tidak main-main, hal itu didasarkan pada data internasional yang telah dipelajari oleh para peneliti Jerman.  Ambil contoh Inggris, di mana tingkat infeksi Omicron berlipat ganda setiap dua hingga tiga hari.

Dirk Brockmann, fisikawan di Humboldt University of Berlin mengatakan, penularan varian ini mencapai tiga hingga empat kali lebih tinggi daripada tingkat infeksi varian sebelumnya.

Mereka berpikir, mungkin saja 20-34 juta orang dapat terinfeksi Omicron antara sekarang (Desember 2021) dan April 2022 — itu sekitar setengah dari populasi Inggris — meskipun ada aturan yang diperkuat tentang jarak sosial, masker medis, penutupan sekolah, dan banyak lagi.

“Saya akan terkejut jika kita tidak melihat situasi serupa di sini di Jerman,” kata Brockmann.

 Pemerintah harus bertindak sekarang

Brockmann mengatakan politisi harus segera bertindak, menyiapkan rencana darurat untuk berbagai skenario dan kemudian menerapkannya ke dalam tindakan.

“Kita harus memperlambat penyebaran virus untuk membatasi kerusakan,” menurut Brockmann.

Tapi dia mengakui, tidak mungkin untuk menghentikannya secara langsung.

Pakar Jerman mengatakan, komunitas harus mengurangi kontak sosial dan mobiitas orang secara drastis, mirip dengan apa yang mereka lakukan pada lo pertama.

“Tapi kami harus melakukan lebih banyak lagi mengingat kecepatan penyebaran varian ini,” kata Brockmann.

Kebal Kekebalan

Omicron tidak hanya lebih menular daripada varian lain dari Virus Corona, tetapi juga dapat menghindari respons kekebalan kita – yang oleh para ahli disebut “kebal kekebalan”.

Itu berarti orang yang sudah vaksinasi beberapa kali, dan bahkan mereka yang mendapat suntikan booster, masih bisa terinfeksi.

BACA JUGA: Presiden Minta Vaksinasi di NTB Khususnya Loteng Dipercepat

Jab booster akan meningkatkan perlindungan Anda hingga 70-75%, dan itu juga akan mengurangi risiko infeksi parah. Tapi itu juga bisa memberi Anda rasa aman yang salah, kata Sandra Ciesek, Direktur Institute of Medical Virology di University.  Rumah Sakit Frankfurt.

Ciesek mengatakan, meskipun penting untuk mendapatkan vaksinasi yang tidak divaksinasi, jab pertama tidak akan cukup untuk melawan Omicron.

“Dibutuhkan berminggu-minggu bagi sistem kekebalan untuk mengembangkan pertahanan,” katanya.  “Virusnya bergerak lebih cepat dari itu.”

Omicron lebih berbahaya dari yang orang pikirkan.

Ciesek melanjutkan dengan mengatakan, Omicron kemungkinan sama berbahayanya dengan varian virus lainnya – meskipun beberapa laporan menunjukkan bahwa itu hanya dapat menyebabkan infeksi ringan.

Data awal dari Inggris dan Denmark menunjukkan bahwa tingkat rawat inap untuk orang yang terinfeksi Omicron tidak jauh berbeda dengan mereka yang terinfeksi varian delta.

Pada awal gelombang Omicron, laporan dari Afrika Selatan memberi harapan bahwa varian tersebut tidak terlalu berbahaya dibandingkan delta, karena banyak orang di sana hanya mengalami infeksi ringan.

Tetapi sejak itu, semakin banyak orang yang terinfeksi Omicron harus dirawat di rumah sakit.  Inggris adalah negara pertama yang melaporkan kematian dengan Omicron.

Ciesek mengatakan, sulit untuk membandingkan situasi Eropa dengan Afrika Selatan, di mana populasinya rata-rata lebih muda, dan di mana banyak orang telah memiliki infeksi virus corona sebelumnya.

 Sistem kesehatan bisa runtuh

Para ahli juga memperingatkan, jika tingkat infeksi terus meningkat secara dramatis, sistem kesehatan mungkin akan runtuh.

“Ambil contoh, Inggris lagi: Perkiraan rawat inap antara 3-5.000 orang akan membebani “seluruh mesin,” kata Brockmann.

Jenis baru Covid-19 Varian Omicron

Banyak rumah sakit yang berjuang seperti itu dan mereka tidak akan dapat menerima lebih banyak pasien, terutama karena lebih banyak pasien berarti risiko tenaga medis yang terinfeksi juga lebih tinggi.

Brockmann mengatakan kita bisa melihat efek kaskade, tidak semuanya dapat diprediksi.  Jadi peneliti meminta politisi untuk bertindak tegas – “Waktu hampir habis,” kata Brockmann.

Ciesek juga mengatakan bahwa dia merasa Jerman tidak siap, menambahkan bahwa dia sangat prihatin dengan situasi tersebut.

Memang, ini adalah skenario terburuk tetapi ketiga ahli sepakat, tidak cukup hanya berharap Omicron menunjukkan dirinya kurang berbahaya daripada varian lainnya.

Neumann-Haefelin mengatakan angan-angan seperti itu akan mirip dengan “berjalan ke dalam bencana dengan mata terbuka.”

(dari berbagai smber)