Indeks

Mitigasi Bencana Harus Jadi Perhatian Serius Pemda Di NTB

Agus Riyanto
Simpan Sebagai PDFPrint

Membicarakan potensi gampa bumi atau tsunami, maka harus dibarengi pembicaraan terkait mitigasi

MATARAM.lombokjournal.com – Masyarakat Nusa Tenggara Batat (NTB), khususnya di Lombok, dihimbau tak takut dan panik menanggapi pernyataan pakar geologi terkait potensi gempa dan tsunami di selatan Lombok.

Justru hasil penelitian para pakar geologi itu bisa jadi pengetahuan masyarakat, sehingga pemahaman atas potensi tersebut bisa dijadikan peningkatan kewaspadaan dan kesiap-siagaan menghadapi bencana.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, menjelaskan pada Lombok Journal di kantornya, Rabu (17/07) 2019.

“Sebenarnya, yang membuat masyarakat takut dan panik setelah pernyataan pakar itu banyak dibagikan melalui medsos, dengan dibumbui hal-hal yang tidak semestinya,” kata Agus.

Agus kemudian menjelaskan, pernyataan Prof Ron Haris DI Universitas NU baru-baru ini, pakar geplogi asal Amerika, itu merupakan hasil penelitian bersama BMKG tahun 2012. Saat itu tim Studi Paleo Tsunami menyisir daerah pesisir mulai Bali hingga Banyuwangi, Jawa Timur.

Di kawasan yang jauh dari pantai, ditemukan jejak tsunami purba.  Ditemukan endapan pasir luar,  meski jaraknya jauh dari pantai, juga ditemukan rumah kerang, serta habitat-habitat laut lainnya.

Dari temuan-temuan itu disimpulkan ada kejadian atau peristiwa lm yang luar biasa, yang kemudian dipahami sebagai terjadinya tsunami di era jaman purba.

“Peristiwa tsunami itu bisa saja terjadi pada jaman masih ada gugusan pulau Sunda Kecil,” jelas Agus.

 Mitigasi

Dikatakan Agus, kalau membicarakan potensi gampa bumi atau tsunami, maka harus dibarengi pembicaraan terkait mitigasi. Upaya ini mencakup konten sosialisasi, maupun  pelatihan-pelatihan evakuasi

Dan soal mitigasi itu merupakan rana Pemerintah Daerah, dalam hal ini pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Selama ini pemda belum banyak melakukan upaya mitigasi,” kata Agus sambil menambahkan,  upaya mitigasi harus benar-benar menjadi perhatian seluruh pemerintah daerah di NTB.  Mulai dari Pemerintah Provinsi  seluruh  seluruh Kabupaten/Kota.

BMKG Stasiun Geofisika Mataram pernah melakukan  sosialisasi, yang disebut Sekolah Lapang Geofisikan. Yang diundang mulai pihak TNI/Polri, stakeholder, dan lingkungan pendidikan/sekolah.

Saat itu sempat dilakukan simulasi di atas meja yang dinamakan TTX atau Table Top Exercise.

Gempa Bali

Dalam kesempatan terpisah, Agus Riyanto menjelaskan,  gempa Bali,  Selasa (18/07) 2019 pagi,  disebabkan pertemuan dua lempeng dua dunia, yakni lempeng Indo Australia yang menyusup masuk ke dalam lempeng  Euro Asia.

Menurutnya, dari catatan alat BMKG  yang termonitor selama 24 jam,  telah terjadi 14 gempa susulan yang ditimbulkan akibat gempa utama yang terjadi pada Selasa pagi.

Gempa tektonik yang berpusat di bagian selatan atau barat daya Nusa Dua, Bali itu memiliki kekuatan 5,8 Skala Rihter dan dirasakan hampir di seluruh wilayah Bali, pulau Lombok hingga Banyuwangi,  Jawa Timur.

Agus menghimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak terlalu khawatir, namun tetap waspda. Sebab  pulau Lombok merupakan wilayah yang berada di wilayah cincin api, sehingga memiliki potensi gempa dan potensi tsunami yang cukup tinggi.

Masyarakat dihimbau terus mengupdate informasi tentang BMKG melalui kanal-kanal resmi yang disediakan seperti instagra,  twiter,  facebook dan web resmi BMKGy ang bisa dijadikan referensi bagi masyarakat.

AYA

Exit mobile version