Indeks

Lebih Dekat Dengan Kader JKN-KIs

Rosmiati
Simpan Sebagai PDFPrint

Tugas seorang kader tidak hanya melakukan sosialisasi dan edukasi tentang program JKN-KIS dan pendaftaran peserta, tetapi juga sebagai pengingat dan pengumpul iuran

Lombokjournnal —

SELONG   ;  Menjadi kader JKN-KIS adalah jalan yang dipilih oleh Rosmiati (36) untuk mengisi waktu-waktunya setelah memutuskan berhenti menjadi salah satu perangkat desa.

Kader yang bertugas di Kecamatan Masbagik ini adalah Kader JKN-KIS generasi pertama yang ikut bergabung bersama dengan BPJS Kesehatan Cabang Selong sejak 3 tahun yang lalu.

“Saya melamar jadi kader JKN-KIS itu dulu tahun 2016. Itu kader angkatan pertama, anggotanya tidak sebanyak sekarang. Sebelum jadi kader, saya kerja di kantor Desa Kumbung, menjabat menjadi ketua fasilitator desa untuk program kesehatan lingkungan. Karena sudah biasa keliling desa dan ketemu masyarakat, jadi saya tidak mengalami kesulitan ketika bertugas menjadi kader. Alhamdulillah diberikan kemudahan untuk bisa merangkul warga-warga yang lain untuk mendaftar jadi peserta JKN-KIS,” kenang Rosmiati.

 Tugas seorang kader tidak hanya melakukan sosialisasi dan edukasi tentang program JKN-KIS dan pendaftaran peserta tetapi juga sebagai pengingat dan pengumpul iuran khusus bagi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU).

Rosmiati harus mengingatkan peserta di wilayah tugasnya untuk rutin membayar iuran, baik secara kolektif maupun dengan mengunjungi peserta dari rumah ke rumah.

Selama menjadi kader, ada beberapa pengalaman kurang baik yang dirasakan olehnya saat melakukan kunjungan.

“Saat melakukan kunjungan door to door, ada beberapa kejadian yang tidak mengenakkan. Saya pernah beberapa kali tidak ditanggapi karena katanya takut ditagih. Saya malah pernah sampai diusir karena dianggap mengganggu. Yah, walapun seperti itu saya tidak nyerah, setiap orang kan punya karakter beda-beda. Saya maklum. Nah, Kalau ketemu peserta yang memiliki kendala seperti itu, nanti didata terus dilaporkan ke kantor untuk ditindaklanjuti,” cerita Rosmiati.

Menurut Rosmiati, beberapa kendala yang terjadi kepada peserta dalam hal pembayaran ialah kurangnya pemahaman dan kurangnya kesadaran masyarakat.

Karena itu, ia makin termotivasi untuk melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap warga sebagai peserta JKN-KIS dengan bantuan aparat-aparat desa setempat.

“Saya senang dan bangga menjadi bagian dari BPJS Kesehatan. Saya akan terus merangkul masyarakat untuk menjadi peserta JKN-KIS dan membantu mereka untuk mempermudah pembayaran iuran. Semoga masyarakat menjadi lebih sadar akan penting dan berharganya program ini,” tutup Rosmiati pada akhir pertemuannya dengan tim jamkesnews.

ay/yp/jamkesnews

narasuber ; Romsiati

 

Exit mobile version