Khusus untuk mie instan terjadi kelangkaan, disebabkan meningkatnya permintaan untuk membantu korban gempa serta terlambatnya pasokan dari luar daerah
MATARAM.lombokjounal.com — Di pasar tradisional, kebutuhan bahan pokok masyarakat seperti beras, telur, cabai, bawang merah, bawang putih, tomat, dan lain-lain, saat ini harga masih stabil dan stok cukup tersedia.
Namun, pasca gempa bumi yang melanda Lombok, dan terpal melambung tinggi, hingga menembus angka 500 ribu ukuran 4X6.
Tim Satgas Pangan NTB melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok termasuk terpal pasca bencana alam gempa bumi Lombok, Rabu (08/08)
Hal itu disampaikan Plt. Kabid Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perdagangan NTB Lalu Suparno usai memantau di pasar tradisional.
Sedangkan komoditas daging ayam dan daging sapi mengalami sedikit kenaikan, karena belum banyak pedagang yang berjualan.
“Harga bahan kebutuhan pokok di tingkat distributor tidak ada kenaikan harga, untuk ketersediaan stok cukup tersedia,” ujarnya, Rabu.
Ia menuturkan, khusus untuk mie instan terjadi kelangkaan, disebabkan meningkatnya permintaan untuk membantu korban gempa serta terlambatnya pasokan dari luar daerah yang sempat terkendala di jalur penyeberangan akibat gelombang tinggi.
Ketersediaan air minum kemasan juga terbatas, PT. Narmada Awet Muda sampai saat ini belum beroperasi normal, karena sumber air tanah yang digunakan masih keruh.
Sedangkan air minum kemasan merk lain juga terbatas karena meningkatnya permintaan, untuk harga tidak ada kenaikan.
Sedangkan, untuk terpal di tingkat distributor maupun beberapa toko bangunan stok saat ini kosong. Berdasarkan informasi dari para pedagang tidak ada kenaikan harga, namun harga terpal tergantung kwalitas.
“Dimungkinkan masyarakat membeli terpal yang masih tersisa dengan kwalitas lebih baik sehingga harga lebih mahal dan kemudian dikabarkan bahwa harga terpal naik 2 kali lipat,” tuturnya.
Pemilik UD. Sukses Karya Mandiri (SKM), Antono yang menerangkan, pasca gempa untuk stok komoditas minyak goreng, tepung terigu dan gula pasir dalam posisi aman dan harga stabil. Sedangkan untuk air minum kemasan, mie Instan dan terpal yang langka di pasaran naik.
Pihaknya sudah sejak awal menginstruksikan agar pasokan ke pasar tradisional dan ritel modern jangan sampai terputus. Namun pasca gempa banyak pedagang dan toko yang belum berani buka ditambah lagi dengan issue maling/begal membuat para pedagang tidak berani berjualan di pasar tradisional.
“Tapi mulai kemarin situasi pasar sudah berangsur-angsur normal kembali,” ujarnya
Direktur PT. Distribusi Air Narmada, Dona Butar-Butar, mengungkapkan stok air minum Narmada saat ini kosong, baik kemasan gelas, botol maupun gallon. Produksi masih dihentikan karena mata air bawah tanah yang digunakan masih keruh dan karyawan yang sebagian besar berasal dari Desa Selat Kecamatan Narmada, Lombok Barat (Lobar) juga banyak yang menjadi korban gempa.
Alhasil, Saat ini second branded Narmada yaitu air minum kemasan Rafa yang biasanya dipasarkan di wilayah Pulau Sumbawa juga dikeluarkan, khusus untuk keperluan membantu korban gempa.
“Kami belum bisa dipastikan kapan produksi akan normal kembali karena sangat tergantung dari perkembangan situasi pasca gempa, di mana gempa-gempa susulan masih sering terjadi. Untuk harga dari pihak perusahaan tidak ada menaikkan harga masih normal seperti sebelum gempa,” pungkasnya
AYA
