Bunda Niken Hadiri Kegiatan Lombok Tenun Expo 

Bunda Niken mengapresiasi seluruh penenun Perempuan di NTB, dan mendukung penyelenggaraan pameran tenun

MATARAM.LombokJournal.com ~ Bunda Niken sapaan Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah mengapresiasi seluruh penenun perempuan di NTB, Gema Alam NTB, Yayasan Pikul NTT dan seluruh stakeholder terkait yang ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraam “Lombok Tenun Expo”.

BACA JUGA: Haul Almagfurullah TGH Mustafa Umar Ponpes Al-Aziziyah

Bunda Niken berharap kegiatan Lombok Tenun Expo terus berlanjut

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB itu menyampaikan itu saat menghadiri acara Lombok Tenun Expo yang berlangsung di Ballrom Rinjani I Hotel Lombok Raya, Sabtu (27/05/23).

“Kita semua yang hadir memiliki  kesamaan perspektif, kesamaan semangat, pengetahuan bahwa kita harus mendukung pelestarian Sumberdaya Alam dan lain sebagainya, atas nama Pemprov NTB sangat mengapresiasi kegiatan ini,” tutur Bunda Niken.

BACA JUGA: Desainer NTB Didorong Tingkatkan Kualitas Produk

Ia berharap kegiatan Lombok Tenun Expo dapat terus berlanjut sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada seluruh penenun perempuan di NTB.

“Usul saja agar kegiatan ini bisa terus berlanjut dari tahun ke tahun sebagai ajang tampilnya kelompok kelompok tenun perempuan dari seluruh NTB, ditunggu tahun depan supaya bisa kita saksikan kembali Lombok Tenun Expo,” katanya. ***

BACA JUGA: Harga Telur di NTB Belum Ada Kenaikan Signifikan

 

 

 




Takjil Gratis RS Mandalika Provinsi NTB Ludes

 RS Mandalika membagikan ratusan takjil gratis untuk masyarakat, terutama pengguna jalan yang masih di perjalanan sekitar rumah sakit

LOTENG.LombokJournal.com ~ Rumah Sakit Mandalika Provinsi NTB mengadakan kegiatan “Ngabuburit” dengan cara membagikan ratusan takjil gratis pada pengendara yang melintas di Jalan Raya Kuta Lombok, Sengkol, Kamis (13/04/23) sore.

Direktur RS Mandalika dr. Oxy Tjahjo Wahjuni, Sp.EM mengatakan, sangat diminati pengguna jalan yang melintas.

BACA JUGA: Wagub NTB Dukung Ulang Tahun Emas ke 50 KSPSI

Berbagi takjil gratis untuk mengendara yang melintas sekitar RS Mandalika

Kurang dari 30 menit, ratusan takjil tersebut ludes diserbu pengguna jalan yang melintasi RS Mandalika yang berada di lokasi kawasan Mandalika, Lombok Tengah.. 

“Kami ingin berbagi bersama saudara-saudara kita, di sekitar Rumah Sakit Mandalika, terutama yang kebetulan masih dalam posisi di perjalanan. Insyaallah bermanfaat untuk mereka,” jelas Direktur Oxy usai kegiatan.

Penyaluran takjil selain dilakukan oleh manajemen dilakukan juga dan dibantu oleh para petugas kesehatan, mulai dari dokter, perawat, hingga petugas kebersihan dan keamanan.

BACA JUGA: Ramadhan Berbagi, 250 Paket Sembako untuk Warga Miskin

“Alhamdulillah di bulan Ramadhan ini kekeluargaan dan silaturahim menjadi lebih erat,” ucap dr. Oxy.

Saat ini Rumah Sakit yang dipimpinnya mendapatkan tambahan tenaga kesehatan dari formasi PPPK yang akan segera bertugas di tahun ini.  

“Nakes P3K mulai aktif dan menjalani orientasi. Tambahan puluhan nakes ini adalah wujud kesungguhan pemerintah menjadikan RS Mandalika sebagai sarana Fasilitasi Pelaksanaan Kesehatan rujukan. Ini salah satu upaya meningkatkan akses layanan pada masyarakat dan meningkatkan mutu layanan,” terang dr Oxy.

BACA JUGA: Safari Ramadhan di Mataram, Ini Pesan Gubernur NTB

RS Mandalika sebagai salah satu dari 10 rumah sakit yang berada di wilayah Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Indonesia, tepatnya di Mandalika NTB, rumah sakit ini dituntut mampu melayani masyarakat NTB dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat NTB.

Selain itu juga harus mampu menopang kebutuhan layanan kesehatan bagi para wisatawan yang datang dan saat event internasional dan nasional.

“Karenanya nakes P3K yang baru diharapkan memiliki hard skill dan soft skill yang cakap dan mumpuni. Selain itu pembiasan untuk penggunaan bahasa asing dalam melayani wisatawan mancanegara juga terus diasah, juga tetap menggunakan bahasa Indonesia dan daerah saat melayani pasien, tergantung kebutuhan dilapangan,” jelas dr. Oxy. ***

 

 




Pengukuhan Pengurus Majelis Adat Sasaq Periode 2022-2027

Di acara pengukuhan pengurus Majelis Adat Sasak (MAS), Sekda NTB mengajak pengurusnya melakukan penguatan komitmen Inklusifitasnya

LOBAR.LombokJournal.com ~ Pengukuhan pengurus Majelis Adat Sasaq (MAS) Periode 2022 – 2027 berlangsung di Bencingah Patut Patuh Patju Gerung Lombok Barat, Kamis (26/01/23). 

Sekertaris Daerah Provinsi NTB H. Lalu Gita Ariadi yang hadir dalam pengukuhan berharap, MAS dapat menjadi rumah tempat bernaungnya masyarakat suku Sasak. 

BACA JUGA: Sekda NTB Begibung Bersama Mario Setyo Aji di Puyung

Sekda NTB sungkem pada sesepuh Sasak di acara pengukuhan pengurus Majelis Adat Sasak
Sekda NTB sungkem pada sesepuh Sasak

“Semoga MAS kedepan menjadi Bale Beleq tempat bernaungnya Bangse Sasaq,” tutur Sekda.

Karena hal tersebut berdasarkan kepada tuntutan para pengurus terpilih untuk

melakukan penguatan komitmen Inklusifitasnya. 

Konsolidasi personal dan program yang bersinergi dan mendukung program Pemerintah Provinsi, kabupaten/kota, serta penguatan promosi dan diplomasi budaya Sasak.

Uge-uge talin sampi

Jelateng biraq lek bebucu

Mun semoge pelungguh sami

Saling irak utuh bersatu,” pantun Sekda. 

 

Di akhir sambutannya, Miq Gite mengucapkan selamat bekerja dan bertugas kepada para pengurus

BACA JUGA: Lombok Jadi Prioritas Utama Direct Flight Air Asia

“Dengan penuh ketindihan, maliq berbuat penyimpangan dan merang tegakkan kebenaran. Insyaallah…. aamiin Ya Rabbal Alamin,” katanya. ***

 




Sekda NTB Begibung Bersama Mario Aji di Puyung

Pembalap Moto3GP asal plaosan Magetan Jawa Tmur, Mario Setyo Aji, bertandang ke kediaman Sekda NTB, Lalu Gita Ariadi di Puyung, Loteng

LOTENG.LombokJournal.com ~ Sekda NTB Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M. Si., menyambut kedatangan pembalap Moto3GP asal Indonesia Mario Setyo Aji, usai jadwal  latihannya yang padat  di sirkuit Mandalika.

BACA JUGA: Kawasan Gili Tramena NTB Bebas “Ciguatera Fish Poisoning”

Sekda NTB begibung bersama pembalap Moto3GP

“Disela-sela latihannya  pembalap Moto3GP ini menyempatkan diri sillaturrahmi dan datang begibung,  hari Kamis di Gedeng Gede Puyung Lombok Tengah,” ungkap Sekda, Kamis (26/01/23) 

Menurutnya, pemuda asal plaosan Magetan Jawa Tmur ini,  sangat menikmati cerorot, klepon kecerit,  bebalung, sate pusut, nasi balap puyung, yang  disajikan sambil cerita berbagai pengalamannya sebagai pembalap di luar negeri.

“Nampaknya dia menikmati kuliner khas asal Lombok ini,” ujar Miq Gite.

Kedatangan Mario Setyo Aji,  untuk latihan di sirkuit kebanggaan bangsa Indonesia ini, untuk mengikuti 21 seri balapan di 16 negara tahun 2023. 

BACA JUGA: Layanan Medical Chect Up (MCU) di RS Mandalika

“Selamat berlatih, selamat berjuang, gassss polll  Mario Aji. Sampai jumpa di sirkuit Mandalika pada motogp bulan Oktober 2023 mendatang,” ucap Sekda NTB.***

 




Penenun NTB Wajib ikuti Tren Fashion

Perajin tenun atau penenun diminta selalu melihat tren, produk yang dihasilkan harus menyesuaikan model fashion

LOBAR.lombokjournal.com ~ Ketua Dekranasda NTB Hj. Niken Saptarini Zulkieflimansyah  meminta kepada designer dan pengrajin NTB untuk mengikuti tren fashion.

Hanya dengan cara demikian bisa memenangkan persaingan di pasar. 

BACA JUGA: Gubernur NTB Serius Benahi Destinasi Trawangan

Hj Niken minta para penenun menghasilkan produk yang mengikuti tren

“Saat ini pasar selalu melihat tren,  untuk  memenuhi keinginan pasar  seperti model fashion dari produk yang dihasilkan perajin kain tenun harus bisa menyesuaikan,” pinta Bunda Niken sapaan Ketua Dekranasda NTB.

Hal ini disampaikan Bunda Niken disaat mengunjungi 2 tempat sentra Tenun lokasi Kebun Ayu dan Gunung Malang yang keduanya berada di Lombok Barat.

NTB memiliki potensi kekayaan warisan budaya yang berlimpah. Mulai dari tenun, sarung, songket, yang dirancang mejadi fashion.

“Seperti model pakaian, tas, sepatu, hijab dan banyak produk pernak-pernik lainnya,” jelas Bunda Niken yang juga menjadi Ketua TP.PKK NTB.

“Kita tidak ingin kekayaan budaya seperti tenun, hanya kita yang nikmati sendiri,  tapi harus lebih daripada itu, tenun ini dapat dipakai semua kalangan  bahkan dunia. Yang terpenting akan menjadi warisan anak dan cucu kita selanjutnya,” katanya.

Sementara itu di tempat yang sama, Nur Aziziyah seorang Ibu muda  yang suka menenun sejak tahun 2014, berasal dari Desa Kebun Ayu Lobar, menyampaikan komitmennya ikut memajukan tenun lokal.

Ia berharap mendapat pembinaan sehingga ke depan tenunnya bisa menjadi trend fashion Indonesia bahkan mendunia.

“Karena NTB ini memiliki kekayaan tenun atau songket yang kaya, ini dapat menginspirasi dan menginovasi untuk tren fashion asal kami terus dapat pembinaan dan sering dikunjungi guna jadi penyemangat kami,”  ucap Nur penuh harap.

BACA JUGA: Bang Zul Kunjungi Perajin Tenun di Dusun Rentang

Lain halnya dengan Ibu Mutmaini asal Desa Gunung Malang yang dari gadis juga suka menenun. 

Ia mengatakan, ada 2 motif yang saat ini menjadi trend namanya Motif Jogang dan Selingkuh. Hal terbukti para pendamping dan Ibu-ibu pemerhati pengemar tenun langsung memborong habis.

Usai kunjungan Bunda Niken di 2 Sentra Kerajinan Tenun Kebun Ayu dan Gunung Malang, Bunda Niken lanjut meninjau aktivitas kuliner dan panen melon  di Desa Wisata Kebun Ayu.

Kegiatan ini dibarengi dengan pameran hasil kerajinan dari Akram Mutiara, 

Uniq Rajut dan Larose Fasilitas, hadir pejabat Istri Sekda NTB, Istri Sekda Lombok Barat, Kadis Perindustrian NTB, Camat dan Kades serta Babinsa setempat.***

 

 




DEVELOPING BEKAYAT CREATIVELY IN THE ERA OF DIGITALIZATION 

There are problems with the creative to developing of Bekayat into a digital program

lombokjournal.com ~

By Cukup Wibowo,  
Student of Master Program in English Language Education Mandalika University of Education, Mataram

INTRODUCTION 

The Bekayat tradition as one of the oral literature that still exists in the Sasak Islamic community of Lombok is currently in the challenge of a real era. On the one hand, this tradition has an important role as a medium for learning about morality, the goodness of life, and how to make society take a part in a social interaction. 

But on the other hand, with the advancement of information technology where it is marked by the practice of digitizing in almost all activities, In fact, besides being one of the historical artifacts, the content in the text of the bekayat story, according to Made Suyasa (2019) can still be exemplified by millennials today. 

That is why real steps are needed to be able to revitalize the bekayat tradition by developing creativity by utilizing digital technology so that the bekayat tradition can still show its existence in the midst of the currents of globalization and modernization. 

DISCUSSION 

If we are on the island of Lombok, especially at the celebration of Isra’ Mi’raj Nabi, Maulid Nabi, circumcision, marriage or death, it is not uncommon for us to hear the voices of several people taking turns filling the night air after Isya prayers. 

The men performed the recitation of the hikayat (verse) by chanting then followed by alternating translation and interpretation by the main reader called as hadi and the supporting reader called as saruf as well as the translator called as bujangge who with his skill translated and deciphered the story read from various Islamic Books into Sasak language. 

The reading activity which is well known as an oral tradition by the Sasak Islamic community is called Bekayat. 

BACA JUGA: Lombok akan Jadi Kiblat POacuan Kuda Nasional 

The Sasak Islamic community has been familiar with the tradition of Bekayat or ‘reading hikayat’ since the Hindu-Buddhist kingdom ruled Lombok. Then in its historical movement, Sasak Muslims are more familiar with the tradition of reading this saga in the term nyaer. The term nyaer denotes a reading pattern that uses tembang and is similar to the old Malay literary verse model. In terms of reading objects. 

Bekayat as one of the surviving forms of oral literature among the Sasak Islamic community was once used to broadcast Islam. Therefore, it is not surprising that the books used in this tradition are in the form of books that contain and tell about the spiritual journey of the Prophet Muhammad SAW, death treatises, to the history of Islamic travel to enter the archipelago (especially Lombok). 

If we look at the series of Bekayat activities which include the procession, time, and place of implementation, Bekayat activities, as described by Saharudin (2012), will do require complex and long preparations. The aforementioned series are as follows: 

  • Bekayat Procession 

The flow or sequence of the bekayat procession in the implementation of the kayat reading is not carried out individually, but in groups (gathering the community). Starting from teenagers and parents by first holding a notice or in Sasak language known as “pesilaq”, either through loudspeakers as well as through direct invitations to their respective homes. It shows what people do is always based on togetherness. 

As for the personnel, before the speech of the bekayat event began, the bekayat expert was invited a few days earlier. The bekayat expert asks what event is carried out by the inviter, meaning that he can prepare the bekayat material to be delivered, and adjusted to what will be planned. 

The process of the bekayat ritual itself is bekayat which is carried out after the core event of the celebration is completed. So, this bekayat is the culmination of the end of the celebration event, or the closing event of the celebration. If it is to hold a seven-monthly pregnancy, nine-day death of a person or nyiwaq or shaving on baby traditional ceremony or aqiqah-an then this bekayat is held after the core event of the event procession and is carried out in the evening.

 As for those related to the celebration of Islamic holidays, in particular Isra’ Mi’raj and Maulud are usually held after the lecture at the mosque or mushalla is over.

  • The Event-Time of Bekayat 

Bekayat is always done at night, that is, after isya prayers. This is because after the Isya’ prayer the time is long/loose compared to the Magrib prayer. In addition, bekayat is carried out at night because it is believed to bring tranquility to people who read and listen to it, so it is believed that it can open the door of the heart and hidayah for them to immediately repent and ask for mercy to God Almighty. 

In the context of the early spread of Islam in Lombok, this is certainly very relevant to the condition of Sasak people at that time who often drank tuak (old nira) or berem (mixed glutinous rice water— in the Sasak term called poteng— which was stored for long time) at the moment after Isya’s time to get drunk. If in the last time people closed their celebration, with perebak jangkih followed by the puppetry performance overnight. As time went by Perebak Jangkih event was replaced with Bekayat. 

  • The Event Location of Bekayat 

The place where Bekayat is carried out is adjusted to the type of event. If a prayer is held for a woman who commemorates seven months of pregnancy, the death of a person or aqiqah-an then it is usually held in a house as the place celebrate it.. 

The meaning to believe is that the house will be given a blesing for all residents of the house and for someone who is intended to get salvation from this process. 

Meanwhile, if this bekayat is carried out on the commemoration of Islamic holidays, such as Isra’ Mi’raj and Maulid Nabi, it is held in a mosque or mushalla which functions as a center for proselytizing. 

Seeing and understanding 3 things in the implementation of Bekayat as mentioned above, of course, the role of technology becomes very necessary so that Bekayat is not abandoned by the community in the future. 

This is because the values conceived by Bekayat are still very relevant, which are needed to be a medium for expressing moral values in society. 

BACA JUGA: Pola Pikir Jadi Kunci Sukses, Bagaimana Mengubahnya?

In today’s digital era, it is possible develop Bekayat as one of oral traditions to be more creative and innovative. Bekayat becomes more acceptable and develops more widely through the internet or cyberspace. 

This gave rise to a new era of the presence of Bekayat as an internet oral tradition. Bekayat, which was originally developed and known limited in its distribution, then become an activity widely known by public. 

With digital technology, the development and preservation of Bekayat oral traditions can be realized more creatively. In the digital era, Bekayat activities are no longer an offline event, but can be an online event that reaches a wider audience. 

CONCLUSION 

There are problems with the creative development of Bekayat into a digital program. Bekayat as it has been discussed above is a tradition that involves many elements in it. This Bekayat certainly contains a lot of cultural messages to provide knowledge for the next generations. Based on this idea, the role and existence of Bekayat should be conducted seriously, because Bekayat contains messages containing the noble values of society. When Bekayat becomes a digitized activity, it is necessary to choose a digital platform concerning the characteristics of Bekayat activities. 

Bekayat as an oral tradition if it does not follow the digital change and remains in its original condition, it will slowly disappear and be forgotten. Therefore, digitizing the entire series of Bekayat activities will make it easier for many people to know how important the significant role of Bekayat is.

Therefore, it is urgently needed intervention and support from various parties (especially the government and other cultural stakeholders) in caring for and facilitating the survival of Bekayat ***




Simbol Pluralisme Pulau Seribu Masjid 

Menggali hikayat “Air Muallaf”, Tim Ekspedisi Mistis PDIP dan Mi6 menemukan simbol kerukunan Umat Hindu dan Umat Islam di Pulau Lombok

MATARAM.lombokjournal.com ~ Tim Ekspedisi Mistis PDIP NTB dan Mi6 menggali simbol pluralisme dan keberagaman di Pulau Lombok. 

Simbol tersebut ada “Air Muallaf” di Dusun Traktak, Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. 

Di sana, sumber mata air dari Pura selama berpuluh-puluh tahun dialirkan untuk kebutuhan Umat Islam beribadah di sebuah Masjid.

Ekspedisi kali ini istimewa lantaran Ketua Dewan Pembina Tim Ekspedisi, H Rachmat Hidayat turun langsung.

BACA JUGA: Tim Ekjspedisi Mistis Terus Melakukan Penelusuran

Kata Rachmat Hidayat, sumber mata air Pancor Munjuk, yang kini disebut “Air Muallaf” merupakan simbol kerukunman Islam dan Hindu

Anggota Komisi VIII DPR RI dari PDI Perjuangan tersebut didampingi Ketua Tim Ekspedisi H Ruslan Turmuzi, dan Dewan Pakar Tim Ekspedisi, di antaranya Dr Saiful Hamdi, Dr Azrin. Hadir juga Anggota Fraksi PDIP DPRD Lombok Barat dari Dapil Lingsar-Narmada, H Sardian.

Kedatangan Tim Ekspedisi disambut pemuka agama Islam dan pemuka agama Hindu di Desa Batu Kumbung. 

Kepala Desa Batu Kumbung, H Wirya Adi Saputra memandu rombongan menuju Pura Pancor Munjuk di Dusun Traktak. 

Di pura yang dibangun pada tahun 1918 inilah, terdapat sumber mata air Pancor Munjuk, yang kini disebut “Air Muallaf”.

Saat tim ekspedisi tiba, sudah menunggu di sana Ketua Kramapura, I Made Putra Usada bersama Ketua Banjar dan para pemuka Agama Hindu, pemuka Agama Islam, Kepala Dusun, dan sejumlah tokoh dan perwakilan warga.

Dengan dipandu Ketua Kramapura, Tim Ekspedisi melihat langsung sumber mata “Air Muallaf” yang ada di bagian paling atas Pura. Sumber air itu kini sudah ditata, terlindungi dalam lingkaran beton mirip seperti lingkaran sumur. 

Di dalamnya, air jernih terus menguar dari dalam tanah. Tak pernah mengering semenjak Pura itu dibangun satu abad silam.

Dari sumber mata air ini, air kemudian dialirkan melalui saluran yang dibuat khusus di bawah tanah ke dua kantung reservoar. Dari sana, air dibagi ke tempat pemandian umum yang digunakan baik oleh warga Hindu maupun Muslim. 

Tempat untuk laki-laki dan perempuan dibuat terpisah. Dan di tempat pemandian ini, air tak pernah berhenti mengalir. 

Di sini, sebuah reservoar khusus dibuat untuk mengalirkan air ke Masjid Hidayatul Islam yang berjarak 300 meter dari Pura Pancor Munjuk. Di sana, air digunakan oleh umat Islam untuk beribadah tiap hari.

Kesulitan Air

Semua bermula dari kesulitan air di masa lalu. Saat Masjid Hidayatul Islam dibangun secara sederhana, sumur yang dibangun oleh umat Muslim pada waktu itu di dekat Masjid, tidak memiliki air bersih yang memadai. 

Sehingga hal tersebut menyulitkan umat Islam yang hendak beribadah.

Tokoh masyarakat Hindu dan tokoh masyarakat Islam kemudian berembuk. Dan semenjak itu, air dari Pura Pancor Munjuk dialirkan ke Masjid Hidayatul Islam. Semula dengan cara yang sederhana. 

Baru pada tahun 2016, sistem alirannya dibuat menjadi lebih bagus dengan menggunakan jaringan perpipaan dan reservoar yang bisa disaksikan masyarakat saat ini.

“Sesungguhnya kami Umat Hindu dan Umat Islam di di sini berasal dari leluhur yang sama,” kata Made Putra.

Dahulu, saat pura dibangun pada tahun 1918, empat orang leluhur mereka datang dari Karangasem dan bermukim di sana. Dari empat leluhur inilah jumlah warga terus lahir dan bertambah. 

Dalam perkembangannya, warga kemudian sebagian memeluk agama Islam. Sebagian lagi tetap memeluk agama Hindu. Dan bahkan pernikahan warga di antara kedua pemeluk agama juga terjadi. 

Semisal, warga Muslim menikahi warga yang beragama Hindu yang kemudian muallaf.

Tak heran, kehidupan masyarakat di Desa Batu Kumbung guyub dan rukun. 

BACA JUGA: Tim Ekspedisi Mistis akan Telusuri Folklore Leluhur Lombok

Tak pernah ada pertentangan antara warga di sana. Di sinilah, praktik toleransi antar umat beragama benar-benar dipraktikkan.

Contohnya saat ada warga yang meninggal. Begitu ada pengumuman berita kematian di masjid atau musala, umat Hindu kemudian akan secara serentak mengumpulkan uang duka untuk kemudian membantu keluarga Muslim yang sedang ditimpa musibah. 

Pun begitu saat ada umat Hindu yang meninggal. Hal serupa juga dilakukan oleh umat Muslim. Begitu pula pada saat ada hajatan. Mereka saling membantu satu sama lain.

“Tradisi seperti ini sudah ada semenjak kami bahkan belum lahir. Ini adalah peninggalan leluhur kami,” kata Made Putra.

Antar kedua umat beragama pun begitu saling menjaga satu sama lain. Menyadari bahwa mata air dari Pura Pancor Munjuk dialirkan ke Masjid Hidayatul Islam untuk kebutuhan umat Islam beribadah, maka leluhur umat Hindu membuat aturan yang sangat tegas. 

Tidak boleh ada upacara yang menghadirkan daging babi di pura. Di Pura ini, babi tak boleh ada, tak juga boleh didatangkan atau dibawa untuk disembelih, atau dagingnya diolah, dimasak, lalu disantap baik oleh perorangan atau bersama-sama di sana. 

Larangan itu masih terjaga hingga kini.

“Jadi kalau ada upacara, kami umat Hindu menyembelih kerbau,” kata Made Putra.

Suci Menyucikan

H Tantowi, tokoh agama Islam yang hadir berbincang dengan tim ekspedisi menekankan, dengan cara itulah, maka air yang mengalir dari Pura ke Masjid tetap terjaga kesuciannya. Sehingga memenuhi kaidah dan unsur air yang suci menyucikan bagi umat Islam sesuai dengan kaidah Fiqih.

Dikatakan, baik umat Islam  maupun umat Hindu begitu bersyukur, leluhur mereka telah mewariskan secara turun temurun tentang pentingya toleransi, saling menghormati, meski mereka berbeda keyakinan.

“Apa yang kami lakukan hingga hari ini, adalah sepenuhnya mengikuti apa yang sudah dilakukan leluhur kami lebih dari satu abad,” kata H Tantowi, paman dari Made Putra, lantaran menikahi bibi tokoh yang karib disapa Made Arab tersebut.

Dewan Pembina Tim Ekspedisi, Rachmat Hidayat sendiri mengaku begitu takjub atas komitmen yang begitu tinggi masyarakat Muslim dan masyarakat Hindu di Desa Batu Kumbung yang telah merawat keberagaman sedemikian indahnya. 

Itulah yang membuatnya melabeli Desa Batu Kumbung sebagai tamansarinya keberagaman di NTB dan juga di Indonesia.

“Bagi mereka yang belum juga memahami arti pentingnya ke-Indonesiaan, datanglah belajar ke Desa Batu Kumbung,” kata Anggota Komisi VIII DPR RI ini.

Rachmat menegaskan, Desa Batu Kumbung layak masuk menjadi teladan toleransi dunia, karena telah memberikan contoh toleransi yang baik antarumat beragama. 

Di desa ini juga terdapat dusun yang diplot sebagai “Kampung Toleransi” yakni Dusun Tragtag. Dimana harmonisasi dua suku yaitu Suku Bali dan Suku Sasak yang hidup rukun berdampingan.

Hal itu dinilai Rachmat sebagai bentuk konkret pengimplementasian nilai-nilai Pancasila.

“Di Batu Kumbung inilah kita melihat Pancasila. Ada keberterimaan, toleransi, dan keberagamaan,” tandas Rachmat.

Ditegaskan tokoh kharismatik Bumi Gora ini, Air Muallaf yang ada di Desa Batu Kumbung ini, tak ubahnya adalah simbol abadi pluralisme di Pulau Seribu Masjid.

“Ini sungguh pembelajaran yang sangat berharga untuk kita yang hidup di saat ini, dan bagi anak-anak cucu kita yang hidup di masa yang akan datang,” imbuhnya.

Ketua Tim Ekspedisi H Ruslan Turmuzi menambahkan, Tim Ekspedisi datang secara khusus untuk melihat langsung simbol abadi pluralisme Air Muallaf tersebut, untuk membuka pemahaman khalayak tentang pentingnya seluruh umat beragama di Pulau Lombok dan Sumbawa, agar terus menjaga dan merawat keberagaman.

“Di mana ada keberagaman, di situlah sesungguhnya ada kekuatan,” tandasnya.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Resmikan Huntap Korban Banjir di Bima 

Sementara itu, Direktur M16 Bambang Mei Finarwanto menegaskan, hubungan kedua umat beragama yang terjalin sangat baik di Desa Batu Kumbung adalah sebuah Masterpiece atau hasil karya  yang  tak ternilai harganya.

Ia ingin agar kerukunan yang damai menjadi spirit yang terus dirawat dan dijaga. Daerah-daerah juga diajak mencontoh Desa Batu Kumbung dalam hal bagaimana merawat keberagaman tersebut.

Saat ini, menurut Kepala Desa Batu Kumbung Wirya Adi Saputra, dari delapan ribu jiwa yang bermukim di desa yang dipimpinnya ini, 70 persen memeluk agama Islam. 

Sisanya adalah pemeluk agama Hindu. (*)

 




Wayang Sasak akan Tampil di Kampus Ternama Malaysia

Setelah kunjungan wayang Sasak ke Malaysia, sebaliknya dosen-dosen dan para mahasiswa Malaisya akan belajar wayang Sasak ke Lombok 

MATARAM.lombokjournal.com ~Pementasan Wayang Sasak, Pameran Lukisan Wayang Sasak, dan Seminar  “Seni Budaya dan Pariwisata NTB” yang akan digelar di Empat Perguruan Tinggi Malaysia. 

Pementasan tersebut akan digelar pada tanggal 22 Desember 2022 hingga 04 Januari 2023 mendatang. 

BACA JUGA: Penutupan Gelar Budaya di KLU, Ini Imbauan Bang Zul

Anjangsana budaya Sasak itu disambut baik Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, saat penyelenggara acara tersebut yakni Yayasan Bale Agung Ajar Wali melakukan audensi ke Gubernur di Pendopo Gubernur, Rabu (14/12/22). 

Ke empat perguruan tinggi yang akan dikunjungi di antaranya, Universitas Teknologi Mara (UiTM), Universiti Utara Malaysia (UUM), Universitas Sains Malaysia (USM), Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI).

Dijelaskan Bang Zul sapaan Gubernur, nantinya kampus-kampus ternama Malaysia tersebut akan mengirimkan dosen-dosen dan para mahasiswanya untuk belajar wayang Sasak ke Lombok sebagai timbal balik. 

“Nanti kampus-kampus Malaysia akan mengirimkan dosen dan mahasiswanya ke Lombok in return untuk belajar wayang Lombok ini,” jelas Bang Zul. 

Bang Zul juga berpesan agar pementasan tak hanya dilakukan kampus-kampus saja, melainkan juga di komunitas warga NTB yang ada di Malaysia. 

BACA JUGA: Beli Bela Produk Lokal, Ihtiar Retas Kemiskinan di NTB

“Saya juga menganjurkan mereka bukan hanya tampil di kampus, tapi juga menyapa masyarakat NTB dan menampilkan wayang Lombok ini di komunitas NTB di Malaysia,” tandasnya. ***

 




Beli Bela Produk Lokal, Ikhtiar Retas Kemiskinan  di NTB

Gubernur NTB, Bang Zul mengingatkan warga KLU sejak saat ini untuk bela dan beli produk lokal  NTB

KLU.lombokjournal.com ~ Gubernur NTB, Zulkieflimansyah mengajak untuk bangga,

menghargai, serta beli dan bela produk sendiri, menjadi komitmen bersama warga NTB.

Menurutnya, upaya itu jadi salah satu ikhtiar kolektif meretas lingkaran kemiskinan, yakni lingkaran setan ketergantungan terhadap produk luar, yang sesungguhnya bahan bakunya berasal dari NTB. 

BACA JUGA: Penutupan Gelar Budaya di KLU, Ini Imbauan Bang Zul

Gubernur NTB mengingatkan warga untuk bela dan beli produk lokal

“Kita harus berani memulai dari diri kita sendiri secara mandiri  dan harus menanamkan rasa percaya diri dan bangga mengggunakan, membela dan menjual produk kita sendiri. Dan Alhamdulilah perjalanan panjang harus dimulai dengan langkah pertama dan saya lihat para Pegawai  Pemprov NTB telah mulai menunjukkan keteladanan,” ungkap Gubernur NTB yang akrab disapa Bang Zul.

Itu dikatakannya pada Gelar dan Malam Anugrah Kebudayaan  NTB Gemilang serangkaian HUT NTB ke 64, di Lapangan Supersemar Tanjung, Lombok Utara, Senin (12/12/22) malam

Bencana Covid-19 menjadi hikmah yang luar biasa bagi NTB untuk menemukan jalannya secara mandiri, ternyata NTB tidak boleh menjadi konsumen dari gempuran produk-produk luar. 

Bang Zul yang belum lama ini menerima sederet penghargaan nasional juga mencontohkan, dirinya sebagai pimpinan daerah akan ditegur staf pimpinan di lingkup Pemprov NTB, jika tidak menggunakan tenun produk NTB. 

Ia menyebut sudah tidak selayaknya lagi menjual kain tenun asal NTB ke luar daerah dengan harga murah, lalu dijahit dikemas sedemikian rupa dan kemudian dijual kembali ke NTB dengan harga yang jjauh lebih mahal.

“Sekarang kita harus rubah, pasar domestik kita harus menggeliat dan bisa dibuktikan. Sepatu saya ini merupakan buatan lokal NTB dari Kota Bima. Memang kalau kita ndak beli ndak ada yang mau beli. Jadi itu yang utama, pertama, dan berani melakukannya,” kata Bang Zul. 

Meski demikian Doktor Ekonomi Industri ini mengaku bangga, saat ini produk-produk tenun NTB bukan hanya digunakan dan digemari oleh karyawan-karyawati Pemrov NTB,  tapi dari Jakarta dan Surabaya mulai memesan produk buatan NTB. 

“Jadi mulai dari tenun, sepatu, kopiah semuanya harus bisa diproduksi dari NTB dan kita bangga atas buatan kita sendiri. Kalau semua komoditas ini dengan bangga kita gunakan maka satu saat kita akan mandiri dan kemakmuran dan kesejahteraan bukan imajinasi lagi,” ujarnya. 

Bang Zul megaku bangga seluruh pejabat di NTB menggunakan produk tenun NTB. 

Bahkan kepada Bupati Lombok Utara H Johan Syamsu diimbau mulai saat ini menginstruksikan kepada Kepala Desa, Camat, Kepala OPD di KLU, untuk mulai bangga menggunakan produk buatan KLU sendiri. 

“Karena kalau bukan kita tak ada yang mau pakai produk KLU itu sendiri. Tapi kalau Bupati telah menunjukkan dengan keteladanan maka jajaran lainnya akan bisa mengikuti. Kalau kita semua bangga menggunakan produk KLU maka kemandirian ekonomi bukan lagi impian tetpi semua bisa kita realisasikan dalam kenyataan,” tandasnya.

Ia mengingatkan warga KLU menjual hasil pertanian ke daerah lain lalu kembali membeli hasil pertanian itu dengan harga yang ebih mahal. Berikutnya tidak lagi menjual komoditas dengan lebih murah, namun menggunakan produk dari daerah lain. 

Ditegaskannya, sejak saat ini agar warga NTB untuk bela dan beli produk lokal  NTB.

Ia memahami hal ini bukanlah proses gampang untuk merubah cara berpikir, karena ini butuh waktu. 

Produk NTB awal-awal digunakan tak percaya diri, namun seiring waktu berjalan menjadi pembiasaan dan bila sudah menjadi budaya, maka budaya bangga terhadap produk lokal itu harus ditradisikan.

“Oleh karena itu malam pagelaran budaya ini, mudah-mudahan cara berpikir kita, budaya baru harus didesiminasi kepada masyarakat kita banggalah menggunakan pakaian lokal, produk-produk lokal, mkanan-makanan lokal dan pada akhirnya nanti bukan hanya bisa dikonsumsi sediri, namun bisa memenuhi dengan sesak seluruh outlet-outlet bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh duinia. Dan ini menjadi sejarah dan saksi untuk beli dan bela produk NTB,” terangnya.

Bupati Lombok Utara H Johan Syamsu mengaku bangga gelar budaya NTB ini bisa diaksanakan di KLU. Karena setidaknya para pelaku UKM di Lombok Utara bisa meningkatkan ekonominya melalui kegiatan ini.

 “Berharap agar kegiatan ini bisa membangkitkan ekonomi UMKM di KLU setelah terpuruk pasca gempa dan Covid-19,” ujarnya 

BACA JUGA: Silaturahmi Gubernur NTB bersama HMI Cabang Mataram 

Kadis Dikbud NTB Dr. H Aidy Furqan, M.Pd sebelumnya melaporkan, rangkaian gelar budaya merupakan upaya mempertahankan Indek Pembangunan budaya NTB. Dan NTB saat ini masuk dalam lima besar setelah Yogjakarta, Bali, Jateng dan Bengkulu. 

“Kegiatan ini upaya kita mempertahankan dan meningkatkan indek pembangunan kebudayaan terutama dari sisi ekonomi budaya dan sekaligus kita integrasikan dengan layanan pendidikan kebudayaan menjadi satu sinergitas yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Aidy Furqan. 

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan peresmian “Jendela Inspirasi” dari NTB untuk Indonesia sebagai media berbagai informasi pendidikan dan kebudayaan NTB yang baru pertama diinisiasi di Indonesia.***

 




Penutupan Gelar Budaya di KLU, Ini Imbauan Bang Zul

Memberi sambutan saat penutupan Gelar Budaya NTB, Bang Zul imbau agar masyarakat KLU bangga menggunakan produk lokal

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Bupati Lombok Utara Djohan Sjamsu dihimbau menginstruksikan jajarannya serta segenap masyarakat Lombok Utara menerapkan Bela Beli Produk Lokal. 

Imbauan itu disampaikan Gubernur NTB Zulkieflimansyah saat menutup acara “Gelar Budaya NTB Gemilang 2022” Kabupaten Lombok Utara di Lapangan Supersemar Tanjung, Kab. Lombok Utara, Senin (12/12/22). 

BACA JUGA: Silaturahmi Gubernur NTB bersama HMI Cabang Mataram

Dalam penutupan Gelar Budaya, Gubernur NTB Imbau Bupati KLU instruksikan jajarannya memakai produk lokal

“Saya minta kepada abang saya yang saya cintai ini mulai besok instruksikan semua kepala desa, instruksikan semua kepala opd KLU, kepada camat-camat, kepada semuanya untuk mulai bangga menggunakan produk KLU,” pinta Bang Zul. 

Ribuan peserta gelar budaya dari berbagai kalangan menerapkan bela dan beli produk lokal. Jika suatu daerah hanya menjual komoditas dengan harga murah tanpa diolah terlebih dahulu, daerah tersebut akan tetap menjadi miskin.

“Nusa Tenggara Barat tidak boleh menjadi konsumen dari produk luar, tapi kita harus mulai percaya diri, bangga menggunakan da menjual produk lokal kita sendiri,” seru Bang Zul. 

Doktor Ekonomi Industri tersebut, juga mengapreasi suksesnya acara Gelar Budaya yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB. Sebelumnya Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi membuka acara tersebut. 

BACA JUGA: Penghargaan “Governor 0F Good Governance” untuk Gubernur NTB 

Acara gelar budaya itu berlangsung meriah. 

“Seperti rasanya tidak di KLU,” kesan Bang Zul. ***