Penampilan group musik tradisional gamelan yang dipimpin langsung Wakil Gubernur (Wagub) NTB ini unjuk kebolehan saat pembukaan NTB Mall di Strand Mall Malaysia.
Pada pertunjukkan gamelan itu, pemainnya terdiri dari Ketua Dekranasda NTB bersama sejumlah Kepala OPD dan OPD perempuan lingkup Pemprov NTB.
Semua anggota Gamelan Srikandi menggunakan kostum kain khas NTB. Begitu juga dengan latar panggung dihiasi kain khas tenun NTB.
“Alhamdulillah, Gamelan Srikandi NTB berhasil memukau Malaysia,” tulis Wagub NTB tersebut di statusnya.
Srikandi NTB adalah sekumpulan perempuan hebat NTB yang lihai dan piawai memainkan gamelan, alat musik tradisional NTB.
Mulai terbentuk pada tahun 2019 yang lalu, Srikandi NTB dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah dan Ketua Dekranasda NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah.
Hingga saat ini Srikandi NTB memiliki 20 anggota, beberapa di antaranya adalah Kepala OPD di NTB dan lainnya memiliki jabatan penting di berbagai instansi.
Gamelan Srikandi NTB tampil di berbagai acara seperti di Kementrian Perindustrian, Kementrian Pariwisata RI, Launching calender of event NTB, HUT NTB dan berbagai acara lainnya.
Dibentuknya Srikandi NTB sebagai wujud cinta dan keinginan kuat mempertahankan Musik Tradisional NTB.
Hadirnya Srikandi NTB membuktikan, perempuan NTB mampu berdaya dan tak ada lagi dikotomi bagi perempuan NTB. ***
Senggigi Sunset Jazz 2023 Digelar ke 5 Kali
Digelarnya event Senggigi Sunset Jazz yang ke 5 kali, diharapkan masyarakat NTB menjadi manusia yang ramah
LOBAR.LombokJournal.com ~ Perhelatan Senggigi Sunset Jazz yang ke-5 kalinya di Kawasan Senggigi, Lombok Barat, Minggu (20/08/23), merupakan event nasional maupun internasional yang digelar di NTB.
Terakhir, Gubernur berharap Senggigi Sunset Jazz akan terus diadakan di tahun-tahun yang akan datang. Serta, penyanyi yang ditampilkan semakin beragam agar menjadi daya tarik pengunjung tersendiri.***
Bang Zul Buka Festival Qasidah NTB 2023
Para peserta Festival Qasidah, Bintang Vokalis dan Pop Religi tingkat NTB membawa budaya mereka masing-masing
Hal itu diungkapkan Bang Zul sapaan Gubernur NTB pada pembukaan Festival Qasidah, Bintang Vokalis dan Pop Religi Tingkat Provinsi NTB Tahun 2023 di Kabupaten Sumbawa, Selasa (02/08/23).
Festival Qasidah itu digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) NTB.
“Membuka Festival Qasidah tingkat Provinsi NTB pagi ini di Kantor Bupati Kabupaten Sumbawa. Alhamdulillah semua kontingennya semangat-semangat,” tutur Bang Zul, sapaan Gubernur.
Sementara itu, Ketua DPW LASQI NTB, Hj. Niken Saptarini Zulkieflimansyah menjelaskan, Festival Qasidah ini dapat menjadi wadah bagi masyarakat, untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang budaya daerah.
Para kontingen yang berpartisipasi dalam Festival Qasidah itu berasal dari berbagai daerah di NTB yang membawa budaya mereka masing-masing.
“Ini tentunya akan menambah wawasan kita secara luas sebagai warga dan bangsa, dan Insya Allah pada akhirnya nanti akan memberikan kontribusi bagi kita semua dalam hal peningkatan SDM di NTB,” jelasnya.
Selain itu, Bunda Niken menuturkan, Festival Qaidah juga sebagai ajang silaturahmi bagi seluruh penggiat qasidah dan musik religi di NTB. Sehingga, jejaring sosial antar peserta dapat terbentuk bukan hanya untuk hari ini, namun juga kedepannya.
“Festival Qasidah pada akhirnya menjadi ajang kita untuk menambah silaturahmi, menambah sahabat dan memberikan pengalaman juga pengetahuan,” ungkapnya.
Para peserta yang mengikuti ajang Festival Qasidah Tingkat Provinsi ini, kemudian akan diseleksi menjadi peserta Festival Qasidah Tingkat Nasional yang akan diselenggarakan di Sumatera Utara pada bulan November mendatang.
“Kami memohon kepada para Bupati dan Walikota bersama-sama dengan Ketua DPD LASQI untuk mendukung para peserta yang akan mewakili NTB kedepannya agar maksimal dalam berkompetisi hingga mendapatkan juara,” harapnya.
Festival Qasidah Tingkat Provinsi NTB 2023 ini juga dihadiri oleh Bupati dan Walikota se-NTB, Ketua DPW LASQI NTB, Ketua DWP Provinsi NTB, Ketua DPD LASQI se-NTB, serta jajaran Forkopimda Lingkup Kabupaten Sumbawa. ***
Final MXGP 2023, Semarak “The Spirit of A Culture”
Tarian kolosal The Spirit of A Culture” ditampilkan saat Final MXGP 2023, yang sarat muatan semangat perpaduan budaya dan tradisi
MATARAM.LombokJournal.com, ~ Final Race Ceremony MXGP 2023 di Sirkuit Selaparang, Lombok ada yang menarik.
Sebelum acara final MXGP 2023, disemarakkan pertunjukan seni dan budaya bertajuk “The Spirit of A Culture” di Starting Grid, MXGP Lombok, Minggu (02/09/23).
Penonton final MXGP 2023 sangat antusias menyaksikan The Spirit of A Culture, tarian kolosal yang sarat muatan semangat perpaduan budaya dan tradisi Suku Sasak, Samawa, Dompu dan Mbojo, suku bangsa asli di Nusa Tenggara Barat.
Tarian istimewa saat final MXGP 2023 itu sebagai sinergi dan harmoni suku asli di NTB.
Gubernur NTB, Zulkieflimansyah mengatakan, MXGP 2023 di Sirkuit Selaparang, Kota Mataram, Lombok bukan sekedar balapan. Tapi pemicu untuk merubah berbagai hal yang ada di Provinsi NTB.
“Dari MXGP 2023 kami belajar bagaimana mengelola sistem terbuka. Dari MXGP kami belajar tentang kepribadian, gaya kepemimpinan dan jalan baru menuju banyak hal,” kata Bang Zul sapaan gubernur.
Ia mengapresiasi Fédération Internationale de Motocyclisme(FIM) atau Federasi Olahraga Sepeda Motor Internasional, dan Infront yang bersinergi bersama dalam menyelenggarakan event MXGP Lombok- Sumbawa.
“Saya ingin mengapresiasi Antonio dari FIM, David dan Danil dari Infornt. Mereka sangat sibuk dan kepada seluruh orang, harapan kita ke depan untuk menjamu MXGP lebih baik lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Lapangan MXGP 2023 Sumbawa-Lombok, Ridwansyah mengatakan, rasa bangganya dan bersyukur karena Provinsi NTB mendapatkan jatah 2 kali gelaran MXGP 2023.
“Setelah sukses menyelenggarakan MXGP pada tahun lalu, maka tahun ini kami mendapatkan kesempatan untuk menyelenggarakan 2 seri MXGP di NTB, yaitu MXGP Samota dan Lombok, saya ucapkan terima kasih, awal penuh keraguan tetapi seperti katanya pak Gubernur “there is a will there is a way,” katanya. ***
Penjelajahan Mantra Ardhana dalam “KISSING THE POETRY”
Pameran “KISSING THE POETRY” di Sanur, Bali, merupakan ekspresi penjelajahan maestro perupa Mantra Ardhana
LombokJournal.com ~ Mantra Ardhana, seniman visual, kelahiran Cakranegara, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar pameran tunggal bertajuk “KISSING THE POETRY”, di SANTRIAN Art Gallery, Sanur, Bali, dibuka Jum;at (09/06/23).
KISSING THE DEVIL “ – Oil Color on Canvas – 200 cm x 145 cm – Mantra Ardhana – 2023
Pameran yang akan berlangsung hingga 31 Juli itu, menyajikan sebanyak 27 karya. Menyajikan oil color on canvas, watercolor on paper, dan new media. Semua karya tersebut merupakan karya terbaru, yang diproduksi oleh Mantra Ardhana di tahun 2023.
Selama ini, Mantra Ardhana tetap suntuk menghasilkan karya analog, cetak di atas kanvas (print on canvas) dengan sentuhan analog (retouch).
Selain itu ia bisa dibilang produktif berekplorasi melalui komputernya. Menghasilkan imaji visual digital termasuk video art yang bersenyawa dengan musik elektronik.
Meski yang karya-karya visual digital yang dipamerkan merupakan karya terbarunya, sebenarnya Mantra sudah melakukan eksperimen dan eksplorasi karya visual digital sejak tahun 2000-an.
Barangkali, hingga kini Mantra merupakan salah satu di antara sedikit (kalau tidak disebut satu-satunya) perupa Lombok yang tetap konsisten menghasilkan karya lukis analog. Bersamaan dengan itu ia termasuk produkstif mengeksplorasi visual digital. Karena konsistensi penjelajahannya itu ia layak disebut maestro visual.
Ketidakpahaman Manusia
Mantra Ardhana lahir 22 Agustus 1971 di Lombok. Nusa Tenggara Barat. Meski berdarah Bali – perupa yang menyelesaikan studi kesarjanaannya tahun 1999 di Fakultas Seni Rupa – Seni Murni-Institut Seni Indonesia (ISI) Jogyakarta itu – menyebut dirinya orang Lombok.
Perupa yang bahkan tak gentar mengejek diri dan karyanya sendiri itu, kadang mengidentifikasi karya-karyanya sebagai wujud ‘organic mind’.
Seorang penelaah karya rupa, Miekke Susanto, mengulas “KISSING THE POETRY” sebagai pengenalan, pemahaman, dan penanda terhadap “ketidaktahuan” manusia tentang banyak hal yang kerap beroposisi.
“ SOUND of SILENCE BEAUTY “ – Oil Color on Canvas – 250 cm x 160 cm – Mantra Ardhana – 2023
Maksudnya, yang beroposisi itu adalah sesuatu yang tampak bertolak belakang tapi hadir bersamaan. Sesuatu yang membingungkan dan mengundang ketidak pahaman, namun ada di tengah-tengah kita.
Ada sains-mitologi, spiritualitas-profanitas, seen-unseen, fisikal-virtual, nyata-maya, hitam-putih, dan berbagai kenyataan yang saling bertentangan lainnya.
“Ibarat teks yang berkelindan di setiap individu,” kata Miekke Susanto.
Mantra berada di tengah pusaran itu, dan memanfaatkannya. Internet bukan sekedar media distribusikarya-karya digitalnya. Capaian termutakhir dari teknologi informasi pun, yaitu; Artificial Intelligence (AI), dimanfaatkan sebagai perangkat ekspresinya
Bahkan tidak berhenti memanfaatkan, sekaligus melakukan pengayaan. AI dipersinggungkan dengan prinsip grafika dan rangkaian elektronik. Karya yang semula berupa gambar diam (still image), dan saling silang medium dan disiplin ilmu tersebut terciptalah ilusi yang menggerakkan (kinetic), serta memperdalam dimensi hingga nampak bervolume (3D).
Menurut Mikke, pesan-pesan Mantra pada setiap karya padat akan problematika keseimbangan hidup manusia.
“Lukisan, instalasi, maupun karya-karya digitalnya menyimpan rasa penasaran yang berbasis pada konsep sekala-niskala,” ujarnya.
Dan Mantra berharap karyanya bisa mendialog tentang warisan nilai filosofis masa lampau.
“Khususnya untuk generasi muda masa kini yang hidup dalam peradaban dengan percepatan dan kecanggihan teknologi informasi,” tutur Mantra.
Itulah Mantra yang selalu tampak unik sekaligus otentik. Seperti Ronieste, aktivis dan penggiat seni di Lombok, mengulik ‘corat-coret’ Mantra di atas kertas.
Mantra seperti meninggalkan begitu saja sejumlah fragmen yang masih berupa kubangan, kata Roni. Namun Mantra dinilai menyakini ada sesuatu, semacam energi yang akan menguak pengertian.
Penjelajahan Mantra Ardhana dalam pameran “Kissing The Poetry”
Misalnya, kita menduga seolah-olah ada huruf dalam karyanya. Tak pusing apakah orang lain memahaminya.
“Ini tipografisaya sendiri, bukan untuk dibaca. Ia semacam simbol dan hanya aku yang mengerti maknanya,“ kata Mantra. ***
Biografi Penyair yang Terangkum dalam Puisi
Menulis puisi bagi Agus K Saputra seperti menulis buku harian, tercatat biografi perjalanan yang sarat kerinduan, takjub, sedih, kenangan, sekaligus semangat berkarya
MATARAM.LombokJournal.com ~ Perayaan buku puisi ‘Januari di Kendari’ karya Agus K. Saputra berlangsung hari Kamis (01/06/23) malam, di Galery Taman Budaya NTB, Kota Mataram.
Agus K Saputra mengaku, 50 puisi yang terhimpun dalam buku itu itu didedikasikan untuk koleganya di Kendari, Sulawesi Tenggara. Sekitar setahun Agus bertugas di Kota Kendari, yang mengaku mengalami banyak peristiwa mengesankan.
Ia bertemu teman-teman baru yang membuka banyak perspektif pemikiran baru, termasuk banyak bertemu seniman yang kemudian melecutnya berani terus berkarya.
Dalam acara yang dihadiri kalangan sastrawandan banyak seniman Mataram lainnya, Agus tampak bersemangat sebagai penulis puisi. Meski ia tak punya pretensi menjadi penyair.
Membaca 50 puisi Agus K. Saputra tergambar ‘biografi’ seseorang yang sarat kerinduan, takjub, sedih, kenangan, sekaligus semangat berkarya. Dalam buku kumpulan puisi ‘Januari di Kendari’ (87 hal, 2023), ditulisnya selama bertugas di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (2018-1019).
Menulis puisi bagi Agus, (barangkali) layaknya menulis catatan harian. Ia sudah ‘memuisi’ sehingga yang menyentuhnya dituangkannya dalam bahasa yang indah dan berirama untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan pengalamannya. Agus menggunakan imaji dan ritme yang unik untuk menciptakan efek emosional, dalam mengungkapkan pengalamannya selama di Kendari.
Maka puisi-puisi Agus yang ditulisnya di Kendari menggambarkan perjalanan emosional, spiritual, sekaligus introspektif. Penyair seringkali menggunakan imajidan deskripsi untuk menggambarkan tempat-tempat yang dikunjungi, pemandangan alam, suara, aroma, dan kesan yang dirasakan selama perjalanan.
Buku Januari di Kendari
“….kata-kata (dalam puisi Agus, pen) sebagai aksentuasi pengalaman dan penghayatan,” tulis Syaifuddin Gani (Peneliti Brin) yang meninjau kumpulan puisi ini dalam tulisannya.
Karena itu Syaifuddin menyebutnya sebagai buku kumpulan puisi rekaman jejak perjalanan.
Pengalamannya bertemu keluarga nelayan di wilayah pesisir Kendari, ia ungkapkan dalam AYAH GAGAL MELAUT:
Terasa kuat empatinya, menghayati derita keluarga nelayan:
AYAH GAGAL MELAUT
malam ini tak ada ikan asap
ayah gagal melaut
ketika batuk kembali menyergap
napasnya tersengal-sengal
di dapur ibu menjerang air
dengan kayu bakar menipis
seperti angin tak lagi menyapa
peluhnya bercucuran tiada henti
langit gelap
hari semakin pengap
menyoraki cerdik pandai bersenda gurau
meninggalkan kami tanpa nasi
laut bergemuruh
mencari tempat menumpahkan amarah
seperti petir siang bolong
menusuk gendang telinga
bumi pertiwi menangis
dengan air mata darah
suaranya semakin lemah
bangkitlah bangkitlah
Malalanda-Ereke, 11 November 2018
Agus memang beruntung, punya kesempatan menempuh perjalanan di banyak tempat. Setelah di Kendari (Sulawesi Tenggara), kemudian ia menjelajah di Sulawesi Selatan. Dan sejak pertengahan 2023 bertugas di Area Lampung, Provinsi Lampung, sebagai Deputi Bisnis/Vice President PT Pegadaian, Kantor Wilayah Palembang
Memang Agus bisa dibilang jenis manusia yang langka, dalam posisinya sebaga Deputi Bisnisi PT Pegadaian, telah menerbitkan 6 buku kumpulan puisi, yaitu Kujadikan Ia Embun (Halaman Indonesia, 2017), Menunggu di Atapupu (Halaman Indonesia, 2018), Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil (Halaman Indonesia, 2020), Bermain di Pasar Ampenan (Halaman Indonesia, 2021), dan Mencari Rumah Sembunyi (Halaman Indonesia, 2022). Dan yang keenam adalah Januari di Kendari (Halaman Indonesia, 2023).
Salah seorang pembicara meninjau puisi-puisi Agus, adalah sutradara teater di Mataram, Kongso Sukoco, yang mengungkapkan pendekatan ‘psikobiografi’. Pendekatan ini menginterpretasikan puisi JANUARI DI KENDARI sebagai pengalaman penyair dalam perspektif psikologi, berdasarkan sumber informasi yang ditemukan dalam puisi.
JANUARI DI KENDARI
hujan membawa sakitnya melangkah
mendapati selembar cerita
terpanah hati menjadi rintik
dingin mengembara ke langit biru
menyapa mentari hinggap di bibir
merekah bersama sebaris senyum
angin kini mengalir sendiri
membasahi setiap langkah
menepikan kepedihan
hingga api membara
membawa jalan bahagia
januari di kendari
Kendari, 13 Januari 2019
Nada dasar puisi di atas menggambarkan pengalaman dan perasaan kesedihan (sekaligus cahaya kebahagiaan) yang sangat personal. Kalau itu menggambarkan pengalaman subyektif penyair, itu bisa dipahami.
Karena Agus yang sebenarnya selalu ‘rindu keluarga’ itu harus bertugas di tempat yang jauh dari keluarga. Itu berlangsung simultan. Itu bisa ‘beresiko’ secara emosional.
Perayaan buku JANUARI DI KENDARI mendapat perhatian luas kalangan seniman di Lombok, termasuk dari Kepala Kantor Bahasa NTB, Dr. Puji Retno Hardiningtyas, S.S., M.Hum, Kepala Perwakilan Ombudsman RI NTB, Dwi Sudarsono SH, Kepala Taman Budaya NTB, Sabarudin, S.Sastra, dan sutradara film, Adi Pranajaya Ratsu, serta penyair Kiki Sulistio. ***
Dukungan untuk John “Kursi Roda” dan Pekerja Seni di Lombok
Memuliakan kaum difabel, Rachmat Hidayat beri dukungan untuk musisi Sasak John “Kursi Roda” dan penyandang disabilitas Pulau Lombok
MATARAM-LombokJournal.com ~ Politisi PDI Perjuangan, H. Rachmat Hidayat memberi perhatian dan dukungan untuk John “Kursi Roda”, salah seorang penyanyi dan pencipta lagu Sasak yang memiliki nama masyhur di Pulau Lombok.
Anggota DPR RI itu juga memberi perhatian kepada sejumlah penyandang disabilitas lainnya. Mereka mendapat bantuan kursi roda manual untuk memudahkan aktivitas mereka.
John diembel-embei ‘kursi roda’ karena pekerja seni ini penyandang disabilitas, dan harus selalu duduk di kursi roda.
Semenjak usia delapan tahun, ayah dua anak dengan nama asli Zainuddin tersebut menderita polio. Semenjak itu, John, tidak bisa berjalan. Kepada John, Rachmat menyerahkan bantuan kursi roda elektrik.
Pertengahan pekan lalu, Rachmat janjian bertemu dengan John di rumah Mas Santo, salah seorang pengusaha di Mataram yang dekat dengan sejumlah pekerja seni di Lombok.
John datang bersama dengan M Zulaipi, rekannya sesama penyandang disabilitas yang tidak memiliki kaki.
Rachmat mengatakan, berbagi dan memperhatikan kaum difabel menjadi prioritasnya, lantaran hal tersebut sangat penting dalam keberlangsungan kehidupan sosial.
Perhatian itu untuk memberikan dukungan kepada kaum difabel agar dapat hidup dengan nyaman dan bahagia di lingkungan mereka.
“Bantuan kursi roda ini kita harapkan akan membantu John dan saudara-saudara kita penyandang disabilitas memiliki mobilitas yang tidak lagi terbatas,” ucap Rachmat.
Anggota Komisi VIII DPR RI menegaskan, kaum difabel adalah kelompok yang seringkali diabaikan oleh sebagian kita.
Padahal mereka membutuhkan perhatian dan dukungan yang lebih.
“Dengan memberikan dukungan kepada mereka, kita dapat membantu mereka merasa lebih dihargai dan diterima di lingkungan sekitarnya. Termasuk memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas antar sesama kita sebagai umat manusia,” imbuh politisi senior lintas zaman ini.
Ketua DPD PDI Perjuangan NTB ini pun menggugah pihak lain, untuk juga turut memberi perhatian dan dukungan kepada kaum difabel.
Mulailah hal tersebut kata Rachmat, dengan kaum difabel yang ada di sekitar terlebih dahulu.
Dukungan tersebut pun tak melulu harus berupa finansial. Berbagi waktu atau tenaga, juga tentulah akan sangat bermanfaat untuk mereka.
Atau menghindari perilaku diskriminatif atau merendahkan mereka juga adalah sebuah dukungan yang luar biasa pula.
“Sesungguhnya saudara-saudara kita yang secara fisik memang kekurangan, juga memiliki hak-hak yang setara dengan kita sebagai warga negara,” kata Rachmat.
Bertemu dengan John dan M Zulaipi, Rachmat pun tak henti mengucapkan kekaguman kepada mereka. Di tengah keterbatasan mereka secara fisik, semangat hidup mereka tak pernah padam.
Tak sekalipun mereka merasa rendah diri. Tak ada pula keluhan yang terlontar.
Semangat mereka untuk berkreativitas demi hidup yang lebih baik, juga sangat patut diacungi jempol.
John, adalah pencipta lagu-lagu Sasak yang karyanya meledak dan banyak digandrungi khalayak. John mengaku, dirinya kini masih rutin manggung.
Mulai dari acara hajatan, hingga perkawinan. Dalam sepekan, dia bisa manggung hingga empat kali.
“Untuk tarif, biasanya saya tidak mematok harga,” kata John.
Sementara Zulaipi, saat ini bekerja sebagai tukang reparasi alat-alat elektronik. Dengan cara itulah kaum difabel asal Peringgarata, Lombok Tengah ini, dapat menghidupi keluarganya.
John dan Zulaipi, adalah dua contoh penyandang disabilitas yang menolak hidup dari belas kasihan orang lain. Mereka bekerja keras untuk dapat memberi penghidupan yang layak bagi anak dan istri mereka.
Baik John dan Zulaipi, saat ini memang sudah berkeluarga. John telah memiliki dua anak. Sementara Zulaipi memiliki satu buah hati.
“Kami memang tidak ingin hidup hanya untuk menjadi sampah di bumi,” kata John. Zulaipi, mengangguk. Setuju dengan apa yang dikatakan John.
Rona bahagia terpancar dari raut wajah mereka, saat menerima bantuan kursi roda dari Rachmat Hidayat.
John, lalu mencoba kursi roda elektrik yang harganya Rp 27 juta satu unit tersebut. Zulaipi juga mengayuh kursi roda manual yang diterimanya. Mereka pun berucap rasa syukur, lantaran telah mendapat perhatian yang disebutnya tak terhingga dari Rachmat Hidayat.
Kepada Rachmat, John pun berjanji akan membuatkannya lagu. Hal yang membuat Rachmat surprise.
Politisi berambut perak ini pun mengaku sudah tak sabar menantikan lagu gubahan dari John rampung untuknya.
Rencananya, jika tak ada aral melintang, Rachmat juga akan mempertemukan John secara langsung dengan Menteri Sosial Tri Rismaharini.
Rachmat ingin agar John, bisa menyampaikan langsung apa yang menjadi permasalahan para penyandang disabilitas di NTB, sehingga pemerintah dapat memberi atensi terhadap hal tersebut.
Rachmat juga ingin, agar John juga nanti mendapat bantuan alat-alat bermusik dan fasilitas rekaman dari Kementerian Sosial, sehingga hal tersebut dapat menopang kreativitas John dalam bermusik.
“Pada kreativitas pekerja seni seperti John dan pekerja seni lainnya di Pulau Lombok, lagu-lagu Sasak akan bisa kita harapkan naik kelas dan orisinilitasnya tetap terjaga,” ucap Rachmat.***
Bersama Pemda setempat, Pemprov NTB akan mendukung penuh lahirnya para Qori-qoriah terbaik di Kabupaten Sumbawa
SUMBAWA.LombokJournal.com ~ Gubernur NTB, Zulkieflimansyah yang akrab disapa Bang Zul tertarik kepedulian masyarakat Kecamatan Alas Barat dalam melahirkan Qori-qoriah berkualitas di masa depan.
Itu diungkapkan Bang Zul di tengah kegiatan Safari Ramadhan Gubernur NTB yang berlangsung di Masjid An-Nur Hiqmah Desa Gontar Kecamatan Alas Barat, Kabupaten Sumbawa, Selasa (04/04/23)
Diwarnai guyuran hujan, kedatangan Bang Zul di Desa Gontar Kecamatan Alas Barat disambut hangat masyarakat. Ikut mendampingi, Wakil Bupati Sumbawa serta Kepala OPD Pemprov dan Pemkab Sumbawa.
Gubernur NTB berdialog dengan masyarakat terkait berbagai hal, salah satunya kepedulian masyarakat akan lahirnya Qori-qoriah berkualitas.
Dua warga Kecamatan Alas Barat menyampaikan harapannya, agar Pemprov NTB mendukung upaya membangun SDM yang andal di bidang keagamaan, khususnya para Qori-qoriah.
Bang Zul menyambut baik aspirasi masyarakat yang dinilainya sangat penting dalam memajukan daerah, khususnya pada bidang pendidikan dan keagaman.
Ia bersama Wakil Bupati Sumbawa dalam kesempatan ini sepakat akan mendukung penuh lahirnya para Qori-qoriah terbaik di Kabupaten Sumbawa.
“Insya Allah kita akan segera menghadirkan guru-guru hebat pula yang akan membimbing masyarakat dan anak muda di daerah kita,” kata Bang Zul.
Bang Zul juga mengungkapkan, saat ini di NTB juga memiliki talenta Qori’ yang begitu berbakat dan berprestasi hingga kancah dunia. Dia adalah Syamsuri Firdaus putera asli Bima.
Diharapkan figur Syamsuri Firdaus menjadi motivasi bagi putera-puteri NTB lainnya.
Selain itu, ada pula aspirasi masyarakat terkait pembangunan jembatan penghubung antar dusun di Desa Gontar Kecamatan Alas Barat.
Merespon itu, Bang Zul bersama Pemda setempat juga akan segera mengkaji lebih lanjut.
“Ini akan segera kita kaji, mungkin tidak segera dibangun sekarang, tapi ini solusinya harus ada,” ucapnya.
Kegiatan Safari Ramadhan di Kabupaten Sumbawa kali ini juga turut menghadirkan Bazar Pangan Murah bagi masyarakat.
Kehadiran Bazar Pangan Murah ini diharapkan Bang Zul dapat sedikit membantu meringankan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok yang cenderung mengalami kenaikan harga di bulan Ramadhan.***
Pembuatan Film Pendek tentang Stunting dari SMAN 1 Mataram
Pembuatan film pendek tentang stunting mendapat apresiasi, dan akan dijadikan edukasi dan sosialisasi di kalangan remaja
MATARAM.LombokJournal.com ~ Film pendek tentang stunting oleh SMA Negeri 1 Mataram, menjadi bagian dari edukasi penanganan stunting di Indonesia khususnya di Provinsi NTB.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat menerima audiensi tim dari SMAN 1 Mataram, di ruang kerja Wagub, pada rabu (22/02/23).
“Edukasi tentang lingkungan dan stunting adalah edukasi dahsyat yang membutuhkan konsistensi tinggi,” jelas Ummi Rohmi memberi apresiasi.
Lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam penangan kasus stunting, pengelolaan lingkungan yang baik akan melahirkan ekosistem yang sehat.
“Mindset anak harus di rubah, harus dipahami antara kesehatan dan lingkungan adalah suatu lingkaran yang saling mempengaruhi. Alam kita luar biasa, maka kita harus bisa mengatur, memelihara, dan mengelola lingkungan dengan baik,” katanya.
Wagub berharap ketika mindset anak baik tentang lingkungan, maka secara otomatis kualitas masyarakat dan daerah akan ter-upgrade.
Ia pun berharap dengan pembuatan film ini dapat dijadikan edukasi dan sosialisasi dikalangan masyarakat terutama remaja.
Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Mataram, I Gusti Ayu Adi Dauti Antari menjelaskan, stunting disebabkan oleh tiga faktor, yaitu pernikahan dini, sanitasi, dan nutrisi.
Maka melalui kreativitas dalam pembuatan naskah film berbasis digital edukasi ini, diharapkan mampu memberikan edukasi kepada anak-anak, apalagi yang terlibat langsung dalam pembuatan film ini. ***
Maestro dan Sutradara Teater Koma, Nano Riantiarno Telah Pergi
Sutradara Teater Koma, sekaligus salah satu maestro teater modern di Indonesia itu, akan dimakamkan hari Sabtu, 21 Januari 2023 di Taman Makam Giri Tama, Tonjong, Bogor
Lombokjournal.com ~ Nobertus (Nano) Riantiarno, salah satu maestro teater Indonesia dan Sutradara Tetar Koma Jakarta, meninggal dunia pada hari Jum’at (20/01/23) pukul 06.58 WIB.di usia 73 tahun (kelahiran Cirebon, 6 Juni 1949).
Sempat dioperasi tumor bagian paha, diketahui ada cairan yang menyebar di bagian paru-paru. Setelah hampir 3 pekan dirawat, pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk menjalani rawat jalan sejak akhir pekan ini.
Nano Riantiarno pernah mengenyam pendidikan di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) Jakarta dan bergabung dengan Teguh Karya serta Teater Populer.
Jenazah Nano saat ini masih berada di rumah duka, di Sanggar Teater Koma, Jalan Cempaka Raya 15, Bintaro, Jakarta Selatan. Ia meninggalkan seorang istri, Ratna Riantiarno, dan beberapa putra-putrinya. Salah seorang putranya, Rangga Riantiarno meneruskan bakat ayahnya, dan sudah beberapa kali menyutradarai produksi Teater Koma.
Pemakaman Nano akan dilakukan pada hari Sabtu, 21 Januari 2023 sebelum tengah hari, di Taman Makam Giri Tama, Tonjong, Bogor.
Beberapa kali Riantiarno bersama istrinya mengunjungi Mataram, bertemu dan berdiskusi dengan para seniman, Terakhir, 23 Agustus 2019, ia ke Mataram atas undangan Adi Pranajaya, seperti biasa ia memberi workshop teater pada seniman di Mataram.
Bahkan ia juga sempat berdiskusi dengan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah di Taman Budaya NTB.
Teater Koma
Nano Riantiarno dan Ratna istrinya, bersama beberapa seniman yang mempunyai visi sama mendirikan Teater Koma tanggal 1 Maret 1977.
Selama lebih dari 4 dekade, Teater Koma menjadi tonggak teater modern yang paling produktif (sedikitnya dua pementasan dalam setahun) dan mampu menyedot penonton yang setia membeli tiket pertunjukan.
Pada era Orde Baru, drama-drama Teater Koma yang menghibur tapi sekaligus banyak melontarkan kritikan, sempat dilarang pentas.
Nano menuturkan seorang anggota Teater Koma haruslah orang yang setia dan punya loyalitas tinggi.
“Saya punya kode etik Teater Koma. Kalau sudah mengerti, baru masuk Teater Koma. Loyalitas dari mereka juga sangat penting. Anggota harus setia juga,” kata Nano.
Di kalangan anggpta Teater Koma, ia dikenal sebagai sutradara yang bekerja sangat detail, tegas tapi terbuka bila diajak diskusi.
“Dulu sebagai sutradara saya sangat tidak sabar, apalagi di 10 tahun pertama. Tapi 24 tahun ke belakang, saya menjadi orang yang paling sabar, mendengarkan apa yang dilakoni aktor, memahami, dan mencoba untuk menikmatinya,” ungkap Nano Riantiarno.
Kesabaran itulah yang jarang dipunya sutradara lain.
Ratna Riantiarno, istrinya, turut menimpali perkataan suaminya, bahwa kelompok teater yang bertahan lebih dari 44 tahun tidaklah mudah, khususnya ketika harus mengikuti perkembangan zaman.
Putra sulung Nano, Rangga Riantiarno, menuturkan di akhir hayatnya ayahnya masih berkarya dan menggarap sebuah naskah teater. Skenario pertunjukan itu dikirimkan ke Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun lalu dan berhasil memenangkan Sayembara Naskah Teater DKJ 2022.