Teater ‘Ibu Padi’,  Pertunjukan Eksperimentasi Taman Budaya NTB

Pertunjukan teater mengalami perubahan dari waktu ke waktu, kualitasnya pementasannya yang digelar di taman budaya mengalami peningkatan

MATARAM.LombokJournal.com ~ Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) gelar Eksperimentasi Teater 2024, Sabtu (05/10/2024), di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB, yang digelar mulai pukul 20.00 WITA. 

Pertinjukan teater yang memanfaatkan teknologi

Ratusan penonton dari berbagai kalangan hadir memenuhi kursi menyaksikan pertunjukan berjudul ‘Ibu Padi’. Gelaran eksperimentasi ini ditujukan untuk memberikan stimulus dalam proses pengembangan seni pertunjukan khususnya teater. 

BACA JUGA : Bengkel Aktor Mataram Pentaskan Lakon Kemaruk

Melalui kegiatan itu, Taman Budaya memberikan stimulan untuk pelaku teater menggarap pertunjukan secara lebih serius.

Sabarudin selaku Kepala Taman Budaya menilai bahwa kualitas pementasan teater dari waktu ke waktu mengalami peningkatan. Hal itu dinilainya tidak terlepas dari peran kreator-kreator muda yang terus berusaha mengembangkan seni pertunjukan di NTB. 

“Pertunjukan teater mengalami perubahan dari waktu ke aktu. Seluruh gelaran teater yang digelar di taman budaya mengalami peningkatan. Terjadi banyak loncatan-loncatan kreativitas. Sudah seharusnya muncul terobosan-terobosan baru dalam pertunjukan teater sehingga tidak terkesan ala kadarnya,” kata Sabarudin dalam sambutan membuka gelaran Ibu Padi, Sabtu  (05/10/24)

Loncatan-loncatan kreativitas itu menurutnya tidak terlepas dari sosok pemuda yang terlibat secara langsung dalam pengembangan seni pertunjukan. Sehingga banyak ide-ide baru bermunculan dan menjadi sebuah penyegaran dalam berbicara pengembangan teater. 

“Tahun ini teater banyak digarap oleh temen-temen muda. Pikirannya lebih fresh mengenai teater, pembacaannya lumayan bagus, dan lebih kreatif, inovatif,” jelasnya.

BACA JUGA : Transformasi Karya Visual dalam Antalogi Puisi ‘ Pertemuan Kecil’

Pertunjukan Ibu Padi sendiri disutradarai oleh sosok muda, Taufik Mawardi atau yang lebih akrab disapa Opik. Sosok seniman teater asal Narmada, Lombok Barat yang juga merupakan salah seorang dosen di Program Studi Seni Pertunjukan Universitas Bumigora. 

Menurutnya, pertunjukan ini sebuah bentuk tantangan yang harus diwujudkan. Dalam tajuk eksperimentasi unsur kreativitas dan inovasi menjadi kunci utama untuk mewujudkan sebuah pertunjukan yang mampu memberikan pengalaman baru bagi penonton di balik pesan yang harus disampaikan. 

“Ibu Padi ini menjadi pesan utama yang pengin disampaikan. Tetapi karena ini pertunjukan eksperimental, tantangannya jelas pada persoalan bagaimana menghadirkan pengalaman baru bagi penonton. Saya coba untuk memadukan teknologi yang ada sekarang ini, untuk mengemas pesan yang pengin disampaikan,” terang Opik saat dijumpai usai pertunjukan berlangsung (05/10/24)

Pertunjukan yang berlangsung sekitar 45 menit itu menampilkan sebuah panggung tertutup tabir transparan. Sebuah tabir berwarna putih yang digunakan untuk menampilkan proyeksi visual. Menampilkan video yang merupakan kesatuan dari berbagai adegan dalam pertunjukan, termasuk di dalamnya tata cahaya dan musik. 

Pertunjukan teater ini mencoba memadukan unsur teknologi untuk memunculkan berbagai kemungkinan dalam memberikan pengalaman kepada penonton. 

“Memang konsepnya adalah memadukan berbagai adegan yang ada di balik tabir dengan video yang tampak. Keduanya merupakan satu kesatuan, termasuk tata cahaya dan bunyi-bunyian yang mengiring selama pertunjukan,” ujar Opik.

Aktor yang terlibat dalam pertunjukan Ibu Padi kali ini di antaranya adalah Den, Bagus Gani, Fitria, Keishe, Ocy, Rizki, Ayu, Danang, dan Hamzan. 

Adapun tim produksi terdiri dari Opik sebagai Sutradara, Penata musik oleh Emen, Ari, dan Basuki. Kostum oleh Dinda, MakeUp oleh Najwa, Penata Lampu oleh Guruh dan Aziz, Artistik oleh Bonex, Visual Director oleh Egi, dan poster oleh Cholenesia. 

Ibu Padi terinspirasi dari ide akan adanya sistem ketahanan pangan yang dimiliki masyarakat Sasak. Sebuah konsep yang hidup dalam dunia pertanian tradisional dan terus terjaga, hingga kemudian diabaikan dan dilepaskan dari kesadaran. Tidak hanya oleh masyarakat, tetapi juga para penguasa dan pemangku kebijakan. 

Lumbung yang menjadi tempat penyimpanan dan merupakan cadangan bagi masyarakat di saat krisis mulai diabaikan dan ditinggalkan. 

BACA JUGA : Perusahaan di NTB Harus Utamakan Pekerja Lokal

Modernisasi yang tidak jauh dari skema industrialiasasi, kemudian menghadirkan sistem pertanian modern dengan menggeser cara-cara tradisi. 

Sistem bercocok tanam yang lebih instan dengan berbagai rekayasa dan penggunaan bahan kimia, tidak lagi memungkinkan untuk menyimpan Ibu Padi yang menjadi simbol atas cadangan dan ketahanan pangan. 

Jargon-jargon kemajuan dalam perjalanannya dinilai serupa bius yang membiaskan hadirnya ketimpangan dan mengasingkan keseimbangan. fik

 

 




Cerita Pendek ; JAZZ, TROTOAR DAN POLISI-POLISI ITU

Gun menganggap cerita Tse Un tak penting untuk didengarkan. Ia malah sibuk memeriksa pesan-pesan masuk di handphone yang selalu digenggamnya

lombokjournal.com ~ 

GUN TERPERANJAT sejenak, namun ia merasa bisa menangkap seluruh peristiwa yang jadi cerita itu dengan pikiran yang terang. Siang itu peluru-peluru mendesing kemudian membentur dan menembus kaca restoran. Tentu saja peluru-peluru melesat sangat cepat, tapi Gun masih sempat menghitungnya, jumlahnya tak lebih delapan belas butir. Begitu cepat, menembus kaca-kaca pintu restoran itu, tapi tidak pecah meski berlubang. Hanya di sekeliling lubang kaca itu tampak rengat.

Dan sama sekali sulit diduga, tiap peluru menerbangkan satu tubuh. Wow. Peluru-peluru melesat menuju restoran, tapi singkat cerita tubuh-tubuh itu berjatuhan di jalan raya di tengah lalu lalang kendaraan yang melaju kencang. Seketika pengendara menginjak pedal rem dalam-dalam sehingga suara rem kendaraan terdengar berdenyit susul menyusul. Peristiwa ini menyebabkan kekacauan di jalan raya. Semula timbul suara memaki dari pengendara. Setelah itu lebih mengerikan, susul menyusul suara keras benturan besi, pengendara kendaraan di belakang yang tak sempat mengerem menabrak yang ada di depannya. Disana sini mulai terdengar suara menjerit. Suara tabrakan itu susul menyusul. depan restoran yang berderet dengan toko-toko dan hotel. Orang-orang di dalam restoran, toko-toko dan hotel berhamburan keluar.

Gun menceritakan peristiwa Itu pada Tse Un, istrinya. Tapi Un mukanya tampak datar. Tak ada tanda-tanda Un tertarik untuk tahu lebih jauh, apalagi terperanjat. Tse Un sedikit pun tak bereaksi. Semula Gun menduga telah menyampaikan kabar yang dasyat. Sesaat kemudian ia jadi terperangah. Bahkan, sambil matanya menatap datar pada Gun, mulut Tse Un seperti mengumamkan irama musik. Bahkan tubuhnya bergerak perlahan, sambil matanya setengah terpejam, ia menggigit bibirnya. Tubuhnya bergerak memutar perlahan seperti terbawa irama musik.

Kalau sudah demikian, biasanya Gun memilih keluar menuju halaman depan, menarik nafas dalam-dalam, menulis status di akun medsosnya.

Tse Un pikirannya hanya tergoda spaghetti. Ia pernah menceritakan kelezatan spaghetti pada Gun dengan antusias
“Spaghetti paling klasik di Italia adalah aglio olio, yang dibuat hanya dengan bawang putih dan minyak zaitun.Walau aglio olio tidak punya saus sungguhan, kelezatannya justru bergantung dari kesederhanaannya,” kata Tse Un dengan antusias.
Ia mengucapkan itu mengutip apa yang diucapkan seorang Chef yang pernah dibacanya di sebuah media. Sebaliknya Gun menganggap cerita Tse Un tak penting untuk didengarkan. Ia malah sibuk memeriksa pesan-pesan masuk di handphone yang selalu digenggamnya.

Tse Un memesan semangkuk spaghetti dan sebotol kecil air mineral di kedai langganannya. Nyaris tiap malam ia mengunjungi kedai itu, dan ia betah duduk hingga berlangsung sampai larut malam.

Tse Un menikmati suara penyanyi tua yang menyanyikan lagu lama, bolehlah itu disebut sebagai jazz balada, jenis musik balada yang terpadu dengan unsur-unsur musik jazz. Tse Un terlena dominasi alunan piano yang mendayu-dayu. Selera itu mungkin diwarisi dari ayahnya, seperti yang sering ia dengar dari ibunya. Ayahnya baru beranjak saat pemilik kedai itu memberitahu tak ada lagi pengunjung datang.
Tse Un tak menjelaskan, apa hubungan lagu-lagu yang dilantunkan penyanyi tua itu dengan spaghetti. Sering ia mengatakan dengan ketus, banyak orang selalu ingin mengaitkan sesuatu agar semua hal bisa dihubung-hubungkan secara logis.

“Kalau kita jadi pergi, numpang kereta milik tetangga saja,” kata Tse Un kepada Gun.
.
Siapa yang memuntahkan peluru itu tidak penting. Gun waktu itu hanya berjarak tak lebih sepuluh atau lima belas meter dari restoran itu. Gun menyaksikan seluruh kejadian itu sangat dekat dengan matanya sendiri. Ia sempat terperanjat menyaksikan peristiwa yang pernah diceritakan pada isterinya, Tse Un. Saat peristiwa itu terjadi Gun sempat gugup dan menoleh sejenak. Namun di tengah suara hiruk pikuk, suara teriakan, suara orang mengerang kesakitan, dan orang yang berusaha memadamkan percikan api dari mobil yang mengepulkan asap hitam, Gun hanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan kegiatannya.

Mobil polisi, jumlahnya sembilan, suara sirinenya meraung-raung, tapi kesulitan untuk mendekat ke restoran hotel itu. Polisi-polisi itu dengan cepat membuka pintu mobil dan membentuk barisan seperti siap menyergap dengan senjata laras panjang. Beberapa polisi dari dalam mobil itu berloncatan keluar sambil mengacungkan pistol yang digenggamnya. Gun sendiri tak mengerti, entah kenapa polisi-polisi itu menyasar restoran hotel itu.

Gun melemparkan kertas-kertas itu ke udara. Baginya polisi-polisi itu juga tidak penting. Sebenarnya ia ingin kertas-kertas itu dibawa angin dan terus terbang meninggi, menutupi awan. Sebenarnya ia tahu kertas-kertas itu akan kembali berhamburan di trotoar. Kertas-kertas itu akan disapu petugas kebersihan kota. O ya perihal kertas-kertas di trotoar itu Gun pernah mendiskusikan dengan Tse Un, sebab ia selalu menanyakan kenapa tidak ada hewan pemakan kertas. Atau lebih baik kertas-kertas diserahkan saja ke resepsionis hotel. Mereka bisa membagikannya pada tiap tamu hotel yang datang silih berganti.

Tse Un sempat menanyakan soal ini ke resepsionis hotel, tapi resepsionis berwajah pucat dan bertubuh gendut itu justru balik bertanya kenapa harus diberikan ke tamu-tamu hotel. Menurutnya, biasanya tiap tamu sudah sibuk membaca apa pun, pesan-pesan dari handphone, resep-resep tentang makanan lokal atau berita-berita kota, dari telpon selular yang digenggamnya.

“Gun, kalau kita bermimpi rumah besar, rasanya masih lama. Aku lebih suka meja makan yang bersih. Dapur dengan peralatan-peralatan masak yang praktis, supaya kamu mudah membuat sarapan, atau kalau sedang ingin kopi. Apalagi kalau suatu saat teman-temanmu mampir. Kita nikmati yang kita ingin. Sori, kadang-kadang aku sampai larut. Sebenarnya yang kuiinginkan hanya mendengar suara orang tua itu menyanyi,” kata Tse Yun.
Seperti biasa Gun membalas pesan atau menjulis status dari handphone yang digenggamnya.

Bayangkan kalau hampr seluruh sudut kotamu penuh dengan gambar-gambar iklan, Gun. mulai menulis status. Seharusnya kota ini hanya perlu pengurus, bukan walikota. Agar tak perlu banyak mengeluarkan biaya terlalu besar, belum lagi akibat buruk yang mengikuti. Tanpa walikota tetap saja warga kota itu bisa mengatur dirinya sendiri. Walikota dan jajarannya hanya menghabisi anggaran besar yang sebenarnya bisa untuk mengatasi pengangguran. Sebab walikota dan aparatnya itu membuat warga menderita kekurangan gizi dan hidupnya dihalangi banyak aturan. Padahal pasar tradisional yang tiba-tiba kebakaran atau rumah warga di kampung yang dimakan api, nyatanya petugas pemadam kebakaran selalu terlambat datang. Itu kesalahan walikota dan birokrasi di kota yang rakus.
Gun meloncat kesenangan membaca statusnya di medsos yang disukai banyak orang.

Ternyata polisi-polisi itu justru mabuk di restoran, dan melupakan apa yang mesti segera diurusnya.
“Jangan mempercayai siapa-siapa, termasuk polisi-polisi itu. Kamu mengerti yang kumaksud?” kata Gun pada Tse Un.
“Bukan, bukan itu yang kumaksud, Gun,” kata istrinya.
“Menurut kamu bagaimana,” kata Gun. “Menurutku kita tak harus masuk restoran atau menginap di hotel.”
“Siapa yang akan masuk ke restoran, siapa yang akan menginap di hotel…”sergah Tse Un.
“Dengar dulu Un aku tak pernah mengajak makan di restoran atau menginap di hotel.… Aku hanya mengajak siapa tahu bisa merubah pikiranmu, aku bercerita tentang kebenaran.”
“Gun, kau hanya tak pernah mau memahami orang, termasuk aku isterimu.”
“Kita hanya bicara untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain…”
Tse Un ingin membantah. Tapi tertahan karena terdengar dering panggilan dari handphone. Gun bergerak menjauh untuk menjawab panggilan. Tapi panggilan itu tampaknya terputus.
“Nanti kita lanjutkan Un….” kata Gun selintas, ia mengambil jaket yang menggeletak di kursi, kemudian ngeloyor pergi.

Tse Un melongo, mencoba berpikir tapi tak menemukan apa-apa.

Gun mencoba menghindar waktu sampai di tikungan, tapi mereka mengajaknya salaman. Jumlahnya empat orang, mereka memakai baju gamis, kalau tidak salah itu baju tradisional orang Pakistan. Gun merasa terkepung dan akhirnya mendengar salah satu dari mereka yang mengingatkan pentingnya sholat berjamaah. Gun menilai kepala mereka suka menganggap Tuhan terlalu membebani banyak tugas. Kadang-kadang jalan yang lengang dan senyap justru sering memberi banyak pelajaran.

Tapi bagaimana dengan Tse Un yang menghabiskan waktunya hanya untuk makan spaghetti, itu berlangsung lama. Bagaimana Tse Un menganggap bagian paling romantis dalam kehidupan mereka, ketika suatu malam ia membuka kamar dan berteriak pada Gun,”aku dataaannnggggg…..membawa ole-ole spaghetiiiii….”

Suatu malam dalam satu kesempatan Tse Un menemui Gun di trotoar itu.

“Begini saja Un, beri aku waktu sedikit lebih lama menunggu di trotoar ini. Bisa lama tapi mungkin saja hanya membutuhkan beberapa saat. Tapi kuharap kamu mengerti bahwa ini soal sangat penting. ini menyangkut pencurahan pikiran-pikiran untuk kepentingan yang sulit kujelaskan padamu. Sebab tujuanku agar orang-orang banyak mengetahui apa sebenarnya misi yang sedang kujalankan. Maaf, kamu agak sulit memahaminya, kira-kira seperti ini……,” Gun menjelaskan panjang lebar. Tse Un berkali-kali menggaruk kepalanya.

Tiba-tiba Gun tak bisa menahan kemarahannya.

“Ini soal pergaulan hidup yang memisahkan jaman lama dengan jaman yang membuat orang bisa saling sepakat untuk saling percaya. Sudahlah, waktu seseorang melarikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak kau inginkan, kau selalu ingin ikut mengendalikan,” katanya setengah berteriak.
Gun merasa Tse Un tak pernah mempercayainya. Bahkan saat ia bercerita orang-orang itu berloncatan dari gedung-gedung bertingkat. Tubuh mereka melayang seperti boneka dari gabus. Bahkan waktu kaki mereka menyentuh aspal jalan, sedikitpun tidak lecet. Mereka meluncur, dan mendaratkan kakinya seperti kucing yang pandai memposisikan keseimbangan tubuhnya. Dan sekarang semua orang dari kamar hotel di lantai tinggi itu meloncat dari kamarnya. Dari tiap kamar bisa dua sampai tiga orang. Gun tak pernah mengetahui kenapa mereka melakukan itu.

“Itu tidak mudah, Un. Aku hampir tidak percaya, tapi apa yang akan kau katakan kalau itu benar-benar bisa dilihat dari jarak paling jauh empat meter. Kupikir tidak aneh, hanya kita belum mempunyai pengalaman sebelumnya, sehingga terasa tidak lazim. Kamu suka memotret kan, itu akan menjadi gambar yang indah. Orang-orang berloncatan dari lantai atas hotel. Kini aku mulai belajar untuk menerima kenyataan. Pengalaman baru memang mengejutkan, kau pasti juga terkejut,” kata Gun kepada Tse Yun.

Baru malam itu Tse Yun menangis. Ia sesenggukan disebabkan dadanya sesak seperti beban yang tak tertanggungkan. Bibirnya tergetar hebat, seolah hendak mengatakan sesuatu namun masih ditahannya. Sesaat kedua telapak tangannya berusaha menutupi wajah muram itu.

Baru malam itu Gun terharu. Tapi ia tak mengira situasi seperti itu terus berulang lagi di malam berikutnya. Tapi tetap saja Tse Un bungkam kenapa harus menangis tidak wajar. Berkali-kali ia menatap Gun dan ingin mengatakan sesuatu, sejenak ia membalikkan badan dan berlari ke kursi pojok dan meneruskan tangisnya sambil menundukkan kepala.

Malam berikutnya Gun menunggu, Tse Yun siap mengatakan sesuatu. .
“Seandainya ada tangga. Ya tangga yang tinggi sekali, aku akan segera memanjatnya,” kata Tse Un menggumam.
Tse Yun masih menangis.
“Aku akan menaiki tangga itu menuju ke bulan. Tak perlu persetujuanmu. Tidak sukar bagiku memulai di tempat baru, mungkin sendirian, tapi lebih baik daripada aku jadi kapiran seperti ini. Cerita tentang peristiwa atau kejadian akan bersusulan, kalau aku selamat akan banyak melewati cerita yang panjang. Bermalam-malam, berbulan-bulan, bisa jadi bertahun-tahun. Habis, untuk apa lagi kalau aku masih terus menghadapi ketidakpastian.”
Tse Un sesenggukan makin keras.
“Sejak kecil aku sering mendengar cerita tentang kuncup yang sedang mekar, binatang-binatang yang membuang kulit lamanya menggantikan dengan kulit baru yang lebih segar. Kekurangan manusia karena ia tidak memiliki kelebihan seperti tumbuhan atau binatang. Manusia hanya bisa berpikir meski itu membuatnya makin terjerumus. Seperti waktu kita masih kecil dan mengungkapkan cita-cita, seolah-olah semua peristiwa hidup bisa dirangkainya untuk sampai apa yang diinginkannya…..”

Tse Un tiba-tiba berhenti menangis. Mendung yang berhari-hari menutupi wajahnya tersingkir dalam sekejap. Gun hampir tak percaya, ia segera mendekat dan ingin membujuk Un. Pikirnya, ini kesempatan mengembalikan waktu seperti hari-hari sebelumnya. Sesuatu yang semula tak memberi harapan sekarang seperti memanggil dengan tangan terbuka. Selama berhari-hari Tse Yun menangis dan terus bungkam, kini ia seperti hendak menyampaikan sesuatu. Gun menunggu.
Waktu Tse Un mulai melangkah mendekatinya, Gun masih menunggu.
“Bagus Un. Ini sudah waktunya,” kata Gun pelan, ia sangat berharap..
Tanpa diduga, tiba-tiba Tse Yun berteriak. Suaranya keras sekali,
“Bajingaaaaannnnnnnn……!!!!!”

Gun tidak menduga kalau polisi-polisi itu masih ada di restoran. Jumlahnya ada tujuh orang, tidak seperti waktu datang, sekarang badan polisi itu tampak makin gemuk, semua kelihatan berperut tambun. Sementara yang lain tampak mengantuk, hanya dua orang kelihatan waspada sambil memainkan pistolnya. Mereka berada di sebuah restoran tanpa pengunjung, malah hanya ada satu orang mungkin pelayan, karena bajunya seperti umumnya dikenakan para pelayan restoran. Pelayan itu hanya duduk dengan wajah murung tapi tak bisa menyembunyikan raut ketegangan. Pandangannya yang tampak ketakutan ditujukan kepada ketujuh polisi itu, seolah-olah ia tak boleh terlambat menerima perintah. Memang dua polisi yang berjaga itu ekor matanya selalu mengawasi gerak-gerik pelayan.

Gun sudah tak sabar lagi. Kekesalannya tak bisa dbendung dengan alasan-alasan masuk akal. Ia ingin mengakhirinya. Ia melangkah masuk menuju polisi-polisi gendut itu, ia sudah memasang bom di sekujur tubuhnya. Tinggal memantik, bom itu bisa menghancurkan isi seluruh kota.

Mataram, 12 September 2016




Kuliah Umum Masa Depan Seni Pertunjukan

Dalam kuliah umum ini terungkap rencana Fakultas Seni dan Desan merencanakan gedung pertunjukan yang representatif di NTB

MATARAM.LombokJournal.com ~  Kuliah umum ‘Masa Depan Seni dan Industri Kreatif NTB di Era Global’ diselenggarakan Program Studi Seni Pertunjukan Universitas Bumigora (UBG) berlangsung, Kamis (12/09/24) di Kampus Universitas Bumi Gora di Mataram.

BACA JUGA : Leader dan Manajemen di Tengah Turbulensi Bisnis

Kuliah Umum ini juga merupakan salah satu keseriusan kampus untuk terus berkontribusi dalam pengembangan seni budaya yang ada di NTB melalui Fakultas Seni dan Desain

Kegiatan kuliah umum itu menghadirkan Dr. Salman Alfarisi yang saat ini bertugas sebagai dosen di Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia mewakili pembacaan dari ruang akademis. Dan Majas Pribadi salah seorang praktisi seni di Mataram.  

Rektor Universitas Bumigora  Dr. Ir. Anthony Anggrawan,MT.,Ph.D. yang membuka kuliah umum itu menyambut baik kegiatan itu, sebagai proses pengembangan diri bagi civitas akademik Universitas Bumigora khususnya. 

“Saya menyampaikan terima kasih kepada Dr. Salman, yang sudah jauh-jauh dari Malaysia hadir di sini. Dan juga pak Majas yang mau untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya dengan kami yang ada di sini. Saya berharap bapak ibu dan seluruh civitas akademik Universitas Bumigora memanfaatkan kesempatan ini untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya,” ungkap Anthony Anggrawan saat membuka kuliah umum.

Kegiatan kuliah umum ini juga merupakan salah satu keseriusan kampus untuk terus berkontribusi dalam pengembangan seni budaya yang ada di NTB melalui Fakultas Seni dan Desain. Selain melalui diskusi itu, keseriusan itu juga disampaikan melalui rencana Pembangunan Gedung pertunjukan di Mataram. 

“Kami serius dengan apa yang sudah kami rencanakan. Untuk seni pertunjukan nanti, dalam waktu dekat kami akan membangun sebuah Gedung pertunjukan yang baik dan berkelas di Mataram. Gedung itu nantinya tidak hanya menjadi tempat untuk mahasiswa berlatih, tetapi juga melaksanakan pertunjukan. Pertunjukan yang dapat dinikmati banyak orang, jadi wisatawan yang datang ke Lombok ini dapat menjadikan Gedung itu sebagai salah satu tujuan wisatanya.” jelasnya

BACA JUGA : Apresiasi Tokoh Indonesia 3035 untuk Pj Gubernur NTB

Upaya dan keseriusan Universitas Bumigora itu ditangkap dengan baik oleh kedua pemateri, Dengan prodi seni pertunjukan, Universitas Bumi Gora memiliki tantangan tersendiri. Dengan tantangan yang ada Universitas Bumigora harus mampu menunjukkan posisinya di antara kampus-kampus dengan jurusan seni lainnya. 

“Dengan membuka prodi Seni Pertunjukan murni, tentu ini memiliki tantangan tersendiri terlebih di NTB ini. Dengan apa yang disampaikan pak rektor tadi, paling tidak orang tidak akan berpikir atau kebingungan lagi kalau mereka kuliah di jurusan seni ini nanti mau jadi apa,” ungkap Majas Pribadi. 

Seni dan industri kreatif di Lombok atau di NTB ini memiliki tantangan yang cukup besar saat ini. Pengembangan pariwisata memang belum terlihat memberikan dampak signifikan. Persoalan ini harus menjadi tantangan yang harus diselesaikan melalui ruang akademis.

“Seni dan industri kreatif ini sudah ada dan berjalan di NTB. Tapi kembali lagi hasilnya masih belum memperlihatkan dampak signifikan. Kalau ngomongin industry kreatif in ikan ukurannya kesejahteraan masyarakat meningkat. Nah ini PR untuk Universitas Bumigora ke depan untuk dapat menyelesaikannya melalui ruang akademis ini,” jelas Majas. 

Salman dalam konteks seni dan industri kreatif berpandangan bahwa seorang seniman agar tidak terpaku dengan keberadaan tradisi. Masyarakat akademis di Universitas Bumigora ini harus bisa membedakan antara tradisi dan kreasi. 

Jika sudah bermain di wilayah industri kreatif, maka seorang seniman tidak seharusnya terikat dengan aturan-aturan tradisi. Meski mereka harus mempelajari tradisi agar memiliki pengetahuan cukup dalam menciptakan kreasi. 

“Kalau masuk ke industri kreatif jangan lagi terbelenggu oleh tradisi,: kara Salman. 

Menurutnya, yang perlu kita pikirkan adalah kebutuhan, apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Karena kreasi dan tradisi itu jelas dua hal yang berbeda. Kalau ngomongin tradisi ya cukup di masyarakat kita saja. Tapi kalau ngomongin industri kreatif, jangan ditarik lagi ke tradisi. Meskipun kita wajib untuk mempelajari tradisi sebagai modal untuk kita berkreasi,” ungkap Salman.

Salman memberikan catatan untuk membedakan proses dari kedua ruang yaitu tradisi dan industri. Di mana keduanya tidak perlu untuk saling dibenturkan atau dicampur-adukkan. Karena keduanya memiliki peran dan fungsi yang berbeda. 

BACA JUGA : Pemerintah Pusat Diminta Tanggung Hosting Fee MotoGP 2024

“Tidak bisa dicampur-adukkan atau dibenturkan, tradisi dan Industri itu dua hal yang berbeda. Kalau kita berbicara seni yang digunakan untuk pariwisata misalnya, jangan lagi berfikir apa yang disukai masyarakat kita saat ini. Tapi apa yang dibutuhkan dan disukai oleh wisatawan yang datang kesini,” jelas Salman.

Prodi Seni Pertunjukan Universitas Bumigora merupakan prodi baru dan satu-satunya di NTB. Dalam perjalanannya prodi ini dituntut untuk dapat memberikan gambaran masa depan yang baik bagi mahasiswanya. Membangun optimisme dan peluang bagi lulusannya di bidang yang relevan.***

 

 




Karya Puisi yang Lahir dari Proses Gotong Royong

Karya puisi Agus K Saputra mendekati novel ‘Hati Itu Berkata Cinta’ (2021) karya Dyah Ruwiyati, dalam bahasa puisi, bergerak mengikuti plot yang terbangun dalam novel

MATARAM.LombokJournal.com Seorang penyair memang tak hanya berdiri di menara gading. Perlu seorang penyair ‘turun gunung’ dan mendatangi sekolah-sekolah untuk meluaskan apresiasi para pelajar tentang karya puisi.

BACA JUGA : Lakon Lintas Sektoral, Persiapan Event MotoGP 2024

Para pelajar mengapresiasi karya puisi yang ditulis alumni SMA 1 Matara,

Iru yang telah dilakukan Agus K Saputra, penyair yang telah menghasilkan beberapa buku antologi puisi, bertandang ke perpustakaan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Mataram, Kamis (05/08/24) lalu. Buku yang diserahkan ke perpustakaan sekolah itu yaitu Kumpulan Puisi “Buku Harian Merah Muda” (Agus K Saputra, Penerbit CV Halaman Indonesia, Cetakan Pertama: Juni 2024)

Buku kumpulan itu memang layak diapresiasi para pelajar. Keseluruhan puisi terinspirasi dari novel ‘Hati Itu Berkata Cinta’ (2021) karya Dyah Ruwiyati. 

Menurut Tjak S Parlan, penyair dari Lombok yang kini hijrah ke Jawa, puisi-puisi dalam kumpulan ini bergerak mengikuti plot yang terbangun dalam novel. Dengan menggunakan sudut pandang (aku lirik) masa remaja, penulis mencoba menghidupkan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya: tindakan-tindakan, peristiwa  yang dialami, curahan perasaan (hal. 54)

Tjak S Parlan menilai dugaan kemungkinan bahwa penulis menggunakan puisi untuk bercerita. Kali ini Ia merespon sebuah novel berlatar tahun 80-an. Era di mana remaja yang kasmaran memiliki gaya dan caranya sendiri. 

BACA JUGA : Tegakkan Demokrasi Sehat di Pilkada Loteng 2024

Saat itu merupakan era di mana surat cinta masih sering ditulis dan diharapkan kedatangan pada suatu pagi, lewat seorang tukang pos yang membunyikan bel sepeda di depan rumah. Era saat perasaan-perasaan pribadi menjadi rahasia dan lebih sering ditumpahkan ke dalam buku-buku catatan harian (diary). Bukan dipampang di dinding media sosial seperti hari-hari ini (hal. 57)

Hal lain yang melatarbelakangi kumpulan puisi Agus K Saputra; pertama, kumpulan puisi ini semacam kerja gotong royong alias kolaborasi. Berawal dari Novel Karya Dyah Ruwiyati (Alumni Smansa 87). Setting cerita pun berlokasi di sekolah ini. 

Selama proses penciptaan puisi ini, Agus diminta oleh Wiwiet –panggilan kecil Dyah Ruwiyati– sebagai semacam editor. Dari sinilah kemudian “lahir” beberapa puisi. Sebagai bentuk komentar. Puisi-puisi tersebut “iseng-iseng” dikirim ke Soni Hendrawan. Lantas beberapa di antara puisi-puisi tersebut oleh Soni Hendrawan berprosesa menjadi musikalisasi puisi.

Kedua, beberapa kawan tahun lulus 1987 berbagi kebahagian mengan mencetak buku kumpulan puisi ini secara gotong royong. 

Sehingga makna kolaborasi alias cara gotong royong mewujud utuh menjadi sebuah karya seni. Hal ini tersampaikan kepada Pustakawan dan beberapa siswa yang sedang berkunjung. Seolah makna “gotong royong” menemukan jalan hidupnya kembali.

Pada kesempatan ini, Saprun –staf perpustakaan- berharap dengan adanya donasi berbentuk buku kumpulan karya puisi dari alumni, menambah minat siswa untuk berkarya. Bukan hanya di saat menyelesaikan tugas akhir.

Hal senada pun diutarakan oleh Eko Wahono dari Teater Lho Indonesia. Selama ia mengampu ekstra kulikuler teater hingga tahun 2012, potensi siswa untuk serius menulis karya puisi dan berteater sangat banyak. Bahkan di akhir 2023 kemarin beberapa siswa memintanya untuk mendukung proses cipta film pendek.

BACA JUGA : Rakor SRIKANDI Sukses Digelar di NTB

“Ini bukti bahwa potensi yang ada sangatlah besar. Tinggal bagaimana kita sebagai pendidik untuk terus istiqomah menstimulus daya cipta seni, khusus karya puisi,dan memberi ruang yang luas. Jika perlu, para pendidik pun berkarya, menulis, ” tandas Eko. ***

 

 




Prodi Seni Pertunjukan, Program Baru Universitas Bumi Gora 

Adanya prodi Seni Pertunjukan di Universitas Bumi Gora megasah dan mengembangkan kompetensi di berbagai aspek seni teater, tari, musik, maupun tata kelola pertunjukan

MATARAM.LombokJournal.com ~ Universitas Bumigora (UBG) siap menerima mahasiswa baru pada Program studi (prodi) Seni Pertunjukan yang berada di bawah naungan Fakultas Seni dan Desain, Jum’at (09/08/24). 

BACA JUGA : Calon Paskibra NTB Diingatkan terkait Perilaku dan Jejak Digital

Program studi Seni Pertunjukan UBG menawarkan beberapa kompetensi di bidang seni pertunjukan

Prodi ini merupakan program baru yang ditawarkan, dan merupakan satu-satunya program pembelajaran dengan output bergelar Sarjana Seni (S.Sn.) di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pendaftaran mahasiswa baru kali ini dapat dilakukan secara online di laman PMB UBG sampai akhir bulan Agustus 2024. 

Prodi Seni Pertunjukan UBG mencoba menawarkan pengalaman Pendidikan yang unik dan menyeluruh bagi mahasiswa yang memiliki minat di bidang seni, khususnya seni pertunjukan. Adanya kurikulum yang disusun secara khusus sebagai perpaduan antara teori dan praktik, prodi Seni Pertunjukan UBG ditujukan untuk mengasah bakat dan mengembangkan keterampilan mahasiswa di berbagai aspek meliputi teater, tari, musik, tata Kelola pertunjukan, dan lain sebagainya. 

Program studi Seni Pertunjukan UBG menawarkan beberapa kompetensi di bidang seni pertunjukan. Beberapa kompetensi yang ditawarkan di antaranya adalah sebagai praktisi seni pertunjukan, pengkaji seni, instruktur/ pengajar seni pertunjukan, pengelola seni, jurnalis/ kritikus seni, dan wirausaha di bidang seni. 

Beberapa kompetensi yang saat ini dinilai memiliki prospek yang baik di masa mendatang, mengingat adanya pengembangan industri pariwisata di NTB. 

BACA JUGA : KKN Mahasiswa UNU NTB Bersihkan Sungai di Lotim 

“Banyak kompetensi yang kami tawarkan di prodi ini, dan kami pikir dengan kompetensi itu peluang mahasiswa akan cukup besar di masa mendatang. Kita tahu Pembangunan pariwisata NTB hari ini begitu pesat dan sangat memungkinkan seni menjadi bagian di dalamnya,” jelas Jeni sapaan akrab Nahdlatuzzainiyah, Kaprodi Seni Pertunjukan UBG (09/08/24)

Masyarakat yang memiliki minat kesenimanan baik menjadi aktor, musisi, penari, dapat bergabung di prodi Seni Pertunjukan UBG. Sejauh ini NTB tampak memiliki talenta-talenta unggul bidang seni di kancah nasional. 

Lahirnya prodi Seni Pertunjukan ini, diharapkan dapat menjadi ruang penempaan bagi masyarakat untuk semakin meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya. 

“Di NTB ini banyak sekali talenta-talenta nasional yang notabene mereka belajar secara mandiri atau autodidak. Lahirnya prodi ini mungkin dapat menambah atau memberikan ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan praktiknya di bidang seni,” lanjut Jeni

Tidak hanya menjadi praktisi, lulusan prodi Seni Pertunjukan juga dapat menjadi pengkaji, instruktur atau pengajar, pengelola dan wirausaha.  

Belajar di prodi seni ini tidak harus menjadi seorang praktisi, masyarakat bebas menentukan pilihannya sesuai dengan minatnya. 

“Tidak harus menjadi seniman ketika memutuskan kuliah di seni pertunjukan ini. Kalau ada yang pengin jadi pamong atau manajer pertunjukan, kita menawarkan kompetensi sebagai pengelola. Atau mungkin ada yang seneng nulis, bisa jadi mereka memproyeksikan diri untuk lulus sebagai pengkaji, jurnalis, atau kritikus, atau bahkan ada yang berkeinginan untuk menjadi seorang pengusaha,” jelas Jeni 

BACA JUGA : Hasil Survei ISS, Pilgub NTB 2024 : GASMAN Melesat

Keberadaan prodi Seni Pertunjukan UBG ini menjadi salah satu komitmen dan keseriusan UBG dalam memajukan seni budaya di NTB. 

UBG berupaya mempersiapkan SDM yang unggul di dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Selain prodi Seni Pertunjukan, UBG juga membuka prodi kepelatihan olahraga dan pariwisata Fik

 

 




Bengkel Aktor Mataram Pentaskan Lakon KEMARUK

Tidak seperti biasanya, kali ini Bengkel Aktor Mataram menguliti watak kekuasaan dengan ungkapan telanjang

lombokjournal.com ~  Bengkel Aktor Mataram atau Teater BAM dalam produksi ke 62 mementaskan lakon ‘Kemaruk’, mengupas cara-cara licik bekerja untuk mempertahankan kekuasaan. Pementasan ini merupakan lakon bertema kritik sosial politik yang paling uptodate.

Tidak seperti biasanya, Bengkel Aktor Mataram yang selalu menyuguhkan kritik dengan pengungkapan yang bergaya satir dengan visual yang membuai, kali ini kelompok teater paling tua di Mataram (NTB) itu benar-benar menyampaikan kritik dengan ungkapan telanjang. 

BACA JUGA : Agus K Saputra Melakukan re-Kreasi dari Karya Visual

Dalam pentas lakon 'Kemaruk', Bengkel Aktor Mataram menyampaikan kritik dengan bahasa telanjang
Raja Kemaruk

“Persoalan yang konteksnya jelas dan hangat, isi kritik harus disampaikan apa adanya, penonton harus segera memahami isi pesan yang disampaikan” kata Kongso Sukoco sutradara senior usai pementasan.

Kemaruk secara bisa diartikan selalu ingin mendapat banyak, loba, rakus pada harta (dalam konteks lakon ini bisa dimaknai rakus pada kekuasaan) 

Lakon ‘Kemaruk’ yang dipentaskan tanggal 04 Agustus 2024 di Teater Tertutup Taman Budaya NTB malam, Lakon ini berkisah tentang penguasa yang menghalalkan segala kelicikan, agar bertahan berkuasa atau tetap mencengkeram kekuasaan. Penguasa yang selama ini bertampang (terkesan) bloon, ternyata sangat piawai mengelabui lawan bahkan kawan politiknya. 

Lakon ‘Kemaruk’ diminati 

Pementasan lakon “KEMARUK” produksi ke 62 yang dipentaskan Bengkel Aktor Mataram akhir Juli dan awal bulan Agustus, menarik perhatian penonton. Pada pementasan perdana tanggal 4 Agustus malam, gedung tertutup Taman Budaya sesak dipenuhi penonton, Saya agak telat datang ke gedung pertunjukan, terpaksa hanya kebagian duduk di lantai, depan kursi penonton paling depan. 

Rupanya lakon dengan mengangkat tema penguasa yang kemaruk kekuasaan, sangat diminati penonton. Bengkel Aktor Mataram dengan mementaskan lakon ini menghadirkan narasi yang relevan dengan kondisi sosial-politik di tengah kecamuk Pemilihan Presiden. Meski pementasan itu ‘kontekstual’ namun bungkus estetika teaternya masih kental. 

Syahdan, seorang raja yang semula dikenal bersahaja, adil dan bijaksana, saat usia menua dan menyiapkan diri untuk ‘lengser keprabon’, perlahan wataknya berubah menjadi semena-mena dan menghalalkan cara agar tetap mencengkeram kekuasaan. Menjelang undur dari kekuasaan ia tiba-tiba gelisah. Ia dihantui ketakutan karena itu akhirnya harus berlaku menghalalkan cara untuk mempertahankan tahta yang semakin goyah. 

Sang penguasa, Raja di kerajaan antah berantah, merasa kekuasaannya terancam oleh para bangsawan, rakyat, bahkan dengan sekutunya sendiri. Dalam kegalauannya, ia akhirnya menghalalkan segala cara – menabrak awiq-awiq sosial – agar tetap mencengkeram kekuasaan. Untuk mempertahankan kekuasaannya, ia menggunakan tipu daya, kekerasan hukum pada aparatnya sendiri, hingga pengkhianatan.

BACA JUGA : Buku Puisi “Amerikano” Tur di 10 Titik di Pulau Lombok

Karakter yang Menggugah

“Sekarang semua orang tau bahwa aku bukan plonga plongo, kalianlah yang sebenarnya plonga plongo, karena tiba-tiba merasa jadi bodoh,” kata Raja. Dialog itu disampaikan Asta Bajang, aktor yang menggambarkan watak Raja saat berdialog dengan penasehat yang penjilat. 

Sutradara lakon ‘Kemaruk’, Kongso Sukoco, membagi panggung menjadi dua area yang masing-masing wataknya berseberangan. Sebelah kiri panggung (dari sudut pandang penonton) merupakan area permain Raja dan Penasehat Licik-nya. Dengan set panggung yang menyiratkan tahta yang agung.

Sedang sebelah kanan panggung area panggung merupakan area para oposan yang menentang Raja, yang dipimpin Sulastri dan Sadila. Meski penata set Muhammad Zaini hanya memanfaatkan reng dan trap dan sepotong kain, namun tersirat kesan tempat yang keras dan melawan.  Secara teknis pembagian panggung menjadi dua area ini menarik, karena menjaga tempo permainan tidak lamban, irama terjaga, pertunjukan jadi padat mengalir.. 

Cerita dibuka dari dialog Raja yang berhasil menjalankan siasat untuk mempertahankan kekuasaan. Siasatnya itu membuat para penentangnya terperanjat dan tak menduga, akhirnya membuat lawannya tak berkutik. Ancaman dari penentangnya berhasil dilumpuhkan. Meski sebagian besar pemain masih punya jam terbang terbatas di atas panggung namun sutradara, Kongso Sukoco, berhasil membangun suasana licik penuh muslihat dengan pencahayaan remang dan iringan musik arkodion yang mengiris. 

Sejak awal, penonton sudah diajak menyelami psikologi penguasa yang dihantui rasa takut kehilangan kekuasaannya. Drama pun bergerak dengan ungkapan kata-kata yang menusuk namun tetap dengan gaya segar menggelitik.

Di sinilah penonton disuguhi permain menarik para aktor, misalnya Asta Bajang yang memerankan Raja, layak diacungi jempol. Transformasi karakter dari seorang raja yang tenang menjadi sosok yang paranoid terlihat sangat alami dan penuh intensitas. Setiap gerak-geriknya menggambarkan betapa akal bulus sang raja hingga rela melakukan hal-hal licik demi mempertahankan singgasananya.

Di sisi lain, karakter pendukung seperti para warga, yang diperankan oleh Susan Damayanti, Meisyi dan Nurul Maulida Utami, menjadi antitesis dari Raja. Para warga mewakili suara hati nurani yang menyindir sekaligus mengingatkan raja agar tidak tersesat dalam ambisi buta. Namun, perjuangan itu  perlahan tenggelam oleh kekerasan hati sang penguasa.

Harus diakui, permainan Dende Dila yang memerankan Sadila, tokoh perlawanan dan Wulan Zein yang memerankan Sulastri, patut diancungi jempol. Keduanya yang kerap bertentangan taktik dan strategi perlawanan, menyuguhkan adegan yang menawan. Permainan dua tokoh oposan itu kekuatan karakter perempuan.

Pesan Moral, Visual dan Tata Panggung 

Visualisasi panggung yang berhaja namun memberi impresi mendalam menjasi salah satu kekuatan utama pementasan in. Tata panggung yang megah di awal cerita dengan singgasana sebagai pusat perhatian, perlahan-lahan berubah menjadi gelap dan kusam seiring dengan makin merosotnya  moral sang raja. 

BACA JUGA : Arsvita Program Over Act Theater untuk Perluas Referensi Teater

Penggunaan pengiring musik hidup di panggung belakang yang dimainkan Kholik dan Azmi memberikan efek dramatis, khususnya lagu-lagu yang menggambarkan penguasa yang mengangkangi kekuasaan. Seolah-olah menggambarkan bahwa sang raja tidak hanya memerangi musuh-musuh politiknya, tetapi sekaligus memberangus kawan dan sekutunya.

Pencahayaan dan penggunaan warna-warna gelap semakin menambah suasana muram, terutama pada adegan-adegan ketika Raja mengungkapkan penghianatan pada orang-orang yang semula menjadi sekutunya. Ungkapan raja adalah momen yang sangat emosional, di mana penonton bisa merasakan kehancuran moral yang dialami sang penguasa.

Melalui lakon “Kemaruk”, penonton diajak merenungkan betapa penguasa yang licik, dalam kenyataan tidak selalu berakhir dengan keruntuhan. Raja tetap berkuasa, dan para penentangnya harus mengambil nafas panjang.

“Kelicikan Raja berhasil memenangkan peperangan ini,” kata Penasehat Licik sang Raja.

Dalam lakon ini menyiratkan pesan bahwa kekuasaan yang didasarkan pada rasa takut dan pengkhianatan hanya akan membawa kehancuran moral, baik bagi pemerintahan penguasa maupun bagi rakyatnya. Pementasan ini juga menyentil sisi gelap manusia yang sering kali menghalalkan segala cara demi mempertahankan apa yang dimiliki, tanpa mempertimbangkan akibat jangka panjangnya.

Penonton bisa dengan mudah mengaitkan kisah ini dengan fenomena-fenomena politik kontemporer, di mana kekuasaan sering kali disalahgunakan dan dijaga dengan cara-cara yang tidak etis.

Saat ini Bengkel Aktor Mataram merupakan kelompok teater paling senior di Mataram (NTB)
Pendukung Bengkel Aktor Mataram

Tontonan lakon “Kemaruk ” adalah pementasan teater yang tidak hanya memikat dari segi visual dan alur cerita, tetapi juga menawarkan kritik sosial yang tajam. Dengan penyutradaraan yang kuat, tata panggung yang impresif, serta alur yang penuh intrik, lakon ini berhasil menghidupkan cerita tentang ambisi kekuasaan yang tak terkendali dengan sangat baik. 

Bengkel Aktor Mataram dengan keterbatasan aktor dan aktrisnya, tetap berhasil menyuguhkan pementasan yang patut diapresiasi dan tentu saja memberikan refleksi mendalam tentang kekuasaan dan tanggung jawab kemanusiaan 

“Saya memang masih konvensional, masih menganggap ‘drama’ tetap menjadi pilar yang menegakkan struktur teater. Saya selalu berpijak dari kisah sastra,” itulah pengakuan Kongso Sukoco dalam percakapan dengan penulis. Roman Syair

 




Transformasi Karya Visual dalam Antologi Puisi ‘Pertemuan Kecil’ 

Penulisan puisi bisa beranjak dari karya visual, transformasi itu yang dilakukan penyair Agus Saputra dalam antologi puidi ‘Pertemuan Kecil’ 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Dalam bedah buku puisi Pertemuan Kecil karya Agus K Saputra di Sanggar Tari Taman Budaya NTB, Kamis (18/04/24), Kongso Sukoco mengatakan, salah satu puisi dalam buku itu yang berjudul ‘The Last Pepadu’ menarik perhatiannya.

Karena sumbernya berasal dari olah raga rakyat yang sangat populer di Lombok yaitu Peresean.

BACA JUGA : Timnas Berprestasi Gemilang, STY Layak Dapat Penghargaan 

Transformasi karya rupa ke dalam bahasa puisi bisa memperluas makna
Performance art Zaini Muhammad

Karena itu, perupa setempat (Lalu Syaukani, red) mencoba mengabadikan permaian olahraga tradisional itu. 

Tentu saja lukisan itu tak menyampaikan pengertian verbal. Tapi mungkin puisi Agus Saputra bisa memperluas pemaknaan.” 

 ‘…hingga darah menetes//memercik tempat berpijak//menyambut hujan tiba..

Nah seperti ini, Agus menangkap makna lukisan berjudul ‘The Last Pepadu’. Ini hanya salah satu contoh, bagaimana transformasi seni rupa ke medium bahasa memungkinkan perluasan pengertian hasil pengamatan visual. 

Dan bisa jadi tidak sekedar itu, tapi juga memungkinkan hadirnya pengalaman estetik yang otonom.

Dalam contoh ini, lanjut Kongso, puisi dari proses transformasi itu salah satunya bisa mengambil peran memperluas pengertian kenapa harus diadakan ritus peresean. Ia mungkin hendak menjelaskan mitos tentang berlalunya musim kemarau di Lombok, tetesan darah merupakan simbol harapan kesuburan. Darah yang memercik dari pepadu yang berlaga, bagian dari harapan turunnya hujan menggantikan kemarau.

BACA JUGA : Limbah Radio Aktif Dibuang ke Laut, Rachmat Hidayat Protes

“Inilah yang saya maksud bahwa kreativitas membuat kita berpikir orisinal. Membuat solusi-solusi baru. Punya perspektif baru. Sesuatu yang mesti harus dihidupkan dan jangan menjadi umum, “ ujar Kongso.

Bagi Prof Wahid pertemuan ini adalah sebuah pertemuan besar dari proses dialektika. Pertama, saya menjadi tidak percaya kepada penyair, ketika menyaksikan proses musikalisasi puisi Secret Garden (karya lukis Mantra Ardhana) oleh Ary Juliyant. Karena ternyata, di balik kerendah hatian, di balik tawadhu, di balik ketidak inginan untuk disingkap, ternyata ada sesuatu yang besar.

Kedua, menarik sekali proses kreasi dari puisi-puisi ini, maka saya menjadi percaya. Bahwa dalam kajian kebudayaan ada adagium yang menyatakan penyair itu mati. Pelukis itu mati. Pembuat novel itu mati. Yang membuat ia hidup kembali adalah orang yang membacanya.

“Saya kira, penyair Agus adalah pembaca ulung yang penuh kreativitas. Yang kemudian membuat karya-karya yang oleh orang awam menjadi begitu lebih berbicara. Dan apa yang dibicarakan itu besar sekali. Inilah Ruh,” kata Aba Du Wahid, nama medsosnya di facebook.

Pada titik ini, Prof Wahid seolah diingatkan oleh pembicara sebelumnya, Majas Pribadi (Syawalan dan Berkesenian) yang mengutif Surat An-Naba ayat 38: “Yauma yaqumur-ruhu walmala ikatu saffal la yatakallahuma illa man azina lahur-rahmanu wa qala sawaba” 

Kira-kira lukisan itu seperti itu. Yauma yaqumur-ruhu. Hari ini kita berhadapan dengan lukisan, seakan-akan kita dibentangkan sebuah ruh. Ruh itu semangat. Ruh itu keabadian. Walmala ikatu: yang penuh sayap. Yang penuh sayap itu kalau kita lihat akan menghasilkan sebuah inspirasi baru. Pengetahuan baru. Inilah bagaimana malaikat menjadi personifikasi dari sayap-sayap kebenaran. Bershaf-shaf. Berjejer. Karya itu selalu lahir, lahir kembali, ditransformasikan kembali seperti diungkap Kongso Sukoco.

La yatakallamuna illa man azina lahur-rahmanu wa qala sawaha. Tidak berbicara apa-apa itu karya kecuali dijinkan oleh Allah. Dijinkan oleh Tuhannya. Dan kalau berbicara maka yang dibicarakan yang keluar dari situ adalah kebenaran.

“Kira-kira begitulah bacaan saya dari buku Pertemuan Kecil ini.  Apa yang dilihatnya dalam karya-karya seni rupa, lukisan dll. Saya kira ini menarik sekali. Ini adalah contoh bagi bagaimana pengarang, penulis atau pelukis itu dihidupkan lagi oleh orang lain. Pola ini atau cara seperti inilah yang disebut dialektika. Dialektika adalah penyambung peradaban. Peradaban akan mati. Kebenaran akan mati. Jika tidak ada pembacaan-pembacaan dialektis seperti yang dilakukan Agus K Saputra, “ tandas Prof Wahid, Guru Besar UIN Mataram.

BACA JUGA : Apel Hari Otonomi Daerah untuk Memperkuat Komitmen Pemda

Acara bedah buku yang bertajuk  Ngupi Buku: Pertemuan Kecil (18/04) dari transformasi karya visual itu dibuka oleh Kepala Taman Budaya NTB Sabarudin. Dihadiri pula oleh akademisi Agus Purbathin Hadi (Kecerdasan Buatan versus Orisinilitas Karya), para pelukis Mantra Ardhana, Zaeni Mohammad, Lalu Syaukani (Kearifan Lokal dalam The Last Pepadu dan Yellow Pricess) dan S La Radek (Karya Lukis dalam Puisi), tokoh LSM Mas Catur (Kebudayaan Kita Hari Ini), ‘gerilyawan erkaem” pemusik balada Ary Juliyant (Tentang Bunyi: Jalan Braga dan Majestic),  serta para penikmat sastra yang begitu antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Karya lukis yang turut hadir adalah:

1.Janji Jiwa karya Mantra Ardhana

2.The Last Pepadu karya Lalu Syaukani

3.Yellow Princes karya Lalu Syaukani

4.Dilema karya Zaeni Mohammad

5.The Rising Sun karya Zaeni Mohammad

6.Sampela Rimpu karya S La Radek

7.Pemburu Donggo karya S La Radek

8.The Second Flower karya Imam Hujjatul Islam

Penampil lain adalah para musisi dan penyanyi yang populer di NTB, yakni Pipiet Tripitaka (musikalisasi puisi “Kereta Langit Sudah Datang” dan “Terkoyak Ujung Mimpi”), Ary Juliyant (musikalisasi puisi “Majestic” dengan pembaca Hurri Nugroho, dan “Secret Garden” dengan pembaca Sri Latifa), Azhar Zaini (membaca puisi “The Rising Sun dan “The Warriors) dan koloborasi performance art Zaeni Mohammad dengan Sidzia Madvoc (Gempa Lombok: Ingatan Melawan Lupa).

“Sebagai peristiwa kesenian, tentu hal ini harus tetap dirawat di tengah arus deras perubahan (sebagai penyambung peradaban, red). Revitalisasi Taman Budaya dan tentu saja kolaborasi antar seniman menjadi begitu penting dalam mengedepankan kearifan lokal,” tutup Agus K Saputra. ***

 

 




Agus K Saputra Melakukan re-Kreasi dari Karya Visual

Menerjemahkan karya visual  menjadi puisi, merupakan tantangan dan kesempatan bagi Agus K Saputra  mengembangkan kreativitasnya dalam penulisan puisi

MATARAM.LombokJournal.com ~ Menarik membahas tentang buku kumpulan puisi baru karya Agus K Saputra yang berjudul Pertemuan Kecil. Ini adalah buku puisi ketujuh yang dirilis oleh Agus K Saputra. Buku ini menawarkan kreativitas baru dengan menggabungkan puisi dengan seni lukis dan foto.

BACA JUGA : Buku Puisi ‘Amerikano’ Tur ke 10 Titik di Pulau Lombok

Agus K Saputra bersama perupa Zaeini Muhammad

Menurut penulis dan jurnalis Kongso Sukoco, yang terjadi pada Agus bukanlah kehabisan gagasan atau inspirasi dalam menulis puisi, melainkan mencoba hal baru dan berbeda. Dia menerjemahkan karya seni rupa menjadi puisi sebagai tantangan untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya.

Isnan Sudiarto, penikmat sastra dan budaya, menyebutkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh foto. Kata-kata dapat memberikan berbagai makna dan interpretasi, berbeda dengan foto yang lebih terbatas.

Agus juga bekerja dengan karya-karya seni lukis dari berbagai seniman, termasuk Soni Hendrawan, Zaeni Mohammad, Lalu Syaukani, Mantra Ardana, Imam Hujatjatul Islam, dan S La Radek. Dia mengubah pengalaman visual dari lukisan menjadi narasi dalam puisi.

BACA JUGA : Komunitas Akarpohon Gelar ‘Majelis Buku Tipis’

Selain itu, buku Pertemuan Kecil juga mencakup musikalisasi puisi oleh Soni Hendrawan dan puisi-puisi yang diinterpretasi oleh Krakatau Band. Musikalisasi puisi ini memberikan dimensi baru pada karya-karya puisi tersebut.

Kongso Sukoco menyatakan bahwa transformasi yang dilakukan Agus dari pengalaman visual ke dimensi bahasa merupakan bentuk apresiasi seni yang unik dan mungkin menjadi reinterpretasi ekspresi visual melalui bahasa puisi.

BACA JUGA : Halal Bihalal Ormas Perempuan Bersama Bunda Lale

Peluncuran buku kumpulan puisi  ‘Pertemuan Kecil’ akan berlangsung di Taman Budaya NTB, Jalan Majapahit Mataram hari Kamis (18/04/24). ***




Tilawatil Qur’an Momen Pembinaan Bibit-bibit Qori’ – Qoriah 

Dari Pekan Tilawatil Qur’an akan lahir Qori dan Qoriah terbaik yang akan menjadi duta NTB di ajang-ajang kompetisi yang lebih tinggi.

MATARAM.LombokJournal.com ~ Penutupan Pekan Tilawatil Quran ke-54 oleh RRI Mataram pada 17 Maret 2024 di Aula Yri Prasetya LPP RRI Mataram disambut dengan apresiasi yang tinggi dari Pemprov NTB. 

Kepala Biro Kesra NTB, Drs. H. Sahnan, M.Pd, yang mewakili Penjabat (Pj) Sekda NTB, Ibnu Salim, mengungkapkan kebanggaannya atas kegiatan Pekan Tilawatil Qir’an ini. 

BACA JUGA : Ramadhan, Masyarakat Diajak Menyambutnya dengan Suka Cita

Ia menyebutnya sebagai momen penting dalam pembinaan bibit-bibit qori’ dan qoriah terbaik NTB.

Sahnan menyatakan, kegiatan Pekan Tilawatil Quran ini adalah sebuah peristiwa luar biasa yang tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga merupakan kesempatan untuk pembinaan dan pembibitan.

“Kami yakin dari sini akan lahir qori dan qoriah terbaik yang akan menjadi duta NTB di ajang-ajang kompetisi yang lebih tinggi.”

Selama acara tersebut, Yanto Prawironegoro, selaku Kepala LPP RRI Mataram, memberikan pesan kepada para peserta bahwa dalam setiap kompetisi, ada kemenangan dan kekalahan. 

Bagi para pemenang, ia mendorong mereka untuk terus mengembangkan potensi mereka agar bisa tampil lebih baik di level kompetisi Tilawatil Qur;an yang lebih tinggi. 

BACA JUGA : Imam Shalat Tarawih di Lotim Meninggal Mendadak 

Sementara bagi yang belum berhasil, ia menegaskan pentingnya tetap mempertahankan semangat dan terus memotivasi diri untuk belajar lebih keras.

Hadir dalam acara penutupan ini adalah Penjabat Sekda NTB Ibnu Salim yang diwakili oleh Kepala Biro Kesra NTB Drs. H.Sahnan, M.Pd, Kadiskominfotik NTB Dr. Najamuddin Amy, Ketua LPTQ NTB, Dewan Hakim, serta perwakilan dari pihak sponsor.

Pekan Tilawatil Quran ke-54 kali ini mengusung tema “Internalisasi Nilai-nilai Al Qur’an Bagi Generasi Milenial Menuju Indonesia Emas”. 

Para pemenang dari berbagai cabang perlombaan menerima hadiah berupa piala, sertifikat, dan uang pembinaan. 

Juara pertama baik putra maupun putri dari cabang tilawah akan langsung mewakili RRI Mataram ke tingkat nasional yang akan diselenggarakan pada 21-26 Maret 2024 di Yogyakarta.

BACA JUGA : Pemerintah Jamin Ketersediaan Stok Pangan di bulan Ramadhan

Berikut adalah daftar nama-nama juara PTQ ke-54 RRI Mataram di masing-masing cabang mata lomba:

Cabang Tausiyah Putera:

  • Juara I: Yek Ahmad Galib, dengan nilai 91.
  • Juara II: Hartawan, dengan nilai 87.
  • Juara III: Ahmad Kholiqi, dengan nilai 73.

Cabang Tausiyah Puteri:

  • Juara I: Baiq Fadilatul Islamiah, dengan nilai 94.
  • Juara II: Pairoza Resti Hatiza, dengan n

             Juara III: Dina Aulani, dengan nilai 87.

Cabang Tilawah Putera:

  • Juara I: Mohammad Alwi, dengan nilai 92.
  • Juara II: Ahmad Tohairi, dengan nilai 88.
  • Juara III: Taqwa Hikmatullah, dengan nilai 87.

Cabang Tilawah Puteri:

  • Juara I: Sulis Stiawati, dengan nilai 90,5.
  • Juara II: Hariyani, dengan nilai 87,5.
  • Juara III: Arbianti, dengan nilai 86,5.

Cabang Tahfidz Putera:

  • Juara I: Arzak Mahardika, dengan nilai 100.
  • Juara II: Iqbal Al Fiqri, dengan nilai 97.
  • Juara III: M. Kandiaz Samiu Akbar, juara III dengan nilai 96.

Cabang Tahfidz Puteri:

  • Juara I: Siti Rohdiana, dengan nilai 98.
  • Juara II: Najwa Andini Dwi Anugrah, dengan nilai 95.
  • Juara III: Laila Rahmatinnisa, dengan nilai 94,5.***

 

 




Buku Puisi “Amerikano” Tur ke 10 Titik di Pulau Lombok 

Tur buku puisi ‘Amerikano’ bermaksud meningkatkan manajemen sastra di Lombok, Gilang menyoroti kurangnya sirkulasi sastra yang memadai

MATARAM.LombokJournal.com ~ Gilang Sakti Ramadhan, seorang wartawan, penyair, dan aktor, baru-baru ini meluncurkan buku puisi terbarunya berjudul “Amerikano”,  yang diterbitkan oleh Akarpohon Mataram, pada 16-17 Februari 2024. 

BACA JUGA : Arsvita, Program Overact Theatre untuk Perluas Reverensi Teater 

Gilang membaca buku puisi di salah satu kafe
Gilang Sakti Ramdhan

Buku puisi ini menjadi bagian dari tujuh judul buku lain yang diterbitkan oleh Akarpohon Mataram. Setelah peluncuran buku tersebut, Gilang mengambil inisiatif untuk melakukan Tur Kafe Amerikano di 10 lokasi berbeda di lima kabupaten dan kota di Pulau Lombok.

Dalam merencanakan tur buku puisi  ini, Gilang menyoroti kurangnya manajemen sastra yang memadai di Lombok.

“Sastra masih diurus oleh penulis yang tergabung dalam komunitas bukan lembaga pemerintah,” katanya. 

Dengan tujuan meningkatkan manajemen sastra di Lombok, Gilang meluncurkan Tur Kafe Amerikano, yang dijadwalkan berlangsung dari Februari hingga Mei 2024.

Dalam sebuah pernyataan pada 28 Februari 2024, Gilang mengungkapkan, manajemen industri sastra di Lombok belum mencapai tingkat yang memadai. 

“Dengan bantuan teman-teman, termasuk Komunitas Akarpohon Mataram, saya menciptakan Tur Kafe Amerikano untuk mendekatkan sastra ke masyarakat yang lebih luas. Sastra harus menjadi lebih populer tanpa mengurangi kualitasnya,” paparnya

BACA JUGA : Komunitas Akar Pohon Gelar ‘Majelis Buku Tipis’

Tur buku Kafe Amerikano dirancang sebagai serangkaian percakapan di kafe-kafe yang melibatkan penulis buku, pembahas, moderator, dan penampil. 

Menurut Gilang, memilih kafe sebagai lokasi tur bertujuan untuk menjangkau orang-orang yang belum familiar dengan sastra. Kafe dianggap sebagai tempat di mana berbagai lapisan masyarakat berkumpul.

“ Ini upaya menciptakan kesempatan untuk memperkenalkan sastra kepada khalayak yang lebih luas,” uajarnya

Gilang menjelaskan bahwa tur buku puisi  juga dapat menjadi strategi alternatif untuk meningkatkan penjualan buku. Dengan membicarakan buku dari satu tempat ke tempat lain, tur ini dapat meningkatkan minat dan penasaran pembaca potensial, bahkan jika mereka tidak langsung membelinya.

Tur Kafe Amerikano bekerja sama dengan beberapa mitra, termasuk Komunitas Akarpohon Mataram, Konyu, MVP Coffee Company, Bale Jukung, Kedai BUMDes Santong, dan RestoRasi. Buku Puisi Amerikano juga tersedia untuk dibeli di setiap lokasi tur.

Mengenai isi buku puisi, Gilang menjelaskan bahwa “Amerikano” memiliki tema pesimistis yang kuat, terutama dalam konteks sosial

Puisi-puisi dalam buku ini menggambarkan hubungan subjek dengan lingkungannya, dengan nuansa pesimisme sosial yang mencolok. 

BACA JUGA : Caleg Pendatang Baru Dapil Pulau Lombok Melenggang ke Senayan

Gilang menyoroti bahwa perpisahan antara subjek-subjek dalam buku ini bukanlah secara harfiah, melainkan mencerminkan pembatalan dan kesia-siaan.***