Penting, Museum Mengenang Letusan Gunung Rinjani dan Tambora

Gubernur NTB menegaskan, penting bagi NTB punya museum yang menyimpan benda letusan Gunung Rinjani dan Tambora

MATARAM.lombokjournal.com ~ Provinsi NTB harus memiliki dua museum internasional, untuk menyimpan berbagai benda terkait peristiwa meletusnya Gunung Rinjani dan Gunung Tambora. 

Kedua museum dapat memberikan kesan kepada para wisatawan tentang perubahan peradaban dunia yang disebabkan oleh Gunung Rinjani dan Tambora.

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah mengatakan itu, karena banyak pihak menyarankan, agar NTB memiliki dua museum khusus yang menghidangkan sejarah dan dampak letusan Gunung Rinjani dan Tambora.

Penting NTB Punya museum letusan Gunung Rinjani dan Tambora

“Banyak pihak menyarankan,” kata Bang Zul sapaannya, Senin (23/05/22) di ruang kerjanya.

BACA JUGA: Sampah di Tiga Gili Dibahas di Dinas Lingkungan Hidup KLU

Menurut Bang Zul. pembangunan museum ini akan diarahkan untuk bekerjasama, dan menjadi bagian dari Geopark Tambora dan Geopark Rinjani.

Gubernur Zul menyampaikan itu di depan ketua Ombudsman NTB, Kadis Dikbud, Kabid kebudayaan Dikbud NTB, perwakilan Geopark Tambora dan Rinjani.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, H. Aidy Furqan mengatakan, rencana pembangunan dua museum tersebut telah diskusikan. 

“Museum ini akan mengabadikan perjalanan sejarah Gunung Rinjani dan Tambora,” kata Aidy Furqan. 

Selain itu, arsitektur bangunan merupakan kearifan lokal  dan replika bangunan tradisional di pulau Lombok dan pulau Sumbawa.

“Tentu dengan memperhatikan unsur keragaman Kebudayaan atau sejarah, geologi, keragaman hayati dan sebagainya, menunjang kepentingan pendidikan di NTB,” imbuh Aidy Futqon. 

BACA JUGA: Ikon Pariwisata Indonesia yang Populer di Dunia

Sementara itu, GM Geopark Tambora, Ir. Hadi Santoso, ST, MM, menjelaskan, program pembangunan Museum tersebut benar-benar serius didorong oleh Gubernur NTB.

“Menindaklanjuti arahan Pak Gubernur dan Pak Kadis Dikbud NTB. Kami langsung koordinasi dengan kementrian terkait. Alhamdulillah, respon kementrian luar biasa. Kita do’a kan bersama semua lancar tanpa hambatan,” tandas Hadi. ***

 

 




Sampah di Tiga Gili Dibahas di Dinas Lingkungan Hidup KLU

Penanganan sampah, termasuk di Tiga Gili, dibahas termasuk melibatkan perwakilan dari Tiga Gili

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lombok Utara, gelar  “Ekspose Pengolahan Sampah” di Dinas KLH, KLU, Selasa (24/05/22)  mulai pagi Jam 09.00 s/d 11.00 Wita.

Dalam acara itu diundang enam perwakilan Front Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) yang ada di tiga Gili, termasuk Kadus dan utusan Desa Gili Indah.

Acara tersebut juga dihadiri Wakil Bupati, Dany Karter Febrianto Ridawan. Plt.Sekda Anding Dwi Cahyadi, S.STP, Asisten 2, H Rusdi,ST, dan Kabid Perhubungan darat Laut, Iramalip,SH serta dua orang dari DLH. 

Kepala Dinas DLH Kabupaten Lombok Utara, Drs Rusdianto,MSI, memaparkan materinya melalui powerpoint yang dijadikan bahan diskusi, yang membahas persoalan penanganan sampah, khususnya di tiga Gili (Gili Air, Meno dan Terawangan).

Membahas penanganan sampah
Peserta diskusi

“Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh Negeri ini,” kata Rusdianto. Masalah bukan hanya di negara-negara berkembang, tetapi juga di negara-negara maju juga menghadapi masalah sampah. 

BACA JUGA: Tim Riset ITI akan Meneliti Ciguatera di Gili Matra

Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah. Membuang sampah sembarangan merupakan hal yang sering kita lakukan, meski tidak jauh dari tempat itu ada tempat sampah.

Persoalan sampah, lanjut Rusdianto, yang kita hadapi saat ini bukan saja di tiga Gili, melainkan juga di pinggir jalan yang lebih banyak daripada sampah di tong sampah. Akibatnya, membuang sampah sembarangan tentu saja mengakibatkan kerugian yang tidak bisa dianggap sepele. 

“Persoalan sampah sangat kompleks dengan magnitude yang semakin besar dan membesar, sementara penanganannya belum maksimal akibat kekurangan armada, operasional, kondisi alam, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Sampah di Gili

Secara khusus ia menyoroti penanganan sampah di tiga Gili. Bagaimana sampah dari Gili  di angkut ke daratan, dan berakhir di Tempat Pembuangan Sampah (TPA).

Beberapa titik lemah penanganan sampah di area wisata ini, terutama pada pembiayaan untuk sarana prasarana. Sebab di tiga Gili itu sampah harus diangkut melalui laut.

“Dan Gili merupakan daerah pariwisata dunia serta kawasan konservasi, dan bagaimana mengaman aman laut dan karang biru yang punya keindahan nomor dua dunia, dari pencemasran sampah,” kata Rusdianto.

Dan diungkapkan, tidak jarang permasalahan sampah di tiga Gili inienjadi perbincangan baik langsung maupun tidak langsung, terekspose di medsos dan lain sebagainya. 

Sementara itu, perwakilan Front Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL), Basok, Sukdinag, H. Malik, Masrun dan lainnya, menawarkan pengelolaan sampah di Gili melibatkan pihak ketiga. 

“Kami siap menangani secara proposional, asal ada regulasi yang membenarkan pengelolaannya dengan pihak ketiga,” kata Basok.

BACA JUGA: Pangan Lokal Berbahan Sorgum, Pengganti Karbohidrat

Wakil Bupati Lombok Utara, Dany Karter Febrianto Ridawan didampingi Plt.Sekda Anding Dwi Cahyadi, S.STP, Asisten 2, H Rusdi,ST mengatakan, tempat pembuangan sementara diangkut dengan armada laut. kemudian diangkut ke darat di Umbak Belek.

“Biar nanti diangkut petugas pengangkut sampah, yang nantinya dibawa ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Sampah yang ada di TPA nantinya diolah, atau dihancurkan, dibentuk kembali menjadi bahan yang berguna,” kata Wabup Danny.

Diskusi yang cukup panjang itu menyimpulkan, agar apa yang menjadi hambatan dan solusi terbaik pada penanganan sampah di tiga Gili di kaji secara seksama.

Kemudian dirumuskan program yang menjadi sekala prioritas oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup Lombok Utara ***

 




Tim Riset ITI akan Meneliti Ciguatera di Gili Matra

Rencana penelitian Tim Riset ITI disambut baik, asal tetap kerjasama dengan Pemprov NTB

MATARAM.lombokjournal.com ~ Tim Riset Institut Teknologi Indonesia (ITI) dengan The North Pacific Marine Science Organization (PICES) merencanakan penelitian tentang Dimensi Manusia dan Deteksi Racun Ikan Ciguatera, di Kepulauan Gili Meno, Air, dan Trawangan (Matra), NTB.

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah menyambut baik rencana penelitian itu yang akan dilakukan oleh 

Tim Riset ITI beraudensi dengan Gubernur NTB

“Oke setuju, bolehlah, yang penting harus tetap kerja sama. Apa yang bisa kami bantu, pasti dibantu,” kata Gubernur NTB.

Itu disampaikan gubernur saat tim Riset ITI dengan PICES beraudiensi di ruang kerjanya, Senin (23/05/22).

Atas persetujuan itu, salah satu Tim Riset dari BRIN bidang Lingkungan Dan Teknologi Bersih, Asep bersyukur atas sambutan baik terhadap rencana penelitian.

“Kami mau meneliti Ciguatera di Gili,” kata Asep. 

Ciguatera itu semacam mikroorganisme yang menjadi ancaman di lingkungan perairan. 

Sebagai informasi, Tim Riset ITI memilih Gili Matra sebagai lokasi penelitian, sebab Gili Matra menjadi salah satu ikon wisata yang ada di Provinsi NTB.

Turut mendampingi Gubernur dalam audiensi tersebut, yaitu Kepala BRIDA NTB. ***

 




Teluk Bima Berwarna Coklat, Ini Penyebabnya 

Pencemaran yang menyebabkan teluk Bima berwarna coklat, bukan akibat pembuangan limbah atau tumpahan minyak bumi

BIMA.lombokjournal.com ~ Masyarakat Bima pada akhir bulan April lalu ribut setelah media sosial  foto sebagian perairan Teluk Bima di Nusa Tenggara Barat, yang tertutupi lapisan berwarna coklat.

Untuk kali pertama, pencemaran terjadi di teluk Bima dalam bentuk gumpalan jelly, yang menyebar hingga ke pantai di pesisir barat dan pesisir timur Teluk Bima. 

Ada yang menuding bahwa pencemaran ini akibat pembuangan limbah, hingga tumpahan minyak bumi.

Teluk Bima berwarna coklat seperti padang pasir

Akibat pencemaran itu, menurut Walhi NTB, beberapa warga di laporkan keracunan setelah mengonsumsi ikan yang bersumber dari perairan itu.

Amri Nuryadi. dari Walhi NTB saat itu mendesak Badan Usaha Milik Negara, Pertamina, memberikan penjelasan secara komprehensif terkait dugaan pencemaran itu.

Karena wilayah yang tercemar berada dalam wilayah zonasi penempatan pipa bawah laut milik Pertamina.

BACA JUGA: Paranormal dan Arkeolog Dilibatkan, Lacak Situs Kuno Lombok

Namun dugaan itu segera dibantah Pemerintah Kabupaten Bima melalui Kabag Protokol dan Komunikasi Setda Kabupaten Bima, Suryadin.

Menurutnya,  berdasakan hasil pantauan lapangan yang dipimpin langsung Kadis LHK, Jaidun bersama Tim Bidang Perhutanan Rakyat, Pencemaran dan Pengendalian Lingkungan Hidup Kabupaten Bima, Rabu (27/04/22) dugaan sementara pencemaran tersebut berasal dari lumut atau ganggang laut.

LHK telah mengambil sampel air laut dan gumpalan untuk dianalisa lebih lanjut di laboratorium.

Ia menjelaskan, dari pengamatan sementara Tim Dinas LHK, fenomena yang terjadi di Teluk Bima lebih menjurus ke “Sea snot”. Yakni lendir laut atau ingus laut yang merupakan sekumpulan organisme mirip mukus yang ditemukan di laut.

Ledakan fitoplankton 

Peneliti dari Universitas Mataram dan IPB University lantas memeriksa fenomena ini. Hasilnya, lapisan coklat itu disebabkan oleh ledakan fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae. 

Konsentrasinya di perairan mencapai 10 – 100 miliar sel per liter – lebih tinggi dari baku mutu fitoplankton yang ditetapkan pemerintah sebesar 1 juta sel per liter.

Para pakar menegaskan, fitoplankton jenis ini tak menghasilkan racun. Namun fenomena ini dapat mematikan bagi ikan karena proses penguraian fitoplankton yang mati membutuhkan banyak oksigen.

BACA JUGA: Harga Jagung Anjlog, Gubernur Sarankan Diekspor

Belum ada informasi yang jelas terkait apa penyebab ledakan fitoplankton ini. Beberapa faktor yang bisa jadi penyebabnya adalah gangguan manusia, ataupun perubahan suhu dari musim hujan ke musim panas.***

 




Bunda Niken Sambut Baik “Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita”

Bunda Niken menganggap ‘gerakan bersih-bersih rumah kita’ sebagai suntikan yang menggerakkan Tim PKK

MATARAM.lombokjournal.com ~ “Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita” yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB mendapat sambutan baik dari Gerakan PKK.

Ketua Tim Penggerak (TP)-PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah siap mensukseskan gerakan tersebut.

Bunda Niken menyampaikan, “Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita” seperti suntikan yang menggerakkan Tim PKK.

Bunda Niken sambut baik inisiatif Dinas LHK

“Satu suntikan kembali untuk menggerakkan Tim PKK dalam mewujudkan “Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita,” ujar Bunda Niken saat menerima audiensi Dinas LHK Provinsi NTB di Pendopo Gubernur NTB, Kamis (28/04/22).

Senada dengan itu, Kepala Bidang PSPPL Dinas LHK Provinsi NTB, Firmansyah, S.Hut., M.Si menyatakan, branding tentang Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita harus terus dilakukan untuk mengurangi sampah.

BACA JUGA: Jelang Idul Fitri, Harga Bapok di Beberapa Pasar di NTB Stabil

“Dalam melakukan pengurangan sampah, kampanye atau brandingnya dapat disampaikan terus-menerus agar masyarakat luas paham betul tentang pentingnya Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita ini,” jelas Firmansyah.

Sebagai informasi, Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita merupakan sebuah gerakan untuk membangun inisiatif dan partisiasi masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui edukasi. 

Tujuan gerakan tersebut untuk branding Gerakan Pilah dan Olah Sampah dari sumbernya, meningkakan jumlah local champion di daerah. 

Selain itu juga meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengolahan sampah dari rumah, meningkatkan cakupan edukasi dan meningkatkan angka pengurangan sampah.

TP PKK Provinsi NTB digandeng sebagai mitra penggerak utama, karena memiliki struktur organisasi hingga ke tingkat Desa/kelurahan. 

BACA JUGA: Mudik Lebaran 2022, Transportasi Dijamin Aman dan Lancar

Harapannya, para Kader PKK dapat memperluas cakupan wilayah edukasi Gerakan Pilah Olah Sampah hingga tingkat Rumah Tangga secara efektif dan efisien. ***

 

 




Pertama di Asia Tenggara, Google – NTB Luncurkan EIE

Peluncurkan Environmental Insights Explorer (EIE) di NTB, merupakan yang pertama di Asia Tenggara, sesuai Misi NTB Asri dan Lestari  

LOBAR.lombokjournal.com ~ Provinsi NTB terpilih sebagai Provinsi pertama di Indonesia, bahkan se-Asia Tenggara yang dipilih oleh Google untuk penerapan Environmental Insights Explorer (EIE). 

Peluncuran ini merupakan inisiatif Google untuk membantu ribuan kota dengan data dan analisis dalam mengurangi emisi global. 

EIE menggunakan sumber data pemetaan dan kapabilitas pemodelan untuk membantu kota dan pemerintah setempat mengukur sumber emisi, melakukan analisis, dan menyusun strategi untuk mengurangi emisi guna membangun fondasi untuk tindakan yang efektif.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menyambut baik atas peluncuran EIE, karena mampu mengintegrasikan isu lingkungan dengan mengggunakan teknologi untuk membantu kehidupan warga NTB menjadi lebih baik.

Ini peluncuran pertama EIE di Asia Tenggara

“Senang sekali hari ini bersama GOOGLE di Senggigi melakukan Launching Environmental Insight Explorer. NTB adalah Provinsi pertama di Indonesia bahkan yg pertama di Asia Tenggara yg dipilih oleh GOOGLE untuk launching EIE ini. Sungguh menjadi kehormatan yg luar biasa bagi kami,” tuturnya saat memberikan sambutan di Hotel Sheraton, Lombok Barat, Kamis (21/04/22).

BACA JUGA: Festival Tambora, Semarakkan Event MXGP Samota

Data dari EIE, bahwa Provinsi NTB menghasilkan 1.3 juta ton karbondioksida pada tahun 2020, menurun dari 2.7 juta ton ditahun 2019 serta 3.4 juta ton di tahun 2018.

“Ini berkah pandemi juga jadi menurun mobilitas masyarakat, data yang dihasilkan oleh EIE sangatlah penting dari kami mengambil kebijakan dalam merealisasikan misi pembangunan kami yakni Asri dan Lestari,” tuturnya.

Bang Zul juga mengatakan, inisiasi google ini sangat relevan yakni Misi NTB Asri dan Lestari dalam Pembangunan NTB Gemilang yang bertujuan untuk Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan yang Berkelanjutan. Program yang sangat populer yakni ‘NTB Hijau’ dan Program perubahan perilaku ‘NTB Zero Waste’ 

“Asri, kita ingin agar mata kita dimanjakan dengan kota – kota yang bukan hanya penuh dengan sampah namun indah sehingga kita betah berada didalamnya dan Lestari sustainablity pada hutan kita yang sesuai dengan NTB Hijau,” tuturnya.

Ia mengataka,  dengan adanya data dari EIE dapat membantu pemerintah dalam merealisasikan tujuan kebijakan, seperti pengembangan transportasi umum, meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pengembangan kendaraan listrik.

“Kita sudah mampu memproduksi kendaraan listrik sendiri, bahkan coolstorge Untuk nelayan kita bisa direalisasikan,” tuturnya.

Sementara itu, Putri Alam selaku Direktur Hubungan Pemerintah dan Kebijakan Publik Google Indonesia mengatakan bahwa EIE membantu Pemerintah lokal dalam menangkal emisi karbon dan menentukan cara untuk menguranginya.

BACA JUGA: LKPJ 2021, Gunernur Sampaikan Beragam Prestasi

“Alat ini tersedia dari 20rb kota dan pemerintah daerah termasuk di negara seperti Jepang dan Australia, Besar harapan kami ini akan menjadi alat yang bisa membantu pemerintah daerah di Indonesia,” pungkas Putri Alam. ***

 

 

 




Gunung Tambora, Potensi Yang Harus Dikelola

Sumber daya alam yang berlimpah di Gunung Tambora harus dikelola agar memberikan efek ekonomi bagi masyarakat

MATARAM.lombokjournal.com ~  Keberadaan gunung Tambora harus dikelola dengan baik, agar memberikan manfaat untuk masyarakat Pulau Sumbawa dan NTB pada umumnya.

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah mengatakan itu, saat membuka webinar peringatan meletusnya Gunung Tambora yang ke 207 tahun, yang digelar oleh Yayasan Tambora, Kamis (14/04/22)

Webinar peringatan 207 tahun meletusnya Tambora
Gubernur Zulkieflimansyah membuka webinar

“Apalagi Tambora sudah lama dikenal dan mengubah peradaban dunia,” kata Bang Zul sapaan populer Gubernur NTB..

Menurut Bang Zul, Tambora menghadirkan sumber daya alam yang berlimpah untuk dikelola.  Tapi tantangan Pulau Sumbawa perlu dukungan infrastruktur, transportasi dan fasilitas yang memadai.

BACA JUGA: Gubernur NTB Kunjungi Korban Kebakaran di Karara, Bima

“Supaya Bima maupun Dompu punya  kesempatan menggelar berbagai event. Baik berskala Nasional maupun Internasional,” pesan Doktor Zul.

Ia berharap di masa yang akan datang kemajuan daerah akan banyak ditentukan oleh investor. Tetapi harus dilakukan sosialisasi yang masif.

Sehingga kehadiran investor di Tambora mampu dan mensejahterakan masyarakat baik di lingkar Tambora dan di pulau Sumbawa umumnya.

Sementara tokoh Nasional asal Bima, Dr. Hamdan Zoelva mengaku, eksotik dan potensi taman bumi ini sudah diakui dunia.

“Maka potensi Tambora harus dikelola agar memberikan efek ekonomi bagi masyarakat, harus terus didorong,” sebut mantan ketua MK ini.

Jadi, ditetapkannya Tambora sebagai bagian dari Cagar Biosfer Dunia, menjadi modal utama bagi daerah. Untuk memanfaatkannya demi kemajuan daerah dan keseimbangan ekosistem alam.

BACA JUGA: Pesona Khazanah Ramadhan Perkuat Branding Pariwisata NTB

Hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, Bupati Sumbawa, Mahmud Abdullah, Wakil Bupati Dompu dan peserta hybrid lainnya. ***

 

 




Galian C di KLU, Izin  ke Pusat Ada Masalah Tetap di Daerah

Bagi penambang galian C wajib mengantongi semua perizinan NIB, WIUP, IUP hingga KLBI yang diterbitkan Pusat

TANJUNG.lombokjournal.com ~  Penambangan galian C di Lombok Utara saat ini menimbulkan kerumitan bagi aparat.

Khususnya di tengah kebijakan kewenangan perizinan tambang Galian C yang ditarik ke pusat.

Untuk bisa beroperasi, pengelola tambang memang wajib mengantongi semua perizinan, mulai dari NIB, WIUP, IUP hingga KBLI yang diterbitkan Pusat.

“Perizinan Galian C menjadi kewenangan pusat, tapi faktanya ketika ada permasalahan di lapangan, daerah yang mau tidak mau dituntut untuk menangani,” kata Drs. Rusdianto, MSi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (KDLH) Kabupaten Lombok Utara, Rabu (13/04/22).

BACA JUGA: RSUD NTB Tahun Ini Bisa Tangani Stroke, Jantung dan Kanker

Proses untuk mendapatkan rekomendasi cukup banyak menyita waktu karena harus menunggu proses di Pusat. 

“Kalau mau menambang ya harus nunggu izin IUP produksinya keluar dulu,” katanya. tandasnya

Menurut Rusdianto, memang daerah masih memiliki kewenangan terkait urusan tambang galian C.

Yakni perihal kewenangan Pajak Daerah dan kewenangan soal izin lingkungan. 

Meski izin NIB, WIUP hingga IUP atau izin eksplorasi berada di pusat, daerah masih berwenang dalam menerbitkan rekomendasi terkait izin lingkungan.

Rekomendasi izin lingkungan yang menjadi salah satu syarat untuk izin ke pusat itu menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

BACA JUGA: Sinergitas OPD Diperlukan untuk Optimalkan Wajib Pajak

Dalam KBLI itu di dalamnya terdiri dari surat pernyataan kesanggupan PPL maupun UKL-UPL dan kajian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

“Kalau memang belum mengantongi semua perizinan, tetap tidak boleh beroperasi,” tuturnya. 

***

 




Edukasi untuk Siaga Bencana Harus Terus-Menerus

Belajar dari bencana yang terjadi, wajib dilakukan edukasi bencana untuk mengurangi resiko bencana alam

MATARAM.lombokjournal.com ~ Bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok yang terjadi tahun 2018, khususnya Lombok Utara, dampaknya masih terasa hingga sekarang.

Setelah bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok, beruntun beberapa wilayah lain di Indonesia, juga diterjang bencana, mulai Sulawesi hingga Jawa Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 136 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang 1-16 Januari 2021. Bencana banjir paling banyak terjadi, mencapai 95 kejadian.

Bencana lainnya adalah tanah longsor yang terhitung sudah 25 kali terjadi, puting beliung telah terjadi sebanyak 12 kali, serta dua peristiwa gempa bumi. Peristiwa bencana tersebut telah mengakibatkan ratusan jiwa menjadi korban

BACA JUGA: Pertunjukan Wayang Botol, Edukasi Siaga Bencana

Belajar dari bencana yang telah terjadi, wajib menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia pentingnya implementasi pengurangan resiko bencana alam.

Gempa bumi di Izmit, Turki, 1999

Tidak hanya terjadi di Lombok, kesedihan dan kekhawatiran bagi hati rakyat Indonesia terkait bencana alam yang banyak merenggut korban jiwa. 

Mulai dari tanah longsor di Sumedang hingga peristiwa gempa bumi berkekuatan M 7,1 di Lombok, kemudian disusul M 6,2 di Kota Majene dan Mamuju. Kita diingatkan ancaman bencana serupa yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. 

Istilah “Arisan” pernah diungkapkan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto, karena bencana alam seperti gempa bumi, longsor, banjir, dan sebagainya bisa terjadi di wilayah mana saja di Indonesia. 

“Seluruh wilayah Indonesia dipenuhi retakan – retakan akibat tektonik itu yang notabene menjadi sumber gempa,” terangnya.

Perulangan gempa bumi yang terjadi kurun waktu yang relatif lama, misalnya 50 tahun atau bahkan lebih, sehingga orang – orang mudah melupakannya.

Itulah pentingnya edukasi terus-menerus mengenai mitigasi bencana diperlukan. Salah satu yang jadi sorotan adalah aspek bangunan yang aman atau tahan gempa. Kerap kali sebuah rumah dibangun hanya memperhatikan aspek estetikanya saja, tanpa melibatkan faktor-faktor kebencanaan seperti ketahanan akan guncangan.

Bagaimana pun bencana alam adalah takdir dan nafas dari bumi. Bencana bukan semata-mata aspek teknis tapi juga perilaku dan sikap manusia. Acapkali aturan yang telah dibuat justru dilanggar, seperti mendirikan bangunan di bibir pantai melewati batas sempadan.

BACA JUGA: Pembangunan Kantor Bupati Lombok Utara Dimulai

Karena itu, perlu diingatkan krusialnya sinergi dan implementasi kebijakan yang sistemik, tidak hanya berlangsung secara sporadis.

Mengenai bencana hidrologi, Indonesia akan mengalami puncak musim hujan pada Januari dan Februari. Karena itu, masyarakat juga perlu mewaspadai bencana hidrometeorologi. 

Bencana banjir di Kalimantan Selatan telah mengakibatkan 27.111 Rumah Terendam dan 112.709 Warga Mengungsi di 7 kabupaten/Kota, sementara di Kabupaten Sumedang terjadi tanah longsor di Desa Cihanjuang Kecamatan Cimanggung. 

Untuk mengurangi dampak bencana di masa depan, perencanaan tata ruang Kabupaten/kota yang berada pada potensi bencana tinggi harus didesain ulang berdasarkan analisis ilmiah berbasis kebencanaan. ***

 

 




Event Earth Day Google, Lombok Siap Jadi Tuan Rumah

Google berencana akan menggelar event earth day di Lombok, Gubernur NTB menawarkan beberapa tempat di Lombok

MATARAM.lombokjournal.com ~ Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyambut baik rencana event earth day dan siap menjadi tuan rumah acara yang akan digelar pada April 2022 mendatang. 

Dukungan NTB dan kesiapan menjadi tuan rumah tersebut diutarakan Gubernur Zul, saat membahas kolaborasi wawasan lingkungan bersama Google secara virtual di Ruang Kerja Pendopo, Selasa (29/03/22).

Bahkan ditawarkan beberapa tempat di Lombok sebagai tempat penyelenggaraan event earth day.

BACA JUGA: Pra Musrenbang, Susun  Arah Masa Depan NTB

Saat membahas event earth day

In Gili Trawangan, Sembalun, Mandalika, wherever you want it we are ready (Di Gili Trawangan, Sembalun, Mandalika di manapun anda mau kami siap),” kata gubernur. 

Dalam pembicaraan secara virtual tersebut, baik Gubernur maupun pihak Google, memberikan komitmen terhadap isu lingkungan berkelanjutan. 

Provinsi NTB telah banyak mengimplementasikan sustainable Environment ke dalam berbagai program. Seperti misi NTB Hijau, program Zero Waste, Green Tourism, dan lain sebagainya. 

We are really consent with Sustainable Environment program (Kami sangat setuju dengan program Lingkungan Berkelanjutan),” tutur gubernur.  

Sementara itu, Tomomi Matsuko selaku perwakilan Google mengungkapkan komitmen Google dalam memberikan data yang bermanfaat dalam membantu para pemimpin daerah untuk mewujudkan lingkungan sehat yang berkelanjutan. 

Google through Environmental Insight Explorer Helping civic leaders build more resilient Sustainable and thriving World (Google melalui Penjelajah Wawasan Lingkungan Membantu para pemimpin sipil membangun Dunia yang lebih tangguh dan Berkelanjutan),” tutur Tomomi.

BACA JUGA: Terima Staf Ahli Kementerian LHK, Wagub NTB Minta Dukungan Pengelolaan Sampah

Kolaborasi tersebut masih dalam tahap perencanaan yang masih terus akan disempurnakan melalui pertemuan-pertemuan berikutnya. ***