Jelang MXGP Samota, PLN Siapkan Pasokan Listrik ZDT
PT PLN (Persero) wilayah NTBmenggesa fasilitas pendukung ketersediaan pasokan listrik untuk jelang MXGP
MATARAM.lombokjournal.com ~ Event International Motorcross Grand Prix (MXGP) Samota pada, tanggal 24-26 Juni 2022 mendatang, menunjukan kemajuan dalam berbagai persiapan.
Tidak hanya lahan untuk lokasi yang akan dijadikan venue sirkuit , namun pasokan dan penyediaan listrik tanpa kedip atau dikenal Zero Down Time (ZDT) juga disiapkan.
Kadis Kominfotik NTB, Najamuddin Amy mengatakan, setelah Gubernur NTB bersama tim INFRONT dan Bupati Sumbawa meninjau kondisi lapangan dan arena sirkuit.
PT PLN (Persero) wilayah NTB juga menggesa fasilitas pendukung ketersediaan pasokan listrik yang sangat diperlukan.
Najamuddin Amy
“Semuanya dipersiapkan, termasuk Infrastruktur kelistrikan dan juga Sumber Daya Manusia sudah kami siapkan untuk gelaran MXGP, oleh PT. PLN (Persero) wilayah NTB,” kata Kadis Kominfotik Provinsi NTB, Senin (11/04/22) di ruang kerjanya di Mataram.
Menurut Koordinator Bidang Kominfo dan Promosi Panitia MXGP Samota 2022 tersebut, event MotoGP di Mandalika telah sukses digelar Maret 2022 yang lalu. Karena itu, ajang MXGP Samota juga harus sukses dari segala hal.
Lahan dan arena sirkuit sedang digeber, maka fasilitas listrik juga telah disiapkan dengan matang oleh pihak PLN, demi kelancaran kegiatan tersebut.
“Kami terus berkoordinasi dan bersinergi dengan semua pihak, untuk mengabarkan dan menginformasikan perkembangan semua proses penyelenggaraan event ini,” kata Bang Najam.
Sebelumnya, General Manager PLN NTB, Sudjarwo mengatakan proses dan tahapan untuk melistriki MXGP implementasinya sama seperti saat penyelenggaraan MotoGP Mandalika.
Survei awal dilakukan untuk menentukan besaran daya listrik yang diperlukan, dan juga titik titik lokasi penting yang harus dilistriki.
“Setelah survey kebutuhan dan jumlah titiknya jaringan listrik, kami akan membuat masterplan_ jaringan dan juga akan menentukan kebutuhan materialnya,” jelas Djarwo.
Dikatakan, kondisi Sistem Kelistrikan Sumbawa saat ini masih dalam posisi normal. Total daya mampu sebesar 128,85 MW dengan beban puncak 113,32 MW.
“Jadi masih terdapat cadangan daya listrik sebesar 15,53 MW yang dapat dioptimalkan, baik untuk MXGP dan kebutuhan pendukung yang lain,” terangnya.***
Pedagang Kaki Lima, Warung dan Nelayan Terima Bantuan Tunai Pemerintah
Bupati Djohan danDandim 1606 Mataram salurkan bantuan Pemerintah untuk Pedagang Kaki Lima, Warung dan Nelayan
TANJUNG.lombokjournal.com ~Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu SH bersama Dandim 1606 Mataram Letkol (Arm) Arif Rahman S.Sos MM menyalurkan Bantuan Tunai Pedagang Kaki Lima, Warung dan Nelayan, di Aula Kantor Bupati, Senin (11/4/2022).
Bupati Djohan menyatakan, pihaknya menyambut baik atas program yang telah diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Kodim 1606 Mataram.
Bantuan tunai yang diberikan sangat membantu warga khususnya para pedagang, warung dan nelayan untuk melanjutkan usahanya. Bantuan mulai mulai disalurkan itu diharapkan menggerakkan ekonomi masyarakat maupun kebutuhan keluarga selama bulan Ramadhan.
Bupati Djohan Sjamsu
“Sebagai kepala daerah, saya bersyukur rakyat kami dibantu oleh Pemerintah melalui Kodim 1606/Mataram,” ucapnya.
Jumlah penerima bantuan tunai yang diperuntukkan untuk pedagang kaki lima, warung dan nelayan yang ada di Lombok Utara sebanyak 14.000 orang .
Sementara itu, Dandim 1606 Mataram Arif Rahman menyampaikan bantuan tunai yang diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui TNI untuk seluruh Indonesia berjumlah 1.380.000 orang, untuk wilayah satuan Kodim 1606 yang meliputi Mataram, Lobar dan KLU berjumlah 34.000 orang.
“Pada tahun ini bantuan dengan sasaran tambahannya nelayan sebagai penerima manfaat, nilai yang diberikan untuk masing-masing sebanyak Rp.600.000 per orang,” tuturnya
Program ini merupakan program tahunan pemerintah, tahun Lalu Kodim 1606 Mataram mendapatkan 17 ribu orang penerima bantuan sekarang bertambah menjadi 34 ribu orang penerima bantuan.
Dandim 1606 Mataram Letkol (Arm) Arif Rahman
“Harapan kami agar bantuan yang diterima dipergunakan sebagai mana mestinya,” harapnya.
Hadir pula Ketua DPRD KLU Nasrudin SHI, Wakapolres Lotara Kompol Samnurdin SH, Perwakilan Kejari Mataram, Kadis Diskoperindag Drs. Abdul Hamid, dan Jajaran Kodim 1606 Mataram serta para penerima manfaat.***
Jelang penyelenggaraan event MXGP di Samota, Sumbawa, digelar rapat strategi sosialisasi dan publikasi penyelenggaraan MXGP Samota
SUMBAWA.lombokjournal.com~ Pemerintah Provinsi NTB terus menggesa berbagai aspek kesuksesan ajang Motocross Grand Prix (MXGP) yang bergengsi dunia tersebut.
Karena dua bulan lagi penyelenggaraan Motocross Grand Prix (MXGP) di Samota Kabupaten Sumbawa, tepatnya 24-26 Juni 2022 mendatang, maka sosialisasi dan publikasi penyelenggaraannya juga dimantapkan. .
Ada lima strategi dibahas yang akan digunakan, yakni sosialisasi event, publikasi, promosi, penyediaan infrastuktur, serta sosialisasi literasi MXGP Samota.
“Bagaimana agar kita bisa satu narasi dan saling melengkapi dalam memberikan informasi terkait MXGP melalui berbagai kanal dan media, baik media sosial, media luar ruang dan media massa,” jelas Dr. Najamuddin Amy. S.Sos, Kepala Dinas Kominfotik NTB, dalam rapat yang digelar secara virtual, Jumat (08/04/22).
Bang Najam sapaan Kadis meminta kepada Dinas Kominfotik Kabupaten Sumbawa untuk mendirikan Information Center.
Information Center yang akan menjadi pusat informasi lengkap seputar MXGP Samota yang bisa dengan mudah diakses masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut melalui information center.
“Disediakannya Information Center ini sebagai upaya desiminasi informasi kita terkait MXGP Samota kepada masyarakat,” tutur Najam.
Dalam rapat tersebut, berbagai masukan untuk mensukseskan event MXGP Samota diutarakan oleh peserta rapat yang merupakan stakeholder terkait penyelenggaraan event.
Peserta rapat terdiri dari Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan dan Pelayanan Publik, Kadis Kominfotik NTB, eselon III Diskominfotik NTB, Ketua Komisi Informasi NTB, Ketua dan Anggota BPPD NTB, Sekertaris Dinas DPM-PTSP, Bidang Pemasaran Dispar NTB, Dinas Pariwisata Kabupaten Sumbawa, Diskominfo dan Sandi Kab, Sumbawa, Humas Polda NTB, serta KCD Dikbud Sumbawa.
Seluruh masukan tersebut akan dibawa dalam rapat lanjutan yang akan digelar di Sumbawa Hari Sabtu tanggal 9 April Jam 16.00 WITA di Aula Madilau Adt ( Lantai 3) Kantor Bupati Sumbawa sekaligus dirangkaikan dengan agenda buka puasa bersama.***
Tim INFRONT MXGP Tinjau Venue di Samota
Gubernur NTB dampingi Tim INFRONT MXGP melihat kesiapan pelaksanaan event MXPG
SUMBAWA.lombokjournal.com ~ Pemerintah Provinsi NTB terus memantapkan kesiapan Kejuaraan balap Motocross Grand Prix (MXGP) yang akan digelar di Samota-Sumbawa, pada tanggal 24-26 Juni 2022 mendatang.
Salah satunya penyiapan lahan yang akan dijadikan lintasan balapan sudah masuk ke dalam tahap pengerjaan.
Persiapan tersebut ditinjau langsung oleh Gubernur Zulkieflimansyah beserta Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa mendampingi kunjungan tim INFRONT yang merupakan penyelenggara dari event MXGP ini.
INFRONT sendiri merupakan perusahaan sportainment sekaligus international promotor pemilik brand Motor Cross Grand Prix (MXGP).
Kedatangan Gubernur dan rombongan disambut di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin-Sumbawa. Kemudian bergerak menuju ke lokasi lahan yang akan dijadikan venue sirkuit di kawasan Samota.
Ini merupakan kunjungan pertama INFRONT untuk melihat kesiapan pelaksanaan event MXPG khususnya untuk meninjau langsung kondisi lapangan dan arena sirkuit.
Bang Zul, sapaan Gubernur, bersama Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa, menjelaskan kepada tim INFRONT gambaran umum kondisi lahan untuk venue yang sudah masuk ketahap pengerjaan awal. Salah satunya yang dijelaskan adalah bagaimana pemerintah daerah sudah menyiapkan lahan sebanyak 20 Ha untuk event MXGP ini.
Pada kesempatan yang sama, Bang Zul menyampaikan bahwa secara umum pihak INFRONT sangat suka dengan lokasi venue ini. Mereka suka dengan kontur areanya, pemandangannya dan juga kondisi tanahnya.
“Kunjungan tim INFRONT kali ini juga ingin memastikan bahwa data-data yang kita sampaikan baik foto dan juga video sesuai dengan kondisi kenyataan di lapangan sebab sekarang kadang-kadang foto dan juga video lebih indah daripada kondisi aslinya. Jadi mereka tidak mau terkecoh dengan foto dan juga video yang sudah kita sampaikan sebelumnya. Tadi setelah melihat kondisi di lapangan hari ini, mereka sangat bergembira dan bisa memastikan bahwa MXGP SAMOTA akan tetap dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan pada 24-26 Juni mendatang,” jelasnya. ***
Letusan Tambora, Situasinya Tergambar Jelas di Bo’ Sangaji Kai
Situasi di hari kejadian letusan Tambora itu terbaca dengan jelas dalam Buku Catatan Kerajaan Bima atau Bo’ Sangaji Kai
lombokjournal.com ~“Hijrat al-Nabi SAW seribu dua ratus tiga puluh genap tahun, tahun Za, pada hari Selasa waktu subuh, sehari bulan Jumadil Awal, tatkala itulah di Tanah Bima datanglah takdir Allah melakukan kodrat iradat atas hamba-Nya. Maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu, kemudian maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turun kersik batu dan abu seperti dituang, lamanya tiga hari dua malam. Maka heranlah sekalian hamba-Nya akan melihat karunia Rabbial-Alamin yang melakukan fa (cc atas) al li-ma yurid1). Setelah itu maka teranglah hari, maka melihat rumah dan tanaman sudah rusak semuanya, demikianlah adanya itu, yaitu pecah Gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad.”
Kawah Gunung Tambora
Kisah ledakan maha dahsyat Gunung Tambora yang terjadi pada tahun 11 April 1815, tercatat dalam Buku Catatan Kerajaan Bima atau Bo Sangaji Kai (naskah kuno kerajaan Bima) dengan judul pada pias kiri naskah: “Alamat Pecah Gunung Tambora”.
Inilah sepenggal kisah yang begitu singkat namun mampu menggambarkan spektakulernya letusan Gunung Tambora dengan berbagai akibatnya.
Berita tentang letusan Gunung Tambora tahun 1815, tertulis dengan apik dan sangat mengharukan dalam Catatan Kerajaan Bima (naskah asli Bo’ Sangaji Kai), pada naskah 872).
Dari Bo’ Sangaji Kai inilah, gambaran tentang situasi di hari kejadian letusan Gunung Tambora itu terbaca dengan jelas. Seribu dua ratus tiga puluh genap tahun, tahun Za, pada hari Selasa waktu subuh, sehari bulan Jumadil Awal, merupakan catatan resmi dari naskah aslinya yang bertepatan dengan tanggal 11 April 1815 di tahun Masehi.
Letusan itu terjadi di waktu subuh hari bahkan ketika siang tiba, matahari tidak kunjung tampak akibat abu vulkanik memenuhi langit dan menutup sinar matahari. Naskah ini mengisahkannya dengan kalimat, maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu (gelap yang sangat gelap bahkan lebih gelap dari pada malam hari).
Bagian Bo’ Sangaji Kai yang mengisahkan tentang letusan dahsyat Gunung Tambora ini, dibacakan tahun 2015 oleh Filolog dan sejarawan, Dr. Hj. Siti Maryam Salahuddin semasa hidupnya.
“Siang gelap gulita, laksana malam, langit di atas Pulau Sumbawa berselimut gelap yang hitam pekat sehingga sinar matahari tidak tampak selama setidaknya tiga hari bahkan gelap itu sampai sekitar seminggu lamanya dimana cahaya matahari yang redup masih terasa,” ujar Siti Maryam waktu itu.
Ia menerjemahkan tulisan dari Juru Tulis Istana yang mencatatkan semua peristiwa yang terjadi kala itu dalam Bo’ Sangaji Kai.
Suara ledakannya yang begitu keras bagaikan tengah berkecamuk perang yang melepaskan tembakan-tembakan menggunakan meriam, digambarkan dengan kalimat, berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang.
Naniek I Taufan bersama Igan S. Sutawijaya, geolog peneliti Gunung Tambora dari Pusat Geologi Bandung
Geolog Igan S. Sutawijaya, peneliti Gunung Tambora mengungkapkan bahwa dalam berbagai catatan menyebutkan gemuruh ledakan itu terdengar di berbagai wilayah di Indonesia seperti Ternate, Surabaya, Makassar dan Sumatera hingga, sejauh 2.600 kilometer.
Inilah tampaknya yang dicatat oleh juru tulis Istana Kesultanan Bima tentang bunyi letusan yang tertulis seperti meriam orang perang itu. Muntahan material yang demikian banyak menyebar lahar, batu dan abu seperti hujan yang ditumpahkan dari langit dalam waktu yang cukup panjang selama tiga hari dua malam, yang digambarkan dengan sebuah kalimat, kemudian maka turun kersik batu dan abu seperti dituang, lamanya tiga hari dua malam.
Dari cerita Dr. Siti Maryam semasa hidupnya itu (wafat 18 Maret 2017), peristiwa letusan yang disebut sebagai malapetaka yang sangat dahsyat itu terjadi menjelang akhir masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah (1773-1817).
Gambaran kehancuran dan porak-porandanya kerajaan-kerajaan yang berada di sekitar Gunung Tambora, bahkan dua di antaranya Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat, yang berada tepat di kaki Gunung Tambora itu terkubur hingga hari ini, juga tercatat dengan rapi dalam naskah kuno tersebut.
Setelah terang datang (tiga hari usai abu vulkanik mereda), tampaklah bahwa rumah dan tanaman sudah rusak semuanya, hancur binasa akibat letusan itu. Diketahuilah bahwa akibat yang lebih parah juga terjadi adalah “habis mati orang Tambora dan orang Pekat” (memakan korban yang sangat banyak).
“Akibat letusan itu yang terlihat seluruh pulau Sumbawa tertutup abu, rumah-rumah hancur berantakan, ternak-ternak penduduk mati, ribuan orang meninggal dunia sebagai akibat langsung dari letusan tersebut, bahkan lahan-lahan pertanian sebagai sumber kehidupan masyarakat binasa dan tidak bisa digarap lagi. Inilah yang menyebabkan terjadinya kelaparan dan berbagai penyakit yang menambah jumlah korban meninggal. Dan akibat dari kehancuran itu, ribuan atau bahkan puluhan ribu orang yang ada di pulau Sumbawa mengungsi ke pulau-pulau terdekat,” ujarnya.
Batu dan lainnya yang menguak letusan Tambora
Tampaknya, inilah yang kemudian dicatat oleh Heinrich Zolingger (ahli botani Swiss), sekitar 30 tahun kemudian sejak terjadinya letusan maha dahsyat itu.
“Zollinger mereka-reka, menghitung jumlah penduduk Pulau Sumbawa pada awal tahun 1815 sekitar 170.000 orang dan musnah separuhnya akibat letusan itu, tersisa kira-kira 60.000 orang,” kata Dr. Siti Maryam.
Letusan Gunung Tambora merupakan sebuah bencana besar, bukan hanya bagi tanah leluhurnya orang Bima dan Dompu, melainkan bencana yang juga dirasakan masyarakat dunia yang terkena dampaknya. Gunung Tambora meletus dengan begitu dahsyatnya, menebar malapetaka bak monster yang menakutkan.
Benda-benda artefak ditemukan terkubur material vulkanik Tambora
Letusan itu juga telah mengubur peradaban dari dua Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad. Hilang tidak berbekas hingga akhirnya lebih dari 150 tahun kemudian (1815-1980-an), secara tidak sengaja sisa-sisa kehidupan di dua kerajaan yang terkubur tersebut terungkap lewat penemuan benda-benda, keramik, tembikar, peralatan rumah tangga dan lainnya di kaki Gunung Tambora.
Kini, setelah lebih dari dua abad peristiwa itu terjadi, jejak-jejak kerusakan itu terkuak lewat berbagai penemuan artefak dan benda-benda bersejarah di kaki Gunung Tambora. Di sana ada situs Gunung Tambora, yang menyimpan sejarah tersebut dan menjadi patut untuk ditelusuri lebih lanjut. Apa yang ada di kaki Gunung Tambora hari ini, adalah berkah dari letusan yang mematikan yang terjadi 207 tahun yang lalu. ***
1) 87, catatan yang menceritakan tentang letusan gunung Tambora.
2) Ungkapan Arab ini disebut juga dalam syair (bait 44) dan diterjemahkan
sebagai berikut: “Allah Ta’ala berbuat sekehendak-Nya”.
Letusan Gunung Tambora, Terkuat Dalam Sejarah Dunia
Hari ini 207 tahun lalu, letusan Gunung Tambora tercatat terdahsyat sepanjang sejarah
lombokjournal.com ~ GUNUNG Tambora dengan kisah letusannya yang dahsyat, menyimpan daya tarik untuk dipahami lebih jauh.Tidak hanya untuk dijelajahi kawasannya melalui pendakian, juga seluruh potensi kawasan lingkar Tambora yang menjadi inspirasi. Letusan Tambora tercatat mengisahkan ledakan gunung terdahsyat sepanjang sejarah, dengan misteri yang menyertainya.
Tambora hari ini laksana magnet yang punya daya tarik untuk dijelajahi.
Setelah menjadi kuburan massal bagi dua kerajaan yakni Pekat dan Tambora, serta meluluh-lantakkan Kerajaan Sanggar akibat muntahan material Tambora yang luar biasa banyaknya, denyut jantung peradaban wilayah-wilayah sekitar gunung ini mendadak “mati” cukup lama.
Belum ada yang tahu persis bagaimana kehidupan yang ada di tiga kerajaan tersebut pada masa dua abad yang lalu. Hingga akhirnya para ahli menguak misteri peradaban yang hilang tersebut sedikit demi sedikit.
Bahkan ketika denyut nadi kehidupan di sekitar gunung ini mulai berdetak kembali, semua itu belum terungkap secara lengkap hingga hari ini; hingga Tambora sampai ke kita.
Gunung Tambora, tersohor karena sejarah letusannya yang maha dahsyat di tahun 1815 lalu. Sebagai salah satu icon Nusa Tenggara Barat, gunung ini menyimpan sejarah letusan yang pernah tercatat dunia sebagai yang terdahsyat setelah Gunung Toba di Sumatera Utara (yang meletus pada zaman pra sejarah).
Gunung Toba di Sumatera Utara (yang meletus pada zaman pra sejarah sekitar 74.000 tahun lalu dengan kekuatan ledak skala 8 Vei).
Berdiri di bibir kawah Gunung Tambora Sebuah lubang sangat besar yang menganga tampak dengan jelas. Itulah kawah raksasa dari Gunung Tambora yang meletus sangat dahsyat dengan ledakan yang bahkan tercatat telah memangkas separuh dari badan Gunung Tambora yang memiliki ketinggian awal 4.200 mdpl, dan kini tinggal menyisakan ketinggian 2.851 mdpl.
Letusan yang disebut paling mematikan dalam sejarah dengan kekuatan setara 171.428 kali bom atom ini, telah meninggalkan bekas kawah raksasa berdiameter 7 kilometer dengan kedalaman kawah mencapai 1.200 meter (1.2 km) dari bibir kawahnya.
Sebagaimana diungkapkan Igan S. Sutawijaya, geolog yang juga peneliti Gunung Tambora dari Pusat Geologi Bandung, bekas-bekas material letusan Gunung Tambora yang meletus dengan kekuatan 7 Vei (Volcanic Expolisivity Indeks), empat kali lebih dahsyat dari Gunung Krakatau 1883.
Masih terlihat hingga hari ini berupa berupa batu-batu sangat besar serta serpihan-serpihan batu menghitam yang luluh lantak karena panas awan letusan Tambora, yang mencapai 800 derajat celcius. Suhu itu mengalahkan panas awan letusan Gunung Vesuvius di Italia yang mengubur Pompeii, dengan 600 derajat celcius.
Dengan kekuatan ledak super besar itu, Tambora seperti menghempaskan emosinya secara maksimal. Beberapa gunung pembanding adalah kisah letusan Gunung Krakatau yang menghebohkan di tahun 1883.
Kekuatan ledak Gunung Krakatau hanya setara 21.500 kali bom atom. Gunung yang paling dekat dengan Tambora adalah Gunung Agung di Bali yang meletus 1963, kekuatan ledaknya hanya 2.600 kali bom atom.
“Dengan skala 7 Vei, kekuatan ledakan Gunung Tambora hingga saat ini belum terpecahkan dalam sejarah letusan gunung berapi di dunia,” kata Igan.
Sebagai salah satu dari 127 gunung api aktif di dunia yang banyak dibicarakan karena kedahsyatan ledakannya, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya menjadi kekayaan bagi bangsa Indonesia melainkan juga merupakan kekayaan dunia, khususnya dalam hal keilmuan.
Gunung Tambora mewarnai kisah berbagai letusan gunung api yang pernah tercatat dalam sejarah dunia. 207 tahun yang lalu, Gunung Tambora yang berdiri meranggas bak pasak bagi Pulau Sumbawa ini telah memuntahkan material yang demikian banyak sampai-sampai mengubur peradaban yang ada di dua kerajaan yakni Kerajaan Tambora di Bima dan Kerajaan Pekat di Dompu.
Lokasi kedua kerajaan itu berada di bagian barat kaki gunung Tambora, dan Kerajaan Sanggar yang berada di sebelah timur gunung ini menjadi porak-poranda.
Akibat 150 kilometer kubik material yang ditumpahkan dalam erupsi besar Tambora menyebabkan tiga kerajaan hilang, dua terkubur yakni Kerajaan Tambora dan Pekat yang menyebabkan kedua kerajaan ini terhapus dari peta pemerintahan kala itu.
Sedangkan Kerajaan Sanggar yang meskipun tidak terkubur akhirnya hilang juga, karena telah porak poranda dan luluh lantak sehingga menyebabkan seluruh penduduknya musnah (meninggal dan mengungsi) meninggalkan Sanggar.
Kerajaan Sanggar menjadi wilayah yang kosong. Tidak ada kehidupan yang diatur oleh pemerintahan lagi di sana.
Igan juga mengungkapkan bahwa akibat dari letusan Tambora tidak hanya memporak-porandakan kerajaan-kerajaan yang berada di kaki gunung tersebut, melainkan juga mempengaruhi iklim dunia.
Letusan Gunung Tambora yang menyebar abu vulkanik dan aerosol 40-60 megaton itu “mengelilingi” dunia selama hampir setahun sejak letusannya 1815 hingga 1816, menyebabkan tahun 1816 tercatat sebagai “tahun tanpa musim panas”.
“Amerika Utara dan Eropa tertutup abu vulkanik dari letusan Gunung Tambora sehingga sinar matahari redup menyebabkan kegagalan panen yang menimbulkan kelaparan di wilayah tersebut,” ungkap Igan yang juga Penyelidik Bumi Madya dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Igan menambahkan, abu Gunung Tambora keliling dunia selama tiga minggu. Abu dan aerosol yang merupakan bagian dari material muntahan Gunung Tambora yang terangkat dalam kolom setinggi 43 kilometer ini bahkan menembus lapisan stratosfer sehingga dengan dorongan angin berarak mengelilingi dunia. Terkumpul di belahan bumi bagian utara.
Abu ini menutupi sinar matahari di sana yang menyebabkan eropa kehilangan musim panas. Tahun tanpa musim panas ini menyebabkan semua tanaman mati sehingga mengakibatkan kelaparan sehingga banyak yang mati.***
Pemda KLU Salurkan Paket Sembako di Kecamatan Tanjung
47 anak disabilitas dan 48 orang anak terlantar di Tanjung menerima bantuan paket sembako dari Pemda KLU
TANJUNG.lombokjournal.com ~ Penyandang disabilitas dan anak terlantar di Kecamatan Tanjung, Lombok Utara mendapat pembagian paket sembako.
Bupati, Lombok Utara H. Djohan Sjamsu menyerahkan secara simbolis paket sembako bantuan Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang disalurkan melalui Dinas Sosial Bertempat itu di Aula Kantor Desa Tanjung, Senin (11/04/22).
Bupati Sjohan Sjamsu
Bupati Djohan menyampaikan, bantuan yang diberikan sebagai wujud kepedulian negara dan daerah dalam rangka membantu masyarakat, khususnya bagi penyandang disabilitas dan anak terlantar di Lombok Utara.
Menurutnya, walaupun sebagai penyandang disabilitas harus tetap bersyukur pada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena masih diberikan kesehatan dan nikmat.
Pemda KLU berusaha memperhatikan kondisi masyarakat yang mengalami disabilitas, dan diharapkan bantuan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Alhamdulillah kahadiran tiang bersama jajaran menyerahkan bantuan sebagai sedikit upaya membantu masyarakat. Setidaknya lebih tenang menjalan ibadah puasa dan turut merasakan senang bersama. Semoga bisa dimanfaatkan,” kata Djohan.
Berdasarkan data dari Dinas Sosial jumlah disabilitas dan anak terlantar di KLU cukup banyak, namun anggaran daerah menurun. Sehingga bantuan paket sembako tak bisa diserahkan sekaligus, melainkan dengan cara bergiliran.
“Inilah hal yang dapat kami lakukan untuk polong rentenku (saudara-saudaraku) yang mengalami disabilitas dan anak-anakku yang terlantar. Mungkin tidak banyak, tetapi mudah mudahan dalam suasana puasa ramadhan ini, bisa meringankan beban epe pada (kita semua) melaksanakan ibadah puasa,” tuturnya.
Sementara itu, Kadis Sosial dan PPPA Faturrahman dalam laporannya mengungkapkan jumlah penerima manfaat di Kecamatan Tanjung berjumlah 47 orang disabilitas sedangkan anak terlantar 48 orang.
Jumlah keseluruhan penerima bantuan pada tahun 2022 di KLU sendiri untuk penyandang disabilitas 235 orang, dan anak terlantar 240 orang.
Kata Faturrahman, disabilitas dan anak terlantar merupakan salah satu program Standar Pelayanan Minimal (SPM) dari Kementerian Sosial, sehingga program sembako akan berjalan setiap tahun.
Khusus untuk penyandang disabilitas nantinya Pemda melalui Dinsos dan PPPA akan menyerahkan, Kursi roda, alat bantu dengar, tongkat ,kaki dan tangan palsu.
“Bagi yang tahun ini menerima bantuan belum tentu tahun depan akan menerima kembali hal ini dikarenakan anggaran dan jumlah penerima sangat banyak,” tuturnya.
Adapun sumber anggaran dari Dana Intensif Daerah (DID) untuk anak terlantar sebesar 190 juta dan disabilitas 194 juta.
“Harapan kita ke depan lebih banyak lagi bantuan yang kita berikan pada masyarakat,” harapnya.
Bantuan sembako bagi penyandang disabilitas dan anak terlantar diberikan selama enam bulan, pada penyaluran tahap pertama diberikan dalam dua bulan.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Inspektur Lombok Utara H. Zulfadli SE, Kepala Desa Tanjung Budiawan SH, para pendamping dan penerima manfaat. ***
Bupati Serahkan 100 Sertifikat untuk Nelayan KLU
Bupati serahkan 100 sertifikat melaluiprogramperolehan Sertifikat Hak Atas Tanah (SeHAT) nelayan Lombok Utara TANJUNG.lombokjournal.com ~ Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) menerbitkan 100 sertifikat.
Kegiatan ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, dengan memfasilitasi perolehan Sertifikat Hak Atas Tanah (SeHAT) nelayan.
Pemda bekerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Program Sehat nelayan merupakan upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui penataan atau legalitas aset dan penggunaan aset, sebagai modal pengembangan usaha nelayan.
Bupati Djohan menyampaikan, pihaknya mengaku bersyukur bisa hadir di tengah-tengah para nelayan Lombok Utara.
Diingatkan, seorang nelayan harus memiliki mental yang kuat dan konsisten dalam bekerja.
”Tidak boleh minder dan berkecil hati karena orang yang sukses bisa melalui berbagai jalan salah satunya nelayan,” katanya.
Menurutnya, Lombok Utara yang memiliki sektor pertanian dan perikanan luas harus bisa dimaksimalkanbahkan menjadi komoditas unggulan. Mengingat pariwisata yang menjadi sektor unggulan KLU tengah berada dalam situasi sulit pasca Pandemi Covid-19.
Bupati dalam setiap kesempatan selalu mendorong anak muda untuk bisa menjadi petani yang sukses dan berhasil, serta mengubah anggapan bahwa petani bukanlah pekerjaan yang menjanjikan.
Bupati Djohan berpesan, agar para nelayan bisa bekerja sungguh-sungguh serta berharap para nelayan punya penghasilan yang bagus serta menjadi nelayan yang terampil.
Tahun 2021 sebanyak 3.100 sertifikat
Di tempat yang sama, Kadis KPPP,Tresnahadi melaporkan, penyerahan sertifikat merupakan salah satu bukti bahwa pemerintah terus berupaya melakukan terobosan guna mensejahterakan masyarakat, khususnya nelayan sebagai pelaku utama usaha perikanan.
”Mari manfaatkan fasilitas bantuan yang telah diberikan dengan baik dan bertanggung jawab,” ungkap Tresna.
Mantan Sekdis Dukcapil KLU ini mengatakan, kerjasama lintas sektor merupakan kunci utama dalam upaya percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Berjalannya program penyerahan Sertifikat Hak Atas Tanah (SeHAT) nelayan juga tidak lain hasil dari kerjasama lintas sektor,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BPN KLU Supriadi mengukapkan penyerahan sertifikat program lintas sektor, menargetkan 100 sertifikat SEHAT NELAYAN (Sertifikat Hak Atas Tanah Nelayan) dan 300 sertifikat untuk masyarakat pelaku usaha UMKM, yang dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara.
”Program ini sudah terlaksana sehingga total sertifikat Program Strategis Nasional (PSN) yang telah terselesaikan pada tahun 2021 sebanyak 3.100 yang mana terbit melalui kegiatan PTSL sebanyak 2.700 sertifikat, dan 400 terbit melalui kegiatan Lintas Sektor,” bebernya
Supriadi berharap, dengan dibagikannya sertifikat kepada para nelayan, dapat memberikan nilai tambah kepada masyarakat khususnya nelayan, serta dengan semangat Reforma Agraria yang di dalamnya mencakup Legalisasi aset dan akses reform.
”Dengan sertifikat ini nelayan bisa mendapat akses modal, pasar, teknologi dan pembimbingan penguatan kelompok nelayannya, tentu dengan difasilitasi oleh stakeholder terkait,” tutupnya.
Turut hadir Kepala Diskoprindag Drs. Abdul Hamid serta para penerima sertifikat. Namun dari jumlah 100 sertifikat yang dibagikan hanya dihadiri 30 orang, sehingga penyerahan secara simbolis itu hanya ke 30 orang.***
Penting, Kesepakatan One Gate System Ke Gili Matra
Bupati Djohan berharap Focus Group Discussion (FGD) yang membahas Visitor Management System (VMS) menghasilkan kesepakatan penting, yaitu terkait pintu masuk menuju Gili Matra, yaitu Bangsal dan Teluk Nara
MATARAM.lombokjournal.com ~ Pemda Kabupaten Lombok Utara berupaya meningkatkan efektivitas pengelolaan destinasi wisata Gili Matra Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan) dengan cara meningkatkan daya dukung lingkungan, dengan mengatur dan mengelola jumlah wisatawan yang datang maupun keluar dari tiga gili tersebut.
Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH mengatakan itu saat membuka Focus Group Discussion (FGD) pembahasan roadmap dan finalisasi tahapan Visitor Management System (VMS) bertempat di Aruna Resort, Jum’at (08/04/22).
Kegiatan FGD diselenggarakan untuk mendukung Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai upaya mewujudkan penguatan tata kelola dan efektivitas pengelolaan yang berkelanjutan di Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Matra.
“Kami mengapresiasi kegiatan terbuka mengenai roadmap dan finalisasi tahapan Visitor Management System ini,” ucap bupati.
Menurutnya, untuk mendukung efektifitas dan efisiensi VMS dan juga diperlukan pendekatan inisiasi one gate system sebagai akses awal menuju ke Gili Matra.
Kemudian penumpang diantar menggunakan publik boat, speed boat ataupun lainnya.
Hal terpenting dari FGD roadmap dan pembagian peran, jika memang dibutuhkan kebijakan atau Perda untuk payung hukum implementasi VMS maka bisa disepakati bersama di FGD.
“Kami percaya dengan inovasi ini bisa mendorong membangkitkan pariwisata di daerah di masa mendatang,” tuturnya.
Menurut Perwakilan ICCTF Bappenas, Leonas Chatim, VMS adalah sebuah aplikasi yang sangat berguna nantinya sebagai alat untuk menata dan mengorganisir pengunjung yang datang dan pergi di suatu tempat.
Melalui FGD kita sama-sama mengharapkan dukungan dari Pemda KLU.
“Tentunya kami sebagai pelaksana proyek, sangat membutuhkan kerjasama dengan Pemda KLU agar proyek yang sedang Kami jalankan terlaksana dengan baik,” harap Leonas Chatim.
Hal yang sama juga dikatakan Kepala BKKPN Kupang, Ilham Fauzi pihaknya mendukung kegiatan FGD yang di selenggarakan ICCTF, sangat membantu kegiatan usaha pariwisata di Gili Matra.
Melalui One Gate system nantinya para wisatawan yang datang bisa terkontrol dan terorganisir dengan baik.
Sehingga segala aktivitas wisata bahari dapat menjaga dan melestarikan terumbu karang pada Taman wisata perairan Gili Matra.
“Kegiatan FGD ini sangat penting dalam kita mengatur ulang sistem pariwisata di Gili Matra,” tutupnya
Nampak hadir juga Asisten II Setda KLU H.Rusdi ST, Kepala BKKPN Kupang Ilham Fauzi, Perwakilan ICCTF Bappenas, Leonas Chatim, dan para perwakilan OPD serta undangan lainnya.***.
Arsitektur Rumah Tradisi di Desa Karang Bajo, Bayan, KLU (Dua)
Kearifan lokal yang melekat dalam arsitektur rumah tradisi di Desa Karang Bajo, Bayan, hingga kini seutuhnya masih dipertahankan
lombokjournal.com ~ Posisi-posisi yang mengikuti arah mata angin ini, baku dalam aturan adat Sasak, utamanya di Bayan dan tidak boleh sembarang menempatkannya. Demikian pula dengan arah hadap rumah.
Menghadap Timur atau Barat
Rumah adat Sasak hanya boleh menghadap arah timur dan barat, begitu aturannya. Ketika pagi tiba, maka rumah-rumah adat Sasak yang menghadap ke timurlah yang mendapatkan matahari sepenuhnya masuk ke dalam ruangan.
Dan ketika sore tiba, sinar matahari akan dinikmati sepenuhnya oleh rumah yang menghadap Barat. Teras rumah adat penduduk secara umum mengikuti panjang rumah tersebut.
Letak rumah untuk keluarga juga telah diatur dengan pertimbangan untuk kebaikan dan menghindari saling singgung antara satu dengan lainnya. Rumah orang tua akan berada pada bagian paling ujung selatan menghadap ke barat.
Berugaq
Lalu anak pertama keluarga itu akan mendapat jatah posisi rumah yang berhadapan dengan rumah orang tuanya sebelah barat menghadap ke timur. Kemudian jika lahir anak kedua mendapat posisi rumah pada sebelah timur bagian utara dari rumah orang tuanya atau sebelah utara rumah kakaknya menghadap ke timur. Anak ketiga dari keluarga tersebut akan tetap mengikuti orang tua hingga waktunya ia menikah.
Dan ketika ia sudah berkeluarga posisinya saling mengisi. Anak pertama akan pindah ke rumah orang tuanya, anak kedua bergeser rumah kakaknya yang pertama dan anak ketiga menempati rumah kakak keduanya. Begitu seterusnya.
Urut-urutan ini sudah terpikirkan kebaikannya oleh leluhur masyarakat adat Sasak, yakni menghindari saling curiga dan meningkatkan saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Bahwa yang lebih tua akan selalu melindungi dan memberikan rasa aman bagi yang lebih muda.
Maka diaturlah sedemikian rupa. Kesadaran masyarakat adat seperti ini dapat menciptakan kedamaian, ketertiban dan keamanan hidup berkelompok.
Di tengah dua rumah yang saling berhadapan, timur dan barat, terdapat berugaq (rumah terbuka tempat aktivitas lain khas Sasak) dengan ukuran besar bertiang enam (sekenam). Masing-masing rumah memiliki satu berugaq atau menjadi milik bersama dan dibangun secara gotong royong.
Masyarakat Sasak yang tinggal dengan rumah adat Sasak yang asli seperti ini, lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar rumah, yakni di berugak. Aktivitas siang hari dari pagi, sore hari hingga menjelang tidur malam, dilakukan di berugak, termasuk makan.
Rumah biasanya lebih banyak dipakai bagian dapurnya untuk memasak dan ruang lainnya untuk tidur di malam hari.
Berugaq juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Masyarakat tradisional Sasak menerima tamu di berugaq, tidak di dalam rumah karena rumah hanya berfungsi sebagai tempat privasi. Kecuali ada musyawarah atau pembicaraan khusus yang menyangkut rahasia yang disebut pos sesepen.
Selain sebagai tempat menerima tamu, berugaq juga berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga (sangkep/gundem). Juga sebagai tempat menggelar acara selamatan baik acara perkawinan, khitanan maupun acara kepaten (kematian).
Acara tahlilan dalam kepaten disebut Dina Nelung yang dilaksanakan pada hari ketiga, Dina Tekang Ajian pada hari kelima dan Dina Nitu pada hari ketujuh.
Rumah adat penduduk biasa yang ada di Bayan, tidak sama dengan rumah adat yang ditempati oleh pemangku adat atau pun pejabat adat lainnya. Teras rumah pemangku adat, tidak dibuat sepanjang rumah, melainkan hanya ada di depan pintu masuk saja.
Di kompleks rumah adat Karang Bajo terdapat kediaman resmi pemangku adat Sasak Bayan Lombok. Untuk dapat masuk dalam kompleks rumah adat Karang Bajo ini, wajib menggunakan pakaian adat Sasak seperti kain dan sapuq (ikat kepala khas Sasak untuk laki-laki).
Dan ketika memasuki kediaman resmi pemangku adat yang ada di sini, harus membuka alas kaki dan beberapa pantangan tidak boleh dilakukan ketika berada di tempat yang disakralkan bagi tradisi Sasak Bayan ini, yakni dengan menjaga sopan santun dan perilaku yang baik.
Inilah salah satu warisan nilai kearifan dari kehidupan tradisi masyarakat Bayan.
Hal ini dilakukan agar keaslian tradisi yang menyertai kehidupan masyarakat di dalamnya, tetap terjaga. Dan siapa pun yang masuk ke dalam kawasan ini, wajib menaatinya.
Hal-hal yang bersifat tabu untuk dilakukan, dilarang di kawasan ini. Karena apa yang dilarang untuk dilakukan adalah hal yang kurang baik dan apa yang disarankan adalah hal-hal yang berkaitan langsung dengan sopan santun dan etika.
Intinya, siapa pun yang datang, harus menjaga perilaku, etika dan sopan santun. Dilarang makan dan minum sambil berdiri, dilarang duduk dengan seenaknya, harus bersila ala lelaki dan perempuan, dilarang berkata kotor dan dilarang melakukan hal-hal yang kurang sopan lainnya, misalnya bicara dengan nada tinggi dan riuh dan sebagainya.
Inan Bale
Dalam kawasan ini terdapat rumah-rumah tradisional Sasak dengan arsitektur asli yang tempati oleh masyarakat tradisional.
Dan di dalam kompleks khusus ini pula terdapat sebuah lokasi yang menjadi rumah atau kediaman bagi pejabat adat Bayan yang disebut Balen Ma Loka, yang dipagari dengan pagar kampu (pagar yang mengelilingi rumah adat dimana tidak sembarang orang boleh masuk ke dalamnya).
Kompleks ini serupa kediaman resmi atau pendopo pejabat tertingginya. Ketika memasuki kompleks ini, di depannya terdapat dua berugaq, yang di sebelah barat disebut Berugaq Agung dan sebelah timur disebut Berugaq Smalang.
Berugaq agung tidak boleh diduduki para perempuan, begitulah ketentuannya. Difungsikan sebagai tempat acara-acara ritual seperti selamatan desa, Idul Fitri, Idul Adha, maulud adat, pesta alip atau untuk musyawarah.
Tempat untuk peralatan musik yang akan mengiringi ritual atau acara adat yang diselenggarakan, seperti gong, gendang dan lain-lain. Perempuan boleh duduk di berugaq smalang ini. Berugaq ini juga dipakai sebagai tempat memotong-motong ternak untuk keperluan konsumsi acara ritual.
Masih dalam kompleks ini, masuk ke dalam meninggalkan dua berugaq itu, terdapat sebuah rumah yang disebut Bale Pedangan yakni rumah khusus untuk memasak.
Seluruh aktivitas memasak untuk kegiatan ritual dilakukan di sini dipimpin oleh seorang yang diberikan otoritas untuk kegiatan memasak yang disebut Inaq Pedangan. Dialah yang bertanggung jawab mengurus dan mengatur masakan dalam kegiatan tersebut.
Di dalam kompleks ini terdapat satu rumah adat inti sebagai tempat tinggal pemangku adat (Balen Ma Loka).
Inilah kediaman resmi pemangku adat Sasak yang dipilih oleh masyarakat adat Sasak berdasarkan keturunannya. Di samping rumah pemangku adat ini, ada sebuah berugaq yang berfungsi sebagai tempat khusus menerima tamu pemangku adat. Dan di sekitar “rumah dinas” ini terdapat sebuah berugaq lagi yang disebut Berugaq Pengagi’an. Berugaq pengagi’an berfungsi sebagai tempat menyimpan seluruh masakan yang sudah matang dari bale pedangan.
Di berugaq ini juga terdapat semacam loteng terbuka untuk menyimpan alat-alat masak tradisional seperti pemongkang, periuk dari tanah dan lainnya.
Pada halaman belakang bagian barat posisinya pada pojok selatan, terdapat sebuah rumah yang disebut Gedeng Cor yang dimaknai sebagai rumah khusus para leluhur orang Bayan (dunia gaib) yang tidak boleh dibuka sembarang waktu. Gedeng cor hanya boleh dibuka pada saat-saat tertentu.
Dan berhadapan dengan gedeng cor di bagian timur pojok selatan terdapat sebuah rumah lagi yang disebut Balen Meni’ tempat menyimpan beras dan hasil bumi lainnya seperti sayur mayur, bumbu-bumbu dan ternak yang akan dipakai untuk acara ritual tersebut.
Yang bertanggung jawab terhadap rumah ini adalah yang menjabat sebagai inan loka yang orangnya disebut dengan inan meni’.
Tata letak rumah yang disesuaikan dengan fungsi masing-masing dan ditangani oleh masing-masing orang yang diberi tanggung jawab khusus untuk itu membuat kehidupan masyarakat tradisional di Bayan begitu teratur. Semua yang memiliki fungsi disini melaksanakan tugas masing-masing dengan baik dan penuh tanggung jawab sehingga tidak akan berbenturan satu sama lainnya.
Inilah salah satu kearifan lokal dalam sistem pemerintahan masyarakat adat Sasak yang bisa diserap nilainya untuk keteraturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pemangku adat yang dipilih oleh masyarakat benar-benar berdasarkan kemampuan, tingkah laku dan catatan baik leluhurnya.
Masyarakat adat tidak akan memilih pemangku atau pemimpinnya jika tidak memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan berdasarkan hasil musyawarah adat. ***