Pelakor itu cap yang diberikan untuk perempuan yang selalu menjadi pihak paling disalahkan dalam kasus perselingkuhan, seolah-olah laki-laki yang terlibat pihak yang pasif, benarkah?
lombokjournal.com ~ Perempuan simpanan atau perempuan yang menjadi ‘cinta kedua’ seorang suami, dalam istilah kekinian disebut sebagai pelakor (perebut laki orang).
Bagi perempuan umumnya, istilah ini sungguh menyakitkan. Betapa tidak?
Sebab dengan istilah pelakor itu berarti pihak perempuan saja yang berperan sangat aktif. Bagaima dengan peran laki-laki (kita sebut saja pihan yang juga berburu ‘cinta kedua’?).
Itulah soalnya. Dengan adanya istilah pelakor, secara tidak langsung akan dikatakan bahwa seakan-akan laki-laki yang sebenarnya juga terlibat itu adalah pihak yang pasif. Apakah ini seperti anak-anak yang merebut mainan dari temannya?
Istilah pelakor itu muncul karena dalam kasus perselingkuhan hanya perempuan yang menjadi pelaku aktif, bagaimana dengan laki-laki yang terlibat dalam perselingkuhan itu?
Dalam kasus perselingkungan tidak mungkin ada hasrat yang muncul dari salah satu pihak semata. Perselingkuhan bisa ada atau terjadi karena peran aktif kedua belah pihak. Dengan kata lain, dalam kasus perselingkuhan memang tidak cuma satu pihak yang bersalah, tapi si perempuan dan laki-laki. Nah.
Istilah pelakor juga secara umum digunakan seolah-olah hanya ada pelaku tunggal yang aktif yakni perempuan. Laki-laki secara terang-terangan absen dalam cerita tersebut.
Dari sudut kebahasaan, istilah ini meminggirkan perempuan atau mempermalukan perempuan. Sama sekali tidak menyalahkan laki-laki yang sebenarnya ikut berperan aktif dalam kasus perselingkuhan itu.
Perempuan selalu menjadi pelaku tunggal yang harus disalahkan dalam sebuah perselingkuhan. Jika istri berselingkuh maka perempuan akan disalahkan, jika suami berselingkuh maka pihat atau ‘orang ketiga’ yaitu perempuan juga yang disalahkan.
Label pelakor kemudian disandangkan kepada perempuan, seolah laki-laki yang terlibat dalam hubungan tersebut bebas dari dosa.
Mirisnya perundung dengan menyebut perempuan selaku orang ketiga dalam suatu hubungan sebagai pelakor yang marak di media sosial, kerap dilakukan oleh perempuan juga.
Seakan-akan tindakan tersebut adalah hukuman yang pantas bagi perempuan yang menjadi ‘orang ketiga’ dalam sebuah hubungan. ***
Organisasi Perempuan NTB Diajak Sukseskan Program Pemerintah
Organisasi perempuan diharapkan jadi garda terdepan ajak masyarakat melestarikan lingkungan
LOBAR.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur NTB, Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, M.Pd., berharap peran organisasi wanita di Provinsi NTB dapat membantu menyukseskan berbagai program pemerintah.
Di antaranya pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan dan pencegahan stunting.
Wagub Sitti Rohmi
“Saya sangat yakin organisasi perempuan bisa membantu program – program di NTB, termasuk juga pemberdayaan ekonomi. Wanita – wanita yang berdaya yang bisa menghasilkan sesuatu, yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya, umat, bangsa dan negara,” tutur Ummi Rohmi.
Ia mengatakan itu saat memberikan sambutan dalam Halal Bihalal bersama yang tergabung dari Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) NTB, Puantiara Lombok, Majlis Ta’lim Nur – Raudoh dan Perempuan Bintang Keluarga (Puan Tang – Ga).
Pada acara yang bertajuk “Mempererat dan Senantiasa Menjaga Silaturahmi” yang berlangsung di Hotel Aruna, Selasa (10/05), Ummi Rohmi juga memberikan perhatian pada kampanye pengelolaan limbah rumah tangga.
Ia berharap agar seluruh organisasi perempuan di NTB agar dapat menjadi garda terdepan dalam mengajak masyarakat untuk terus melestarikan lingkungan, dengan cara menjaga kebersihan dan memilah sampah yang dilakukan mulai dari rumah.
“Kita sangat berharap agar IWAPI bersama dengan seluruh organisasi perempuan yang lainnya berada didepan untuk bagaiamana kita sama – sama mengkampanyekan agar ibu – ibu dirumah dapat melakukan pemilahan sampah dari rumah,” jelasnya.
Adanya sampah bukan menjadi suatu musibah, melainkan sumberdaya apabila dari awal sudah dilakukannya pemilahan sampah, sehingga sampah organik dapat menjadi pupuk dan sampah anorganik dapat diolah di Bank Sampah.
Selain itu, Ummi Rohmi juga membahas terkait masalah stunting di Provinsi NTB, saat ini pendataan balita stunting di NTB dapat dilakukan di puskesmas by name by address.
“Alhamdulillah di NTB ada program revitalisasi posyandu, sekarang kasus stunting di NTB sudah terdata secara by name by address, jadi semua posyandu di NTB memiliki data balita stunting. Kemudian data itu di input dipuskesmas, sehingga kita sudah 100 persen dapat menginput data stunting tersebut, di NTB datanya sebanyak 19,23 persen, jadi kalau selama ini kita mendapatkan data sebanyak 33 persen atau 34 persen itu didapatkan dari data survey yang dilakukan 5 tahun sekali,” ungkapnya.***
Bunda Niken Sambut Baik “Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita”
Bunda Niken menganggap ‘gerakan bersih-bersih rumah kita’ sebagai suntikan yang menggerakkan Tim PKK
MATARAM.lombokjournal.com ~ “Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita” yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB mendapat sambutan baik dari Gerakan PKK.
Ketua Tim Penggerak (TP)-PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah siap mensukseskan gerakan tersebut.
Bunda Niken menyampaikan, “Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita” seperti suntikan yang menggerakkan Tim PKK.
“Satu suntikan kembali untuk menggerakkan Tim PKK dalam mewujudkan “Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita,” ujar Bunda Niken saat menerima audiensi Dinas LHK Provinsi NTB di Pendopo Gubernur NTB, Kamis (28/04/22).
Senada dengan itu, Kepala Bidang PSPPL Dinas LHK Provinsi NTB, Firmansyah, S.Hut., M.Si menyatakan, branding tentang Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita harus terus dilakukan untuk mengurangi sampah.
“Dalam melakukan pengurangan sampah, kampanye atau brandingnya dapat disampaikan terus-menerus agar masyarakat luas paham betul tentang pentingnya Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita ini,” jelas Firmansyah.
Sebagai informasi, Gerakan Bersih-Bersih Rumah Kita merupakan sebuah gerakan untuk membangun inisiatif dan partisiasi masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui edukasi.
Tujuan gerakan tersebut untuk branding Gerakan Pilah dan Olah Sampah dari sumbernya, meningkakan jumlah local champion di daerah.
Selain itu juga meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengolahan sampah dari rumah, meningkatkan cakupan edukasi dan meningkatkan angka pengurangan sampah.
TP PKK Provinsi NTB digandeng sebagai mitra penggerak utama, karena memiliki struktur organisasi hingga ke tingkat Desa/kelurahan.
Harapannya, para Kader PKK dapat memperluas cakupan wilayah edukasi Gerakan Pilah Olah Sampah hingga tingkat Rumah Tangga secara efektif dan efisien. ***
Jenazah Perempuan Warga Lobar Ditemukan di Pantai Setangi
SAR Mataram terjunkan Tim Rescue bersama untuk proses evakuasi jenazah perempuan
KLU.lombokjournal.com ~ Jenazah perempuan warga RT 04 Desa Telagawaru, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, ditemukan di pantai 3 setangi Dusun Setangi Desa Malaka Kec. Pemenang kab. Lombok Utara, Jum’at (15/04/22) sekitar pukul 09.00 Wita.
Pihak kepolisian mengidentifikasi jenazah perempuan itu bernama dr. Rika Hastuti Setyorini, kelahiran 18 Januari 1984, pertama kali ditemukan oleh nelayan yang sedang memancing bersama keluarganya.
Setelah menemukan jenazah itu, nelayan tersebut memberitahukan ke penjaga pantai, Gusti Kadek Suarjana.
Kadek Suarjana selanjutnya melaporkan temuan jenazah itu ke Polsek Pemenang saat itu juga.
Sementara itu, Kantor SAR Mataram menerima Informasi itu dari pihak kepolisian. Jenazah yang ditemukan dalam keadaan terlentang di atas batu pinggir pantai.
“Kami berangkatkan tim rescue untuk membantu proses evakuasi bersama potensi SAR yang sudah berada di lokasi penemuan,” kata Nanang Sigit PH, Kepala Kantor SAR Mataram.
Bersama dengan unsur dari TNI, Polri, Pemadam Kebakaran, warga setempat, dan lainnya mengevakuasi jenazah dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara.
Menurut keterangan dari keluarga yang ditemui di lokasi, korban pergi meninggalkan rumah pada hari Kamis (14/04/22) pukul 14.30 wita.
Ia keluar rumah dengan mengendarai motor Yamaha jupiter Z warna putih nomor polisi DR 6980 HN, baju warna biru, sandal jepit warna putih hijau, dan jilbab warna coklat .
Menurut keterangan dari suami korban, Listianto Ardi, korban mengalami gangguan jiwa sejak tahun 2006. Pihak keluarga sudah sering mengambil tindakan pengobatan ke Rs jiwa Selagalas. ***
Sate ikan khas Tanjung, Lombok Utara, tidak kalah sedapnya untuk dinikmati seperti juga sate daging. Sate khas Tanjung dengan bahan baku ikan laut ini, di Lombok dikenal dengan sebutan sebagai SATE TANJUNG. Ini petualangan kuliner Naniek I Taufan di Lombok Utara
TANJUNG.lombokjournal.com ~ Orang menyebutnya demikian karena sate ini, puluhan tahun yang lalu, memang berasal dari Tanjung, ibukota Kabupaten Lombok Utara.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti, sejak kapan sate ikan laut ini menjadi salah satu pilihan menu masyarakatnya.
Berbagai sumber hanya menyebutkan bahwa mereka mendapat ilmu membuat Sate Tanjung, dari orang tua mereka sebelumnya secara turun-temurun.
Ini diungkapkan Ibu Nining yang menjual sate ikannya di emperan toko di Tanjung
“Dari kecil saya sudah ikut membuat sate ikan bersama orang tua saya,” ungkapnya.
Beberapa penjaja Sate Tanjung lain, tersebar di emper-emper toko di pinggir jalan lainnya.
Bahkan sebagian dari penjaja sate tersebut membuat tenda-tenda sederhana, terlihat asyik mengipasi sate yang tengah dibakar, sambil duduk di atas tikar.
Penjual Sate Tanjung di pinggir jalan
Sate Tanjung memang tidak dijual di restoran, rumah makan, warung atau dijual keliling. Ia bisa ditemui di emper-emper toko dan trotoar jalan.
Penjual Sate Tanjung hampir tidak ada yang menggunakan meja sebagai tempat untuk pelanggan saat menikmati sate atau tempat untuk membakar sate.
“Semua kami lakukan dengan cara duduk seperti ini,” ujar Durialis, penjual Sate Tanjung lainnya.
Meski begitu, sate Tanjung yang bercita rasa khas Lombok Utara sangat digemari. Karena harganya terjangkau, ditambah kekhasan rasa sate ikan laut tersebut.
Menurut Rasmini, salah seorang penjaja Sate Tanjung yang biasa mangkal di depan ACC, langganannya tidak hanya berasal dari orang kebanyakan tapi juga dari kalangan tertentu.
Bahkan, Sate Tanjung yang dijualnya hampir setiap hari diboyong pembeli ke luar daerah, terutama Bali, sebagai oleh-oleh.
Bahkan, oleh-oleh Sate Tanjung yang dijual Rasmini sudah dibawa ke Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain.
Pelanggan yang warga keturunan Tionghoa, yang kebetulan banyak menetap di sekitar tempatnya berjualan, kerap membeli satenya untuk dijadikan oleh-oleh ketika mereka pulang ke Hongkong misalnya, lanjut Rasmini yang sudah 16 tahun berjualan Sate Tanjung ini.
Walaupun ada penjaja yang menjualnya menjelang siang hari, salah satu kekhasan sate ini, dijual setiap menjelang sore antara pukul 14.00 sampai dengan pukul 20.00.
Di waktu-waktu inilah, Sate Tanjung sedang ramai dijajakan, kecuali jika ada pelanggan yang memesan lebih awal. Mereka biasanya hanya berjualan sekitar tiga sampai empat jam di waktu tersebut.
Di Tanjung sendiri, penjual Sate Tanjung ini banyak berasal dari Karang Pande, Kandang Kaok dan Karang Bayan. Dan dijajakan di sepanjang jalan raya Tanjung.
Sementara di Mataram, Sate Tanjung bisa didapatkan antara lain, di depan ACC tadi atau di samping sebuah toko kue di Jalan AA. Gde Ngurah, Cakranegara, di jalan Airlangga, jalan Udayana, Rumah Sakit Umum dan di pasar Kebon Roek, Ampenan saat sore hari.
Bulan Puasa Pembeli Berjubel
Menikmati Sate Tanjung, selain bisa langsung ke Tanjung tempat asal sate tersebut, di Mataram pun sudah cukup banyak yang menjajakannya. Walaupun Sate Tanjung dijual di Mataram, rata-rata penjual tersebut berasal dari Tanjung.
Ada yang sudah menetap di Mataram ada pula yang pulang-pergi Tanjung-Mataram setiap hari. Penjaja sate Tanjung yang memang tinggal di Mataram, kelihatannya sedikit lebih berkembang, setidaknya menurut mereka, rasa satenya mengikuti perkembangan.
“Karena satenya sudah dijual di sini, ya kita harus pandai membaca selera orang kota,” ujar Rasmini berseloroh.
Yang tetap dan tidak bisa tidak harus dipertahankan, katanya, kekhasan Sate Tanjung tersebut, setidaknya menggunakan santan kental tanpa air sedikit pun. Dan biasanya dijual sore hari.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan bahwa Sate Tanjung dijual pagi atau siang hari. Namun hal ini sedikit sulit dilakukannya, mengingat untuk menjaga kualitas sate, maka ikan yang digunakan harus ikan dalam keadaan segar dan santan segar tanpa dimasak. Tetapi, dijajakan pagi, siang atau sore hari itu merupakan pilihan masing-masing penjual.
“Ikan yang benar-benar segar ada pada pagi hari untuk dijual sore harinya,” katanya. Sementara, jika ikan segarnya sore hari tidak mungkin langsung bisa dikerjakan.
Karena, rutinitas mengerjakan sate ini biasanya dimulai pagi hari. Dimulai memilih dan membeli ikan segar yang besar-besar, menguliti, memotong dan mengiris, merendamnya dengan air jeruk atau air cuka. Kemudian mengaduknya dengan santan kental sedikitnya setengah jam sampai masa menunggu bumbu meresap ke dalam daging ikan dan menusuk-nusuknya pada tusukan sate.
Belum lagi, santan kental tersebut daya tahannya, tidak bisa lama, kata Ibu Nining.
Waktu pengerjaan yang cukup panjang inilah yang membuat Sate Tanjung lebih banyak dijual sore hari.
Dan pelanggan Sate Tanjung setiap sore selalu antri menunggu giliran karena alat pembakaran yang dipakai kecil. Ini terjadi bukan saja di Tanjung, di Mataram lebih-lebih lagi. Semakin sore pembeli sate Tanjung semakin banyak berdatangan.
“Kalau bulan puasa, pembeli berjubel-jubel,” ujar Rasmini.
Untuk “mengantisipasi” berjubelnya pembeli di bulan puasa, Rasmini sengaja berjualan lebih awal dari biasanya dan juga ikut membakar Sate Tanjung tersebut di rumahnya yang tidak jauh dari tempatnya berjualan. Sate yang sudah dibakar tersebut ia bawa ke tempat suaminya berjualan.
“Tapi, biar pun jualan lebih awal, pembeli tetap saja numpuk menjelang buka puasa,” tuturnya.
Kalau pada hari-hari biasa para penjaja sate Tanjung hanya menyiapkan 30 sampai 50 kg sehari atau 700 hingga 1200 tusuk, maka pada bulan puasa bisa dua kali lipat.
“Kalau puasa pembeli ramai, makanya saya selalu nambah ikan,” kata Ibu Nining. Demikian juga jam berjualannya pada bulan puasa lebih cepat dari biasanya.
Ikan Besar dan Segar
Penjaja Sate Tanjung, biasanya tidak melulu menjual satenya saja, namun juga ada daging atau kepala ikan yang biasa mereka sebut dengan pes. Makanya meski yang dijadikan sate hanya daging ikan saja, bukan berarti kepala dan tulang ikan tersebut terbuang atau dimasak untuk konsumsi penjaja sendiri. Kepala dan tulang tersebut pun bisa menghasilkan.
Tulang dan kepala ikan dipepes dalam satu daun sementara pepes daging ikan berasal dari potongan-potongan kecil daging ikan yang tidak bisa ditusuk untuk dijadikan sate.
“Orang lebih suka membeli pes kepala ikan daripada dagingnya,” kata Ibu Nining.
Mungkin, lanjut Rasmini, makan pepes daging ikan sama saja dengan makan sate biasa karena bumbu pepes tersebut sama dengan bumbu sate tanjungnya. Tetapi, setiap hari kedua pepes tersebut sama-sama digemari seperti halnya sate, ujar Durialis.
Para penjaja sate ikan ini mengaku, setiap hari sedikitnya mereka menjual 50 sampai dengan 200 pepes daging dan kepala ikan. Daging, tulang dan kepala ikan semua bisa dijual. Bahkan, bagi Rasmini, kulit ikan ia buat krupuk yang juga dijual bersama sate dan pepes.
“Tidak ada yang terbuang percuma,” katanya.
Untuk membuat Sate Tanjung ini, ikan yang digunakan adalah yang berukuran besar seperti ikan Languan, Cakalan, Kacangan, Pasuh, Putihan bahkan ikan Tengiri. Sebenarnya semua jenis ikan bisa dibuat sate, tetapi kalau ikannya besar pengerjaannya lebih gampang dan kemungkinan kecil ikannya hancur saat diaduk dengan santan atau saat ditusuk, ujar Melasmin.
Selain itu, sate yang berasal dari ikan besar sama sekali terpisah dari tulang ikan yang biasanya mengganggu.
Ikan jenis Languan dan Kacangan, lebih banyak seratnya sehingga ketika dikerjakan tidak gampang pecah.
“Ikan yang seratnya sedikit harus ekstra hati-hati mengerjakannya,” kata Sunardi.
Lebih gampang pecah terutama saat mengaduknya dengan bumbu dan santan. Ikan untuk sate juga harus ikan yang benar-benar segar agar tidak lebur dengan adukan santan.
Ikan segar, kata Sunardi yang sejak kecil sudah menjadi nelayan ini, jangan dilihat dari mata atau insangnya karena itu bukan jaminan.
Sebaiknya periksa daging di bagian punggungnya, jika masih keras maka ikannya tergolong masih segar. Atau jika masih ada lendir pada insangnya, berarti ikannya masih segar.
Santan Kental Tanpa Air
Salah satu ciri khas Sate Tanjung, yaitu menggunakan santan kelapa tanpa air.
“Yang dipakai hanya santan asli dari kelapa,” ungkap Rasmini.
Ini menjadi salah satu keistimewaan Sate Tanjung, sehingga rasanya menjadi sangat gurih. Tentu saja, kelapa yang digunakan akan menjadi sangat banyak dan diperas menggunakan kain kasa.
Bumbu yang digunakan sederhana saja, ada di sekitar kita. Lombok merah, kunyit, laos, bawang putih, kemiri, garam dan gula putih yang digiling hingga halus. Jika ingin pedas bisa juga ditambah dengan cabe.
Sebelumnya, ikan dikuliti dan dipisahkan dari tulang dan kepalanya, lalu dipotong besar-besar. Kemudian, potongan-potongan tersebut diiris dan dipisahkan antara daging yang berwarna putih dan hitam agar sate kelihatan lebih menarik barulah diiris kecil-kecil sesuai ukuran sate yang diinginkan. Daging ikan yang putih dan sudah diiris kecil tersebut, direndam dengan air yang dicampur jeruk atau cuka beberapa saat. “Untuk menghilangkan amis,” kata Melasmin.
Jika amisnya sudah hilang, daging ikan tersebut ditiriskan hingga airnya benar-benar kering.
Sementara itu, santan asli yang kental dicampur dengan bumbu yang sudah dihaluskan sebelumnya. Kemudian ikan yang sudah ditiriskan hingga kering diaduk dan dibolak-balik sampai rata dan menjadi satu dengan santan yang sudah dicampur bumbu.
“Tempat untuk mengaduk ikan, sebaiknya yang licin,” saran Rasmini.
Ini diperlukan, agar ikan dapat bercampur dengan sempurna yang menurut istilah para penjual Sate Tanjung, “agar cepat jadi”.
Cepat jadi maksudnya, campuran ikan, santan asli dan bumbu tadi diaduk lebih kurang setengah jam sampai jadi seperti setengah berlendir. Santan dan bumbu yang tadinya cair, akhirnya mengental. Ikan dan bumbu jadi menyatu dan sebelum dibakar bumbu tersebut dengan gampang ditambahkan pada sate dan tidak jatuh layaknya air. Bumbu jadi ini tentunya dipengaruhi oleh kekentalan santan.
Makanya, kalau santan dibuat dengan ditambahkan air, selain lebih lama jadinya juga kemungkinannya tidak akan bisa mengental sampai setengah berlendir, ujar Rasmini.
Setelah ikan bercampur baik dengan santan dan bumbu maka diamkan beberapa saat. Semakin lama bumbunya semakin meresap, barulah irisan daging ikan tersebut ditusuk dan dibakar seperti sate layaknya.***
Training Center LFC Tetap Optimal, Rannya Bertolak ke London
Training Center Lombok Football Club (LFC) akan berjalan optimal di bawah asuhan pelatih profesional, meski untuk sementara Chief Financial Officer (CFO) LFC Rannya Agustyra Kristiono bertolak ke London
MATARAM.lombokjournal.com ~ -Chief Financial Officer (CFO) Lombok Football Club (LFC) yang juga Sekretaris Yayasan HBK Peduli, Rannya Agustyra Kristiono bertolak ke London, Inggris, untuk melanjutkan kuliahnya secara tatap muka di Brunel University.
Rannya Agustyra Kristiono
“Saya akan berada di London selama kurang lebih tiga bulan, dan akan kembali ke Indonesia saat libur semester pada awal Juli nanti,” kata Rannya yang juga merupakan Juru Bicara Lombok FC.
Dia bertolak menuju London pada hari Senin malam, 4 April 2022.
Selama pandemi Covid-19, Rannya harus mengikuti proses perkuliahannya secara daring dari Indonesia sesuai dengan kebijakan kampusnya. Proses perkuliahan daring tersebut dijalani Rannya selama hampir sembilan bulan.
Namun, seiring kondisi penanganan pandemi Covid-19 yang kian membaik, perkuliahan di Brunel University kini sepenuhnya dilakukan dengan tatap muka.
“Saya berharap kegiatan klub sepakbola Lombok FC tetap berjalan, begitu juga dengan kegiatan HBK Peduli, khususnya di bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini,” kata Rannya di sela-sela persiapan keberangkatannya.
Saat ini, Lombok FC sedang menggelar Training Center (TC) untuk persiapan menyambut Liga 3 NTB tahun 2022 mendatang.
Sebanyak 30 talenta sepakbola terbaik NTB telah digembleng dalam kegiatan Training Center tersebut, hasil dari seleksi 780 pemain yang mendaftar.
Rannya mengatakan, dengan hadirnya Coach Fabio Oliveira dan Coach Jessie Mustamu, dua pelatih berlisensi A-AFC dan merupakan profesional-profesional olahraga sepakbola, dirinya percaya bahwa kegiatan Training Center Lombok FC akan tetap berjalan dengan baik, sesuai program latihan yang telah dirancang Manajemen bersama Tim Pelatih.
“In syaa Allah, dari tempat jauh di kota London, saya akan tetap memantau dan memberikan dukungan penuh kepada Lombok FC maupun HBK Peduli,” imbuh Rannya.
Rannya rencananya sudah akan kembali ke tanah air pada awal Juli 2022. Pada saat tersebut, perkuliahan memasuki libur semester yang bertepatan dengan libur musim panas di Inggris.
“Tentu saja, libur semester nanti, seperti biasanya, akan saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk berkegiatan di Lombok FC maupun HBK Peduli,” tambah Rannya.
Di awal Ramadhan ini sendiri, para pemain Lombok FC yang mengikuti Training Center, mendapat libur selama lima hari. Mereka akan kembali ke asrama untuk mengikuti seluruh proses latihan pada tanggal 7 April mendatang.
“Saat ini para pemain kita kasih kesempatan untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan di rumahnya masing-masing, bersama keluarganya masing-masing, tapi tanggal 7 Juli besok mereka harus kembali ke asrama dan berlatih seperti biasa, walaupun waktu dan kegiatan latihannya tentu saja menyesuaikan dengan kegiatan berpuasa,” kata HBK, Presiden Klub di kesempatan terpisah.***
Bupati Djohan Canangkan Desa Ramah Perempuan dan Anak
Kata Bupati Djohan, kerentanan anak dan keluarga merupakan salah satu problem pembangunan, yang membutuhkan perhatian
TANJUNG.lombokjournal.com ~ Bupati Lombok Utara H. Djohan Sjamsu, SH membuka Pencanangan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) KLU di Aula Kantor Bupati KLU, Selasa (22/03/22).
Rencana Strategi Pembangunan Nasional 2019-2024 mengamanatkan, pembentukan sistem perlindungan anak nasional sebagai strategi untuk mewujudkan Indonesia yang ramah anak.
Pada tahun 2020, Presiden Jokowi mengeluarkan arahan penanganan kasus kekerasan terhadap anak secara lengkap dan menyeluruh, yang disusul dengan diterbitkannya Perpres Nomor 62/2020.
Di Lombok Utara sendiri terdapat 5 desa yang terpilih sebagai Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak, yakni Desa Senaru, Desa Sukadana, Desa Gumantar, Desa Tegal Maja dan Desa Menggala.
Bupati Djohan mengatakan, kerentanan anak dan keluarga merupakan salah satu problem pembangunan. Ini membutuhkan perhatian bersama.
Salah satu problem pembangunan ini harus disikapi serius, mengingat dampaknya multidimensional.
“Anak-anak yang dijamin dan dilindungi hak-haknya akan menjadi generasi penerus dan aset berharga bagi kemajuan daerah di masa depan,” ungkapnya.
Menurut bupati, dengan dukungan penuh seluruh pihak dalam membangun kekuatan dan kolaborasi, program ini mampu diwujudkan di masa mendatang.
Tujuan program ini untuk mencegah dan mengurangi kasus kerentanan seperti kekerasan terhadap anak, perkawinan anak, drop out dan stunting.
“Harapan kita segala ikhtiar yang ditempuh dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat KLU dan Provinsi Nusa Tenggara Barat pada masa mendatang,” kata bupati.
Sementara itu Perwakilan Unicef M. Akbar Halim menyampaikan, anak-anak harus betul-betul diperhatikan.
Selain orang tua dan keluarga, faktor lingkungan dan sekolah adalah faktor yang paling berpengaruh bagi perkembangan anak. Terlebih lagi anak-anak zaman sekarang sudah sangat dekat dengan media online.
“Kami bersukur Pemda menaruh perhatian pada sektor perlindungan anak dan tentunya ini bisa menjadi contoh yang baik untuk disiarkan ke tingkat nasional,” ujarnya.
Kepala DP3AP2KB Prov. NTB yang diwakili Kabid Pemberdayaan Perempuan Nining Triningsih menjelaskan, program ini bagian dari cara untuk mewujudkan Kabupaten/Kota layak anak. Perempuan dan anak memiliki peranan penting dalam rangka pembangunan di tingkat Desa.
Pihaknya minta untuk OPD terkait serta Pemerintah Desa untuk ikut ambil peran demi terlaksananya Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak di Kabupaten Lombok Utara.
Turut hadir Asisten I Setda KLU Drs. H. Raden Nurjati, Ketua LPA Provinsi NTB H. Sahan, SH, Perwakilan UNICEF Indonesia M. Akbar Halim, Para Kepala OPD terkait, Para Kepala Desa, serta undangan lainnya.***
Menurut Wagub NTB, Revitalisasi Posyandu salah satu langkah mewujudkan kesetaraan gender, dan perempuan berkontribusi dalam pembangunan daerah
MATARAM.lombokjournal.com ~ Pemprov NTB memliki program Revitalisasi Posyandu yang merupakan langkah konkret mewujudkan SDGs (Sustainable Development Goals) di tingkat desa. SDGs memilik 17 tujuan dan salah satunya adalah kesetaraan gender.
Qagub Sitti Rohmi
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat menjadi narasumber NTB Bicara International Women’s Day 2022 dengan Tema “Refleksi Peran Pemerintah Daerah Dalam Penegakan Hak Perempuan di Berbagai Bidang (Sosial, Ekonomi, Tata Kelola Hukum dan Lingkungan) Dalam Pencapaian SDG’s di Studio TVRI NTB, Selasa (8/3/2022).
“Dengan adanya kesetaraan gender dalam mewujudkan SDGs ini, otomatis perempuan memiliki peran penting dan turut serta di dalamnya,” ungkapnya.
Revitalisasi Posyandu merupakan salah satu langkah Pemprov NTB mewujudkan SDGs di tingkat desa.
Menurutnya, perempuan dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan daerah mulai dari tingkat desa.
“Saya sangat bahagia karena SDGs ini sudah terhubung hingga tingkat desa. Sehingga perempuan harus bisa memberikan kontribusi terbaiknya, dimulai dari level desa. Saat ini sudah banyak desa dipimpin oleh perempuan,” terang Ummi Rohmi, sapaan akrab Wagub.
Ummi Rohmi juga menerangkan, saat ini Revitalisasi Posyandu merupakan pusat edukasi berbasis dusun.
Walaupun satu fasilitas namun banyak permasalahan yang dapat terurai salah satunya itu kekerasan perempuan dan anak.
“Dengan diberikannya edukasi yang terus menerus dan teratur kepada masyarakat, khususnya di desa. Masyarakat tersebut mulai paham dan berpartisipasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekerasan pada perempuan dan anak,” katanya.
Wagub memaparkan, program-program Pemerintah Pemprov NTB saat ini juga tidak lepas dari keterlibatan perempuan.
Contohnya, Revitalisasi Posyandu memiliki kader hampir seluruhnya perempuan. Dan, UMKM lokal di NTB didominasi oleh perempuan, dan masih banyak lagi.
“Salah satu sasaran pembangunan NTB tahun 2019-2023 adalah meningkatnya partisipasi perempuan dalam pembangunan. Hal ini dapat kita lihat dari partispasi perempuan di dalam program-program Pemprov NTB saat ini,” tutur Ummi Rohmi. ***
UPTD PPA Jadi Pilot Project, Layanan Masyarakat Dipermudah
Dengan pencanangan UPTD PPA NTB sebagai Pilot Project oleh Kementerian PPPA, diperlukan koordinasi dan sinergi sesama pelayan masyarakat
MATARAM.lombokjournal.com ~ Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi NTB sebagai pilot project tata kelola baru yang dicanangkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI, makin memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mendapatkan pelayanan.
Menteri PPPA dan Bunda Niken
Ketua TP – PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah itu saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Darmawati di UPTD PPA Provinsi NTB, di Mataram, Senin [07/03/22].
Menurutnya, suatu kehormatan dan sebuah upaya mempermudah masyarakat mendapatkan pelayanan.
“Dan menjadi tantangan untuk kita semua agar bisa berkoordinasi dan bersinergi dengan lebih baik lagi sesama pelayan masyarakat di lingkungan masing – masing,” tutur Niken.
Bunda Niken sapaan akrab Ketua TP. PKK NTB menghimbau, agar seluruh Kepala UPTD dan Dinas P3AP2KB Kabupaten/Kota menyampaikan program – programnya kepada ketua TP – PKK yang berada di lingkungan masing – masing.
“TP – PKK yang sehari – harinya berinteraksi dengan masyarakat dan salah satunya yang berada di lokasi, tentunya dengan kerjasama yang baik dari Pemerintah Kabupaten/Kota dapat mempermudah penanganan, dukungan dan kerjasama dapat lebih baik serta sinergi dan komunikasi,” tuturnya.
Dalam kesempatan sama, Menteri PPPA, Bintang Darmawati menjelaskan, terkait tata kelola baru yang akan terapkan oleh UPTD PPA NTB, para korban akan mendapatkan pendampingan yang integritas dalam satu atap.
“Tata tata kelola baru ini, korban yang datang mendapatkan pendampingan yang terintegrasi dalam satu atap, itu yang kita ingin bangun. Semoga secara teknis nantinya akan kita bahas,” tuturnya.
Peserta dialog
Ia juga menyebutkan, pada tahun 2020 secara langsung dirinya hadir untuk meresmikan UPTD PPA NTB dan sudah terbentuk di seluruh Kabupaten Kota.
“UPTD ini salah satunya bisa menjadi tempat untuk memberikan pendampingan yang terbaik kepada para korban. Nah kedepannya UPTD ini akan menjadi penting karena kami masih menunggu proses untuk pembahasannya,” tuturnya. ***
Wagub NTB Dukung Kota Ramah Perempuan dan Layak Anak
Wagub NTB mengatakan bahwa revitalisasi Posyandu Keluarga memuluskan strategi penanganan perempuan dan anak
MATARAM.lombokjournal.com ~ Komitmen penanganan Perempuan dan Anak di NTB membutuhkan kerja bersama kabupaten/ kota melalui sinergi dan koordinasi.
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd, mengatakan itu saat penandatangan KRPLA bersama 10 kabupaten/ kota di gedung Sangkareang kantor Gubernur, Senin (07/03/22).
Wagub Sitti Rohmi
Penandatangan komitmen KRPLA (Kota Ramah Perempuan dan Layak Anak) diharapkan memperbaiki pelayanan dan kondisi perempuan dan anak di NTB.
“Apalagi dengan komitmen menjadikan Posyandu Keluarga yang sekarang sudah seratus persen di NTB akan mendukung komitmen kabupaten/ kota mewujudkannya,” ujar Wagub Sitti Rohmi.
Ditambahkan Wagub, peran kabupaten/ kota merevitalisasi peran Posyandu dengan kebijakan dan anggaran akan memuluskan strategi penanganan perempuan dan anak di NTB.
Pada kesempatan sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengatakan, koordinasi dan sinergi akan menuntaskan persoalan perempuan dan anak.
Dikatakannya, regulasi yang dikeluarkan Pemerintah Pusat sangat baik meski dengan anggaran terbatas.
Namun demikian, kabupaten/ kota dalam pelayanan masyarakat di level paling dekat, dapat menyelenggarakan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan desa/ kota ramah perempuan dan layak anak.
“Saya mengapresiasi NTB sedikit dari daerah yang mempunyai Perda yang mengatur pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, sebagai komitmen awal. Begitu pula dengan koordinasi dan sinergi yang sudah terbangun di NTB,” ujar menteri.
Ditambahkannya, beberapa indeks indikator NTB dalam hal pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak masih di bawah rata rata nasional disamping indeks tenaga kerja perempuan NTB yang peringkatnya baik.
Sementara itu, Nanang Samodra, anggota DPR RI menekankan pentingnya menata persoalan pemberdayaan dan perlindungan anak mulai dari bawah.
“Misalnya dengan memperbanyak program isbat nikah di desa sebagai bagian dari perlindungan anak dan perempuan begitu pula dengan pencegahan perkawinan usia dini,” ujarnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua TP PKK, Hj Niken Zulkieflimansyah. ***