Indeks Pemajuan Kebudayaan NTB Lebih Tinggi dari Nasional

Jika pendekatan Indeks Pemajuan Kebudayaan adalah pendapatan per  kapita, maka tidak bisa dibawa dengan “tidur-tidur”

Dialog Kebudayaan membicarakan indeks pemajuan kebudayaan
Penulis : Agus K. Saputra

lombokjournal.com ~ Dalam Dialog Kebudayaan Nusa Tenggara Barat Tahun 2025, beberapa waktu lalu, Selasa (07/01/2025) di Teater Tertutup Taman Budaya NTB, Kepala Bappeda Prov. NTB Iswandi menyatakan Indeks Pemajuan Kebudayaan (IPK) NTB sebesar 57,37. 

Angka ini di atas Indeks Pemajuan Kebudayaan  Nasional yang tercatat sebesar 57,13 berdasarkan data tahun 2023.

BACA JUGA : Pengabdian Masyarakat Eksplorasi Warisan Nusantara di Lombok

“Yang akan menjadi payung di dalam mengembangkan pemajuan kebudayaan di NTB, yaitu bagaimana kita memperkuat pemajuan kebudayaan dalam konteks mengakselerasi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan,“ ujar Iswandi.

Karena itu isu utama di NTB, lanjut Iswandi, kita masih terlalu banyak “tidur” siang. Jam kerja masyarakat kita kebanyakan pada sektor informal, di mana 70 prosen informal 30 prosen formal. 

“Nah, yang namanya misi transformasi, maka itu harus diubah. Dibalik, 70 prosen formal 30 prosen informal. Ini tantangan kita, karena angka IPK NTB sedikit lebih tinggi dari nasional, tapi kita harus mempunyai lompatan yang mendekati Prov. DIY (67,90) dan Prov. Bali (71,36),” tambahnya.

Sebelumnya Ketua Bappeda NTB menghubungkan indeks pemajuan kebudayaan dengan Pendapatan per kapita. Hal ini berkaitan erat dengan peningkatan produktivitas (Indonesia) untuk 20 tahun ke depan. 

BACA JUGA : Aksi Bersih Pantai di Laong Baloq, Awali Tahun 2025

Ketua Bappeda NTB menghubungkan indeks pemajuan kebudayaan dengan Pendapatan per kapita
Tokoh Budaya NTB meramaikan dialog Kebudayaan NTB, untuk meningkatkan indeks pemajuan kebudayaam

“Jika pendekatannya adalah pendapatan perkapita, maka tidak bisa dibawa dengan “tidur-tidur”. Budaya kita harus dapat mengantarkan ke peningkatan produktivitas. Baru NTB ini akan naik dari lower midle income , pendapatan perkapita yang rendah menuju pendapatan perkapita yang tinggi. Dalam 20 tahun pendapatan perkapita harus naik menjadi pendapatan menengah ke tinggi. Ini berat, karena kalau tidak, kita akan berada dalam masyarakat yang masih tergolong miskin. Sedangkan Indonesia pada 100 tahun nanti harus sudah menjadi masyarakat yang memiliki pendapatan yang tinggi. Negara maju,” imbuhnya.

Pemajuan Kebudayaan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memiliki tujuan inti untuk melindungi, melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari identitas bangsa, sekaligus menghargai keragaman budaya yang ada di Indonesia. 

Pelaksanaan Undang-Undang itu mencerminkan pengakuan keragaman budaya dan perlindungan terhadap warisan budaya, mendorong partisipasi masyarakat dalam pemajuan kebudayaan, menghargai dan mendukung inovasi dan kreasi dalam produksi budaya, agar tetap aktual, dinamis, dan relevan dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat.

Dengan demikian, kebudayaan dapat terintegrasi ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan politik.

Sangat penting untuk dikembangkan kerja sama pentahelix antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, institusi pendidikan, dan media dalam pembangunan dan pemajuan kebudayaan.

Provinsi Nusa Tenggara Barat telah menindaklanjuti mandat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan itu melalui terbitnya Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Gubernur Nomor 83 Tahun 2022 tentang Dewan Kebudayaan Daerah Nusa Tenggara Barat. Instrumen-instrumen itu menunjukkan kuatnya komitmen pemerintah dan masyarakat kebudayaan untuk menggerakkan pemajuan kebudayaan daerah Nusa Tenggara Barat.

Senapas dengan itu, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2025-2045 menegaskan aspek kebudayaan sebagai indikator kinerja utama. 

Hal ini dilandasi oleh kenyataan dan pengandaian bahwa persoalan-persoalan sosial, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan politik dapat diselesaikan dengan pendekatan budaya. 

Nilai dan praktik budaya yang berkembang dan bertahan di tengah masyarakat terbukti bekerja sebagai kohesi dan identitas sosial yang menghubungkan dan mengintegrasikan satu masyarakat dengan masyarakat lain. 

Sementara, oindeks pemajuan kebudayaam disusun sebagai salah satu instrumen untuk memberikan gambaran kemajuan pembangunan kebudayaan yang dapat digunakan sebagai basis formulasi kebijakan bidang kebudayaan, serta menjadi acuan dalam koordinasi lintas sektor dalam pelaksanaan pemajuan kebudayaan.

Dari ketujuh dimensi pembentukan indeks pemajuan kebudayaan, menurut Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Bappenas Didik Darmanto yang hadir secara daring, capaian dimensi ekonomi budaya, ekspresi budaya , dan budaya literasi Provinsi Nusa Tenggara Barat melampaui capaian nasional.

BACA JUGA : Marketing yang Dilandasi Prinsip Moralitas dan Nurani

Sementara itu, dimensi indeks pemajuan kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat yang memerlukan upaya penguatan lebih adalah dimensi warisan budaya dan ketahanan sosial budaya .

Fondasi Pembangunan

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia H. M. Fadli Zon menyampaikan beberapa hal penting, sebagai pedoman dan tindak lanjut Dialog Kebudayaan NTB, yaitu:

Pertama, sebagai komitmen pemerintahan di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo Subianto, maka kebudayaan menjadi fondasi bagi pembangunan bangsa. Dari kunjungan kerjanya ke cagar budaya, Taman Narmada, beberapa desa adat, desa budaya Genggelang, desa Prawira dan Musium Negeri NTB, menjadi bukti betapa koleksi warisan dari budaya NTB luar biasa banyaknya.

“Saya melihat naskah lontar saja ada 1.300-an. Itu akuisisi sudah lama berhenti di tahun 2006.  Apalagi kalau terus menerus dilakukan akuisisi terhadap naskah-naskah itu. Jadi manuskrip-manuskrip termasuk mungkin Al Qur’an dan juga kitab-kitab tassawuf, fiqih atau kitab-kitab lain yang banyak ditemukan di NTB, memang perlu satu penanganan. Ini menunjukkan warisan budaya yang luar biasa,” ujar Menbud.

Kedua, Taman Budaya adalah salah satu budaya terobosan di masa lalu dalam rangka untuk menyemarakan kegiatan seni budaya, baik untuk seni pertunjukkan, teater, musik, tari-tarian, dan bagian dari ekspresi kebudayaan.

Harapannya, kegiatan di Taman budaya semakin semarak. Karena di Kementrian Kebudayaan, menurut Fadli Zon juga turut menyalurkan dana alokasi khusus untuk event di Taman Budaya setiap tahun. Perlu juga ada sentuhan perbaikan fisik. 

“Nanti kita bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota agar ada satu skema perbaikan fisik. Sehingga Taman-Taman Budaya ini lebih menarik bagi generasi muda, gen Z, generasi Alpha. Sehingga mereka datang ke sini selain untuk mencari hiburan, juga paling penting adalah bagaimana mereka bisa mengapresiasi seni budaya, ekspresi-ekspresi seni budaya, baik yang tradisi maupun yang kontemporer,” imbuhnya.

Menteri Kebudayaan sangat terbuka  untuk berkerja sama. Karena sebagaimana diketahui, ada Dana Abadi untuk kebudayaan. Sehingga untuk NTB perlu didesain untuk kegiatan yang sifatnya nasional. 

Ketiga, melihat begitu besarnya potensi warisan budaya tak benda ( intangible culture heritage ) dan upaya untuk merevitalisasi Museum Negeri NTB agar bisa menampung lebih banyak koleksinya dan terutama upaya untuk menghidupkan narasi, maka NTB harus punya Balai Pelestarian Kebudayaan (yang terpisah dari Provinsi Bali).

“Baru saja saya melantik Pengurus Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia Korwil Lombok. Mudah-mudahan ke depan ada katalog-katalog lontar NTB yang begitu banyak. Kita ingin tahu bagaimana kok bisa manuskrip-manuskrip ini lahir di NTB, termasuk yang paling legendaris adalah manuskrip Negara Kertagama,” tutup Menbud yang juga pernah menulis buku tentang Keris Lombok ini. 

Maklumat

Luaran dari rangkaian Dialog Kebudayaan NTB 2025 ini adalah sebuah maklumat dan rekomendasi sebagai berikut ini:

MAKLUMAT DAN REKOMENDASI DIALOG KEBUDAYAAN

NUSA TENGGARA BARAT 2025

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini, Selasa, 7 Januari 2025 kami segenap insan dan masyarakat kebudayaan Nusa Tenggara Barat sebagai pemilik pemilik dan pelaku utama pemajuan kebudayaan daerah, setelah melalui dialog dan penjaringan pendapat (survey), menyepakati hal-hal sebagai berikut:

  1. Masyarakat Nusa Tenggara Barat memiliki khazanah dan potensi budaya yang kaya, baik budaya benda maupun maupun tak benda, berupa adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, olahraga tradisional, tradisi lisan, dan manuskrip.
  2. Meniscayakan kebudayaan sebagai nilai inti yang mengikat kebersamaan seluruh komponen Masyarakat Nusa Tenggara Barat yang multikultural, menjadi identitas daerah, serta memandu dan mewarnai pembangunan, pemerintahan, dan dinamika sosial.
  3. Di tengah globalisasi budaya, masyarakat dan budaya daerah Nusa Tenggara Barat mengalami ancaman krisis identitas, pergeseran nilai, ketimpangan akses dan keberpihakan, kurangnya pembinaan dan pemberdayaan, keterbatasan sumberdaya dan dana bagi pengembangan infrastruktur dan dan institusi kebudayaan.
  4. Menyadari potensi, peran penting, dan tantangan kebudayaan sebagaimana di atas, maka Dialog Kebudayaan ini merekomendasikan:
  1. Mendorong partisipasi daerah untuk melaksanakan dan mengembangkan strategi pemajuan kebudayaan daerah dan nasional secara intensif.
  2. Mendorong pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan pemerintah Kabupaten/Kota se-NTB untuk membentuk Dinas Kebudayaan.
  3. Mendorong Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk mendirikan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dan atau Balai Arkeologi (Balar) di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
  4. Mendorong peningkatan alokasi anggaran dan optimalisasi penggunaan APBN untuk program pemajuan kebudayaan daerah.
  5. Mendorong Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) untuk mendirikan institusi bagi pusat pemajuan Kebudayaan Daerah Nusa Tenggara Barat berbasis Perguruan Tinggi.
  6. Mendorong lembaga pemerintah yang menaungi pendidikan dasar dan menengah untuk melakukan kolaborasi intensif intensif dalam pemajuan kebudayaan di sekolah/madrasah dengan stakeholders kebudayaan.
  7. Mendorong penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) komunal untuk mendukung pemajuan kebudayaan daerah. 
  8. Mendorong standardisasi capaian pemajuan kebudayaan nasional melalui penentuan indikator berbasis potensi, peran, dan tantangan daerah.
  9. Mendorong terbentuknya Kawasan Budaya di dua pulau utama di Nusa Tenggara Barat, yakni Lombok dan Sumbawa sebagai pusat unggulan (centre of excellence) pemajuan kebudayaan daerah dan nasional.

Demikian maklumat dan rekomendasi ini disampaikan kepada pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Kebudayaan RI. Semoga upaya kita bersama bagi pemajuan kebudayaan daerah dan nasional diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mataram, 7 Januari 2025

Segenap insan dan masyarakat kebudayaan Nusa Tenggara Barat

#Akuair-Ampenan, 13-01-2025

 




Pengabdian Masyarakat Eksplorasi Warisan Nusantara di Lombok

Peserta program Pengabdian Masyarakat Eksplorasi Warisan Nusantara ini seluruhnya akan menjadi duta NTB di masa mendatang

MATARAM.LombokJournal.com ~ Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTB  Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si, menerima audiensi Tim Penggerak Katalisator Nusantara (Peka Nusantara) di ruang kerjanya, yang akan melakukan melaksanakan program Pengabdian Masyarakat Eksplorasi Warisan Nusantara  (03/01/25). 

BACA JUGA : Punya Kapasitas, Lalu Tajudin Didukung Menjadi Kadis Naker Lobar

Program Pengabdian Masyarakat Eksplorasi Warisan Nusantara disambut baik
Sekda NTB, Lalu Gita Ariadi

Sekda menyambut baik rencana pelaksanaan program yang melakukan eksplorasi warisan nusantara yang akan dilaksanakan tim Peka Nusantara di Pulau Lombok sekitar tanggal 25-30 Januari 2025. 

“Kami menyambut baik gelaran program yang melakukan Eksplorasi Warisan Nusantara ini,  karena seluruh peserta akan menjadi duta NTB di masa yang akan datang,” ungkap Miq Gita  sapaan Sekda NTB. 

Pada pertemuan tersebut didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kepala Museum Provinsi NTB. 

Sementara itu, Ketua Komunitas Tim Peka Nusantara Abdul Naser menjelaskan, program tersebut akan diikuti kurang lebih 60 hingga 70 peserta dari seluruh daerah di Indonesia. 

BACA JUGA : Aksi Bersih Pantai Loang Baloq, Awali Tahun 2025

Para peserta program pengabdian masyarakat itu  melakukan berbagai kegiatan sosial sekaligus menggali dan mempelajari berbagai budaya lokal yang ada di NTB, khususnya di Pulau Lombok. 

“Kami benar-benar ingin mempelajari budaya Lombok. Menggali budaya di sini (Lombok) dan mengabdi kepada masyarakat,” pungkasnya. 

BACA JUGA : Pemuda Muhammadiyah Diajak Aktif Bangun Lombok Barat

Peserta program pengabdian masyarakat itu melakukan kegiatan sosial sekaligus menggali dan mempelajari berbagai budaya lokal yang ada di NTB.nov/dyd




Presean Budaya Leluhur yang Harus Terus Disosialisasikan

Warga NTB sebagai pemilik budaya leluhur Presean harus mensosialisasikannya ke khalayak luas

MATARAM.LombokJournal.com ~ Kegiatan lomba Presean merupakan ajang pelestarian budaya yang sudah turun temurun dijaga kearifannya. 

BACA JUGA : Anjangsana Bunda Lale ke Ibu Srigede dan Ibu Srinata

Hal itu disampaikan Penjabat (Pj) Gubernur NTB Hassanudin ketika membuka perlombaan presean menyambut Hari Ulang Tahun ke-66 Nusa Tenggara Barat, di Gelanggang Pemuda, Jum’at (06/12/24).

Pembukaan Lomba Peresean bertajuk “Belage Pepadu Angoh” dilaksanakan selama dua hari (6-7) Desember.

“Tugas kita sebagai warga NTB dapat  mensosialisasikan budaya leluhur kita kepada khalayak umum. Selamat bertarung. Junjung sportivitas,“ pesannya. 

BACA JUGA : PMI NTB Diimbau Agar Ikut Mengantisipasi Bencana

Lomba Peresean bertajuk “Belage Pepadu Angoh” itu rencananya dilaksanakan selama dua hari (6-7) Desember. 

Melibatkan delapan pepadu terkemuka di Pulau Lombok seperti Ken Arok, Cikararat, Rambo, Kamandaka, Kelabang Geni, Kebo Ireng Demung Wire serta Putra Mandalika. 

BACA JUGA : Jusuf Kalla Menyinggung Pengelolaan Masjid di NTB

Masyarakat diajak beramai-ramai menyaksikan adu tanding presean, sebagai bentuk apresiasi olahraga tradisional dan pelestarian tradisi budaya. rbg/dyd

 




Cerita Rakyat sebagai Sumber Inspirasi Puisi¹

Cerita rakyat mengandung nilai-nilai luhur terkait kearifan lokal yang mengandung pesan moral cinta tuhan, alam semesta, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, hormat dan santun

Cerita rakyat menawarkan wawasan tentang bagaimana manusia merasakan dunia masa lalu
Penulis : Agus K. Saputra

lombokjournal.com ~ Cerita rakyat adalah warisan budaya berharga dari masa lalu yang mengajarkan tentang nilai-nilai dan kebijaksanaan yang diperoleh oleh leluhur. Cerita ini, bukan sekedar kumpulan kata-kata yang diceritakan oleh nenek moyang.

Cerita rakyat mencerminkan akar budaya dan identitas suatu Masyarakat. Setiap cerita adalah jendela ke masa lalu.

BACA JUGA : Downshifting atau Mengurani Tingkat Konsumsi 

Cerita rakyat  menawarkan wawasan tentang bagaimana manusia merasakan dunia masa lalu, serta pelajaran moral yang tetap relevan di zaman modern (detikSumut: Kamis, 14 Sept 2023 06.30 WIB).

Ciri bahasa yang dominan dalam cerita rakyat (detikEdu: Senin, 15 Mei 2023 06.00 WIB) adalah:

  1. Menggunakan majas
  2. Banyak menggunakan konjungsi pada awal kalimat
  3. Menggunakan kata arkais (kata yang jarang digunakan)
  4. Mengungkapkan sesuatu yang mustahil atau tidak masuk akal

Sebagai bagian dari sastra lisan, maka cerita rakyat perlu direvitalisasi. 

Menurut Kethy Inriani (2017: hal. 167), sebagian sastra lisan yang memiliki kerarifan masih ada yang bertahan dan sebagiannya telah hilang ditelan zaman. 

Oleh karena itu, sastra lisan warisan leluhur yang mengandung kearifan perlu direvitalisasi untuk diterapkan dan diajarkan pada generasi muda sekarang demi penciptaan kedamaian dan peningkatan kesejahteraan bangsa di masa depan.

BACA JUGA : Ite BegaweFest, Ajang Promosi Produk Lokal NTB

Kearifan lokal adalah aturan yang berlaku di suatu tempat. Kearifan lokal sebagai local genius mampu mengatur tatanan kehidupan. Meskipun zaman telah berubah dan akan terus berubah, kearifan lokal mampu berperan untuk menata kehidupan masyarakat (Kethy Inriani, 

2017: hal 167)

Nilai-nilai luhur terkait kearifan lokal (detikedu: Senin, 29 Apr 2024 06.20 WIB) dapat meliputi cinta kepada tuhan, alam semesta beserta isinya, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, hormat dan santun. 

Juga mengajarkan nilai-nilai kasih sayang dan peduli, percaya diri, kreatif kerja keras, pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, rendah hati dan baik, toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Sebagai bentuk revitalisasi³, maka puisi adalah salah satu pilihannya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi merupakan ragam sastra yang bahasannya terikat oleh rima, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi juga diartikan sebagai gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat.

Sementara itu, menurut James Reeves, seorang penulis Inggris yang dikenal karena puisi, drama, dan sastranya, (detikedu: Jum’at, 21 Jan 2022 16.30 WIB), mengatakan bahwa pengertian puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh dengan daya pikat.

BACA JUGA : Gugus Tugas Bisnis dan HAM Dibentuk, Agar Produk Lokal NTB Mendunia

Beberapa contoh puisi yang bearasal cerita rakyat/kearifan lokal:

Sangkareang

maka jadilah taman

seperti kisah firdaus

melenakan mata

tempat sukma bersiteguh

membuang rasa lapar

membelit kasih sayang

 

maka jadilah taman

saat kau sebut jinayang

membuat mata bathinku hilang

Ampenan, 18-02-2022: 00.29

 

Mandalika (1)

aku adalah rahasia

di tepian pantai

antara hidup dan mati

berbalut cinta

berkelindan moksa

dilumuri kasih nyale*

aku adalah rahasia

kisah anak manusia

berbalut cinta

lahir

hidup

mati

Makassar,  17-11-2021: 23.12

*nyale (baca nyaleu) bahasa sasak berarti cacing

 

Mandalika (2)

ombak biru

pasir putih

adalah saksi bisu

tubuh menjelma nyale

seturut buihbuih cinta

menjaga kedamaian

aik meneng tunjung*

tilah empak bau*

bangun integritas bangkitkan solidaritas

putri cantik memikat

memilih jalan patriot

di atas kehadiran diri

Pantai Seger, 30-04-2023: 14.17

*Bahasa Sasak yang artinya: ambil ikannya, tapi jangan bikin keruh airnya

 

The Last Pepadu*

bulan ke tujuh

tanah kering membara

hujan belum tiba

angin membawa debu

memanggang asa tersisa

hingga napas menderu

dua lelaki telanjang dada

berhadapan adu kekuatan

penjalin dan ende di tangan

menyerang

menepis

melukai

hingga darah menetes

memercik tempat berpijak

menyambut hujan tiba

di riuh tetabuhan

tatapan nanar

pakembar

Bengkulu, 27-07-2023: 14.20

*Judul & Karya Lukis Lalu Syaukani Art

(dalam Pertemuan Kecil, Maret 2024: hal. 58)

 

 Yellow Princess*

kesedihan segera berlalu

seturut kebaikan meninggalkan kenangan

kehangatan tetap terjaga

senyampang meneruskan semua risalahnya

adalah setitah ratu 

merangkai narasi sabda

meredam amarah para kekasih

saat tubuh menjadi nyale 

di tengah segara kuta

para kawula bahagia mengumpulkannya

bagai serpihan meneduhkan

meninggalkan langit kemarau

gemerlap di jiwa

menuntun kearifan

hidup berdampingan

seia sekata di gumi paer

Lampung, 06-08-2023: 20.40

*Judul & Karya Lukis Lalu Syaukani Art

(dalam Pertemuan Kecil, Maret 2024: hal. 67)

Jika diketegorikan, maka menurut Sutji Harijanti dalam Modul Bahasa Indonesia Kelas X, puisi dibedakan menjadi dua, yaitu puisi lama dan puisi baru. 

Dalam berkarya, saya lebih memilih ke puisi baru. Karena puisi baru merupakan puisi yang tidak terikat lagi oleh aturan, dan bentuknya lebih bebas dari puisi lama dalam segi jumlah baris, suku kata, ataupun rima. 

Hal ini senada seperti di tulis Patta Nasrah (di Facebook: 25-10-2020), “Kang Agus tidak menulis “poem” seperti di zaman romantic Inggris, yang terikat oleh larik, rima, bait dan sajak. Ia seorang penulis “poetry” yang bergaya bebas seperti cara orang Amerika mengoreksi sastra Inggris yang puritan…”

#AKUAIR – Perumnas Ampenan, 15-11-2024: 19.47

¹Artikel ini telah disampaikan sebagai materi Pelatihan Mulok Bahasa Sasak Para Guru (PAUD, SD dan SMP) Se-Kota Mataram: Minggu, 16-11-2024

²Aktif di Entitas AKUAIR

³Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), revitalisasi berarti proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang berdaya.

 




Utsawa Dharma Gita NTB Siap Berlaga di Tingkat Nasional

Kontingen Utsawa Dharma Gita penting mendapat dukungan antarumat beragama demi menjaga keutuhan bangsa dan negara

MATARAM, LombokJournal.com~ Pemerintah Provinsi NTB secara resmi melepas kontingen Utsawa Dharma Gita (UDG) tingkat nasional yang akan mengikuti festival atau lomba nyanyian suci keagamaan Hindu di Kota Surakarta pada 8-12 Juli 2024.

BACA JUGA : Optimis, NTB akan Raih Hasil Maksimal di PON di Aceh 2024

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, yang mewakili PJ Gubernur NTB, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan Utsawa Dharma Gita (UDG). 

Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan kontribusi besar dalam mendukung program pembangunan di Provinsi NTB.

“Semoga kontingen UDG dari NTB dapat memberikan yang terbaik bagi daerah dan bangsa ini,” ujarnya saat memberikan sambutan dan arahan pada acara pelepasan Kontingen UDG Provinsi NTB di Mataram, Sabtu (06/07/24).

BACA JUGA : Event MXGP Lombok 2024 Menarik Perhatian Dunia

Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi NTB, H. Fathurrahman, juga menekankan pentingnya dukungan antarumat beragama demi menjaga keutuhan bangsa dan negara. 

“Untuk itu, bagi kontingen UDG, kami mengucapkan selamat berjuang. Tetap menjaga kesehatan,” pesannya.

Sebagai informasi, ratusan peserta umat Hindu dari berbagai perwakilan kabupaten dan kota di NTB turut serta dalam lomba UDG tingkat Provinsi NTB. Tujuannya adalah mencari bibit-bibit unggul yang ahli dalam Dharmagita.

BACA JIGA : Pilgub NTB Harus Banyak Kandidat Agar Pemilihan Berkualitas

Acara pelepasan kontingen UDG ini juga dihadiri oleh Ketua Lembaga Pengembangan Dharma Gita Provinsi NTB, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTB, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB, serta sejumlah tokoh masyarakat dan agama di NTB. mnp/dyd

 




Gamelan bagi Warga Lombok di Johor, Malaysia

Silaturahmi sekaligus penyerahan gamelan berlangsung dengan penuh kehangatan, sebagai penguatan akar budaya dan tradisi Lombok

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) menggelar acara silaturahmi dengan komunitas warga Lombok di Johor, Malaysia. 

BACA JUGA : Misi Dagang NTB Bertemu Perkumpulan Pengusaha Johor Bahru

Bunda Lale menandatangani penyerahan gamelan bagi warga Lombok di Malaysia

Dalam acara tersebut, Pemprov NTB menyerahkan satu set alat musik gamelan sebagai bentuk dukungan untuk melestarikan budaya Lombok di luar negeri.

Rombongan Pemprov NTB dipimpin oleh Wakil Ketua Dekranasda NTB, Ir. Hj. Lale Prayatni Gita Ariadi, bersama dengan beberapa kepala dinas, disambut hangat oleh masyarakat Lombok di Johor. 

Acara silaturahmi sekaligus penyerahan gamelan berlangsung dengan penuh kehangatan, memperingati akar budaya dan tradisi Lombok.

Dalam sambutannya, Bunda Lale menekankan pentingnya pelestarian budaya Lombok di diaspora. Ia menyampaikan bahwa gamelan sasak yang diserahkan memiliki nilai simbolis yang tinggi dan diharapkan dapat mempererat hubungan antar sesama warga Lombok di Johor.

BACA JUGA : PKBI NTB dan Unichef Indonesia Diapresiasi Dikes NTB

Bunda Lale juga berencana untuk memperkenalkan seni Rebana kepada masyarakat Sumbawa di Johor Bahru, Malaysia. Dia berharap bahwa gamelan tersebut tidak hanya akan menjadi penghibur, tetapi juga akan digunakan untuk memelihara kesenian dan tradisi Lombok di Johor.

Selain seremoni penyerahan gamelan, Bunda Lale juga mengadakan dialog dengan warga Lombok untuk mendengarkan aspirasi dan isu-isu yang mereka hadapi di luar negeri. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, dengan banyak masukan yang disampaikan oleh masyarakat.

Bunda Lale juga menitipkan harapannya kepada Pemerintah Johor Bahru untuk melindungi dan memberikan rasa aman kepada masyarakat Lombok yang tinggal di sana, sambil menegaskan bahwa Pemprov NTB akan selalu mendukung warganya di manapun mereka berada.

Ketua Perhimpunan Masyarakat warga NTB di Johor Malaysia, Baiq Mustika, mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi NTB. Dia juga membagikan sejarah perhimpunan mereka dan mengapresiasi perhatian yang diberikan untuk komunitas mereka di luar negeri.

BACA JUGA : Mendagri Mengapresiasi Konerja Miq Gita dan Bunda Lale

Dengan penyerahan gamelan ini, diharapkan bahwa budaya Lombok akan semakin dikenal dan dilestarikan di Johor, serta memperkuat rasa kebersamaan dan identitas budaya bagi warga Lombok di Malaysia.***

 




Pj Sekda Halal Bihalal bersama Himpunan Keluarga KSB-Mataram

Abah Ibnu sapaan Pj Sekda NTB mengatakan, halal bihalal memiliki nilai-nilai penting dalam kehidupan berkomunitas

MATARAM, LombokJournal.com ~ Pj. Sekda NTB Ibnu Salim, SH., M.Si menghadiri acara Halal bihalal Himpunan Keluarga Sumbawa Barat-Mataram, di Hotel Lombok Raya Mataram, Sabtu (18/05/24). 

BACA JUGA : Ulang Tahun ke 52 Bang Zul : Berupaya Berlapang Dada

"Halalbihalal adalah jalan kita menjalin kebersamaan," kata Pj Sekda
Pj Sekda NTB

Dalam acara ini, Pj Sekda NTB, Ibnu Salim yang akrab disapa Abah Ibnu menekankan bahwa halal bihalal tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana untuk bersyukur dan memperkuat kebersamaan.

Ia menyebut halalbihalal sebagai jalan untuk menjalin kebersamaan, mengenal orang yang belum dikenal, serta memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan atau terucap keliru.

“Halalbihalal adalah jalan kita menjalin kebersamaan. Mengenal yang belum mengenal, memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan dan yang pernah terucap keliru,” kata Pj Sekda.

BACA JUGA : Mobil Hias NTB Raih Juara Harapan 3 Nasional di Solo 

Abah Ibnu juga menambahkan bahwa tradisi halal bihalal memiliki nilai-nilai penting dalam kehidupan berkomunitas. Selain berbicara tentang kebersamaan dan tali silaturahmi, halalbihalal juga berkaitan dengan kebersamaan dan berbagi. 

“Kita berbagi kebahagiaan dari berbagai hal, entah itu harapan atau rencana di masa mendatang,” jelasnya.

Ia mengajak semua kalangan untuk terus melestarikan tradisi dan warisan ini. Menurutnya, penting untuk kembali memaknai keragaman sebagai sikap bernegara agar tercipta daerah yang damai dan sejahtera.

BACA JUGA : Nilai Ekspor NTB April 2024 Naik 112, 40 Persen

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Bupati Sumbawa Barat, Dr. Ir. H. W. Musyafirin, M.M., Ketua Rukun Keluarga Sumbawa Barat Drs. Lukmanul Hakim, para sesepuh, dan para tokoh se-Sumbawa Barat. ubl/dyd

 




Kebersamaan dalam Halal Bihalal Miq Gita dan Keluarga Samawa

Dalam halal bihalal bersama IKS, Miq Gita menekanakan, pentingnya nilai-nilai kebersamaan, dan solidaritas dalam memperkuat hubungan keluarga besar

MATARAM.LombokJournal.com ~ Pj Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si, hadir dalam acara halalbihalal yang diadakan oleh Ikatan Keluarga Samawa (IKS) di Auditorium UIN Mataram, Sabtu (04/05/24). 

BACA JUGA : Konstestasi Pilgub NTB 2024 Kurang Menggairahkan 

Pj Gubernur menegaskan, kebersamaan merupakan fondasi membangun NTB

Dalam kesempatan penuh kehangatan tersebut, Pj Gubernur NTB yang akrab disapa Miq Gita itu menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri kepada seluruh anggota IKS yang hadir. Ditegaskannya, pentingnya nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan solidaritas dalam memperkuat hubungan keluarga besar.

Dalam pidatonya, Miq Gita juga tidak lupa untuk memohon maaf lahir dan batin kepada semua yang hadir. Ia mengungkapkan bahwa acara halalbihalal adalah momen yang sangat berarti untuk mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kedekatan di antara anggota keluarga besar IKS. 

BACA JUGA : Bantuan Presiden untuk Pedagang di Pasar Tradisional

Miq Gita menekankan bahwa dalam suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan seperti ini, banyak hal bisa dibagikan dan cerita bisa saling disampaikan, sehingga ikatan kekeluargaan semakin kokoh.

Tak hanya sebagai perwakilan pemerintah, kehadiran Pj Gubernur NTB dalam acara tersebut juga merupakan bentuk nyata dari perhatian dan dukungan terhadap kegiatan sosial dan budaya masyarakat. 

Ini menjadi bukti bahwa pemerintah sangat memperhatikan dan mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mempererat hubungan antarwarga, terutama dalam suasana yang penuh keberagaman seperti di NTB.

Melalui semangat kebersamaan dan persaudaraan yang terjalin dalam acara halalbihalal, diharapkan akan muncul inspirasi bagi seluruh masyarakat NTB untuk menjaga dan memperkuat ikatan kekeluargaan dalam kehidupan sehari-hari. 

BACA JUGA : Transformasi Visual dalam Antologi Puisi ‘Pertemuan Kecil’ 

Dengan demikian, nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, toleransi, dan gotong royong akan terus menjadi pondasi utama dalam membangun NTB yang lebih baik di masa depan. ***

 




Miq Gita Safari Syawal Bersama Pj Walikota Bima

Kegiatan Safari Syawal Miq Gita di Kota Bima, merupakan momentum untuk saling memaafkan

BIMA.LombokJournal.com ~ Penjabat ( Pj) Gubernur NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si, melakukan Safari Syawal dan halal bihalal bersama Penjabat (Pj) Walikota Bima, Ir. H. Muhammad Rum, MT di kediamannya, Selasa (16/04/24). 

BACA JUGA ; Peringatan HUT Lobar Dihadiri Pj Gubernur NTB dab Pimpinan OPD NTB 

Miq Gita menyampaikan ucapan Dirgahayu ke-22 Kota Bima
Miq Gita

Safari syawal ini diadakan sebagai pengganti safari ramadhan yang tertunda karena libur hari raya Idulfitri yang lebih cepat.

Penjabat Gubernur, yang akrab disapa Miq Gite, hadir bersama istri, Ir. Hj. Lale Prayatni, dan sejumlah kepala OPD lingkup Provinsi NTB. Hadir pula putri Wakil Presiden RI, Prof. Dr. Hj. Siti Nur Azizah, S.H., M.Hum., yang sedang melakukan kegiatan pembinaan terhadap wirausaha muda di Kota Bima.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Danrem 162/WB, Brigjen Agus Bhakti, serta Forkopimda Provinsi NTB dan Kota Bima, serta sejumlah Kepala OPD lingkup Kota Bima.

“Ini merupakan momentum untuk kita saling memaafkan,” ujar Miq Gita. Ia juga mengucapkan selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1445 Hijriah, dan memohon maaf lahir batin atas hal-hal yang mungkin mengganggu komunikasi selama menjalankan tugas.

BACA JUGA : PDI Perjuangan NTB Fokus Menangkan Kandidatnya di Pilkada Serentak 

Selain itu, Miq Gita menyampaikan ucapan Dirgahayu ke-22 Kota Bima. Pada peringatan HUT ke-22 Kota Bima, ia tidak dapat hadir karena bersamaan dengan HUT ke-66 Kabupaten Lombok Barat.

Ia memberikan apresiasi kepada Pj Walikota Bima dan jajarannya atas penyelenggaraan pemerintahan dan pembinaan masyarakat yang berjalan baik.

BACA JUGA : Agus K Saputra Melakukan re-Kreasi dari Karya Visual

“Tahun ini kita akan menghadapi ujian kedua, yaitu menyukseskan Pilkada serentak pada 27 November 2024. Semoga berjalan lancar dan sukses,” pungkasnya. nov/dyd

 




AMAN Mataram Gelar Seminar/Dialog Perlindungan & Hak-hak Masyarakat Adat

Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PD Aman) adakan seminar ‘Perlindungan hak-hak Masyarakat adat Nusantara 

MATARAM.LombokJournal.com ~ AMAN Mataram menyelenggarakan Seminar/Dialog perlindungan dan Hak-Hak Masyarakat Adat mengangkat tema ‘Perlindungan hak-hak Masyarakat adat Nusantara di Era Society 5.0″ di Hotel Pratama Mataram, Rabu (31/01/24) 

 Ketua PD Aman Mataram, L. M. Iswadi Athar dalam sambutannya menegaskan, tiap masyarakat adat harus tetap menjaga eksistensi adat di Kota Mataram.

BACA JUGA : Pelatihan Kader PD Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Mataram 

“Karena itu diperlukan perlindungan hak hak masyarakat adat nusantara Mataram, sehingga masyarakat adat mampu mempertahankan eksistensinya di Era Society 5.0,” kata Ketua Aman Mataram..

Walikota Mataram yang diwakili Asisten 1, Lalu Martawang saat menyampaikan sambutan seminar/dialog AMAN Mataramitu, menyinggung perubahan generasi.

Martawang mengatakan, dalam zaman yang dinamis dan penuh dengan perubahan generasi kita, anak anak muda masa kini, adalah saksi dari pergeseran besar dalam perkembangan teknologi dan cara kita hidup. 

“Kita telah melalui beberapa era sebelumnya, seperti Society 1.0 yang berfokus pada pertanian, seperti Society 2.0 yang ditandai oleh revolusi industri, society 3.0 dengan internet, dan society 4.0 yang mengintegrasikan kecerdasan buatan dan teknologi canggih,” urai Martawang.

Namun, apa yang membedakan spciety 5.0 adalah fokusnya pada kemanusiaan. 

“Ini adalah era dimana teknologi seperti kecerdasan buatan, internet of rhings, dan big data digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan menyelesaikan masalah sosial,” katanya.

Menurutnya, masyarakat adat didefinisikan sebagai sekelompok penduduk yang hidup berdasarkan asal-usul leluhur dalam suatu geografis tertentu, memiliki system nilai dan sosial budaya yang khas. Berdaulat atas tanah dn kekayaan alamnya serta mengatur dan mengurus keberlanjutan kehidupannya dengan hukum dan kelembagaan adat. 

BACA JUGA : Hadiah Bulan Ramadhan, PT Jamkrida NTB Segera Beralih ke Syariah

“Ada legih dari 70 juta Masyarakat adat di wilayah Indonesia atau sekitar 25 persen dari populasi penduduk Indonesia,” ungkap Lalu  Martawang.

Seminar/Dialog Perlindungan Hak-hak Masyarakat Tersebut yang dimoderatori Maheriandi,  dengan 3 orang narasumber berasal dari berbagai Instans dan tokoh Adat, Narasumber pertama L. Prima Wira Putra (Ketua PW AMAN NTB), kedua Pungka M. Sinaga (Kemenkumham NTB), dan Baiq Anggraini  (Bakesbangpol kota Mataram). 

Didalam dialog tersebut. Prima Wira Putra (PW Aman NTB) mengatakan, masyarakat adat itu bukan sekedar menggunakan pakaian adat, memainkan alat kesenian seperti Gendang Bleq, Peresean, dan seni lainnya.

Menurutnya, adat merupakan satu kesatuan yang harus dipegang teguh. Sehingga tidak memudarnya adat Sasak dengan adanya berbagai event nasional dan internasional yang selalu diselenggarakan, serta dengan memegang teguh adat dan kebudayaan sasak sehingga pariwisata di NTB semakin maju.

Sementara itu, Pungka M. Sinaga dari Kemenkumham NTB mengatakan pentingnya menjaga keutuhan adat. Karena suatu adat merupakan sebuah satu kesatuan suatu daerah. 

Dijelaskan, identitas dari adat ada 2 yaitu bahasa dan budaya. Agar tetap menjaga kebudayaan dan bahasa yang dimiliki masyarakat Sasak sebagai identitas dan ciri khas dalam bernegara,  hukum suatu negara mengikuti hukum adat daerah setempat,

Nara sumber lainnya, Baiq Anggraini dari Bakesbangpol Kota Mataram 3 mengatakan, setiap kegiatan  yang akan dilakukan/dilaksanakan oleh Aman Mataram akan selalu didukung, sehingga Aman Mataram makin maju dan berkembang seiring perkembangan kota Mataram.

Baiq Anggraini mengatakan, tiap kegiatan dan permasalahan masyarakat akan selalu didukung oleh Bakesbangpol Kota Mataram, agar Aman Mataram mampu menjaga Keutuhan NKRI dan Kebudayaan-kebudayaan dan adat yang dimiliki oleh masyarakat sasak.

BACA JUGA : Relawan GaMa Mataram Gelar Konser “Musik Jalanan untuk Demokrasi”

Acara dialog berlangsung, dengan sesi tanya jawab dengan peserta dari Komunitas Adat Nusantara di Mataram dan dari stakeholder yang peduli terhadap masyarakat adat Nusantara di Kota Mataram. (*)