Masyarakat adat Lang-lang sangat mengapresiasi kegiatan konsolidasi kader pemula AMAN Mataram
MATARAM.LombokJournal.com ~ Kader AMAN dari semua komunitas adat se Kota Mataram yang sudah menempuh pendidikan kader pemula, melakukan konsolidasi Sabtu, (27/12/25) di Mataram (Wilayah adat Komunitas Masyarakat adat Lang-lang) Dasan Agung Kota Mataram
Ketua PH AMAN Mataram, L.M. Iswadi Athar dalam sambutan dan arahan mengatakan, konsolidasikader adalah wadah berkumpulnya kader yang telah menempuh pendidikan kader pemula Masyarakat Adat, dan memahami keberadaan AMAN sebagai rumah besar bagi perjuangan Masyarakat adat
“Konsolidasi kader mengambil tema, mencetak kader yang solid dan militan membangun organisasi AMAN,” ungkap iswadi
Iswadi Athar mengatakan, peduli lingkungan dan bumi dengan aksi membagikan ‘Green trashbag’ hitam dan putih untuk memilah sampah di masyarakat adat di Kota Mataram merupakan wujud cinta pada kamapung halaman.
Rumah yang disebut ‘Bale Mentaram’ agar sampah tertangani dengan baik, karena penting kepedulian warga. Konsolidasi komunitas masyarakat adat di kota Mataram akan menjaga bumi dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Lebih dari itu akanmemilah sampah rumah tangga sesuai dengan ketentuan plastik Hitam (anorganik) dan Putih (organik).
Ketua Komunitas adat Lang-Lang, H.Parmanmengatakan, masyarakat adat Lang-lang sangat mengapresiasi kegiatan konsolidasi kader pemula AMAN Mataram.
“Silahkan kader AMAN terus memperjuangkan masyarakat adat dan tokoh serta pemimpin adat, kami yang berbasis komunitas lang-lang adat siap mendukung penuh,” Kata H Paqrman.
Kegiatan itu berlangsung untuk melakukan konsolidasi berbagai bentuk kegiatan bersama ke depan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. (***).
Manajemen Kelompok Usaha Masyarakat Adat (KUMA)
Dalam peningkatan kapasitas manajemen tersebut menghadirkan pemateri dari Dinas perdagangan
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Mataram (PD AMAN Mataram) mengadakan kegiatan penguatan kapasitas manajemen usaha kelompok usaha masyarakat adat (KUMA), di Aula Dinas Perdagangan Propinsi NTB Rabu-Kamis (19-20/11/25)
Penguatan Kapasitas Manajemen Usaha KUMA ini, terdiri dari dua KUMA; KUMA Krekok dan KUMA Tanjung Karang yang telah berproses dan menghasilkan produk usaha.
Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar. Peserta yang hadir ini bersasal dari Kelompok usaha masyarakat adatdari dua KUMA; KUMA Krekok yang mengolah berbahan baku kelapa menjadi olahan minyak seperti VCO dan minyak rempah. KUMA Tanjung Karang yang mengolah bahan baku ikan laut menjadi abon ikan laut dan souvenir lainnya.
“Kehadiran mereka untuk kita latih dalam peningkatan kapasitas dan pengetahuan dalam manajemen mengolah produk usaha,perizinan usaha, sertifikasi halal, kemasan, dan lain lain. DisIni kami hadir bagaimana untuk mendorong usaha masyarakat adat bisa berdaulat dan menjadi tuan di tanahnya sendiri,” ungkap Iswadi.
Dalam peningkatan kapasitas manajemen tersebut menghadirkan pemateri dari Dinas perdagangan, yang diwakili oleh kepala UPTD NTB Mall Lalu Afgan Muharor.
Dalam penyampaianya ia menyatakan bahwa kelompok usaha berbasis masyarakat adat seperti ini sangat bagus dalam mengangkat hasanah yang ada di masyarakat, yakni berupa produk usaha masyarakat adat oleh AMAN Mataram.
“Kami bangga dan sangat mengapresiasi ini, kami akan kurasi produk usaha yang dimiliki AMAN Mataram untuk kita bisa display di outlet UPTD Kami di NTB Mall,” jelas Iswadi.
Acara kegiatan berjalan dan menghadirkan pemateri dari dinas perindustrian dan UKM, BPOM, Lembaga sertifikasi Halal, Perbankan, dan HIPMI serta dari fasilitator lainnya tentang manjemen bisnis canvas
Sosalisasi PEREMPUAN AMAN dan pembentukan PHKom Krekok
Perwakilan PEREMPUAN AMAN tampak hadir yakni Dewi Kustina dalam kegiatan sosialisasi tersebut
MATARAM.LombokJournal.com ~ Sosialisasi Perempuan AMAN dan pembentukan PhKom Krekok yang dilaksanakan Minggu (16/11) di Sekolah adat Grude Krekok Wilayah adat Krekok Rembiga kota Mataram
Ketua PH AMAN Mataram, L.M Iswadi Athar menyambut baik sosialisasi Perempuan Aman ini. Menurutnya, pihak organisasi induk siap memfasilitasi kegiatan pembentukan organisasi sayap perempuan AMAN PHkom Krekok tentu dengan koordinasi yang baik dengan Seknas PEREMPUAN AMAN. ke depan harapannya.
Dengan terbentuknya PHkom Krekok ini menambah partner dalam membangun komunitas adat di Krekok, dan tentu menghidupkan sekolah adat juga.
Ketua Komunitas adat Krekok, M. Saleh memberikan pemaparan di tengah kegiatan sosialisasi Perempuan Aman ini. Ia berharap dengan adanya perempuan Phkom Krekok ke depan kerja-kerja di Komunitas adat ada yang membantu dalam pelaksanaan kegiatan di komunitas dan termasuk sekolah adat.
Perwakilan PEREMPUAN AMAN hadir Ibu Dewi Kustina dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Ia menyampaikan tentang mekanismepembentukan Perempuan AMAN sesuai dengan statuta Perempuan AMAN.
Yaitu melalui tahapan sosialisasi perempuan AMAN, dan dihadiri oleh perempuan komunitas adat setempat di Krekok sejumlah 25 orang dan mau bersama-sama komitmen membentuk dan mendirikan perempuan AMAN PhKom Krekok.
Mekanisme pengajuan calon ketua wilayah pengorganisasian PH Kom Krekok dilaksanakan sesuai dengan aturan dengan musyawarah mufakat yang memilih saudari Sri Maharani sebagai Ketua PHkom Krekok.
Sri Maharani berharap, untuk bersama-sama membangun PEREMPUAN AMAN dengan tekad berkeadilan, setara dan semangat.
Penguatan Kapasitas Pengurus dan Anggota PHkom Tanjung Karang
Menurut L. M. Iswadi Athar, kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas bagi pengurus dan anggota sangat penting
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pengurus PHKom Tanjung karang Sabtu (15/11/25) melaksanakan kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitasanggota dan pengurus PHKom Tanjung Karang yang dilaksanakan di komunitas adat Tanjung Karang.
Dalam kegiatan penguatan kapasitas anggota dan pengurus ini mengmbil tema ‘bersama-sama membangun sumberdaya masyarakat adat untuk kesuksesan bersama’
Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar Perempuan AMAN sebagai organisasi sayap yaitu PHKom tanjung Karang kami sangat apresiasi. Menurutnya, kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas bagi pengurus dan anggota juga penting, untuk mengetahui tugas dan fungsi masing-masing dalam menjalankan roda aorganisasi.
“Disini kami melihat pertumbuhan anggota PHkom terus bertambah, silahkan terus ‘saling tulung, saling anton’ dan terus gotong royong saling bina.” kata Iswadi
Ketua PHkom Tanjung Karang, Nana Marliana. Kami dari PHKom Tanjung Karang semenjak terbentuk terus berinovasi dan terus melangka bersama perempuan-perempuan kampung. “Alhamdulilah kita bisa melaksankan kegiatan ini, berupa kegiatan internalisasi dan penguatan kapasitas, baik pengurus dan anggota,” ujarnya.
Tentu perempuan AMAN dengan jargon ‘berkeadilan, setara, dan semangat’ sebagi symbol semangat dan perjuangan kami.
Tokoh adat kampung, Ketua komunitas Adat Tanjung Karang, Moh Amin, mengatakan, keberadaan perempuan adat di kampung kami di kampung Sembalun komunitas adat Tanjung Karang sangat diharapkan.
“Mohon kami dibina dalam penguayan kapasitas, dan silahkan dibina kami dari kampung siap mendukung sepenuhnya kegiatan AMAN Mataram,” ujar Amin.
Hadir dalam kesempatan yang sama Ibu Denda Suria Sari (Damanas Bali Nusra).
Di tengah kegiatan penguatan kapasita anggota itu, ia mengajak PEREMPUAN AMAN PhKom Tanjung karang untuk tetap bangkita bersatu memperjuangkan hak-hak Perempuan adat, terus bangkit bersatu; berdaulat, mandiri dan bermartabat. (***)
Jambore Kampung BPAN Pkam Krekok
Jambore kampung di Krekok ini sebagai wadah anda berorganisasi dan berkumpul untuk bersinergi membangun pemuda-pemudi kampung
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemuda Kampung yang tergabung dalam Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), PKam Tanjung Karang melaksanakan Jambore Kampung Jum’at,(14/11/25) di Komunitas adat Krekok, Mataram
Ketua BPAN Mataram Mawardi effendi saputra bahwa Jambore PKam Krekok ini untuk menjawab bahwa di Komunitas Krekok ada pemuda adatnya yang tergabung dalam BPAN. Dan pada hari ini bisa melaksanakan jambore kampung.
Hal itu terlaksana setelah proses panjang secara adminsitratif sesuai dengan Statuta BPAN. Intinya kita Jambore Pkam Krekok
Dalam sambutannya Ketua PH AMAN Mataram, L.M. Iswadi Athar, Pemuda Kampung Krekok, memiliki hak yang sama dengan pemuda kampung lainnya untuk bangkit dan mandiri.
“Jambore kampung di Krekok ini sebagai wadah anda berorganisasi dan berkumpul untuk bersinergi membangun pemuda-pemudi kampung dalam melindungi dan memperjuangkan hak-hak masyarajat adat,” kata Iswadi.
Hadir dari DePAN Bali Nusra, Hilmiatun. Jambore Pkam Krekok ini sesuai dengan Statuta BPAN. kegiatan ini yang dahadiri oleh pemuda adat dari Komunitas adat Krekok.
Salah satu agenda jambore kampung ini adalah memilih ketua PKam Krekok dan rekomendasi program-pogram PKam Krekok ke depan.
Dalam jambore Pkam Tanjung Karang hasil musyawarah dan mufakatmemilih saudari Dende Zahratul Hilal sebagai ketua PKam Krekok.
“Kami siap mengibarkan bendera Pemuda, BPAN dan menjadi garda terdepan komunitas adat Krekok,” kata Zahratul Hilal. (***)
Pendidikan Kader Pemula PD AMAN Mataram
Pendidikan kader diharapkan akan menciptakan kader AMAN yang militan
MATARAM.LombokJourmal.com ~ Dalam meningkatkan kapasitasanggota dan kader, PD AMAN Mataram menggelar Pendidikan KaderPemula Jumat hingga Minggu (07 hingga 09/11/25) di Taman Hiburan Rakyat Loang Baloq, Mataram
Pendidikan kader pemula yang diikuti sekitar 25 orang kader dari berbagai komunitas adat di Mataram mengangkat tema ‘pendidikan kader pemula AMAN mataram untuk meningkatkan kualitas kader AMAN Mataram’
Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar dalam sambutannya bahwa pentingnya pendidikan kader ini untuk meningkatkan kualitas kader AMAN mataram.
Dikatakan Iswadi, kader yang mengikuti pendidikan kader ini berasal dari komunitas adat yang akan dilaksankan selama tiga hari, dengan fasilitator/pemateri yang handal.
Makin banyak kader yang kita latih semakin bagus sebagai ajang untuk regenenerasi.
“Pengkaderan harus dilakukan kalau kita mau melihat pemuda dan pemudi kita eksis dalam melestarikan adat dan budaya kita,” katanya.
Dalam kegiatan ini hadir bapak Lurah Tanjung Karang H. Achmad Gunawan, yang menilai kegiatan ini bagus sekali
“Kami dari pemerintah Kelurahan Tanjung Karang selaku ‘pengemong kerame’ sangat mendukung dan bagus sekali kegiatan pendidikan kader yang dilakukan oleh PD AMAN Mataram dengan harapan akan menciptakan kader-kader AMAN yangmilitan ke depan,” katanya
Dalam kegiatan ini dirangkaikan dengan acara ritual adat ‘sembeq selamet’ sampan di pantai Tanjung Karang, dengan harapan pemilik sampan mendapat keselamatan dan tangkapan banyak.
Dalam pembukaan hadir beberapa tokoh, selain Lurah Tanjung Karang selaku Pengemong Krame, juga hadir Dewan AMAN Mataram, Babinkamtibmas dan Babinsa Tanjung Karang ketua Komunitas Tanjung Karang dan peserta Pendidikan kader pemula AMAN Mataram. (***)
Jambore Kampung BPAN PKam Tanjung Karang
Jambore Pkam Tanjung Karang dari Komunitas adat Tanjung Karang, salah satu agendanya memilih Ketua PKam dan rekomendasi program-pogram PKam Tanjung Karang
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemuda Kampung yang tergabung dalam Barisan Pemuda Adat Nusantara(BPAN), PKam Tanjung Karang melaksanakan Jambore Kampung Kamis, (13/11/25) di Taman Hiburan Rakyat Loang Baloq Wilayah Adat Tanjung Karang, Mataram.
Ketua BPAN Mataram Mawardi Efendi Saputra bahwa Jambore PKam ini merupakan hasil koordinasi dan bahwa dipandang perlu sesuai kebutuhan komunitasdi bawah penting untuk memiliki pemuda Adat dalam membantu komunitas melaksanakan kegiatan di komunitas adat Tanjung Karang.
Dalam sambutannya Ketua PH AMAN Mataram, L. M. Iswadi Athar bahwa kami PD AMAN Mataram sangat membutuhkan pemuda adat yakni BPAN sebagai mitra strategis AMAN Mataram sebagai organisasi sayap AMAN.
Selaian itu juga menjadi wahana pengkaderan generas muda dalam bidang organisasi adat, pemuda hari ini adalah masa depan pemuda Adat yang akan datang.
Hadir dari DePAN Bali Nusra, L. Erpan. Jambore Pkam Tanjung Karang ini yang dahadiri oleh pemuda adat dari Komunitas adat Tanjung Karang, salah satu agendanya adalah memilih ketua PKam dan rekomendasi program-pogram PKam Tanjung Karang kedepan.
Dalam jambore Pkam Tanjung Karang hasil musyawarah dan mufakat memilih saudari Zinnuroin sebagai Ketua PKam Tanjung Karang.
Pemuda kampung Terpilih, Zinnuroin yang akrab disapa iin siap mengibarkan bendera BPAN sebagai pemuda kampung dan menghidupkan komunitas adat kami di Komunitas adat Tanjung Karang. (***)
Adaptasi Antigone dalam Kelokalan Lombok (1)
Maka dalam adaptasi lakon Dende Tamari bukan dari keinginan meniru Antigone, melainkan dari dorongan memahami kembali makna tragedi dalam konteks lokal
Catatan : Agus K. Saputra
MATARAM.LombokJournal.com ~ Di tengah rutinitas kehidupan teater di Mataram, Bengkel Aktor Mataram atau Teater BAM kembali menghadirkan getaran yang khas. Pada 25 Oktober 2025, mereka mengumumkan pementasan ke-63, adaptasi lakon Antigone dengan judul Dende Tamari.
Di bawah arahan sutradara Kongso Sukoco, adaptasi lakon ini menjelma menjadi ruang baru bagi eksplorasi teater lokal—sebuah tafsir atas tragedi Yunani kuno Antigone karya Sophocles, yang kini ditanamkan ke dalam tanah budayaLombok.
Proses panjang BAM yang telah mencapai lebih dari enam puluh pementasan tentu bukan perjalanan yang singkat. Di setiap lakon, ada pergulatan ide dan bentuk, ada pertemuan antara yang klasik dan yang kontemporer, antara yang lokal dan yang universal.
Namun, Dende Tamari terasa istimewa karena ia tidak hanya menyentuh sisi dramatik, tetapi juga menyentuh kesadaran spiritual dan moral dari masyarakat tempat lakon ini tumbuh.
Kongso Sukoco, yang melakukan adatasi lakon ini dikenal tekun dalam proses, selalu menegaskan bahwa teater bukan sekadar tontonan. “Teater adalah ruang kesadaran,” ujarnya. Bagi Kongso, di atas panggung manusia belajar menjadi dirinya sendiri; ia bercermin kepada zaman, kepada luka dan keberanian yang dibawanya. Teater bukan tempat untuk bersembunyi di balik peran, tetapi justru untuk menyingkap lapisan terdalam dari kemanusiaan.
Maka adaptasi dalam lakon Dende Tamari lahir bukan dari keinginan meniru Antigone, melainkan dari dorongan memahami kembali makna tragedi dalam konteks lokal.
Dalam teks asli Sophocles, Antigone adalah sosok perempuan muda yang menentang titah Raja Kreon, karena ia ingin memakamkan saudaranya, Polyneikes, dengan layak. Tindakan itu melahirkan tragedi, karena perlawanan Antigone bukan semata politik, melainkan moral dan spiritual.
Namun dalam adaptasi Kongso, Antigone menjelma menjadi Dende Tamari—seorang perempuan Lombok yang berakar pada tanah, adat, dan keyakinan masyarakatnya. Ia bukan hanya melawan karena cinta pada keluarga, melainkan karena ia ingin menegakkan martabat manusia yang tertindas oleh kekuasaan.
Dalam tubuh Dende Tamari, terkandung jejak ibu, suara tanah, dan keberanian menjaga nilai yang diyakini suci.
Perempuan di Pusat Tragedi dan Harapan
Mengapa perempuan? Pertanyaan ini menjadi jantung dari tafsir Kongso Sukoco.
Dalam masyarakat kita, perempuan kerap ditempatkan di pinggiran sejarah, tetapi justru dari sana mereka menyimpan kekuatan paling purba—kesetiaan pada kehidupan.
Dende Tamari bukanlah tokoh yang berteriak lantang, melainkan yang berdiri tegak dalam diamnya. Ia adalah wajah dari keberanian yang halus, yang menolak tunduk pada kekuasaan semena-mena. Dalam banyak lapisan masyarakat Lombok, perempuan sering menjadi penjaga moral keluarga dan adat, walau tidak selalu diberi tempat dalam ruang politik. Namun dari merekalah, sesungguhnya, kekuatan moral sebuah komunitas bertumpu.
Dalam interpretasi ini, Kongso memperlihatkan bagaimana tragedi tidak harus keras dan heroik seperti dalam versi Yunani. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lirih, dalam tubuh seorang perempuan yang berjalan pelan menuju kubur saudaranya, di tengah ancaman dan larangan. Dari gestur kecil itu, lahir perlawanan yang sangat manusiawi.
Dalam adaptasi lakon tragedi ini menemukan makna barunya: bukan semata kejatuhan tokoh besar, tetapi pergulatan batin manusia biasa. Dende Tamari menjadi kisah tentang benturan dua kebenaran—antara hukum yang dibuat manusia dan hukum yang berasal dari nurani. Kongso meyakini, ketika hukum kehilangan roh kemanusiaannya, maka tragedi pun lahir.
Tragedi itu bukan hanya milik panggung, melainkan milik kita semua, yang hidup di tengah tatanan sosial di mana kekuasaan sering kali menutup mata terhadap nurani.
Latihan lakon adaptasi Dende Tamari
Salah satu keunikan Dende Tamari terletak pada pencarian bahasa tubuh lokal. Dalam proses latihan, Kongso dan para aktornya tidak bergantung pada metode Stanislavski atau Brecht semata. Ia mengajak para pemainnya untuk menelusuri gerak yang tumbuh dari keseharian masyarakat Lombok.
Bahasa tubuh Dende Tamari bukan bahasa yang “dipelajari”, melainkan yang “ditemukan kembali.” Seorang aktor, misalnya, diminta mengamati cara seorang perempuan menenun, cara seorang ibu menunduk ketika berdoa, atau bagaimana seorang dukun tua berjalan ke sumber air. Semua gerak itu kemudian menjadi “materi tubuh”—bukan sekadar ilustrasi, tetapi kekuatan dramatik yang lahir dari akar kebudayaan.
Pendekatan ini membuat tubuh aktor menjadi arsip hidup, menyimpan pengalaman sosial masyarakat Lombok.
Ketika Dende Tamari bergerak di panggung, ia membawa seluruh ingatan itu bersamanya. Penonton pun melihat lebih dari sekadar kisah Antigone yang ditransformasikan; mereka melihat diri mereka sendiri, kebiasaan mereka, dan sejarah yang mereka warisi tanpa sadar.
Bagi Kongso, tubuh aktor adalah teks kedua. Ia membaca dunia, lalu menulis ulang pengalamannya dengan gestur, nafas, dan irama. Di sinilah letak “lokalitas” teater BAM: ia tidak sekadar menempelkan atribut lokal, tetapi menghidupkan kembali tubuh lokal sebagai pusat kesadaran estetik.
Tembang, Doa, dan Nyanyian Leluhur
Selain bahasa tubuh, tembang dan nyanyian tradisi menjadi jantung pertunjukan Dende Tamari. Dalam teater BAM, musik tradisi tidak berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai roh yang menuntun emosi dan ritme adegan.
Kongso menempatkan penyanyi tradisi sebagai bagian dari narasi. Ia tidak hanya menyanyikan lagu, tetapi juga “berbicara” kepada penonton dengan bahasa simbolik. Kadang suara itu terdengar seperti doa yang dipanjatkan kepada leluhur, kadang seperti jeritan yang datang dari masa lalu.
Tembang menjadi ruang di mana dunia spiritual dan dunia nyata saling berpapasan. Ia menandai momen-momen transenden di mana batas antara kehidupan dan kematian, antara sakral dan profan, menjadi kabur.
Ketika Dende Tamari menguburkan saudaranya, tembang itu menggema, seperti doa yang terbit dari tanah.
Melalui musik tradisi, Dende Tamari menyentuh lapisan terdalam pengalaman penonton. Ia bukan hanya mengisahkan tragedi moral, tetapi juga memanggil ingatan kolektif masyarakat Lombok — tentang ritus kematian, tentang kesetiaan keluarga, dan tentang keyakinan bahwa setiap jasad harus kembali ke bumi dengan hormat.
Dalam Dende Tamari, tragedi klasik Yunani menemukan rumah barunya di Lombok. Ia tidak kehilangan makna universalnya, justru menemukan kehidupan baru dalam konteks lokal.
Melalui adaptasi lakon tragedu Yunani itu Kongso berhasil menunjukkan bahwa karya besar dunia dapat bertumbuh di tanah Nusantara tanpa kehilangan akarnya.
Dengan memadukan tubuh lokal, nyanyian tradisi, dan nilai moral yang hidup di masyarakat, ia menanam Antigone di tanah sendiri — membiarkannya tumbuh menjadi Dende Tamari yang harum dan getir.
Melalui karya ini, BAM memperlihatkan bahwa teater bukan warisan barat, melainkan warisan manusia. Ia hidup di mana pun manusia berani berkata “tidak” terhadap kekuasaan yang menindas.
Dan di tengah dunia yang makin bising oleh propaganda, adaptasi lakon Dende Tamari seperti bisikan yang lembut namun tegas: bahwa kemanusiaan harus terus dirawat — di panggung, di tubuh, di hati kita.
#Akuair–Ampenan, 23 Oktober 2025
Delegasi IGS Kunjungi Kota Tua Ampenan dan Museum NTB
Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kota Mataram menyambut baik kedatangan para delegasi IGS
Kunjungan hari kedua delegasi IGS Itu untuk merasakan secara langsung kuliner tradisionalserta berbagai warisan budaya yang ada di Provinsi NTB, Jumat (09/05/25).
Saat mengunjungi Kota Tua Ampenan, para delegasi IGS yang merupakan Duta Besar serta perwakilan asing dari 38 negara di dunia disuguhkan oleh pertunjukan barongsai oleh anak-anak di Kota Mantaram.
Pertunjukan barongsai yang disuguhkan tersebut mencerminkan keanekaragaman suku dan budaya yang ada di Kota Tua Ampenan. Para delegasi tampak antusias dan terhibur dengan hadirnya para barongsai cilik dan memberikan banyak apresiasi.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kota Mataram menyambut baik kedatangan para delegasi IGS. Acara ini diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan adat istiadat dan warisan budaya di Provinsi NTB dan Kota Mataram pada khususnya dapat lebih mendunia.
“Kami sangat bangga menyuguhkan dan memperkenalkan warisan budaya yang ada di Kota Mataram kepada dunia,” ungkap Wakil Wali Kota Mataram TGH. Mujiburrahman, S.H.
Setelah mengunjungi Kota Tua Ampenan, para delegasi IGS mengunjungi Museum Negeri Provinsi NTB. Pada kesempatan tersebut, Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mempersilakan para delegasi untuk mengenali lebih dalam Provinsi NTB melaui koleksi yang ada di museum NTB.
Para delegasi tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian acara IGS di hari kedua ini. H.E. Mr. Tomáš Ferko selaku Duta Besar Slovakia mengungkapkan, acara tak hanya berhasil memperkenalkan adat istiadatyang ada di Provinsi NTB tetapi juga membuat para delegasi lainnya untuk mengeksplore lebih jauh tempat-tempat yang ada di NTB.
Respon itu tampak setelah Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal mengenalkan beragam potensi yang dimiliki NTB, dalam sharing session atau pemaparan dalam rangkaian Indonesia Gastrodiplomacy Series 2025, yang berlangsung di Bank NTB Syariah Mataram, Jumat (09/05/25).
Gubernur Iqbal memaparkan potensi pariwisata, perikanan, tambang, agrikulutr dan lainnya setelah pemutaran video selayang pandang potensi NTB.
“Selamat datang di kantor pusat Bank NTB Syariah. Jika berminat berinvestasi di perbankan kami sangat menyambut baik,” ujar Gubernur Iqbal membuka pertemuan yang diselingi diskusi bersama peserta IGS 2025.
Ketua Panitia IGS 2025, L Faozal menjelaskan, para peserta merespon positif potensi beragam yang dimiliki NTB.
“Ini baru kunjungan pertama dan pertemuan awal. Tapi dari pertemuan ini kita melihat respon positif dari para peserta untuk tindaklanjut investasi dan hubungan kerjasama lainnya,” ujar Faozal.
Indonesia Gastrodiplomacy Series sudah diadakan sebanyak lima kali di berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan ini merupakan program unggulan Kemlu RI untuk mempromosikan warisan kuliner Indonesia sebagai media dialog, kerja sama ekonomi, dan diplomasi budaya.
Edisi “Diplomatic Tour Goes to West Nusa Tenggara” kali ini merupakan bagian dari inisiatif promosi Perdagangan (Trade), Pariwisata (Tourism), dan Investasi (Investment) atau TTI yang lebih luas. jm