Zero Waste, Faktor Wujudkan Lingkungan Rendah Karbon

Program unggulan NTB, Zero Waste, merupakan salah satu indikator penting dalam mewujudkan lingkungan rendah karbon.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sitti Rohmi Djalilah, menjabarkan, salah satu program unggulan yang terus didorong oleh pemerintah provinsi saat ini adalah NTB Zero Waste atau mewujudkan lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Saat ini, seluruh belahan dunia mengalami pemanasan global yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu disebabkan oleh efek rumah kaca yang diakibatkan oleh kegiatan industri, pembakaran hutan, polusi udara, limbah rumah tangga maupun pemanfaatan bahan-bahan kimia yang berlebihan.

“Dalam mewujudkan NTB Asri dan Lestari, kami terus mendorong masyarakat dan semua pihak untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat melalui pengelolaan sampah yang baik. Juga diharapkan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global yang tinggi,” ujar Sitti Rohmi dalam kegiatan webinar nasional bertema, “Mendorong Inisiatif Lokal Untuk Pembangunan Rendah Karbon dan Ketangguhan Iklim Yang Inklusif”.

Dalam kegiatan yang digelar secara virtual dan diinisiasi oleh Islamic Relief Worldwide Indonesia dan Konsepsi, Selasa (7/9), Wagub menyatakan bahwa penguatan pengelolaan sampah hingga ke desa-desa dinilai dapat meminimalisir terjadi nya pemanasan global akibat dari efek rumah kaca atau pemanasan iklim bumi. Sebab, salah satu faktor penyebab efek rumah kaca adalah limbah rumah tangga dari sampah yang tidak dikelolah dengan baik.

BACA JUGAPercepat Pembangunan dengan Berdayakan dan Tingkatkan UMKM

Sementara itu, Kepala Bappenas/Menteri PPN, Suharso Manoarfa, menjelaskan, suhu permukaan global 1,09 derajat celsius lebih tinggi dalam 10 tahun terakhir antara 2011-2020 dibandingkan tahun 1850-1900. Untuk itu, perubahan iklim ini menjadi PR bagi seluruh umat manusia khusus masyarakat di Indonesia.

“Pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim merupakan agenda prioritas nasional yang telah memiliki target yang dituangkan dalam RPJMN,” jelas Suharso.

manikp@kominfo




Sampah Plastik Diolah Menjadi Aneka Produk Bahan Bakar

Sampah plastik diolah dengan teknologi pyrolisis menghasilkan aneka produk bahan bakar mulai dari solar, bensin, minyak tanah, aspal sampai bahan bakar pesawat.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sitti Rohmi Djalillah, mengapresiasi hasil olahan bahan bakar PT.Geo Trash Management (GTM). Dirinya menyebut upaya yang dilakukan PT. GTM selain sebagai solusi penanganan sampah juga dapat menyediakan bahan bakar alternatif.

Sampah Plastik“Semoga produk bahan bakar bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat”, ujar Sitti Rohmi di ruang kerjanya, Rabu (1/9).

Andrew Sinclair, penggagas dan direktur PT. GTM, mengatakan, hasil pengolahan sampah plastik berteknologi pyrolisis ini menghasilkan banyak varian produk bahan bakar mulai dari solar, bensin, minyak tanah, aspal sampai bahan bakar pesawat.

“Tapi kita fokus pada solar dan bensin dengan standar Eropa”, ujar Andrew.

Dikatakannya, peluang untuk menjadi bahan bakar alternatif sangat besar setidaknya untuk kebutuhan komunitas. Menyoal bahan baku untuk keberlangsungan pabrik, ia mengaku masih memetakan ketersediaan bahan baku. Ia pun berharap di masa depan, produk PT. GTM dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar Lombok.

“Kita rencanakan setelah running akan mengisi celah kebutuhan bahan bakar masyarakat”, sebutnya.

BACA JUGANTB akan Membentuk Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga)

jm




Target Zero Waste, Kuncinya adalah Pemilahan Sampah

Pemanfaatan sampah menjadi sumberdaya harus mulai dikerjakan dari hulu, dan didukung inndustrialisasi di hilir, untuk mempercepat tercapaiya target program NTB Zero Waste

MATARAM.lombokjournal.com ~ Pengelolaan sampah berbasis desa sangat efektif. Penanganan sampah konvensional harus ditinggalkan karena sampah dapat diolah menjadi produk bermanfaat.

Wakil Gubernur Dr Hj Sitti Rohmi Djalillah mengataan itu dalam webinar seri ketiga Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan bertajuk Desa Merdeka Sampah untuk NTB Bersih, Selasa (31/08/21) di pendopo Wagub.

“Di hilir pemanfaatan sampah menjadi sumberdaya dan berharga harus mulai dikerjakan dari hulu. Tata kelola sampah ini juga upaya mengatasi masalah lingkungan,” ujar Wagub

Menurutnya, dengan dukungan industrialisasi di hilir, tata kelola ini akan menghidupkan sirkular ekonomi baru di desa. Ini akan mempercepat target tercapainya program unggulan NTB Zero Waste.

BACA JUGA: Desa Mandiri Meningkat, Cikal Bakal NTB Asri dan Lestari

Kepala Dinas LHK, Madani Mukarom mengatakan, desa merdeka sampah harus berani dideklarasikan. Mengelola sampah tanpa menunggu inisiasi dari pemerintah akan menghasilkan kemandirian dan penghargaan tersendiri bagi dunia.

Ia menyebut Singapura dan desa Panglipuran di Bali yang memproklamirkan diri sebagai tempat terbersih di dunia membuatnya menjadi magnet bagi masyarakat dunia.

BACA JUGA: Program Ramah Difabel, Implementasinya Ditingkatkan 

“Di NTB juga sudah mulai tumbuh inisiatif untuk menjadi desa terbersih“, ujar Madani.

jm




Desa Mandiri Meningkat, Cikal Bakal NTB Asri dan Lestari

Pegelolaan sampah yang diakukan desa mandiri, dimulai pemilahan dari rumah tangga yang dikumpukan petugas dan dibeli oleh Bumdes

MATARAM.lombokjournal.com ~ Desa desa maju dan mandiri yang kian meningkat, merupakan cikal bakal yang akan menjadikan NTB Asri dan Lestari.

Wakil Gubernur Dr Hj Sitti Rohmi Djalillah mengatakan, dengan dukungan desa maju dan mandiri itu, maka program unggulan NTB Zero Waste optimis tercapai.

“Surga ini yang akan kita wariskan pada anak cucu kita nanti dan saya optimis target kita akan tercapai dua tahun lebih cepat,” ujar Wagub.

Itu disampaikannya dalam webinar seri ketiga Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Desa Merdeka Sampah untuk NTB Bersih, Selasa (31/08/21).

Salah satu yang berhasil mengelola sampah secara mandiri adalah Desa Kembang Kuning, Sikur, Lombok Timur.

Kepala Desa Kembang Kuning, HL Sujian mengatakan, salah satu strategi awal adalah aturan desa agar masyarakat dapat bergerak bersama.

BACA JUGA: Semangat dan Tetap Tingkatkan Usaha Meski Masa Pandemi

“Tapi kesadaran sebagai desa wisata membuat pengelolaan sampah adalah keharusan,” ungkap Sujian.

Pemilahan sampah dimulai dari rumah tangga dan sekolah yang dikumpulkan oleh petugas sampah dua kali seminggu, yang akan dibeli oleh Bumdes.

Sedangkan siswa sekolah ditukar dengan alat alat sekolah seperti buku dan alat tulis.

Di pengolahan sampah milik desa, para pekerja ibu ibu rumah tangga mengolahnya menjadi produk yang dijual ke pengepul dalam bentuk biji plastik dan lain lain yang dibayar Rp 3000 per kilo sampah.

Lalu Supratman, pengelola TPS3R di Desa Lendang Nangka, Masbagik, Lombok Timur menjelaskan, sejak 2009 pengelolaan sampah dimulai dengan pengumpulan sampah oleh masyarakat yang ditukar dengan secangkir beras.

Tahun 2015, desa nya mendapat bantuan dana Rp 500 juta untuk tempat pengolahan sampah. Sejak itu masyarakat dibayar Rp 5000 per kilo sampah. Rata rata per bulan, TPS ini mengolah tiga ton sampah per bulan.

Hasil pemilahan sampah organik dan anorganik itu dibeli oleh bank sampah mandiri. Ada pula pemilahan sampah mandiri dari rumah yang hasil penjualannya disedekahkan bagi yang kurang mampu.

“Butuh enam bulan untuk memberikan pemahaman tentang pengumpulan dan pengolahan sampah,” kata Supratman.

Ada pula strategi pengolahan sampah perkotaan.

“Kata kuncinya penanganan berbasis rumah tangga,” kata Sri Sulistyawati, Lurah Mataram Timur.

BACA JUGA: Target Zero Waste, Kuncinya Adalah Pemilahan Sampah

“Mayoritas sampah perkotaan berasal dari rumah tangga, pasar dan industri yang belum mengerti tentang pengelolaan,” sebut Sri.

Membangun kesadaran dari sumbernya langsung yakni rumahtangga, dimulai dengan partisipasi 3R dan penutupan TPS liar.

Pengolahan di tingkat kelurahan dengan pemilahan dan pengelolaan saat ini menggunakan metode biopori, maggot sampai kerajinan tangan yang menghasilkan rupiah.

Sementara itu, Alokasi Dana Desa untuk kegiatan pengelolaan sampah tak hanya digelontorkan dalam program lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan atau SDGs.

Namun juga dialokasikan dalam program kesehatan dan ekonomi menunjang program unggulan Zero Waste.

Dr H Azhari, Kepala Dinas PMPD mengatakan, perencanaan prioritas tergambar dalam 18 tujuan SDGs. Salah satunya adalah bank sampah yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa.

“Dari 1005 desa sudah ada 988 Bumdes nantinya seluruhnya dilengkapi unit bank sampah yang juga terintegrasi Posyandu Keluarga dari yang ada sekarang sebanyak 200 unit,” jelas Azhari.

jm




Anggur Varian ReBaKong (RBK), Dikembangkan Bakti Haryono di Dusun Rebakong

Karena Bakti Haryono tinggal dan menekuni tanaman anggur di Dusun Rebakong, maka Bupati Dohan Sjamsu mengusulkan nama anggur varian Rebakong (RBK)

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Bakti Haryono,SE, 37, perintis sekaligus penggerak Kampung Anggur, di Dusun Rebakong, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

Anggur varian RBK yang dikembangkan Bakti Haryono

Bakti mengembangkan anggur berbagai varian di halaman rumahnya yang arealnya seluas sekitar 30 meter persegi.

Berawal dari pengembangan seluas 30 M persegi, Bakti pun mampu mendorong semangat warga yang lain, dan bahkan hingga ke luar di desa kemudia meluas sampai ke luar Kecamatan Kayangan.

Tidak jarang warga yang tidak dikenalnya datang untuk membeli bibit yang di kembangkan. Selagi sedang berbuah, pembeli bibit langsung melihat dan bahkan mencicipi rasa masing masing varian.

Meski dengan biaya seadanya Bakti menekuni kegiatan sehari hari bersama keluarga dan orang tuanya.

Menurut Bakti memanfaatkan halaman rumah memberi nuansa kesejukan di samping keindahan dan bernilai ekonomi tinggi, lantaran harga dan peminatnya cukup banyak hingga Ia harus memperbanyak pembibitan.

BACA JUGA:

Inisiatif Lestarikan Lingkungan dari Mahasiswa, Diapresiasi Bupati Djohan

Berbagai warna buah anggur Rebakong (RBK) dengan ukuran tandanannya mencapai kurang lebih seberat 1/5 kg.

Batangnya tumbuh ke atas kemudian menjalar di atas para baja ringan yang dipasang membentuk atap di seputaran halaman rumah dan terkesan teduh dan indah meski di musim kemarau.

Dikunjungi bupati

Di halaman rumahnya Bakti mendirikan para para yang ditanami anggur dan sudah berkali kali berbuah. Ketekunan dan keberhasilannya mengembangkan anggur, menarik perhatian Bupati LombokUtara, H Djohan Syamsu untuk berkunjung bersama isterinya Ibu Galuh Nurdiah, yang Ketua PKK KLU, Minggu (29/08/21).

Bupati Dohan dan Ny Galuh Nurdiah sedang mencicipi anggur di Dusun Rebakong

“Usaha saya untuk menanam anggur sekitar sepuluh tahun,” tutur Bakti kepada Bupati Djohan Sjamsu bersama Ibu Galuh Nurdiah.

Bakti yang didampingi Kepala Desa Kayangan Mijono, S. Sos, menceritakan awalnya menanam anggur lokal, tetapi hasilnya kurang memuaskan.

Sejak awal menekuni tanaman anggur, banyak orang di desa kala itu yang menganggap usahanya bakal sia-sia. Namun Bakti tidak patah semangat, dan terus belajar menekunni cara budidaya pohon anggur.

Puncaknya pada saat bencana Gempa Bumi 7.0 skr 2018, Bakti mengganti pohon anggur lokal dengan anggur Ninel dari Ukraina pada 2014.

Pohon anggur hibrida ini lebih mudah perawatannya dan buahnya lebih manis. Benar saja, hasil panen pohon anggurnya memuaskan. Masyarakat sekitar pun mulai tertarik untuk menanamnya.

Bakti kemudian mengajak saudara ipar dan keluarga yang lain untuk belajar sendiri budidaya tanaman anggur Ninel, tanpa pengalaman dan bantuan dana dari siapa pun saat itu.

Semakin hari, Bakti semakin bersemangat karena dibantu istri dan keluarga yang lain hingga berhasil menciptakan puluhan Varian.

“Saya menjual bibit Rp200 ribu hingg tiga jutaan lebih,” tutur Bakti.

Untuk warga sekitar Bakti memberikan secara cuma cuma, asalkan ditanam dan dirawat sungguh sungguh, ungkapnya.

Tapi sekarang, atas pertimbangan tertentu, ia mulai menjual dan tidak gratisan meski pada warga sekitar.

BACA JUGA: Agama Bisa Jadi Solusi Selesaikan Masalah Kekinian Manusia

“Saya berharap mereka yang menanam punya rasa memiliki sehingga mau merawat dengan baik dan benar,” katanya. Jika bibit diberikan gratis, si penerima kemungkinan akan malas-malasan untuk merawatnya.

Singkat cerita, kehadiran Bupati dan Ibu membuat dirinya semakin semangat. Terlebih lagi Bupati Djohan Syamsu melahirkan nama Varian ReBaKong (RBK) hari Minggu itu.

Tidak sampai di situ saja, Bakti rencana mengusulkan sertifikat nama Varian RBK sebagai bukti inovasinya mengembangkan berbagai varian Anggur.

Bakti mengaku, hasil dari tanaman anggur cukup menguntungkan. Setiap pohon mampu menghasilkan sekitar 12 kilogram anggur,  dalam setahun bisa sampai tiga kali panen.

Bakti menjual anggur Rp100 ribu per kilogram, sedangkan bibitnya dijual Rp antara 200.000 hingga 3.000.0000 lebih yang sudah berbuah.

“Sedangkan untuk perawatan pemberian pupuk saya cukup dengan organik dan air kelapa muda,” tuturnya di depan Bupati dan tamu lainnya.

Bakti pun mengaku kuwalahan menghadapi banyaknya permintaan. Ia pun berharap ada bantuan Green house dari pemerintah terkait pendampingan pertanian untuk tempat pembibitan, agar tidak ada gangguan binatang maupun di saat musim kemarau berkepanjangan.

Pasalnya, sekarang semakin banyak wisatawan lokal yang datang, terutama saat panen.

Bupati Djohan Syamsu menyarankan agar kegiatan budidaya anggur Varian RBK ini tetap dijalankan dan dikembangkan.

“Perkara kebutuhan Green house nanti kita pikirkan, yang penting semangat berinovasi jangan sampai pudar dan kembangkan usaha ini hingga kebituhan masyarakat Kabupaten Lombok Utara tidak lagi datangkan buah dari luar daerah,” saran bupati.

“Kami punya rencana melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian sudah launching program agroforesti yang dipusatkan di Dusun Rebakong Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan,” kata Djohan Syamsu.

CATATAN/Ralat: Berita ini sekaligus klarifikasi penulisan yang menyebutkan alamat yang salah yaitu Dusun Rebakong Desa Pendua. Yang benar adalah Dusun Rebakong Desa Kayangan.

@ng




Peduli Lingkungan, Mahasiswa Melepasliarkan Tukik di Lekok

Ikatan Mahasiswa Gondang (IMG) melakukan aksi peduli lingkungan dengan gerakan bersih pantai, penanaman seratus pohon pelindung dan melakukan pelepasliaran tukik

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Ikatan Mahasiswa Gondang (IMG) mengadakan kegiatan melakukan  Bersih Kampung, Penanaman Pohon dan lepasliarkan tukik di Pantai Sedayu Lekok, Desa Gondang Kecamatan Gangga Kabupeten Lombok Utara.

Kegiatan IMG itu menggandeng kerjasama dengan Komunitas Tionghowa – INTI, OPAL, dan Pokdarwis setempat.

Sebelumnya, serangkaian kegiatan yang telah dilakukan IMG antara lain berupa pembibitan anggur, lomba seni melukis tembok, pembibitan, dan berbagai kegiatan lainnya dalam rangka memeriahkan HUT KLU Ke 13 dan HUT RI Ke 76 tahun 2021.

Kegiatan itu merupakan tindak lanjut kegiatan sebelumnya.

BACA JUGA: BPD Santong Tolak Bantuan Pangan non Tuna untuk Isteri Kades

Hari Sabtu (28/08/21), Ikatan Mahasiswa Gondang melakukan gerakan bersih pantai, penanaman seratus pohon pelindung dan melakukan pelepasliaran tukik. Dalam kegiatan ini IMG memina Bupati Lombok Utara, H Djohan Sjamsu untuk memimpin kegiatan itu.

Dalam acara seremonial, IMG sekaligus penyampaian laporan pertanggung jawaban kegiatan, penyerahan kenang kenangan untuk bupati, penyerahan hadiah pemenang Lomba, sekaligus penyerahan 300 paket sembako untuk anak yatim piatu, lansia, orang tua jompo dan fakir miskin.

Bupati dilibatkan dalam aksi peduli lingkungan

aksi peduli lingkungan ditandai dengan penanaman pohon

 

 

 

 

 

Kegiatan IMG yang diselenggarakan di Pantai Sedayu, Dusun Lekok, Desa Godang,  berlangsung selama dua hari, dimulai tanggal 27 Agustus hingga 28 Agustus 2021.

Penanaman pohon selain berfungsi sebagai pelindung, juga untuk memperindah seputaran lokasi Pantai Sedayu yang merupakan salah satu tujuan wisata di Gondang. Lokasi itu digunakan sebagai pusat penangkaran penyu pertama dan terbesar di kabupaten Lombok Utara.

“Kegiatan ini diharapkan berlanjut secara kontinyu dan dapat ditiru oleh mahasiswa yang lain serta masyarakat luas. Menjadi upaya bersama memelihara dan mengawasi apa yang telah dilakukan secara bersama sama untuk kepentingan bersama. Itu akan melahirkan kader kader lingkungan,” kata pihak pengurus IMG dalam pernyataannya, Sabtu (28/08/21).

Pihak IMG juga berharap dukungan pemerintah Kabupaten Lombok Utara. Dan menyerukan masyarakat luas akan pentingnya gerakan peduli lingkungan untuk kehidupan semua mahluk.

Bupati Lombok Utara, H Djohan Syamsu, SH, yang hadir dalam kegiatan di Pantai Sedayu itu mengatakan, kehadirannya sebagai bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan.

BACA JUGA: Sertifikasi Pemandu Wisata Tambora, Langkah Menuju UNESCO

“Penghijauan merupakan salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan yang merupakan salah satu program perintah,” kata bupati.

Ia berdiharap kegiatan yang diakukan IMG yang didukung lembaga yang peduli lingkungan lainnya, dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan yang rawan Abrasi, longsor, banjir dan kekeringan di wilayah Kabupaten Lombok Utara.

“Terlebih lagi di Pantai Sedayu yang merupakan pusat penangkaran penyu yang sudah terdaftar di Kantor BKSDA NTB,” ungkap bupati.

Bupati Djohan mengapresiasi para Donatur Komunitas Tionghoa, Organisasi Lingkungan dan segenap peserta kegiatan penghijauan.

“Walaupun di tengah situasi Pandemi Covid-19, kita masih dapat melaksanakan kegiatan ini, ” katanya.

Usai pembersihan dan penanaman, Djohan Syamsu, melepasliarkan 300 tukik, membagikan paket sembako dan penyerahan hadiah pemenang lomba dalam kegiatan dalam rangka HUT KLU Ke 13 dan HUT RI ke 76 -2021.

(@ng)




Penyu Tangkaran Dilepaskan di Pantai Nipah untuk Pelestarian

Pelepasan Penyu hasil penangkaran Komunitas Konservasi Penyu di Pantai Nipah, Lombok Utara, sebagai dukungan dan upaya memperbaiki kondisi lingkungan.

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Bupati Lombok Utara (KLU), H. Djohan Sjamsu, menyatakan hal tersebut saat membuka Peresmian Kolam Penangkaran, Pelestarian Turtle Conservation Community (TCC) dan Pelepasliaran Penyu di Pantai Nipah, Pemenang, Rabu (25/8).

Penyu
H. Djohan Sjamsu

“Berterimakasih kepada ‘anak-anak saya’ yang berinisiatif dengan kegiatan ini sebagai amaliah kita semua. Bagian dari pengabdian pada bangsa, negara dan Lombok Utara,” tuturnya.

Bupati Djohan menceritakan bahwa KLU pernah dilanda bencana alam gempa bumi yang mengakibatkan rusaknya infrastruktur rumah hingga 60 ribu unit rusak berat. Sebagian besar fasilitas publik hingga kini belum tuntas rekonstruksinya, kemudian disusul dengan pandemi Covid-19. Hingga hari ini keterpaparan di KLU menembus angka lebih dari 500 jiwa orang, dengan yang masih tersisa konfirmasi positif kurang dari 30 jiwa.

“Saya serukan pada kita semua, agar disiplin melaksanakan protokol kesehatan. Sebagai orang yang beragama, tentu kita harus taat dan percaya segala sesuatu yang terjadi Tuhan yang menentukan, kita hanya dapat berikhtiar,” imbuhnya.

Bupati Djohan mengajak bangun semangat, tidak menjadikan Covid tanpa solusi dan kerjakan apa yang mampu dikerjakan. Kita diuji oleh Allah dengan berbagai macam persoalan termasuk Covid-19. Jagalah semangat mencegah Covid, agar segera berhenti dan agar wisatawan bisa hadir, sehingga ekonomi dan UMKM bisa normal.

Tentu akan menghasilkan sesuatu untuk daerah kita. Bersatu padu membangun daerah kita,” tegasnya.

BACA JUGAVarietas Anggur Bermacam-macam Tumbuh Subur di Desa Pendua

Sementara itu, Pimpinan Operation Head PT. Pertamina DPPU BIL, H. Boedi Poerwanto, menyampaikan bahwa Pantai Nipah merupakan destinasi wisata yang dianugerahi keindahan alam dengan jejeran pantai eksotik serta didukung dengan keanekaragaman hayati.

“Dengan menawarkan destinasi unggulan konservasi Penyu dapat menyumbangkan volume kunjungan wisata di Nipah, setelah pandemi usai. Dalam upaya pengembangan promosi pariwisata. Saya menawarkan konservasi Penyu yang dikelola oleh pemuda Nipah melalui TCC,” ujar Boedi.

Acara yang dihadiri sejumlah pejabat daerah, aparat keamanan dan masyarakat tersebut dilanjutkan dengan penandatangan prasasti pelepasan penyu di pesisir Pantai Nipah.

wld




Tabungan Sampah, Berkah Ekonomis dari Pelestarian Lingkungan

Program Ijo Nol Nol Dedoro yang diluncurkan Pemerintah Lombok Barat (Lobar) dengan tabungan sampahnya, adalah pelibatan pelajar dalam gerakan lingkungan sekaligus bernilai ekonomi.

LOBAR.lombokjournal.com ~ Menurut Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Sitti Rohmi Djalilah, Program Ijo Nol Nol Dedoro yang mendukung program unggulan Zero Waste, ini sangat tepat sebab melibatkan para pelajar serta adanya tabungan sampah bagi mereka.

Tabungan Sampah
Hj. Sitti Rohmi Djalilah

“Masyarakat harus mulai berpikir sampah bisa menjadi berkah bernilai ekonomis. Begitupula dengan tabungan sampah pelajar ini mereka bisa memenuhi kebutuhan sendiri seperti uang sekolah atau lainnya”, jelas Sitti Rohmi, saat peluncuran Beriuq Digital di Bencingah kantor Bupati Lombok Barat, Gerung, Selasa (24/8).

Program satu rekening satu pelajar (Kejar) dalam mendukung program lingkungan dan digitalisasi bank sampah yang diinisiasi oleh BNI, OJK dan Pemkab Lobar diniatkan melibatkan pelajar dalam gerakan pelestarian lingkungan sekaligus menabung.

Direktur BNI, Roni Fenir, mengatakan, potensi pelajar Indonesia sebanyak 55,7 juta dan di NTB sendiri sebanyak 1,13 juta. Potensi dana menabung ini selain untuk kebutuhan pelajar juga pembiayaan sektor lain seperti UMKM.

“Karena dana tabungan pelajar lebih lama mengendap hanya dikeluarkan untuk kebutuhan tertentu. Potensinya miliaran sehingga bisa mendukung pembiayaan lain”, jelas Roni.

BACA JUGAIjo Nol Nol Dedoro, Program Kelola Sampah Sejalan Zero Waste

Program Ayo Menabung dengan Sampah ini adalah pilot project di 48 sekolah se Lobar dan 19.064 orang pelajar dan tercatat dalam rekor MURI sebagai pembukaan nasabah bank sampah terbanyak. Selain itu, program yang digagas melalui smart city ini mendukung percepatan sistem digitalisasi. Sejauh ini Pemkab Lobar telah melakukan digitalisasi di dua pasar untuk pembayaran retribusi pedagang.

Bupati Lobar, H. Fauzan Halid mengatakan, target digitalisasi ini untuk seluruh pasar di Lobar.

“Kita juga akan membuat tim percepatan digitalisasi sesuai Kepres,” tuturnya.

jm




Ijo Nol Nol Dedoro, Program Kelola Sampah Sejalan Zero Waste

Ijo Nol Nol Dedoro yang diluncurkan pemerintah Lombok Barat sejalan dengan program Zero Waste dan bisa menjadi contoh konsep pembangunan berbasis desa.

LOBAR.lombokjournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Sitti Rohmi Djalillah, mengapresiasi program Ijo Nol Nol Dedoro yang diluncurkan oleh pemerintah kabupaten Lombok Barat.

Ijo
Hj. Sitti Rohmi Djalilah

“Program ini sangat sejalan dengan program Zero Waste. NTB itu surga yang harus dijaga bersama sama. Program Ijo Nol Nol Dedoro ini tidak boleh gagal karena harus jadi contoh pembangunan berbasis desa”, ujar Wagub membuka peluncuran Beriuq Digital di Bencingah kantor Bupati Lombok Barat, Gerung, Selasa (24/8).

Sitti Rohmi mengatakan, program pemerintah provinsi dalam menangani sampah dilakukan mulai dari hulu sampai hilir. Salah satunya melibatkan bank sampah sampai ke dusun dusun seperti yang akan dilakukan oleh program pemkab Lobar yang menyasar pelajar melalui tabungan sampah.

Di hilir, pemprov telah bekerjasama dengan PLTU Jeranjang dalam pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar, pabrik bata plastik dan lainnya.

BACA JUGATabungan Sampah, Berkah Ekonomis dari Pelestarian Lingkungan

Sementara itu, Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Halid mengatakan, program lingkungan sebenarnya sudah banyak di Lombok Barat, termasuk perangkat aturannya. Ia berharap dengan program ini akan menghidupkan lagi aturan dan merubah perilaku masyarakat dalam menangani sampah mereka.

Ijo
H. Fauzan Halid

Lobar menyumbang sampah 800 ton per-hari dan yang tertangani baru 200 ton. Sisanya belum tertangani dengan baik. Saat ini tempat pengelolaan sampah terbaru ada di Batu Layar dan Lingsar dengan kapasitas pengolahan 4 hingga 6 ton perhari.

“Dengan program menabung sampah oleh pelajar ini harapannya budaya masyarakat juga akan berubah melalui generasi muda”, ujar Fauzan.

Fauzan mengatakan, potensi pelajar sangat besar. Pengumpulan sampah oleh pelajar di sekolah-sekolah akan dibayarkan melalui tabungan. Pemkab menjanjikan dana stimulus bagi pelajar dan sekolah yang sukses mengelola sampahnya. Saat ini baru tercover 19 sekolah dari 48 sekolah se Lobar.

jm




Gubernur Temui Warga di Tengah Kawasan Sirkuit Mandalika

Bang Zul megakui, masyarakat yang berada di tengah sirkuit, terbatas akses jalan keluar maupun masuk ke pemukimannya

LOTENG.lombokjournal.com ~ Setelah viral berita sejumlah warga Dusun Embunut, Desa Kuta, Lombok Tengah, NTB, yang merusak pagar pembatas di kawasan lintasan Sirkuit MotoGP Mandalika untuk dijadikan akses jalan, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, tanpa protokoler mengunjungi warga setempat, Minggu (22/08/21).

Bang Zul panggilan akrab Gubernur NTB, mengaku penasaran dan ingin melihat langsung keadaan masyarakat

“Saya penasaran ingin melihat secara langsung keadaan masyarakat yang viral dan jadi berita nasional karena terjebak di tengah sirkuit MotoGP Mandalika,” kata Bang Zul didampingi sang istri yang juga Ketua PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati.

BACA JUGA: Menjaga Ketahanan UMKM di Masa Pandemi Merupakan PR Besar

Bang Zul berpenampilan sederhana, jauh dari kesan formalitas layaknya pejabat umumnya, dikenal masyarakat selalu blusukan dan menemui warganya tanpa terikat dengan protokoler.

“Saya ingin mendengarkan langsung keluhan masyarakat di lapangan, sambil ngobrol dan ngopi dengan warga,” ujarnya.

Sejak menjadi anggota DPR RI, Bang Zul dikenal senang menyerap langsung suara masyarakat kecil. Ia mengaku memang senang bertemu langsung dengan masyarakat.

“Jadi seperti hobi, ada keasyikan tersendiri,” ujarnya.

Selain itu ia mengakku ingin mengerti dan meresapi langsung situasi di lapangan. Menurutnya, silaturahmi dengan masyarakat tanpa protokoler akan terkesan santai dan lebih diterima oleh masyarakat.

Diakuinya, warga ternyata memang perlu mendapat perhatian walaupun tidak seheboh yang diberitakan.

BACA JUGA: Sulis Lida 2021, Didukung Gerakan Gotog Royong OPD

Masyarakat yang berada di tengah sirkuit, setelah aspal sirkuit rampung 100 persen, kesulitan dan terbatas akses jalan keluar maupun masuk ke pemukimannya.

Penyebabnya, pihak pekerja sirkuit sedang fokus menyelesaikan deadline serta load pekerjaan yang banyak, sehingga menyebabkan pekerjaanya menjadi sangat extra ketat.

Apalagi yang bertanggungjawab terhadap project banyak, mulai dari WIKA, PP, ITDC, MGPA dan lain-lain.

“Hal ini salah satu penyebab sehingga akses jalan keluar masuk masyarakat sempat terabaikan,” ungkapnya.

Mantan anggota DPR RI ini berharap, ITDC sebagai pengelola KEK MAndalika dan sirkuit harus memperbaiki pola komunikasi dengan kontraktor-kontraktor di lapangan.

“Agar hal-hal seperti kemarin tidak terjadi lagi akibat miskomunikasi,” kata gubernur.

Ada 2 akses keluar masuk untuk warga yang berada di tengah sirkuit yaitu Tunnel (terowongan) 1 dan Tunnel 2.

Persoalan beberapa hari yang lalu terjadi karena terowongannya dipenuhi air akibat rembesan, sehingga susah dilewati masyarakat.

Gubernur minta agar pihak ITDC atau kontraktor yang bertanggubgjawab terhadap hal tersebut, harus segera mengatasi masalah terowongan yang di penuhi air ini.

“Supaya tidak lagi terjadi hal yang sama,” katanya.

Setelah mengunjungi dan melihat serta ngobrol dengan para pekerja di lapangan, tampaknya sudah ada upaya untuk memasang pompa di bagian utara dan selatan utk mengeringkan terowongan yang dipenuhi air.

Namun, apabila terowongan tidak bisa dikeringkan maka harus dibuat akses dan jalan yang lain.

“Alhamdulillah kalau pompa ini dipasang dan berfungsi dengan normal, Insya Allah akses keluar masuk warga setempat tidak lagi jadi masalah,” harap gubernur.

Selain itu, lokasi di dalam sirkuit Mandalika, tempat pemukiman warga memang indah banget. Pemandangan laut yang indah serta menghadap sirkuit MotoGP memang menghasilkan sensasi dan pesona tersendiri.

“Jadi kalau ITDC, mau menjadikannya sebagai pemukiman memang sangat masuk akal,” kata Bang Zul.

Warga yang ada di area sirkuit juga mengaku, apabila tanahnya sudah di bayar, ingin segera pindah.

Oleh sebab itu, kata Bang Zul, kalau ITDC, karena keterbatasan dana akibat Covid tidak mampu membayar ganti rugi tanah warga, maka solusi jangka pendeknya harus segera ditemukan.

Namun, kalau ITDC ingin tetap mempertahankan masyarakat yang ada di dalam sirkuit, maka harus segera ditata dan diberdayakan segera, sehingga indah dan elok dilihat, menjadi bagian yang berpartisipasi aktif dalam events di Mandalika.

“Bukan terasing di atas tanahnya sendiri,” tegas gubernur.

Kalau masih tersisa masalah-masalah, harus segera diselesaikan dengan penuh kekeluargaan dan dengan mengedepankan musyawarah, serta dialog yang penuh kehangatan dan persahabatan.

Sirkuit Mandalika adalah kebanggaan masyarakat semua. Ini etalase yang membanggakan, bukan hanya bagi NTB tapi juga bagi bangsa Indonesia.

Usai menemui dan ngobrol dengan warga, Bang Zul meninjau terowongan dan sejumlah pekerja.

Hari libur ia sempatkan untuk santai dan menikmati suasana pantai Mandalika bersama istrinya. Ia juga mengendarai motor dan hanya ditemani ajudannya.

edy