Hadirnya pusat riset bertaraf internasional di Teluk Ekas diharapkan jadi solusi persoalan klasik budidaya rumput laut
MATARAM.LombokJournal.com ~ Pemerintah Pusat menetapkan Teluk Ekas, Lombok Timur, sebagai lokasi International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau Pusat Riset Rumput Laut TropisDunia.
Penetapan Teluk Ekas sebagai ITSRC, merupakan bagian dari strategi nasional penguatan ekonomi pesisirdan hilirisasi sektor kelautan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan, penguatan riset rumput laut merupakan langkah strategis. Tujuannya mewujudkan Indonesia sebagai pusat rumput laut dunia.
Menurutnya, pembangunan ITSRC di Teluk Ekas menjadi pondasi membangun ekosistemriset bertaraf global. Dan mendorong transformasi ekonomi pesisir berbasis ilmu pengetahuan.
Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global.
Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai sekitar 12 miliar dolar AS per tahun dan diproyeksikan terus meningkat.
Namun, posisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri.
Karena itu, ITSRC di Teluk Ekas dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional. Termasuk kerja sama dengan University of California, Berkeley, serta Beijing Genomics Institute (BGI) dari Tiongkok.
BGI berkomitmen mendukung pendanaan sekitar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, sementara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengalokasikan Rp1,5 miliar pada tahap awal.
Laboratorium Rumput Laut
Sejumlah fasilitas akan dibangun di kawasan ITSRC DI Teluk Ekas, antara lain gedung penelitian, asrama peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya.
Secara ekologis, Teluk Ekas dinilai ideal sebagai living laboratory karena memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung dengan sirkulasi air yang baik.
Kawasan Teluk Ekas potensial untuk pengembangan berbagai jenis rumput laut, seperti Kappaphycus, Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.
Menindaklanjuti penetapan tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyambut positif kehadiran ITSRC di Teluk Ekas.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Muslim, menyampaikan apresiasi atas hadirnya pusat riset bertaraf internasional tersebut, yang diharapkan menjadi solusi atas persoalan klasik budidaya rumput laut, khususnya kelangkaan bibit unggul.
“Pemprov NTB sangat mengapresiasi kehadiran laboratorium rumput laut ini. Selama ini salah satu kendala utama petani adalah keterbatasan bibit berkualitas. Dengan adanya ITSRC, kami berharap masalah tersebut bisa teratasi. Ke depan, pusat riset ini juga diharapkan menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pelatihan bagi masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan pengembangan rumput laut di NTB,” ujar Muslim.
Ia menambahkan, NTB memiliki potensi besar sebagai sentra budidaya rumput laut nasional.
Karena itu, kolaborasi riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta transfer teknologi dari ITSRC diyakini akan mempercepat peningkatan produktivitassekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sebagai bagian dari penguatan riset dan pengabdian berbasis potensi daerah, Universitas Mataram turut berperan dalam pengembangan ITSRC Ekas Buana Lombok Timur. ITSRC akan dikembangkan sebagai pusat riset rumput laut bertaraf internasional.
Pusat riset itu melalui kolaborasi dengan para peneliti dunia, dilengkapi laboratorium, sarana riset, hingga dukungan kapal penelitian.
Selain pusat riset rumput laut, Universitas Mataram juga membangun Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan wilayah kepulauan sekaligus mendukung pengembangan pendidikan dokter spesialis.
Agar masyarakat pesisir—khususnya di Lombok Timur—dapat memperoleh akses layanan medis yang lebih dekat dan berkualitas.
Melalui kehadiran ITSRC, Pemprov NTB optimistis Teluk Ekas akan berkembang sebagai pusat inovasi rumput laut tropis dunia, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi pesisir yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat. Kominfotik
Pencegahan Perkawinan Anak di NTB
Sosialisasi dan edukasi kepada orang tua serta masyarakat luas untuk pencegahan perkawinan anak itu masih sangat dibutuhkan
MATARAM.LombokJournal.com ~ Upaya pencegahan perkawinan anak ditegaskan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi NTB, Sinta Agathia.
Ditegaskannya, dalam pencegahan perkawinan anak itu penting melibatkan suara anak dan remaja secara langsung dalam upaya pencegahan perkawinan anak.
Sinta Agathia mengatakan, anak-anak kerap memiliki pemahaman yang lebih jujur dan mendalam mengenai realitas perkawinan anak yang terjadi di lingkungan mereka.
Hal itu disampaikan Bunda Sinta saat hadir dalam kegiatan Youth Consultation dengan tema pencegahan perkawinan anak yang diselenggarakan Plan International Indonesia di Mataram, Rabu (18/02/26).
Diungkapkannya, TP-PKK telah terjun langsung selama satu tahun terakhir, dan menyadari bahwa masih ada pendekatan yang belum tepat sasaran.
“Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan masukan dari anak-anak dan remaja agar intervensi yang dilakukan benar-benar efektif,” ungkap Ketua Tim TP-PKK NTB..
Bunda Sinta menekankan pentingnya setiap keluarga untuk memahami bahwa perkawinan tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Justru menambah beban baru dalam kehidupan keluarga.
Karena itu, sosialisasi dan edukasi kepada orang tua serta masyarakat luas untuk pencegahan perkawinan anak itu masih sangat dibutuhkan. “Agar remaja dapat menikmati masa mudanya melalui kegiatan yang produktif dan positif,” katanya..
Lebih lanjut dijelaskan, permasalahan perkawinan anak di NTB sangat kompleks dan penanganannya. Tidak bisa diseragamkan antara wilayah Lombok dan Sumbawa.
“Sering kali adat disalahkan, padahal faktanya kasus serupa juga terjadi di wilayah lain. Ini adalah persoalan sistemik yang saling berkaitan, seperti mata rantai, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga migrasi tenaga kerja,” ujarnya.
Dirinya, juga mengapresiasi adanya pendekatan di luar jalur pengadilan, yang dinilai lebih persuasif dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak dan keluarga.
Bahkan, sejumlah pemerintah kabupaten telah menunjukkan komitmen dalam pencegahan perkawinan anak itu.
Salah satunya dengan percepatan pengesahan peraturan bupati terkait pencegahan perkawinan anak. Serta keberhasilan menggagalkan sejumlah permohonan dispensasi nikah.
Hal itu dilakukan melalui edukasi dan pendampingan melalui program khususnya gerakan Sahabat Pengadilan dan Program Gemercik (Gerakan Meraih Cita tanpa Kawin Anak) yang diinisiasi oleh Yayasan Plan International Indonesia.
Prioritas Utama
Dalam kesempatan sama, Sabaruddin, projek manager Yayasan Plan International Indonesia menyampaikan, pencegahan perkawinan anak merupakan salah satu prioritas utama selama sepuluh tahun terakhir.
Program itu dijalankan melalui berbagai program, seperti Yes I Do!, Let’s Talk!, dan GEMERCIK (Gerakan Meraih Cita tanpa Kawin Anak). Program GEMERCIK sendiri menitikberatkan pada pelibatan anak dan remaja, penguatan kapasitas satuan tugas, serta kolaborasi lintas sektor, termasuk pengadilan agama dan keluarga.
Plan bekerjasama dengan Kabupaten Lombok Utara mencetuskan program Gemercik dengan melakukan intervensi peningkatan kapasitas satgas perkawinan anak yang ada di Lombok Utara.
Program ini menggabungkan anak remaja dan sahabat pengadilan sebagai wadah dalam berpartisipasi untuk melakukan edukasi kepada anal dan keluarga,” jelas Sabaruddin. A
Berdasarkan data yang dihimpun, NTB masih mencatat angka perkawinan anak yang tinggi, dengan sebagian besar permohonan dispensasi nikah disetujui oleh pengadilan agama.
Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya pencegahan yang lebih kuat sejak hulu, terutama melalui edukasi keluarga dan remaja.
Sabaruddin menegaskan bahwa perkawinan anak bukan semata-mata kesalahan individu, melainkan hasil dari sistem yang masih memiliki banyak celah untuk diperbaiki.
Melalui forum konsultasi anak muda ini, diharapkan lahir rekomendasi dan aksi nyata pencegahan perkawinan anak yang lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak. nov/her
Desa Berdaya, NTB Tangani 106 Desa Prioritas
Program Desa Berdaya sebagai upaya penanganan kemiskinan ekstrem secara terintegrasi
MATARAM.LombokJournal.com ~ Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan, pentingnya kolaborasiterpadu pemerintah dan mitra pembangunan dalam program Desa Berdaya untuk tangani kemiskinan ekstrem.
Pemprov NTB siap memimpin keterpaduan program agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran di 106 desa prioritas.
Gubernur Iqbal memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi program Desa Berdaya bersama Mitra Pembangunan Pemerintah Provinsi NTB di Mataram, Jum’at (23/01/26).
Menurutnya, pengentasan kemiskinan ekstrem merupakan pilar utama pembangunan daerah dalam lima tahun ke depan.
Di NTB terdapat 106 desa kategori desa dengan kemiskinan ekstrem.
“Target utama kita adalah menghilangkan kemiskinan ekstrem. Ini adalah fondasi paling mendasar sebelum menyelesaikan persoalan sosial lainnya,” tegasnya.
Gubernur Iqbal menyoroti sejarah panjang keterlibatan mitra pembangunan di NTB sejak puluhan tahun silam. Pengentasan kemiskinan selama ini belum maksimal. Karena kurangnya kolaborasi yang terstruktur.
“Persoalannya adalah lack of orchestration, tidak ada yang mengorkestrasi, tidak ada dirigennya. Masing-masing jalan sendiri.” ujarnya dalam pengarahan terkait program Desa Berdaya itu.
Kemiskinan merupakan akar berbagai persoalan sosial, seperti pernikahan di usia dini. Karena itu, penyelesaiannya tidak bisa dilakukan secara parsial namun harus terintegrasi. Untuk mengatasinya, Pemprov NTB mengimplementasikan program “Desa Berdaya” sebagai upaya penanganan kemiskinan ekstrem secara terintegrasi.
Pemerintah menyediakan basis data yang akurat mengenai lokasi sesuai kebutuhan desa. Dengan data tersebut, mitra pembangunan diharapkan menyelaraskan program kerja agar tidak tumpang tindih.
“Pemerintah provinsi menyediakan data dan memberikan arahan. Teman-teman mitra pembangunan yang memainkan alat musiknya, tetapi iramanya harus sama,” jelasnya.
Visi utamanya mengurangi kemiskinan, sementara aspek unggulan lainnya seperti ketahanan pangan dan pariwisata diposisikan sebagai alat (tools) atau instrumen mencapai tujuan.
“Tujuan utamanya nomor satu. Nomor dua, nomor tiga sebetulnya tools, alat untuk mengeluarkan dari kemiskinan tersebut,” jelasnya.
Melalui rapat koordinasi, diharapkan tercipta kesepahaman bersama antara pemerintah daerah dan mitra pembangunan dalam mengaplikasikan Desa Berdaya. (don-shr/dyd)
Cuaca Ekstrem, BPBD NTB Pimpin Komando Terpadu
Antisipasi cuaca ekstrem dilakukan sejak dini melalui mekanisme komando terpadu
MAARAM.LombokJournal.com ~ Menghadapi potensi cuaca ekstrem dasarian III Januari 2026, periode 21–31 Januari, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaktifkan komando terpadu lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Berdasarkan informasi dan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah NTB, khususnya di kawasan lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.
Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Ahsanul Khalik menegaskan, pemerintah daerah melakukan antisipasicuaca ekstrem sejak dini melalui mekanisme komando terpadu yang dipimpin oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB sebagai leading sektor kebencanaan.
“Pemerintah Provinsi NTB tidak menunggu kejadian. Kesiapsiagaan dibangun berbasis prakiraan cuaca dan upaya pencegahan untuk meminimalkan risiko serta menjaga keselamatan masyarakat”, ujar Ahsanul Khalik di Mataram, Kamis (22/01/26).
Anaalisis BMKG, potensi hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 70 hingga lebih dari 90 persen di wilayah Sembalun, Bayan, Labuhan Badas, Pekat, dan Tambora.
Wilayah tersebut merupakan kawasan strategiskarena berfungsi sebagai sentra pertanian dan perkebunan. Dan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Pemprov NTB telah menggerakkan OPD sesuai tugas dan fungsinya. BPBD Provinsi NTB melakukan pemantauan intensif di wilayah rawan, menyiapkan personel dan logistik kebencanaan, serta memperkuat sistem peringatan dini dan respons cepat.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, Seperti drainase, gorong-gorong, saluran irigasi, serta melakukan pemantauan dan penanganan titik-titik rawan banjir dan longsor, termasuk kesiapan penanganan darurat akses jalan.
Di sektor ketahanan pangan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB melakukan pendampingan kepada petani untuk mengantisipasi potensi gagal panen, mendorong penyesuaian pola tanam, serta memperkuat perlindungan lahan pertanian di kawasan rawan bencana.
Dinas Sosial menyiapkan layanan kedaruratan sosial, termasuk dapur umum dan dukungan logistik bagi masyarakat terdampak apabila diperlukan evakuasi.
Unsur TNI/Polri juga digerakkan, Basarnas, Taruna Siaga Bencana (Tagana), relawan kebencanaan, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintah desa guna memperkuat respons dan koordinasi di lapangan.
“Koordinasi ini dibangun sejak awal agar risiko cuaca ekstrem dapat ditekan semaksimal mungkin, keselamatan masyarakat terjaga, dan aktivitas ekonomi, khususnya di kawasan sentra pangan, dapat tetap berlangsung”, pungkas Ahsanul Khalik. (edo/jmy)
Koreografer Muda NTB yang Berprestasi Bermunculan
Para koreografer muda berbakat yang berprestasi internasional itu akan mengharumkan nama daerah
MATARAM.LombokJournal.com ~ Para koreografer muda Nusa Tenggara Barat yang menunjukkan karya-karya terbaiknya menyajikan karya-karyanya dalam tajuk “Yang Muda Yang Berkarya” di gedung tertutup Taman Budaya NTB, Sabtu (27/09/25) malam.
Tari MARING SEJIWE
Tujuh koreografer berbakat itu masing-masing Sella Ayu Aprilina, Alliya Andarin, Auliyah Azizah, Selly Ayu Aprilia, Ayu Laksmi Juliantari, I Gusti Ayu Agya Kirania, dan Ni Luh Putu Gek Mirah.
Karya tari yang disuguhkan malam itu bukan saja menuai decak kagum penonton. Bahkan para seniman menilai karya tari itu merupakan karya yang sarat pembaruhan yang mengolah semangat dan roh tradisi Lombok. Seni tradisi selain makin dinamis sekaligus menunjukkan daya kreatif besar dari para koreografer belia yang bicara kepedulian sosial.
Dalam karya Maring Sejiwe, koreografer Sella Aprilina mengangkat persahabatan di masa pandemi Covid Solidaritas ditampilkan dengan cara membuka kesempatam dan ruang untuk penyadang disabilitas agar berprestasi untuk indonesia maju.
Tujuh karya tari dari para koreografer muda itu mencatat prestasi mulai tingkat provinsi, nasional hingga dalam forum bergengsi internasional. Sebut saja karya tari ‘Maring Sejiwe’, selain karya tari ini menjadi juara 1 (medali emas) FLS2N tk Nasional th 2022 jenjang SMP. Juga meraih medali emas lomba Tari Internasional di Ceko th 2022 mewakili Indonesia.
“Para koreografer muda itu merupakan generasi emas dalam bidang seni, khususnya seni tari, yang akan mengharumkan nama NTB,” tutur Kepala Taman Budaya NTB, Suryadi Mulawarman di kantornya usai pergelaran tari.
Di tengah miskinnya prestasi karya seni modern NTB di level nasional dan internasional, karya yang disajikan para koreografer muda berbakat itu sungguh membanggakan. Menurut Surya, menilik prestasi menonjol koreografer muda berbakat itu, maka sudah selayaknya mereka diberi ruang untuk tampil di Taman Budaya..
“Bahkan Taman Budaya wajib memberi ruang seluasnya guna mendukung prestasi mereka,” ujar Surya sungguh-sungguh.
Mengangkat Taman Budaya
Kepala Taman Bufaya NTB, Suryadi Mulawarman
Sejak Surya Mulawarman, ASN yang juga yang juga dikenal sebagai koreografer, membuat lembaga Taman Budaya NTB terangkat pamornya. Baru-baru ini Taman Budaya NTB mengirim para penari profesional dalam perayaan Hari Ulang Tahun RI ke 80 di Istana Negara. Bersamaan dengan itu Surya juga mengajak Satpam, cleaning serivice dan beberapa pegawai Taman Budaya berangkat ke Istana Negara untuk menarikan tari Rudat Lombok.
“Saya berusaha meningkatkan pamor Taman Budaya yang selama ini tidak mengambil peran dalam event besar,” ujar Surya. Tahun ini para penari yang dikordinasikan Taman Budaya NTB juga berperanan menyemarakkan event MotoGP 2025 di Sirkuit Mandalika.
Meski demikian Surya sebagai Kepala Taman Budaya tak luput dari yang mengkritisi kiprahnya. Misalnya, upaya mengangkat para koreografer muda berbakat itu dicurigai nepotis, karena dinilai hanya menampilkan orang-orang di lingkarannya.
“Kalau saya memberi ruang pada koreografer yang berprestasi itu, mendorong mereka agar lebih berprestasi lagi, apa itu nepotis?“ kata Surya bertanya keheranan.
Diakuinya, Surya mengenal para koreografer itu tapi tidak serta merta ia melakukan praktik nepotisme. Sebab siapa pun yang berprestasi akan diberi kesempatan yang sama.
Surya menegaskan bahwa ia tidak alergi kritik, tapi sikap kritis yang dibebani tendensi tertentu justru terkesan menyerang pribadi.
“Kritik seniman seharusnya juga menimbang prestasi kesenian. Kalau tidak, itu akan mengeruhkan upaya kita untuk menumbuhkan iklim berkesenian yang sehat,” ujar Surya sambil tersenyum . rsy
Proses Kreatif Whyper di Acara Microfest-nya Akar Pohon
Perjalanan proses kreatif Whyper bukanlah kebetulan, melainkan kelanjutan dari tradisi purba itu bahwa imaji mendahului narasi
Catatan Agus K Saputra
MATARAM.LombokJournal.com ~ Menarik sekali menyaksikan perbincangan Tara Febriani Khaerunnisa dalam Perupa Bicara yang (antara lain) mengulik proses kreatif Lalu Wahyu Permana. Pada acara Microfest yang dihelat komunitas Akar Pohon Mataram, Jum’at (19/09/25) di Éclair Coffee.
Microfest tahun ini memasuki tahun ketujuh, sekaligus tahun ketiga festival yang berangkat dari tema hereditas atau warisan. Kali ini Akar Pohon mengambil tajuk “Silangan”.
Dengan empat buku yang terpilih: Taman Kate-Kate (Maria Dermout, 1988-1962), Manusia Bebas (Suwarsih Djojopuspito (1912-1977), Orang-Orang Bloomington (Budi Dharma, 1937-2021), dan Siklus (Mohammad Diponegoro, 1928-1982).
Jejak Awal: Menggambar Sebelum Menulis
Ada sesuatu yang filosofis dalam fakta, dalam proses kreatif Lalu Wahyu Permana, yang lebih dikenal dengan nama Whyper, belajar menggambar sebelum ia mampu menulis huruf. Bagi banyak orang, menulis adalah pintu masuk ke dunia simbol, representasi, dan bahasa. Tetapi bagi Whyper, dalam proses kreatif itu jalannya berbelok lebih awal: ia memasuki semesta ekspresi melalui visual. Sejak kecil ia telah akrab dengan gambar Dinosaurus, bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai cara menyusun dunia di dalam dirinya.
Fenomena ini mengingatkan kita pada sebuah pandangan dalam filsafat seni bahwa gambar, sebelum huruf, adalah bahasa pertama manusia. Gua-gua purba Lascaux di Prancis atau lukisan cadas di Sulawesi adalah bukti bahwa manusia lebih dahulu berbicara dengan gambar ketimbang kata. Dengan demikian, perjalanan proses kreatif Whyper bukanlah kebetulan, melainkan kelanjutan dari tradisi purba itu bahwa imaji mendahului narasi, dan visual sering kali lebih jujur daripada kata-kata.
Sejak SD hingga SMA, Whyper terus setia pada seni rupa, mengikuti lomba demi lomba. Media yang dipilihnya pun sederhana: crayon dan cat air. Kedua medium ini, dalam filsafat estetika, bisa dilihat sebagai bentuk medium yang “intim.” Crayon menuntut sentuhan langsung, kedekatan tangan dengan kertas. Cat air menuntut kelenturan, menerima aliran yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan. Seolah sejak awal Whyper telah berlatih berdamai dengan medium yang menuntut kerjasama antara kehendak manusia dan sifat materialnya.
Transformasi: Dari Medium Tradisional ke Digital
Tahun 2017 menjadi momen penting: Whyper beralih ke media digital. Bagi sebagian orang, peralihan dari medium tradisional ke digital hanyalah persoalan teknis, persoalan alat. Namun secara filosofis, ini adalah peralihan ontologis. Dunia digital menggeser batas antara realitas dan imajinasi. Dengan digital, karya seni tidak lagi tunduk sepenuhnya pada hukum material—kertas yang robek, cat yang luntur —tetapi pada hukum algoritma.
Langkah Whyper bisa dipahami sebagai bentuk kesadaran zaman. Seni rupa tidak pernah statis; ia selalu bergerak mengikuti denyut teknologi dan budaya.
Whyper melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menyesuaikan diri: ia menjadikan digital sebagai lahan baru untuk menyemaikan imaji-imaji lamanya. Apa yang sebelumnya dikerjakan dengan crayon dan cat air, kini menemukan wujud baru dalam layar, piksel, dan perangkat lunak.
Peralihan itu bukan sekadar langkah adaptif, melainkan langkah eksistensial.
Heidegger pernah menulis bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi cara mengungkapkan dunia. Dengan memasuki media digital, Whyper sedang mengungkapkan ulang dunianya. Dunia yang semula cair dan lembut melalui cat air, kini ditata ulang melalui kolase digital yang kompleks.
Menjadi Profesional: Seni sebagai Jalan Hidup
Pada tahun 2020, Whyper resmi menapaki jalan sebagai seniman visual profesional. Momen ini penting untuk dilihat secara filosofis. Profesi bukan hanya status sosial atau ekonomi, tetapi juga komitmen eksistensial.
Dengan menyatakan diri sebagai seniman profesional, Whyper menegaskan bahwa seni bukan sekadar hobi, bukan sekadar pelarian dari rutinitas, melainkan jalan hidup.
Dalam tradisi filsafat eksistensial, terutama Sartre, pilihan untuk menempuh jalan tertentu adalah peneggasan kebebasan.
Dengan menjadi seniman, Whyper tidak hanya memilih pekerjaan, tetapi memilih makna bagi keberadaannya. Proyek-proyek nasional maupun internasional yang ia ikuti adalah bukti bahwa kebebasan itu bertemu dengan tanggung jawab. Ia bukan lagi sekadar menggambar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi dunia yang lebih luas, dengan konsekuensi dan tantangan yang nyata.
Kolase sebagai Filosofi
Yang menarik, dalam karya digitalnya Whyper banyak menggunakan konsep kolase. Di sini, kita menemukan sisi filosofis yang lebih dalam. Kolase bukan sekadar teknik menyatukan potongan-potongan gambar.
Kolase adalah pernyataan ontologis bahwa realitas itu sendiri tersusun dari fragmen-fragmen. Dunia bukanlah totalitas yang bulat dan tunggal, melainkan serpihan-serpihan yang, ketika digabungkan, membentuk makna.
Dalam proses kreatif itu ,Whyper memasuki semesta ekspresi melalui visual
Ketika Whyper merespon cerpen-cerpen Budi Dharma dalam buku Orang-Orang Bloomington, ia memilih tiga cerita: Yorick, Orez, dan Nyonya Elberhart. Pilihan ini bukan kebetulan. Ia memilih berdasarkan resonansi emosional: kesebalan, keunikan, dan kesedihan. Tiga emosi ini kemudian divisualkan melalui kolase.
Filosofinya jelas: emosi manusia sendiri adalah kolase. Kita jarang mengalami emosi murni; marah bercampur dengan sedih, gembira bercampur dengan rindu.
Whyper pun tidak hanya menampilkan karakter utama, tetapi juga karakter sampingan, adegan kecil, detail minor. Semua itu dianggap penting.
Pandangan ini memiliki landasan filosofis yang mirip dengan pemikiran strukturalisme: tidak ada elemen yang sepenuhnya bisa dipahami secara terpisah. Sebuah cerita hanya bisa dimengerti melalui relasi antarbagian, dan setiap bagian, sekecil apa pun, menopang keseluruhan.
Dengan kata lain, kolase Whyper adalah bentuk visualisasi dari pandangan struktural: totalitas dibangun dari relasi fragmen.
Membaca Narasi, Menulis Visual
Proses kreatif Whyper dalam memvisualkan karya Budi Dharma menunjukkan hubungan yang intim antara teks dan gambar. Ia tidak menciptakan karakter-karakter secara bebas, melainkan berangkat dari deskripsi yang ditulis pengarang.
Yorick divisualkan seperti tengkorak, Orez dengan mata besar sebelah dan tubuh besar, Nyonya Elberhart dengan rambut putih dan ekspresi penyabar.
Dalam filsafat hermeneutika, seni adalah bentuk interpretasi. Membaca adalah menafsirkan, dan menggambar adalah menafsirkan ulang. Whyper menjalani proses hermeneutis ganda: ia membaca teks Budi Dharma, menafsirkan makna emosionalnya, lalu menuliskannya ulang dalam bahasa visual.
Dengan demikian, karya visualnya bukan sekadar ilustrasi, melainkan dialog. Ia membuka ruang percakapan antara literatur dan seni rupa, antara kata dan gambar, antara emosi dan bentuk.
Eksperimen dan Identitas
Proses kreatif Whyper tidak berhenti pada kolase saja. Ia terus mencoba teknik-teknik lain, style warna baru, tekstur yang beragam. Dari sini tampak kesadaran filosofis yang penting: identitas bukanlah sesuatu yang statis, melainkan proses yang terus berubah.
Identitas seorang seniman tidak ditentukan oleh satu teknik atau satu gaya, melainkan oleh keberanian untuk terus bereksperimen.
Namun, yang menarik, setelah membaca cerpen-cerpen Budi Dharma, ia justru merasa sepakat dengan dirinya sendiri untuk menggunakan kolase. Artinya, eksperimen yang luas justru membuatnya menemukan titik temu yang lebih jernih. Filosofinya mirip dengan dialektika
Hegelian: melalui proses negasi dan eksplorasi, akhirnya seseorang menemukan sintesis baru. Dalam hal ini, kolase bukan sekadar teknik pilihan, melainkan hasil permenungan panjang terhadap perjalanan estetikanya.
Warna dan Tekstur: Kesadaran Estetis
Whyper menyadari ada kemiripan dalam penggunaan warna di karyanya. Filosofisnya, kesadaran ini menunjukkan bahwa setiap seniman, meskipun berusaha bereksperimen, selalu membawa jejak identitas yang khas.
Warna adalah bahasa bawah sadar yang sering kali lebih jujur daripada konsep. Dalam setiap karya, warna yang dipilih seniman adalah semacam sidik jari estetik, tanda yang sulit dihapus meskipun teknik berganti.
Tekstur, bagi Whyper, juga menjadi ruang eksplorasi. Secara filosofis, tekstur adalah upaya untuk menghadirkan kedalaman dalam permukaan. Dunia tidak pernah hanya permukaan; selalu ada lapisan di bawahnya. Dengan mengutak-atik tekstur, Whyper seakan ingin mengatakan bahwa setiap realitas, termasuk realitas manusia, selalu berlapis dan kompleks.
Seni sebagai Kesadaran Diri dan Zaman
Akhirnya, proses kreatif Whyper bisa dipahami sebagai perjalanan kesadaran: kesadaran diri dan kesadaranzaman. Dari menggambar dinosaurus hingga proyek internasional, dari crayon ke digital, dari eksperimen luas hingga kolase yang reflektif. Ia menunjukkan bahwa seni adalah proses menemukan diri sekaligus menjawab tantangan zaman.
Seni, bagi Whyper, bukan hanya ekspresi personal, tetapi juga dialog dengan narasi besar manusia: literatur, teknologi, emosi, dan realitas. Dalam penemuan proses lreatif, ia meneguhkan pandangan filosofis, seni adalah jembatan antara individu dan dunia.
#Akuair-Ampenan, 20-09-2025
Belasungkawa Atas Meninggalnya Wisatawan Juliana Marins
Dalam suasana belasungkawa Pemerintah Provinsi NTB turut serta dalam doa dan mengenang almarhumah
MATARAM.LombokJoirnal.com ~ Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi NTB, menyatakan belasungkawa kepada keluarga dan kerabat Juliana Marins, Kamis (26/06/25).
Belasungkawa itu disampaikan Pemerintah Provinsi NTB yang menganggap Junliana Marins sebagai tamu kehormatan, Juliana Marins, yang menjadi korban kecelakaan dalam pendakian di Gunung Rinjani.
“Meskipun waktu beliau di tanah kami singkat, kehadiran beliau sangat kami hargai,” ujar Gubernur Iqbal dalam pernyataan resminya.
Dalam suasana belasugkawa, Pemerintah Provinsi NTB turut serta dalam doa dan mengenang almarhumah, serta menyampaikan dukungan sepenuh hati kepada keluarga dan semua pihak yang terkena dampak kehilangan ini.
“Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan kedamaian abadi bagi beliau, dan semoga kekuatan serta ketabahan diberikan kepada mereka yang ditinggalkan,” tambah Gubernur Iqbal.
Pemerintah Provinsi NTB juga menegaskan kembali komitmennyauntuk memastikan keamanan dan kenyamanan seluruh wisatawan yang datang dan tinggal di wilayah NTB.***
Pejabat Fungsional Penting Jaga Hubungan Baik dan Komunikasi
Para pejabat fungsional diingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan atasan, rekan kerja, serta menjaga komunikasi dengan keluarga.
MATARAM.LombokJournal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj. Indah Dhamayanti Putri mengajak seluruh pejabat fungsional yang dilantik untuk menerima tugas yang diberikan sebagai bentuk tanggung jawab spiritual dan profesional.
Hal itu disampaikannya saat melantik pejabat fungsional di lingkungan Pemerintah Provinsi NTB.
Pelantikan pejabat fungsional ini berlangsung di Ruang Rapat Tambora, Kantor Gubernur NTB, pada Senin (23/06/25). Acara pelantikan itu dihadiri oleh jajaran OPD serta para pejabat yang dilantik.
Menurut Wagub, jabatan adalah bentuk kepercayaan sekaligus garis takdir yang harus diterima dengan lapang dada.
“Setiap penempatan yang kita dapatkan itu bukan kebetulan, tapi bagian dari rencana Allah SWT. Maka kita harus berkata pada diri kita sendiri: ini adalah yang terbaik. Karena apa yang Allah tentukan, itu pasti yang paling pas buat kita,” ucap Ummi Dinda..
Wagub mengajak para ASN untuk menanamkan sikap ikhlas dan menikmati proses pengabdian, meski tantangan sering kali datang dari arah yang tak terduga.
“Kita harus menikmati setiap garis takdir yang ditetapkan untuk diri kita. Kadang kita bertanya-tanya kenapa ditempatkan di sana, tapi justru di situlah tempat terbaik kita berkembang,” tambahnya.
Lebih dalam, dalam pelantikan pejabat fungsional itu Umi, Dinda mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan atasan, rekan kerja, serta menjaga komunikasi dengan keluarga.
Ia menyebut doa orang-orang terdekat sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam mengemban amanah.
“Jangan pernah tinggalkan keluarga hanya karena jabatan. Jangan berubah sikap setelah dilantik. Karena bisa jadi keberhasilan kita hari ini adalah buah dari doa orang tua, pasangan, anak, bahkan keluarga besar yang tak pernah kita sangka. Allah kabulkan doa mereka lewat pelantikan ini,” tegasnya.
Umi Dinda mengingatkan agar setiap pejabat fungsional mampu memahami arah pembangunan daerah. Ia berharap pejabat fungsional yang dilantik bisa menjadi motor perubahan dan turut menyukseskan agenda strategis pembangunan NTB.
“Jabatan boleh baru, tapi dedikasi jangan pernah usang. Teruslah melangkah dengan keyakinan dan doa. InsyaAllah, apa yang kita kerjakan akan memberi manfaat, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan NTB,” tuturnya. ***
Pramuka Sebagai Media Pembina Generasi Muda NTB
Wagub NTB menekankan, melalui gerakan pramuka mimpi itu bukan menjadi suatu hal yang mustahil, dan teruslah berlatih agar mimpi menjadi nyata
MATARAM.LombokJouirnal.com ~ Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamayanti Putri, berharap Gerakan Pramuka NTB memberikan kontribusi dari program-program yang bersentuhan langsung dengan aktivitas anak muda saat ini yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Hal itu diungkapkan Umi Dinda sapaan akrab Wagub, dilantik sebagai Wakil Ketua Majelis Pembimbing Daerah.
Ia juga mengucapkan selamat atas pelantikan Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Fathul Gani dan Ketua Lembaga Pemeriksa Keuangan (LPK) Nursalim, Gerakan Pramuka NTB masa bhakti 2024-2029, Minggu (22/06/25).
Menurut Umi Dinda, Pramuka tentunya memiliki peran penting, terutama didalam membina generasi muda.
“Milikilah mimpi yang akan kalian raih bersama, tentunya melalui pramuka mimpi itu bukan menjadi suatu hal yang mustahil dan teruslah berlatih agar mimpi menjadi nyata sehingga dapat membangun NTB dan NKRI yang kita banggakan bersama,” ucap Umi Dinda.
Wagub mengajak gerakan pramuka NTB sebagai garda terdepan dalam membina kaum muda NTB, mendorong mereka menjadi insan yang cinta tanah air, menjunjung tinggi persatuan, peduli lingkungan.
Selain itu siap menghadapi era digital dan globalisasi dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai pancasila dan kebudayaan bangsa.
“Saya memiliki harapan besar kepada kwarda gerakan pramuka NTB selaku yang mewadahi seluruh gerakan pramuka NTB, akan mampu menjawab tantangan pramuka yang semakin kompleks pada saat ini,” kata Umi Dinda.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Mayjen TNI (Purn) Dr. Bachtiar Dalam kesempatan itu menyampaikan sambutannya,
“Pelantikan hari ini bukan hanya seremonial, tetapi menunjukkan komitmendan tanggung jawab moral seluruh pengurus dalam melanjutkan tugas besar membina generasi muda NTB melalui gerakan pramuka dalam membangun sumber daya manusia seutuhnya,” tutur Bachtiar.
Kwartir Nasional memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi NTB yang telah memberikan perhatian besar terhadap pengembangan Gerakan Pramuka.
Baik dalam bentuk dukungan anggaran, penyediaan fasilitas maupun pelibatan aktif dalam kegiatan pembinaan generasi muda sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul NTB yang berdaya saing, berkarakter dan berintegritas ***
NTB Dukung Pengembangan Kawasan Taman Laut
Gubernur NTB mengatakan, peringatan Hari Laut Sedunia merupakan komitmen NTB menjaga dan menguatkan kawasan taman laut
“Kalau kita bicara tentang daerah ini, tidak cukup bicara mengenai pantai. Seperti tadi disampaikan, 3E (Environment, Economy, dan Equity) itu sebetulnya kita bicara tentang ekosistem laut. Ekosistem laut itu bukan hanya lautnya, tapi juga pesisirnya, pantainya, dan manusia yang tinggal di sekitarnya, bahkan udaranya,” tegas Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, dalam sambutannya pada peringatan Hari Laut Dunia dan Hari Segitiga Karang, di Lombok Utara, Senin (09/06/25).
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal menambahkan bahwa kawasan Taman Laut Pandanan merupakan tempat yang sangat spesial. Kawasan ini menjadi jalur migrasi elang alap atau elang Siberia, serta salah satu lokasi terbaik untuk melakukan pengamatan burung (bird watching).
Selain itu, kawasan ini juga memiliki situs vulkanik dari gunung merapi purba.
Selanjutnya miq Iqbal mengatakan Peringatan Hari Laut Sedunia yang dilaksanakan ini, menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga dan mengembangkan wilayah tersebut.
“Ini membutuhkan kesadaran dan komitmen dari kita semua. Yang paling membahagiakan, mendengarkan cerita bagaimana teman-teman mahasiswa dan mahasiswi, teman-teman kampus, memberi perhatian kepada konservasi kelautan ini. Artinya, kalau yang muda sudah memberikan perhatian, masa depan kita cerah,” ujar Gubernur.
Ia juga menegaskan bahwa laut adalah milik bersama, milik semua umat manusia. Apa pun yang terjadi di kawasan ini akan berdampak pada negara-negara lain.