Ketentuan bagasi berbayar telah menyebabkan menurunnya omzet pelaku UMKM. Khususnya, mereka yang berbisnis produk oleh-oleh atau buah tangan
MATARAM.lombokjournal.com – Asosiasi Hotel Mataram (AHM) mengeluhkan harga tiket pesawat yang mahal dan kebijakan bagasi berbayar. Kondisi ini menyebabkan tingkat hunian atau Okupansi Hotel saat ini hanya mencapai 31 persen.
Jika dibandingkan tahun lalu, okupansi Hotel di Mataram berkisar di antara 44 persen. Dihitung dari Januari Tahun sebelumya sekarang berbeda, kisaran turunya hingga 13 persen , yang kita hitung dari januari 2018-Januari 2019.
Hal itu disampaikan Ketua AHM, Ernanda Dewobroto.
“Kondisi harga tiket yang mahal ini telah mengakibatkan berkurangnya perjalanan masyarakat yang berakibat menurunnya hunian ,” kata Ernanda.
Ia mengatakan, maskapai beralasan bahwa harga avtur yang tinggi adalah penyebab mahalnya tiket pesawat. Mau tidak mau pihak maskapai harus mencari cara dengan menaikan harga karena perusahaan maskapai kan swasta, bukan milik negara jadi mereka punya hak untuk itu.
Tak hanya itu. Menurut dia, ketentuan bagasi berbayar telah menyebabkan menurunnya omzet pelaku UMKM. Khususnya, mereka yang berbisnis produk oleh-oleh atau buah tangan.
“UMKM yang berbisnis di bidang oleh-Oleh sekarng juga sepi peminat, gimana mau beli oleh-oleh kalau harga bagasinya saja sangat mahal,” katanya.
Ia menyatakan, jika dari AHM meningkatkan promosi dan dari pariwisata dibantu. Namun untuk saat ini percuma,karena walaupun harga kamar murah,atau banyak promosi tapi jika Harga tiket dan bagasi berbayar, karena orang-orang lebih memilih tinggal dirumah daripada harus liburan keluar daerah.
Ia berharap pemerintah dapat segera mencarikan solusi terhadap kondisi yang ada saat ini.
AYA
