UNBK Dimulai, Diikuti 72 Ribu Lebih Siswa SMA Dan SMK
Soal ujian di daerah terdampak gempa juga diberi keringanan dengan tingkat kesukaran soal yang tidak terlalu Rumit
MATARAM.lombokjournal.com — Ujian Nasional berbasis Komuter (UNBK) mulai dilaksanakan pada Maret hingga April mendatang.
Jumlah siswa yang mengikuti UNBK untuk SMA sebanyak 23.234, SMK 20.531,MA 19.870 jadi totalnya ada 72.635 orang siswa untuk 2019.
Hal ini dismoaikan Kepala Dinas pendidikan dn kebudayaan (Dikbud) NTB H. Muhammad Suruji. Dikatakannya, seluruh Sekolah di NTB baik swasta maupun negeri menggunakan UNBK tanpa terkecuali kabupaten yang terkena musibah gempa bebrapa wktu lalu.
“Seluruhnya menggunakan UNBK, di KLU dan Lombok Timur yang tekena gempa bebraoa waktu lalu juga menggunakan uNBK,” ujarnya
Dikataknnya, jika UNBK di KLU dan Lombok tumur diatasi dengan cara menggabungkan komputer yang masih bisa dipakai dengan satu sekolah yang lain.
“Bersama sama digunakan, karenAsebenarnya untuk UNBK tidak mesti semua sekolah memiliki komputer yang cukup untuk yang jumlah siswa siswinya banyak. Tetapi bisa mengabung artinya di satu tempat bisa bebrapa sekolah melaksankn itu,” terangnya
Terkait Untuk kondisi bangunan tidak layak digunakan di KLU suruji mensiasati dengan menggabungkan tempat ujian, tentunya dengan waktu yang berbeda.
“Gabung ke sekolah lain ada juga skolah swasta yang tidak punya fasilitas bukan karena faktor Fisik yang tdak layak tapi juga ada sekolah yang mungkin jumlah siswanya sedikit.kalau yang ikut ujian Minimal kan 20 orng siswa,” kata Suruji.
Kalau di KLU secara fisik ujiannya menggunakan bangunan yang sudah dibuat saat ini, dan komputerisasinya sudah banyak di suport oleh dikbud sebelum ujian jadi UNBK se NTB dilakskan 100 persen Sekolah negeri maupun swasta .
Selain maslah tempat oelksanaan UNBK, untuk soal ujian di daerah terdampak gempa juga di beri keringanan dengan tinggat kesukaran sil yang tidak terlalu Rumit.
“Soalnya kita diberikan oleh kementrian itu langsung,dengan tingkat kesukaran yang berbeda, lebih rendah dalam kondisi Normal tanpa ada bencana jadi soal yg sekarang secar umum lebih gampang tingkat kesukaran lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” tegasnya
Karena perbedaan perlakun di daerah bencana sudah disepakati dan disupervisi dari pusat, kalau yang tidak terkena bencana soalnya normal,
“Termasuk KLU diberikan soal yang berbeda, beda dengan Mataram karena sekolahnya baik SMA dan SMK lebih siap,” jela Suruji.
Perbedaan perlakuan itu sudah standar dilakukan, karena dimana ada bencana yang tentunya mengganggu proses belajar mengajar terlebih dalam waktu yang lama.
“Karena tidak mungkin kita meminta kondisi dan kwalitas yang sama untuk konsisi yang berbeda, itu memng standar di berlakukan kalau ada bencana sepanjang dalam tahun pelajatan pasti akan ada perlakun Khusus,” kata Suruji.
AYA