Pendidikan Kader Pemula AMAN Mataram
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Mataram (AMAN} Mataram mengadakan Pendidikan Kader pemula selama 3 hari {30 Oktober – 01 November 2026} di area Taman Budaya NTB Jl Majapahit Kota Mataram.
Pendidikan kader itu salah satu instrument penting dalam membangun keberlanjutan organisasi dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia. Serta menyiapkan generasi penerus yang memiliki kesadaran ideologis, pengetahuan organisasi, dan komitmen terhadap perjuangan Masyarakat adat.
Acara pembukaan Pendidikan kader pemula Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Mataram (AMAN Mataram) dihadiri oleh, peserta dari semua komunitas Masyarakat adat se Mataram. Acara pembukaan dihadiri oleh ketua Komunitas Se- AMAN Mataram, Ketua BPAN Mataram, Ketua PEREMPUAN AMAN/PH Kom. Kepala Sekolah Adat Gerude Kerekok, serta di hadiri oleh Pengurus Pusat SEKNAS BPAN bidang Sekretariatan, Administrasi, dan Keuangan.
Ketua PH AMAN Mataram Lalu M. Iswadi Athar menekankan kepada seluruh peserta Pendidikan kader pemula untuk menekuni dan komitmen terhadap keilmuan yang dimiliki. Pendidikan kader ini bertujuan untuk meningkatkan SDM anggota, mengetahui sejarah perkembangan organisasi dan tentu pemuda harus tanggap dalam membela wilayah adat. Hal itu sebagai wujud cinta pada adat di Bumi Mataram ini.
“Kami yakin kader yang kita didik akan menjadi benteng pertahanan pemuda berbasis kultural
Oleh karena itu, kaderisasi ini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kolektif. Dan mempersiapkan generasi penerus yang memiliki pengetahuan, kemampuan organisasi, serta keberpihakan terhadap kepentingan Masyarakat adat,” kata Iswadi.
Dikatakan, melalui Pendidikan kader pemula AMAN Mataram, peserta diharapkan tidak hanya mengenal organisasi secara struktural. Tapi juga memahami substansi perjuangan Masyarakat adat dan mampu menerjemahkannya ke dalam Tindakan nyata di tengah komunitas setelah selesai Pendidikan nantinya.
Pendidikan kader pemula kali ini dirangkaikan dengan Ritual adat ‘Gawe Urip Turun Taun’ yang dipimpin langsung oleh Tetua adat Komunitas adat Punia Jamaq, L.Sri Muhlisin.
Tujuan dari Ritual tersebut untuk memohon petunjuk dan perlindungan dari sang maha pencipta (Allah SWT) agar selalu diberikan Kesehatan, keselamatan, serta kemudahan dalam menjalankan aktivitas.
Selain itu, ritual adat ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai – nilai adat dan tradisi Masyarakat adat. Kegiatan ini juga sebagai pengingat bahwa perjuangan Masyarakat adat tidak dapat dilepaskan dari identitas, Sejarah, tradisi, dan nilai – nilai leluhur
Pendidikan Dasar
Sekretariat Nasional Pusat Barisan Pemuda Adat Nusantara (Seknas BPAN), Hilmiatun memaparkan, pentingnya kegiatan Pendidikan kader pemula. Kegiatan itu sebagai Pendidikan dasar bagi kader-kader AMAN yang dikirim dari komunitas untuk dibekali ilmu pengetahuan.
Mulai dari Sejarah Ke AMANan, organisasi sayap Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), dll. Mengenal wilayah adat, profil wilayah adat dan yang paling utama yang sudah dikader menjadi militan dan tangguh dalam mempertahankan adat.
Ketua Barisan Pemuda Adat Nusantara Mataram (BPAN Mataram) Mawardi Effendi, Pendidikan Kader pemula sebagai ilmu dasar pendidikan kader pemuda adat, peserta dididik untuk loyal dan menjadi kader yang militan menjaga wilayah adat.
“Kami sebagai pemuda adat, BPAN Mataram siap menjaga ‘Gumi Mataram’ dari semua ancaman dan gangguan serta siap melestarikan adat dan budaya kita serta menjaga sendi kehidupan dan kearifan lokal yang sudah dibangun oleh tetua adat dan leluhur kami di Mataram,” tegasnya.
Dalam acara Pendidikan kader pemula menghadirkan Pemateri dan Fasilitator dari Ketua PH AMAN Mataram, Seknas Pusat BPAN, Identifikasi dan profil wilayah adat L. M. Husni Ansyori, dan Ketua Dewan kebudayan Daerah NTB, Prof Dr. H. Abdul Wahid. Dan Rencana Tindak lanjut (RTL) Pendidikan Kader Pemula oleh Fasilitator Pendidikan Kader
Melindungi Wilayah Adat
Ketua Dewan Kebudayaan Daerah NTB, menyampaikan diskusi dan orasi ilmiah dalam Pendidikan Kader pemula PD AMAN Mataram dengan tema ‘Tanggap membela aktif melindungi wilayah adat, Prof Dr. H. Abdul Wahid
Kesadaran untuk Kembali percaya kepada tatanan leluhur masa lampau mengharuskan Masyarakat untuk membuka mata terhadap warisan adat.
“Adat tidak sekedar berwujud aturan usang, melainkan sebuah konstruksi peradaban yang menyimpan tiga lapisan utama; Mentifact: Lapisan dunia gagasan, ide, dan filisofi kehidupan. Sociofact; lapisan dunia sosial yang mencakup tata krama, etika interaksi, dan perilaku dalam bermasyarakat, dan Artifact; lapisan wujud fisik atau benda-benda peninggalan Sejarah,” paparnya.
Menurutnya, masyarakat yang mampu menjaga nilai-nilai tersebut dengan ketaatan (aman) akan tumbuh menjadi manusia-manusia sadar. Kesadaran inilah yang membentuk mereka menjadi menjadi umat terbaik (Khaira ummah) yang memiliki kapasitas bertindak (agensi) untuk memengaruhi lingkungan sekitarnya.
Namun tantangan saat ini, menurut Wahid, sebagian Masyarakat adat mulai kehilangan pegangan; terbukti munculnya keraguan terhadap praktik pengobatan tradisional yang beralih menjadi ketergantungan pada pendekatan medis modern.
Prof. Abdul Wahid mengatakan, dalam Upaya Pemulihan dan Kedaulatan Masyarakat Adat, untuk memulihkan tatanan, masyarakat adat harus merekonstruksi sistem nilai mereka secara berdaulat.
Mengambil analogi transportasi, Wahid menekankan masyarakat adat tidak boleh lagi hanya memposisikan diri sebagai penumpang di kursi belakang yang ikut terguncang-guncang (menjadi objek).
“Melainkan harus tampil mengambil alih kemudi sebagai ‘supir’ (menjadi subjek) yang menentukan arah perjalanan,” kata Wahid. {*}.