Cerita Pendek ; JAZZ, TROTOAR DAN POLISI-POLISI ITU

Gun menganggap cerita Tse Un tak penting untuk didengarkan. Ia malah sibuk memeriksa pesan-pesan masuk di handphone yang selalu digenggamnya

lombokjournal.com ~ 

GUN TERPERANJAT sejenak, namun ia merasa bisa menangkap seluruh peristiwa yang jadi cerita itu dengan pikiran yang terang. Siang itu peluru-peluru mendesing kemudian membentur dan menembus kaca restoran. Tentu saja peluru-peluru melesat sangat cepat, tapi Gun masih sempat menghitungnya, jumlahnya tak lebih delapan belas butir. Begitu cepat, menembus kaca-kaca pintu restoran itu, tapi tidak pecah meski berlubang. Hanya di sekeliling lubang kaca itu tampak rengat.

Dan sama sekali sulit diduga, tiap peluru menerbangkan satu tubuh. Wow. Peluru-peluru melesat menuju restoran, tapi singkat cerita tubuh-tubuh itu berjatuhan di jalan raya di tengah lalu lalang kendaraan yang melaju kencang. Seketika pengendara menginjak pedal rem dalam-dalam sehingga suara rem kendaraan terdengar berdenyit susul menyusul. Peristiwa ini menyebabkan kekacauan di jalan raya. Semula timbul suara memaki dari pengendara. Setelah itu lebih mengerikan, susul menyusul suara keras benturan besi, pengendara kendaraan di belakang yang tak sempat mengerem menabrak yang ada di depannya. Disana sini mulai terdengar suara menjerit. Suara tabrakan itu susul menyusul. depan restoran yang berderet dengan toko-toko dan hotel. Orang-orang di dalam restoran, toko-toko dan hotel berhamburan keluar.

Gun menceritakan peristiwa Itu pada Tse Un, istrinya. Tapi Un mukanya tampak datar. Tak ada tanda-tanda Un tertarik untuk tahu lebih jauh, apalagi terperanjat. Tse Un sedikit pun tak bereaksi. Semula Gun menduga telah menyampaikan kabar yang dasyat. Sesaat kemudian ia jadi terperangah. Bahkan, sambil matanya menatap datar pada Gun, mulut Tse Un seperti mengumamkan irama musik. Bahkan tubuhnya bergerak perlahan, sambil matanya setengah terpejam, ia menggigit bibirnya. Tubuhnya bergerak memutar perlahan seperti terbawa irama musik.

Kalau sudah demikian, biasanya Gun memilih keluar menuju halaman depan, menarik nafas dalam-dalam, menulis status di akun medsosnya.

Tse Un pikirannya hanya tergoda spaghetti. Ia pernah menceritakan kelezatan spaghetti pada Gun dengan antusias
“Spaghetti paling klasik di Italia adalah aglio olio, yang dibuat hanya dengan bawang putih dan minyak zaitun.Walau aglio olio tidak punya saus sungguhan, kelezatannya justru bergantung dari kesederhanaannya,” kata Tse Un dengan antusias.
Ia mengucapkan itu mengutip apa yang diucapkan seorang Chef yang pernah dibacanya di sebuah media. Sebaliknya Gun menganggap cerita Tse Un tak penting untuk didengarkan. Ia malah sibuk memeriksa pesan-pesan masuk di handphone yang selalu digenggamnya.

Tse Un memesan semangkuk spaghetti dan sebotol kecil air mineral di kedai langganannya. Nyaris tiap malam ia mengunjungi kedai itu, dan ia betah duduk hingga berlangsung sampai larut malam.

Tse Un menikmati suara penyanyi tua yang menyanyikan lagu lama, bolehlah itu disebut sebagai jazz balada, jenis musik balada yang terpadu dengan unsur-unsur musik jazz. Tse Un terlena dominasi alunan piano yang mendayu-dayu. Selera itu mungkin diwarisi dari ayahnya, seperti yang sering ia dengar dari ibunya. Ayahnya baru beranjak saat pemilik kedai itu memberitahu tak ada lagi pengunjung datang.
Tse Un tak menjelaskan, apa hubungan lagu-lagu yang dilantunkan penyanyi tua itu dengan spaghetti. Sering ia mengatakan dengan ketus, banyak orang selalu ingin mengaitkan sesuatu agar semua hal bisa dihubung-hubungkan secara logis.

“Kalau kita jadi pergi, numpang kereta milik tetangga saja,” kata Tse Un kepada Gun.
.
Siapa yang memuntahkan peluru itu tidak penting. Gun waktu itu hanya berjarak tak lebih sepuluh atau lima belas meter dari restoran itu. Gun menyaksikan seluruh kejadian itu sangat dekat dengan matanya sendiri. Ia sempat terperanjat menyaksikan peristiwa yang pernah diceritakan pada isterinya, Tse Un. Saat peristiwa itu terjadi Gun sempat gugup dan menoleh sejenak. Namun di tengah suara hiruk pikuk, suara teriakan, suara orang mengerang kesakitan, dan orang yang berusaha memadamkan percikan api dari mobil yang mengepulkan asap hitam, Gun hanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan kegiatannya.

Mobil polisi, jumlahnya sembilan, suara sirinenya meraung-raung, tapi kesulitan untuk mendekat ke restoran hotel itu. Polisi-polisi itu dengan cepat membuka pintu mobil dan membentuk barisan seperti siap menyergap dengan senjata laras panjang. Beberapa polisi dari dalam mobil itu berloncatan keluar sambil mengacungkan pistol yang digenggamnya. Gun sendiri tak mengerti, entah kenapa polisi-polisi itu menyasar restoran hotel itu.

Gun melemparkan kertas-kertas itu ke udara. Baginya polisi-polisi itu juga tidak penting. Sebenarnya ia ingin kertas-kertas itu dibawa angin dan terus terbang meninggi, menutupi awan. Sebenarnya ia tahu kertas-kertas itu akan kembali berhamburan di trotoar. Kertas-kertas itu akan disapu petugas kebersihan kota. O ya perihal kertas-kertas di trotoar itu Gun pernah mendiskusikan dengan Tse Un, sebab ia selalu menanyakan kenapa tidak ada hewan pemakan kertas. Atau lebih baik kertas-kertas diserahkan saja ke resepsionis hotel. Mereka bisa membagikannya pada tiap tamu hotel yang datang silih berganti.

Tse Un sempat menanyakan soal ini ke resepsionis hotel, tapi resepsionis berwajah pucat dan bertubuh gendut itu justru balik bertanya kenapa harus diberikan ke tamu-tamu hotel. Menurutnya, biasanya tiap tamu sudah sibuk membaca apa pun, pesan-pesan dari handphone, resep-resep tentang makanan lokal atau berita-berita kota, dari telpon selular yang digenggamnya.

“Gun, kalau kita bermimpi rumah besar, rasanya masih lama. Aku lebih suka meja makan yang bersih. Dapur dengan peralatan-peralatan masak yang praktis, supaya kamu mudah membuat sarapan, atau kalau sedang ingin kopi. Apalagi kalau suatu saat teman-temanmu mampir. Kita nikmati yang kita ingin. Sori, kadang-kadang aku sampai larut. Sebenarnya yang kuiinginkan hanya mendengar suara orang tua itu menyanyi,” kata Tse Yun.
Seperti biasa Gun membalas pesan atau menjulis status dari handphone yang digenggamnya.

Bayangkan kalau hampr seluruh sudut kotamu penuh dengan gambar-gambar iklan, Gun. mulai menulis status. Seharusnya kota ini hanya perlu pengurus, bukan walikota. Agar tak perlu banyak mengeluarkan biaya terlalu besar, belum lagi akibat buruk yang mengikuti. Tanpa walikota tetap saja warga kota itu bisa mengatur dirinya sendiri. Walikota dan jajarannya hanya menghabisi anggaran besar yang sebenarnya bisa untuk mengatasi pengangguran. Sebab walikota dan aparatnya itu membuat warga menderita kekurangan gizi dan hidupnya dihalangi banyak aturan. Padahal pasar tradisional yang tiba-tiba kebakaran atau rumah warga di kampung yang dimakan api, nyatanya petugas pemadam kebakaran selalu terlambat datang. Itu kesalahan walikota dan birokrasi di kota yang rakus.
Gun meloncat kesenangan membaca statusnya di medsos yang disukai banyak orang.

Ternyata polisi-polisi itu justru mabuk di restoran, dan melupakan apa yang mesti segera diurusnya.
“Jangan mempercayai siapa-siapa, termasuk polisi-polisi itu. Kamu mengerti yang kumaksud?” kata Gun pada Tse Un.
“Bukan, bukan itu yang kumaksud, Gun,” kata istrinya.
“Menurut kamu bagaimana,” kata Gun. “Menurutku kita tak harus masuk restoran atau menginap di hotel.”
“Siapa yang akan masuk ke restoran, siapa yang akan menginap di hotel…”sergah Tse Un.
“Dengar dulu Un aku tak pernah mengajak makan di restoran atau menginap di hotel.… Aku hanya mengajak siapa tahu bisa merubah pikiranmu, aku bercerita tentang kebenaran.”
“Gun, kau hanya tak pernah mau memahami orang, termasuk aku isterimu.”
“Kita hanya bicara untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain…”
Tse Un ingin membantah. Tapi tertahan karena terdengar dering panggilan dari handphone. Gun bergerak menjauh untuk menjawab panggilan. Tapi panggilan itu tampaknya terputus.
“Nanti kita lanjutkan Un….” kata Gun selintas, ia mengambil jaket yang menggeletak di kursi, kemudian ngeloyor pergi.

Tse Un melongo, mencoba berpikir tapi tak menemukan apa-apa.

Gun mencoba menghindar waktu sampai di tikungan, tapi mereka mengajaknya salaman. Jumlahnya empat orang, mereka memakai baju gamis, kalau tidak salah itu baju tradisional orang Pakistan. Gun merasa terkepung dan akhirnya mendengar salah satu dari mereka yang mengingatkan pentingnya sholat berjamaah. Gun menilai kepala mereka suka menganggap Tuhan terlalu membebani banyak tugas. Kadang-kadang jalan yang lengang dan senyap justru sering memberi banyak pelajaran.

Tapi bagaimana dengan Tse Un yang menghabiskan waktunya hanya untuk makan spaghetti, itu berlangsung lama. Bagaimana Tse Un menganggap bagian paling romantis dalam kehidupan mereka, ketika suatu malam ia membuka kamar dan berteriak pada Gun,”aku dataaannnggggg…..membawa ole-ole spaghetiiiii….”

Suatu malam dalam satu kesempatan Tse Un menemui Gun di trotoar itu.

“Begini saja Un, beri aku waktu sedikit lebih lama menunggu di trotoar ini. Bisa lama tapi mungkin saja hanya membutuhkan beberapa saat. Tapi kuharap kamu mengerti bahwa ini soal sangat penting. ini menyangkut pencurahan pikiran-pikiran untuk kepentingan yang sulit kujelaskan padamu. Sebab tujuanku agar orang-orang banyak mengetahui apa sebenarnya misi yang sedang kujalankan. Maaf, kamu agak sulit memahaminya, kira-kira seperti ini……,” Gun menjelaskan panjang lebar. Tse Un berkali-kali menggaruk kepalanya.

Tiba-tiba Gun tak bisa menahan kemarahannya.

“Ini soal pergaulan hidup yang memisahkan jaman lama dengan jaman yang membuat orang bisa saling sepakat untuk saling percaya. Sudahlah, waktu seseorang melarikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak kau inginkan, kau selalu ingin ikut mengendalikan,” katanya setengah berteriak.
Gun merasa Tse Un tak pernah mempercayainya. Bahkan saat ia bercerita orang-orang itu berloncatan dari gedung-gedung bertingkat. Tubuh mereka melayang seperti boneka dari gabus. Bahkan waktu kaki mereka menyentuh aspal jalan, sedikitpun tidak lecet. Mereka meluncur, dan mendaratkan kakinya seperti kucing yang pandai memposisikan keseimbangan tubuhnya. Dan sekarang semua orang dari kamar hotel di lantai tinggi itu meloncat dari kamarnya. Dari tiap kamar bisa dua sampai tiga orang. Gun tak pernah mengetahui kenapa mereka melakukan itu.

“Itu tidak mudah, Un. Aku hampir tidak percaya, tapi apa yang akan kau katakan kalau itu benar-benar bisa dilihat dari jarak paling jauh empat meter. Kupikir tidak aneh, hanya kita belum mempunyai pengalaman sebelumnya, sehingga terasa tidak lazim. Kamu suka memotret kan, itu akan menjadi gambar yang indah. Orang-orang berloncatan dari lantai atas hotel. Kini aku mulai belajar untuk menerima kenyataan. Pengalaman baru memang mengejutkan, kau pasti juga terkejut,” kata Gun kepada Tse Yun.

Baru malam itu Tse Yun menangis. Ia sesenggukan disebabkan dadanya sesak seperti beban yang tak tertanggungkan. Bibirnya tergetar hebat, seolah hendak mengatakan sesuatu namun masih ditahannya. Sesaat kedua telapak tangannya berusaha menutupi wajah muram itu.

Baru malam itu Gun terharu. Tapi ia tak mengira situasi seperti itu terus berulang lagi di malam berikutnya. Tapi tetap saja Tse Un bungkam kenapa harus menangis tidak wajar. Berkali-kali ia menatap Gun dan ingin mengatakan sesuatu, sejenak ia membalikkan badan dan berlari ke kursi pojok dan meneruskan tangisnya sambil menundukkan kepala.

Malam berikutnya Gun menunggu, Tse Yun siap mengatakan sesuatu. .
“Seandainya ada tangga. Ya tangga yang tinggi sekali, aku akan segera memanjatnya,” kata Tse Un menggumam.
Tse Yun masih menangis.
“Aku akan menaiki tangga itu menuju ke bulan. Tak perlu persetujuanmu. Tidak sukar bagiku memulai di tempat baru, mungkin sendirian, tapi lebih baik daripada aku jadi kapiran seperti ini. Cerita tentang peristiwa atau kejadian akan bersusulan, kalau aku selamat akan banyak melewati cerita yang panjang. Bermalam-malam, berbulan-bulan, bisa jadi bertahun-tahun. Habis, untuk apa lagi kalau aku masih terus menghadapi ketidakpastian.”
Tse Un sesenggukan makin keras.
“Sejak kecil aku sering mendengar cerita tentang kuncup yang sedang mekar, binatang-binatang yang membuang kulit lamanya menggantikan dengan kulit baru yang lebih segar. Kekurangan manusia karena ia tidak memiliki kelebihan seperti tumbuhan atau binatang. Manusia hanya bisa berpikir meski itu membuatnya makin terjerumus. Seperti waktu kita masih kecil dan mengungkapkan cita-cita, seolah-olah semua peristiwa hidup bisa dirangkainya untuk sampai apa yang diinginkannya…..”

Tse Un tiba-tiba berhenti menangis. Mendung yang berhari-hari menutupi wajahnya tersingkir dalam sekejap. Gun hampir tak percaya, ia segera mendekat dan ingin membujuk Un. Pikirnya, ini kesempatan mengembalikan waktu seperti hari-hari sebelumnya. Sesuatu yang semula tak memberi harapan sekarang seperti memanggil dengan tangan terbuka. Selama berhari-hari Tse Yun menangis dan terus bungkam, kini ia seperti hendak menyampaikan sesuatu. Gun menunggu.
Waktu Tse Un mulai melangkah mendekatinya, Gun masih menunggu.
“Bagus Un. Ini sudah waktunya,” kata Gun pelan, ia sangat berharap..
Tanpa diduga, tiba-tiba Tse Yun berteriak. Suaranya keras sekali,
“Bajingaaaaannnnnnnn……!!!!!”

Gun tidak menduga kalau polisi-polisi itu masih ada di restoran. Jumlahnya ada tujuh orang, tidak seperti waktu datang, sekarang badan polisi itu tampak makin gemuk, semua kelihatan berperut tambun. Sementara yang lain tampak mengantuk, hanya dua orang kelihatan waspada sambil memainkan pistolnya. Mereka berada di sebuah restoran tanpa pengunjung, malah hanya ada satu orang mungkin pelayan, karena bajunya seperti umumnya dikenakan para pelayan restoran. Pelayan itu hanya duduk dengan wajah murung tapi tak bisa menyembunyikan raut ketegangan. Pandangannya yang tampak ketakutan ditujukan kepada ketujuh polisi itu, seolah-olah ia tak boleh terlambat menerima perintah. Memang dua polisi yang berjaga itu ekor matanya selalu mengawasi gerak-gerik pelayan.

Gun sudah tak sabar lagi. Kekesalannya tak bisa dbendung dengan alasan-alasan masuk akal. Ia ingin mengakhirinya. Ia melangkah masuk menuju polisi-polisi gendut itu, ia sudah memasang bom di sekujur tubuhnya. Tinggal memantik, bom itu bisa menghancurkan isi seluruh kota.

Mataram, 12 September 2016




Cerita Pendek MULUT RAMLI oleh Kongso Sukoco

Tiap Ramli mengucapkan sesuatu cerita, bahkan hanya satu kata pun, mulutnya bertambah melebar

lombokjournal.com ~
MARIKI mendengar teriakan kaget orang-orang kampung. Di gang kampung tempat tinggalnya yang padat penduduk itu terdengar suara riuh. Suara komentar-komentar bersautan tertangkap nadanya penuh khawatir. Pasti tengah terjadi peristiwa mengejutkan, pikir Mariki. Masih di pagi yang gelap saat Mariki meloncat dari tempat tidur dan mencaritahu apa yang tengah terjadi. Ia menyibak kerumunan tetangganya, mencoba mendekati Ramli.  Orang-orang di kampung itu terperangah, termasuk Mariki yang baru saja menyadari apa yang dilihatnya.
Ya, ini soal Ramli, Kepala Lingkungan atau Kaling di kampung kami Dasan Beleq. Sudah dua kali terpilih sebagai pejabat kampung, karena ia pandai memikat dengan beragam cerita, ia masih muda, bertubuh kecil namun lincah, bersemangat dan menggebu gebu meski sebenarnya suka membual. Ia dipilih penduduk dusun yang sebagian besar menempati rumah sempit tanpa halaman yang berdesak-desakan. Ramli dianggap bagian dari mereka, yang sebagian besar bekerja sebagai buruh bangunan. Ramli sendiri semula adalah peladen dari tukang bagunan yang kalau kerja biasanya mendapat imbalan 900 ribu sehari. Sejak dipilih sebagai Kepala Lingkungan, ia mulai banyak berubah. Bakatnya suka membuat cerita yang lebih banyak  membual tampak makin berkembang. Ramli makin suka menyampaikan cerita hal baru di luar pengetahuan orang-orang kampung, yang membuat orang kampung ingin tahu lebih jauh. Misalnya, menurutnya tiap hari ia bertemu dengan Lurah, Camat bahkan Walikota. Para pembesar kota itu konon selalu minta pendapatnya bagaimana membangun kampung miskin. Kabarnya ia selalu mendesak para pembesar kota agar memperhatikan Dusun Dasan Beleq. Memperjuangkan bantuan untuk orang tua renta yang tak bisa lagi bekerja, anak-anak muda pengangguran, perbaikan jalan kampoung yang kumuh. Bahkan rehab masjid pun ia perjuangkan. Walaupun nyatanya selama Ramli jadi Kadus, yang nyata kelihatan hanya petugas Posyandu saja yang tiap minggu rutin menyambangi kampung.
Tapi Ramli saat ini harus menahan diri untuk bicara. Tiap Ramli mengucapkan sesuatu, bahkan hanya satu kata pun, mulutnya bertambah melebar. Jangankan satu kata, asal mulutnya mengeluarkan suara, akibatnya sama. Tampak muka Ramli sangat menderita, tapi mengeluarkan suara tangis pun ia mencoba menahan. Sebab tiap suara yang keluar dari mulutnya, andai pun cuma suara desis, maka ukuran mulutnya makin bertambah.  Akhirnya ia memilih diam, berkali-kali membuka kedua tangan tanda pasrah. Mariki melihat raut muka Ramli memancarkan kesedihan yang tak terbayangkan.
Beberapa orang yang mengelilingi Ramli ingin menolong tapi tapi tak tahu harus berbuat bagaimana. Karena itu Mariki mengambil tindakan menjauhkan orang-orang yang mengelilingi Ramli. Sebab khawatir kalau orang-orang itu mendekat akan memancing Ramli bersuara. Jelas resikonya.
Mariki mendorong orang-orang itu agar menjauh.
“Jangan dekat-dekat, kasihan Ramli…,” ujar Mariki.
Waktu orang-orang didorong menjauh, justru Ramli hendak melangkah mendekat.
“Kamu tetap diam, Ramli!” suara Mariki setengah membentak.
”Kenapa? Kenapa mereka disuruh menjauh?” suara Ramli yang terdengar memelas tanpa sengaja meluncur dari mulutnya.
“Diam Ramli, jangan bicara!” bentak Mariki dengan cepat.
Sudah terlambat, Ramli tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh. Dan siapa pun tak mungkin mencegah, mulut Ramli bergerak melebar. Beberapa saat ia mencoba beradaptasi dengan perubahan itu. Walau semula mengalami rasa sakit, akhirnya Ramli bisa menyesuakan diri. Penyesuaian ini tidak mudah, sebab perubahan ukuran mulut itu juga mempengaruhi bentuk rahang dan gusi. Itu tidak mudah, dan tentu saja sakit.
Mariki mulai berpikir, apa yang tengah terjadi dan gejala apa sesunguhnya yang menimpa Ramli. Apakah Ramli mengalami gejala medis seperti spasme otot, yaitu kejang otot wajah. Mengalami kejang otot di sekitar rahang atau wajah. Ini menyebabkan mulut tampak melebar secara tiba-tiba. Ini bisa disebabkan oleh stres, kelelahan, atau gangguan saraf. Di benak Mariki juga sempat terlintas ucapan temannya yang mengajar di Fakultas Kedokteran tentang dislokasi rahang. Rahang keluar dari posisi normalnya. Ini disertai rasa sakit, sulit menutup mulut, jelas sulit bicara.
Sambil tetap mengontrol gerakan orang banyak dan Ramli sendiri, Mariki memutar otak untuk memahami kemungkinan lain. Dalam bahasan soal saraf juga dikenal kondisi neurologis yakni gangguan pada saraf wajah, seperti dystonia atau facial tics. Ini berpengaruh pada kontrol otot dan  menyebabkan ekspresi wajah yang tidak biasa, termasuk mulut yang tiba-tiba melebar. Ada juga yang disebut Sindrom Ehlers-Danlos atau Hipermobilitas Sendi. Orang yang berada pada kondisi ini, jaringan ikat di tubuh sangat lentur, sehingga memungkinkan gerakan ekstrem, termasuk pembukaan mulut yang sangat lebar.
Tapi di tengah ingatan gejala-gejala yang membuat mulut melebar, Mariki sejenak terhenyak. Jika pelebaran mulut ekstrem yang tak bisa dikontrol dijadikan cerita fiksi atau seni teater, dapat digunakan sebagai metafora atau efek dramatis. Mariki merasa telah menangkap sesuatu. Tapi ini terjadi dalam kehidupan nyata, karena itu yang harus segera dilakukan adalah berkonsultasi dengan profesional medis
Orang-orang kampung yang berkerumun itu sambil beringsut menjauh, mulai menafsir-nafsir kenapa nasib malang itu harus menimpa Kadus. Kenapa justru Kaling yang terpilih dan yang harus menjadi korban. Memang anak muda yang sebelumnya dikenal sebagai tukang bangunan itu bergaul wajar bersama orang kampung. Perilakunya tak banyak berubah setelah ia terpilih sebagai Kaling. Tapi ada yang berubah. Hanya rumahnya yang mulai lebih bagus karena sudah direnovasi. Baru-baru ini ia sudah mengendari kendaraan matic jenis Scoopy 110 cc. Ia sering bercerita panjang lebar motor barunya yang menurutnya bergaya retro  dengan desain stylish dan elegan. Kendaraan itu, kata Ramli, merupakan hadiah dari Walikota karena ia dinilai sukses memimpin kampungnya.
Samsul anak muda yang selama ini dikenal sebagai teman dekat Ramli, menerobos dari kerumunan dan berbisik pada Mariki.
. “Ki, saya teman dekat Ramli. Tau persis perangai Ramli…” kata Samsul setengah berbisik pada Mariki. “Ini hanyalah akibat….”
Mariki menoleh. Merasa diberi kesempatan, Samsul mulai nyerocos.
Ini yang dikatakan Samsul. “Untuk memahami keadaan ini, begini Ki…. Kalau nasib malang seseorang itu ditampakkan lewat mulut, berarti yang bersangkutan selama ini banyak salah memanfaatkan mulutnya.”
Samsul makin bersemangat menyampaikan cerita karena Mariki menunjukkan minatnya untuk mendengar
“Kalau mulut sering digunakan melempar cerita bohong atau mengelabuhi, maka musibah itu akan tampak di mulut itu juga. Jangan main-main dengan mulut. Bahaya besar. Mulut itu seperti pedang bermata dua, di mata yang satu mulut berguna untuk menyampaikan kebaikan, sedang di mata lainnya mulut bisa untuk berbohong, menyampaikan janji-janji palsu, menyembunyikan maksud-maksud busuk, mulut digunakan untuk mengelabuhi.”
“Ramli selama ini tidak bisa jaga mulutnya?” tanya Mariki.
“Kalau melihat Ramli datang,” kata Samsul, “dari jauh sudah kelihatan kalau ia sudah akan berbohong…Kalau ia bicara tiga kali, ia bisa berbohong lima kali…..”
Samsul memandang tajam Mariki. Ia ingin meyakinkan, kebohongan-kebohongan yang menumpuk itu membuat Ramli harus menghadapi kenyataan ini. Ia mengaku, kalau Kaling banyak menerima bantuan untuk orang kampung, tapi ditilep atau paling jauh dibagikan ke keluarganya. Bisa jadi prang banyak yang disakiti mendoakan hal buruk untuknya, dan doa itu menjadi nyata.
“Hukuman mulut yang melebar itu tanda-tanda…. Ramli sudah tidak punya kendali atas apa yang dulu ia peralat, yaitu kata-kata!” tegas Samsul
Mariki dakam hati membenarkan ucapan Samsul. Ia hendak mengatakan sesuatu tapi diurungkan.
Karena tiba-tiba terdengar suara lenguhan yang sangat keras, ternyata keluar dari mulut Ramli. Keduanya spontan menengok ke arah Ramli. Seketika itu Mariki dan Samsul beringsut ke belakang dua langkah. Ternyata dalam waktu tak lama, tidak disangka kalau mulut dan kepala Ramli membesar dua kali lipat bahkan lebih dari sebelumnya. Benar-benar mengagetkan. Apalagi tatapan dari mata Ramli yang bentuknya jadi aneh itu tidak lagi bersahabat. Samsul menarik tangan Mariki agar lebih menjauh.
“Karena itu saya yakin….Ramli dipaksa Tuhan untuk tidak bicara dulu… supaya berhenti berbohong…” kata Samsul.
Makin lama orang-orang yang berkerumun dan mulai tidak berani mendekati Ramli itu makin paham bahwa kejadian aneh itu bukanlah cerita dalam mimpi. Kalau toh Ramli mampu menahan diri tidak berkata-kata atau akan mengutarakan sedikit cerita, tapi tak mungkin menahan isak tangisnya. Dan itu membuat orang-orang makin takjub. Bukan hanya mulut Ramli yang bertambah melebar dan membesar, termasuk gigi, juga ukuran kepalanya makin membengkak.
Meski pelahan, tapi ukuran kepala itu seperti balon ditiup. Pelan tapi pasti, terus membesar. Meski suaranya lirih, terdengar juga gemertak tulang yang membesar.  Ada yang mulai ngeri. Apakah mungkin kepala yang membesar mengikuti ukuran mulut itu akan meledak seperti balon, tak ada yang tahu.
Badan Ramli yang kecil itu tampak menderita menahan beban kepalanya. Orang-orang mulai menebak, tentu kepala yang membesar itu sekaligus merubah pikiran Ramli. Pikiran itu berubah tetap normal dan baik seperti sebelumnya atau sebaliknya. Dan apa yang kini sedang dipikirkan Ramli? Dan tiba-tiba, seperti baru tersadar, orang-orang serentak hendak membungkam mulut Ramli. Mereka pikir, setidaknya itu akan menghentikan laju pembesaran mulut Ramli.
Mariki menduga, kengerian dari perubahan mulut dan wajah itu, apalagi jika kondisinya jadi tidak berubah, dapat meningkatkan risiko depresi bagi Ramli. Apalagi jika perubahan wajah itu menyebabkan ekspresi yang permanen, seperti kesan berubah jadi monster, akan memperburuk perasaan negatif Ramli.
Selama ini Ramli sebagai orang yang mulutnya tak pernah henti berbicara. Kadang kata-katanya meluncur seperti air bah yang menenggelamkan tanpa ampun, atau senaliknya melukai tanpa ampun. Namun, hari itu berbeda. Saat mulutnya mulai menganga lebih lebar, Ramli merasakan sesuatu yang tidak biasa—bukan hanya fisiknya yang berubah, tetapi kata-katanya sendiri mulai memberontak. Kata-kata yang dulu membantunya berbohong dan menipu kini berbalik memberontak pada perintahnya. Kara-kata yang bisa terlontar hanya melenguh, mengeram atau berteriak di telinganya tanpa henti. Akhirnya, mulut itu tidak lagi menjadi alat menyampaikan maksud, tetapi rongga kosong yang akan memakan bahkan dirinya sendiri.
Tindakan pencegahan yang coba akan dilakukan orang-orang sudah terlambat. Sebab kini monster itu mulai bergerak, meski tertatih-tatih. Tubuh yang kecil itu menyanggah kepala yang terus membesar. Ketika orang-orang hendak mendekat, ia malah mengerang dan tampak marah. Ia kelihatan mulai lepas dari ketakutan dan kesedihan, sebaliknya kini  memilih berubah beringas. Mulutnya makin lebar, giginya makin besar, lidahnya menjulur-julur seperti komodo, Ramli terkesan selalu berhasrat memangsa.
“Awaaasssss…..!! Mundurrr……!!! Ramli jadi monster  buas!” teriak seseorang.
Orang-orang kampung benar-benar bersiap-siap, harus menghadapi kepala lingkungan yang kini berubah sebagai monster buas yang siap memangsa siapa saja.
Mariki, Samsul bersama orang kampung bergerak secepatnya menjauh. Mereka tak mampu lagi membaca air muka Ramli. Sebab air muka itu sudah tak bisa diraba karena ukurannya telah berubah mengerikan. Mulut itu terus mendesis, dan secara perlahan meneteskan gumpalan air liur.
“Aku lapaaaarrrrrrrr…….” Monster itu seperti merintih.
Tapi karena keluar dari kepala dan mulut yang besar, suara itu sangat memekakkan telinga. “Aku lapaaarrrrrr……………!!!!!”
Suara itu seperti suara monster.  Nadanya makin tak jelas, apakah minta dikasihani atau sedang mengancam. Orang-orang lari menyelamatkan diri. Waktu monster itu bergerak dengan lidah menjulur-julur keluar, orang-orang mulai kocar-kacir. Satu dua orang lari tergopoh-gopoh  melaporkan peristiwa ini ke Kantor Polisi terdekat. Sedang yang lainnya termasuk Mariki dan Samsul masih menguatkan nyali untuk menghadang, meski kehilangan nyali untuk mendekat. Sebab lidah monster itu menjulur seperti siap menyabet dan melahap apa pun.
Orang tua, perempuan, anak-anak, orang sakit, berhamburan keluar rumah. Tiap rumah terjadi kepanikan. Siapa sangka di kampung yang sebelumnya aman tentram, bahkan anak-anak muda yang hendak berbuat onar pun memilih ke luar kampung, tiba-tiba kedatangan monster pemangsa. Ramli memakan apa saja yang ada di dekatnya. Lidahnya menyabet ayam yang kebetulan berkeliaran di depannya, bahkan seekor kucing ikut dimangsa. Mulut monster itu belepotan darah.
“Raammmmlliiiiiiiii!!!!”
Sebelum menyadari siapa yang berteriak, orang-orang melihat sosok laki-laki menghadang. Laki-laki itu bertubuh kecil, mukanya tampak pucat, meskipun suaranya melengking. Namun kelihatan tak gentar menghadapi monster lamban tapi garang siap menjulurkan lidahnya. Ketika monster itu berdesis, laki-laki justru maju mendekat beberapa langkah.
“Ramli!” ia membentak. “Kamu memang pantas menjadi monster, sebab kamu memang monster yang hidup di kampung.”
“Kamu sekarang menjijikkan. Kamu hanya pengen lari dari kenyataan. Normal atau tidak normal kamu tetap tidak berharga. Karena apa? Karena mulutmu hanya untuk membual dan memperdaya orang-orang kampung. Mulutmu sering melenceng. Katanya memperjuangkan orang kampung tapi kalau ada bantuan untuk diri sendiri, paling jauh untuk keluargamu sendiri,” katanya.
Laki-laki itu mengangkat tangannya.
“Sekarang, tidak ada yang bisa kamu tutup-tutupi lagi. Bersuaralah lebih keras agar mulutmu makin membesar, dan kamu makin merasa lapar. Sebab kamu memang tidak pernah kenyang. Sebelumnya kamu tidak pernah malu dengan mulutmu. Justru kamu sering bangga. Padahal tiap kata-katamu berbau busuk. Seperti inilah wajahmu sebelumnya, monster yang siap membunuh siapa saja dengan mulut melencengmu. Mulut yang seharusnya menjadikan seseorang mulia, tapi kamu justru sebaliknya…………………….  “.
Laki-laki itu terus bicara, bahkan memaki monster Ramli. Anehnya, monster itu tiba-tiba kehilangan nyali. Kelihatan ia kecut dan mundur beberapa langkah. Berbalik dan pergi menjauh. Belakangan diketahui monster itu pergi jauh ke hutan, menyembunyikan rasa malu karena mulut dan wajahnya nerubah menyerupai monster.
Orang-orang mulai berani mendekat, dan ingin mengetahui siapakah laki-laki kecil itu sebenarnya. Seketika itu orang-orang terkesima. Ternyata laki-laki itu adalah Ramli.
Mariki hanya tersenyum membayangkan cerita tentang peristiwa yag menggegerkan kampung itu.
Oktober 2012



Cerita Pendek BENCANA KEPALA

BENCANA KEPALA

“Isi kepala yang carut-marut membuat politik seperti cerita layaknya benang kusut. Kalian hanya tahu menumpuk modal, memperkaya diri, menggadaikan tanah air.”

JAM DINDING TUA di sudut kamar itu berdentang nyaring. Kepala Sabrot.seolah digedor suara logam jam dinding yang memantul dari embok kusam yang berlumut itu. Suara itu menegaskan kesepian seorang veteran yang masih hidup namun dilupakan. Malam itu, udara pengap, langit-langit rumahnya menghitam karena asap lampu minyak yang sering dipakai ketika listrik padam.
Sabrot tergagap bangun dari dipan kayu yang keras. Tubuh renta itu bergidik, matanya yang keruh mencari-cari sesuatu di sekitar tempat tidur.
“Sudah jam berapa ini?” gumamnya. “Besok ada peringatan kemerdekaan. Aku harus tidur, harus siap.”
Namun semakin keras ia meyakinkan dirinya untuk tidur, semakin gelisah tubuhnya. Tangannya meraba laci kosong, membuka lemari tua, mengobrak-abrik kotak besi. Hatinya makin cemas.
“Mana pistolku?” teriaknya. “Pistol itu harus kubawa besok! Aku tak boleh lupa!”
Dentang jam semakin keras, memekakkan telinga. Dalam keremangan kamar, suara-suara samar ikut masuk. Dari luar kamar terdengar suara-suara mengejek. Entah tetangga, entah sekadar gema dari kepalanya.
“Pistol? Hahaha… biasanya yang kau cari botol, bukan pistol. ”Pak Tua, negeri ini bahkan belum merdeka. Untuk apa pistol? Yang perlu dicari uang, bukan senjata.”
Sabrot mendesis, wajahnya merah padam.
“Belum merdeka? Kalian tak tahu apa-apa! Aku saksi sejarah! Aku ikut berperang, menegakkan republik dari tangan penjajah! Jangan berani menghinaku!”
Suara-suara itu justru tertawa, semakin keras. “Ogoh-ogoh akan lewat sebentar lagi Merdeka! Merdeka! Kapan kita merdeka, Pak Sabrot?” Suara-suara itu memekaakkan telinga.
Dentang jam kembali berdentam. Kali ini terasa bagai pukulan palu ke tengkorak kepala Sabrot.
Sambil melangkah gotai karena kurang tidur,ksKeesokan paginya Sabrot melangkah keluar rumah. Udara kota penuh debu, panas menyengat meski matahari belum tinggi. Jalanan semarak: bendera merah putih berkibar di setiap tiang listrik, spanduk warna-warni bertebaran.
Ia berjalan melewati baliho raksasa. Wajah-wajah politisi dengan senyum palsu memandang ke arahnya. Ada yang berjanji “Indonesia Maju untuk Semua”, ada yang berteriak “Perubahan untuk Rakyat”. Namun di pojok kecil spanduk itu tertulis nama perusahaan tambang, pabrik semen, sabun, kendaraan bermotor, dan bank sebagai sponsor.
“Politik sudah jadi dagangan,” gumam Sabrot getir. “Mereka tersenyum manis dari ketinggian baliho, tapi di balik itu ada sawit, ada tambang, ada hutan yang digadaikan. Rakyat hanya angka di TPS.”
Ia berhenti di depan sekolah dasar. Anak-anak berbaris, bernyanyi riang lagu kebangsaan. Di tembok sekolah tertulis: “Terima kasih pahlawan yang gugur mendahului kami.”
Sabrot menelan ludah. Tidak ada tulisan yang beersimpati untuk pahlawan yang masih hidup. Veteran seperti dirinya hanya dianggap beban, yang sesekali dipanggil untuk menghadiri upacara sekadar menjadi hiasan sejarah.
“Orang sekarang hanya tahu memuja yang mati, Serta merta disebutnya sebagai phlawan,” katanya lirih. “Kami yang masih hidup dianggap layaknya sampah.s. Padahal kami masih bisa bicara, masih bisa mengingatkan.”
Ia melanjutkan langkah, melewati kerumunan warga. Di ujung jalan ia melihat pedagang kaki lima berlari terbirit-birit. Gerobak mereka diangkat paksa oleh aparat berseragam, dijatuhkan ke truk sampah. Seorang ibu muda menangis sambil memeluk anaknya yang masih balita.
“Kenapa digusur, Pak? Kami hanya jualan nasi, bukan maling!” jerit sang ibu.
Aparat hanya mengacungkan surat perintah. “Perintah atasan. Trotoar harus bersih. Besok ada tamu penting.”
Sabrot menahan amarah. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia hanya bisa menggenggam udara, merasakan tubuhnya gemetar.
Semula ia sempat bangga, bangsa yang dulu diperjuangkan kini merayakan kemerdekaan dengan gegap gempita. Namun semakin lama ia sadar, semua itu hanya pesta oligark: panggung hiburan disponsori prrodusen rokok, konser gratis dibiayai produk minuman kaleng, festival kuliner didukung perusahaan tambang. Semua bicara nasionalisme, tapi saham mereka ditanam di luar negeri.
Malam harinya, Sabrot kembali duduk di dipan kayu. Sunyi menyelimuti kamar. Hanya dentang jam yang terus memukul telinganya.
“Kepala… ya, semua ini karena kepala,” gumamnya.
Ia menatap kosong, bibirnya bergetar. “Kepala-kepala para politisi, kepala para pengusaha, kepala-kepala yang saling menubruk demi kekuasaan. Mereka semua bicara tentang tender, tentang proyek ibu kota baru, tentang izin tambang emas dan nikel. Semua bahasa uang. Tidak ada lagi cerita tentang rakyat.”
Bayangan itu semakin jelas. Di kepalanya, ia melihat ribuan kepala beterbangan. Ada kepala pejabat dengan dasi merah, kepala pengusaha dengan topi proyek, kepala jenderal dengan bintang di bahu. Mereka bercakap-cakap tanpa henti, menyebut angka-angka, membagi-bagi konsesi, mengatur masa depan bangsa seolah sedang memainkan bidak di papan catur.
“Andai saja kita hidup tanpa kepala,” bisiknya. “Tidak ada nafsu, tidak ada kerakusan. Tanpa kepala, manusia akan lebih damai.”
Namun kepala-kepala itu makin banyak, makin riuh. Ada yang saling menubruk, ada yang tertawa pongah, ada yang menuding-nuding rakyat kecil. Sabrot merasa dadanya sesak, seolah udara dirampas oleh kerumunan kepala yang terus membesar.
Suatu malam, Sabrot akhirnya menemukan pistolnya. Di sudut kamar, tergantung berdebu, benda itu menatapnya seperti sahabat lama. Tangannya gemetar ketika meraihnya.
“Pistol bekas,” gumamnya. “Tapi tetap pistol. Selama masih ada peluru, aku masih berbahaya.”
Dentang jam berdentang panjang, seakan memberi aba-aba.
Dengan pistol itu terselip di pinggang, Sabrot melangkah ke balai kota. Ia tahu malam itu ada rapat besar, para pejabat berkumpul. Ia ingin bicara, mengingatkan walikota agar berhenti menggusur rakyat demi investor.
Di gerbang balai kota, aparat muda menghadangnya. Mereka menatap dengan sinis.
“Mau apa, Pak Tua? Pulanglah, jangan bikin ribut.”
Sabrot mendengus. “Aku ingin bicara dengan walikota. Aku masih punya hak, aku masih warga kota ini. Jangan halangi!”
Mereka tertawa. “Kau pikir walikota mau mendengar ocehanmu? Semua sudah diatur di atas. Kau tak punya apa-apa.”
Darah Sabrot mendidih. Tangannya spontan meraih pistol. Ia acungkan tinggi-tinggi. “Aku pernah berperang! Aku ditempa Jepang, aku tahu cara bertempur! Jangan uji kesabaranku!”
Dentang letusan terdengar di tengah malam . Satu aparat jatuh, mengerang. Tiga lainnya menyerbu, tapi Sabrot menembak lagi. Dalam sekejap tubuh mereka tergeletak bersimbah darah.
Ia terdiam, tubuhnya gemetar. “Ternyata begitu mudahnya membunuh… begitu mudahnya darah tumpah.”
Dengan langkah terburu ia masuk ke ruang kerja walikota. Ruangan megah, berpendingin udara, dengan kursi empuk dan meja mengilap. Tetapi kosong. Tidak ada siapa-siapa.
Sabrot berteriak-teriak, memanggil, tapi hanya suaranya sendiri yang memantul. Ia berlari kembali ke halaman. Anehnya, aparat-aparat yang tadi ia tembak telah hilang. Tidak ada darah, tidak ada tubuh. Semua lenyap.
Sabrot mengingat peristiwa yang bau saja terjadi. Ia terjatuh, menangis sambil memeluk pistolnya.
Di layar besar di alun-alun kota, muncul siaran langsung: ribuan massa berdemonstrasi. Mereka berteriak menuntut keadilan, menolak penggusuran, mengecam oligarki yang menguasai negeri. Ada yang membentangkan poster bertuliskan “Negeri Dijual, Rakyat Tinggal Di Kolong Jalann Tol”. Ada yang mengacungkan spanduk “Kembalikan Republik ke Tangan Rakyat, Bukan Konglomerat.”
Sabrot menatap layar itu dengan mata berkaca. “Oh, kepala… kepala… kalianlah sumber bencana. Isi kepala yang carut-marut membuat politik seperti benang kusut. Kalian hanya tahu menumpuk modal, memperkaya diri, menggadaikan tanah air.”
Ia melihat lagi kepala-kepala beterbangan di langit kota. Kini lebih banyak, ratusan, ribuan. Kepala pejabat, kepala pengusaha, kepala perwira. Mereka berbicara bersahut-sahutan: tentang harga nikel, tentang proyek jalan tol, tentang saham tambang emas, tentang suap yang dialirkan diam-diam. Semua bicara uang, semua bicara kuasa.
Sabrot meraih pistolnya kembali. Tangannya gemetar, tapi matanya menyala. Ia membidik kepala kepala itu satu per satu. Letusan terdengar berulang. Kepala-kepala itu meledak, pecah berhamburan. Namun semakin banyak ia tembak, semakin banyak pula kepala baru yang bermunculan.
Dentang jam berdentang panjang, menutup semua suara.
Sabrot menatap langit dengan mata sayu. Ia menggosok-gosok matanya, dan ia merasakan tulangnya sering nyeri, dan tubuhnya yang cepat mengeluh kecapean. Ia kembai mengingat ingat apa yang baru terjadi, dan ia tak mengerti apa itu nyata atau sekedar mimpi yang tiba-tiba hadir di benaknya ilusi, Ia tak tahu lagi. Yang pasti, di dalam kepalanya sendiri, bencana itu sudah meledak.
Dan negeri ini, pikirnya, akan terus menjadi arena bencana kepala—selama oligarki masih bercokol,yang memperalat para pemimpin Negara yang tamak, Dan kepala-kepala tamak itu terus beranak-pinak.

Agustus, 2012