Lapangan Kerja Bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Pesantren

Zoom Meeting membahas kebutuhan lapangan kerja, seorang muslim wajib memiliki etos kerja dan mentalitas profesional 

MATARAM.LombokJourmal.com ~ Tantangan dunia dan lapangan kerja yang semakin kompetitif di era modern dinilai menuntut mahasiswa perguruan tinggi pesantren untuk tidak hanya mengandalkan keilmuan agama. 

Tak kalah pentingnya juga membangun mentalitas, karakter kepemimpinan, dan kompetensi profesional yang kuat agar mampu bersaing di lapangan kerja.

BACA JUGA :  Hardiknas; Mengenal Pelaku Transformasi Pendidikan

Pesan itu mengemuka dalam Webinar Nasional bertema “Leadership: Membangun Mentalitas Siap Kerja bagi Mahasiswa Perguruan Tinggi Pesantren dalam Memasuki Lapangan Kerja” yang digelar oleh STIS Darul Falah Pagutan, Mataram, NTB,  Sabtu (16/05/26) Via Zoomeeting Webinar Ilmiah . 

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa eksekutif STIS Darul Falah serta peserta umum dari berbagai daerah, dengan Kevin Era Azzura bertindak sebagai moderator.

Dr. Muhammad Arifin, M.Pd

Tampil sebagai Keynote Speaker, Dr. Muhammad Arifin, M.Pd, Wakil Ketua I STIS Darul Falah. Ditegaskannya, terkait lapangan kerja sebenarnya mahasiswa perguruan tinggi pesantren memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa dibanding lulusan perguruan tinggi pada umumnya.

“Nilai-nilai yang ditanamkan pesantren, kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, dan spiritualitas — adalah fondasi karakter pemimpin sejati yang justru paling dicari dunia kerja saat ini. Masalahnya, kita belum cukup percaya diri untuk menunjukkan itu,” ujarnya.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 105:

اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ

“Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.”

BACA JUGA ;  Hardiknas; Gubernur Tekankan Kualitas Pendidikan

Menurutnya, ayat tersebut adalah landasan teologis yang paling kuat mengapa seorang muslim wajib memiliki etos kerja dan mentalitas profesional yang tinggi. Ini yang dibutuhkan dalam lapangan kerja

Bekerja dengan sungguh-sungguh, menurutnya, adalah bentuk ibadah yang disaksikan langsung oleh Allah SWT..

Mentalitas Siap Kerja

Dr. Muhammad Arifin juga memaparkan lima mentalitas siap kerja yang harus dibangun mahasiswa pesantren, yaitu growth mindset, akuntabilitas, resiliensi, komunikasi efektif, serta inisiatif dan proaktivitas. 

Ia menekankan bahwa sifat utama Rasulullah SAW, shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah adalah blueprint kepemimpinan paling sempurna yang relevan hingga hari ini.

“Jangan rendah diri dengan latar belakang pesantren kalian. Itu bukan kelemahan, itu keunggulan yang belum kalian sadari sepenuhnya,” tegasnya. 

Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Abdullah, M.Pd, Dosen Universitas Nurul Jadid Paiton, Jawa Timur, sebagai Narasumber pertama. Ia menyoroti pentingnya penguatan kompetensi abad 21 bagi mahasiswa pesantren, khususnya kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kecerdasan emosional.

Menurutnya, kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan industri bukan semata soal kemampuan teknis, melainkan lebih banyak disebabkan oleh lemahnya soft skills dan kesiapan mental.

“Data menunjukkan bahwa mayoritas kegagalan di dunia kerja bukan karena tidak kompeten secara teknis, tetapi karena tidak mampu beradaptasi, tidak bisa bekerja dalam tim, dan mudah menyerah saat menghadapi tekanan,” paparnya.

Dr. Abdullah menegaskan bahwa mentalitas siap kerja dapat dibentuk melalui beberapa hal konkret, seperti meningkatkan keterampilan komunikasi, kemampuan berpikir kritis, manajemen waktu, kerja tim, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan industri.

“Semua keterampilan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dilatih, diasah, dan dibiasakan sejak di bangku kuliah,” ujarnya.

Pesantren dan Kepemimpinan

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengalaman organisasi, pelatihan kepemimpinan, magang, dan kegiatan sosial juga memiliki peran yang sangat strategis dalam membantu mahasiswa memahami tantangan dunia kerja secara nyata bukan sekadar teori di dalam kelas.

“Mahasiswa yang aktif berorganisasi dan terlibat langsung dalam kegiatan sosial akan memiliki kepekaan, ketangguhan, dan kematangan yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang hanya duduk mendengarkan kuliah,” tegasnya.

BACA JUGA  ;  Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

Ia menutup pemaparannya dengan menekankan bahwa dengan kemampuan leadership yang baik, mahasiswa perguruan tinggi pesantren diharapkan mampu menjadi pribadi yang profesional, percaya diri, mandiri, dan memiliki integritas tinggi.

Hal itu, menurutnya, akan membantu mereka lebih siap memasuki lapangan kerja serta mampu bersaing dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan dunia profesional.

“Pesantren sudah memberi kalian karakter. Kini tugas kalian adalah melengkapinya dengan kompetensi dan keberanian untuk tampil di panggung dunia,” pungkasnya.

Narasumber kedua, Dr. Fathorrahman, M.Pd, Direktur Pascasarjana Institut Kariman Wirayudha Madura, Jawa Timur, membawakan perspektif yang mendalam tentang hakikat manusia sebagai pemimpin di bumi dalam kaitannya dengan kesiapan memasuki dunia kerja.

Ia membuka pemaparannya dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Menurutnya, ayat ini adalah deklarasi Allah SWT atas kedudukan mulia manusia sebagai pemimpin di muka bumi. 

Bukan pemimpin dalam arti sempit yang hanya duduk di kursi jabatan, melainkan pemimpin dalam makna yang paling hakiki yaitu setiap manusia yang mampu mengelola dirinya, memberikan manfaat bagi lingkungannya, dan mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab.

“Sebelum memimpin orang lain, seorang khalifah harus mampu memimpin dirinya sendiri. Itulah inti dari mentalitas siap kerja yang sesungguhnya,” tegasnya.

Dr. Fathorrahman menjelaskan bahwa konsep khalifah mengandung tiga tanggung jawab besar yang sangat relevan dengan dunia kerja.

Pertama, tanggung jawab intelektual manusia dibekali akal untuk berpikir, memecahkan masalah, dan berinovasi. Kedua, tanggung jawab moral setiap pekerjaan dan keputusan harus dilandasi nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Ketiga, tanggung jawab sosial hasil kerja seorang khalifah harus memberi kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan pribadi.

“Mahasiswa pesantren adalah calon-calon khalifah yang paling siap. Kalian sudah ditempa ilmu agama, dilatih akhlak, dan dididik untuk melayani. Kini saatnya kalian melangkah ke dunia lapangan kerja dan buktikan bahwa khalifah yang sesungguhnya hadir dari rahim pesantren,” ujarnya dengan penuh semangat.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan pesantren dengan dunia industri dan pemerintahan guna membuka lebih banyak pintu peluang kerja bagi lulusan.

“Perguruan tinggi pesantren harus berani keluar dari zona nyaman dan membangun kemitraan strategis dengan berbagai sektor. Potensi jaringan alumni pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia adalah modal sosial yang luar biasa dan belum dioptimalkan secara maksimal,” pungkasnya.

Webinar ini menjadi ruang refleksi sekaligus pembangkit semangat bagi para mahasiswa bahwa jalan menuju dunia kerja bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebuah medan pengabdian yang harus dimasuki dengan persiapan matang, mentalitas kuat, dan keyakinan penuh.

Melalui kegiatan ini, STIS Darul Falah Pagutan berharap dapat terus mendorong lahirnya generasi pemimpin muda dari rahim pesantren yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga unggul, kompeten, dan berdaya saing tinggi dalam menghadapi tantangan zaman. AR

 




Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Sebuah Solusi?

Kenanpuan pesantren adalah menerjemahkan pendidikan akhlak menjadi tindakan nyata

MATARAM.LombokJournal.com ~ Belum lama ini, kita dikejutkan berita-berita pilu: pengeroyokan siswa terhadap guru, bullying yang berujung luka fisik dan mental, hingga kekerasan verbal yang menjadi “bahasa sehari-hari” di kalangan pelajar. 

Penulis: Muhamad Arifin: Dosen STIS Darul Falah Pagutan Mataram NTB)

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2023 menunjukkan tingginya angka kekerasan di lingkungan pendidikan, baik secara fisik maupun psikis. Fenomena ini adalah bukti nyata dari degradasi moral yang menggerogoti sendi-sendi karakter anak bangsa.

Situasi ini mengingatkan kita pada peringatan Bung Hatta, “…tidak jujur itu sangat susah diperbaiki.” Kekerasan dan ketidakadilan adalah anak kandung dari ketidakjujuran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Lembaga pendidikan, yang seharusnya menjadi taman yang menumbuhkan kebajikan, justru kerap menjadi panggung konflik dan penyimpangan

Ini adalah alarm darurat bahwa pendekatan pendidikan kita selama ini terlalu menitikberatkan kecerdasan akademik (kognitif) dan mengabaikan penanaman karakter (afektif) serta pembiasaan perilaku (psikomotorik) secara serius.

Lemahnya Fondasi Karakter dan Kendali Diri

Banyak analisis menyebutkan bahwa lemahnya kontrol diri, rendahnya empati, dan kaburnya nilai hormat kepada guru dan sesama adalah akar masalahnya. Dunia digital yang tanpa batas memperparah kondisi ini, di mana kekerasan verbal dan fisik di dunia nyata seringkali merupakan lanjutan dari permusuhan di dunia maya.

Sekolah umum, dengan waktu interaksi yang terbatas dan sistem yang seringkali terjebak pada formalitas kurikulum, kesulitan membangun fondasi karakter yang kokoh. Pendidikan karakter menjadi sekadar mata pelajaran, bukan nafas yang menghidupi seluruh aktivitas sekolah.

Lalu, adakah alternatif ekosistem pendidikan yang mampu membendung krisis ini? Di sinilah pesantren menawarkan model yang relevan. Sebagai sub-kultur pendidikan (Geertz & Wahid), pesantren bukan sekadar sekolah, tetapi sebuah ekosistem kehidupan. Sistem asrama menciptakan lingkungan 24 jam di mana nilai-nilai tidak hanya diajarkan, tetapi “dihidupi” dan “diawasi” secara kolektif.

Kontrol ketat terhadap gadget dan akses internet, seperti diungkapkan Arifin (2024), bukan bentuk pengasingan, melainkan strategi untuk menciptakan ruang aman bagi pembentukan konsentrasi dan karakter. 

Dalam ekosistem ini, hubungan antara santri, ustadz, dan kiai dibangun dengan pondasi rasa hormat (ta’dzim) yang mendalam. Kekerasan fisik atau verbal terhadap guru adalah hal yang hampir tak terbayangkan karena nilai adab kepada pengajar adalah fondasi pertama yang ditanamkan di pesantren.

Akhlak: Lebih Dari Sekedar Teori

Yang membedakan pesantren adalah kemampuannya menerjemahkan pendidikan akhlak menjadi tindakan nyata. Bukan hanya tahu bahwa bullying itu salah, tetapi santri hidup dalam lingkungan yang secara aktif mencegahnya melalui pengawasan peer group dan figur otoritas (kiai/ustadz) yang selalu hadir. Konsep “otot-otot akhlak” yang perlu terus dilatih (Indonesian Heritage Foundation, dalam Arifin, 2024) menemukan medan latihannya yang sempurna di pesantren.

Nilai-nilai inti seperti “hormat” (al-adab), “kasih saying” (ar-rahmah), “tanggung jawab” (al-mas’uliyyah), dan “cinta damai” (as-silm) dikembangkan bukan melalui seminar, tetapi melalui interaksi harian: mengantri mandi, menghormati teman yang sedang menghafal, menyelesaikan konflik dengan mediasi, hingga kerja bakti membersihkan lingkungan. Inilah pendidikan karakter yang aplikatif, yang langsung menyentuh ranah perilaku.

Kontribusi  Pesantren untuk Pendidikan Nasional

Maraknya kekerasan di lembaga pendidikan adalah cermin kegagalan kita membangun ekosistem karakter yang integral. Pesantren, dengan segala keunikannya, menunjukkan bahwa pembentukan karakter memerlukan:

  • Waktu yang cukup: Tidak bisa dicicil 2 jam pelajaran per minggu.
  • Keterlibatan komunitas penuh: Guru, pengasuh, dan senior semua adalah pendidik
  • Keteladanan yang konsisten: Figur otoritas (kiai/ustadz) hidup di tengah dan menjadi contoh utama.
  • Sistem yang mendukung: Aturan, rutinitas, dan pengawasan yang jelas untuk membentuk kebiasaan.

Pemerintah dan pelaku pendidikan formal perlu melihat pesantren bukan sebagai lembaga eksklusif, tetapi sebagai laboratorium hidup pendidikan karakter. Kolaborasi bisa dibangun, misalnya dengan program pertukaran pengalaman, integrasi model mentoring asrama ke sekolah tertentu, atau pelatihan guru yang menekankan pada keteladanan dan pendekatan holistik.

Seperti pepatah Arab yang dikutip penulis, “Syubbānul yaum rijālul ghad”: Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Jika kita ingin masa depan dengan pemimpin yang berintegritas, empatik, dan menjunjung tinggi perdamaian, maka kita harus memperbaiki ekosistem pendidikan yang membentuk mereka hari ini.

Pesantren, dengan warisan panjangnya, menawarkan secercah solusi yang patut dipertimbangkan dan diadaptasi dengan konteks kekinian. Krisis kekerasan di sekolah adalah panggilan mendesak untuk tidak lagi memandang pendidikan karakter sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti dari proses pembelajaran.

Referensi:

Arifin, M. (2024). *Pendidikan Pesantren: Solusi atas Moralitas Anak     Bangsa?*(Artikel orisinal yang dikembangkan).                                                                                                                                                                            Wahid, A. & Geertz, C. (Konsep pesantren sebagai sub-kultur).                                                                                              Indonesian Heritage Foundation. (Konsep 9 Pilar Karakter dalam Arifin, 2024).                                                                    Data dan Laporan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mengenai kekerasan di lingkungan pendidikan.