Angin Puting Beliung Terjang Batukliang Lombok Tengah

Langkah darurat merespon puting beliung telah diambil, mulai dari melakukan assessment (kaji cepat) di lokasi kejadian hingga himbauan waspada kepada masyarakat. 

MATARAM.LombokJournal.com ~ Wilayah Kabupaten Lombok Tengah dilanda cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai angin puting beliung. Fenomena alam ini mulai terjadi pada Selasa (03/03/26), sekitar pukul 10.30 WITA dan mencapai puncaknya pada pukul 17.20 WITA. 

Akibat dari intensitas hujan yang tinggi dan terjangan angin puting beliung tersebut, sejumlah hunian warga dilaporkan mengalami kerusakan.

BACA JUGA : Balita 4 Tahun Hilang Tereret Arus Sungai di Bima

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, dampak paling signifikan terjadi di Desa Selebung, Kecamatan Batukliang. 

Tercatat sebanyak 25 Kepala Keluarga (KK) terdampak secara langsung oleh musibah ini. Tim di lapangan masih terus melakukan pendataan mendalam terkait tingkat kerusakan bangunan maupun kerugian materiil lainnya yang dialami oleh warga setempat.

Merespons kejadian angin puting beliung tersebut, BPBD NTB segera melakukan koordinasi intensif dengan BPBD Kabupaten Lombok Tengah beserta jajaran TNI, Polri, dan aparatur desa setempat. 

BACA JUGA : Ummi Dinda ke Dompu Tinjau Kemiskinan Ekstrem Warga

Langkah-langkah darurat merespon puting beling telah diambil, mulai dari melakukan assessment (kaji cepat) di lokasi kejadian, penyebaran informasi terkini, hingga memberikan himbauan waspada kepada masyarakat. 

Saat ini, bantuan tanggap darurat serta dukungan logistik dan peralatan (Logpal) menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak.

Mengingat wilayah NTB telah memasuki puncak musim hujan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. 

Berdasarkan prakiraan Dasarian I Maret 2026, terdapat peluang curah hujan sangat tinggi (lebih dari 100 mm) dengan probabilitas mencapai 80 persen hingga 90 persen khususnya untuk wilayah Lombok Tengah dan sekitarnya. 

BACA JUGA : Magnet Wisata Baru, NTB Tidak Jualan Pantai Itu itu Saja

Pemerintah berharap warga dapat mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi susulan selama periode peralihan musim ini. dan

 




Hujan Lebat dan Angin Kencang Sampai 1 Maret 2026

Wilayah Sumbawa dan Sumbawa Barat cuaca umumnya diprakirakan Berawan – Hujan Lebat

MATARAM,LombokJournal.com ~ Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Zainuddin Abdul Madjid merilis prakiraan cuaca sampai 1 Maret 2026. 

BACA JUGA : Banjir di Tambora Bima, Ratusan Warga Terdampaj

Cuaca umumnya diprakirakan Cerah Berawan – Hujan Lebat. Suhu udara berkisar 22°C – 33°C. Angin permukaan bertiup dengan variasi arah dominan dari Barat Daya – Barat Laut, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 40 km/jam.

Sedangkan prakiraan cuaca dari 23 Februari sampai 1 Maret 2026 untuk wilayah Pulau Lombok (Kota Mataram, Lombok Utara, Tengah, Timur dan Barat) cuaca umumnya diprakirakan Berawan – Hujan Lebat.

Untuk wilayah Sumbawa dan Sumbawa Barat cuaca umumnya diprakirakan Berawan – Hujan Lebat.

Wilayah Kota Bima dan Bima cuaca umumnya diprakirakan Berawan – Hujan Lebat.

BACA JUGA :  Banjir di Kecamatan Sanggar Bima, Puluhan Rumah Terdampak

Utuk wilayah Dompu cuaca umumnya diprakirakan Berawan – Hujan Lebat.

Dalam rilisnya BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Zainuddin Abdul Madjid mengimbau agar Masyarakat waspada adanya potensi hujan yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, dan Kota Bima pada pagi hingga dini hari.

BACA JUGA : Banjir Bandang di Desa Muer dn Brang Kolong di Sumbawa

Waspada juga tinggi gelombang yang mencapai 2 meter atau lebih di Selat Lombok bagian selatan, Selat Sape bagian selatan dan Samudra Hindia Selatan NTB.(*)

 




Cuaca Ekstrem, BPBD NTB Pimpin Komando Terpadu

Antisipasi cuaca ekstrem dilakukan sejak dini melalui mekanisme komando terpadu 

MAARAM.LombokJournal.com ~ Menghadapi potensi cuaca ekstrem dasarian III Januari 2026, periode 21–31 Januari, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaktifkan komando terpadu lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Berdasarkan informasi dan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah NTB, khususnya di kawasan lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.

BACA JUGA : Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa :  Sebuah  Solusi?

Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Ahsanul Khalik menegaskan, pemerintah daerah melakukan antisipasi cuaca ekstrem sejak dini melalui mekanisme komando terpadu yang dipimpin oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB sebagai leading sektor kebencanaan.

“Pemerintah Provinsi NTB tidak menunggu kejadian. Kesiapsiagaan dibangun berbasis prakiraan cuaca dan upaya pencegahan untuk meminimalkan risiko serta menjaga keselamatan masyarakat”, ujar Ahsanul Khalik di Mataram, Kamis (22/01/26). 

Anaalisis BMKG, potensi hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 70 hingga lebih dari 90 persen di wilayah Sembalun, Bayan, Labuhan Badas, Pekat, dan Tambora. 

Wilayah tersebut merupakan kawasan strategis karena berfungsi sebagai sentra pertanian dan perkebunan. Dan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Pemprov NTB telah menggerakkan OPD sesuai tugas dan fungsinya. BPBD Provinsi NTB melakukan pemantauan intensif di wilayah rawan, menyiapkan personel dan logistik kebencanaan, serta memperkuat sistem peringatan dini dan respons cepat.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) memastikan kesiapan infrastruktur pendukung, Seperti drainase, gorong-gorong, saluran irigasi, serta melakukan pemantauan dan penanganan titik-titik rawan banjir dan longsor, termasuk kesiapan penanganan darurat akses jalan.

Di sektor ketahanan pangan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB melakukan pendampingan kepada petani untuk mengantisipasi potensi gagal panen, mendorong penyesuaian pola tanam, serta memperkuat perlindungan lahan pertanian di kawasan rawan bencana.

Dinas Sosial menyiapkan layanan kedaruratan sosial, termasuk dapur umum dan dukungan logistik bagi masyarakat terdampak apabila diperlukan evakuasi.

BACA JUGA : Konsolidasi Pendidikan Kader Pemula AMAN Mataram

Unsur TNI/Polri juga digerakkan, Basarnas, Taruna Siaga Bencana (Tagana), relawan kebencanaan, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintah desa guna memperkuat respons dan koordinasi di lapangan.

“Koordinasi ini dibangun sejak awal agar risiko cuaca ekstrem dapat ditekan semaksimal mungkin, keselamatan masyarakat terjaga, dan aktivitas ekonomi, khususnya di kawasan sentra pangan, dapat tetap berlangsung”, pungkas Ahsanul Khalik. (edo/jmy)

 




Cuaca Ekstrem, Hujan Lebat dan Angin Kencang Guncang Indonesia

Potensi cuaca ekstrem akan melanda berbagai wilayah Indonesia yang ditandai dengan hujan lebat dan angin kencang setidaknya hingga tanggal 18 Maret mendatang 

JAKARTA.LombokJournal.com ~ Berbagai daerah di Indonesia kembali dilanda cuaca ekstrem saat memasuki masa pancaroba yang bertepatan dengan Bulan Ramadhan 2024. Namun, apa yang menyebabkan munculnya fenomena ini?

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi cuaca ekstrem selama periode pancaroba, yang diprakirakan berlangsung Maret-April 2024, perlu menjadi perhatian serius bagi masyarakat.

Sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, telah memperingatkan akan potensi hujan lebat, angin kencang, bahkan fenomena puting beliung serta hujan es selama masa ini.

BACA JUGA : Pemerintah Jamin Ketersediaan Stok Pangan di Bulan Ramadhan

Situasi cuaca ekstrem ini mengingatkan kita untuk tetap waspada

Dwikorita menjelaskan bahwa pola hujan selama peralihan musim ini cenderung tidak merata, dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat. 

Radiasi Matahari yang cukup besar pada pagi hingga siang hari memicu proses konveksi, yang kemudian memicu pembentukan awan, terutama awan Cumulonimbus (CB) yang dapat menimbulkan hujan deras dan badai.

Bukan hanya itu, BMKG juga memprediksi bahwa cuaca ekstrem masih akan terjadi di sejumlah daerah, termasuk Jabodetabek dan Jawa Barat, setidaknya hingga tanggal 18 Maret mendatang. Beberapa faktor yang mempengaruhi cuaca ekstrem ini antara lain:

Pertama, aktivitas atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) pada fase 4 (Samudera Hindia).

Kedua, gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial yang aktif di sebagian wilayah Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

BACA JUGA : Ramadhan, Masyarakat Diajak Menyambutnya dengan Suka Cita

Ketiga, gelombang atmosfer Kelvin yang diprediksi aktif di beberapa wilayah seperti Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Keempat, Bibit Siklon Tropis 91S yang terpantau di Samudera Hindia tenggara Jawa.

Kelima, sirkulasi Siklonik di sejumlah wilayah seperti Australia bagian utara dan Teluk Carpentaria utara.

Keenam, daerah pertemuan angin (konfluensi) di berbagai perairan Indonesia, seperti Laut Jawa, Selat Karimata, Laut Banda, dan sekitarnya.

Semua kondisi ini dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan, dan bahkan menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor.

BACA JUGA : Imam Shalat Tarawih di Lotim Meninggal Mendadak

Situasi cuaca ekstrem ini mengingatkan kita untuk tetap waspada dan meningkatkan kewaspadaan selama masa pancaroba, terutama bagi para pelaku ibadah puasa di Bulan Ramadhan 2024. ***