Rencana Pembangunan Jalur Kereta Api di Sumbawa, Masih Perlu Kajian Teknis

Berdasarkan hitungan kasar jumlah penduduk di Pulau Sumbawa jauh lebih sedikit dibanding penduduk di Pulau Lombok. Serta topografi dengan perbukitan dikhawatirkan menjadi penghalang rencana tersebut

MATARAM.lombokjournal.com

Rencana pembangunan jalur kereta api di Pulau Sumbawa, mulai dari Poto Tano hingga Sape, harus melalui pertimbangan teknis yang matang, termasuk dari segi kebutuhan masyarakat.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Dr.H. Amry Rakhman menjelaskan,  jika pembangunan jalur kereta api, yang digagas oleh Dinas perhubungan NTB tersebut, benar-benar mendesak maka Dinas Perhubungan sebagai pihak yang berwenang dipersilakan melakukan survei awal sebelum feasibility study (FS) atau uji kelayakan.

Terutama untuk menjawab, apakah pembangunan jalur kereta yang direncanakan membentang melintasi seluruh kabupaten/kota di Pulau Sumbawa, secara teknis dan non-teknis benar-benar bisa dilakukan.

“Hal  itu membutuhkan pertimbangan panjang. Pasalnya, sampai saat ini belum ada kajian terkait hal-hal teknis baik dari segi komersial maupun kebutuhan masyarakat untuk pembangunan jalur kereta pertama di NTB tersebut,” ujar Amry Rakhman, Kamis (22/10.20).

Amry Rakhman menerangkan, fungsi kereta api akan sangat berbeda dengan transportasi massal lainnya.

“Kereta Api kan berbeda dengan bus yang memang fungsinya untuk (angkutan massal) itu. Satu kereta api dengan sekian gerbongnya, berarti paling tidak ada aspek-aspek komersial penumpang dan lainnya yang harus dipertimbangkan,” ujarnya

Menurutnya, Aspek non-teknis dan teknisnya seperti apa?

“Kalau nanti pertimbangannya kepada permintaan pasar dan jumlah penduduk Pulau Sumbawa. Kalau banyak tentu diharapkan pembuatan,’’ katanya.

Jika survei awal telah dilakukan, pihaknya akan meninjau kembali rencana pembangunan jalur kereta tersebut.

Diterangkan, berdasarkan hitungan kasar jumlah penduduk di Pulau Sumbawa jauh lebih sedikit dibanding penduduk di Pulau Lombok. Serta topografi dengan perbukitan dikhawatirkan menjadi penghalang rencana tersebut.

Kedua hal tersebut menjadi penghalang awal untuk mewujudkan pembangunan jalur kereta. Dengan demikian, dalam tahap awal survei diharapkan menampung aspirasi masyarakat di Pulau Sumbawa terkait kebutuhan transportasi massal seperti kereta.

“Kalau memang  sudah sesuai atau tidak sesuai? Kalau iya, kita pertimbangkan juga kebutuhan pasarnya,” pungkas Amry.

Aya