Pertunjukan Media Baru, Mengapresiasi “Unconscious Theory”

Sebagai media baru, pertunjukan ini melibatkan visual (proyeksi, lukisan, atau video), serta eksperimen suara (noise, ambient, glitch)

MATARAM.LombokJournal.com ~  Konser musik yang disebut sebagai Pertunjukan Seni Media Baru bertajuk “Unconscious Theory” akan digelar di Taman Budaya NTB, hari Jum’at- Sabtu (3-4 April 2026) malam. Komunitas Organic Mind yang digagas Mantra Ardhana, seperti biasa tidak semata-mata menyuguhkan komposisi musik.  

BACA JUGA : Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan

Mantra Adhana

Unconscious Theory (teori wilayah bawah sadar) pertunjukan media baru (yang membungkus konser musik) akan menarik karena pertunjukan itu tidak berdiri sebagai konser musik biasa. Pertunjukan tersebut lebih tepat dipahami sebagai persilangan antara seni rupa, bunyi, dan gagasan konseptual.

Mari kita mengulik secara jernih, upaya bisa melihat logika artistiknya, bukan hanya permukaannya. Dalam beberapa kali percakapan Mantra selalu menekankan, “Musik saya merupakan wujud seni rupa melalui bunyi,” begitu kira-kira ungkapnya.

Ketika Mantra Ardhana mengatakan bahwa musik adalah seni rupa melalui irama dan bunyi, ia sedang menggeser cara kita memahami pertunjukan musik.

Biasanya musik dinikmati melalui suara (didengar), sedang lukisan atau seni rupa dinikmati melalui wujud yang dipandang (dilihat). Maka dalam pendekatan Mantra memperlakukan bunyi seperti halnya kita menikmati garis, warna, dan tekstur

Ritme (= pola visua), Frekuensi suara (= warna) dan layer suara (= lapisan cat). Jadi Mantra bukan (laksana) sedang mendiptakan lagu tapi jutru sedang melukis di ruang waktu”  menggunakan suara.”  Berarti penonton tidak hanya semata-mata menikmati bunyi, tapi menikmati komposisi seperti melihat lukisan yang hidup.

“Unconscious Theory” — Wilayah Bawah Sadar

Judul “Unconscious” merujuk pada wilayah bawah sadar—konsep yang kuat dalam psikologi, terutama dalam Psikoanalisa. Ini bisa ditafsirkan bahwa bunyi-bunyi yang muncul kemungkinan tidak linear, tidak naratif. Bisa repetitif, kacau, atau bahkan terasa “tidak selesai”  Tujuannya bukan keindahan konvensional, tapi bunyi akan memicu respons batin

BACA JUGA : Maestro Tari NTB, Mam[u Mengangkat Tradisi Mendunia

Ini seperti kehadiran “masa lalu” yang memberondong seperti mimpi, tidak selalu logis tapi terasa “benar” secara emosional

Ini paralel dengan banyak lukisan Mantra yang nyaris konsisten sebagai rupa simbolik, bayi bisa diartikan sebagai awal kehidupan, kesadaran yang belum terbentuk, kemurnian sekaligus kerentanan. Kalau dikaitkan dengan “Unconscious Theory”, bayi bisa dibaca sebagai representasi manusia sebelum dibentuk oleh bahasa, norma, dan sistem sosial.

Ini bisa diartikan, kira-kira musik yang diciptaka Mantra mencoba kembali ke bunyi primal, ritme tubuh, suara yang belum “terdidik” Ini bukan estetika yang rapi—ini estetika sebelum peradaban

Pertunjukan Media Baru: Bukan Sekadar Audio

Sebagai media baru, pertunjukan ini melibatkan visual (proyeksi, lukisan, atau video), serta eksperimen suara (noise, ambient, glitch), dan mesti dipahami kesadaran ruang sebagai bagian dari karya

Jadi penonton tidak duduk pasif seperti di tengah menonton pertunjukan konser musik. Tapi penonton diajak masuk ke dalam ruang pengalaman (immersive experience). Jadi karya seperti ini perlu pendekatan khusus karena mempunyai akar yang dalam.  Pertunjukan Unconscious Theory sebagai seni konseptual : ide lebih penting dari bentuk, seni bunyi yakni suara sebagai medium visual/ruang, dan harus dipahami pertunjukan ini merupakan eksperimen lintas disiplin (musik dan rupa dan performans).

Baiklah, karya seperti ini dengan mindset “apakah ini enak didengar?”, jangan-jangan bisa mengeewakan. Tapi mari coba ubah pendekatan, dengarkan seperti membaca puisi, bukan lagu, rasakan tubuhmu, bukan hanya telinga, jangan lupa hubungan antara suara dan imaji

Apa yang muncul di pikiran saya? Apakah saya merasa tidak nyaman, kenapa? Apakah ada ingatan atau sensasi yang muncul? Ingat, tujuan karya ini bukan hiburan, tapi pengalaman kesadaran.

Karya seperti “Unconscious Theory” memang tidak mudah, bahkan bisa terasa membingungkan atau “tidak jelas”. Sebab seerti  biasa, karya seperti ini menolak bentuk yang rapi, menolak makna tunggal, tapi mengajak kita masuk ke wilayah yang belum sepenuhnya bisa dijelaskan

BACA JUGA : Puisi ke Media, Perjalanan Lima Karya ke “Ampenan Groove”

Gladi Resik “Unconscious Theory”

Bagi yang mendalami teater atau seni pertunjukan, pendekatan seperti ini penting, karena ini membuka kemungkinan baru tentang bagaimana tubuh, bunyi, dan makna bisa bekerja bersama di atas panggung.

Tapi percayalah, pertunjukan Unconscious Theory ini tetap menyisakan keindahan, kemerduan, dan harmoni. Sperti dalam karya lukisnya, Mantra condong bergaya surealis, tapi lebih sering membingkai “kemolekan”

Mantra Ardhana (director) akan tampil  didamping nama yang tak asing Suradipa, dibantu Putu Sanjiwani dan Bustan Normagomedov, serta vokalis Nyra Maulida, yang selama ini dikenal sebagai pemain teater.  Nyra Maulida akan menyanyikan 7 (tujuh) komposisi yang ditulis Mantra ; 1. A poem made of air 2. Kaliyuga 3. Menanam Rindu dalam sungai malam 4. Contemplation Childhood 5. Daun Djiwa 6. Oxygen poetry 7. Cosmic

OXYGEN POETRY

oh

oxygen poetry

oh

close your eyes

and let the world soften.

draw the breath inward,

let it shape you

gently,

slowly.

feel how the body listens,

how the soul unfurls

in the quiet.

you are a poem—

formless,

loving,

alive.

oh

organic mind

oh

kaes