Perlawanan Sebagai Bahasa Kebudayaan
Dalam banyak kasus, perlawanan justru tumbuh dari keterbatasan—dari ruang yang sempit, dari bahasa yang diawasi, dari ketakutan yang tidak boleh diucapkan
MATARAM.LombokJournal.com ~ Tulisan-tulisan dalam buku ‘Catatan Perlawanan’ ditulis Prof Aba Du Wahid saat masih mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Sastra Arab (tamat 1994).

Saat menulis catatan itu, Aba Du Wahid masih merasakan atmosfer kekuasaan rezim Orde Baru Soeharto. Sehingga catatan dalam tulisan itu merupakan semacam refleksi dari topik kekuasaan dan penindasan.
BACA JUGA : Maestro Tari NTB, Mengangkat Tradisi Mampu Mendunia
Tokoh yang dikenal sebagai oposisi penguasa represif Orde Baru, yaitu Arief Budiman memberi kata pengantar 16 catatan yang ditulis Aba Du Wahid, menyebutnya sebagai model ekspresi cendekiawan, tipikal dunia batin dan realita generasi 80-90 an.
Arief Budiman menyebut ekspresi saat itu para cendekiawan tidak berteriak lantang. Ekspresi yang mengedepan hanyalah gerutuan dan bahkan gumaman. Seharusnya mereka bisa bicara apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Tapi yang keluar adalah eufemisme.
Meski demikian, “Sekalipun begitu, daya dobrak ekspresi seperti inii tidak kalah kuatnya,” tulis Arief Budiman.
Tapi demikianlah ekspresi dalam catatan-catatan yang ditulis Aba Du Wahid, perlawanan tidak selalu berteriak. Tulisan-tulisannya dalam Catatan Perlawanan ini justru sering berbisik. Dalam sejarah Indonesia, terutama pada masa Orde Baru, bisikan itu menjelma menjadi bahasa kebudayaan—sebuah cara bertahan sekaligus melawan ketika ruang politik dikunci rapat.
Pada masa Orde Baru, kekuasaan bekerja bukan hanya dengan aparat, tetapi juga dengan bahasa. Negara tidak sekadar mengatur tindakan, melainkan juga mengontrol cara berpikir dan berbicara. Kritik dibungkam, oposisi dilemahkan, dan wacana publik diseragamkan.
Dalam situasi seperti itu, bahasa resmi menjadi kaku, steril, dan penuh kepatuhan. Ia tidak lagi menjadi alat ekspresi, melainkan instrumen kekuasaan.
BACA JUGA : Puisi ke Nada : Perjalanan Lima Karya dalam “Ampenan Groove”
Para cendekiawan, termasuk mahasiswa, perlawanan tidak harus dengan cara frontal melalui teriakan. Dalam banyak kasus, perlawanan justru tumbuh dari keterbatasan—dari ruang yang sempit, dari bahasa yang diawasi, dari ketakutan yang tidak boleh diucapkan.
Bahasa Kebudayaan
Pada masa rezim Orde Baru, Aba Du Wahid menemukan cara lain untuk berbicara. Ia menulis catatan untuk tidak berhenti melawan dengan mengganti bahasanya.
Kebudayaan menjadi tempat persembunyian sekaligus medan perlawanan. Saat kritik politik dibungkam, panggung teater, puisi, dan humor menjelma menjadi ruang alternatif. Di sana, perlawanan tidak tampil sebagai slogan, melainkan narasi simbol.
Ia tidak berteriak, tetapi mengendap. Tokoh-tokoh dalam lakon tidak sekadar berperan, tetapi menyiratkan. Penonton pun tidak sekadar menyaksikan, tetapi membaca.
“Buku ini (Catatan Peralawanan, red) bukan karya sastra,” kata Aba Du Wahid.
Catatan-catatan yang ditulisnya diakuinya hanya cetusan begitu saja dari suatu pengalaman. Bisa jadi catatan ini memuat pesimisme dan optimisme serta kegamangan subyektif dalam menghadapi keadaan yang serba menindas (Pengatar Penulis).
Ada semacam kesepakatan diam-diam: yang tidak bisa dikatakan secara langsung, bisa dipahami bersama melalui tanda, perumpamaan, atau proyeksi. Inilah yang membuat perlawanan sebagai bahasa kebudayaan pada masa Orde Baru memiliki kedalaman yang khas.
Ia bukan hanya bentuk ekspresi, tetapi juga strategi bertahan. Dalam tekanan, kebudayaan dipaksa menjadi cerdas. Sensor melahirkan kecanggihan simbolik. Represi, secara paradoks, memperkaya cara kita berbicara.
Dalam buku setebal 175 halaman (terbit tahun 2000) itu, Aba Du Wahid menulis catatan perjalanannya (mahasiswa era Rezim Orde Baru) dalam bahasa plastis, kisah-kisah dalam tanya jawab yang kritis.
Misalnya, ia memang berharap (pada masa Orde Baru) agar ‘kalau ada yang mau bicara apa pun jangan dibungkam’. Meski kemudian Wahid menyindir, (pada masa Orde Baru) bahwa ‘kritik boleh-boleh saja, protes sah-sah saja, tapi gue tetap tak mau dengar’.
“Mungkin kicau burung yang indah saja dikira auman harimau lalu mesti harus ditembak….” tulis Wahid (hal15)
Nasib Perlawanan Dalam akhir buku ini, Aba Du Wahid mengambil kisah simbolik Abu Dzar, yang dikenal sebagai sahabat Rasulullah, yang berani melakukan perlawanan frontal pada kekuasaan yang penuh kepalsuan dan menindas. Ini semacam proyeksi dari situasi pemerintah yang korup, penuh kepalsuan dan anti kritik yang dinilai sebagai perlawanan. Ia memimpin perlawanan dari kalangan tertindas
Abu Dzar datang sebagai sesama orang kecil yang menuntut hak-haknya, yang telah lama dirampas penguasa. Rakyat kecil kalau bicara mulutnya ditampar, Dan kalau bicara lagi nafkahnya diputus. Kalau tetap bandel akan dibredel dan dipenjara. Dan tujuh turunan akan dicap sebagai ‘anggota partai terlarang’.

Abu Dzar yang berani memimpin perlawanan bersama orang-orang tertindas, akhirnya dibuang ke daerah terpencil yang kering dan tandus. Ia bersama istri dan anaknya hidup dalam keadaan berat dan mengalami penderitaan yang tiada taranya.
BACA JUGA : Toleransi Diperkuat Pada Perayaan dhul Ftri – Nyepi 2026
Apakah kisah Abu Dzar merupakan proyeksi dari nasib yang akan dialami para cendekiawan (yang hidup era rezim Orde Baru) yang berani frontal mengkritik penguasa?
Catatan Perlawanan buku reflektif Aba Du Wahid asyik dan layak dibaca untuk berkaca tentang situasi pada rezim Orde Baru yang menindas.***