Mahasiswa NTB-Jakarta, Desak Pemerintah Tetapkan Gempa Lombok Sebagai Bencana Nasional

Aksi seribu lentera lilin dan doa bersama menyampaikan harapan bersama, agar pemerintah amemberikan perhatian khusus terhadap korban bencana gempa di Lombok

lombokjournal.com —

JAKARTA — Satuan Aksi Aktivis Nusa Tenggara Barat (SAKTI-NTB) yang terdiri atas  Orda, Ormas, Mahasiswa, Dan Aktivis sejabodetabek, bakar 1000 lentera lilin.

Gerakan itu sebagai Aksi solidaritas dengan tema ‘ nyala untuk Lombok’ di bunderan Hotel Indonesia Kamis malam (09/08).

Dalam aksi seribu lentera lilin ini juga digelar doa bersama menyampaikan harapan bersama, agar pemerintah amemberikan perhatian khusus terhadap korban bencana gempa di Lombok,.

Presidium 1 SAKTI-NTB,  Mubaddin Sahlan, menyampaikan itu melalui siaran pers, Minggu (12/08)

Aksi bakar 1000 lilin dan do’a bersama ini, dihadiri oleh tokoh muda Lombok Bang Karman adalah bagian dari ekspresi duka terhadap korban bencana gempa bumi di Lombok.

“Aksi ini pun melibatkan OKP Ormas Orda Aktivis Dan Mahasiswa Sejabodetabek,” ungkap Mubaddin Sahlan .

SAKTI menggelar doa bersama untuk keselamatan para korban gempa  serta  memberi dukungan semangat terhadap korban atas bencana gempa bumi yang dahsyat dengan kekuatan 7 dan  6.2 SR yang  menelan korban jiwa dan memporak-porandakan segenap aspek kehidupan, tambahnya .

Selain itu, SAKTI NTB berharap  pemerintah pusat bisa memberikan perhatian khusus terhadap korban bencana Lombok.

SAKTI NTB memandang gempa Lombok merupakan gempa nasional karena  memakan korban jiwa yang cukup banyak, semua bangunan atau rumah hancur,  dan aktivitas pemerintah lumpuh,  serta akses jalan raya banyak yang terputus.

“Kami meminta pemerintah pusat untuk memberikan perhatian khusus kepada korban gempa lombok,” beber Mubaddin Sahlan prihatin .

Mewakili SAKTI-NTB Mubaddin Sahlan mengucapkan terimakasih kepada seluruh OKP, Ormas,  Orda,  Mahasiswa dan Aktivis Sejabodetabek, yang menyempatkan diri hadir memberikan dukungan semangat kepada korban bencana lombok melalui aksi bakar 1000 lilin,” ucapnya .

 

Sementara itu, Karman dalam sambutannya menyanpaikan perasaan terharu dan terimakasih pada peserta aksi.

“Saya, atas nama warga lombok khususnya yang terkena gempa menyampaikan terima kasih, atas aksi solidaritas teman teman mahasiswa dari Bima, Medan, Aambon,  HMI maupun  HIMMAH,” tambah Karman .

Bagi Karman, aksi solidaritas ini menjadi penyemangat yang ada di Lombok agar menjadi tambah optimis,” tambah Karman

Dalam orasinya Karman Menyikapi usulan yang beredar  agar gempa bumi Lombok dijadikan bencana nasional. Dirinya ikut  mendorong pemerintah agar menetapkan gempa Lombok sebagai bencana nasional.

“Kategori bencana nasional penting, supaya penanganan korban bencana lebih efektif. Mengingat intensistas gempa belum  surut. Bahkan, tercatat sampai ratusan kali gempa susulan. Apa lagi info adanya gempa susulan yang beseliweran membuat warga tambah was was. Untuk itulah Status bencana nasional penting. Untuk penanganan yang lebih maksimal.” tukas  Karman.

Me ( *)




BAGUNA DPD PDIP DKI  Buka Dapur Umum di KLU

Para pengungsi perlu mewaspadai penyebaran penyakit ISPA maupun Lambung, ini terkaitkondisi cuaca maupun keadaan di kamp pengungsian terutama menyangkut pola konsumsi

lombokjournal.com —

LOMBOK UTARA —  Puluhan Relawan BAGUNA (Badan Penanggulangan Bencana) DPD PDIP DKI beserta relawan pencinta alam Maha Merah dan Banteng Muda Indonesia (BMI) menggelar dapur umum korban gempa bumi di Lombok Utara , Sabtu (11/08) .

Menurut Bendahara Baguna DPD PDIP DKI, Vindri Puspita Sari, Bhakti sosial yang dilakukan ini merupakan kepedulian dan atensi  PDIP terhadap tragedi kemanusiaan yang melanda masyarakat Lombok umumnya dan rakyat Lombok Utara khususnya .

“BAGUNA PDIP DKI, MahaMerah dan BMI akan menyediakan nasi bungkus 2000 perhari untuk disalurkan korban gempa mulai hari Minggu ini,” ujarnya, didampingi Sekretaris Baguna PDIP DKI Uki Uban.

Selain menggelar dapur umum , lanjut Vindri Puspita Sari, Baguna PDIP juga mendistribusikan bantuan kemanusiaan lainnya seperti selimut , obat obatan maupun tim dokter dari DPP PDIP.

“Semua bantuan tersebut sebagai wujud solidaritas sosial dari PDIP yang ikut merasakan penderitaan para korban gempa,” bebernya .

Sementara itu Ketua Baguna DPD PDI NTB, Ahmad Sukro mengungkapkan, hingga saat ini Baguna telah memberikan aneka bantuan kemanusiaan untuk korban gempa baik di Lombok Timur, Lombok Utara maupun di Lombok Barat.

“Posko Baguna PDIP NTB di Obel-obel, Lombok Timur masih tetap beroperasi untuk melayani korban gempa dengan berbagai aktifitas,” kata Sukro yang berprofesi sebagai Notaris ini.

Sukro menyadari, Bhakti sosial yang dilakukan Baguna ini tidak mungkin bisa menjangkau semua korban gempa karena keterbatasan yang dimiliki.

“Meskipun demikian PDIP NTB akan berbuat maksimal meringankan beban warga Lombok yg terdampak tanpa membedakan afiliasi politiknya ,” kata Ahmad Sukro yang tiada henti melayani korban gempa.

Terpisah Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat dari Mekkah Saudi Arabia mengatakan persoalan gempa di Lombok ini merupakan kerja panjang yang terencana dengan baik mulai dari evakuasi, rehabilitasi maupun recoveri warga yang terdampak.

“Untuk itu PDIP sudah menyiapkan blueprint  pemulihan paska bencana tapi ini  memerlukan kerjasama dengan para stakeholder terkait ,” ujarnya.

Terkait dengan hal tersebut, Ketua DPC PDIP Lombok Utara Raden Nuna Abriadi mengungkapkan pihaknya akan bekerjasama dengan semua pihak yang peduli , khususnya setelah tanggap darurat usai.

Hal ini terkait dengan masivnya daya rusak gempa di KLU yang hampir meluluhlantakan semua infrastruktur di Lombok Utara.

“Warga KLU harus bangkit dari keterpurukannya ini karena tidak selamanya bantuan ini mengalir,” katanya .

Untuk itu Pemerintah beserta warga KLU perlu bergotong-royong membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan di wilayah masing-masing.

“Pemerintah perlu menurunkan lebih banyak alat-alat  berat untuk membersihkan puing2 bekas gempa agar warga KLU bisa menata kehidupannya lagi ,” ucapnya .

Waspadai Penyakit

Dokter Muda dari MDMC ( Muhammadiyah Disaster Medical Center) dr Silvi Diah Ningrum mengatakan, para pengungsi perlu mewaspai penyebaran penyakit ISPA maupun Lambung. Hal ini terkait dengan kondisi cuaca maupun keadaan di kamp pengungsian terutama menyangkut pola konsumsi.

“Selain itu yang perlu dicermati juga munculnya penyakit yang sulit diduga prediksi selama dipengungsian ,’ tambahnya .

Menurut  dr Silvi, saat ini warga korban gempa KLU memerlukan tenaga medis dan obat obatan untuk mengantisipasi munculnya penyakit disejumlah kamp pengungsian.

“Pihak MDMC akan menerjunkan sejumlah dokter dari Malang untuk membantu korban gempa dengan berbagai spesialisasinya ,” ungkapnya.

Terkait Posko Baguna PDIP  di Tanjung Lombok Utara semalam sudah melayani kebutuhan ngopi dan makan malam. Tampak beberapa petugas PLN Divre Malang – Surabaya  maupun sopir truk tronton pengangkut bantuan tidak canggung ngopi dan ngobrol dengan relawan Baguna PDIP melepas lelah.

Me (*)




Penjelasan BMKG Terkait Isu Energi Gempa Sebesar M=6,9.

Hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempabumi dengan tepat dan akurat

MATARAM.lombokjournal.com – Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, S.T., Dipl.Seis., M.Sc.mengatakan, menanyakan kepada BMKG mengenai kebenaran adanya viral screen shot laman Facebook dari seorang peneliti gempa yang menyebutkan,  di Lombok masih tersimpan energi gempa sebesar M=6,9.

Warga masyarakat Lombok yang  sedang mengalami musibah gempabumi merasa resah karena itu

Pihak BMKG memberi penjelasan tentang kebenaran informasi tersebut.

“Hal ini membuat kami untuk memberikan beberapa hal sebagai berikut,” kata Rahmat Triyono melalui rilis yang disampaikan Minggu, (12/08)

Penjelasan BMKG yang disampaikan Rahmat Triyono yakni beberapa hal;

  1. Informasi dalam laman Facebook tersebut bukan merupakan hasil kajian BMKG. Pemilik akun Facebook tersebut juga bukan pegawai BMKG
  2. Hasil kajian tersebut tidak menyebutkan sumber data yang digunakan dan metode analisis yang digunakan, sehingga BMKG tidak dapat menilai tingkat kebenaran dan akurasi kajian tersebut
  3. Hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempabumi dengan tepat dan akurat (kapan, dimana, dan berapa kekuatannya)
  4. Pastikan informasi terkait gempabumi bersumber dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)5.
  5. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya kepada informasi viral yang tidak bersumber dari lembaga yang berwenang.

Masyarakat dihimbau untuk terus mengupdate informasi BMKG melalui aplikasi android dan iOS “Info BMKG”, Twitter @infoBMKG dan website BMKG www.bmkg.go.id.

AYA (*)

 

 




Tanggap Darurat Diperpanjang Hingga  25 Agustus

Hingga Sabtu (11/08),  tercatat 387 orang meninggal dunia. Sebarannya, Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30 orang, Lombok Timur 10, Kota Mataram 9, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang

Tenda pengungsi

MATARAM. Lombokjournal.com – Hari  keenam pascagempa bumi 7 SR yang mengguncang wilayah di Nusa Tenggara Barat dan Bali, penanganan darurat masih terus diintensifkan..

Masa tanggap darurat penanganan dampak gempabumi di Nusa Tenggara Barat berakhir pada 11/8/2018. Namun mempertimbangkan masih banya masalah dalam penanganan dampak gempa,

Gubernur Nusa Tenggara Barat memutuskan untuk memperpanjang 14 hari masa tanggap darurat yaitu terhitung 12 hingga 25 Agustus 2018.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, menyampaikan rilis itu, Sabtu (11/08).

Dii lapangan masih banyak permasalahan, misalnya masih adanya korban yang harus dievakuasi, pengungsi yang belum tertangani dengan baik, gempa susulan yang masih terus berlangsung bahkan gempa yang merusak dan menimbulkan korban jiwa.

Penetapan masa tanggap darurat memungkinkan ada kemudahan akses pengerahan personil, penggunaan sumberdaya, penggunaan anggaran, pengadaan barang logistik dan peralatan, dan administrasi.

“Sehingga penanganan dampak bencana menjadi lebih cepat,” kata Sutopo.

Jumlah Korban

Jumlah korban gempabumi terus bertambah. Hingga Sabtu (11/08),  tercatat 387 orang meninggal dunia. Sebarannya, Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30 orang, Lombok Timur 10, Kota Mataram 9, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang.

Jumlah korban meninggal akan terus bertambah karena masih ada korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh, dan adanya korban meninggal yang belum didata dan dilaporkan ke posko.

Jika di Kabupaten Lombok Timur kemarin dilaporkan 11 orang meninggal dunia. Setelah diverifikasi ternyata terjadi pencatatan ganda. Satu korban dilaporkan 2 kali karena menggunakan nama panggilan dan nama lengkap.

Sebanyak 13.688 orang luka-luka. Pengungsi tercatat 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik. Ratusan ribu jiwa pengungsi tersebut tersebar di Kabupaten Lombok Utara 198.846 orang, Kota Mataram 20.343 orang, Lombok Barat 91.372 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.

 

Angka pengungsi berubah-ubah karena banyak pengungsi yang pada siang hari kembali ke rumah atau menengok kebunnya, tetapi pada malam hari kembali ke pengungsian.

Belum semua titik pengungsi terdata. Juga terdapat sebagian warga yang harusnya tidak perlu mengungsi karena kondisi rumah masih berdiri kokoh tanpa kerusakan, tapi ikut mengungsi karena trauma dengan gempa. Semuanya memerlukan bantuan.

Sedangkan kerusakan fisik masih sama jumlahnya, yaitu 67.875 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak. Angka ini juga sementara.

Pendataan dan verifikasi masih dilakukan petugas. Pendataan dan verifikasi rumah diprioritaskan agar terdata jumlah kerusakan rumah dengan nama pemilik dan alamat untuk selanjutnya di-SK-kan Bupati/Walikota dan diserahkan ke BNPB.

Selanjutnya korban menerima bantuan stimulus perbaikan rumah.

Hingga H+6 masih terdapat beberapa pengungsi yang belum mendapat bantuan, khususnya di Kecamatan Gangga, Kayangan dan Pemenang yang aksesnya sulit dijangkau.

Juga di beberapa titik di Lombok Barat. Bantuan logistik terus berdatangan. Permasalahan utama adalah distribusi logistik yang untuk mengirimkan ke ribuan titik pengungsian.

Akses jalan menuju lokasi pengungsi juga rusak. Sebagian besar jalan di Lombok Utara mengalami kerusakan akibat gempa. Oleh karena itu percepatan distribusi logistik menjadi prioritas saat ini, selain pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda, selimut, makanan siap saji, beras, MCK portable, air minum, air bersih, tendon air, mie instan, pakaian, terpal/alas tidur, alat penerang/listrik, layanan kesehatan dan trauma healing.

Re/BNPB

 




PKK NTB Layani Kebutuhan Makan Korban Gempa

Hj. Erica mengajak masyarakat agar berpartisipasi menyumbangkan tenaga, bahan makanan ataupun makanan yang sudah jadi di dapur umum

JAKARTA.lombokjournal.com –  TP PKK NTB. organisasi yang dipimpin Hj. Erica Zainul Majdi,  terus berupaya memenuhi kebutuhan berupa makanan kepada para korban. Saat ini, yang paling diperlukan oleh para korban adalah makanan dan air minum.

Gempa susulan beberapa hari terakhir ini tidak menyurutkan semangat seluruh Jajaran TP PKK NTB untuk melayani masyarakat terdampak gempa.

Melalui dapur umumnya yang sudah berlangsung beberapa hari ini, istri Gubernur NTB ini, bekerja sama dengan BKOW, DWP selalu berada di dapur untuk memasak, membungkus dan menyalurkan makan tersebut kepada sejumlah wilayah.

Sampai hari i, Jum’at (10/08), Hj. Erica telah membagikan makanan tersebut ke sejumlah desa di kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram.

Makanan tersebut dibagi kepada para korban dan tenaga medis, baik yang berada di pusat-pusat pengungsian maupun di rumah sakit. Makanan yang disalurkan tersebut merupakan hasil sumbangan dan bantuan masyarakat umum, baik perorangan maupun organisasi.

Hj. Erica mengajak masyarakat agar berpartisipasi menyumbangkan tenaga, bahan makanan ataupun makanan yang sudah jadi di dapur umum ini. Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi di dapur umum ini dapat menghubungi narahubung di 081805266380 / 08113902226.

Rr




Pendamping Desa Fasilitasi Pendistribusian Bantuan Korban Gempa Lombok

Bantuan yang akan didistribusikan berupa beras sebanyak 1.5 Ton, selimut sebanyak 500 buah, sarung sebanyak 500 buah, Telor sebanyak 350 krat, Air mineral sebanyak 500 dus, obat-obatan sbanyak 500 paket, susu balita sebanyak 50 dus, mie instan sebanyak 200 dus, pempers sebanyak 50 dus dan terpal sebanyak 20 buah

MATARAM.lombokjournal.com — Tenaga Pendamping Profesional Indonesia atau  Pendamping Desa di Provinsi NTB, memfasilitasi kerjasama bantuan bahan-bahan kebutuhan pokok dengan pihak donatur

Para pendamping desa itu membantu mendistribusikan kepada masyarakat korban gempa bumi di Lombok, Jum’at (10/08).

Untuk diketahui, para Pendamping Desa itu terdiri dari Tenaga Ahli Koordinator Program Provinsi, Tenaga Ahli Kabupaten, Pendamping Desa Kecamatan dan Pendamping Lokal Desa,

Menurut Koordinator Program Provinsi, Tauhid Rifai, didampingi TA SDM, Husni Anshori, TA KN-P3MD, Arwani, Ahmad Labib dan Choiril Akbar, bantuan tersebut dari donatur untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak gempa..

“Kami Pendamping Desa sangat prihatin atas musibah yang menimpa warga masyarakat. Karenanya, kami inisiasi kerjasama dengan donator, dan kami  langsung mendistribusikan ke posko-posko pengungsi, terutama yang didirikan oleh Pendamping Desa yang tersebar di titik-titik strategis, baik di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat dan Lombok Timur,” kata Tauhid Rifai.

Bantuan tersebut berupa beras sebanyak 1.5 Ton, selimut sebanyak 500 buah, sarung sebanyak 500 buah, Telor sebanyak 350 krat, Air mineral sebanyak 500 dus, obat-obatan sbanyak 500 paket, susu balita sebanyak 50 dus, mie instan sebanyak 200 dus, pempers sebanyak 50 dus dan terpal sebanyak 20 buah.

Kepala Dinas PMD Provinsi NTB, Ashari didampingi Zulkarnaen dari Kemendes PDTT, atas nama Direktur PMD, M. Fachri menghargai setinggi-tingginya kepada Pendamping Desa atas usaha keras dan fasilitasi kerjasama dan distribusi bantuan dari para pihak.

“Inilah salah satu bukti keberhasilan dan keberpihakan Pendamping Desa secara konkrit dalam  membantu korban gempa yang sangat kita apresiasi”, katanya.

Bantuan tersebut dipusatkan di Pos Pengendali Penanganan Gempa  Tingkat Provinsi,  selanjutnya didistribusikan ke posko-posko  Pengendali di Tingkat  Kabupaten dan Posko pengungsi tingkat Kecamatan sejumlah 9 tempat yang tersebar di Kecamatan-kecamatan dan pelosok-pelosok Desa.

Posko Pengendali Tingkat Provinsi tersebut terletak di  Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Posko Pengendali Tingkat Kabupaten difokuskan di Lombok Utara yang terletak di Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang dan Desa Gondang, Kec. Gangga, Kab Lombok Utara.

Selanjutnya Posko Pengendali Kab Lombok Barat terletak di Desa Kekeri, Kec. Gunungsari yang juga difungsikan untuk Posko Pengendali  tingkat Provinsi.

Semua posko tersebut digunakan untuk keperluan koordinasi, konsultasi, fasilitasi, edukasi dan pengendalian semua bantuan bagi masyarakat terdampak gempa. Dan  kegiatan pendampingan Desa. Baik di saat bencana maupun recovery pasca bencana yang sumber pembiayaannya dari Direktorat PMD dan  Konsultan Nasional P3MD dan PID.

“Di masing-masing posko disiapkan layanan  kesehatan, dapur dan pos pelayanan publik yang disiagakan Tenaga  Pendamping Desa yang siap membantu mendistribusikan bantuan ke posko-posko pengungsi di pelosok-pelosok  Desa maupun Dusun, terutama  yang belum banyak mendapat bantuan,” kata Kadis.

Re




Pasca Gempa Bumi Lombok, Tak Boleh Ada Satu Korban Pun Yang Tak Terurus

Korban gempa di Lombok Utara yang kini berdesak-desakan di tenda pengungsian, sebagian besar tempat tinggalnya ambruk atau sudah tak layak untuk ditempati

Kerusakan kantor di Mataram

 

Lombokjournal.com –  Menteri Sosial, Indrus Maharham, saat mengunjungi tenda-tenda pengungsi Pasca gempa di Lombok Utara pada 5 Agustus, Selasa (06/08), mengungkapkan pada media pesan Presiden Jokowi terkait bencana gempa bumi di Lombok.

“Ini arahan Bapak Presiden, kata Bapak Presiden pastikan semua anak bangsa yang kena dampak dari bencana semua diurusi, tidak ada yang tidak diurusi,” kata idrus saat itu.

Apa yang disampaikan Menteri Sosial di tengah-tengah para pengungsi itu itu menggembirakan. Tapi benarkah pemerintah telah mengurus semua korban bencana gempa bumi magnitudo 7,0 di Lombok?

Jawabnya, tentu saja belum. Memang pemerintah telah bekerja keras. Tak mudah mengurus para korban gempa yang berada di lokasi terpisah, dan tersebar di berbagai lokasi terpencil. Seandainya masalah logistik tertangani, masalah lain segera muncul yang minta segera diurus.

“Penanganan tanggap darurat saat ini diambil alih Pemerintah Provinsi,” kata Plt Kabag Humas Kabupaten Lombok Utara (KLU), Jum’at (10/08).

Memang logistik merupakan masalah utama yang paling depan harus diurus. Namun segera muncul masalah ikutan pasca gempa yang juga mendesak diatasi, misalnya masalah kesehatan pengungsi.

Belum terdata semuanya ribuan rumah-rumah warga yang ambruk.  Korban gempa di Lombok Utara yang kini berdesak-desakan di tenda pengungsian, sebagian besar tempat tinggalnya ambruk atau sudah tak layak untuk ditempati. Juga korban yang masih tertimbun reruntuhan rumahnya atau bangunan lainnya yang masih belum dievakuasi.

Dan jangan dilupakan, hingga kini belum semua desa dialiri  listrik, dan air bersih belum tersedia.

Infrastruktur pemerintah daerah khususnya di Lombok Utara  yang rusak, termasuk jalan utama atau  rusaknya jembatan yang mengubungkan antar daerah di Lombok Utara.

‘’Pelayanan di Lombok Utara bisa dikatakan lumpuh. Sebagian besar kantor pemerintah rusak. Pak Bupati memang menginginkan karyawan pemda segera aktif masuk kantor, bila perlu bekerja di kantor darurat,” kata  Dedy Mujadid, Jum’at

Menurut Dedy, gempa Lombok berkekuatan 7,0 SR benar-benar memporak porandakan Lombok Utara. Disamping akibat yang ditimbulkannya merusak pemukiman penduduk,dan infrstruktur pemerintahan di Lombok Utara,  berdasarkan data yang dihimpun dari camat-camat se Lombok Utara,  per 8 Agustus telah menelan korban 347 jiwa.

“Diperkirakan jumlah korban jiwa terus meningkat. Karena banyak korban tanah longsor dan bangunan ambruk lainnya, belum dievakuasi,” jelas Dedy yang kini harus bersiaga tiap hari di kantornya.

Jumlah korban jwa berdasarkan laporan Camat dan Kepala Desa se KLU yang dilaporkan ke Bupati Najmul Akyar itu, jauh lebih besar dari laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Karena korban di lokasi terpencil lepas dari catatan BPBD.

Para Pengungsi Makin Gelisah

Perasaan cemas dan gelisah, serta ketidak pastian kini melanda warga yang mengungsi di KLU khususnya, dan warga Lombok umumnya. Sebenarnya, setelah gempa hari Minggu (05/08) berkekuatan 7,0 SR, masyarakat Lombok sempat lega.

Sebab penjelasan BMKG, gempa hari Minggu (29 Juli) 6,4 SR tersebut merupakan main shock (goncangan utama), artinya gempa susulan berikutnya skalanya lebih kecil. Namun apa yang terjadi? Ternyata gempa berikutnya, Selasa (06/08), lebih besar yaitu 7,0 SR yang dampaknya lebih parah.

Demikian juga gempa berikutnya, Kamis (08/08), meski kekuatannya lebih kecil yaitu 6,2 SR namun guncangannya lebih besar.  Di Kota Mataram, gempa susulan tersebut sedikitnya 3 orang meninggal dunia terkena runtuhan bangunan, yakni Erna Wati, Karyawan Citra Mulia, di Cakranegara dekatbpasar buah, meninggal akibat Tertimpa Runtuhan Bangunan.

Korban lainnya, Aisah, Lingk. Pengempel Indah, Kel. Bertais, sandubaya, juga akibat tertimpa runtuhan tembok rumah. Dan Inak Fajariah, di GN Sari yang meninggal dunia tertimpa runtuhan rumahnya.

Ternyata, pihak BMKG mengaku salah memberi informasi terkait penjelasan tentang gempa yang dikategorikan main shock.

Kalau BMKG salah menjelaskan  informasi, terus siapa yang harus dipercaya?

Re




Akibat Gempa, Bupati Dan Wakil Bupati Serta Pejabat  Lombok Utara, Tinggal Di Tenda Pengungsian

Guncangan gempa merata dirasakan dan tidak mengenal rumah pejabat. Bahkan bangunan rumah Bupati Lombok Utara pun tinggal menunggu roboh saja

lombokjournal.com –

LOMBOK UTARA ;  Bupati Lombok Utara, H Najmul Akhyar, ikut tinggal di tenda seperti halnya warga lainnya di posko pengungsian Dusun Menggala, Desa Persiapan Menggala, Kecamatan Pemenang.

Ini akibat mempa berkekuatan 7,0 SR hari Minggu (05/08) yang meluluhlantahkan Kabupaten Lombok Utara (KLU).  Nyaris sebagian besar bangunan rumah warga serta puluhan infrastruktur pemerintahan rusak berat diguncang gempa.

Guncangan gempa merata dirasakan dan tidak mengenal rumah pejabat. Bahkan bangunan rumah Bupati Lombok Utara pun tinggal menunggu roboh saja.

Tidak ada yang membedakan tenda yang digunakan bupati dengan warga lainnya. Tenda mandiri menggunakan terpal didirikan bersama istri dan anaknya.

“Saya selalu memantau kondisi masyarakat yang mengungsi di semua titik pengungsian. Saya hanya ingin memastikan merka baik-baik saja,”ujar bupati disetiap kali bertemu wartawan.

Dikatakannya, pemerintah tidak diam. Pemerintah selalu ada untuk masyarakat meski sama-sama berstatus sebagai pengungsi.

“Ini ujian untuk kita untuk Lombok Utara. Meski demikian, kita tidak patah semangat semua pejabat ikut bergerak bahkan tidak tidur sekarang ini,”katanya, Kamis malam (0 9/08)

“Saya pun hampir setiap hari tidak tidur. Di pengungsian saya dan keluarga juga bersama warga pengungsi yang lainnya,”sambungnya,

Lebih lanjut, bupati menyampaikan rasa terimakasih kepada semua masyarakat, relawan, dermawan dan semua pihak yang terlibat dalam membantu para korban. Terlebih lagi rasa syukur kepada masyarakat dari semua daerah yang membantu menyumbangkan warga masyarakat, menyumbangkan sebagian  sedikit hartanya untuk para korban.

“Sesungguhnya kita sedang di uji oleh Allah SWT,”tutupnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Utara, Syarifuddin juga ikut jadi pengungsi karena  rumahnya juga roboh. Selain itu puluhan pejabat Lombok Utara mengalami hal serupa , tinggal di tenda pengungsian.

Me

 




Ratas Gubernur NTB Bersama Presiden, Instruksikan Evakuasi Korban Prioritas

Selama proses tanggap darurat ini, Kepala Negara ingin jajarannya memastikan segala kebutuhan para korban terdampak gempa terpenuhi

JAKARTA.lombokjournal.com –  Presiden menginstruksikan, agar proses evakuasi bagi para korban bencana gempa di Lombok yang belum ditemukan menjadi prioritas bagi pemerintah. Terutama dalam proses tanggap darurat yang saat ini sedang berjalan.

Hal itu disampaikan presiden dalam  rapat terbatas (ratas), yang digelar Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (10/08) siang.

Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menghadiri ratas tersebut.

“Saya perintahkan langsung Kepala BNPB, Basarnas, Panglima TNI, dan Kapolri untuk segera bergerak fokus pada upaya-upaya evakuasi, termasuk di dalamnya evakuasi wisatawan yang ada di pulau di sekitar Lombok, memberikan perawatan kepada korban, dan penanganan pengungsi. Saya minta evakuasi yang belum ditemukan untuk menjadi prioritas,” ungkap presiden di hadapan sejumlah menteri.

Sejak pertama kali menerima laporan bencana gempa di NTB pada 29 Juli 2018 lalu, Kepala Negara terus memantau proses penanganan pascabencana di NTB. Dirinya selalu menerima laporan terkini mengenai jumlah korban baik yang meninggal maupun yang luka-luka serta jumlah kerusakan fasilitas umum.

“Saya mendapat laporan dari lapangan proses pencarian korban terus dilakukan secara intensif dan sudah banyak mulai mengerahkan alat-alat berat,” ucapnya.

Selama proses tanggap darurat ini, Kepala Negara ingin jajarannya memastikan segala kebutuhan para korban terdampak gempa terpenuhi. Pemerintah dan sejumlah pihak dalam beberapa waktu belakangan juga telah mengirimkan bantuan bagi saudara kita yang terdampak gempa.

“Untuk penanganan pengungsi dan korban gempa saya minta untuk dipastikan ketersediaan logistik, tenda, selimut, makanan, terutama makanan untuk bayi, obat-obatan, pasokan air, serta yang berkaitan dengan listrik,” tuturnya.

Nantinya, setelah proses tanggap darurat berakhir, pemerintah akan mulai berfokus pada perbaikan rumah-rumah masyarakat maupun fasilitas umum yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Kepala Negara juga meminta kepada BNPB yang dibantu oleh kementerian maupun lembaga terkait, juga pemerintah daerah untuk memberikan edukasi mengenai kesiapan dan prosedur saat terjadinya bencana alam kepada masyarakat.

Hal itu dimaksudkan agar masyarakat selalu siap sedia dan meminimalisir jumlah korban jiwa bila sewaktu-waktu bencana alam datang melanda.

“Saya minta BNPB dibantu seluruh kementerian atau lembaga dan pemerintah daerah utamanya pemerintah provinsi serta kabupaten, untuk lebih gencar lagi melakukan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat terutama di daerah yang rawan bencana agar masyarakat memiliki kesiapsiagaan menghadapi bencana alam,” tandasnya.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono  dalam keterangan pers usai ratas menyampaikan, fokus perhatian Pemerintah dalam kondisi tanggap darurat yang masih berlangsung saat ini adalah menyediakan tenda-tenda pengungsi yang tahan lama, menyediakan air bersih dan fasilitas sanitasi.

Sedangkan untuk rekonstruksi, Basuki menjelaskan akan menerapkan sistem swakelola konstruksi tahan gempa seperti yang pernah diterapkan di Aceh dan Yogyakarta.

“Jadi masyarakat tidak hanya menonton, diberi bantuan tapi dia harus kerjakan sendiri. Teknisnya kita guide betul,” jelas Menteri PUPR.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Pusat karena telah memberikan bantuan secara maksimal dalam penanganan pasca gempa di Nusa Tenggara Barat.

Rr/HUMAS NTB




Para Pendamping Desa Ikut Peduli Dan Menggalang Solidaritas Gempa Lombok

Pendirian posko-posko pengungsian oleh Pendamping Desa terdiri dari unsur KN-P3MD, Ahmad Labib, Choiril Akbar, Unsur Tim Tenaga Ahli  Koordinator Program ProvInsi dan Tenaga Ahli Kabupaten serta PD dan PLD (Pendamping Lokal Desa)

Posko Pendamping Desa

MATARAM.lombokjournal.com – Para Pendamping Desa ikut peduli dan menggalang solidaritas sosial bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok pada Minggu (05/08).

Seperti diketahui, dengan guncangan mencapai magnitudo  7,0 SR, dan disusul beberapa kali gempa susulan, tidak hanya menelan korban rumah, gedung dan fasilitas publik, namun juga menelan korban ratusan jiwa.

Direktur Jenderal PPMD (Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa),  Taufik Masjid, atas arahan Menteri Desa PDTT menyampaikan hal itu di sela-sela kesibukannya,  di Jakarta, Rabu (08/08).

Taufik Madjid menambahkan, bentuk solidaritas dari Pendamping Desa antara lain berupa koordinasi dan fasilitasi Pemerintah setempat dalam hal regulasi tanggap bencana, penggalangan bantuan dari pendamping desa yang tersebar di seluruh pelosok desa, dan pendirian posko pengungsian di titik-titik strategis.

“Semangat kesetiakawanan seperti ini sangat kita apresiasi, meskipun sebagian pendamping desa ada juga terdampak korban juga,” katanya.

Proses pengawalan  gerakan solidaritas sosial dan pendirian posko-posko pengungsian oleh Pendamping Desa terdiri dari unsur KN-P3MD, Ahmad Labib, Choiril Akbar, Unsur Tim Tenaga Ahli  Koordinator Program ProvInsi dan Tenaga Ahli Kabupaten serta PD dan PLD (Pendamping Lokal Desa).

Pendirian Posko-posko tersebut dimaksudkan sebagai tempat evakuasi dan tempat mengungsi bagi warga yang terdampak gempa sekaligus sebagai tempat untuk edukasi bagi  mereka.

“Di posko-posko tersebut pendamping desa membantu masyarakat baik penyiapan makanan, obat-obatan, pakaian dan kebutuhan darurat lainnya yang dananya dikumpulkan dari donasi pendamping desa,” kata Choiril.

Posko-posko tersebut berlokasi di beberapa tempat sebagai berikut:

  1. Desa Sigerongan, Kec Lingsar, Kab Lombok Barat
  2. Desa Tamansari, Kec Gunungsari, Kab Lombok Barat
  3. Dusun Jeruju, Desa Mumbulsari, Kec Bayan, Lombok Utara
  4. Desa Sambielen, Kec Bayan, Lombok Utara.
  5. Ds Madana, Kec Tanjung, Lombok Timur.
  6. Dusun Terengan, Ds Pemenang Timur, Lombok Utara.
  7. Ds Selat, Kec Narmada, Lombok Barat.
  8. Dsn Montong Bai, Ds Pemenang Barat, Kec Pemenang, Lombok Utara.
  9. Ds Pemenang Timur, Kec Pemenang, Lombok Timur.
  10. Desa Pemenang Timur, Kec Pemenang, Lombok Utara.
  11. Desa Gondang, Kec Gangga,
  12. Desa Gunungsari, Kec Gunungsari, Lombok Barat.

Taufik Masjid berharap agar posko-posko yang didirikanpendamping desa secara sukarela tersebut, menjadi inspirasi dan solusi dalam kondisi darurat sambil menunggu proses evakuasi dan recovary  warga pasca bencana.

Ar