PKK NTB Adakan Seminar Parenting

Peserta Diharapkan menjadi agen of change, menyerap informasi yang bermanfaat mengenai PAAR, sehingga dapat meneruskannya kepada masyarakat

MATARAM.lombokjournal.com — Seminar parenting ketahanan keluarga melalui Pola Asuh Anak Dan Remaja (PAAR) dengan cinta dan kasih sayang berlangsung di gedung Sangkareang Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat, Rabu (07/11).

Kegiatan ini merupakan salah satu program sosialisasi dari PKK di seluruh Indonesia untuk memberikan wawasan, pemahaman dan keterampilan kepada para ibu di Indonesia.

Terutama terkait cara memberikan pengasuhan dan pendampingan yang baik dan benar kepada anak.

Seminar parenting yang dihadiri 200 peserta, terdiri dari anggota Tim Penggerak PKK Provinsi dan Kabupaten/ Kota se- NTB, perwakilan dari organisasi wanita dan majlis taklim se Pulau Lombok ini, dibuka Ketua Tim penggerak PKK Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Zulkieflimansyah \.

Hj. Niken mengapresiasi atas kerja keras seluruh anggota TP PKK, sehingga seminar parenting dapat terlaksana .

Dikatakannya, sebagai orang tua  kita tidak pernah ikut sekolah menjadi orang tua, tapi alangkah baiknya kita semua sebagai orang tua.

“Belajar terus menerus dan  mempelajari ilmu pengetahuan, seperti  seminar kali ini memberi ilmu kepada kita terkait pola asuh, cara membimbing anak,  pendidikan karakter anak, sehingga kelak anak dan cucu kita dapat tumbuh dewasa dengan baik dan menjadi orang yang bertanggung jawab atas kehidupannya,” kata Hj. Niken.

Diharapkan, peserta yang hadir dapat menjadi agen of change, menyerap informasi yang bermanfaat mengenai PAAR, sehingga dapat meneruskannya kepada masyarakat.

Terbentuknya Kader PAAR yang mampu mengantarkan informasi mengenai parenting kepada kader penggerak PKK ke desa-desa merupakan tujuan lain dari seminar parenting ini.

“Harapan saya penyebarluasan pemahaman mengenai pola asuh anak dan remaja dengan cinta kasih ini, termasuk rancangan kegiatannya dapat dilakukan oleh ibu-ibu PKK yang hadir pada hari ini dan bisa sampai pada Kader  PKK di desa,dan dapat meneruskannya kepada remaja dan anak-anak kita di lingkungan masing-masing,” katanya.

Dalam kesempatan  sama, Dosen Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Dwi Hastuti yang merupakan salah satu Narasumber menyampaikan, anggota PKK harus jadi motor bukan hanya sebagai driver dalam mengembangkan sebuah ketahanan keluarga dan pola asuh anak.

Ini dimulai dari peningkatan kualitas perkawinan tidak hanya cukup adanya cinta dan kasih sayang, tapi penting adanya rasa tanggung jawab dalam rumah tangga dan menciptakan kolaborasi berkesinambungan dalam pola asuh anak.

Menurut Dr. Dwi, kemiskinan adalah salah satu faktor pencetus masalah dalam mewujudkan ketahanan keluarga. Faktor penjaganya adalah ketangguhan mental anggota keluarga itu sendiri, terutama ketangguhan mental seorang ibu yang erat perannya dalam proses pengasuhan anak.

Kualitas tumbuh kembang anak dalam keluarga dipengaruhi status gizi ibu yang berkaitan dengan kepasitas kerja ibu dalam keluarga. Ini berimbas pada status gizi anak dan perilaku anak dalam keluarga tersebut.

Abdul Aziz Abdul rauf, Lc.Al hafizh mengatakan, dalam mempersiapkan anak menjadi generasi Qur’ani Kader PKK sebagai motivator dan penggerak, harus memiliki pengetahuan yang lebih baik dalam keluarga.

Sehingga mencetak anak yang positif di masa depan, rumah tangga dengan ketahanan keluarga adalah sangat mulia.

“Rasulullah mengatakan, semua yg dilakukan manusia dalam rumah tangganya adalah tidak sia-sia dimata Allah, apabila dilakukan dengan hati yang penuh kasih sayang,” ujar KH. Abdul Aziz mengutip sabda Rasulullah SAW.

Di akhir sesi , DR. H. Hari Witono mengajak peserta seminar bernostalgia ke masa kecil dengan mengajak menonton film edukasi, mendongeng dan bernyanyi gembira lagu anak-anak.

Hari Witono menjelaskan, makna yang terkandung dalam cerita dongeng yang mengandung unsur edukasi sangat bermanfaat untuk membentuk karakter anak.

AYA




Deforestasi Hutan di Pulau  Sumbawa Biang Keladi Kekeringan, HMS Ajak Millenial Ikut Peduli

Untuk mengatasi kekeringan, tidak cukup hanya dengan pendekataan instan jangka pendek seperti droping air bersih ke masyarakat

HMS bersama pendukungnya

lombokjournal —

SUMBAWA — Desforestasi, kerusakan hutan akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan, dinilai sebagai biang keladi masalah kekeringan di Pulau Sumbawa, dan NTB secara umum.

Akibat deforestasi itu, fungsi kawasan yang tadinya bisa menjaga cadangan air tanah ketika musim kemarau tiba, kini semakin jauh berkurang.

Hal ini dibuktikan dengan terus menurunnya debit air pada sejumlah kawasan mata air di hampir seluruh Pulau Sumbawa.

H Muhammad Syafrudin (HMS),  Caleg DPR RI dari PAN mengatakan,  masalah kekeringan ini bukan hanya soal terlambatnya musim hujan.

“Tapi penyebab utamanya ya karena kerusakan hutan. Kalau masalah utama ini tidak diatasi, maka satu atau dua dekade ke depan, bukan hanya pertanian yang terncam tapi masyarakat kita juga akan mengalami krisis air bersih berkepanjangan,” kata H Muhammad Syafrudin (HMS), Rabu (07/11) di Sumbawa.

Kekeringan dan krisis air bersih menjadi masalah yang selalu terjadi di sebagian besar wilayah Pulau Sumbawa, dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk mengatasi itu, papar HMS, tidak cukup hanya dengan pendekataan instan jangka pendek seperti droping air bersih ke masyarakat.

Selain cost operasional yang cukup besar karena distribusi air menggunakan kendaraan dan memerlukan tenaga operasional dan BBM, pendekatan itu juga tidak memberikan solusi jangka panjang.

HMS mengatakan, harus ada upaya reboisasi atau penghijauan masif dan inovatif, serta memaksimalkan lahan pekarangan untuk mengatasi masalah kekeringan di Pulau Sumbawa itu.

“Karena masalah utamanya adalah deforestasi, ya solusinya harus dengan pemulihan kawasan hutan itu sendiri. Jadi harus ada upaya yang masif untuk penghijauan, dan ada kesadaran komulatif dari masyarakat untuk mulai memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam pohon,” katanya.

Menurutnya, laju deforestasi di Pulau Sumbawa sepanjang beberapa tahun ini, tidak seimbang dengan kemampuan pemerintah daerah di masing-masing wilayah untuk melakukan rebosisasi menyeluruh.

Namun dengan melibatkan para pihak dan juga masyarakat, maka upaya itu pasti akan berhasil.

Ia mengatakan, pemerintah melalui stakeholders terkait baik ditingkat Provinsi NTB maupun Kabupaten/Kota yang ada di Pulau Sumbawa, harus mulai menyusun rencana aksi yang nyata untuk kegiatan ini, dengan melibatkan semua pihak terkait dan masyarakat.

HMS yang seringkali turun ke Desa-Desa di pelosok pulau Sumbawa memaparkan, kondisi deforestasi di Pulau  Sumbawa sudah cukup parah.

Sejumlah mata air menyusut debitnya, dan berpengaruh pada suplay air irigasi dan juga debit aliran sungai yang selama ini menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat.

Kondisi ini diperparah dengan anomali cuaca dan iklim akibat efek pemanasan global atau global warming.

Beberapa kawasan yang terus menurun debit airnya, antara lain sejumlah kawasan DAS di Batu Lante, Semongkat, Teluk Saleh, Moyo, Tambora.

Pasokan air untuk PDAM di Desa Kerike, Kecamatan Unter Iwes, juga mulai terganggu akibat turunnya debit air di suber-sumber air yang ada.

“Jika kondisi ini dibiarkan, maka dalam dua dekade ke depan dipastikan  Sumbawa akan defisit air bersih,” kata HMS.

Untuk Generasi Mendatang

HMS menyadari, untuk melakukan reboisasi yang masif, tentu dibutuhkan banyak waktu, biaya, dan juga upaya.

Apalagi paradigma berpikir masyarakat saat ini ingin yang instan dan cepat. Sementara menanam pohon, perlu waktu lama sampai pohon itu bisa memberi manfaat.

“Tapi paradigma ini harus diubah. Harus mulai ada kesadaran kolektif masyarakat dan semua pihak, bahwa apa yang kita tanam hari ini, itu demi keberlangsungan kehidupan anak cucu kita, generasi penerus kita mendatang,” katanya.

Pola reboisasi yang dilakukan, menurut HMS, juga tak boleh sekadar seremoni dengan pendekatan proyek semata.

Pilihan jenis pohon juga harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Tamanan pohon jenis Trembesi dan semacamnya yang memiliki akar tunjang yang kuat, dinilai bisa menjadi jawaban.

Di tingkat masyarakat, HMS juga terus mendorong semangat untuk mulai menanam di lahan pekarangan mereka.

Dalam setiap perjumpaan dan diskusi bersama masyarakat yang dikunjunginya di pelosok-pelosok Desa di Sumbawa, HMS juga mendorong generasi muda, generasi milenial untuk mulai peduli lingkungan.

“Karena ini juga untuk kepentingan generasi mendatang agar tetap bisa menikmati kondisi lingkungan yang lebih asri dan baik,” katanya.

Sebab, tambah HMS, masalah defosestasi bukan hanya berdampak dan menjadi sumber utama kekeringan, tapi juga menyimpan bahaya banjir di saat puncak musim hujan tiba.

Hutan yang bisa menjadi wadah penyerap dan penampung air di saat hujan tiba, kehilangan fungsinya karena habitat alaminya rusak.

Me




Musim Hujan Tiba, Banyak Genangan Air Di Tenda Pengungsi

Ahsanul  mendorong lembaga kemanusiaan dan masyarakat umum yang mau membantu warga terdampak gempa bisa dengan memberikan bantuan untuk hunian sementara (huntara)

MATARAM.lombokjournal.com — Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Nusa Tenggara Barat (NTB) Ahsanul Khalik mengatakan, terdapat genangan air di sejumlah titik-titik pengungsian di NTB menyusul mulai datangnya musim hujan.

“Saya juga sudah melakukan pendataan, di Lombok Utara ada beberapa titik yang ada genangan-genangan,” ujarnya, Rabu,(07 /11).

Pemprov NTB sedang mencarikan solusi agar warga terdampak gempa yang masih tinggal di tenda pengungsian tidak semakin menderita dengan datangnya musim hujan.

“Kita carikan solusi supaya di tempat mereka kalau hujan tidak menjadi genangan, kita akan berikan bantuan spandek, dan koordinasi dengan Dinas PU untuk  membangunkan saluran di sekitar posko mereka,” katanya.

Ahsanul juga mendorong lembaga kemanusiaan dan masyarakat umum yang mau membantu warga terdampak gempa bisa dengan memberikan bantuan untuk hunian sementara (huntara).

“Sampai saat ini sudah lebih dari 39 ribu huntara yang sudah terbangun, ya kita persilakan jika ada yang mau bantu bangunkan huntara,” kata Ahsanul.

AYA




Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Percuma Kalau Hanya Jadi Penonton

Untuk meningkatkan suatu produktivitas dibutuhkan inovasi teknologi yang mampu mendukung hal tersebut

LOBAR.lombokjournal.com – Tingginya pertumbuhan ekonomi secara angka merupakan hal yang membanggakan, namun bukan menjadi yang utama.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah mengatakan itu, usai membuka Rakor Pengawasn daerah Tingkat Provinsi, Rabu (7/11) di Aruna Hotel senggigi.

“Yang paling penting kualitasnya, percuma saja kalau pertumbuhan ekonomi tinggi dalam angka, tapi kita hanya jadi penonton. Namun tentu saja pertumbuhan ekonomi yang kuantitatif juga perlu,” ujarnya.

Zul menilai, selama ini pertumbuhan ekonomi NTB yang cukup tinggi tidak lepas karena sektor pertambangan.

Dia menilai, selain bergantung pada sektor pertambangan, NTB juga memiliki potensi lain yang bisa dilakukan dengan menghadirkan industri pengolahan.

“Misalnya sektor pangan kita, jagung, kedelai kacang hijau, gabah, usahakan kita olah di sini, itu akan menimbulkan pabrik pangan yang bagus dan akan memicu sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan,” katanya.

Selain itu, kehadiran inovasi teknologi juga tidak bisa diabaikan.

Menurut mantan anggota DPR tersebut, pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan peningkatan produktivitas.

Sementara, untuk meningkatkan suatu produktivitas dibutuhkan inovasi teknologi yang mampu mendukung hal tersebut.

AYA

 




Kemendikbud Lebih Cepat Penuhi Janji Rehabilitasi Sekolah

Pihak Kemendikbud tidak hanya memperhatikan infrastruktur, namun juga memberi perhatian khusus kepada para guru yang ikut terdampak bencana dengan memberikan anggaran khusus buat mereka.

MATARAM.lombokjournal.com — Rehabilitasi dan rekonstruksi semua sekolah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pasca bencana gempa bumi, akan segera dilakukan.

Kemendikbud RI meluncurkan anggaran senilai Rp. 191.384.541.000 untuk seluruh sekolah yang rusak ringan dan sedang se-Provinsi NTB.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen), memberikan Bantuan Sekolah Terdampak Bencana secara simbolis, di Ballroom Selaparang Hotel Lombok Raya Mataram, Selasa (06/11) malam.

“Kami memenuhi janji bagi semua sekolah yang terdampak. Semoga dengan anggaran ini ada penyelesaian dan bisa merevitalisasi kondisi sekolah di NTB,” ujar Dirjen Dikdasmen, Hammid Muhammad.

Anggaran hampir dua ratus milyar tersebut dialokasikan untuk SD dan SMP yang rusak sedang dan ringan yang tersebar di 7 Kabupaten/ Kota di NTB serta melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB untuk SMA/SMK  dan PKLK.

Sedangkan untuk sekolah-sekolah yang rusak berat, Pemerintah menyerahkan proses rekonstruksinya melalui Kementerian PUPR.

Hammid mengakui  pihaknya agak lamban dalam melakukan penanganan. Kalo dibandingkan dengan (Bencana Tsunami, red) Aceh, baru dua minggu (pasca bencana, red) saja, anggaran sudah terkumpul.

“Tapi yang di Lombok agak berbeda. Sebulan pun belum ada. Kita harus menyisir dulu dari angggaran kementerian lainnya. Tapi selama masa tunggu itu, kita sudah melakukan banyak persiapan, ” ujar Hammid menjabarkan penanganan bencana saat tanggap darurat.

Hadir pada acara itu Kepala LPMP, Kepala PAUDNI, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTB, Bupati Lombok Barat, seluruh Kepala Dinas Dikbud Kabupaten/Kota se Provinsi NTB, dan ratusan Kepala Sekolah.

Kemendikbud lebih cepat

Di tempat yang sama, Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid justru mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Hammid Muhammad dan institusinya.

“Bukan bermaksud membandingkan, namun harus saya akui Kemendikbud lebih cepat (membantu, red) dari pada kementerian lainnya,” puji Fauzan.

Ia mengaku bersyukur, pihak Kemendikbud tidak hanya memperhatikan infrastruktur, namun juga memberi perhatian khusus kepada para guru yang ikut terdampak bencana dengan memberikan anggaran khusus buat mereka.

“Kami jadi ada modal untuk mendesak kementerian lain untuk melakukan hal yang sama,” ujar Fauzan.

Fauzan mengaku sudah mendesak Krmenterian Kesehatan untuk ikut memperhatikan tenaga kesehatan yang juga berjibaku dan terkena imbas gempa.

Di NTB sendiri jumlah sekolah yang rusak pasca gempa sebanyak 606 sekolah dengan 3.051 ruang kelas. 38 SMP dan 77 SD di antaranya ada di Lobar.

Alokasi anggaran untuk Lobar adalah  sebanyak Rp. 20.384.541.000 dari total 191 milyar lebih itu untuk NTB.

Anggaran tersebut dialokasikan untuk 24 SMP senilai Rp. 8.675.000.000 dan 12 milyar lebih sisanya untuk 70 SD yang diperuntuk dalam dua bentuk kegiatan, yaitu rehabilitasi dan pembangunan sekolah darurat.

Pelaksanaannya dilaksanakan secara swakelola di mana pihak sekolah melaksanakannya dan mengangkat konsultan teknis secara mandiri.

Hal tersebut, menurut Dirjen Dikdasmen untuk menunjukkan aspek kebangkitan masyarakat pasca gempa.

“Belajar dari berbagai pengalaman, satu hal yang harus selalu ingatkan, bahwa bangkitnya suatu daerah ditentukan oleh masyarakatnya sendiri. Bantuan dari luar itu sifatnya sporadis. Datang dan pergi. Ini yang harus terus digaungkan kepada seluruhnya agar kita bangkit semua,” pungkas Hammid.

Harry




Pemkab Lombok Barat Percepat Pembangunan Rumah Korban Gempa

Struktur rumah konvensional harus anti gempa di mana teknis utamanya ada pada dimensi pembetonan

LOBAR.lombokjournal.com — Kedatangan  Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Mataram, Minggu, (04/11) membuat Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid ikut bergegas.

Fauzan merasa gerah Pemda Lombok Barat dianggap lamban dalam pembangunan rumah warga yang terdampak gempa.

“Harus segera diproses. Pembentukan Pokmas (Kelompok Masyarakat) tidak boleh menunggu. Percepat tidak usah menunggu panel.  Nanti kita lagi yang disalahkan,” ujar Fauzan saat bertemu dengan puluhan tenaga teknis rekrutan Kemeterian PUPR di Ruang Rapat Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Lombok Barat, Senin (05/11).

Fauzan menyindir pihak-pihak yang menyatakan siap untuk menuntaskan pembangunan Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) dengan segera.

Seperti dikabarkan beberapa media, Wakil Presiden Jusuf Kalla mendesak agar pembangunan Risha bisa tuntas Bulan Maret 2019 nanti.

“Di depan Wapres, baik Kadin maupun BNPB bilang siap, nyatanya tidak,” terang Fauzan.

Kondisi di lapangan, menurut Fauzan,  belum siap untuk bisa mempercepat pembangunan Risha.

Di tempat yang sama,  Kepala Dinas Perkim Lombok Barat, Lalu Winengan mengatakan, lambannya pengerjaan tersebut karena minimnya aplikator atau penyedia panel Risha.

“Mereka hari ini,  baru rencana untuk bisa memproduksi 75 unit/ hari. Nyatanya hari ini 20 unit saja belum bisa,” ungkap Winengan.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kuswara dari Litbang Kementerian PUPR.

“Kapasitas produksi panel sangat terbatas. Sekarang baru ada 17 aplikator atau 17 titik workshop dengan kemampuan produksi paling banyak untuk 6 unit,” ujarnya.

17 aplikator penyedia panel Risha itu tersebar di seluruh Provinsi NTB. Ia lalu membandingkan lebih dari 72 ribu rumah rusak berat SE-NTB yang harus dilayani oleh 17 aplikator itu.

Kuswara pun pesimis target yang ditetapkan Wakil Presiden bisa terpenuhi.

“Kita harus kerja sangat-sangat keras untuk bisa memenuhi target tersebut,” aku Kuswara.

Banyak kendala yang ia temukan sehingga produksi panel Risha sangat lamban. Menurutnya, di samping karena minim sumber daya manusia (SDM), bahan baku yang terbatas, alat produksi yang rusak, Kuswara juga menegaskan faktor hujan menjadi kendala lain untuk menpercepat produksi panel.

Untuk itu pihaknya mendorong agar aplikator-aplikator lokal bisa membantu produksi panel untuk Risha tersebut.

“Tidak ada kualifikasi khusus. Yang penting mau berinvestasi untuk alat cetak, bahan baku, dan penyediaan SDM. Kita siap melatih untuk membuatnya,” harapnya.

Selain mendorong aplikator lokal, Kuswara juga berharap agar masyarakat bisa menggunakan rumah konvensional anti gempa asal sesuai dengan juklak-juknisnya.

BACA JUGA; Pembentukan Pokmas Untuk Percepatan Pembangunan Rumah

Kuswara memastikan struktur rumah konvensional harus anti gempa di mana teknis utamanya ada pada dimensi pembetonan.

“Kalau mengandalkan Risha dengan produksi yang lamban, target bulan Maret untuk Risha tidak akan terpenuhi,” pungkas Kuswara.

Harry




Pembentukan Pokmas Untuk Percepatan Pembangunan Rumah

Bupati Lobar, Fauzan Khalid tetap mengarahkan agar jajarannya di Tim Teknis Daerah bisa menyiapkan segala hal yang diperlukan, terutama pengorganisasian masyarakat melalui Pokmas

LOBAR.lombokjournal.com  — Bupati Fauzan Khalid minta Tim Teknis Daerah segera memfasilitasi pembentukan Kelompok Masyarakat (Pokmas) kepada para warga yang rumahnya rusak.

Hak itu ditekankan guna mempercepat kesiapan tahap rehab rekon untuk pembangunan rumah rusak berat di Lombok Barat,

“Bentuk saja Pokmas sesuai data verifikasi. Pokmas tidak boleh menunggu, nanti kita lagi yang disalahkan,” ujar Fauzan di depan puluhan anggota Tim Teknis yang direkrut oleh Kementerian PUPR di Aula Kantor Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) Lombok Barat di Gerung, Senin (05/11).

Fauzan pun tidak menampik lambannya pembangunan rumah berbasis Rumah Instan Sehat Sederhana (Risha) karena terbatasnya penyedia panel atau aplikator.

Ia menuturkan, jalannya rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Gubernur NTB hari kemarin, Minggu (4/11).

“Pak Wapres meminta agar bulan Maret ini selesai, tapi kemampuan panel terbatas,” tutur Fauzan menyebutkan, Wapres minta bisa dibangun 400 unit rumah tiap hari.

Walau pesimis, Fauzan tetap mengarahkan agar jajarannya di Tim Teknis Daerah bisa menyiapkan segala hal yang diperlukan, terutama pengorganisasian masyarakat melalui Pokmas.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Perumahan Dinas Perkim yang sekaligus sebagai Ketua Koordinator Tim Teknis Daerah, Lalu Ratnawi mengaku pihaknya sudah memfasilitasi pembentukan lebih dari 1.500 pokmas.

“Saat ini data rill kita baru 599 pokmas. kita belum rekap pokmas yang sudah kita bentuk 500-an lebih di Gunung Sari dan 500-an lainnya yang  tersebar di banyak kecamatan lainnya,” aku Ratnawi.

Menurut catatannya, 599 pokmas tersebut mengakomodir 6.066 Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya rusak berat. Saat ini, sebanyak 124,67 milyar lebih sudah ada di rekening pokmas yang sebagian besarnya sudah dibelanjakan untuk membangun rumah.

Sampai dengan minggu lalu menurut Ratnawi, paling sedikit 59 rumah sedang dalam masa pembangunan.

“Target kita, akhir bulan ini sudah bisa serah terima kunci,” kata Ratnawi.

Kendala utama yang ditemukannya di lapangan adalah lambannya ketersediaan panel untuk Risha. Untuk itu, ia berharap 17 aplikator penyedia panel saat ini bisa bertambah lagi.

Selain masalah panel, ia pun mengeluhkan sikap warga pemilik rumah yang malah pasif dan tidak membantu.

“Untuk gali pondasi (rumah milik mereka sendiri) saja, mereka seperti ogah-ogahan. Mereka malah menonton sambil minum kopi. Untung ada rekan-rekan TNI yang membantu,” keluh Ratnawi sambil tersenyum.

Ia meyakinkan, bila semua pokmas bergotong royong, akan mempercepat proses pembangunan rumah anggota pokmas itu sendiri.

“Kecuali mungkin janda dan lansia, mereka wajar hanya berpangku tangan,” tuturnya.

BACA JUGA;  Pemkab Lombok Barat Percepat Pembangunan Rumah Korban Gempa

Untuk Kabupaten Lombok Barat, dari 72.222 rumah rusak, terdapat 13.942 rumah yang rusak berat dan menjadi prioritas untuk dikerjakan.

Sampai saat ini, 124.670.000.000 anggaran dari APBN sudah masuk ke rekening dan menjadi hak masyarakat untuk membiayai kerusakan rumahnya akibat bencana gempa bumi beberapa waktu yang lalu.

Harry




HBK : Revolusi Organik Bisa Jadi Daya Lejit Pertanian Nasional

Pola organik dalam jangka panjang juga bermanfaat untuk mengembalikan tingkat kejenuhan lahan akibat dampak penggunaan pupuk kimia

lombokjournal.com  —

MATARAM;  Indonesia dengan rangkaian kepulauan Nusantara memiliki  sangat banyak potensi di sektor pertanian, baik di subsektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan juga perikanan.

Namun, modal alamiah yang terletak di bawah garis khatulistiwa, belum juga membuat bangsa ini bisa meraih swasembada pangan secara utuh. Sejumlah komoditas yang sejatinya bisa dihasilkan melimpah di negeri ini, justru masih terjadi impor dari negara lain.

“Ini yang jadi ironi. Kita ini negara yang sangat potensial di sektor pertanian, tapi justru masih banyak impor dari luar negeri. Padahal seharusnya kita berupaya agar bisa ekspor, karena kita punya keunggulan kompetitif di sektor pertanian ini,” kata Ketua Badan Pengawas dan Disiplin ( BPD)  Partai Gerindra, H Bambang Kristiono (HBK) di Mataram, Selasa (06/11)

Ia mengatakan, salah satu solusi tercepat untuk membangkitkan kembali potensi pertanian yang seolah “tertidur” ini adalah dengan melakukan revolusi pertanian organik.

Sebab, salah satu kendala produk pertanian Indonesia sulit menembus pasar mancanegara disebabkan oleh kualitas mutu produk pertanian yang masih rendah dan sarat dengan endapan residu kimia dari pupuk, pestisida, fungisida, dan insektisida yang selama ini digunakan para petani.

Ia mencontohkan, komoditas Kopi di Lombok memiliki keunggulan tersendiri baik varian Robusta, Arabica, maupun Liberica. Namun, produk unggulan ini pada kenyataannya masih sulit menembus ekspor, karena kualitas mutunya yang masih dibawah ambang standar negara-negara maju.

“Kita tidak mungkin bisa ekspor ke luar (negeri), kalau produk komoditi kita masih terpapar residu kimia. Apalagi standar negara-negara maju untuk komoditas yang dikonsumsi masyarakatnya itu sangatlah tinggi, karena mereka sangat peduli dengan kesehatan masyarakatnya. Jadi, solusinya adalah, pertanian organik harus digalakkan secara masif di negri ini,” kata HBK.

Menurut HBK, pertanian organik juga bisa menjadi nilai tambah bagi para petani dalam hal efisiensi biaya produksi. Selain itu, pola organik dalam jangka panjang juga bermanfaat untuk mengembalikan tingkat kejenuhan lahan akibat dampak penggunaan pupuk kimia.

“Ini juga bagian dari rehabilitasi lahan karena sudah jenuh akibat pupuk kimia. Maka perlu revolusi organik agar kembali produktif lahannya. Baik lahan pertanian, pertambakan, perikanan dan pantai,” katanya

Setengah hati

HBK menilai, saat ini belum ada upaya  yang serius memulai pertanian organik secara massal. Pemerintah terkesan setengah hati mendorong pertanian organik  yang terbukti  menjadi daya ungkit peningkatan kesejahteraan kaum tani ini.

“Kalau serius, mungkin semua (petani) sudah pakai mesin dan alat pengolahan, sehingga satu Desa atau Kecamatan itu tak perlu pupuk dan obat-obatan kimia dari luar. Ya, sifatnya pendukunglah bukan yang utama kalau diperlukan,” katanya.

Caleg DPR RI dari Partai Gerindra ini mengajak generasi muda dan kaum millenial di Lombok untuk menjadi pioner penggerak revolusi pertanian organik  di wilayahnya, yang di kemudian hari bisa menjadi contoh bagi daerah lainnya di Indonesia.

Ia menegaskan, ke depan kebutuhan-kebutuhan kongkrit untuk mewujudkan hal tersebut akan diperjuangkan melalui kewenangan legislasi dan anggaran melalui DPR RI nantinya.

“Hal ini harus mulai kita lakukan. Mari generasi muda Lombok, kita bangkitkan semangat revolusi pertanian ini. Dari Lombok, kita berbuat untuk Indonesia tercinta. Dan in shaa Allah, kita bisa,” ajaknya.

Me




Pertubuhan Ekonomi NTB Triwulan III-2018

Perekonomian Provinsi NTB pada triwulan III-2018 dibanding triwulan III-2017 (y on y) mengalami kontraksi sebesar -13,99 persen

 MATARAM.lombokjournal.com — Pertumbuhan Ekonomi NTB Triwulan III, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi NTB atas dasar harga berlaku triwulan III-2018 mencapai Rp. 31,17 triliun, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp. 22,55 triliun.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS ) NTB, Suntono  merilis itu, hari Senin, (5/11) di Aula Kantor BPS NTB

“Secara kumulatif (c to c), perekonomian Provinsi NTB sampai dengan triwulan III-2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017, mengalami kontraksi sebesar -5,40 persen. Dengan kontraksi tertinggi terjadi pada kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar -40,17 persen, ” ujar Suntono.

Dikatakannya, perekonomian Provinsi NTB pada triwulan III-2018 dibanding triwulan III-2017 (y on y) mengalami kontraksi sebesar -13,99 persen.

Dari sisi lapangan usaha, kontraksi tertinggi terjadi pada kategori pertambangan dan penggalian sebesar -57,83 persen, sedangkan dari sisi  pengeluaran terjadi pada Komponen Ekspor Luar Negeri mengalami kontraksi paling tinggi yaitu -66,44 persen.

Dibandingkan triwulan II-2018, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada triwulan III-2018 (q to q) mengalami kontraksi sebesar -2,14 persen.

Konstraksi tertinggi terjadi pada Kategori Konstruksi yang mencapai -16,53 persen. Dari sisi PDRB Pengeluaran komponen Ekspor LN mengalami kontraksi tertinggi sebesar 23,31 persen.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB triwulan III-2018 tanpa pertambangan bijih logam :

–  secara y on y mengalami kontraksi -0,36 persen

–  secara q to q mengalami kontraksi -0,79 persen

“Secara c to c tumbuh  3,80 persen, ” kata Suntono.

 AYA




Atlet NTB Dominasi Kejuaraan Motoprix 2018

Kejuaraan yang berlangsung selama dua hari tersebut sebagai bentuk bangkitnya semangat olahraga NTB pasca gempa

MATARAM,lombokjournal.com — Pembalap dari Nusa Tenggara Barat mendominasi Kejuaraan Nasional Motoprix Regional 3 Putaran 3 Nusa Tenggara Barat (NTB) di Sirkuit Selagalas, Mataram, Minggu (04/11) 2018.

Sebanyak 60 starter dari 14 kelas yang dilombakan, mulai dari kelas pemula hingga kelas kejurnas . Persaingan pembalap dari Bali, NTB, NTT dan Jawa Timur  sangat ketat.

Namun hasil pertandingan dari kelas pemula hingga kelas kejurnas  Pembalap asal NTB mendominasi podium.

Dari 14 putaran race pada Kejurnas tersebut, NTB meraih 11 juara satu dan Jawa Timur meraih  2 juara satu kemudian disusul Bali dan NTT.

Beberapa raihan Kelas kejurnas Motoprix 2018:

Juara di kelas Motoprix 2018

Salah satu pembalap yang menjadi unggulan NTB yakni Alfin SP yang mendominasi juara di beberapa kelas termasuk kelas Kejurnas.  Kemudian Fajrin Montana, Ivan  Junior, I ketut Madiasta, Royceng, Andrian Baskara Putra, Albino Julian Hartono dan pembalap lainnya.

Menurut Ketua Panitia, Agus Panca dalam kejuaraan ini kelas non Kejurnas , supporting class banyak diminati para pembalap baru.

Karena ke depannya,  menurut Panca, panitia akan membuat event sendiri dan akan mengakomodir para pembalap regional 3 untuk ikut sekaligus mencari bibit pembalap dari NTB.

“Ke depanya kita akan membuat event yang mengakomodir para pembalap regional 3 untuk ikut. Hal ini sekaligus sebagai ajang pencarian bibit pembalap NTB. InsyaAllh kita masih rancang,” terangnya.

Kejuaraan yang berlangsung selama dua hari tersebut sebagai bentuk bangkitnya semangat olahraga NTB pasca gempa. Menurut Ketua Ikatan Motor Indonesia IMI NTB . M Nur Haedin. Kejurnas putaran ke 3 ini dapat terlaksana dengan baik.

“Alhamdulillh Kejurnas ini dapat berjalan dengan baik. Ini sekaligus sebagai bentuk semangat Atlet NTB untuk meraih yang terbaik dan sekaligus sebagai persiapan PON di Papua nanti,” ungkapnya.

Dominasi juara yang di raih para atlet tersebut sekaligus mengantarkan NTB meraih juara umum dalam event KEJURNAS MOTOPRIX 2018 kali ini.

AYA (*)