Ingat Ungkapan Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Manfaat JKN-KIS Pun Tak Pernah Putus

“Saya tidak bisa membayangkan akan mengeluarkan uang sebanyak itu setiap kali berobat. Alhamdulillah ada JKN – KIS, semuanya gratis”

lombokjournal.com —

SELONG   ;    Kasih ibu memang tak berbatas, itulah kiranya ungkapan yang tepat bagi Ibu dua orang anak ini.

Yusnianti (38), adalah wanita asal Desa Masbagik Utara Baru Kecamatan Masbagik yang menjadi salah satu peserta BPJS Kesehatan segmen PBI APBN pada tahun 2016.

Ketika ditemui oleh oleh tim Jamkesnews pada Selasa (26/02) 2019, dia mengungkapkan kebahagiaannya karena telah berkali–kali mendapat manfaat yang besar dari JKN-KIS.

Tahun lalu, anak sulungnya yang bernama Yunisari (19) menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dan dirawat di RSUD Selong.

Saat itu memang bertepatan dengan pergantian musim, sehingga wabah DBD mulai menjangkiti beberapa warga, termasuk salah satunya adalah Yunisari. Selama 5 hari Yusnianti dengan telaten merawat anaknya di rumah sakit, meninggalkan suami dan anak keduanya di rumah.

“Namanya juga anak, pasti akan selalu menempel pada ibunya. Apalagi dengan kondisinya kala itu yang lemah dan sakit. Saya sangat bersyukur sekali karena dapat JKN – KIS dari pemerintah. Alhamdulillah, dari awal masuk rumah sakit sampai Yuni sembuh. Saya tidak membayar biaya perawatan sedikitpun. Saya dan  suami kerjanya hanya jadi buruh, kalau tidak punya kartu ini mau bayar pakai apa?” ungkap Yusnianti.

Yusnianti juga bercerita bahwa saat ini anak bungsunya baru saja sembuh dari sakit tifoid. Kondisi anak keduanya tersebut memang lemah dan sering jatuh sakit.

Tifoid atau biasa disebut dengan tipes adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang usus. Gejala penyakit ini diawali dengan demam berkepanjangan, bintik – bintik merah pada kulit, sakit perut, muntah dan disertai diare.

Jika tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi yaitu usus akan mengalami perdarahan dan berlubang.

Tidak hanya menderita tifoid, anak Yusnianti juga kerap kali terserang asma. Setiap kali berobat ke puskesmas harus dilakukan pemberian obat melalui nebulizer atau mesin yang mengubah obat cair menjadi uap yang akan dihirup oleh penderita asma untuk mengurangi gejala sesak napas.

Anaknya memang sering kambuh asmanya. Setiap kali berobat ke puskesmas bisa menghabiskan 45 ribu sampai 60 ribu.

“Saya tidak bisa membayangkan akan mengeluarkan uang sebanyak itu setiap kali berobat. Alhamdulillah ada JKN – KIS, semuanya gratis. Saya sangat berterimakasih kepada pemerintah karena telah memberikan bantuan yang besar sekali manfaatnya bagi kehidupan anak – anak saya. Kalau tidak ada JKN – KIS, mungkin kondisi anak – anak saya tidak akan sebaik kondisinya yang sekarang,” tutup Yusnianti saat mengakhiri pembicaraan dengan tim jamkesnews.

ay/ys/Jamkesnews

Narasumber : Yusnianti

 




Sumiarti  Tetap  Mengemban  Tugas  Mulianya Jadi  Guru, Berkat JKN-KIS  

“Terimakasih JKN-KIS, karena telah memberikan perlindungan bagi saya dan keluarga”

lombokjournal.com —

SELONG   ;    Menjadi penyintas stroke bukanlah suatu hal yang pernah ada pada bayangan wanita paruh baya ini.

Masa-masa sulit ia lalui untuk berjuang melawan keterbatasan kondisi tubuhnya yang mengalami kelumpuhan.

Sumiarti (55) adalah ibu dari tiga orang anak yang sudah hampir 25 tahun menjadi guru di SDN 01 Kabar, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur.

Walaupun berjalan dengan bantuan tongkat, tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mengajar ke sekolah dengan kondisi yang tak seperti orang lain pada umumnya.

“Alhamdulillah saya sangat bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup oleh Allah. Dulu, saat didiagnosa oleh dokter terkena stroke pada Mei 2017, saya sempat merasa sedih dan selalu menangis. Apalagi ketika melihat kondisi saya yang seperti ini,” tutur Sumiarti dengan terbata-bata sambil menunjuk tangan dan kaki kanannya yang tak bisa digerakkan, Senin (11/02) 2019.

Anak dari Sumiarti menuturkan, dulu Sumiarti pernah depresi hingga marah-marah, mengurung diri dan tidak ingin bertemu orang lain bahkan tidak ingin minum obat dan ikut terapi, akan tetapi keluarga tidak pernah bosan membujuk Sumiarti untuk rutin berobat dan menjalani fisioterapi.

Biasanya terapinya 3 sampai 4 kali seminggu di rumah sakit, ada terapi wicara dan terapi fisik. Sudah hampir 1 tahun terakhir ini, kondisi Sumiarti sudah semakin membaik.

“Apalagi biaya terapinya gratis, karena ibu kan punya kartu JKN-KIS, kami sebagai anaknya tidak khawatir keluar biaya yang besar. Sekali perawatan saja bisa 1,5 sampai dengan 2 juta, tidak bisa dibayangkan besar biaya yang dihabiskan ketika tidak menjadi peserta JKN-KIS,” tambah Yuni (25), anak bungsu Sumiarti yang ikut mendampingi ibunya saat wawancara berlangsung.

Sumiarti juga menjelaskan masa-masa sulitnya kala pertama kali kembali mengabdi sebagai guru.

Sumiarti menuturkan, sampai sekarang ia masih ditemani guru lain ketika mengajar. Karena ia memang masih belum bisa berdiri tanpa tongkat. Namun Sumiarti  tetap bersyukur karena mejadi guru adalah tugas mulia baginya.

“Dalam perjalanan menuju sekolah, saya hampir setiap hari dibonceng anak saya, sesekali juga menggunakan mobil. Saya juga sering hampir terjatuh saat dibonceng menggunakan motor karena kaki kanan saya kaku sehingga sering kali sulit untuk menjaga keseimbangan dalam berkendara meskipun anak saya mengendarai motor dengan sangat hati-hati.” ungkap Sumiarti sambil mencoba menggerakkan tangan kanannya yang terlihat masih kaku.

Selama menjalani perawatan di rumah sakit hingga proses terapi latihan, anak-anak Sumiarti mengungkapkan, mereka tidak mengeluarkan biaya sedikitpun dikarenakan ibunya terdaftar pada segmen PPU-PNS.

“Kami terkejut ketika akan membayar biaya perawatan ibu. Ternyata biaya selama di RS Islam Namira bahkan sampai ibu pindah ke Stroke Center RSUD Kota Mataram tidak mengeluarkan biaya sebesar yang kami kira. Biayanya hampir gratis, di luar biaya tambahan perawatan ibu karena pindah kelas ke ruang VIP,” ungkap Lilik (28), anak Sumiarti lainnya yang setia mendampingi ibunya saat ditemui tim Jamkesnews.

Masa-masa kritis telah dilewati oleh Sumiarti. Sebelum terkena serangan stroke, wanita yang selalu tampak tersenyum ini memang memiliki riwayat hipertensi dan selalu rutin minum obat yang diresepkan oleh dokter keluarganya.

Namun, serangan stroke memang tidak bisa diprediksi. Bisa datang secara tiba-tiba ketika faktor-faktor resikonya tidak dikendalikan dengan baik.

Hipertensi dan kolesterol yang tidak dikontrol dapat memicu terjadinya stroke. Kondisi tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak yang berakibat fatal bagi sistem saraf pada tubuh.

Pada akhir wawancara, Sumiarti membagikan pesan dan kesannya kepada sesama pengguna JKN-KIS.

“Terimakasih JKN-KIS, karena telah memberikan perlindungan bagi saya dan keluarga. Saya berpesan kepada masyarakat untuk selalu rutin mengecek tekanan darah dan menjaga pola hidup sehat. Jangan menunggu parah untuk berobat. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Ketika penyakit sudah menjadi parah, kita pasti akan banyak keluar biaya dan waktu, apalagi jika tidak punya jaminan perlindungan kesehatan. Terimakasih BPJS Kesehatan, teruslah berbuat baik untuk masyarakat,” tutup Sumiarti.

Jamkesnews

Narasumber : Sumiarti

 




Berkat JKN–KIS, Rumsah Jalani Fisioterapi Bertahun-tahun Tanpa Biaya

Peserta pemegang kartu JKN – KIS tidak hanya akan mendapatkan manfaat secara kuratif (pengobatan), tetapi juga secara rehabilitatif

lombokjournal.com —

SELONG  ;    Rumsah (65), seorang wanita paruh baya yang merupakan peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat (JKN–KIS) yang termasuk dalam segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN.

Ibu rumah tangga asal Desa Pringgasela, Lombok Timur ini sudah satu tahun lebih menjalani rehabilitasi medis di RSUD dr. R. Soedjono Selong. Rumsah didiagnosa terkena stroke pada tahun 2017 silam yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit selama hampir 10 hari.

“Kejadiannya sangat cepat sekali. Seingat saya waktu itu saya tiba – tiba jatuh pingsan di kamar mandi. Saat sadar, saya sudah berada di rumah sakit dengan kondisi sulit bicara, dan tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki kiri,” cerita Rumsah pada tim jamkesnews.

Peserta yang membutuhkan rehabilitasi medis biasanya merupakan pasien yang telah mengalami cedera parah atau penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pada saraf seperti stroke.

Gangguan fungsi otak ini terjadi karena pasokan darah ke otak terhambat akibat adanya sumbatan di pembuluh darah kecil yang akan berdampak pada fungsi-fungsi koordinasi pada tubuh.

Hal–hal yang menjadi faktor resiko penyakit ini pun beragam, mulai dari faktor usia, tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang berlebih, bahkan perokok aktif pun menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya stroke.

Sebelum dirujuk ke rumah sakit, Rumsah sempat dirawat di Puskesmas selama 3 hari. Namun kondisinya tidak kunjung membaik.

Ia hanya mampu berbaring tanpa bisa menggerakan anggota tubuhnya dan cara bicaranya pun menjadi tidak jelas. Beruntung dia cepat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Alhamdulillah, kondisi ibu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kaki kirinya sudah mulai bisa digerakkan, cara bicaranya pun sudah lebih jelas. Hanya tinggal tangan kirinya saja yang masih lemas. Ini manfaat yang ibu saya dapatkan karena rutin mengikuti latihan fisioterapi 2 kali seminggu. Bersyukur sekali punya kartu JKN – KIS. Tidak hanya biaya perawatan di rumah sakit yang ditanggung BPJS Kesehatan, bahkan biaya fisioterapinya pun tetap gratis. Jadi saya tidak khawatir akan keluar biaya besar,” ungkap Atun (39) anak sulung Rumsah yang kala itu menemaninya.

Sebagai penyelenggara jaminan sosial di bidang kesehatan, BPJS Kesehatan memberikan pelayanan yang sangat komprehensif.

Peserta pemegang kartu JKN – KIS tidak hanya akan mendapatkan manfaat secara kuratif (pengobatan), tetapi juga secara rehabilitatif.

Salah satu pelayanan rehabilitasi yang dijamin oleh BPJS Kesehatan adalah rehabilitasi medis. Hal ini pun dipertegas dengan adanya Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan No 5 tahun 2018 tentang Penjaminan Pelayanan Rehabilitasi Medik.

BPJS Kesehatan mengatur peserta yang membutuhkan rehabilitasi medis akan mendapatkan pelayanan 2 kali dalam sepekan atau 8 kali dalam sebulan.

“Saya sangat bahagia karena bisa sembuh tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Saya jadi semakin bersemangat untuk bisa pulih dan mampu berjalan lagi. Saya harap program dari pemerintah ini akan terus berlanjut untuk membantu masyarakat yang kurang mampu,” tutup Rumsah yang tampak akrab dengan beberapa pasien lainnya di ruang fisioterapi RSUD dr. R. Soedjono, Selong.

ay/hs/Jamkesnews

 

 

 




Sehat Bersama JKN-KIS, Jangan Lupa Rutin Bayar Iuran Sambil Bersedekah

Setiap peserta JKN–KIS dihimbau  tetap membayar kewajibannya demi melindungi anggota keluarganya dari kemungkinan terjadinya hal – hal yang tidak diharapkan

lombokjournal.om —

SELONG  ;    Paizah (29) merupakan salah satu peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat (JKN–KIS) segmen Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU).

Ketika ditemui tim jamkesnews, Paizah kala itu bersama dengan suaminya Ikhwan (35) sedang menjajakan dagangannya. Paizah pun sempat menceritakan pengalamannya selama menggunakan kartu JKN–KIS ,  Minggu (10/03) 2019.

Sebelum mempunyai kartu JKN – KIS, Paizah sempat kewalahan dengan besar biaya yang dikeluarkannya ketika melakukan USG.  Ia saat itu hamil anak pertama, baru satu kali USG saja sudah habis 450 ribu.

“Saya tidak bisa membayangkan berapa uang yang saya habiskan saat persalinan nanti? Maka dari itu saya berinisiatif untuk mendaftarkan diri dan suami menjadi peserta JKN – KIS. Ketika melahirkan saya sudah tidak memikirkan jumlah biayanya,” ceritanya sambil sesekali melayani pembeli yang datang.

Ibu dua orang anak ini pun mengungkapkan bahwa manfaat yang diperoleh oleh keluarganya sangat besar semenjak terdaftar di kepesertaan BPJS Kesehatan beberapa tahun silam.

Anak sulungnya pernah dua kali di operasi. Ada benjolan di lehernya. Ia ingat sekali kata dokter waktu itu, katanya ada pembengkakan di kelenjar getah bening, seperti tumor jinak.

“Jika tidak segera dilakukan operasi, bisa tambah parah. Syukur ada JKN–KIS, saya tidak khawatir dengan biayanya. Pelayanan yang saya terima di rumah sakit juga sangat baik. Alhamdulillah, sekarang anak saya sudah sembuh,” Jelas Paizah.

Paizah mengatakan,  iuran yang dia bayarkan setiap bulannya tidak bisa dibandingkan dengan besarnya manfaat yang telah ia dan keluarganya terima selama ini. Ia juga masih menyayangkan bahwa masih saja ada orang yang berpendapat jika sia – sia membayar iuran tapi tidak pernah merasakan manfaatnya.

“Ya kalau bayar iuran tapi tidak pernah sakit kan harusnya kita bersyukur. Masih diberikan kesehatan sama Allah, bisa membantu yang kurang mampu juga kan. Gotong royong, kita bersedekah sehat dan menabung pahala,” tutur Paizah.

Di akhir pertemuannya dengan tim jamkesnews, Paizah mengharapkan bahwa program pemerintah JKN–KIS ini bisa menjadi semakin baik ke depan.

Ia juga menghimbau bahwa setiap peserta JKN–KIS harus tetap membayar kewajibannya demi melindungi anggota keluarganya dari kemungkinan terjadinya hal – hal yang tidak diharapkan.

ay/hd/Jamkesnews

Narasumber : Paizah




CSR BRI Diminta Untuk Program Pengembangan Pengusaha Baru

Pprogram ini fokus pada pengusaha yang berada di NTB baik yang ada di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa. Ia berharap agar program ini nantinya dapat berkelanjutan

MATARAM.lombokjournal.com  —   Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Hj. Zulkieflimansyah menerima silaturahmi jajaran pimpinan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Mataram di ruang kerjanya, Jumat (18/10)  2019 pagi.

Silaturahmi yang berlangsung hangat ini dalam rangka mendiskusikan kontribusi Bank BRI terhadap pembangunan di NTB.

Gubernur berharap agar ke depan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank BRI memiliki program pengembangan pengusaha baru di NTB.

Sehingga tidak hanya memberikan donasi  semata, tetapi akan lahir program yang berkala dan bermanfaat bagi perkembangan perekonomian masyarakat NTB.

Pimpinan Cabang BRI Mataram, Dwi Hendro Susatyo, menyampaikan kesiapannya untuk program tersebut.

“Calon-calon pengusaha baru atau pengusaha yang sudah ada ini, nanti kami akan godok, untuk diberikan pelatihan apa saja terkait kewirausahaan,” ungkap Dwi Hendro.

Dwi Hendro mengutarakan program ini fokus pada pengusaha yang berada di NTB baik yang ada di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa. Ia berharap agar program ini nantinya dapat berkelanjutan.

AYA/HmsNTB




Gubernur Sambut Baik Event Senggigi Sunset Jazz 2019

Masyarakat NTB serta wisatawan domestik dan mancanegara diajak untuk datang ke Senggigi untuk menghadiri acara ini

MATARAM.lombokjournal.com —  Penyelenggaraan event musik dan budaya Senggigi Sunset Jazz pada awal bulan November mendatang, mendapat sambutan Gubernur Zulkieflimansyah.

Dukungan itu disampaikan setelah Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc menerima audiensi Panitia Senggigi Sunset Jazz 2019 di Ruang Kerjanya, Jumat (18/10) 2019.

Senggigi Sunset Jazz adalah sebuah event musik dan budaya yang didukung dan difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang bekerja sama dengan PT. Nusa Ragam Komunikasi. Event ini akan dihadiri oleh musisi jazz indonesia dan para musisi lokal.

Menurut gubernur, event tersebut sangat luar biasa karena musisi jazz yang akan hadir memiliki talenta terbaik.

Masyarakat NTB serta wisatawan domestik dan mancanegara diajak untuk datang ke Senggigi untuk menghadiri acara ini dan merayakan indahnya event Senggigi Sunset Jazz.

“Mari pengiat seni dan budaya, penggemar musik di NTB, di Indonesia bahkan di seluruh dunia untuk tidak melewatkan event ini,” ungkap Gubernur.

Nety Rusi selaku Project Director menjelaskan, kegiatan tahun ini digelar pada tanggal 3 November 2019 di Pantai Kerandangan, Lombok Barat.

Sejumlah musisi jazz yang akan hadir diantaranya Tompi, Ruth Sahanaya, Raisa dan lain-lainnya.

“Event ini adalah ketiga kalinya dilaksanakan di Lombok dan mendapatkan animo yang sangat tinggi dari masyarakat Lombok,” jelas Nety.

AYA

 

 




Dekranasda NTB Gelar Lomba Kriya dan Rancang Busana Tenun Khas NTB

Lomba ini terbuka untuk umum, mahasiswa dan pelajar di NTB. Hasil terbaik Dekranasda NTB Award untuk kriya tahun 2019 akan diikuti pada Dekranas Award tahun 2020 di Jakarta

MATARAM.lombokjournal.com — Dewan kerajianan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Nusa Tenggara Barat akan melaksanakan lomba kriya terbaik dan rancang busana berbahan tenun NTB, tanggal 14 Desember 2019 mendatang.

Hj. Niken Saptarini Widyawati, Ketua Dekranasda NTB mengatakan,  ‘Dekranasda Award’ kali ini untuk memacu perkembangan desain kriya NTB.

Untuk Lomba desain Busana Berbahan Tenun NTB dimaksudkan memacu designer NTB dalam membuat karya berbahan tenun NTB, serta mengangkat tenun NTB agar lebih dikenal secara luas baik generasi muda, masyarakat umum baik nasional maupun internasional.

“Dekranasda Award ini difokuskan pada pengembangan hasil jadi produk kriya maupun busana motif tenun NTB. Kami harapkan lahir karya yang original, baru dan kreatif dari 10 Kabupaten/Kota yang ada di Nusa Tenggara Barat,” ujar Hj.Niken saat konfrensi pers Jumat (18/09) 2019.

Untuk lomba desain busana tenun Khas NTB, kategori yang dilombakan adalah busana kerja pria dan wanita, busana casual remaja wanita dan pria, busana malam wanita muslim dan kategori busana malam pria.

Akan dicari 3 orang pemenang yang mampu menghasilkan karya busana tenun terbaik dengan tema Bahari.

Juri untuk lomba busana tenun ini menghadirkan dua orang juri designer nasional dan seorang juri akademisi desainer NTB.

“Agar para produk yang menjadi pemenang nantinya bisa merepresentasikan NTB, tidak keluar dari pakem yang ada dan laku di pasaran,” terangnya.

Untuk lomba kriya terbaik akan dikelompokkan melalui kategori produk kerajinan, yakni kelompok keramik, kelompok serat alam, kelompok batu-batuan, kelompok kayu-kayuan, kelompok tekstil, kelompok logam dan kelompok material asli yang lain.

Penilaian lomba kriya terbaik harus memenuhi unsur excellence, authenticity, inovatif, marketability, eco-friendly dan fair social responsibility.

Lomba ini terbuka untuk umum, mahasiswa dan pelajar di NTB. Hasil terbaik Dekranasda NTB Award untuk kriya tahun 2019 akan diikuti pada Dekranas Award tahun 2020 di Jakarta.

“Kami harapkan dengan adanya acara ini posisi para pengrajin dan designer di NTB bisa terangkat dan bisa go international,” katanya.

Pendaftaran lomba ini masih dibuka hingga 6 Desember, sedangkan penentuan pemenang akan diumumkan di Hotel Lombok Raya, pada 14 Desember mendatang.

Hadiah yang akan di dapat yakni piala , dan sejumlah uang dan pemenangnya  akan di bawa langsung ke Jakarta dan akan dibina.

AYA




Biro Kesra Diinstruksikan Pantau Kebakaran TPA Kebon Kongok

Agar yang dirasakan dan dikeluhkan petugas pemadam kebakaran dan masyarakat terdampak segera tertangani

MATARAM.lombokjounal.com —   Pj. Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Dr. Ir. H. Iswandi, M.Si, menginstruksikan kepada Kepala Biro Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Provinsi NTB, untuk terus melakukan pemantauan terhadap kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah regional Provinsi di Kebon Kongok, Lombok Barat.

Iswandi menyampaikannya saat memimpin apel pagi dengan seluruh jajaran pegawai lingkup Sekretariat Daerah, Kantor Gubernur NTB, Kamis (17/10) 2019.

Iswandi menegaskan dalam proses pemantauan tersebut, Biro Kesra membuat Desk Pengaduan di Lokasi Kebakaran TPA Regional Kebon Kongok.

Dengan demikian, masalah dan keluhan masyarakat terdampak asap tersebut segera tertangani.

Iswandi menegaskan dalam proses pemantauan tersebut, Biro Kesra membuat Desk Pengaduan di Lokasi Kebakaran TPA regional Kebon Kongok.

Ia juga meminta Biro Kesra dan jajarannya, untuk terus memberikan pembaruan terkini terkait perkembangan penanganan kebakaran TPA. Agar yang dirasakan dan dikeluhkan petugas pemadam kebakaran dan masyarakat terdampak segera tertangani.

“Berikan laporan update laporan perkembangan penanganan kebakaran TPA regional Provinsi NTB, bila perlu setiap jam ada update laporannya,” pintanya.

Selain itu Iswandi juga menegaskan, sesuai arahan Gubernur NTB, segala pembiayaan yang berkaitan dengan pemadaman kebakaran di TPA regional akan ditangani Provinsi.

“Biaya proses pemadaman seperti, pembelian bensin kendaraan operasional pemadam akan ditanggung provinsi,” ujarnya.

AYA/HmsNTB




Gubernur Ingin Dorong Masjid Lahirkan Pengusaha Baru

Bagaimana memfungsikan masjid sebagai tempat ibadah, sekaligus sebagai bank yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat

MATARAM.lombbokjournal.com —  Masjid tidak hanya tempat ibadah. Namun, ketika orang datang ke masjid mereka menemukan solusi terhadap masalah yang mereka hadapi.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengatakan itu, saat Safari Salat Subuh, di Masjid Raudlatul Jannah, Pagesangan Permai, Kota Mataram, Kamis (17/10) 2019.

Ia merasa prihatin dengan persoalan rentenir yang terus melilit masyarakat.  Sebagian masyarakat menjadikan pinjaman uang dari rentenir sebagai solusi. Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah masalah yang tidak kunjung usai.

Karena itu, Gubernur yang akrab disapa Bang Zul ini memberikan solusi atau jalan keluar terhadap persoalan tersebut. Yaitu, menjadikan masjid sebagai tempat melahirkan banyak pengusaha baru.

“Masjid itu tidak hanya tempat ibadah. Namun, ketika orang datang ke masjid mereka menemukan solusi terhadap masalah yang mereka hadapi,” ungkap Bang Zul.

Bang Zul akan menggandeng Bank NTB Syari’ah. Sebab, segala usaha yang dilakukan oleh masyarakat, kalau bekerjasama dengan Bank akan memberikan dampak baik bagi pengembangan usaha ke depan.

“Biasanya kalau dikelola oleh Bank, maka mereka tahu apakah usaha ini bisa sukses atau tidak,” jelasnya di hadapan puluhan Jama’ah Sholat Subuh bertajuk “Safari Subuh Menuju NTB Gemilang, Mencetak 1000 Pengusaha Melalui Masjid”.

Gubernur sedang mempelajari bagaimana memfungsikan masjid sebagai tempat ibadah, sekaligus sebagai bank yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Orang datang ke masjid itu juga menemukan solusi terhadap persoalan rentenir,” jelasnya.

Selain itu, Bang Zul juga mengajak masyarakat NTB untuk senantiasa menghadirkan kesyukuran dalam hidup ini. Sebab, begitu banyak nikmat yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepada umat manusia. Baik itu nikmat keimanan maupun kesehatan.

“Kita akan mengetahui pentingnya kesehatan setelah kita merasakan sakit,” ungkap gubernur.

Ia juga mengingatkan, harta yang melimpah tidak menjamin hidup bahagia kalau setiap harinya diliputi rasa sakit. Penghasilan miliaran per bulan tidak ada gunanya kalau yang diizinkan makan oleh dokter hanyalah obat.

Terkadang, hidup sederhana lebih baik. Berpenghasilan biasa saja, namun bisa makan apa saja.

Semenara itu, Ta’mir Masjid Raudlatul Jannah mengaku bersyukur atas kehadiran Gubernur pada salat subuh itu. Ia berharap, kunjungan tersebut bukan yang terakhir. Namun, pada kegiatan-kegiatan di masjid itu ke depan, Gubernur tetap meringankan langkah untuk hadir.

AYA/HmsNTB




Ketua TP.PKK NTB Atensi Masalah Kesehatan Mental 

Hj. Niken diminta menjadi Keynote Speaker dalam acara seminar Psikologi Klinis yang akan dilaksanakan pada bulan November mendatang

MATARAM.lombokjournal.com —  Masalah  gangguan mental menjadi kekhawatiran bersama, karena dampak dari gangguan ini tidak hanya bagi diri sendiri, namun berdampak bagi orang lain.

“Kita perlu khawatir, karena kondisi mental tidak hanya berdampak pada si penderita, tapi juga orang yang berada di sekitarnya,” kata Ketua TP. PKK Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc .

Hal itu diungkapkannya waktu menerima audiensi Ikatan Psikolog Klinis (IPK)  Indonesia, terkait kasus kesehatan mental anak dan remaja di NTB Rabu (16/10) 2019 sore, di Pendopo Gubernur NTB.

Audiensi ini membahas permasalahan remaja yang membutuhkan pengayoman dalam segi psikologi dan kerohanian.

Ketua Hj. Niken juga menyarankan untuk menggandeng para pakar psikologi di NTB dan melibatkan mahasiswa lulusan ilmu psikologi untuk terjun langsung sampai ke desa-desa, untuk memberikan informasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental.

Ikatan Psikolog Klinis Indonesia meminta kesediaan Hj. Niken untuk menjadi Keynote Speaker dalam acara seminar Psikologi Klinis yang akan dilaksanakan pada bulan November mendatang.

Sri Helmi Hayati, selaku koordinator seminar menjelaskan, seminar ini bertujuan untuk memberikan informasi, kepada remaja akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan menjadi wadah bagi para remaja yang memiliki gangguan psikologis.

“Seminar ini akan memberikan informasi kepada remaja tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan bagaiamana cara menjaganya,” ungkap Sri Helmi Hayati.

Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya sebatas seminar lalu selesai, namun pihaknya akan terus mem-follow up.  Bahkan membentuk tim koordinasi, baik di tingkat kabupaten sampai dengan desa.

”Sehingga para remaja setidaknya mengetahui tujuan mereka saat mereka memiliki masalah,” kata Sri.

AYA/HmsNTB