Menyelamatkan sumber mata air merupakan hal paling utama dalam kehidupan, karena itu penting menjaga dan memeliharanya, salah satunya dengan melakukan penanaman bibit tanaman.
Hal itu dikatakan Attasilani (Rohaniwan Buddha Perempuan) asal Dusun Lonang dan bertugas di Vihara
Attasilani saat di temui wartawan mengatakan, kegiatan sosial penanaman bibit tanaman untuk penyelamatan mata air ini, dipusatkan di halamam Vihara, halaman masyarakan dan di beberapa lokasi perlindungan sumber mata air di sekitar hutan Lenek.
Attasilani mengaku sudah beberapa kali melakukan kegiatan serupa bersama Organisai Astinda (Attasilani Therawada Indonesia).
Senada dengan itu, Bante (Rohaniawan buddha laki-laki) menambahkan, kegiatan penanaman ini penting untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk perlindungan ketersediaan kebutuhan air untuk kehidupan semua mahluk, terangnya.
Ketersediaan bibit itu selain bantuan sukarela dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa dan UPT Sahbandar Pamenang, Opal KLU, dan UPT Danlanal Pamenang urunan secara swadaya.
Jenis bibit tanaman itu antara lain tanaman Beringin, Jati Putih dan Kenari yang peruntukannya untuk perlindungan mata air.
Selain itu juga tanaman lain yang bisa menjadi perlindungan mata air bibit tanaman buah buahan, seperti Kedondong, Durian, Lengkeng, Jambu biji, Rambutan dan Durian yang akan ditanam di halaman di beberapa Vihara, Lenek, Baru Murmas, Buani dan Kr. Lendang, serta pekarangan rumah warga sekitarnya.
Penanaman biit tanaman itu akan dilaksanakan pada hari Minggu (16/05/21) pagi sekitar pukul 08.30 Wita.
Ang
Pendidikan Daring di Masa Covid-19
Sefyandi, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sudah lebih dari satu tahun terakhir ini, berdampak terhadap perubahan aktifitas belajar-mengajar.
Tak terkecuali di negeri ini, sejak priode Maret 2020 aktifitas pembelajaran dilakukan secara daring (online learning) menjadi sebuah pilihan dan keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 semakin meluas.
Praktik pendidikan secara daring (online learning) ini dilakukan oleh berbagai tingkatan jenjang pendidikan sejak tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Tidak ada lagi aktifitas pembelajaran di ruang-ruang kelas sebagaimana lazim dilakukan oleh tenaga pendidik: guru maupun dosen. Langkah yang tepat namun tanpa persiapan yang memadai.
Akibatnya banyak tenaga pendidik yang tidak siap menghadapi perubahan drastis ini. Sementara itu, tidak ada cara lain untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 selain dengan membatasi perkumpulan manusia dalam jumlah yang banyak.
Pemerintah pun membatasi perkumpulan, maksimal 30-40 orang. Itupun dengan mematuhi protokol kesehatan yang sangat ketat: penggunaan masker, menjaga jarak minimal 1,5 meter, mencuci tangan memakai sabun.
Hal ini didasarkan pada pendapat para ahli kesehatan di seluruh dunia setelah mereka melakukan riset atau penelitian bagaimana cara memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Kegagapan pendidikan daring
Area sekolah, sebagai ruang belajar mengajar antara murid dengan guru, mahasiswa dengan dosen pun pada akhirnya dilarang melakukan kegiatan proses belajar mengajar secara langsung atau luring. Sebagai gantinya kegiatan proses belajar mengajar di lakukan secara daring.
Perubahan yang signifikan ini terjadi tanpa adanya persiapan yang memadai sebelumnya, akibatnya banyak tenaga pendidik yang tidak siap untuk menghadapi peruban tersebut. Hal ini pun diakui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.
Nadiem berpendapat, “kita harus jujur proses adaptasi ke online learning juga sangat sulit. Paling tidak masih ada pembelajaran terjadi daripada sama sekali tidak ada pembelajaran”.
Statemen pelipur lara, ketimbang langkah cepat menyiapkan infrastruktur.
Sayangnya hingga memasuki tahun ajaran baru ini pun belum nampak gerak revolusioner dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan maupun jajaran kementeriannya dalam menyiapi sarana-prasarana pembelajaran daring.***
Warige dan Jangger Sasak Jangan Dilupakan
Mi6 dan Publik Institut NTB khawatir, budaya seni Sasak masuki fase punah
Budaya Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat mulai seni tari, pewayangan, alat musik tradisional hingga sistem penanggalan atau kalender, dikhawatirkan memasuki fase kepunahan.
Lalu Athari, Hendra Kesumah, Bambang Mei dan Ahmad SH
Sebab beragamnya budaya Sasak tapi tidak diimbangi literasi khusus kebudayaan Sasak, maupun mempromosikan secara aktif jenis-jenis kesenian tradisional tersebut.
Ancaman kepunahan pun menjadi semakin nyata seiring perubahan zaman. Milenial semakin melupakan kebudayaan asal.
Era teknologi menyeret khazanah Sasak tergerus di ambang pintu kepunahan.
Lembaga Kajian Sosial dan Politik, Mi6 dan Publik Institut NTB , menyoroti tanggalan Sasak Warige yang sudah hampir tidak dikenal. Padahal, sistem penanggalan leluhur tersebut cukup berjaya tempo dulu.
Sistem kalender Sasak Warige merupakan penanggalan yang berdasarkan pengamatan peredaran bintang. Identik dengan bintang pleiades atau dalam bahasa Sasak disebut Bintang Rowot.
Bintang Pleiades atau Gugus Kartika adalah sebuah gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus. Gugus bintang tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang karena dekat dengan bumi.
Warige adalah penanggalan oleh masyarakat Sasak digunakan untuk menentukan hari baik dan buruk. Sehingga, untuk beraktivitas bertani, melaut maupun kegiatan kebudayaan dan keagamaan mengacu pada Warige.
Hal itu menjadi sorotan Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto didampingi Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fathulah, Dewan Pendiri Mi6, Hendra Kesumah dan Direktur Publik Institut NTB, Ahmad SH
“Warige itu menjadi rujukan oleh masyarakat Sasak dalam menentukan waktu yang baik atau waktu yang tidak baik,” ujar pria yang akrab disapa Didu, Sabtu (15/05/21) dini hari di Mataram.
Didu mengatakan, zaman dulu tiap aktivitas masyarakat Sasak berpaku pada penanggalan Warige. Mulai dari bertani, melaut, acara budaya, acara hajatan atau yang berkaitan dengan keagamaan.
“Itu dulu. Tapi sekarang justru Warige mulai terlupakan. Bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan akan punah,” tuturnya.
Sekretaris Mi6, Lalu Athari menambahkan, tanggalan Warige saat ini justru hanya digunakan pada acara Bau Nyale. Itu karena sudah banyak orang mulai lupa dan tidak mengetahui menggunakan Warige.
“Dari generasi ke generasi, kebudayaan Sasak mulai dilupakan. Warige salah satunya,” ujarnya.
NTB sebagai daerah pariwisata membutuhkan kesenian dan budaya sebagai bagian dari atraksi pariwisata. Untuk itu, campur tangan pemerintah diharapkan mampu mempertahankan budaya dan kesenian Sasak.
“Jika pemerintah hanya fokus pada pariwisata semata, tanpa merawat penunjang pariwisata yang menjadi bagian atraksi seperti seni dan budaya, itu sama aja bohong,” tandas Lalu Athari.
Baik Mi6 maupun Publik Institut NTB melihat Seni tari Jangger Sasak juga mulai terlupakan.
Padahal, seni tari tersebut pada masanya selalu ramai digunakan saat acara hajatan baik pernikahan maupun sunatan.
Namun era saat ini, Jangger sudah mulai sepi peminat. Padahal, banyak nyawa bergantung hidup pada seni tari tersebut.
Direktur Publik Institut NTB, Ahmad SH menuturkan, saat ini generasi milenial yang tidak paham arti sesungguhnya Jangger.
Banyak orang yang hanya melihat Jangger adalah sebuah hiburan erotis yang menampilkan perempuan dengan lekuk tubuh seksi menari di hadapan banyak pria.
“Padahal tarian Jangger Sasak ini memiliki filosofis yang justru sebagai bukti perempuan Sasak mempertahankan kehormatan mereka,” tambahnya.
Setiap gerakan Jangger memiliki filosofis yang menandakan perjuangan perempuan menjaga kehormatannya.
Biasanya, saat perempuan menari, akan datang seorang laki-laki yang ikut menari. Terkadang tangan nakal lelaki itu berusaha menjamah tubuh si penari perempuan.
Dari sanalah Jangger akan mengeluarkan gerak tari mempertahankan kehormatannya. Dia memiliki gerakan menangkis tangan nakal lelaki.
Baju penari juga cukup tebal untuk melindungi dirinya. Sementara di kepala si penari terdapat perhiasan yang berbentuk tajam, yang akan mengarahkan kepada si penyawer pria saat posisi si Jangger tertekan.
Gerakan Jangger seperti silat yang bersiap menangkis serangan. Di tangannya juga memiliki kipas yang akan menghalau penyawer nakal.
“Bahkan, gerakan kaki si penari berbentuk kuda-kuda dalam posisi siap siaga. Itu semua memiliki filosofis bentuk perlawanan perempuan menjaga kehormatan,” tambah Dewan Pendiri Mi6, Hendra Kesumah.
Mi6 menyadari seni tari Jangger sudah mulai memasuki fase kepunahan. Itu karena peran pemerintah dinilai masih minim untuk terus mempertahankan budaya-budaya Sasak ini.
“Pemerintah kadang lupa, era modern yang membawa banyak teknologi dan industrialisasi, konsekuensinya tentu ada yang akan terlupakan. Yaitu seni-budaya tradisional kita. Itu juga akan tenggelam bersama kemajuan zaman jika tak terurus,” urai Hendra Kesumah.
Terkait adanya perubahan penari yang kerapkali berpenampilan seksi dalam seni tari tradisional maupun kontemporer Sasak, Ahmad SH melihat itu hanya soal kedewasaan masyarakat dalam menikmati seni.
“Tidak perlu dikaitkan dengan religi. Seni itu murni ekspresi, bicara soal estetika. Religi itu ranah etik, sementara seni ranah estetik dan tidak berurusan dengan moral,” jelasnya.
Kesenian memang bukan kitab suci yang akan kekal sepanjang masa. Sudah menjadi hukum alam bahwa seni punya hak untuk lahir, berkembang dan mati.
Namun, menjadi kewajiban kehadiran pemerintah untuk mempertahankan seni dan budaya tetap terus hidup.
“Jadi jangan hanya dibuat mabuk dengan modernisasi dan industrialisasi, tapi seni budaya sendiri dilakukan. Itu ibarat anak kota yang tak tahu kampung asal jika seni dan budaya dilupakan,” tutur Ahmad SH yang juga aktivis Lingkungan dan mantan pengurus teras di Walhi Nasional Jakarta.
Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu SH menyampaikan momentum sholat Idul Fitri untuk mengajak bersyukur, lantaran rangkaian ibadah puasa ramadhan 1442 telah selesai dan terlalui dengan baik.
Bupati H Djohan Sjamsu
Hal itu dikatakannya saat Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu SH melaksanakan sholat Id di Masjid Ikhwanul Muttaqien Gondang Kecamatan Gangga (13/05/21). Masjid tersebut terdampak gempa tahun 2018, hingga kini memang belum rampung.
“Dua hal yang harus dilakukan guna mengakhiri Ramadhan. Pertama, berdo’a. Mudahan semua dipanjangkan umurnya dan diberikan keafiatan agar nantinya dapat melaksanakan puasa ramadhan 1443 yang akan datang. Kedua, menyelenggarakan sholat idul fitri setelah sebulan berpuasa. Semoga pula, ibadah dan seluruh amalan kita diterima oleh Allah SWT,” tuturnya.
Bupati Djohan pada kesempatan tersebut memohon maaf secara pribadi, keluarga, maupun Pemerintah Daerah Lombok Utara, seraya menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriah.
Dikatakannya pula dampak setelah gempa belum terselesaikan secara keseluruhan. Lebih dari 18 ribu rumah belum terselesaikan. Lombok Utara terdampak pula Covid-19.
Menurutnya, seluruh polong renten (saudara-saudara semua) menyatakan berikan kesempatan sebaik-baiknya, seikhlas-ikhlasnya kepada Pemerintah Daerah untuk mengurai dan menyelesaikan persoalan satu per satu, dengan dukungan masyarakat.
“Semua persoalan, kalau dilakukan upaya bersama-sama akan mampu diselesaikan. Untuk diketahui bahwa yang menentukan nasib dan kemajuan Lombok Utara ke depan adalah masyarakat itu sendiri. Di dalam alqur’an dinyatakan Tuhan tidak akan mengubah nasib satu bangsa/kaum, sebelum bangsa/kaum itu mengubah nasibnya sendiri,” tandasnya.
Menurutnya, Pemerintah Daerah tidak akan mampu menyelesaikan sendiri persoalan Lombok Utara yang pelik tersebut, tidak bisa sepenuhnya mampu, kecuali bersatu padu kompak bersatu membangun daerah.
“Jika ada keliru mestinya diingatkan. Saya akan samiq’na waato’na insya Allah. Untuk itu dukungan kita semua rentenku, masyarakatku di Lombok Utara ini, kita sama-sama bangun daerah ini menjadi daerah yang baldatun toyyibatun warobbun ghafur, dengan seadil-adilnya sebaik-baiknya. Kompak bersatu semua golongan membangun daerah,” urainya.
Khotib sekaligus Penghulu Desa Gondang, Saiful Wathon memaparkan meski dalam kondisi yang tidak biasa, dalam situasi Covid-19. Hari Raya Idul Fitri 1442, tidak mengurangi semangat masyarakat untuk hadir melaksanakan rangkaian sholat sebagai penyempurna ibadah puasa.
“Momentum Idul Fitri untuk meningkatkan kebaikan pada diri masing-masing dan kebaikan kita sinergikan untuk melahirkan amalan yang bermanfaat. Bagaimana ramadhan mendidik kita menjadi insan yang lebih baik,” imbuhnya.
Dikatakannya, ramadhan adalah semangat menanamkan nilai pada diri, baik nilai pengorbanan, keistiqomahan, kesabaran, ketaatan, kepedulian membangun dan berbagi karunia Allah SWT yang dilandasi iman dan amal.
Agar predikat insan muttaqien bisa diraih. Rangkaian acara Sholat Idul Fitri berjalan lancar khidmat dengan tetap mematuhi Prokes Covid-19.
Hadir saat itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda KLU Simparudin SH, Plt Kadis Dukcapil Tresnahadi SPt, Kapolsek Gangga IPTU Remanto SH, tokoh agama, tokoh masyarakat beserta jama’ah masjid mukimin Gondang Gangga.
wld
Gelombang Kedua Covid-19 di India
Amira Asmalayali, mahasiswa Program Studi Administrasi publik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Covid-19 (SARS CoV – 2) atau yang lebih dikenal dengan sebutan virus corona, merupakan virus penyakit menular yang menyerang pernapasan pada manusia. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala ringan pada sistem pernafasan dan infeksi pada paru paru hingga kematian.
Covid – 19 pertamakali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini dengan cepat menyebar, sehingga mengakibatkan kelumpuhan aktivitas sosial masyarakat di berbagai kota di China.
Virus ini dapat menjangkit berbagai kalangan usia mulai dari balita, remaja, orang dewasa, hingga para lansia. Menurut laporan, kasus Covid-19 ini banyak menjangkit orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga para lansia sangat rentan terinfeksi oleh virus ini.
Tidak hanya menjangkit berbagai kota di China, virus ini juga menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia, sehingga beberapa negara harus memberlakukan lockdown untuk menekan penyebaran virus.
Setelah 1 tahun lebih warga didunia berkutat dengan penyakit menular ini, perlahan-lahan kehidupan masyarakat mulai memasuki tahap new normal. Namun kekhawatiran akan virus ini terus menghantui, sehingga pemerintah harus memberlakukan kebijakan diantaranya pembatasan aktivitas fisik masyarakat.
Namun karena rendahnya kesadaran masyarakat akan virus ini membuat kasus terus kian bertambah. Salah satunya yang terjadi saat ini di India. India mencatat rekor dunia, dengan kasus penularan sebanyak 403.738 orang dalam waktu 2 hari.
Gelombang kedua penularan virus Covid-19 di India terjadi, membuat pemerintah india sangat kewalahan. Melalui Kementerian Kesehatan India mengumumkan 403.738 kasus penularan yang terjadi hanya dalam 2 hari.
Kasus penularan yang sudah perlahan lahan menurun, namun terhitung sejak Maret 2021 kasus penularan kembali melonjak secara signifikan.
Pelaksanaan protokol yang kurang baik dan dibukanya bioskop dan pasar pasar setelah kasus di India menurun dianggap menjadi penyebab, selain itu terdapat festival kegamaan dan pemilu juga yang dianggap sebagai pemicu gelombang kedua penularan virus corona.
Terhitung selama Bulan Maret – April terdapat dua event besar yaitu pemilu legislatif yang di laksanakan di 5 negara bagian, dan acara keagamaan yakni Festival Kumbi Mela.
Penurunan kasus di India menjadi indikator untuk tetap melaksanakan Festival Kumbh Mela, serangkaian ritual mandi suci di sungai gangga yang di lakukan setiap 12 tahun. Festival tersebut di laksanakan selama 1 bulan lebih. Menurut data ledakan kasus penularan Covid-19 terjadi sejak 31 Maret – 24 April yang mana bertepatan dengan pelaksanaan ritual keagamaan.
Pada akhir Maret, Uttarakhand mencatat 1.800-an kasus aktif COVID-19. Kurang dari sebulan kemudian, angkanya sudah mengudara jadi 33.330 kasus. Pemerintah memperkirakan 3,5 juta orang hadir pada upacara pada 12 April, sementara dua hari kemudian jumlahnya berkisar 1,35 juta orang.
Pemerintah India sangat kewalahan, di berbagai daerah dilaporkan banyak terjadi krisis pasokan oksigen dan ranjang perwawatan.
Selain itu masifnya lonjakan penularan virus ini juga memunculkan varian baru dari virus Covid-19 yaitu, varian COVID-19 B1617 yang ditemukan di India. Varian yang membawa sejumlah mutasi ini, disebut Strait Times sebagai “mutan ganda” lantaran memiliki dua mutasi utama pada protein virus yang berfungsi mengikat lebih banyak sel dan menyebabkan penularan.
Kini India harus membayar mahal akibat lengah saat pelandaian kasus terjadi. Masifnya lonjakan kasus membuat banyak pihak pesimistis. India saat ini berada dalam lorong gelap bencana COVID-19, yang hampir sulit menemukan jalan keluar.***
Aktivitas Manusia Yang Merusak Lingkungan
Husnul Khatimah, mahasiswa Program Studi Administrasi Pubik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Ada dua hal yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan hidup, yaitu karena peristiwa alam dan aktivitas yang dilakukan manusia. Di awah ini dijbarkan beberapa poin yang menggambarkan aktivitas manusia yang dapat menimbulkan resiko tersebut, di antaranya adalah:
Penebangan Hutan (Deforestasi)
Aktivitas penggundulan hutan di Indonesia cukup tinggi. Dalam satu tahun, luas hutan yang mengalami deforestasi bisa mencapai 1,8 juta hektar. Jumlah ini setara dengan 21% dari 133 juta hektar hutan di Indonesia habis dibabat untuk kepentingan-kepentingan industri. Akibatnya, kelestarian flora dan fauna terancam, terjadi bencana alam, hingga penurunan kualitas udara bagi manusia.
Pencemaran Udara, Air, dan Tanah
Masalah polusi tidak hanya terjadi di Jakarta saja. Pencemaran dialami oleh hampir seluruh wilayah Indonesia, meski memang daerah ibu kota memiliki angka tertinggi, baik untuk pencemaran air, tanah, dan udara.
Penyebab dari pencemaran ini bermacam-macam, seperti sampah di sungai, limbah pabrik ke lepas pantai, asap dari pembakaran pabrik, dan masih banyak lagi.
Perburuan Liar
Aktivitas jual-beli hewan langka atau bagian tubuh hewan dapat merusak keseimbangan ekosistem. Akibatnya yang paling terasa adalah semakin langkanya hewan-hewan yang diburu secara liar dan organ tubuhnya diperdagangkan.
Organisasi sosial yang memberikan informasi dan analisis menganai status, tren, dan ancaman terhadapat spesies, dan mendorong mempercepat upaya konservasi, IUCN Redlist, menyampaikan keprihatinan. Sebab ada 76 spesies hewan Indonesia yang berstatus Critically Endangered, artinya kritis dan terancam punah.
Jika perdagangan ini dibiarkan begitu saja, maka hewan-hewan endemik Indonesia bisa hilang secara perlahan-lahan.
Yang dapat dan perlu kita lakukan adalah memperhatikan kelestarian lingkungan hidup tidak hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga untuk hewan dan tumbuhan juga.
Apabila semuanya terjaga, maka keseimbangan kehidupan pun berjalan mengiringinya. Dengan begitu, sudah selayaknya bagi seluruh masyarakat Indonesia memperhatikan aktivitasnya agar tidak mengganggu kondisi lingkungan sekitar.***
Cerita Hidup Anak Rantau
Yuni Wahidah, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Mataram
Perginya seseorang dari asal dimana ia tumbuh besar ketanah rantauan untuk menjalani kehidupan baru dan mencari pengalaman baru, yang biasanya kita sebut dengan merantau ialah sebuah tindakan satu langkah lebih maju dibandingkan orang-orang yang menetap di daerahnya.
Perjuangan hidup di kota orang bukanlah sebuah tindakan yang dapat diambil oleh semua orang. Oleh karena itu tak sedikit dari mereka berbangga hati dengan julukan anak perantau.
Kamu siap pergi merantau maka dengan secara tidak langsung kamu siap mengambil risiko dengan tanggung jawab yang akan kamu pikul dengan sendirinya.
Memutuskan pilihan untuk keluar dari zona nyaman memang merupakan tantangan khusus untuk diri pribadi, akan tetapi untuk melalui hidup diperantauan akan mengajarkan kamu arti sesungguhnya bahwa hidup ini butuh tekad dan semangat yang kuat.
Susah dan senang akan kamu alami ketika kamu sudah pergi merantau di tanah orang dan akan ada banyak hal yang membuat kamu merasakan bahwa hidup ini sangat berarti. Kamu akan merasakan kesepian, kesendirian, kerinduan dan bahkan ketika semua itu tidak terbendung lagi maka kamu akan menangis.
Yang menjadi problematika utama orang perantau ialah kerinduan yang sangat mendalam yang dirasakannya. Bahkan ketika rindu itu sedang melanda dan ketika kamu tidak bisa bercerita kepada siapapun maka sedih yang teramat dalam akan kamu rasakan.
Sejujurnya kesedihan terberat yang ada di hati anak perantau adalah ketika jauh dari ibunya.
Namun di lubuk hatinya pula, anak rantau percaya bahwa orang yang akan dia bahagiakan selain ibunya adalah ayahnya. Karena tangis dan pengorbanan yang begitu besar yang telah dirasakan oleh anak perantau banyak dari mereka yang menjadikan ini sebagai pacuan untuk sukses dengan impian dan tujuan dasar ia merantau.
Menjadi seorang anak rantau, berjalan di negeri orang, tiada satupun saudara, hanya teman sebagai andalan, Begitulah nasib sebagian orang saat ini. khusunya saya.
Saya berjalan kesana kemari hanya untuk mencari setitik ilmu. Hanya bisa mengingat kata-kata terakhir orang tua yang memberikan motivasi untuk saya dalam membentuk Kesabaran dalam hati agar saya bisa menerima keadaan hidup di tanah perantauan.
Walau terkadang keadaan tidak seperti yang saya inginkan, tapi itulah yang harus saya lalui .
Orang tua dan saudara yang jauh di kampung, tidak akan tahu apa yang saya alami di rantau, Keluarga hanya tahu bahwa keadaan saya baik-baik saja,. Saya tidak selalu bergantung pada mereka” Saya tidak ingin terlena dengan kehidupan yang membuat jejak langkah ini terhenti”
Saya harus berjalan menemukan siapa saya, bagaimana saya bisa mempertahankan hidup walau dengan sesuap nasi.
Walau terkadang hati menangis karena nasib, namun sebenarnya tangisan hanya membuat lemah. Namun tangisan bisa hadir sebagai ungkapan suara hati. Entah bagaimana masa depan.
ini yang selalu saya membayangkannya setiap saat, Tapi biar semuanya berjalan menurut waktu. Karena apa yang ada didepan itulah yang harus saya hadapi. Entah esok atau lusa akan terjadi dalam hidup ini, Hanya Tuhan yang tahu semua ini.***
Sajak dariku….
Pengorbananku adalah tekadku
Langkahku adalah ikhtiarku
Impianku adalah cita-citaku
Kuyakin apa yang kugapai akan membahagiakanmu
Dan kuyakin kebahagian yang utuh akan kembali kelak kita bersatu
Tsunami Covid-19 di India bisa menjadi bencana global. Lonjakan kasus positif Covid-19 di India bisa juga terjadi di negara lain.
Sebelum Covid-19 di India mengganas, para ahli telah memperingatkan selama berbulan-bulan sebelumnya, India bisa menjadi ancaman yang semakin besar bagi perang global melawan virus corona. Dan sekarang ketakutan itu telah terwujud.
India telah digulung tsunami Covid-19 dengan melonjaknya jumlah kasus harian, meroketnya jumlah kematian, dan menipisnya pasokan medis. Para ahli memperingatkan, tsunami virus corona di India dapat berdampak besar bagi seluruh dunia sebagaimana dilansir New Zealand Herald, Rabu (28/04/21).
Pada Minggu (25/04/21), India melaporkan 352.991 kasus Covid-19 terbaru, jumlah kasus virus corona terbanyak dalam sehari dari seluruh negara di dunia.
Sehari setelahnya, pada Senin (26/04/21), India kembali melaporkan 323.000 kasus Covid-19 dan 2.771 kematian dalam sehari, tanpa tanda-tanda melambat.
Di sisi lain, di India terdapat produsen vaksin terbesar di dunia, Serum Institute of India. Perusahaan tersebut menyediakan vaksin ke 92 negara di dunia. Namun, progres vaksinasi Covid-19 di India sendiri sangat lambat. Kini, India membatasi ekspor vaksin ke luar negeri untuk dialihkan ke kepentingan domestik.
Serum Institute of India, yang juga memproduksi vaksin AstraZeneca, menyatakan belum bisa memenuhi komitmen internasionalnya jika pasokan di dalam negeri tidak terpenuhi. Selain itu, Covid-19 terus bermutasi.
Para ahli khawatir mutasi terbaru virus corona yang akan datang dapat mendorong lonjakan kasus yang semakin parah di India. Mutasi tersebut turut memicu kekhawatiran bahwa situasi yang sama akan segera menyebar lebih jauh di seluruh dunia.
Media-media lokal melaporkan situasi Covid-19 di India semakin parah. Antrean pasien yang mengular di rumah sakit, kehabisan oksigen, dan penumpukan jenazah di krematorium menjadi berita sehari-hari.
Para ahli berpendapat, situasi mungkin tidak seburuk itu jika India lebih cepat mendistribusikan vaksin lokalnya dan tidak melonggarkan pembatasan jarak sosial.
Namun, pemerintah India lengah setelah melihat merasa mampu mengendalikan Covid-19 pada akhir tahun lalu hingga awal tahun ini.
“Banyak orang pada Desember dan Januari berpikir, ‘Oh, ini sudah terkendali’,” kata ahli epidemiologi dari Universitas Toronto, Prabhat Jha.
“Itu ternyata hanya keangkuhan. Beberapa orang, termasuk saya, telah memperingatkan bahwa virus itu benar-benar bisa menggigit balik,” sambung Prabhat Jha.
Di sisi lain, para profesional kesehatan menuduh Pemerintah India menyembunyikan jumlah sebenarnya kematian Covid-19 di seluruh negeri. Asisten Profesor di Universitas Kedokteran South Carolina, Krutika Kuppalli, memperingatkan bahwa jika India tidak mampu mengendalikan Covid-19, itu akan memengaruhi seluruh dunia.
“Kami dapat memberlakukan semua pembatasan perjalanan, tetapi itu tidak akan mencegah mutasi virus corona mencapai tempat lain,” tutur Kuppalli.
Kini, jumlah kasus Covid-19 di India sejak pandemi dimulai tercatat sekitar 17,6 juta kasus dengan angka kematian akibat virus corona sebanyak 198.000 jiwa.***
Gubernur DR Zulkieflimansyah dan ratusan jamaah pria dan wanita melaksanakan Shalat Iedul Fitri 1442 H di lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur dengan protokol kesehatan ketat, Kamis (13/05/21).
Pelaksanaan Sholat Iedul Fitri yang diikuti Sekda NTB, para Asisten dan para Kepala OPD itu diimami Ustad H Abdul Hamid.
Usai shalat Iedul Fitri, Pemerintah Provinsi NTB melalui khatib shalat Ied berpesan, agar warga masyarakat menaati kebijakan pemerintah, selama kewajiban itu untuk kepentingan masyarakat banyak. Terlebih di tengah pandemi yang angka terpaparnya masih fluktuatif.
Kepala Biro Kesra Setprov NTB, H Ahmad Masyhuri juga mengajak masyarakat agar beribadah dengan protokol kesehatan yang ketat.
Begitupula dengan budaya halal bil halal yang biasanya diselenggarakan saat Lebaran Idul Fitri sedapatnya ditiadakan.
Dikatakannya, dengan mengutip sebuah hadits nabi, esensi silaturahmi seperti halal bil halal sesungguhnya dengan membahagiakan hati saudara muslim yang lain.
Halal bil halal yang berpotensi kontak fisik seperti berkumpul dan bersalaman dapat menularkan virus Covid 19.
“Melakukan sesuatu yang banyak mudaratnya, patut dihindari,” ujar Masyhuri.
Sementara itu, Khatib DR Abdul Fatah, Dosen Universitas Islam Negeri Mataram menguraikan, puasa dan Idul Fitri di tengah pandemi selayaknya melahirkan sifat profetik atau kenabian. Seperti amanah, istiqomah dan salam.
Selain itu, penting membangun kepedulian sosial dan kasih sayang agar dapat mewujudkan insan sejati yang tabah menghadapi pandemi dan dampak yang diakibatkannya.
Seperti diucapkannya dalam khutbah, selaras dinamika yang ada, pemerintah sudah seharusnya terus menerus memegang prinsip memperjuangkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
“Mari bersama sama menyadari pentingnya bersigap dan bertekad untuk ikut berpartisipasi membangun NTB, hidup produktif dengan tetap menjaga protokol kesehatan.
Jm
RA Kartini Pelopor Dunia Pendidikan
MARLINA, mahasiswa Prodi Admiiniistrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universita Muhammadiyah Mataram
Tanggal 21 April kita sudah memperingati hari lahirnya Raden Ajeng Kartini atau disingkat R.A Kartini. Bahkan kita juga ikut turun ke jalan guna membagi bunga untuk memperingati hari lahirnya R.A Kartini, Hadir saat itu Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Ummat pada hari Kamis, 10 April 2021 sebelum hari lahirnya R.A Kartini.
R.A Kartini dikenal sebagai sosok seorang pahlawan nasional yang berjuang membela hak-hak kaum perempuan untuk memperoleh kebebasan, terutama dalam dunia Pendidikan. Sebagai seorang perempuan kita didorong mampu memperjuangkan hak-hak seperti yang dilakukan oleh R.A Kartini.
Menanamkan sikap kebebasan di dalam diri kita sebagai seorang perempuan yang tangguh, perempuan yang mampu melawan dalam garis perjuangan, bukan hanya sebagai wacana tetapi mampu untuk kita pertanggungjawabkan.
Seperti salah satu contoh kasus yang tejadi di bulan Mei kemarin, seoarang gadis perempuan yang terkenal dengan keberaniannya berusia 19 tahun yang bernama Angel yang ikut bergabung dengan para pengunjuk rasa dalam kudeta di Myanmar, ia tewas terbunuh oleh tembakan yang ada di kepalanya.
Dari kasus tersebut kita sudah mengetahui, dia melakukan itu semua bukan karena ingin bergaya, bukan juga ingin dikenang oleh banyak orang. Melainkan jiwanya terpanggil dan bahkan dia berada di garda paling depan.
Karena itu, kita sebagai seorang perempuan harus mampu menanamkan kebebasan di dalam diri kita, agar kita tidak dipandang lemah. Sejatinya seorang perempuan juga mampu menjadi pemimpin buat orang lain.
Karena Perempuan juga berhak mempertahankan hak dan kebebasan yang ada didalam dirinya, jika hak dan kebebasan itu direngut oleh orang lain.
Maka kita berhak melakukan tindakan Emansipasi, bahwa kebebasan dan kesejahteraan dalam diri perempuan harus dikembalikan.
Bukti nyata, seseorang perempuan pernah menjadi seorang pemimpin pada masa pemerintahan ibu Megawati, yang menjadi sosok seorang pemimpin yang tangguh, berani, dan mampu membawa perubahan didalam dirinya dan orang lain.
Karena itu, kualitas perempuan tidak seperti laki-laki, sebab dari sejarah pun perempuan memang selalu dibatasi. Bahkan seseorang perempuan tidak boleh menjadi sosok pemimpin, bearti kebebasan di dalam dirinya secara tidak sadar dibatasi oleh permasalah tersebut.
Dan saya kadang-kadang berpikir, apakah perempuan tidak bisa menjadi seorang pemimpin? Dan apakah hanya para laki-laki yang bisa memimpim seorang perempuan? Apakah mereka merasa tersaingi oleh sosok perempuan?
Karena pada dasarnya perempuan juga berhak mendapatkan kebebasan atas dirinya.Karena kunci dari kesuksesan seorang perempuan adalah kerja keras, komitmen, dan tetap konsisten serta tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbaur sesaat.
PR terbesar bagi saya sendiri dan beserta perempuan lainnya adalah memperbaiki kualitasnya melalui membaca, berdiskusi, dan menulis. Karena dengan cara itulah kita mampu menjadi sosok perempuan yang akan menuntut terhadap keadilan dan kebenaran untuk mengikuti perjuangan dari R.A Kartini.
Saya sendiri merasa bangga karena ditakdirkan sebagai seorang perempuan.***