Cerita Pendek MULUT RAMLI oleh Kongso Sukoco

Tiap Ramli mengucapkan sesuatu cerita, bahkan hanya satu kata pun, mulutnya bertambah melebar

lombokjournal.com ~
MARIKI mendengar teriakan kaget orang-orang kampung. Di gang kampung tempat tinggalnya yang padat penduduk itu terdengar suara riuh. Suara komentar-komentar bersautan tertangkap nadanya penuh khawatir. Pasti tengah terjadi peristiwa mengejutkan, pikir Mariki. Masih di pagi yang gelap saat Mariki meloncat dari tempat tidur dan mencaritahu apa yang tengah terjadi. Ia menyibak kerumunan tetangganya, mencoba mendekati Ramli.  Orang-orang di kampung itu terperangah, termasuk Mariki yang baru saja menyadari apa yang dilihatnya.
Ya, ini soal Ramli, Kepala Lingkungan atau Kaling di kampung kami Dasan Beleq. Sudah dua kali terpilih sebagai pejabat kampung, karena ia pandai memikat dengan beragam cerita, ia masih muda, bertubuh kecil namun lincah, bersemangat dan menggebu gebu meski sebenarnya suka membual. Ia dipilih penduduk dusun yang sebagian besar menempati rumah sempit tanpa halaman yang berdesak-desakan. Ramli dianggap bagian dari mereka, yang sebagian besar bekerja sebagai buruh bangunan. Ramli sendiri semula adalah peladen dari tukang bagunan yang kalau kerja biasanya mendapat imbalan 900 ribu sehari. Sejak dipilih sebagai Kepala Lingkungan, ia mulai banyak berubah. Bakatnya suka membuat cerita yang lebih banyak  membual tampak makin berkembang. Ramli makin suka menyampaikan cerita hal baru di luar pengetahuan orang-orang kampung, yang membuat orang kampung ingin tahu lebih jauh. Misalnya, menurutnya tiap hari ia bertemu dengan Lurah, Camat bahkan Walikota. Para pembesar kota itu konon selalu minta pendapatnya bagaimana membangun kampung miskin. Kabarnya ia selalu mendesak para pembesar kota agar memperhatikan Dusun Dasan Beleq. Memperjuangkan bantuan untuk orang tua renta yang tak bisa lagi bekerja, anak-anak muda pengangguran, perbaikan jalan kampoung yang kumuh. Bahkan rehab masjid pun ia perjuangkan. Walaupun nyatanya selama Ramli jadi Kadus, yang nyata kelihatan hanya petugas Posyandu saja yang tiap minggu rutin menyambangi kampung.
Tapi Ramli saat ini harus menahan diri untuk bicara. Tiap Ramli mengucapkan sesuatu, bahkan hanya satu kata pun, mulutnya bertambah melebar. Jangankan satu kata, asal mulutnya mengeluarkan suara, akibatnya sama. Tampak muka Ramli sangat menderita, tapi mengeluarkan suara tangis pun ia mencoba menahan. Sebab tiap suara yang keluar dari mulutnya, andai pun cuma suara desis, maka ukuran mulutnya makin bertambah.  Akhirnya ia memilih diam, berkali-kali membuka kedua tangan tanda pasrah. Mariki melihat raut muka Ramli memancarkan kesedihan yang tak terbayangkan.
Beberapa orang yang mengelilingi Ramli ingin menolong tapi tapi tak tahu harus berbuat bagaimana. Karena itu Mariki mengambil tindakan menjauhkan orang-orang yang mengelilingi Ramli. Sebab khawatir kalau orang-orang itu mendekat akan memancing Ramli bersuara. Jelas resikonya.
Mariki mendorong orang-orang itu agar menjauh.
“Jangan dekat-dekat, kasihan Ramli…,” ujar Mariki.
Waktu orang-orang didorong menjauh, justru Ramli hendak melangkah mendekat.
“Kamu tetap diam, Ramli!” suara Mariki setengah membentak.
”Kenapa? Kenapa mereka disuruh menjauh?” suara Ramli yang terdengar memelas tanpa sengaja meluncur dari mulutnya.
“Diam Ramli, jangan bicara!” bentak Mariki dengan cepat.
Sudah terlambat, Ramli tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh. Dan siapa pun tak mungkin mencegah, mulut Ramli bergerak melebar. Beberapa saat ia mencoba beradaptasi dengan perubahan itu. Walau semula mengalami rasa sakit, akhirnya Ramli bisa menyesuakan diri. Penyesuaian ini tidak mudah, sebab perubahan ukuran mulut itu juga mempengaruhi bentuk rahang dan gusi. Itu tidak mudah, dan tentu saja sakit.
Mariki mulai berpikir, apa yang tengah terjadi dan gejala apa sesunguhnya yang menimpa Ramli. Apakah Ramli mengalami gejala medis seperti spasme otot, yaitu kejang otot wajah. Mengalami kejang otot di sekitar rahang atau wajah. Ini menyebabkan mulut tampak melebar secara tiba-tiba. Ini bisa disebabkan oleh stres, kelelahan, atau gangguan saraf. Di benak Mariki juga sempat terlintas ucapan temannya yang mengajar di Fakultas Kedokteran tentang dislokasi rahang. Rahang keluar dari posisi normalnya. Ini disertai rasa sakit, sulit menutup mulut, jelas sulit bicara.
Sambil tetap mengontrol gerakan orang banyak dan Ramli sendiri, Mariki memutar otak untuk memahami kemungkinan lain. Dalam bahasan soal saraf juga dikenal kondisi neurologis yakni gangguan pada saraf wajah, seperti dystonia atau facial tics. Ini berpengaruh pada kontrol otot dan  menyebabkan ekspresi wajah yang tidak biasa, termasuk mulut yang tiba-tiba melebar. Ada juga yang disebut Sindrom Ehlers-Danlos atau Hipermobilitas Sendi. Orang yang berada pada kondisi ini, jaringan ikat di tubuh sangat lentur, sehingga memungkinkan gerakan ekstrem, termasuk pembukaan mulut yang sangat lebar.
Tapi di tengah ingatan gejala-gejala yang membuat mulut melebar, Mariki sejenak terhenyak. Jika pelebaran mulut ekstrem yang tak bisa dikontrol dijadikan cerita fiksi atau seni teater, dapat digunakan sebagai metafora atau efek dramatis. Mariki merasa telah menangkap sesuatu. Tapi ini terjadi dalam kehidupan nyata, karena itu yang harus segera dilakukan adalah berkonsultasi dengan profesional medis
Orang-orang kampung yang berkerumun itu sambil beringsut menjauh, mulai menafsir-nafsir kenapa nasib malang itu harus menimpa Kadus. Kenapa justru Kaling yang terpilih dan yang harus menjadi korban. Memang anak muda yang sebelumnya dikenal sebagai tukang bangunan itu bergaul wajar bersama orang kampung. Perilakunya tak banyak berubah setelah ia terpilih sebagai Kaling. Tapi ada yang berubah. Hanya rumahnya yang mulai lebih bagus karena sudah direnovasi. Baru-baru ini ia sudah mengendari kendaraan matic jenis Scoopy 110 cc. Ia sering bercerita panjang lebar motor barunya yang menurutnya bergaya retro  dengan desain stylish dan elegan. Kendaraan itu, kata Ramli, merupakan hadiah dari Walikota karena ia dinilai sukses memimpin kampungnya.
Samsul anak muda yang selama ini dikenal sebagai teman dekat Ramli, menerobos dari kerumunan dan berbisik pada Mariki.
. “Ki, saya teman dekat Ramli. Tau persis perangai Ramli…” kata Samsul setengah berbisik pada Mariki. “Ini hanyalah akibat….”
Mariki menoleh. Merasa diberi kesempatan, Samsul mulai nyerocos.
Ini yang dikatakan Samsul. “Untuk memahami keadaan ini, begini Ki…. Kalau nasib malang seseorang itu ditampakkan lewat mulut, berarti yang bersangkutan selama ini banyak salah memanfaatkan mulutnya.”
Samsul makin bersemangat menyampaikan cerita karena Mariki menunjukkan minatnya untuk mendengar
“Kalau mulut sering digunakan melempar cerita bohong atau mengelabuhi, maka musibah itu akan tampak di mulut itu juga. Jangan main-main dengan mulut. Bahaya besar. Mulut itu seperti pedang bermata dua, di mata yang satu mulut berguna untuk menyampaikan kebaikan, sedang di mata lainnya mulut bisa untuk berbohong, menyampaikan janji-janji palsu, menyembunyikan maksud-maksud busuk, mulut digunakan untuk mengelabuhi.”
“Ramli selama ini tidak bisa jaga mulutnya?” tanya Mariki.
“Kalau melihat Ramli datang,” kata Samsul, “dari jauh sudah kelihatan kalau ia sudah akan berbohong…Kalau ia bicara tiga kali, ia bisa berbohong lima kali…..”
Samsul memandang tajam Mariki. Ia ingin meyakinkan, kebohongan-kebohongan yang menumpuk itu membuat Ramli harus menghadapi kenyataan ini. Ia mengaku, kalau Kaling banyak menerima bantuan untuk orang kampung, tapi ditilep atau paling jauh dibagikan ke keluarganya. Bisa jadi prang banyak yang disakiti mendoakan hal buruk untuknya, dan doa itu menjadi nyata.
“Hukuman mulut yang melebar itu tanda-tanda…. Ramli sudah tidak punya kendali atas apa yang dulu ia peralat, yaitu kata-kata!” tegas Samsul
Mariki dakam hati membenarkan ucapan Samsul. Ia hendak mengatakan sesuatu tapi diurungkan.
Karena tiba-tiba terdengar suara lenguhan yang sangat keras, ternyata keluar dari mulut Ramli. Keduanya spontan menengok ke arah Ramli. Seketika itu Mariki dan Samsul beringsut ke belakang dua langkah. Ternyata dalam waktu tak lama, tidak disangka kalau mulut dan kepala Ramli membesar dua kali lipat bahkan lebih dari sebelumnya. Benar-benar mengagetkan. Apalagi tatapan dari mata Ramli yang bentuknya jadi aneh itu tidak lagi bersahabat. Samsul menarik tangan Mariki agar lebih menjauh.
“Karena itu saya yakin….Ramli dipaksa Tuhan untuk tidak bicara dulu… supaya berhenti berbohong…” kata Samsul.
Makin lama orang-orang yang berkerumun dan mulai tidak berani mendekati Ramli itu makin paham bahwa kejadian aneh itu bukanlah cerita dalam mimpi. Kalau toh Ramli mampu menahan diri tidak berkata-kata atau akan mengutarakan sedikit cerita, tapi tak mungkin menahan isak tangisnya. Dan itu membuat orang-orang makin takjub. Bukan hanya mulut Ramli yang bertambah melebar dan membesar, termasuk gigi, juga ukuran kepalanya makin membengkak.
Meski pelahan, tapi ukuran kepala itu seperti balon ditiup. Pelan tapi pasti, terus membesar. Meski suaranya lirih, terdengar juga gemertak tulang yang membesar.  Ada yang mulai ngeri. Apakah mungkin kepala yang membesar mengikuti ukuran mulut itu akan meledak seperti balon, tak ada yang tahu.
Badan Ramli yang kecil itu tampak menderita menahan beban kepalanya. Orang-orang mulai menebak, tentu kepala yang membesar itu sekaligus merubah pikiran Ramli. Pikiran itu berubah tetap normal dan baik seperti sebelumnya atau sebaliknya. Dan apa yang kini sedang dipikirkan Ramli? Dan tiba-tiba, seperti baru tersadar, orang-orang serentak hendak membungkam mulut Ramli. Mereka pikir, setidaknya itu akan menghentikan laju pembesaran mulut Ramli.
Mariki menduga, kengerian dari perubahan mulut dan wajah itu, apalagi jika kondisinya jadi tidak berubah, dapat meningkatkan risiko depresi bagi Ramli. Apalagi jika perubahan wajah itu menyebabkan ekspresi yang permanen, seperti kesan berubah jadi monster, akan memperburuk perasaan negatif Ramli.
Selama ini Ramli sebagai orang yang mulutnya tak pernah henti berbicara. Kadang kata-katanya meluncur seperti air bah yang menenggelamkan tanpa ampun, atau senaliknya melukai tanpa ampun. Namun, hari itu berbeda. Saat mulutnya mulai menganga lebih lebar, Ramli merasakan sesuatu yang tidak biasa—bukan hanya fisiknya yang berubah, tetapi kata-katanya sendiri mulai memberontak. Kata-kata yang dulu membantunya berbohong dan menipu kini berbalik memberontak pada perintahnya. Kara-kata yang bisa terlontar hanya melenguh, mengeram atau berteriak di telinganya tanpa henti. Akhirnya, mulut itu tidak lagi menjadi alat menyampaikan maksud, tetapi rongga kosong yang akan memakan bahkan dirinya sendiri.
Tindakan pencegahan yang coba akan dilakukan orang-orang sudah terlambat. Sebab kini monster itu mulai bergerak, meski tertatih-tatih. Tubuh yang kecil itu menyanggah kepala yang terus membesar. Ketika orang-orang hendak mendekat, ia malah mengerang dan tampak marah. Ia kelihatan mulai lepas dari ketakutan dan kesedihan, sebaliknya kini  memilih berubah beringas. Mulutnya makin lebar, giginya makin besar, lidahnya menjulur-julur seperti komodo, Ramli terkesan selalu berhasrat memangsa.
“Awaaasssss…..!! Mundurrr……!!! Ramli jadi monster  buas!” teriak seseorang.
Orang-orang kampung benar-benar bersiap-siap, harus menghadapi kepala lingkungan yang kini berubah sebagai monster buas yang siap memangsa siapa saja.
Mariki, Samsul bersama orang kampung bergerak secepatnya menjauh. Mereka tak mampu lagi membaca air muka Ramli. Sebab air muka itu sudah tak bisa diraba karena ukurannya telah berubah mengerikan. Mulut itu terus mendesis, dan secara perlahan meneteskan gumpalan air liur.
“Aku lapaaaarrrrrrrr…….” Monster itu seperti merintih.
Tapi karena keluar dari kepala dan mulut yang besar, suara itu sangat memekakkan telinga. “Aku lapaaarrrrrr……………!!!!!”
Suara itu seperti suara monster.  Nadanya makin tak jelas, apakah minta dikasihani atau sedang mengancam. Orang-orang lari menyelamatkan diri. Waktu monster itu bergerak dengan lidah menjulur-julur keluar, orang-orang mulai kocar-kacir. Satu dua orang lari tergopoh-gopoh  melaporkan peristiwa ini ke Kantor Polisi terdekat. Sedang yang lainnya termasuk Mariki dan Samsul masih menguatkan nyali untuk menghadang, meski kehilangan nyali untuk mendekat. Sebab lidah monster itu menjulur seperti siap menyabet dan melahap apa pun.
Orang tua, perempuan, anak-anak, orang sakit, berhamburan keluar rumah. Tiap rumah terjadi kepanikan. Siapa sangka di kampung yang sebelumnya aman tentram, bahkan anak-anak muda yang hendak berbuat onar pun memilih ke luar kampung, tiba-tiba kedatangan monster pemangsa. Ramli memakan apa saja yang ada di dekatnya. Lidahnya menyabet ayam yang kebetulan berkeliaran di depannya, bahkan seekor kucing ikut dimangsa. Mulut monster itu belepotan darah.
“Raammmmlliiiiiiiii!!!!”
Sebelum menyadari siapa yang berteriak, orang-orang melihat sosok laki-laki menghadang. Laki-laki itu bertubuh kecil, mukanya tampak pucat, meskipun suaranya melengking. Namun kelihatan tak gentar menghadapi monster lamban tapi garang siap menjulurkan lidahnya. Ketika monster itu berdesis, laki-laki justru maju mendekat beberapa langkah.
“Ramli!” ia membentak. “Kamu memang pantas menjadi monster, sebab kamu memang monster yang hidup di kampung.”
“Kamu sekarang menjijikkan. Kamu hanya pengen lari dari kenyataan. Normal atau tidak normal kamu tetap tidak berharga. Karena apa? Karena mulutmu hanya untuk membual dan memperdaya orang-orang kampung. Mulutmu sering melenceng. Katanya memperjuangkan orang kampung tapi kalau ada bantuan untuk diri sendiri, paling jauh untuk keluargamu sendiri,” katanya.
Laki-laki itu mengangkat tangannya.
“Sekarang, tidak ada yang bisa kamu tutup-tutupi lagi. Bersuaralah lebih keras agar mulutmu makin membesar, dan kamu makin merasa lapar. Sebab kamu memang tidak pernah kenyang. Sebelumnya kamu tidak pernah malu dengan mulutmu. Justru kamu sering bangga. Padahal tiap kata-katamu berbau busuk. Seperti inilah wajahmu sebelumnya, monster yang siap membunuh siapa saja dengan mulut melencengmu. Mulut yang seharusnya menjadikan seseorang mulia, tapi kamu justru sebaliknya…………………….  “.
Laki-laki itu terus bicara, bahkan memaki monster Ramli. Anehnya, monster itu tiba-tiba kehilangan nyali. Kelihatan ia kecut dan mundur beberapa langkah. Berbalik dan pergi menjauh. Belakangan diketahui monster itu pergi jauh ke hutan, menyembunyikan rasa malu karena mulut dan wajahnya nerubah menyerupai monster.
Orang-orang mulai berani mendekat, dan ingin mengetahui siapakah laki-laki kecil itu sebenarnya. Seketika itu orang-orang terkesima. Ternyata laki-laki itu adalah Ramli.
Mariki hanya tersenyum membayangkan cerita tentang peristiwa yag menggegerkan kampung itu.
Oktober 2012



Pemprov NTB Siapkan Manajemen Pengelolaan di Gili Trawangan

Pemprov NTB memutuskan kontrak dengan PT. Gili Trawangan Indah dan saat ini sedang mmenyiapkan manajemen pengelolaan Gili Trawangan

KLU.lombokjournal.com ~ NTB sebagai daerah yang ramah investasi tak serta merta dapat memutuskan kontrak dengan investor.

Namun melihat kondisi yang ada, atas rekomendasi Satgas Percepatan Investasi, Pemprov NTB memutuskan kontrak dengan PT Gili Trawangan Indah (GTI). Dan menyiapkan manajemen pengelolaan 65 Ha lahan milik Pemprov NTB di Gili Trawangan.

Satgas Pecepatan Informasi saat menyerahkan SK Pemutusa Kontrak PT GTI pada Pemprov NTB

Sebelumnya lahan seluas itu dikerjasamakan dengan PT GTI hingga 2026, namun dengan pemutusan itu Gii Trawangan kini dikelola masyarakat.

BACA JUGA: Gili Trawangan Akhirnya Dikelola Masyarakat

“Nampaknya berat melanjutkan kerjasama dengan PT GTI setelah melihat kondisi lapangan yang memang lahannya sudah ditempati oleh masyarakat. Keputusan memutus kontrak ini agar dispute (sengketa) atas pengelolaan PT GTI dituntaskan,” ujar Gubernur  Zulkieflimansyah di Gili Terawangan, Sabtu (11/09/21).

Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia yang juga Ketua Satgas Percepatan Investasi RI hadir di Gili Terawangan untuk menyerahkan SK rekomendasi pemutusan kontrak kerja antara PT GTI dan Pemprov NTB atas lahan 65 Ha.

Dikatakannya, atas dorongan besar dari Gubernur Zulkieflimansyah untuk memprioritaskan warga masyarakat Gili Terawangan dan pertimbangan tidak ada aktifitas investasi selama ini oleh PT GTI, Satgas memutuskan mendukung langkah Pemprov NTB.

“Keputusan Satgas ini adalah final dan untuk diikuti pada urutan pemerintahan berikutnya,” ujar Bahlil.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), H Mohammad Rum menjelaskan, setelah ini Pemprov sudah memiliki rencana untuk manajemen pengelolaan 65 Ha lahan dalam bentuk badan usaha milik daerah ataupun Unit Pelaksana Teknis.

BACA JUGA: Vaksinasi di NTB Meningkat, Kapolri Optimis WSBK Terwujud

“Pemprov langsung mengambil langkah setelah ada rekomendasi dari Satgas untuk pemutusan kontrak. Selain mengelola yang sudah ada, pengembangannya nanti juga sudah direncanakan”, jelas Rum.

jm




Gili Trawangan Akhirnya Dikelola Masyarakat

Sejak diterbitkan SK Satgas Percepatan Investasi terkait Pemutusan Kontrak dengan PT Gili Trawangan Indah, masyarakat Gili Terawagan mendapatkan kepastian keberlanjutan ekonomi

KLU.lombokjournal.com ~ Pasca diserahkannya Surat Keputusan pemutusan kontrak dengan PT Gili Terawangan Indah oleh Satgas Percepatan Investasi, Gubernur Dr H Zulkieflimansyah mengatakan, pemutusan itu sebagai langkah awal membangun Gili Terawangan seperti sediakala.

Ketua Satgas Percepatan investasi dan gubernur soal Gili Trawangan

“Insya Allah tuntas dengan baik atas dukungan pemerintah pusat,” ujar Gubernur dalam pertemuan dengan masyarakat di Gili Terawangan, Sabtu (11/09/21).

BACA UGA: Pemprov NTB Siapkan Manajemen Pengelolaan Gili Trawangan

Ditambahkan Gubernur, sejak digulirkannya Addendum, pihak PT GTI tidak memberikan respon sehingga lebih mudah memutuskan langsung dengan pemutusan kontrak.

Sejak awal pun, kata Gubernur, Pemerintah Provinsi berkomitmen tidak menganggu lahan 60 Ha yang sudah ditempati masyarakat.

Sementara itu, Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia mengatakan, SK pertama yang dikeluarkan oleh Satgas sejak dibentuk Mei lalu untuk investasi bermasalah adalah bentuk kehadiran pemerintah untuk masyarakat.

BACA JUGA: Panglima TNI Minta Warga Tetap Disiplin Prokes

“SK ini diputuskan secara kolektif kolegial bersana perwakilan Polri dan Kejaksaan Agung yang langsung bertanggungjawab kepada Presiden. Jadi, masyarakat sudah mendapatkan kepastian dan rasa aman untuk keberlanjutan ekonomi dengan dikeluarkannya SK ini,” jelas Bahlil.

jm




Cerita Pendek BENCANA KEPALA

BENCANA KEPALA

“Isi kepala yang carut-marut membuat politik seperti cerita layaknya benang kusut. Kalian hanya tahu menumpuk modal, memperkaya diri, menggadaikan tanah air.”

JAM DINDING TUA di sudut kamar itu berdentang nyaring. Kepala Sabrot.seolah digedor suara logam jam dinding yang memantul dari embok kusam yang berlumut itu. Suara itu menegaskan kesepian seorang veteran yang masih hidup namun dilupakan. Malam itu, udara pengap, langit-langit rumahnya menghitam karena asap lampu minyak yang sering dipakai ketika listrik padam.
Sabrot tergagap bangun dari dipan kayu yang keras. Tubuh renta itu bergidik, matanya yang keruh mencari-cari sesuatu di sekitar tempat tidur.
“Sudah jam berapa ini?” gumamnya. “Besok ada peringatan kemerdekaan. Aku harus tidur, harus siap.”
Namun semakin keras ia meyakinkan dirinya untuk tidur, semakin gelisah tubuhnya. Tangannya meraba laci kosong, membuka lemari tua, mengobrak-abrik kotak besi. Hatinya makin cemas.
“Mana pistolku?” teriaknya. “Pistol itu harus kubawa besok! Aku tak boleh lupa!”
Dentang jam semakin keras, memekakkan telinga. Dalam keremangan kamar, suara-suara samar ikut masuk. Dari luar kamar terdengar suara-suara mengejek. Entah tetangga, entah sekadar gema dari kepalanya.
“Pistol? Hahaha… biasanya yang kau cari botol, bukan pistol. ”Pak Tua, negeri ini bahkan belum merdeka. Untuk apa pistol? Yang perlu dicari uang, bukan senjata.”
Sabrot mendesis, wajahnya merah padam.
“Belum merdeka? Kalian tak tahu apa-apa! Aku saksi sejarah! Aku ikut berperang, menegakkan republik dari tangan penjajah! Jangan berani menghinaku!”
Suara-suara itu justru tertawa, semakin keras. “Ogoh-ogoh akan lewat sebentar lagi Merdeka! Merdeka! Kapan kita merdeka, Pak Sabrot?” Suara-suara itu memekaakkan telinga.
Dentang jam kembali berdentam. Kali ini terasa bagai pukulan palu ke tengkorak kepala Sabrot.
Sambil melangkah gotai karena kurang tidur,ksKeesokan paginya Sabrot melangkah keluar rumah. Udara kota penuh debu, panas menyengat meski matahari belum tinggi. Jalanan semarak: bendera merah putih berkibar di setiap tiang listrik, spanduk warna-warni bertebaran.
Ia berjalan melewati baliho raksasa. Wajah-wajah politisi dengan senyum palsu memandang ke arahnya. Ada yang berjanji “Indonesia Maju untuk Semua”, ada yang berteriak “Perubahan untuk Rakyat”. Namun di pojok kecil spanduk itu tertulis nama perusahaan tambang, pabrik semen, sabun, kendaraan bermotor, dan bank sebagai sponsor.
“Politik sudah jadi dagangan,” gumam Sabrot getir. “Mereka tersenyum manis dari ketinggian baliho, tapi di balik itu ada sawit, ada tambang, ada hutan yang digadaikan. Rakyat hanya angka di TPS.”
Ia berhenti di depan sekolah dasar. Anak-anak berbaris, bernyanyi riang lagu kebangsaan. Di tembok sekolah tertulis: “Terima kasih pahlawan yang gugur mendahului kami.”
Sabrot menelan ludah. Tidak ada tulisan yang beersimpati untuk pahlawan yang masih hidup. Veteran seperti dirinya hanya dianggap beban, yang sesekali dipanggil untuk menghadiri upacara sekadar menjadi hiasan sejarah.
“Orang sekarang hanya tahu memuja yang mati, Serta merta disebutnya sebagai phlawan,” katanya lirih. “Kami yang masih hidup dianggap layaknya sampah.s. Padahal kami masih bisa bicara, masih bisa mengingatkan.”
Ia melanjutkan langkah, melewati kerumunan warga. Di ujung jalan ia melihat pedagang kaki lima berlari terbirit-birit. Gerobak mereka diangkat paksa oleh aparat berseragam, dijatuhkan ke truk sampah. Seorang ibu muda menangis sambil memeluk anaknya yang masih balita.
“Kenapa digusur, Pak? Kami hanya jualan nasi, bukan maling!” jerit sang ibu.
Aparat hanya mengacungkan surat perintah. “Perintah atasan. Trotoar harus bersih. Besok ada tamu penting.”
Sabrot menahan amarah. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia hanya bisa menggenggam udara, merasakan tubuhnya gemetar.
Semula ia sempat bangga, bangsa yang dulu diperjuangkan kini merayakan kemerdekaan dengan gegap gempita. Namun semakin lama ia sadar, semua itu hanya pesta oligark: panggung hiburan disponsori prrodusen rokok, konser gratis dibiayai produk minuman kaleng, festival kuliner didukung perusahaan tambang. Semua bicara nasionalisme, tapi saham mereka ditanam di luar negeri.
Malam harinya, Sabrot kembali duduk di dipan kayu. Sunyi menyelimuti kamar. Hanya dentang jam yang terus memukul telinganya.
“Kepala… ya, semua ini karena kepala,” gumamnya.
Ia menatap kosong, bibirnya bergetar. “Kepala-kepala para politisi, kepala para pengusaha, kepala-kepala yang saling menubruk demi kekuasaan. Mereka semua bicara tentang tender, tentang proyek ibu kota baru, tentang izin tambang emas dan nikel. Semua bahasa uang. Tidak ada lagi cerita tentang rakyat.”
Bayangan itu semakin jelas. Di kepalanya, ia melihat ribuan kepala beterbangan. Ada kepala pejabat dengan dasi merah, kepala pengusaha dengan topi proyek, kepala jenderal dengan bintang di bahu. Mereka bercakap-cakap tanpa henti, menyebut angka-angka, membagi-bagi konsesi, mengatur masa depan bangsa seolah sedang memainkan bidak di papan catur.
“Andai saja kita hidup tanpa kepala,” bisiknya. “Tidak ada nafsu, tidak ada kerakusan. Tanpa kepala, manusia akan lebih damai.”
Namun kepala-kepala itu makin banyak, makin riuh. Ada yang saling menubruk, ada yang tertawa pongah, ada yang menuding-nuding rakyat kecil. Sabrot merasa dadanya sesak, seolah udara dirampas oleh kerumunan kepala yang terus membesar.
Suatu malam, Sabrot akhirnya menemukan pistolnya. Di sudut kamar, tergantung berdebu, benda itu menatapnya seperti sahabat lama. Tangannya gemetar ketika meraihnya.
“Pistol bekas,” gumamnya. “Tapi tetap pistol. Selama masih ada peluru, aku masih berbahaya.”
Dentang jam berdentang panjang, seakan memberi aba-aba.
Dengan pistol itu terselip di pinggang, Sabrot melangkah ke balai kota. Ia tahu malam itu ada rapat besar, para pejabat berkumpul. Ia ingin bicara, mengingatkan walikota agar berhenti menggusur rakyat demi investor.
Di gerbang balai kota, aparat muda menghadangnya. Mereka menatap dengan sinis.
“Mau apa, Pak Tua? Pulanglah, jangan bikin ribut.”
Sabrot mendengus. “Aku ingin bicara dengan walikota. Aku masih punya hak, aku masih warga kota ini. Jangan halangi!”
Mereka tertawa. “Kau pikir walikota mau mendengar ocehanmu? Semua sudah diatur di atas. Kau tak punya apa-apa.”
Darah Sabrot mendidih. Tangannya spontan meraih pistol. Ia acungkan tinggi-tinggi. “Aku pernah berperang! Aku ditempa Jepang, aku tahu cara bertempur! Jangan uji kesabaranku!”
Dentang letusan terdengar di tengah malam . Satu aparat jatuh, mengerang. Tiga lainnya menyerbu, tapi Sabrot menembak lagi. Dalam sekejap tubuh mereka tergeletak bersimbah darah.
Ia terdiam, tubuhnya gemetar. “Ternyata begitu mudahnya membunuh… begitu mudahnya darah tumpah.”
Dengan langkah terburu ia masuk ke ruang kerja walikota. Ruangan megah, berpendingin udara, dengan kursi empuk dan meja mengilap. Tetapi kosong. Tidak ada siapa-siapa.
Sabrot berteriak-teriak, memanggil, tapi hanya suaranya sendiri yang memantul. Ia berlari kembali ke halaman. Anehnya, aparat-aparat yang tadi ia tembak telah hilang. Tidak ada darah, tidak ada tubuh. Semua lenyap.
Sabrot mengingat peristiwa yang bau saja terjadi. Ia terjatuh, menangis sambil memeluk pistolnya.
Di layar besar di alun-alun kota, muncul siaran langsung: ribuan massa berdemonstrasi. Mereka berteriak menuntut keadilan, menolak penggusuran, mengecam oligarki yang menguasai negeri. Ada yang membentangkan poster bertuliskan “Negeri Dijual, Rakyat Tinggal Di Kolong Jalann Tol”. Ada yang mengacungkan spanduk “Kembalikan Republik ke Tangan Rakyat, Bukan Konglomerat.”
Sabrot menatap layar itu dengan mata berkaca. “Oh, kepala… kepala… kalianlah sumber bencana. Isi kepala yang carut-marut membuat politik seperti benang kusut. Kalian hanya tahu menumpuk modal, memperkaya diri, menggadaikan tanah air.”
Ia melihat lagi kepala-kepala beterbangan di langit kota. Kini lebih banyak, ratusan, ribuan. Kepala pejabat, kepala pengusaha, kepala perwira. Mereka berbicara bersahut-sahutan: tentang harga nikel, tentang proyek jalan tol, tentang saham tambang emas, tentang suap yang dialirkan diam-diam. Semua bicara uang, semua bicara kuasa.
Sabrot meraih pistolnya kembali. Tangannya gemetar, tapi matanya menyala. Ia membidik kepala kepala itu satu per satu. Letusan terdengar berulang. Kepala-kepala itu meledak, pecah berhamburan. Namun semakin banyak ia tembak, semakin banyak pula kepala baru yang bermunculan.
Dentang jam berdentang panjang, menutup semua suara.
Sabrot menatap langit dengan mata sayu. Ia menggosok-gosok matanya, dan ia merasakan tulangnya sering nyeri, dan tubuhnya yang cepat mengeluh kecapean. Ia kembai mengingat ingat apa yang baru terjadi, dan ia tak mengerti apa itu nyata atau sekedar mimpi yang tiba-tiba hadir di benaknya ilusi, Ia tak tahu lagi. Yang pasti, di dalam kepalanya sendiri, bencana itu sudah meledak.
Dan negeri ini, pikirnya, akan terus menjadi arena bencana kepala—selama oligarki masih bercokol,yang memperalat para pemimpin Negara yang tamak, Dan kepala-kepala tamak itu terus beranak-pinak.

Agustus, 2012




Panglima TNI Minta Warga Tetap Disiplin Prokes

NTB berhasil menurunkan level PPKM, meski demikian Panglima TNI mengingatkan, keberhasilan ini harus diimbangi disiplin protokol kesehatan

MATARAM.lombokjournal.com ~ Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengingatkan agar keberhasilan dan kerja keras Provinsi NTB menurunkan status level PPKM harus diimbangi dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes) yang ketat, di semua aktivitas dan kegiatan masyarakat.

Salah satu kegiatan vaksinasi yang ditinjau Panglima TNI

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI, usai Rakor dengan Forum koordinasi pimpinan daerah (FKPD) Tingkat Provinsi, dan Kabupaten kota se-NTB melalui virtual, Jum’at (10/09/21) di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB.

Saat itu Panglima TNI didampingi Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo, Kepala BNPB Ganip Warsito, Gubernur Dr.H.Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, pada Press Converence.

Menurutnya, berdasarkan hasil assesmen di wilayah NTB, terjadi penurunan level PPKM. Hal itu ditandai dengan transmisi komunalnya masuk pada level 2, kemampuan respon masuk pada level sedang. Termasuk positif ratenya dibawah angka 5, sesuai ketentuan WHO.

BACA JUGA: Vaksinasi di NTB Meningkat, Kapolri Optimis WSBK Terwujud

“Namun, keberhasilan ini jangan sampai menyebabkan kita lengah,” tegas Panglima.

Pemda bersama TNI/Polri harus terus berupaya untuk menurunkan level yang berhasil dicapai. Yaitu dengan upaya-upaya penegakan prokes 3M.

“Harus kita jadikan penggunakan masker sebagai kebiasaan baru, apapun aktivitas dan kemana pun kita harus gunakan masker,”pintanya.

Upaya lain, memperkuat langkah 3T, testing, tracing dan treatman. Sedangkan kebiasaan barunya adalah isolasi mandiru (Isoman) atau isolasi terpusat (Isoter)

Untuk itu, masyarakat yang merasakan gejsla kurang sehat, agar segera berobat atau memeriksakan diri ke puskesmas atau dokter.

“Supaya dapat istirahat di rumah dengan isoman atau isoter,”kata orang nomor 1 jajaran TNI ini.

Selain itu disampaikan percepatan vaksinasi akan dilakukan secara menyeluruh diseluruh wilayah NTB.

“Hari ini kami bersama, Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Gubernur NTB Dr.H.Zulkieflimansyah telah meninjau secara langsung vaksinasi massal,”jelas jenderal bintang 4 ini.

BACA JUGA: Kesehatan Megawati Sukarnoputri Menurun Dipastikan Hoax

Targetnya, akan dilakukan vaksinasi sebanyak 45.000 dosis dalam sehari. Agar target kekebalan komunal diwilayah NTB tercapai.

edy




Kelompok Wanita Tani Dibina DKPP Lombok Utara

Dalam mewujudkan keluarga sehat dan sejahtera, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan KLU mendorong peranan perempuan melalui program terpadu Kelompok Tani Wanita (KWT)

TANJUNG.lombokjournal.comDinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Lombok Utara (KLU)  mengembangkan pemanfaatan pekarangan untuk Pengembangan Pangan.

Kelompok Wanita Tani yang mengembangkan tanaman di pekarangan Monitoring pada Kelompok Wanita Tani di Bayan

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan DKPP yaitu sosialisasi dan Pembinaan Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) dan beberpa kegiatan lainnya.

Upaya Pemda KLU dalam meningkatkan peranan perempuan adalah program terpadu (P2WKSS), atau dengan nama lain Kelompok Wanita Tani (KWT).

KWT bertujuan mewujudkan dan mengembangkan keluarga sehat dan sejahtera, dengan meningkatkan pemberdayaan perempuan melalui sinergitas kegiatan lintas sektor bidang pembangunan.

Untuk mensukseskan program tersebut diawali dengan sosialisasi pada dengan dibentuknya Kelompok Wanita Tani Proeram Pangan Lestari (P2L) anggaran tahun 2021 di beberapa Dusun, di lima Kecamatan Se Kabupaten Lombok Utara.

BACA JUGA: Vaksinasi di NTB Meningkat, Kapolri Optimis WSBK Terwujud

Sejalan dengan berlangsungnya kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Program Pangan Lestari (P2L) tersebut, kegiatan monitoring pun dilakukan.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Sugiartadi,SP bersama stafnya yang didampingi Kepala UPTD Bayan, Sawaludin,S.Sos bersama PPL, melakukan monitoring ke tiga lokasi keberadaan KWT. Yaitu, KWT Sambik Rindang di Kecamatan Kayangan, dan dua KWT “Jasmine” Desa Anyar di Kecamatan Bayan, serta KWT “Montang Berseri”, Dusun Tupang Sari, Desa Senaru, juga di Kecamatan Bayan.

KWT “Montang Berseri”, Dusun Tupang Sari, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, dengan Ketua Ibu Nulitasari,S.Pd, (47) merupakan salah satu KWT P2L yang dinilai cukup berhasil dalam pelaksanaan kegiatan baik secara berkelompok maupun perorangan.

Nulitasari,S.Pd, selain sebagai ibu rumah tangga yang kegiatannya berjualan jajan keliling, ia juga aktif melakukan kegiatan P2L bersama anggotanya yang berjumlah 30 orang.

Di sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga, Nulitasari dengan dibantu suaminya aktif mendorong anggotanya untuk menanam sayuran di halaman rumah masing masing, selain di lingkungan greendhouse di pekarangannya.

Beberapa jenis tanaman yang ditanam di pekarangan antara lain seperti anggur, sayuran dan rempah rempah.

Ketika didatangi Tim Monitoring yang dipimpin Kabid Ketahanan Pangan dan Pertanian, Sugiartadi, SP, Nulitasari dengan cekatan memberikan contoh persiapan media tanam, bibit, selain itu memberikan catatan administrasi.

“Adanya KWT mempermudan pihak Dinas dalam pembinaan terhadap 30 orang di masing masing kelompok, sehingga program Pangan Lestari Kawasan Rumah Pangan (P2L) di pekarangan masing-masing bisa terwujud,” katanya, Jum’at (10/09/21).

BACA JUGA: Keluhan Warga Kebon Kongok Soal TPA Sampah Didegar Gubernur

Adapun pembinaan rutin dilaksanakan tiap hari Jum’at dengan metoda penyuluhan, wawancara dan praktek langsung di lapangan.

Nulitasari menyampaikan harapannya kepada PPL, agar lebih inten dalam pendampingan KWT. Ia pun akan melaporkan baik perkembangan maupun permasalahan mereka dalam kelompok.

@ng




Vaksinasi di NTB Meningkat, Kapolri Optimis WSBK Terwujud

Vaksinasi 45 ribu dosis per hari, membuktikan NTB akan siap menjadi tuan rumah gelaran event World Superbike (WSBK) pada November tahun ini.

MATARAM.lombokjournal.comKepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) Jendral Listyo Sigit Prabowo mengapresiasi program vaksinasi yang dilakukan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan menargetkan 45ribu dosis vaksin dalam sehari. Hal ini membuktikan NTB akan siap menjadi tuan rumah gelaran event World Superbike pada November tahun ini.

Dalam kunjungan kerjanya di NTB, Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan didampingi Gubernur Zulkieflimansyah, meninjau secara langsung vaksinasi massal di SMA Negeri 4 Kota Mataram, Jum’at (10/9).

Vaksinasi “Kami ingin memastikan bahwa target vaksinasi di NTB segera dituntaskan, karena ini sebagai persyaratan diselenggarakannya event tersebut. Target 45 Ribu dosis vaksin dalam sehari adalah langkah tepat untuk mempercepat vaksinasi sebelum WSBK digelar,” ungkap Kapolri.

Jendral Listyo juga mengakui bahwa antusiasme masyarakat NTB dalam mengikuti program vaksinasi sangat luar biasa. Ia berharap vaksinasi Covid-19 harus tetap ditingkatkan terutama masyarakat di kawasan Mandalika kabupaten Lombok Tengah, sebagai tempat akan digelarnya WSBK November tahun ini dan MotoGP tahun 2022 mendatang.

“Ini pertanda bahwa kita sudah siap menghadapi event bergengsi WSBK dan MotoGP, sehingga masyarakat sehat dan Indonesia maju,” tuturnya.

Usai meninjau vaksinasi di SMAN 4 Mataram, Kapolri dan Panglima TNI melanjutkan agendanya di ruang rapat utama kantor gubernur, dalam rangka rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) tingkat provinsi dan pemerintah kota/kabupaten se-NTB, secara virtual.

manikp@kominfo




Keluhan Warga Kebon Kongok Soal TPA Sampah Didengar Gubernur

Warga dusun Kebon Kongok, desa Parampuan, Lombok Barat, menyampaikan keluhan kepada Gubernur NTB soal bau tak sedap dari TPA sampah.

LOBAR.lombokjournal.com ~ Desa Parampuan adalah salah satu desa di kabupaten Lombok Barat yang penduduknya padat. Desa ini disebut daerah penyangga kota sebab terdapat lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dari ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni kota Mataram.

KeluhanKeberadaan TPA sampah yang ada di dusun Kebon Kongok sudah lama menjadi perbincangan warga, khususnya mengenai keluhan warga atas dampak TPA berupa bau yang tak sedap. Untuk mendengarkan langsung keluh kesah warga tersebut, Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, mengunjungi desa Parampuan, Kamis (9/9).

“Yang jadi isu memang masalah kesehatan dan lingkungan akibat TPA sampah yang berdekatan dengan desa dan pemukiman. Mudah-mudahan segera ada solusi dari Dinas Kesehatan dan Dinas LHK yang turut bersama kami saat ini,” ujar Zulkieflimansyah.

Selain berdialog dengan masyarakat, gubernur juga bersilaturahmi dengan kepala desa serta tokoh masyarakat. Zulkieflimansyah juga menyempatkan mengunjungi Pondok Darul Furqon, Pondok Tahfidzul Qur’an yg berada di Desa Perampuan Lombok Barat.

diskominfotikntb




KPP Pratama Mataram Distribusikan Paket Sembako di Tanjung

Atas nama Pemda KLU, Bupati Djohan Syamsu berberterima kasih atas sumbangsih KPP Pratama Mataram Timur yang meringankan masyarakat dengan berbagi 100 paket sembako

TANJUNG.lombokjournal.com ~ Pemerintah Daerah Lombok Utara bersama Kantor Pelayanan Pajak Pratama Mataram Timur (Matim) membagikan paket sembako Program Matim Berbagi, di Dusun Sorong Jukung Desa Tanjung, Jumat (10/09/21).

Bupati Djohan ikut bagi sembagi dari sumbangan KPP Mataram

Kegiatan bagi sembako itu dihadiri Bupati Lombok Utara H Djohan Sjamsu SH, yang didampingi Perwakilan KPP Pratama Mataram Timur, Muhammad Abadi dan Plt Kadis Sosial P3A Faturrahman SST, Kades Tanjung Budiawan SH, beserta sejumlah warga penerima sembako.

Bupati Djohan Sjamsu mengatakan, kehadirannya untuk bersilaturahmi sembari membagikan paket sembako. Program atensi KPP Pratama Mataram Timur berbagi dan bersedekah untuk warga dusun setempat.

“Kami memilih Dusun Sorong Jukung karena tempat ini daerah pesisir pantai,” katanya.

BACA JUGA: Panglima TNI dan Kapolri akan Kunjungi NTB

Orang nomor satu di KLU ini mengimbau warga, agar senantiasa mematuhi dan menaati protokol kesehatan Covid-19, utamanya menggunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak karena ancaman Covid-19 masih ada.

“Tetaplah disiplin Prokes, memelihara diri sendiri, sebab upaya ini berarti memelihara keluarga dan orang lain,” pungkasnya.

Atas nama Pemda KLU, Djohan Syamsu berterima kasih atas sumbangsih KPP Pratama Mataram Timur yang membantu memberikan 100 paket sembako. Bupati bersyukur ada institusi yang peduli dan memberi dengan ikhlas.

“Ini kedua kalinya setelah sebelumnya di Desa Gondang. Harapan saya semoga sembako ini bermanfaat dan membantu meringankan beban ekonomi masyarakat yang saat ini menghadapi kesulitan, akibat dampak Covid 19 sedang melanda daerah dan negara,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Kasubbag Umum KPP Pratama Mataram mengatakan, Kantor Pemungutan Pajak (KPP) Mataram Timur menginisiasi program Matim Berbagi.

Diakuinya, kegiatan itu sebagai kegiatan rutin yang khusus menyasar wilayah kerja Lombok Utara dan Lombok Barat.

BACA JUGA: Mahasiswa Muhammadiyah-Aisyiyah Akhiri KKN di Lombok Utara

“Dananya murni dari teman-teman KPP Mataram Timur yang dihimpun dari zakat, infaq dan shodaqoh, kita serahkan dalam bentuk paket sembako,” tuturnya.

@ng




Kesehatan Megawati Soekarnoputri Menurun Dipastikan Hoax

Kondisi kesehatan Megawati Soekarnoputri dikabarkan menurun dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta dipastikan berita hoax.

MATARAM.lombokjournal.com ~ Sebab, Presiden Indonesia ke-5 tersebut dalam kondisi segar bugar, keadaannya sehat walafiat. Bahkan, Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional itu berkomunikasi langsung dengan Ketua DPD PDIP Perjuangan NTB, Rachmat Hidayat, untuk meminta dikirimkan benih manggis terbaik dari Pulau Seribu Masjid.

“Isu yang beredar ini benar-benar fitnah. Ibu Mega dalam kondisi sehat, energik, dan selalu bersemangat,” kata Rachmat, Kamis (9/9).

Rahmat menyebut, berbagai fitnah memang sering datang ke Ibu Mega dan PDIP. Pihaknya pun siap menghadapi serangan fitnah dan hoaks itu dengan penuh kesabaran dan tidak akan menggoyahkan karakter berpolitik partai.

“Politik membangun peradaban menjadi tema sentral PDI Perjuangan. Seluruh gerak kemanusiaan dan kerakyatan Partai tidak terpengaruh oleh berbagai fitnah dan hoaks,” tandasnya.

Rachmat menengarai, berhembusnya isu soal kondisi kesehatan Ibu Mega yang menurun dan lalu dilarikan ke rumah sakit adalah upaya sistematis dari pihak tertentu yang ingin memecah belah partai. Dirinya pun telah menginstruksikan seluruh kader dan simpatisan PDIP di NTB untuk bersatu melawan cara-cara berpolitik yang tidak bertanggung jawab tersebut.

“Ibu Mega dalam kondisi baik-baik saja. Bahkan sedang bercocok tanam, karena beliau sangat mencintai alam dan tanaman,” ujar anggota Komisi VII DPR RI ini.

Rahmat menjelaskan bahwa ibu Mega mengirimkan nota secara khusus kepada dirinya untuk minta dikirimkan bibit manggis terbaik dari Lombok. Kecintaan pada tanaman rupanya menjadikan ibu Mega tahu betul bahwa Lombok punya bibit manggis unggul. Sehingga secara khusus, presiden perempuan pertama Indonesia ini meminta bibit manggis dari kecamatan Lingsar, khususnya dari Batu Kumbung, Batu Mekar, dan Karang Bayan.

Kesehatan
 Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menegaskan, Ibu Mega masih beraktivitas seperti biasanya. Kemarin malam pukul 21.00 WIB, Ibu Mega masih memberikan arahan terkait program kerakyatan partai dan pagi ini pun ketika saya menghadap beliau, Ibu Mega juga terus mencermati situasional terkait pandemi dan juga politik internasional.

“Ibu Megawati merupakan sosok politisi yang memiliki tradisi kontemplasi. Kebiasaan beliau bercocok tanam memberi oksigen bagi kehidupan dilakukan dengan penuh rasa cinta. Selain itu, Ibu Mega juga rajin berolahraga,” tutur Hasto.

me