Illegal Logging di Lombok Utara, Mengeringkan Aliran Sungai

LOMBOK UTARA — lombokjournal.com

Kejahatan menebang hutan (illegal loging) di beberapa kawasan hutan di Kecamatan Gangga langsung berdampak buruk bukan hanya bagi lingkungan setempat, bahkan seluruh Lombok Utara. Pasalnya, sungai-sungai mengalami kekeringan di musim kemarau. Sebelumnya, meski musim kemarau volume air  sungai tetap besar.

Kini di musim kemarau, kebanyakan sungai-sungai di Lombok Utara mengalirkan air sangat sedikit. Bahkan ada yang kering kerontang. Masih gencarnya aktivitas pembalakan liar jadi biang turun drastisnya debit air di hulu sungai.

Penebangan hutan secara membabi buta membuat daya tahan tanah dalam menampung air berkurang. Hulu sungai memiliki peran vital untuk menjaga keseimbangan air. “Serius mari kita lihat kondisi hutan di hulu-hulu sungai (kawasan hutan Kecamatan Gangga-red). Jika memang layak tentu tidak seperti ini, ” tutur Jakaria, Rabu (7/8), salah seorang warga Bentek menunjukkan beberapa hulu sungai yang mengering.

Menurut Jakaria, kekeringan pada beberapa daerah aliran sungai di wilayah di Kecamatan Gangga itu baru terjadi beberapa tahun terakhir. “Kekeringan di beberapa aliran sungai ini kan muncul setelah kayu-kayunya sudah habis, ” jelasnya.

Ia menuding, “mafia” hutan masih beroperasi hingga sekarang meskipun ia tidak menyebutkan orang-orangnya. Ada oknum-oknum yang ingin merusak vegetasi di Kecamatan Gangga. Beberapa minggu lalu sebagian pelakunya ditangkap, tapi bukan berarti oknum lainnya tidak ada lagi.

“Kalau pemerintah Kabupaten Lombok Utara mau perihatin atas kondisi yang sedang terjadi, mari kita tegas terhadap para pembalak,” tantangnya.

Ardhi, salah seorang tokoh masyarakat Bentek, menawarkan beberapa solusi bagi pemerintah daerah dan stakeholders terkait agar kekurangan debit air di Kecamatan Gangga tidak terulang kembali pada tahun-tahun mendatang.

Pertama, pemerintah Lombok Utara harus mengevaluasi kembali perlindungan hutan di Kecamatan Gangga khususnya dan Lombok Utara pada umumnya. Jika hasil evaluasi itu kemudian menemukan adanya mafia yang mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi, harus segera ditindak tegas, tanpa pandang bulu.

Kedua, pemerintah daerah harus punya upaya mengembalikan fungsi hutan. Cara yang perlu diambil diantaranya menggelar reboisasi atau penghijauan kembali di kawasan hutan yang sudah rusak. “Kembalikan fungsi hutan seperti semula terutama kawasan serapan air,” terangnya.

Yang penting harus ada upaya mencari solusi. “Jangan menyalahkan alam,  cari biang keladinya, dan tindak tegas,” kata Ardhi.

djn

 

 

 

 




Tiu Bombong, Air Terjun Yang Mempesona

LOMBOK UTARA – lombokjurnal.com

Lombok Utara memiliki kekayaan wisata alam yang mengagumkan. Kabupaten paling muda di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tak dinyana miliki potensi wisata alam yang berpeluang memberikan pemasukan terbesar bagi kas daerah.

Salah satu potensi wsata yang dapat memberi nilai plus bagi dunia kewisataan dayan gunung (utara gunning) ialah air terjun Bumbung (tiu, air terjun – Sasak). Objek wisata ini masih sangat alami dan airnya jernih kebiru-biruan.  Ketinggian air terjun ini mencapai 150 meter dan debit airnya terjun melambai menyusuri lempengan batu yang melekuk tinggi. Air terjun Bombong terletak di Dusun Sempakok Desa Santong Kecamatan Kayangan KLU.

Tiu Bombong merupakan salah satu lokasi wisata alam yang sangat elok sehingga bisa mengalihkan pandangan siapa saja yang berkunjung. Dalam pantauan lombokjurnal, objek wisata ini ternyata menyuguhkan pemandangan alam yang elok berseri. Airnya jernih sebening embun pagi. Objek wisata ini belum banyak dikenal baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Penasaran dengan pesona kepesonaannya, awak media ini kemudian mencari informasi lebih aktual  dengan mengungkap sekian cerita dan informasi dari warga yang berdomisili di sekitarnya. Slamet, menuturkan, Tiu Bombong membawa eksoktika tersendiri bagi siapa saja yang memandangnya, sengaja maupun secara kebetulan.

Menurutnya, objek wisata ini belum begitu dikenal banyak orang sehingga efeknya sepi dari kunjungan wisatawan, padahal memiliki keasrian yang amat indah. Wisata tiu bombong cocok untuk refresing atau membuang kejenuhan bagi orang-orang super sibuk.

Tiu ini bisa memberikan kita corak dan landai keindahan tersendiri dan agak berbeda dibanding objek wisata lain yang sejenis, sebab diapit oleh dua jurang terjal dengan rona-rona pepohonan yang hijau nan alami, membatasi wilayah Kecamatan Gangga dan Kecamatan Kayangan.

Namun ia memiliki nilai jual tinggi dan potensi wisata yang potensial berkembang dengan pesat apabila mampu dikelola oleh pihak-pihak terkait untuk menopang roda perekonomian masyarakat setempat.

Dari obrolan lombokjurnal.com dengan warga setempat, Tiu Bombong punya sejarah panjang. Menurut Melsah, salah satu warga, dulu kala ada orang pemburu rusa melintasi air tiu ini. Kebetulan ia dilihat penduduk setempa,t lalu memberi tahu kepada sang pemburu bahwa di dalam air tiu ini terdapat ikan tuna besar bertanduk dan bernas.

Lalu si pemburu tadi tak jadi menyebrang air tiu ini. Selang beberapa tahun, melintaslah pedagang parang ingin menyebrang tapi warga setempat memberi tahunya bahwa disitu ada ikan tuna besar bertanduk, tapi sayang si pedagang tak menghiraukan bahkan tak mempercayai imbauan warga setempat sehingga ia nekat menyebrangi tiu bombong. Saat sampai di tengah aliran air, ikan tuna tadipun keluar dan beradu dengan si pedagang.

Pendek cerita, si pedagang dapat mengalahkan ikan tuna tersebut sehingga selamat sampai tujuan. Untuk mengenang peristiwa luar biasa ini maka air terjun itu dinamakan Tiu Bombong (bumbung : beradu ketangkasan-red).

Bagi yang ingin berkunjung ke lokasi wisata ini tidak usah ragu karena jalannya bagus dan tak memakan waktu banyak. Jarak tempuhnya kira-kira 16 km dari Tanjung dengan menggunakan kendaraan roda dua. Setelah sampai kita bisa meminta bantuan jasa warga setempat. Siapa penasaran ? Selamat berselancar…..!!!

djn

 




Anggota Paskibraka Dikukuhkan Wagub

MATARAM – lombokjournal.com

32 orang petugas upacara, terdiri dari 28 anggota Paskibraka Provinsi NTB dan 4 Komandan Pasukan dari anggota TNI, sebagai pasukan Pengibar Bendera Merah Putih pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi tanggal 17 Agustus 2016 di Lapangan Bumi Gora dikukuhkan Wakil Gubernur NTB, Selasa (16/8) sekitar pukul 19.30 WITA di Pendopo Gubernur NTB,

Wagub,Paskibraka16Agustus3Wagub,Paskibraka16Agustus2

“Terpilih sebagai anggota Paskibraka adalah suatu prestasi yang patut dibanggakan,” kata Wakil Gubernur, H Muhammad Amin.

asukan Paskibraka ini sebelumnya menjalani pelatihan mulai tanggal 6 Agustus 2016 sampai dengan 16 Agustus 2016. Pengukuhan ini merupakan salah satu unsur kegiatan wajib bagi seorang Paskibraka sebelum mengibarkan duplikat Bendera Merah Putih.

Anggota Paskibraka terpilih melalui proses seleksi ketat, latihan berat yang menyita perhatian, waktu dan energi. “Semoga kebanggaan dan kehormatan sebagai anggota Paskibraka, menjadi motivasi bagi saudara-saudara dalam meraih prestasi gemilang di masa depan,” ujar Wakil Gubernur dengan penuh rasa bangga kepada anggota Paskibraka yang dikukuhkan.

Rer.

 




Sambi, Tempat Nyimpan Padi Yang Nyaris Punah

LOMBOK UTARA – lombokjurnal.com

Ada kebiasaan warga Kecamatan Gangga, Lombok Utara, menyimpan padi di lumbung, dikenal dengan “Sambi”. Beras di Sambi jadi gudang pangan saat gagal panen. Namun kini, tradisi menyimpan padi di Sambi mulai ditinggalkan warga.

Bangunan berbentuk persegi empat itu terlihat kurang terawat. Atap ilalangnya rontok. Pagar bambu dibangun berbentuk kotak itu bolong di beberapa bagian. Tiangnya pun oleng. Melihat di balik lubang hanya ada ruang kosong. Tak ada padi laiknya bangunan yang lain.

Bangunan itu dikenal masyarakat Desa Gondang, Rempek dan Bentek, Kecamatan Gangga, dengan nama Sambi (lumbung padi-red), tempat penyimpanan gabah sebelum digiling. Posisinya cukup tinggi dari tanah dan tertutup rapat, agar tikus kesulitan menggerogoti gabah yang tersimpan.  Dulu, masyarakat menyimpan gabah di Sambi, dan merupakan kebiasaan turun menurun.

Saat butuh makan, gabah dalam Sambi diambil secukupnya. Kemudian digiling menggunakan lesong (rantok, lesung panjang berbentuk laiknya perahu-red). “Dahulu, setahun kami tidak membeli beras, ada cadangan di Sambi,” kata Seni, Warga Rempek.

Padi yang disimpan di sambi sudah diperkirakan cukup untuk cadangan pangan keluarga selama setahun. Sementara lauk pauk dan sayur mayur masih bisa disediakan pekarangan rumah atau areal sawah. Hasil ternak juga masih cukup.

Padi dipanen dengan sistem potong menggunakan anai-anai kemudian dijemur serta disimpan didalam Sambi. Ada juga warga yang menyimpan di dalam karung lalu dimasukkan ke dalam bangunan yang berada di bagian sisi rumah itu.

Zaman dulu, satu rumah biasanya memiliki satu Sambi. Pemandangan seperti itu lumrah dijumpai di kampung-kampung tradisional di Gangga, khususnya di Desa Bentek dan Desa Rempek.

Namun, kini sangat jarang bahkan langka keluarga di desa memanfaatkan Sambi. Jika dulu para keluarga belum tenang sebelum Sambi kosong, tapi kini justru jarang Sambi yang sengaja diisi. Pertanda kuat masyarakat desa bakal meningggalkan tradisi nenek moyang.  Sambi yang rusak pun tidak diperbaiki. Bahkan kebanyakan warga di dua desa itu tidak lagi memiliki sambi.

Ini menandakan tradisi menyimpan padi di sambi perlahan-lahan nan pasti mulai bergeser. Kemudahan warga mendapatkan bahan makanan menjadi salah satu penyebab. Jika dulu kawasan Bentek dan Rempek berada di tengah kawasan hutan lebat, akses transportasinya cukup jauh, kini amat mudah diakses.

Begitu juga dengan Sambi di Desa Gondang dan Sambik Bangkol, perlahan nan pasti juga mulai berkurang. Kesan yang muncul kemudian, Sambi adalah pasangan setia rumah tradisional berbahan bambu.

Hilangnya Sambi ini berpengaruh pada sistem panen petani. Dulu para petani panen menggunakan anai-anai dan pisau kecil untuk memotong tangkai padi. Tidak dengan merontokkan bulir padi (merompes-red). Seluruh padi yang tersimpan di dalam sambi diikat kuat.

Setidaknya ada alasan logis yang membuat Sambi masih bertahan hingga saat ini di beberapa tempat di Gangga, yaitu padi yang disimpan didalam sambi tidak cepat rusak karena masih bertangkai lengkap dengan bulunya.

djn




Dewan Laporkan Warga, Massa Datangi Kantor DPRD KLU

Massa Juga Protes Anggaran Kunker Dewan

LOMBOK UTARA – lombokjurnal.com

Ratusan massa seruduk Kantor DPRD Kabupaten Lombok Utara, Senin (15/8). Aksi itu buntut lanjutan dari laporan dewan terhadap warga kecamatan Bayan (RAB-red) yang dianggap menghina institusi lembaga DPRD Lombok  Utara.

Aksi itu memprotes tindakan dewan yang dianggap terlalu reaktif menyikapi tulisan warga di akun media sosial yang dianggap menghina dan dilaporkan ke kepolisian. Warga yang tergabung beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Lombok Utara itu menggelar aksi menuntut dewan mencabut laporan yang telah dilayangkan ke aparat kepolisian.

Pantauan media ini, warga yang datang dari berbagai wilayah kecamatan itu mulai pukul 22:00 Wita. Kedatangan kali ini sebagai buntut dari adanya pernyataan dewan via pesan singkat yang menganggap LSM dan ormas di KLU tidak berani anarkis sampai menimbulkan kerusakan.

Mereka tak bbisa menahan emosi, masuk ke gedung dewan merusak meja kursi yang ada di ruang rapat utama. Beberapa massa kemudian mencari dan mengejar oknum dewan yang melayangkan pesan via sms tersebut.

Pada aksi tadi malam massa pun yang ikut jauh lebih besar dari kemarin pagi. Penambahan massa aksi ini sebagai bukti janji mereka yang akan menggelar aksi kembali dengan mendatangkan massa jauh lebih besar bila tuntutan mereka tidak direspon.

“Dewan ini tak pernah gubris kemauan kita, malah mereka melayangkan pernyataan menantang, akibatnya ya kami rusak fasilitas kantor ini,” celoteh seorang pendemo dengan nada tinggi.

Tidak Transparan

Massa aksi juga menuntut dewan transparan terhadap penggunaan anggaran kunjungan kerja yang dianggap cuma menghamburkan-hamburkan anggaran daerah. Menurut mereka, hasil kunker selama ini nihil sedangkan anggaran daerah yang terkuras amat besar yaitu Rp. 9,14 miliar tiap tahun.

Terbukti, selama ini dewan sama sekali belum melahirkan usulan peraturan daerah inisiatif. Padahal, anggaran yang dikeluarkan daerah cukup besar. “Dewan terhormat ternyata kedap kritik dan buta realitas. Padahal mereka dipilih oleh masyarakat. Dewan ini sangatlah berlebihan. Sikap ini mencerminkan dewan kita seperti anak kecil,” cetus Anton dalam orasinya.

Menurutnya, RAB yang mengkritik kualitas dewan karena rutin keluar daerah cuma menghabiskan anggaran daerah kurang lebih sebesar Rp. 440 juta setiap kali keluar daerah. Melihat hasil kinerja dewan selama ini belum maksimal dalam merealisasikan Prolegda. Dari 27 usulan eksekutif, dewan baru bisa menyelesaikan 11 Ranperda saja.

Di sisi lain, tidak pernah satu pun Perda diinisiasi Dewan. “Lalu apa kerjaan dewan yang selama satu bulan 4 kali melakukan kunjungan kerja,” teriak Anton.

Kalau memang tidak terima dengan kritikan dari masyarakat, lanjutnya, jangan jadi dewan. Pasalnya, dewan itu wakil rakyat yang dipilih untuk mewakili aspirasi rakyat di pemerintahan. “Jangan lupa, dewan itu dipilih masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya. Jangan marah kalau masyarakat mempertanyakan bagaimana hasil kinerja wakilnya,” ketusnya dengan suara keras.

Senada koordinator Aksi, Agus Salim juga meneriakkan, dewan bukanlah manusia suci yang tidak boleh dikritik rakyat. Upaya represif dewan yang berniat memenjarakan warganya ini sama saja merupakan bentuk penodaan perwakilan rakyat terhadap kebebasan berpendapat yang dijamin oleh Undang-Undang.

“Kami atas nama warga dayan gunung bersatu dalam Aliansi Masyarakat Menolak Kriminalisasi Warga menggelar aksi solidaritas untuk RAB menuntut dewan mencabut laporannya ke polisi itu 1×24 jam,” teriak Agus cukup lantang.

Dewan dihimbau untuk mengurangi kunker yang tidak bermanfaat guna mengefisienkan anggaran daerah. Yang terakhir adalah dewan jangan lagi melakukan kriminalisasi terhadap masyarakat yang memberikan kritik.

djn

 

 

 




Peluang Agrowisata di Desa-desa Kecamatan Gangga

LOMBOK UTARA – lombokjournal.com

Lahan pertanian dan perkebunan yang luas nan eksotik di desa-desa di Kecamatan Gangga, cukup menjanjikan untuk dikembangkan sebagai pusat agrowisata yang maju dan profesional. Di antara wilayah yang menjanjikan peluang ini adalah wilayah Desa Bentek, Desa Genggelang dan Desa Rempek.

Kawasan pertanian terutama tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, cengkeh maupun tanaman buan-buahan seperti durian, manggis, rambutan, pepaya, membuka peluang pengembangan agrowisata di Gangga
Kawasan pertanian dengan tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, cengkeh maupun buah-buah

Potensi wisata di ketiga wilayah ini misalnya wisata alam, wisata sejarah/ budaya dan wisata religi. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor andalan bagi ketiga desa, yang cukup besar menyumbangkan PAD bagi Kabupaten Lombok Utara, meski tidak sebesar kontribusi Senggigi dan Tiga Gili (TraMeNa) di Kecamatan Pemenang.

Objek-objek wisata ini disamping menyumbang PAD juga mendatangkan devisa dan tentunya menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat tiga desa tersebut. Apalagi, pada hari ulang tahun ke-8 pada bulan juli lalu, Lombok Utara telah mendeklarasikan diri sebagai Destinasi Wisata Dunia.

Berbagai potensi wisata yang dimiliki termasuk wisata agro ini harus jadi pintu masuk pembuktian tagline tersebut agar punya branding wisata yang jelas dan keberadaan Lombok Utara sebagai salah satu destinasi wisata dunia di Indonesia diakui secara defacto oleh dunia internasional.

Brand wisata Kecamatan Gangga bertumpu pada penjualan alam dan seni budaya (kesenian tradisonal, tarian tradisional, musik tradisional, pusaka bertuah). Karena pengembangan agrowisata di wilayah ini belum tergarap maksimal, padahal, bila diselami secara utuh dan menyeluruh, potensi kearah itu amatlah cerah dan sungguh menjanjikan.

Kecamatan ini sebetulnya memiliki sejumlah simpul wisata yang bisa dijadikan paket agrowisata menarik. Ini mengacu pada kegiatan wisata yang mengandalkan kawasan pertanian terutama tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, cengkeh maupun tanaman buan-buahan seperti durian, manggis, rambutan, pepaya.

Salah satu daya tarik menawan dalam agrowisata ialah adanya kesempatan bagi para pengunjung untuk melihat dan memanen buah dan hasil-hasil perkebunan yang lainnya. Kemudian, hasil panen ditimbang dan dihargai pengunjung sesuai harga yang ditetapkan oleh petani.

Dengan cara itu, pengunjung akan memperoleh kepuasan, pengalaman serta kesan mendalam dan tentunya akan sulit dilupakan. Sebagai wilayah agrowisata, kecamatan ini sudah sepatutnya dikembangkan jadi wisata agro sebagai bagian trademark wisata di Kabupaten Lombok Utara, hamparan bumi dengan sesanti Tioq Tata Tunaq. Dengan kata lain, agrowisata itu salah satu bentuk pariwisata dengan objek utamanya lanskap pertanian, wisata yang memanfaatkan objek-objek pertanian.

Di samping itu, agrowisata juga aktivitas wisata yang integral dengan keseluruhan sistem pertanian dan pemanfaatan objek pertanian sebagai objek wisata, seperti teknologi pertanian dan komoditas pertanian.

djn                            




MEJET, Pemandian Wisata Alam yang Elok Nan Eksotis

LOMBOK UTARA – lombokjournal.com

MENCARI lokasi pemandian indah dan elegan di Kecamatan Gangga terbilang mudah dan bayak  pilihan. Sebut saja di Desa Bentek, banyak lokasi wisata bahkan yang terdekat dengan jantung kota Tanjung sekali pun. Lokasi yang dimaksud ada di Dusun Sengaran (Tiu Saong) dan Dusung Kakong (Tiu Mejet).

Lokasi ini menawarkan panorama alam yang luar biasa indah dan memukau setiap mata memandang bahkan bisa memantik naluri decak kagum kita pada eksotika lingkungan sekitarnya. Selain airnya terus mengalir setiap saat, ciri khas berikutnya, ialah tebing-tebing di sekitarnya landai serta pepohonan yang ada rindang kehijau-hijauan dapat menyejukkan jiwa dan saban waktu, bisa merasuki alam bawah sadar kita.

Kolam renangnya berasal dari mata air yang masih sangat alami. Saking airnya berasal dari mata air alami, suhu airnya pun terasa sangat dingin laiknya es.

Sumber air dari hutan yang mengitari daerah sekitarnya juga menyumbang dampak positif terhadap ketersediaan air dan suhu air yang dingin ini. Namun, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, kawasan hutan seperti di Kakong dan Sengaran sudah mulai terjamah perlahan-lahan. Perlu perhatian yang serius dari pemerintah desa maupun pemerintah Kabupaten Lombok Utara untuk memelihara dan melindungi sumber daya alam hutan yang tersedia di kawasan seperti hutan mejet.

Tiu Mejet ini lebih identik dengan pemandian air pancuran yang berasal dari hutan Mejet dengan kolam renangnya yang mempesona, semakin banyak diminati penduduk yang hendak berwisata karena dekat dengan pusat kota, jalur tansportasi yang baik. keunggulan lain, berwisata dan berekreasi di sini lebih murah dan mudah.

Hutan Bebekeq dan Montong Gedang juga menyajikan pesona pemandangan yang juga tak kalah indahnya dengan Mejet karena di sana masih banyak pohon tua yang terpelihara dengan baik selama ratusan tahun.

Batang pohon yang menjulang tinggi, akar pohon yang menggelantung rapi serta dedaunan yang rindang juga turut mewarnai pemandangan yang elok serta menjadi nilai wisata tersendiri yang eksotis dinikmati. Bahkan pohon tumbang yang melintang sekalipun bisa menjadi sesuatu yang mengasyikkan ketika dilewati dengan cara menyuruk. Kesan alami pun muncul dengan sendirinya seakan kita berada di hutan belantara yang membahana.

djn




Aksi Nekat Ibrahim Rusli, Berenang Dari Trawangan ke Bangsal

LOMBOK UTARA – lombokjurnal.com

Ibrahim Rusli, seorang pegawai negeri atau ASN dari Kota Tarakan, benar-benar membuktikan kenekatannya. Di usianya lebih setengah abad, pria asal Kalimantan Utara ini berenang dari Gili Trawangan menuju daratan Pulau Lombok, Sabtu (13/8).

Aksi luar biasa itu dilakukannya tanpa pelampung. Rusli cuma bercelana kolor warna krem. Ibrahim Rusli berenang di perairan laut yang memisahkan daratan Pulau Lombok dari Gili Trawangan, sepanjang 7,72 kilometer dalam waktu kurang tiga jam (tiga jam kurang dua menit-red). Ia memulai aksinya dari Trawangan, pukul 06.27 Wita dan baru menjejak daratan Pulau Lombok pada pukul 09.25 Wita.

Selama menjajal derasnya arus laut Trawangan – Bangsal, Ibrahim dikawal tiga kapal dari tim ekspedisi Renang Gili Trawangan-Bangsal, Polairut, dan Basarnas. Setelah tiba di daratan, Ibrahim kemudian menyerahkan bendera merah putih yang dibawanya selama berenang kepada Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lombok Utara, Sinar Wugiyarno, SH.

Aksi berenang jarak jauh ini bukan pertama dilakukan Rusli. “Selain di Lombok, sebelumnya saya juga pernah berenang jarak jauh di berbagai tempat, seperti menyeberangi Bali-Banyuwangi kemudian Madura-Surabaya (Suramadu) dalam satu hari,” cetusnya pada lombokjurnal.com ditemui usai mendarat.

Menurut Rusli, ia sudah memiliki banyak pengalaman berenang jarak jauh ini. Tapi baru kali ini ia sempat merasa pesimis bisa menyelesaikan perjalanannya hingga finish karena arus gelombang laut cukup kencang. ”Ini memang paling berat arusnya. Sempat mau naik ke kapal tapi saya tahan,” cetusnya sambil tersenyum.

Dari jarak 6 kilometer menuju pesisir pantai bangsal, cerita Ibrahim, mulai merasakan arus yang begitu kencang yang tidak memungkinkan dirinya bisa menuju arah pesisir pantai bangsal. Ia mengakui sempat melakukan tindakan berenang melawan arus agar sampai tujuan target namun tetap tidak bisa.

“Di pertengahan jalan, saya hampir 1 jam muter-muter lawan arus, ini yang paling berat saya rasakan selama melakukan eksepedisi,”ketus pria yang pernah menjajal perairan laut Kalimantan Utara ke Malaysia ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara, Muhadi, mengaku pihaknya mempunyai rencana menjadikan renang Gili Trawangan-Pemenang ini sebagai agenda tahunan, karena antusiasme masyarakat cukup fantantis setelah mendengar informasi rencana aksi berenang Ibrahim Rusli ini.

”Saya banyak sekali mendapat telepon protes, kenapa acara ini tidak digelar untuk peserta lain. Kita akan agendakan nanti, mungkin tahun depan untuk memeriahkan HUT Lombok Utara ke-9 sebab animo masyarakat lumayan tinggi,” pungkasnya.

 

djn




PKB Lombok Barat, Siapkan Kader Dampingi Fauzan Halid

LOMBOK BARAT – lombokjournal.com

Masih kosongnya kursi Wakil Bupati,  menjadi incaran pollitisi di Lombok Barat yang dulu partainya menjadi partai pengusung BUpati Fauzan Halid. Dari kelima partai pengusung; masing-masing Partai Golkar, Partai Demokrat PDI Perjuangan, PAN dan Partai HANURA muncul tiga jago yang disebut-sebut, yaitu Hj Sumiatun (Golkar), H Umar Said (Golkar), F. Farinduan (non partai), dan belakangan sering disebut, Lalu Sajim Sastrawan.

jamhur lobar
H Muhammad Jamhur

Di luar partai pengusung, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lombok Barat, juga menyiapkan kadernya. “Sekalipun bukan sebagai partai pengusung, tapi juga menyiapkan kadernya untuk mendampingi bupati,” kata H Jamhur, anggota Komisi III DPRD Lombok Barat, hari Minggu (14/8).

Menurut Jamhur, PKB punya kader yang layak mengisi kursi Wakil Bupati,  antara lain, TGH Khudori (DPRD Provinsi NTB) dan Ir Sulhan Muhlis (Wakil ketua DPRD Lombok Barat).

Dari Giri Menang dikabarkan, meski banyak nama muncul  hanya dua nama yang akan disodorkan DPRD yang kemudian dipilih Bupati Fauzan Halid untuk proses selanjutnya. Dua nama dari partai pengusung yang santer disebut, yaitu Farinduan dan Hj Sumiatun. Dua nama itu berasal dari internal partai pengusung.

Nama-nama itu segera diverifikasi oleh Panitia Pemilihan (Panlih) yang akan mengirimkan calon Wakil Bupati itu ke Mendagri. Namun saat ini sedang berlangsung proses pembentukan Panlih yang akan menyusun Tatib.

Panlih harus bergegas menyusun tatib. Jangan sampai terlambat, sebab delapan bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Bupati, tak bisa lagi mengisi kursi Wakil Bupati. Perlu diketahui, Lombok Barat akan melangsungkan pemilihan Bupati berikutnya pada tahun 2018.

“PKB hanya wait and see. Tapi, posisi PKB bisa menentukan,” kata Jamhur.

Meski bukan partai pengusung, karena umumnya partai menjalankan “demokrasi terpimpin” (ditentukan DPP), bisa jadi kader PKB masuk bursa yang akan mendampingi Fauzan Halid.

Emas F

 




Baru Di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Terpasang Traffic Light

MATARAM – lombokjournal.com

Kabupaten Lombok Utara (KLU) saat ini baru mempunyai traffic light yang sudah terpasang baru di Kecamatan Pemenang di perempatan Pemenang menuju Bangsal. Di tiga kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan Tanjjung, Gangga, Kayangan dan Bayan masih belum terpasang. “Memang sekarang di Pemenang belum berfungsi sebagaimana mestinya,” kata Sekretaris Dishubkominfo, Ahmad Sujanadi, Minggu (14/3).

Traffic Light di KLU, 14 Agustus1

Hal itu dikatakannya untuk meluruskan berita di lombokjournal.com (Penyuluhan Ketertiban Lalu Lintas Siswa KLU, Sabtu, 13/8). “Bukan belum terpasang. Sudah terpasang tapi belum berfungsi maksimal,” tegasnya.

Menyinggung tentang kegiatan Penyuluhan Ketertiban Lalu Lintas dan Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Transportasi Darat Tingkat Kabupaten Lombok Utara, dikatakan akan dibentuk Forum Pelajar Pelopor Keselamatan Transportasi. Selain itu dikatakannya, pengumuman pemenang Pelajar Pelopor  Keselamatan Transportasi akan diumumkan usai upacara peringatan HUT RI ke 71 di Lapangan Tiuq Tata Tunaq, Tanjung.

“Tentang forum itu, maksudnya agar ada duta pelajar yang bisa menjelaskan pentingnya keselamatan transportasi di sekolahnya masing-masing,” terang Ahmad Sujanadi.

Susunan pengurus forum tersebut, masing-masing; Ketua: L.M. Rizal Efendi (SMA 1 Tanjung), Wakil Ketua: Doni Damara (SMA 1 Kayangan), Seretaris: Ayu Soliha (SMA 1 Pemenang), Bendahara: Kinanti Pratiwi (SMA 1 Bayan).

“Sangat diharapkan masing-masing sekolah di tingkat SMA/SMK di Lombok Utara, bisa mentaati aturan lalu lintas,” katanya.

Emas F